Tuesday, January 13, 2015

Three Student Cities for Me

7 years ago I was just a clumsy kid who used to wear thick wool or cotton jacket to go to school in Athens, Ohio. It was my first experience to go abroad, and only-God-know-why, He sent me halfway around the globe to live in the powerful and all-proud United States of America. Athens, however is an exceptional place on earth. It is famously known as the tree-city in the USA due to it's green environment, the host of Ohio University, and also one of the most haunted place in America. Ohio itself in fact is an exceptional state too. It is bordered by the Lake Erie on the north and Appalachian mountains at the down south. You'll meet people who speak with Canadian accent, and also people who speak Appalachianese (if such language does exist) here. People often mistakenly saw me as a Guatemalan instead of an Asian boy.
Ohio University, I spent more time here rather
than in Athens High School.
In Athens, I felt like in Athens. Meaning that, this place (by the mere presence of Ohio University) honors knowledge and science, freedom of expression, friendship and tolerance. Just like what the ancient Athenians in Greece try to embody in their city-state. Athens would be nothing without this university. People from every corner of the world come to study here, which then contribute to the multicultural and diversity atmosphere of this town. Every year there's an International Street Festival throughout the Court Street (Uptown) and Halloween Block Party. Different kind of seminars and festivals are being held, together with art exhibition and a lot of other student's activities. This small town must I say is alive because of the university. Although I went to Athens High School, the strong tie between town life and campus life is inseparable. During my first couple of months of staying in Athens, I remember even calling this place as Madinatun-Nabi due to it's safeness. Rick Kraince, my hostdad parked his car in front of a shop Uptown without closing it's window. When I asked him would it be safe, he laughed and said: of course, di sini tidak ada pencuri. I was surprised. First, because my first hostfamily (The Kraince-Biegeleisen) could speak Bahasa very good and second because of the civilized nature of this city. I then proved it by myself when I left my bike in Baker Student Center for nearly a week in winter, unlocked, yet when I came to get it, it's still in the precise same position. I must say that I felt safe in Athens. I traveled with my bike alone in the daylight and midnight without any problem. Athens is too small for any big crimes, too peaceful for any riots.
Behind the seal of Leiden University. Minerva,
the goddess of knowledge and wisdom is
the symbol of this school.
After spending wonderful year in Athens, I came back to Indonesia. In 2009 I graduated from high school and later continue to another student town: Yogyakarta. Yogyakarta, for me, is a perfect city. It combines art and creativity, youth spirit and culture, education and tourism in the same bowl. Being the only "monarchy" province in a republic country, Yogyakarta is the bastion of Javanese court values. Spectacularly, the crown of Yogyakarta hosts many universities and colleges, with Universitas Gadjah Mada (UGM) as the ultimate destination. Being accepted at UGM is probably every high schoolers' dream in Indonesia. This university is the best, and after all some of Indonesian great names are related to it. Yogyakarta literary nurtured me to be independent, creative, and to be a free thinker. This is the city where street musician could play wonderful tones as if they are professionals, and a place where rich spoiled kids from Jakarta can sit on the sidewalk and eat at angkringan side by side with some dark-skinned fellas who traveled far-faraway from Papua.

I experienced alot of valuable things in Yogyakarta, met with amazing friends, great scholars, and also experimenting many things. I involved in student activity, mainly the press association, and of course in moot court. In this very city I declared the birth of Lontara Project, in this very city I made some of my best masterpieces, either in term of writing or music. In Yogyakarta, you can smell the music. In Yogyakarta, you can feel the beauty of friendship in diversity. In Yogyakarta, you can taste the best of food.
Kissing Ganesha, the god of knowledge in Hindu tradition,
Ullen Sentalu, 2013.
In August 2014, I moved to another student city. This one is not in America or in Asia. Europe is a new thing for me. Netherlands, has always been there inside history books, stories of my grandfathers, and my imagination. When I came to see the manuscript of La Galigo in Leiden on 2013, I fell in love to the city. Finally, after passing several tests, I managed to put my feet back to Leiden, but this time is not for a short visit. If Ohio University was founded in 1804, UGM in 1949, then Leiden proudly claimed the year of 1575 as its establishment date. This city in sense of its connection with the academic world, is a very important bastion. Here, all books which were banned by the Vatican due to its secular nature, found safety. Galileo's books were published here, and so did other scientific readings. Leiden is also a bank of unexplored raw materials that are waiting for me to be researched.

Entering 2015, I begin to see option to be an academician as career opportunity. I love being surrounded by scientific environment. Three student cities to live in are probably more than enough signs from God. The freedom of thoughts, the freedom to express yourself, and the egalitarian community find me in my best shape. With the support of sincere partnership and friendship, I would certainly feel at home in these places. Now, let's make Leiden as a new home.


Leiden,
13 January 2015
13:48



Monday, January 12, 2015

Keteraturan v. Keberantakan

Kemarin malam, demi latihan talempong bersama oma-oma dan opa-opa Indo (tim talempong saya ini terdiri atas kaum blasteran Indonesia-Belanda serta mereka yang purely orang Belanda totok penyuka budaya tanah air), saya dan teman saya yang berasal dari Cina bersepeda melawan angin dari Leiden ke Voorschoten, sebuah desa kecil yang jadi suburb-nya Leiden. Dua kali sebulan kami rutin latihan alat musik tradisional Minangkabau ini di rumah tante Esmeralda Zee-Hilal. Latihan kami selalu didahului oleh makan malam bersama keluarga tante Esmeralda yang makanannya unik karena merupakan kombinasi antara makanan Indonesia dengan cita rasa Belanda. Seperti tadi malam, kami disuguhi pie keju-kentang yang rasanya enak sekali; bersama sup kacang, jagung rebus, tahu bumbu pedas, salad, dan tentu saja: nasi putih. Latihannya berlangsung selama 2 setengah jam dengan jeda 10 menit untuk minum teh hangat dan menikmati snack. Walaupun cuaca jelek, namun kehangatan bersama mereka serta serunya mendengarkan alunan nada-nada Minangkabau membuat atmosfernya bahagia.

Dalam perjalanan pulang dari latihan, saya dan teman dari Cina yang saya ajak masuk ke komunitas talempong ini ngobrol ngalur-ngidul di atas sepeda kami. Mulai dari tugas-tugas di kelas Bahasa Belanda kami yang luarbiasa banyaknya, rencana liburan, hingga menjawab pertanyaan-pertanyaannya tentang Indonesia. Saat berbincang tentang negara-negara di Asia Tenggara, tiba-tiba teman saya ini nyeletuk:
"I think in Southeast Asia, only Singapore has reputation to be clean. Their streets are clean, and everything is well-organized. Not even comparable to any country in Europe, to Paris, Rome or Amsterdam. While in countries like Japan and South Korea, everything is also very clean and well-organized. I think it's typical East Asian countries. Singapore is an exception in Southeast Asia."
Saya tertegun mendengarnya. Memang benar sih. Meskipun belum pernah ke Jepang atau Korea, saya sudah beberapa kali ke Singapur dan menurut saya negara itu bersih dan amat rapi. Paris kalah jauh dari segi kebersihan, apalagi Roma. Lebih-lebih jika dibandingkan dengan kota-kota besar di Asia Tenggara. Aduh, Bangkok atau Jakarta kebanting banget lah. Apalagi kampung halaman saya, Makassar. Kota pelabuhan yang bau amis dengan sampah-sampah laut dan darat, konsekuensi jadi kota terbesar di Indonesia Timur yang menyedot manusia-manusia untuk membangun pemukiman di sekitarnya. Mungkin kota terbersih yang pernah saya tinggali di bumi persada Indonesia adalah Yogyakarta. Tapi membandingkan Yogyakarta dengan Singapur juga masih serasa bumi dan langit.
Trip ke Singapur bersama Zein dan Diku tahun 2010
Saya hanya menarik napas dalam-dalam. Menyakitkan memang menerima kenyataan pahit tentang kondisi negara kita sendiri. Keberantakan yang jadi ciri khas pasar-pasar, tempat-tempat umum dan transportasi publik di Asia Tenggara sudah terkenal kemana-mana. Turis-turis asing, entah yang berasal dari Barat ataupun Timur yang pernah berkunjung ke Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, Laos dan Myanmar pasti membawa oleh-oleh cerita yang sama. Bagaimana jalan-jalan tak beraspal itu berdebu di kala terik serta becek di kala hujan. Bagaimana susah dan ribetnya mengakses angkutan umum. Bagaimana menyebalkannya calo yang betebaran dimana-mana. Bagaimana terganggunya mata dengan sampah yang bertebaran dimana-mana dan pembuangan yang tidak menjalan fungsi sebagaimana mestinya.

