Tuesday, May 11, 2010

I AM AN AMBASSADOR, ALREADY


Konsulat Jendral Indonesia di Hong Kong

Di tengah pergulatan akan cita-cita dan harapan terhadap masa depan yang sifatnya tak pasti, saya memiliki cita-cita untuk menjadi seorang Duta Besar (di antara deretan cita-cita saya yang panjang lainnya). "Saya sudah pernah menjadi seorang duta dan menjalankan tugas diplomasi bangsa di luar negri. Akan tetapi saya masih ingin lagi, lagi, dan lagi untuk berusaha menjadi seorang duta bangsa seutuhnya."

Ya, saya adalah seorang duta bagi bangsa ini. Maksud saya, pernah menjadi. Perbedaannya, waktu itu saya tidak diberikan pangkat selaku pejabat diplomatik RI atau mendapatkan keistimewaan-keistimewaan seperti hak imunitas, hak ekstraterritorial,serta hak-hak khusus lainnya sebagaimana yang dimiliki oleh para duta besar dan diplomat di luar negri. Akan tetapi, dengan bangganya saya berani menyatakan bahwa saya pernah mewakili misi diplomatik Indonesia dan Amerika Serikat sepanjang tahun 2007-2008.

Terhitung sejak bulan Juli 2007, ketika Kak Taufiq Ismail beserta orang tua-orang tua siswa pertukaran pelajar AFS-YES senusantara lainnya menyematkan pin merah putih ke dada kami, saat itu juga saya telah diangkat sebagai seorang 'duta kecil' sebagai bagian dari program 'pertukaran pelajar' ke negri Paman Sam. Sebelum berangkat secara resmi kami diundang oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta untuk berbincang dan makan siang bersama Pak Cameron Hume, dubes USA pada saat itu. Sampai di Amerika Serikat pun kami masih disambut pula oleh staff Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC. Melalui program Youth Exchange and Study yang mendapatkan jatah khusus dari Congress Amerika Serikat, secara formal Pemerintah yang menjadi sentral dari panggung politik dunia sekarang ini mengakui kami selaku duta-duta terpilih yang dibiayai serta diharapkan mampu memperkenalkan budaya dan agama (baca: Indonesia dan Islam) ke tengah masyarakat Amerika Serikat pasca 11 September.


Indonesian Embassy on Washington DC

Bulan lalu saya kembali ditugaskan sebagai seorang duta. Melalui kompetisi Moot Court International Willem C. Vis East di Hong Kong, bapak Ferry Adamhar (Konjen Indonesia di Hong Kong) membaiat kami, delegasi UGM yang diperbolehkan untuk menginap di Indonesian Building sebagai duta-duta kecil RI yang tengah melaksanakan 'Full-diplomacy' dengan cara terjun langsung ke dalam formasi masyarakat international dengan membawa lambang Garuda dan Merah Putih. Di dunia global sekarang sudah tidak ada lagi perbedaan seperti "kamu dari UI, saya UGM", "kami orang Sulawesi, kalian orang Jawa", atau "kami beragama Islam, kalian Kristen". Yang ada hanyalah "Saya bangga menjadi orang Indonesia".

Terima kasih Tuhan, atas kesempatan yang Engkau berikan.
Saya bangga terlahir di Bumi Pertiwi ini. Bangga menjadi duta yang mewakili bangsa kami. Bangga menjadi World Class People, masuk kejajaran Warga Dunia (Global Citizenship).

Yes, I Am An Ambassador already :)

with Mrs. Congresswoman whom in charge to Youth Exchange and Study program

No comments: