Tuesday, February 15, 2011

"Anak Tiri"


(Adipati Karna, meskipun bukan anak tiri namun beliau merupakan representasi dari seorang anak yang tetap teguh walau dibuang oleh sang ibu, Dewi Kunti)

Tidak ada maksud dari saya untuk mendiskreditkan peran ibu tiri dalam sebuah rumah tangga di dunia nyata. Fenomena ibu tiri yang kejam terhadap anak bawaan suaminya memang sudah sejak zaman baheula hidup di dalam khayalan bangsa Indonesia. Dongeng anak-anak serupa Bawang Putih dan Bawang Merah dengan sempurna menggambarkan bagaimana seorang anak tiri diperlakukan tidak layak oleh ibu dan si kakak baru. Bangsa ini memiliki kecenderungan untuk menggunakan image ibu tiri sebagai sisi yang berlawanan, ketidakpedulian, serta tekanan. Pada tulisan kali ini, ijinkanlah saya untuk meminjam istilah "anak tiri"-"ibu tiri" yang sudah terlanjur melekat di jiwa masyarakat nusantara kita untuk menceritakan kisah sedih yang belum pernah muncul di sinetron tapi benar-benar terjadi di dunia nyata.

Anda pernah mendengar kata 'fakultas hukum'?

Tentunya pikiran anda akan langsung membayangan sebuah tempat penempaan anak-anak muda untuk menjadi insan-insan hukum yang berpikiran kritis, tegas, serta agresif. Anda membayangkan sore hari yang diisi oleh sekumpulan mahasiswa untuk diskusi mengenai penyimpangan hukum para birokrat atau siluet pemuda yang sedang duduk di bawah pohon sambil membaca buku-buku mengenai dinamika dan teori hukum. Atau bisa jadi anda akan membayangkan tempat dimana anak-anak muda dengan rambut dicat, sepatu mahal, mobil-mobil mewah dari duit orang tua mereka, serta gadget terbaru berseliweran. Bayangan anda yang terakhir ini mengisyaratkan bahwa kelak ketika insan-insan muda tersebut keluar dari cangkangnya dan menjadi manusia di luar sana, kerjaan mereka tidak lain hanya mengejar kenikmatan yang telah mereka peroleh lagi dan lagi, hingga lupa isi mata kuliah etika profesi mereka di semester satu.

Imajinasi Anda di atas dua-duanya tidak salah.

Mahasiswa fakultas hukum Indonesia sekarang ini tidak hanya tahu bagaimana caranya menjadi sosok pilihan yang ber-IP tinggi, mereka juga telah menjelma menjadi manusia-manusia yang terus update dengan gaya hidup penuh kenyamanan. Untuk terus dapat dilabeli oleh keluarga, tetangga, dosen, serta masyarakat luar sebagai "mahasiswa pintar dari universitas unggulan X" mereka pun menciptakan kegiatan-kegiatan yang bentuknya seperti kegiatan mahasiswa agar tetap 'terlihat' memiliki kesibukan. Aktif membuat acara-acara ini-itu serta berupaya untuk terus menghidupkan "kumpul-kumpul bersama", pokoknya ada-ada sajalah. Pihak fakultas anehnya dengan senang hati menyambut prosesi tanpa hakikat itu.


(Kunti, a woman who abandons her child)

Di sisi lain, ada anak-anak yang selalu disalahartikan. Anak-anak yang memang sudah meniatkan diri mereka untuk mengejar prestasi di ajang-ajang dunia. Demi meneruskan cita-cita Buya Hamka dan Ali Alatas, mereka mempunyai harapan besar untuk mengangkat nama nusantara di forum mancanegara. Anak-anak ini dianggap sok sibuk dengan kegiatan "asing" mereka, dicap kebarat-baratan, dianggap melupakan pokok kebangsaan asli mereka, serta tidak sedikit yang menganggap mereka cuma ingin mengambil keuntungan berangkat ke luar negri gratisan melalui kompetisi-kompetisi internasional.
Anak-anak ini, dari luar mungkin sepertinya sedang duduk di pangkuan pihak fakultas, diemong, disuapi dengan bubur gandum bervitamin. Anak-anak lainnya hanya menatap sinis tanpa tidak pernah benar-benar mengetahui tangisan yang dikeluarkan olehnya.

Anak tiri, demikian saya menyebut mahasiswa-mahasiswa yang berkecimpung di dunia moot court internasional di fakultas saya ini. Tidak hanya dipandang-sebelah mata oleh sesama mahasiswa lainnya, kami pun juga enggan "dimomong" oleh orang tua kami. Jika benar katanya ada 'bubur gandum bervitamin' yang seharusnya diberikan kepada kami, pada kenyataannya kami tidak mendapatkan seperti yang dibayangkan. Tidak adanya perhatian baik dari sesama rekan mahasiswa dan fakultas terkadang membuat kami capek, lelah, ingin berhenti saja dari kegiatan ini. Akan tetapi ketika kami melongok jauh ke luar pagar kampus di jalan Sosio Yustisia ini, kami sadar bahwa dunia yang luas di luar sana menuntut kami untuk menjadi civitas akademika yang tangguh dalam arti sebenarnya, tidak hidup dalam teori dan koaran.

Kami punya mimpi yang mulia demi nama baik Indonesia dihadapan segala bangsa. Jika ini terdengar seperti bualan si punguk yang hendak mencapai bulan dan membuat anda tertawa, silakan tertawalah. Tapi ingat, hari ini kami merintis jalan. Mungkin sepuluh, seratus, atau seribu tahun lagi, nama kami akan ada dalam sejarah. Kami akan diingat sebagai anak-anak tiri yang terus berjuang digempur ketidakpedulian oleh ibu tiri dan saudara tiri kami.


Yogyakarta,
15 Februari 2011

1 comment:

Ranmaru said...

Kalian anak tiri, bagaimana dengan diriku dan teman-temanku. Kami ini anak pungut. Dipungut dari sisa-sisa peradaban bangsa sebelum tiba di masa yang barbar ini.