Pulang-pulang ke rumah saya jadi agak sedikit bete. Setelah duduk tenang, menghadap ke laptop dan minum segelas Chocomel, baru pikiran saya jalan kembali. Memikir-ulang tentang konsep "keberantakan" yang teman saya ajukan tadi. Saya menutup mata rapat-rapat, lalu membiarkan imajinasi menarik saya ke entri "keberantakan" di kamusnya. Keberantakan, bisa jadi, adalah bahagian dari karakter kita. Keberantakan adalah jalanan becek yang harus dilewati oleh ibu untuk membeli ikan segar atau sayur-sayuran dengan harga yang bisa ditawar. Di tengah dentuman lagu-lagu dangdut yang diputar tanpa ampun serta cemprengnya teriakan para penjaja makanan. Keberantakan ada saat ibu tak tahu lagi uang yang ia terima sebagai kembalian itu mungkin merekam sejejak darah dari tangan si penjual daging atau ingus anak penjual cabe yang diseka oleh ibunya sebelum menyerahkan rupiah tersebut. Anehnya, saat membayangkan panggung drama yang sepintas menjijikkan itu, saya justru tersenyum. Keriuhan itu lah yang menjadi nadi masyarakat Indonesia kebanyakan. Bayangkan, betapa tak ada semangat hidup yang muncul saat belanja di mall atau supermarket. Tidak ada kontak yang terjalin antara si penjual dan pembeli. Semuanya serba praktis dan individualistis. Keberantakan itu yang justru membuat hidup di Asia Tenggara jadi penuh tantangan. Setiap hari punya cerita-cerita dan detail-detail serunya tersendiri. Setiap kembali dari pasar, selalu ada anekdot yang ibu bawa.



Kebahagiaan dan keramahan yang kami temukan di rumah panggung yang terbuat dari kayu sederhana, di Maros, Sulsel 2013. Bagi yang berasal dari negara maju, pertanyaan seperti kualitas air dan saluran pembuangan pasti menghantui mereka saat berkunjung ke rumah panggung macam ini. Apalagi kehadiran hewan macam kambing dan sapi yang kadang berkunjung ke bawah rumah dan meninggalkan "suvenir" berbau menyengat.
Di saat yang sama, saya mencari tahu tentang negara-negara "bersih" yang disebut teman saya di atas. Ternyata, negara-negara dengan tingkat keteraturan tinggi dan membuat kita iri itu justru dilanda dilema. Tingkat bunuh diri tertinggi di Asia Timur adalah yang tertinggi di dunia. Korea Selatan dan Jepang selalu berada di atas untuk urusan yang begini ini. Di Asia Tenggara, Singapur masuk ke dalam rangking negara-negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi. Mengapa di negara-negara yang sudah teratur, bersih dan makmur ini justru banyak di antara warganya yang memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka? Bukannya seharusnya mereka tidak lagi memusingkan masalah-masalah primer seperti higienitas, sanitasi, tata lalu-lintas dan lain sebagainya? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dan tiba-tiba menepis rasa kesal saya. Rasa kesal itu perlahan-lahan berubah jadi rasa kasihan. Rumah yang rapi, lantai yang bersih, gedung-gedung yang tinggi menjulang, cahaya lampu yang gemerlapan, namun mengapa tak ada ruh manusia yang tinggal di dalamnya? Lalu, untuk apa segala keteraturan yang telah dicita-citakan dan dicapai itu?

Mungkin ada hikmah mengapa kita dibiarkan oleh-Nya lahir dan hidup di negara dunia ketiga yang ruwet, ribet serta berantakan ini. Hikmah apakah yang terkandung di dalamnya, itu tugas kita untuk mencari tahu. Yang jelas saya yakin, di tengah ketidakteraturan kita temukan banyak sekali warna. Di dalam keberantakan ini justru ada misi besar untuk menuju keteraturan. Keteraturan yang memberikan kekuatan kepada diri kita sesuai kebutuhannya.



Salam dari Leiden yang diterjang badai,
12 Januari 2015
13:28