Monday, February 20, 2017

Protes Trump di Den Haag: Aksi Bela Muslim dan Solidaritas Kaum Kafir

Seumur-umur baru kemarin itu saya merasakan yang namanya ikutan unjuk rasa atau demo di tempat terbuka. Sebelumnya jika ingin melayangkan protes atau menyuarakan ketidaksukaan, saya lebih memilih untuk membuat tulisan atau membuat petisi. Saya selalu berpikir bahwa yang namanya unjuk rasa atau selain menghabiskan energi juga dapat menganggu ketentraman hidup orang banyak. Apalagi jika sampai memblokir jalan dan main bakar-bakaran ban, bendera, boneka, atau apapun itu yang biasanya dibakar.

Ya, harap maklum, saya punya pengalaman yang cukup buruk dengan yang namanya demo-demo ini. Kota asal saya, Makassar, adalah gudangnya demo-demo anarkis yang berakibat buruk tidak hanya ke nama universitas tempat aksi-aksi tersebut terjadi tapi juga ke nama kami, warga kota yang sebenarnya juga amat dirugikan olehnya. Bayangkan, dulu kakak saya yang hamil muda pernah terjebak tidak bisa pulang kantor karena jalanan diblokade oleh para pengunjuk rasa. Kenyamanan kami untuk dapat bergerak jadi terbatasi dan banyak fasilitas umum yang akhirnya rusak hanya karena pemuda-pemuda ini ingin melampiaskan hasrat mereka agar harga gorengan di kantin diturunkan atau bebaskan lapangan parkir kampus dari retribusi.





Kedua, pengalaman tidak menyenangkan lainnya datang dari kampus tempat saya menuntut ilmu di Jogja dulu. Di kampus ini fakultas saya memang terkenal akan hobinya untuk turun ke jalan. Tidak ada yang salah dengan itu, toh selama tiga setengah tahun di sana saya tidak pernah melihat aksi-aksi mereka berubah jadi pesta liar di tempat umum. Teman-teman saya cukup santun dalam mengekspresikan diri mereka. Hanya saja, beberapa dari mereka yang menganggap dirinya aktifis ini sering memandang sebelah mata mereka-mereka yang tidak turut mengambil andil dalam protes-protes di jalan. Saya bahkan pernah disindir oleh salah seorang teman yang menganugerahi dirinya dengan titel aktifis bahwa: "Lo belum mahasiswa kalo lo belum ikutan aksi turun ke jalan!". Alhamdulillahnya saya tidak terjebak dengan omongan sempit yang membuat definisi mahasiswa Indonesia terlihat dangkal itu. Toh, saya masih bisa berkontribusi untuk masyarakat di sekitar saya dengan apa yang saya pelajari dan menjadi mahasiswa sesuai dengan apa yang saya bayangkan sendiri.

Akan tetapi, tanggal 1 Februari 2017 kemarin akhirnya saya memutuskan untuk turun juga ke jalan. Sore yang indah. Meskipun basah oleh gerimis hujan di suhu 3 derajat Celcius, semangat warga Belanda dan kaum imigran untuk berkumpul di kota The Hague dalam rangka memprotes kebijakan Muslim Ban, anti-refugee serta Walled Border US-Mexico amatlah tinggi. I have had enough, demikian batin saya. Kali ini saya harus turun ke jalan, menyuarakan keberatan saya atas katastrofi yang sifatnya global ini. Seluruh dunia harus tahu bahwa akibat negatif yang disebabkan oleh presiden negara adidaya tersebut sudah di luar batas-batas kewajaran. Ia sudah melakukan sesuatu yang sifatnya tak dapat lagi dilawan lewat tulisan atau petisi. Kali ini saya adalah kami. Saya turun ke jalan. Saya tak berdiri sendirian.

Jumlah kami mungkin tidak menyapai angka tujuh juta. Kebanyakan dari kami yang hadir di aksi solidaritas ini juga mayoritas kafir ateis, kafir Yahudi (banyak orang tua survivor Perang Dunia II), kafir Nasrani, kafir Hindu, kafir Buddha, orang Asia Timur (Cina-Belanda), orang Afrika, kaum homoseks, liberal, dan bahkan dari Partai Sosialis Belanda. Kaum-kaum yang paling dibenci Tuhan ini (menurut segelintir kaum Muslim bersuara lantang di tanah air yang melarang seorang Tionghoa non-Muslim untuk terpilih sebagai gubernur) alhamdulillahnya memekikkan teriakan-teriakan kebebasan untuk kaum Muslimin rahimakumullah yang tengah menderita akibat kebijakan Donald Trump, sahabat beberapa petinggi politik di tanah air yang menutup mata dari apa yang terjadi terhadap saudara-saudara Muslim kita di luar sana. Mereka menyuarakan perlawanan terhadap xenofobia, diskriminasi dan rasisme dalam bentuk apapun dimana saja di muka bumi ini.

Di antara kumpulan orang-orang kafir dan penuh dosa ini ada pula sahabat-sahabat kita dari Palestina. Mereka ini telah menetap lama di negeri kafir Belanda dan bersyukur bahwa mereka mendapatkan dukungan positif dari orang-orang di sekitar mereka. Aksi berjalan dengan damai, kami lanjut dari lapangan Malieveld menuju ke kedutaan Amrik. Meskipun dikepung oleh blokade polisi, alhamdulillah kami masih diizinkan untuk berorasi.

Indahnya persatuan. Pada dasarnya semua manusia ini adalah sama derajat dan martabatnya. Bersatu kita melawan segala bentuk kebencian dan kebodohan. Di hari itu saya tersadarkan bahwa menjadi orang yang berakal itu membawa banyak kemanfaatan serta rasa persaudaraan ketimbang menjadi seseorang yang hanya beriman tanpa berakal.

No comments: