Tuesday, January 3, 2017

Negeri Rendang dan Soto Ayam



Sebagai seorang pelajar asing yang telah bermukim di Belanda selama tiga tahun, saya selalu mencoba menampilkan diri sebagai duta Indonesia yang baik. Tidak hanya dengan rajin mengikuti latihan talempong dan tari tradisional yang diinisiasi oleh kalangan Indonesianis dan keturunan campuran Indo-Belanda, membuat acara diskusi dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) juga merupakan upaya yang kami lakukan agar Indonesia tidak menjadi wajah yang asing di kota Leiden ini. Di luar negeri, Indonesia memang dinilai dari bagaimana warganya menampilkan diri mereka di hadapan dunia. Sebagai pelajar peran kami pun dituntut lebih, tidak hanya merepresentasikan orang Indonesia kami juga merupakan delegasi kaum terdidik bangsa yang dipercaya untuk menuntut ilmu di sini.
 
Latihan talempong di Voorschoten setiap weekend

Diplomasi untuk mempromosikan kekayaan tanah air juga gencar saya jalankan lewat ringannya dentingan sendok dan garpu. Kawan-kawan saya yang asli Belanda maupun yang berasal dari negara lain kerap saya ajak untuk menikmati kuliner nusantara. Ragam bumbu-bumbu dapur yang dulunya dikejar-kejar oleh nenek moyang hingga berlayar ke Maluku itu ternyata masih dapat menyihir lidah mereka. Salah seorang kawan saya yang berasal dari Italia bahkan pernah membawa ibunya yang sedang berkunjung ke Belanda untuk makan di sebuah restoran Indonesia yang dulu saya rekomendasikan untuknya. Di akhir liburan tersebut, sang ibu kembali ke Milan sambil membawa cerita tentang rendang dan soto ayam, bukannya tentang keju atau stampot khas Belanda.  

Hidup di Negeri Kincir Angin ini sebagai seorang pendatang asal Indonesia tidaklah susah. Bahan makanan melimpah-ruah. Rekan sebangsa pun tersebar dimana-mana, mulai dari ujung kota Groningen hingga ke tepian Maastricht. Belanda sudah sedemikian familiarnya dengan Indonesia. Bagi Belanda, pendatang dari Indonesia terkenal ramah, baik dan rajin bekerja. Belanda yang notabene merupakan negara berlandaskan prinsip-prinsip tradisional Protestan juga telah terbiasa dengan kehadiran kaum pendatang dari negara-negera muslim. Selain muslim asal Indonesia, komunitas imigran muslim terbesar di Belanda berasal dari Maroko dan Turki. Tercatat migran muslim paling awal yang berasal dari Indonesia telah bermukim di Belanda sejak era penjajahan. Makam muslim tertua di Belanda ialah makam seorang budak asal Sulawesi bernama Le Pejou (La Beyu) alias Apollo yang dibawa oleh tuannya ke kota Zwolle pada tahun 1840.
 
Salah satu restoran Indonesia ternama di Den Haag
Kajian-kajian mengenai Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas penduduk di Hindia Belanda bahkan mendapatkan porsi yang besar dalam bahasan-bahasan akademis di ruang-ruang kuliah Universitas Leiden pada abad ke-19. Snouck Hurgronje, salah seorang pengajar terkemuka hukum adat di Leiden dikenang sebagai salah seorang Islamolog termashyur yang banyak mengumpulkan bahan-bahan terkait perkembangan Islam di Nusantara pada zamannya. Bagi kalangan kaum terdidik, Islam bukanlah fenomena langka. Islam adalah bagian dari peradaban dunia internasional yang turut juga mempengaruhi perjalanan Belanda sebagai sebuah bangsa. Hari ini, walikota Rotterdam, kota dagang terbesar di Eropa Barat adalah seorang Belanda muslim keturunan Maroko. Bagaimana mungkin seorang muslim keturunan Timur Tengah terpilih menjadi walikota Rotterdam? Itu semua dapat terjadi karena di Belanda ini latar belakang ras atau pun agama tidak dijadikan tolak ukur dalam menilai keprofesionalitasan seseorang.

Meskipun pemerintah Belanda belum mengakui hari libur Islam sebagai bahagian dari hari libur nasional, akan tetapi karyawan maupun pelajar yang ingin merayakannya tidak pernah dilarang atau dipersulit untuk mendapatkan izin. Demikian pula halnya dengan ibadah lainnya seperti puasa. Kaum muslim bebas dalam melaksanakan ibadahnya tanpa halangan dari masyarakat Belanda. Tidak ada sama sekali catatan diskriminasi yang dirasakan oleh rekan-rekan pelajar Indonesia selama melaksanakan ibadah puasa di Belanda. Tempat ibadah pun juga banyak tersebar dimana-mana. Di Leiden sendiri ada tiga buah mesjid dimana dua di antaranya dilengkapi oleh kubah dan minaret. Saya belum pernah menyaksikan ada unjuk rasa yang dilakukan oleh warga Belanda di kota Leiden untuk menentang kehadiran mesjid-mesjid tersebut.
 
Perayaan Idul Adha di Moskee Alhijra, Leiden
Sebagai seorang pelajar muslim asal Indonesia, saya selalu senang untuk berbagi kisah tentang kebhinnekaan Indonesia. Biasanya teman-teman sekelas dan dosen-dosen saya tercengang ketika angka 17.000 muncul untuk menggambarkan jumlah pulau yang dimiliki oleh negara kita. Luas Belanda yang lebih kecil dari pada provinsi Jawa Timur ini tidak ada apa-apanya dibanding luas Indonesia. Mata mereka membelalak ketika saya berkisah bahwa di Indonesia kita punya lebih dari 300 bahasa daerah. Jumlah etnik grup, ragam flora dan fauna, bermacam-macam peninggalan peradaban kuno, keindahan alam pegunungan serta lautannya; singkat kata segala sesuatu yang saya ceritakan tentang Indonesia selalu berhasil membuat mereka berdecak kagum. Saya selalu tersenyum puas ketika di akhir kelas mereka hanya dapat terpana dan berimajinasi akan negeri seperti apakah itu Indonesia yang punya kekayaan tak terhingga ini. Indonesia bagaikan surga yang penuh misteri. Mungkin benar kata Alkitab bahwa Taman Eden itu letaknya ada di sebelah timur, tepatnya di sudut bumi yang bernama Indonesia.


Di balik senyum puas itu, saya tidak pernah bercerita kepada mereka mengenai kasus-kasus intoleransi yang terjadi di tanah air. Saya seakan dilanda amnesia akut untuk menambahkan tentang betapa minoritas di Indonesia menderita oleh perlakuan semena-mena mereka yang menganggap dirinya mayoritas. Saya lupa bercerita mengenai orang-orang Papua yang hidup di bawah bayang-bayang militer dan jadi bahan bulan-bulanan dalam ejek-ejekan rasial suku-suku bangsa lainnya. Saya juga lupa bahwa ada banyak kasus pelanggaran HAM dari masa lalu yang tabu untuk diangkat-angkat kembali.

Saya lupa mengisahkan kepada teman-teman sekelas dan dosen-dosen saya mengenai kaum Syiah dan Ahmadiyah yang dibakar rumahnya dan diancam untuk dibunuh apabila tidak segera mengikuti Islam versi mayoritas yang telah diinstitusionalisasi oleh pemerintah. Saya juga khilaf tidak menceritakan kepada mereka bahwa ada banyak gereja yang tidak diberikan izin untuk berdiri sehingga banyak warga Indonesia penganut agama Kristen yang mengadakan kebaktian di mall-mall dan lapangan parkir. Belum lagi belakangan ini makin marak isu politik yang memanfaatkan fenomena penistaan agama. Saya lupa untuk bercerita bahwa di Indonesia amat mudah bagi orang untuk percaya berita hoax bahwa seorang ibu paruh baya yang menjual makanan di siang hari saat bulan puasa adalah istri dari seorang bandar judi merangkap mucikari. Saya lupa untuk menambahkan narasi-narasi di atas, mungkin karena waktu makan kami yang terlalu singkat atau karena di ruang kelas saya harus segera mengizinkan kelompok lainnya untuk presentasi.

Saya senang sekali menjadi pelajar Indonesia di Belanda. Indonesia di sini seperti sebuah negeri dongeng utopis yang jauh dari isu-isu disintegrasi. Indonesia benar-benar seperti Taman Eden dimana manusianya hidup rukun dan saling menghormati satu sama lain. Saya berharap semoga suatu hari nanti tidak ada orang Belanda yang memetik buah khuldi dan memakannya. Saya takut nanti setelah menelan buah kutukan itu mata mereka jadi terbuka lebar dan dapat melihat aib-aib yang seharusnya tidak ada di negeri surgawi. Biarlah Indonesiaku di Belanda ini hanya sebatas rendang dan soto ayam. Tidak ada kejelekan yang pernah muncul dari rendnag dan soto ayam.

Leiden,
18 Desember 2016
11:42

No comments: