Monday, February 11, 2013

Disambut Prabu Anak Wungsu

Masih tentang kembali ke Bali.

Ternyata bukan hanya fisik saya yang ikut kembali ke sana. Spiritually, saya disambut oleh "sesuatu" yang tidak kasat mata, sesuatu dari masa lampau yang sudah terurai dalam bentuk energi. Selama tinggal di Bali 10 tahun yang lalu, ada tiga situs yang belum sempat saya kunjungi. Ketiga situs tersebut memainkan peran yang penting sebagai jantung peradaban dan sejarah kebudayaan di Pulau Dewata. Yang pertama ialah Trunyan, sebuah desa tempat penduduk Bali Aga atau Bali asli (bukan orang-orang Bali yang tepengaruh oleh Majapahit). Yang kedua ialah Pura Besakih, pura terbesar di Bali sekaligus sentra dari ajaran Hindu Dharma. Pada beberapa periode sekali di tempat ini diadakan sembahyangan besar, dimana seluruh penganut Hindu Dharma dari berbagai penjuru datang untuk merayakannya. Nah, yang terakhir ialah sebuah situs suci, petilasan sekaligus "mausoleum" bagi seorang raja Bali pada masa keemasannya. Situs Candi Gunung Kawi di Tamapk Siring, Ubud.
Petirtaan Puri Gunung Kawi, Sebatu. Konon air suci ini diturunkan oleh Dewa Indra untuk menghidupkan kembali pasukan manusia yang diserang oleh seorang raksasa jahat bernama Mayadenawa.
Anak Wungsu ialah seorang bungsu dari tiga orang bersaudara (yang seluruhnya pria). Kakaknya yang sulung bernama Airlangga, kelak menikah dengan putri raja Mataram Kuno (Jawa Timur) Dharmawangsa Tenguh Anantawikrama. Sosok Airlangga cukup terkenal dalam sejarah tanah air. Pada masanya kerajaan Mataram Kuno mencapai kemakmuran, kesusateraan berkembang pesat dan ilmu agama pun bestari. Legenda Calonarang dan Mpu Bharada mengambil latar pada era pemerintahannya. Ia juga merupakan penguasa pertama di tanah air yang menggunakan lambang burung garuda (Garudhamukha) sebagai emblem negara. Putra kedua bernama Marakatapangkaja, memerintah raja di Bali hanya sebentar saja. Pasca sang kakak meninggal, Anak Wungsu kemudian naik takhta menjadi penguasa tunggal di Pulau Dewata ini.

Zaman pemerintahan Anak Wungsu dikenang sebagai puncak kegemilangan Wangsa Warmadewa di Bali. Ia menghapuskan pajak bagi rakyatnya, menerbitkan banyak sekali prasasti berisi informasi berharga akan sejarah masa lalu, serta menjayakan ilmu agama. Candi Gunung Kawi yang mulai dibangun oleh sang kakak (Marakatapangkaja) kemudian ia lanjutkan dan sempurnakan. Candi itu awalnya merupakan tempat pertapaan, tapi kemudian berubah menjadi semacam mausoleum untuk menghormati sang kakak dan ibu mereka, Ratu Gunapriya dari kerajaan Mataram Kuno (cicit Mpu Sendok). Anak Wungsu juga dikenang sebagai raja yang memerintah Bali terlama, yaitu selama 28 tahun.

Hari kedua kembali ke Bali, kami berputar-putar di jalanan Ubud mencari cara menuju situs Candi Gunung Kawi. Driver yang kami sewa sudah 3 tahun tinggal di Pulau Dewata ini tapi belum pernah sama sekali mengunjungi tempat yang katanya kurang terlalu populer di kalangan wisatawan asing itu. Gunung Kawi yang ada di benaknya hanyalah Gunung Kawi tempat pesugihan yang ada di Kab. Malang Jawa Timur. Pun, dari sekian banyak orang Bali yang ia tanya, tidak ada satu orang jua yang tahu dimana lokasi situs ini berada. Mereka bahkan bilang kalau baru pertama kali mendengar di Bali ada "candi".

Benarkah? Saya tidak peduli. Saya ingin menziarahi tempat tersebut dan meresapi momen-momen masa lalu yang terekam, menghirup residual energi dari berabad-abad yang lalu saat peradaban Bali pertama kali diciptakan. Hujan turun rintik-rintik, kami mulai cemas. Sudah tiga kali driver kami bolak-balik uptown Ubud, bertanya ke sana - ke mari namun tidak juga menemukan lokasi yang saya damba-dambakan itu. Akhirnya, setelah memasuki kawasan pedalaman sampailah kami di sebuah tempat bernama Puri Gunung Kawi. Tempat ini sebenarnya pura, bukan destinasi yang kami tuju. Saya agak kecewa, tapi apa boleh buat, sudah sejauh ini toh. Lagipula atmosfer pura yang memiliki pelinggih tua dan kolam air suci ini ternyata amat sangat tenang dan damai. Sumpah, berada di dalam tempat sembahyang dengan beragam energi positif yang terejawantahkan di dalamnya membuat hati saya amat sejuk.
Masih di Puri Gunung Kawi, Sebatu. Damai!
Ketika bersiap-siap akan kembali ke Kuta, petugas di Puri Gunung Kawi mengatakan bahwa selain di desa ini juga terdapat situs lain yang bernama Gunung Kawi. Di Bali, ada tiga tempat yang memiliki nama Gunung Kawi. Saya pun terlonjak kaget. Serta merta saya menanyakan apakah dia mengetahui lokasi candi yang kami incar-incar sedari tadi itu? Sang petugas dengan baik hati menerangkan bahwa jaraknya tidak lebih 4 kilometer dari tempat kami berdiri! Maka tanpa ba-bi-bu lagi perjalanan mencari Candi Gunung Kawi pun kami teruskan.

Akhirnya sampailah kami di Candi Gunung Kawi. Setelah menikmati makan siang yang agak telat, kami pun segera menuruni 315 anak tangga menuju tempat dimakamkannya sang raja terbesar dalam sejarah Bali. Sebelum memasuki lokasi candi, kami diminta untuk memercikkan diri dengan tirta atau air suci yang diletakkan dalam kendi tanah liat di depan gerbang. Saya berkeliling tempat itu dengan perasaan takjub. Sebuah sungai bernama Pakrisan mengalir di tengah-tengah situs. Keindahan alam bercampur keindahan seni arsitektur zaman Warmadewa itu seperti menyihir saya. Hujan gerimis tidak masalah, saya benar-benar menikmati pemandangan yang ada dan membayangkan seperti apa kehidupan masa lalu di sini.

Lalu, "sesuatu" di luar akal sehat manusia pun terjadi. Saya dan Waskito naik ke sebuah tempat di atas dinding karang yang membentuk ceruk-ceruk besar seperti gua. Di salah satu ceruk terdapat meja batu yang dibungkus dengan kain berwarna kuning. Saat itulah, tanpa tedeng aling-aling apapun, saya tiba-tiba merasakan ada "sesuatu" yang berada di atas meja batu tersebut. "Sesuatu" itu punya energi yang amat besar, saking besarnya saya sampai tidak dapat untuk mengangkat wajah.
Candi Gunung Kawi, di tepi Sungai Pakrisan.
Setelah itu saya lalu keluar karena kaki ini seakan-akan ada yang menarik untuk berjalan menuju ke pelataran tempat candi-candi yang diukir pada dinding batu karang. Lima deret candi. Tepat ketika berada di depan candi yang paling tengah, telinga kanan saya berdering nyaring (konon, mahluk halus yang berbeda frekuensi dengan manusia ketika mencoba berkomunikasi dengan kita di dimensi ketiga ini akan menimbulkan bunyi nyaring di telinga. Sebenarnya mereka sedang menyampaikan sesuatu, akan tetapi berhubung saya tidak memiliki sixth sense jadi bahasa yang mereka gunakan itu tertangkap seperti bunyi garpu tala nan nyaring di telinga saya). Setelah itu, masih dalam kebingungan dan ketakutan yang saya rasakan, tiba-tiba ada sesuatu yang menyuruh saya (?) untuk berjalan menuju petirtaan di pojok kanan candi dan menyucikan wajah di sana. Setelah itu segala keanehan nan mistik itu selesai.
Saya tidak tahu apa yang saya alami barusan. Yang jelas, menurut penuturan teman yang memiliki sixth sense, penunggu Candi Gunung Kawi yang tiba-tiba mengajak saya berkomunikasi itu ialah sesuatu yang positif, mahluk yang auranya baik. Mungkinkah dia adalah Prabu Anak Wungsu itu sendiri? Saya tidak tahu. Yang jelas, setelah 10 tahun meninggalkan Pulau Dewata, saya kembali disambut melalui kemistikannya.

No comments: