Friday, October 28, 2011

Merayakan Sumpah Pemuda


Hari ini tanggal 28 Oktober 2011.
Ada sesuatu yang saya rayakan hari ini di tengah padatnya jadwal kuliah dan aktifitas kampus. Hari ini ibu kandung saya berulangtahun. Sedih karena tidak dapat mengucapkan selamat maupun menyiapkan kejutan langsung untuknya, saya hanya dapat mengirimkan doa serta ucapan manis melalui SMS. Saya yakin, tidak harus hadir secara kasad mata dihadapannya pun sebagai seorang ibu beliau tidak akan pernah kehabisan rasa kasih sayangnya untuk saya.

Untaian kalimat yang saya rangkum melalui SMS malah beliau jawab dengan sebuah doa yang indah buat saya dan kakak-kakak. Ah, betapa tulusnya kasih ibu. Di saat yang personal seperti ulangtahunnya pun Ia malah tidak luput untuk mendoakan anak-anaknya. Bagi seorang ibu, mendoakan kesuksesan sang buah hati jauh lebih berharga ketimbang meminta orang lain mendoakan dirinya sendiri. Luarbiasa, I love my mommy so much!


Mama Wiwik & Louie at Prambanan Temple, 2009


Berlanjut ke hal spesial lainnya di hari ini.
Tepatnya 83 tahun yang lalu, di negara yang kini bernama Indonesia, segelintir pemuda dari kepulauan nusantara yang masih berada di ketiak Kumpeni berkumpul. Ada Jong Java, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi, Jong Islamieten Bond, Jong Sumatranen Bond, dan bahkan wakil dari kelompok Tionghoa. Awalnya, mereka berkumpul untuk sebuah kongres yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia. Mereka semua berstatus pelajar, pemuda-pemuda dengan otak cemerlang dan tekad rantau yang membara.

Kongres dilaksanakan selama 3 hari, di rapat penutup itulah mereka kemudian sepakat untuk menelurkan 3 stanza Sumpah Pemuda yang menjadi cikal-bakal semangat nasionalisme dan demokrasi di kalangan kaum muda. Persatuan dalam keberanekaragaman tidak hanya nampak dari komposisi peserta kongres, gedung-gedung yang digunakan untuk rapat pun menyimbolkan hal yang sama. Sebagai contoh, meskipun anggota kongres kebanyakan beragama Islam, rapat hari pertama dilaksanakan di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond atau Lapangan Banteng sekarang. Ah, indahnya semangat putra-putra klasik ini dalam meretas konsep Bhinneka Tunggal Ika!

Hari ini, saya merayakan Sumpah Pemuda dengan berdiskusi.
Ya, diskusi di sebuah warung makan yang pemiliknya orang Tionghoa. Diskusi santai bersama teman saya yang berdarah campuran Sunda-Madura. Diskusi kami tidak berat-berat amat -sebab diselingi dengan mengunyah ikan bawal bakar manis dan menyesap es kelapa muda-. Inti pembicaraan kami adalah mengenai konsep persatuan itu sendiri dikalangan pemuda zaman sekarang. Kami membicarakan tentang demo-demo yang dilakukan oleh beberapa komunitas mahasiswa. Kawan saya ini mengeluh bagaimana demo tersebut membuat kenyamanannya berlalu lintas terganggu. Saya sih tidak bertemu dengan rombongan dari mana-mana hari ini. Akan tetapi pemberitaan di TV mengenai aksi demo mahasiswa di Jambi yang nggak ada hujan nggak ada angin memaki petugas kepolisian dengan kata "anjing!" serta aksi bakar ban oleh mahasiswa Universitas Hasanuddin membuat saya mengurut dada. Demo apa mereka hari ini? Apakah mereka tidak menyadari hakikat Sumpah Pemuda itu sendiri?

Saya bukan dosen ilmu sejarah, PKN, atau Filsafat Hukum. Malas rasanya kalau saya harus menjabarkan makna persatuan dan kesatuan serta nasionalisme-demokrasi kepada mereka. Yang jelas menurut saya aksi mereka adalah suatu bentuk ketidaktahuan maupun pelecehan terhadap hakikat Sumpah Pemuda. Jika nenek moyang kita yang ikut kongres pada 83 tahun yang lalu juga pelajar, mengapa mereka mampu berpikir jernih dalam melawan otoritas killer Belanda?

Hari ini ibu saya ulangtahun. Dia tidak minta didoakan, dia malah mendoakan saya dan kakak-kakak. Kalau begitu, jatah doa ibu saya pakai saja. Saya pakai untuk mendoakan rekan-rekan pelajar, ahli waris dari para pemuda yang bersumpah dengan suara lirih namun dengan tekad lantang di bawah bayang-bayang rezim Hindia Belanda. Biar malu mereka dengan suara menyayat gesekan biola Wage Rudolph Soepratman di Jalan Kramat Raya!

Friday, October 7, 2011

di Ruang Biru

Saya mungkin "awak" yang nakal. Suka ketawa dan bernyanyi keras-keras di dalam sekretariat Badan Pers dan Penerbitan Mahasiswa ini. Saya memilih bergosip atau bermalas-malasan di ruangan kecil berdinding biru ini daripada mengajak teman-teman untuk berdiskusi. Jika disuruh untuk menulis pun masih banyak cacat saya yang perlu diperbaiki. Saya sadar, saya tidak akan pernah mendapatkan nominasi sebagai "Awak Mahkamah" terbaik jika ada award khusus seperti itu. Tapi saya sayang dengan ruang ini. Saya juga sayang dengan orang-orang yang berada di ruangan ini. Mereka adalah keluarga saya di Jogjakarta. Dari kesalahan-kesalahan konyol yang terjadi di dalam ruangan biru ini, saya banyak belajar. Saya mengevaluasi diri dan berpikir sambil belajar bicara dengan hati nurani: ruang biru ini adalah ruangan yang bebas akan pencitraan. Kami apa adanya di tengah kurungan tembok-temboknya.






Salah satu awak, rekan saya di redaksi pernah bercicicuit lewat twitter: "rutinitas mahasiswa beridealisme: pake almamater, diskusi, demo dan tak lupa naik gunung. itu jaman belanda jg udah eksis. kreatif dong!". Saya hanya tersenyum membacanya. Bagi mahasiswa seperti yang disebutkan oleh rekan saya di atas, mungkin secara kasad mata Mahkamah hanyalah sekumpulan ahli dagelan yang membaiat dirinya sebagai pers mahasiswa. Saya lalu tertawa. Jelas apa yang saya asumsikan mereka lihat dari luar tidak sama dengan apa yang saya lihat dari dalam ruang biru ini. 


Saya cinta Mahkamah. Seperti kulit jeruk, jangan lihat ruang biru ini dari kulit luarnya saja. Kupas dan lihat isinya. Bahkan hening ruangan biru ini pun sesungguhnya mengajarkan sesuatu yang lebih tajam ketimbang kata-kata di tengah diskusi bohong-bohongan.