Sunday, May 28, 2017

“Nun” dan Perang Saudara yang Mengakhiri Majapahit

            Kepulangan saya ke Indonesia kali ini cukup istimewa. Setelah seminggu terjebak dalam keriuhan ibukota, saya pulang ke Jogja. Jogja memang rumah yang selalu dirindukan entah itu berupa nuansanya, makanannya, maupun orang-orangnya. Di Jogja, saya memanfaatkan momen yang ada untuk berziarah ke situs-situs yang sudah lama saya impi-impikan untuk datangi namun belum kesampaian. Saya tak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada. Memang tujuan kepulangan ke Indonesia kali ini ialah untuk merecharge energi dan mencari inspirasi baru. Dua di antara situs-situs tersebut ialah Candi Cetho dan Sukuh di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah. 

            Setelah menemukan traveling partner yang juga ingin lari sejenak dari penatnya kehidupan (sebut saja namanya Tekyan), pada suatu subuh yang berbahagia kami bermobil menuju ke Jawa Tengah, tepatnya Kabupaten Karanganyar. Jarak yang ditempuh dari kota Jogja sekitar dua jam lamanya. Tidak jauh memang, apalagi lalu lintasnya belum terlalu padat saat itu. Sengaja berangkatnya pagi-pagi buta karena kami mengejar pemandangan matahari terbit dari depan candi. Perjalanan ke lereng Gunung Lawu ternyata amatlah curam dan menyeramkan, akan tetapi pemandangan yang bakal anda nikmati dari atas sana dijamin tak ada duanya. Kami tiba di hadapan Candi Cetho beberapa saat setelah matahari terbit. Sayang memang, rencana untuk melihat sunrise dari situs tersebut gagal. Namun itu tidak mengurangi gairah kami untuk mengunjungi candi yang masih digunakan sebagai tempat ibadah tersebut.

            Sambil menunggu pukul tujuh tiba, saya dan Tekyan memutuskan untuk beristirahat di warung kopi terdekat. Daerah di sekitar Candi Cetho ini amat menarik menurut saya sebab rumah-rumah mereka dihiasi oleh candi bentar alias gerbang depan yang mirip seperti di Bali. First impression, nuansanya mirip dengan Tengger, desa kecil di kaki Bromo. Saat memesan mie rebus dan teh hangat untuk mengganjal perut pagi itu, anak pemilik warung memanggil-manggil ibunya. Sang ibu yang kebetulan tengah sibuk di dapur membalikkan badannya dan menyahut “Nun!” kepada si anak. Saya terkejut. Akhirnya setelah beberapa tahun tak pernah mendengarkan “nun” dari mulut seseorang, pagi itu di tengah dusun Cetho, kabupaten Karanganyar istilah yang berarti “iya” dalam Bahasa Jawa Timuran itu muncul kembali. Waktu kecil saya dijaga oleh seorang pengasuh yang berasal dari Blitar, Jawa Timur hingga saya masuk SMP. Tidak heran jika saya familiar dengan caranya bertutur, termasuk dengan ekspresi “nun” itu. Jika di Jawa Tengah dan sekitarnya kata yang digunakan untuk menjawab seruan adalah “dalem”, maka di Blitar yang digunakan ialah “nun”. Namun yang jadi pertanyaan selanjutnya, apa sebab “nun” tersesat sedemikian jauh ke Jawa Tengah apalagi di tengah antah-berantah seperti ini?

            Nah, penjelasannya datang saat akhirnya kami diperbolehkan masuk ke Candi Cetho. Tepat pukul tujuh pagar dibuka. Dengan membayar biasa masuk sebesar Rp 7.000,00 kami diberi kampuh alias kain untuk menutup pinggang yang biasanya digunakan untuk sembahyang oleh umat Hindu. Di lokasi candi kami diharapkan untuk menghormati kesuciannya dengan tidak berkata-kata kasar maupun buang sampah sembarangan. Aura sakral dan mistis memang sudah terasa sejak melewati gapura besar utama. Di teras pertama candi terdapat papan informasi yang memaparkan hal-ihwal Candi Cetho dan daerah sekitarnya. 

Konon Candi Cetho ini merupakan tempat dimana Prabu Brawijaya V beserta para pengikutnya mengungsi pasca keruntuhan kerajaan Majapahit. Prabu Brawijaya V moksa atau masuk ke alam gaib bersama para pengikutnya yang setia dari Candi Cetho. Itulah sebabnya candi ini dianggap sebagai salah satu tempat paling keramat sepulau Jawa. Presiden Soeharto hingga SBY dikabarkan pernah bertirakat di candi ini untuk mendapatkan wahyu keprabon alias anugerah dari Sang Penguasa Jagad yang menandai mereka sebagai penguasa Nusantara, meneruskan raja-raja Majapahit. Nah, sisa-sisa pengikut Prabu Brawijaya yang tidak moksa kemudian memutuskan untuk bermukim di sekitar candi, menjaga bangunan suci tersebut secara turun-temurun. Mereka inilah Hindu Jawa pewaris tradisi Majapahit yang terakhir. Selain di Cetho saya juga bertemu dengan komunitas ini di Tengger. Itulah sebabnya area di sekitar Candi Cetho dan Gunung Bromo itu 90% penduduknya masih menganut agama Hindu Jawa. Tidak heran jika mereka yang secara administrasi tergolong ke dalam provinsi Jawa Tengah ternyata berbahasa ala Jawa Timuran. Beberapa pelarian Majapahit ini juga ada yang pergi sejauh Gunung Kidul di Yogyakarta. Itulah sebabnya penduduk Gunung Kidul memiliki tradisi yang cukup kontras dengan penduduk Jawa lain di sekitar mereka. Secara selera makanan mereka suka yang pedas-pedas seperti orang Jawa Timur pada umumnya. Demikian pula dari segi bahasa, mereka menyebut nyamuk dengan nama “jingklong”, istilah yang sama dengan apa yang saya dengar keluar dari mulut pengasuh saya bertahun-tahun yang lalu. Tidak hanya agama, orang-orang keturunan pelarian Majapahit ini juga masih melestarikan istilah-istilah lama dalam bahasa mereka. Menarik sekali ya!

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih dua jam di Candi Cetho, kami kemudian meneruskan perjalanan ke Candi Sukuh yang terletak lebih ke bawah. Kami melewati perkebunan teh “Kemuning” yang indah dan sempat tersesat beberapa kali, hingga akhirnya sampailah kami di dusun Sukuh. Dusun Sukuh berbeda dengan dusun Cetho. Di Sukuh penduduknya sudah mayoritas memeluk agama Islam. Fungsi Candi Sukuh sendiri tidak terlalu dikeramatkan sebagaimana halnya dengan Candi Cetho, hanya saja pada saat-saat tertentu candi ini masih digunakan untuk beribadah. Candi Sukuh sempat mengundang kehebohan beberapa tahun lalu karena bentuknya dianggap mirip dengan ziggurat/piramida bangsa Maya di Amerika Selatan. Beberapa ornamen yang ada di Sukuh seperti patung raksasa penjaga, burung garuda dan naga juga dianggap mirip dengan arca-arca yang ditemukan di benua Amerika sana. Sebuah novel yang terbit tahun 2012 berjudul “Sukuh: Misteri Portal Kuno di Gunung Lawu” karya Rizki Ridyasmara mempopulerkan teori bahwasanya candi ini merupakan sebuah pintu gerbang gaib menuju ke dimensi lain. Mungkin si penulis novel ini terinspirasi dari legenda yang menyatakan bahwa Prabu Brawijaya V moksa di lereng Gunung Lawu.
Candi Cetho dari teras ketiga
            Historically speaking, Candi Cetho dan Sukuh konon dibangun pada abad ke-15 di masa kekuasaan Ratu Suhita. Saat itu Majapahit baru saja menikmati masa damai setelah dirongrong oleh Perang Paregreg yang terjadi akibat perseteruan antarsaudara; Wikramawardhana dan Bhre Wirabumi. Wikramawardhana yang merupakan keponakan dari Prabu Hayam Wuruk menikahi sepupunya yang bernama Kusumawardhani. Kusumawardhani ialah putri mahkota Majapahit. Melalui pernikahan tersebut secara otomatis Wikramawardhana pun diangkat naik sebagai penguasa tunggal kerajaan. Sayangnya, Bhre Wirabumi yang merupakan putra Hayam Wuruk dari seorang selir menentang sahnya klaim Wikramawardhana atas takhta Majapahit. Ia melakukan kudeta dengan jalan mendirikan kedaton wetan alias keraton timur yang berpusat di Blambangan. 

Keberadaan kerajaan di Jawa yang pecah menjadi dua tersebut direkam pula oleh Cheng Ho saat melawat ke Nusantara. Perseteruan keluarga Majapahit baru dapat berakhir setelah Bhre Wirabumi berhasil ditundukkan. Bhre Wirabumi tewas dan kedaton wetan dimasukkan kembali ke dalam yurisdiksi Majapahit. Saat itu Wikramawardhana sengaja mengambil istri salah seorang anak perempan Bhre Wirabumi untuk menghentikan dendam antarkeluarga. Dari pernikahan Wikramawardhana dengan Bhre Wirabumi itulah kemudian lahir Suhita. Ia memerintah dari tahun 1429 hingga 1447 Masehi. Prabustri Suhita digantikan oleh saudara tirinya yang bernama Dyah Kertawijaya, putra Wikramawardhana dengan selir lain. Tidak diceritakan penyebab mengapa takhta tidak diwariskan ke keturunan Suhita karena ditengarai beliau sendiri tidak memiliki anak dari hasil pernikahannya dengan Pangeran Kahuripan bernama Aji Ratnapangkaja.   
Di foto dari salah satu teras Candi Cetho
            Secara arsitektur, Candi Cetho dan Sukuh memang unik dan berbeda dengan candi-candi lainnya yang ada di Jawa Tengah maupun dengan sesama peninggalan Majapahit. Keduanya dibangun tinggi di lereng Gunung Lawu dengan wajah menghadap ke timur. Candi Cetho dan Sukuh dibangun dengan gaya punden berundak-undak, meniru bangunan leluhur masyarakat Jawa sebelum mengenal agama Hindu dan Buddha. Gaya punden yang khas Nusantara ini sayangnya banyak disalahartikan oleh generasi masa kini sebagai “piramida” atau disama-samakan dengan arsitektur Aztek/Maya. Seharusnya kita konsisten dan bangga dengan menyebutnya punden berundak dong, karena gaya tersebut berasal dari nenek moyang kita sendiri, tidak perlu dikait-kaitkan dengan peradaban bangsa lain hanya karena yang di sana itu lebih memancanegara. Hasan Djafar dalam “Masa Akhir Majapahit” menyebutkan bahwa menjelang keruntuhannya, agama Hindu dan Buddha mengalami kemunduran di Majapahit. Agama-agama lokal yang tadinya tersingkir tiba-tiba muncul kembali dalam wujud yang sinkritik dengan kedua agama negara Majapahit tersebut. Jadi tidak heran jika arsitektur sakral lokal pun bangkit kembali di era tersebut. Kedua candi tersebut juga diciptakan untuk tujuan ruwat atau cleansing ceremony. Dalam tradisi Jawa pre-Hindu, ruwatan dilakukan untuk mengusir roh jahat dan untuk menyucikan jiwa. Ritual-ritual seperti itu bangkit kembali dan diberi pakaian Hindu oleh para penganutnya.
 
Bangunan utama Candi Sukuh
Bangunan Candi Cetho dan Sukuh termasuk yang mengagungkan lingga (arca yang menyimbolisasikan phallus Batara Siwa). Di puncak Candi Sukuh dulunya terdapat sebuah lingga raksasa berwarna putih yang tingginya mencapai 2 meter. Lingga tersebut kemudian dipindahkan ke Batavia demi alasan keamanan dan penelitian. Sampai sekarang lingga tersebut masih tersimpan di Museum Gajah. Pemujaan terhadap dewa Siwa melalui penemuan banyaknya lingga tersebar luas di sekitar Gunung Penanggungan dan Gunung Lawu pada era ini. Itulah sebabnya oleh warga sekitar Candi Sukuh disebut juga dengan nama Candi Saru alias candi yang jorok. Tidak hanya lingga, berbagai macam ikonografi alat kelamin perempuan dan hal-hal yang berbau seksual juga dapat ditemukan di Candi Sukuh. Keunikan lainnya ialah hubungan antara lingga yang terdapat di Candi Cetho dan Sukuh dengan ritus pemujaan terhadap gunung. Oleh nenek moyang kita, gunung disakralkan sebagai tempat dimana arwah-arwah leluhur bersemayam sebelum kedatangan agama Hindu dan Buddha. Itulah sebabnya mengapa kedua candi ini arah pemujaannya bukan ke timur sebagaimana lazimnya candi-candi lainnya, melainkan ke arah gunung. Memasuki periode akhir Majapahit, gunung kembali menjadi tempat suci pula bagi dewa-dewi Hindu. Konsekuensinya, muncul semacam kombinasi dengan dewa lokal dimana Siwa disamakan dengan “dewa gunung” atau “penguasa gunung” yang disebut dengan nama Parwataraja, Parwatanatha atau Girinatha.   
 
            Di saat yang bersamaan dengan maraknya pemujaan terhadap dewa gunung ini, di Majapahit terjadi pula pergantian dinasti. Dinasti Rajasa keturunan Ken Arok yang berkuasa sejak zaman Singasari dan telah menurunkan raja-raja Majapahit berganti dengan naiknya Dinasti Girindra. Dinasti Girindra ini sejatinya juga masih keturunan Rajasa, hanya saja tidak berasal langsung dari keturunan permaisuri raja melainkan dari selirnya. Dalam sekejap nama-nama raja yang memerintah diramaikan dengan gelar Girindra yang secara harfiah berarti “Raja Gunung”. Yang paling terkenal tentu saja raja terakhir Majapahit, Dyah Ranawijaya Girindrawardhana
 
Dulunya di atap Candi Sukuh terpasang sebuah arca phallus raksasa perlambang Dewa Siwa

Candi Cetho dan susunan batu berbentuk alat kelamin pria dan wanita

Nah, setelah Dyah Kertawijaya memerintah sebagai raja menggantikan Suhita, baru empat tahun menjabat ia telah digulingkan oleh saudara tirinya (yang lain) putra Wikramawardhana dengan selir (yang lain pula) bernama Rajasawardhana Sang Sinagara. Rajasawardhana pun bernasib malang, ia hanya memerintah selama dua tahun. Di sini nampak bahwa Majapahit tengah mengalami krisis politik. Posisi raja sempat kosong selama 3 tahun hingga akhirnya diisi oleh Girisawardhana, putra almarhum Dyah Kertawijaya. Dari dirinyalah bisa dikatakan Dinasti Girindra dimulai. Putra Girisawardhana yang bernama Bhre Pandansalas Dyah Suraprabhawa menjadi raja selama 8 tahun hingga kemudian dikudeta oleh Bhre Kertabumi.  

Bhre Kertabumi yang mengklaim takhta Majapahir ini ialah putra bungsu Rajasawardhana Sang Sinagara. Ternyata dendam antarkeluarga ini belum larut juga dimakan kala. Bhre Kertabumi merasa ayahnya dicurangi, sebagai putra Sang Sinagara ia berhak atas kursi Majapahit. Diusirnya lah Dinasti Girindra dari istana. Bhre Kertabumi berkuasa selama 10 tahun setelah kemudian diserang oleh Dyah Ranawijaya Girindrawardhana putra Bhre Pandansalas. Bhre Kertabumi sendiri diduga keras ialah tokoh yang sama dengan Brawijaya V dalam narasi Babad Tanah Jawi. Dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan bahwa Brawijaya V memiliki seorang putra dari selir asal Cina yang diberi nama Raden Patah. Betul atau tidaknya cerita tersebut, yang jelas pada tahun 1519 Raden Patah yang saat itu menjabat sebagai Adipati Demak menyerang balik Dyah Ranawijaya Girindrawardhana dan meruntuhkan kerajaan Majapahit. Apakah Raden Patah simply ingin membalaskan dendam ayahnya dalam penyerangan itu? Nah, masih menjadi misteri. Yang jelas sejak saat itu Majapahit menghilang dari sejarah dan Kesultanan Demak tumbuh menjadi kerajaan besar di tanah Jawa.
Setelah itu kami mengakhiri petualangan dengan makan timlo di Solo :P
Menurut saya pribadi, tujuan dibalik pendirian Candi Sukuh selain untuk memenuhi kebutuhan akan ritual ruwat yang saat itu kembali booming di era akhir Majapahit ialah juga sebagai pemenuhan doa dari Ratu Suhita dan suaminya. Sebagaimana telah kita ketahui, pernikahannya dengan Aji Ratnapangkaja tidak menghasilkan keturunan. Di masa pemerintahannya, ia justru mendirikan candi yang dipenuhi oleh aksesoris-aksesoris sakral yang berhubungan dengan aktifitas kesuburan. Sepertinya Candi Sukuh memang menjadi tempat ritual sang ratu bersama suaminya untuk memohon agar dikaruniai penerus. Usahanya seserius itu hingga mendirikan tempat pemujaan dengan arca phallus raksasa di lereng gunung yang jauh dari ibukota kerajaan. Wajar saja, sebenarnya. Di tengah kecamuk perang saudara Majapahit, anak yang terlahir dari perpaduan benih Wikramawardhana dan Bhre Wirabumi diharapkan dapat meredam kekacauan. Akan tetapi sayangnya cita-cita sang ratu tidak terwujud. Majapahit kemudian harus berakhir di tangan perang antara saudara-saudara seayahnya sendiri.

Satu hari yang seru sekali. Saya banyak mendapatkan pengetahuan, pengalaman dan juga cerita-cerita baru. Berawal dari kata “nun” yang punya sihir nostalgik hingga ke runtuhnya sebuah kerajaan besar di candi berphallus. Hidup ini memang dipenuhi oleh anekdot-anekdot menarik yang mungkin hanya bisa dipahami nanti setelah lewat beberapa generasi. Toh, kita yang hidup di zaman ini sejatinya merupakan bahan pelajaran bagi generasi yang akan datang. Semoga dari ziarah-ziarah yang saya lakukan di tanah air ini saya mendapatkan ilham untuk dapat menjadi manusia yang lebih baik lagi. Om Santi Santi Santi Om.

Makassar,
28 Mei 2017
02 Ramadan 1438

No comments: