Saturday, June 3, 2017

La Galigo yang ditulis oleh perempuan


            Tahun lalu, di suatu musim gugur saya meninggalkan Leiden bersama seorang penulis muda asal Makassar untuk menemui Sirtjo Koolhof, seorang pakar lagaligologi yang bermukim di kota Deventer. Pak Sirtjo, demikian saya menyapa beliau, sudah malang-melintang di dunia penelaahan epos pra-Islam bangsa Bugis dari Sulawesi Selatan itu. Beliau kerap menjadi pembicara di berbagai seminar baik lokal maupun internasional sehubungan dengan La Galigo maupun karya-karya sastra Bugis tradisional lainnya. Kenalan saya yang seorang penulis ini sedang dalam tahap pengumpulan bahan-bahan untuk karyanya selanjutnya. Ia sengaja datang ke Belanda untuk mengakses arsip-arsip yang berhubungan dengan kaum bissu di era gerombolan DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar membayang-bayangi jazirah Sulawesi Selatan pada dekade 60-an. Pak Sirtjo dan koleksi buku-bukunya yang lengkap dipercaya dapat membantu menghayati tragedi tersebut.
 
Pak Sirtjo saat menjelaskan isi salah satu naskah La Galigo di Middelburg, Belanda
            Di tengah obrolan santai mengenai sejarah Sulawesi Selatan, seperti biasa saya dan Pak Sirtjo terjebak diskusi mengenai naskah La Galigo. Saat itu beliau, diselingi seruputan-seruputan kecil pada cangkir tehnya, mengatakan bahwa ada kemungkinan epos La Galigo itu dikarang oleh perempuan. Membaca La Galigo katanya seperti membaca kisah yang dari gayanya bisa dinisbatkan kepada seorang perempuan. Sebenarnya ini tidak mengherankan. Toh, merupakan fakta bahwa pada proses penyalinan dan penghidupan kembali epos ini ada banyak sekali tangan-tangan perempuan yang terlibat di dalamnya. Penyalin naskah La Galigo terpanjang di dunia yang disimpan oleh Perpustakaan Universitas Leiden saja adalah seorang bangsawan wanita terpelajar asal negeri Tanete. Begitu pula dengan passureq (pelantun lisan La Galigo) yang masih melestarikan tradisi menyanyikan naskah ini, kebanyakan dari mereka adalah perempuan-perempuan tua yang kemudian menurunkan pula kemampuan tersebut kepada generasi perempuan berikutnya. Salah satunya yang paling terkenal dan sering dijadikan narasumber untuk penelitian tradisi lisan ialah Indoq Mase dari kabupaten Wajo.

Ditulis oleh perempuan (?)
Ada beberapa faktor yang mendasari pertimbangan Pak Sirtjo. Pertama, perempuan memiliki akses khusus terhadap epos ini, akses yang tidak dimiliki kaum pria malah ujar beliau. Konon di zaman kerajaan Bugis kuno dulu, perempuan adalah pemegang kontrol utama untuk urusan rumah tangga istana. Perempuan bertanggungjawab pula untuk mempersiapkan upacara-upacara serta ritual-ritual pelengkap lainnya. Pengetahuan yang mereka miliki ini mahal harganya, sebagaimana pengetahuan untuk melayarkan kapal yang hanya dikuasai oleh kaum pria. Itulah sebabnya apabila kita membaca beragam naskah La Galigo, detail terkait kehidupan istana mulai dari tata krama, upacara-upacara adat yang dilangsungkan hingga perlengkapan-perlengkapannya disebutkan secara seksama. Terkadang satu naskah saja bisa menghabiskan berbaris-baris kalimat hanya untuk menyebutkan benda-benda maupun persiapan sebuah upacara di dalam istana. Diterakannya detail mengenai upacara serta kehidupan di istana menunjukkan bahwa epos ini harusnya diciptakan oleh seseorang yang amat familiar dengan seluruh tradisi tersebut.  

Di satu sisi, yang juga menjadi alasan kedua, kurangnya pengetahuan si pengarang terhadap kehidupan di laut merupakan salah satu faktor penting penunjang nuansa femininitas dalam epos ini. La Galigo tidak dapat dijadikan acuan sebagai peta maritim maupun pedoman untuk berlayar, sebab meskipun mengambil laut sebagai salah satu latarnya serta menyebut nama-nama daerah yang hanya bisa dijangkau via laut (seperti Gima, Taranati, Jawa ri Aseq/Lauq, Sunra, Majapaiq, Wolio, dan seterusnya) terdapat banyak kesalahan teknis serta gambaran yang kurang tepat terhadap kehidupan laut di dalamnya. Seorang peneliti maritim asal Jerman bernama Horst Liebner pernah membuat tulisan yang berupaya untuk merekonstruksi pelayaran Battara Lattu dari Luwu menuju ke negeri Tompoq Tikkaq, tempat terbitnya matahari. Usahanya itu berujung dengan kesimpulan bahwa pelayaran tersebut sejatinya hanyalah khayalan. Deskripsi mengenai arah angin maupun bentuk kapal, menurutnya tidak tepat. Sebagaimana tidak tepatnya menyebut La Galigo sebagai sebuah naskah sejarah, demikian pula halnya La Galigo sebagai sebuah manual pelayaran. Liebner bahkan menyebutkan lebih jauh bahwa perahu-perahu yang diceritakan di dalam La Galigo sejatinya merupakan “perahu mimpi” yang terinspirasi dari perahu bercadik ukuran kecil yang biasa digunakan nelayan.

Kedekatan perempuan bangsawan dengan dunia literasi pun patut pula diperhitungkan sebagai salah satu faktor lainnya. Di saat pangeran-pangeran diajarkan cara berburu maupun berbasa-basi pada jamuan-jamuan dengan penguasa-penguasa daerah, perempuan-perempuan di istana tercipta menjadi golongan elite intelektual yang menguasai tidak hanya seni-seni halus melainkan juga literatur dan filsafat. Peran perempuan yang dominan di dalam istana membuat mereka banyak menghabiskan waktu dengan pustaka kerajaan yang menyimpan kearifan lokal dari masa lalu. Tidak heran jika Colliq PujiE sang penyalin naskah La Galigo yang diberi amanat untuk mengurusi hal-ihwal persuratan diplomatis oleh raja Tanete juga menghasilkan banyak karya sastra. Beberapa di antaranya yang masih dikenang antara lain kanon sejarah Tanete (yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda oleh B.F. Matthes, si pengumpul naskah La Galigo) dan puisi-puisi yang ditulis menggunakan aksara baru ciptaannya sendiri. Melalui tangan-tangan perempuan inilah La Galigo hidup. 
 
Naskah La Galigo koleksi Perpustakaan Universitas Leiden
Teori Pak Sirtjo tersebut tentu membuat saya tenggelam dalam perenungan. Selama ini ada yang mengira-ngira bahwa epos tersebut merupakan karya I La Galigo, nama salah satu karakter yang disebut di dalamnya. Pendapat tersebut didasari oleh sugesti Raffles di History of Java. Akan tetapi banyak yang meragukan teori tersebut. Pengarang epos La Galigo belum diketahui siapa hingga hari ini, bisa jadi orang atau sekelompok orang dan bisa saja laki-laki atau perempuan. Jika pendapat Pak Sirtjo benar maka kemungkinan La Galigo tidak hanya diciptakan oleh seorang perempuan. 

Menurut saya La Galigo ialah sebuah tradisi yang dikuasai oleh golongan perempuan. Tradisi ini dimanfaatkan untuk melanggengkan kekuasaan mereka di tengah transisi masyarakat pertanian tradisional menuju ke perdagangan yang lebih didominasi oleh kaum pria. Kuasa atas agama dan pemerintahan, dua hal pokok di tengah kehidupan bermasyarakat, harus dipertahankan oleh mereka. La Galigo pun menjadi media legitimasi mereka dalam menancapkan klaim perempuan di khazanah kebudayaan Bugis agar tidak ditekan oleh dominasi pria. Jika tidak demikian sedari awalnya, setidaknya karakter feminin La Galigo telah ada pada bentuknya yang kita terima hari ini. Apakah ada hubungan antara La Galigo yang disakralkan dan dijaga oleh komunitas perempuan dengan kedatangan kitab suci agama baru yang mulai mengambil alih fungsi religiusnya? Yang jelas, kehadiran agama baru memang berhasil menyingkirkan kepercayaan lokal ke pedalaman dan merubah pembacaan ayat-ayat La Galigo menjadi ayat-ayat Alquran.

Dewi-dewi agung di langit dan di dasar laut
Ada banyak bahasan menarik mengenai ketokohan perempuan di dalam La Galigo. Salah satunya yang muncul di episode paling awal epos ini ialah kedudukan perempuan yang diwakili oleh Datu Palinge. Dalam pantheon Bugis kuno beliau dianggap sejajar dengan sang suami, Datu PatotoE, Dewa Penguasa Takdir. Dalam menjalankan perannya sebagai penguasa langit, Datu PatotoE tidak pernah terpisah dari Datu Palinge, Dewi Pembentuk Kehidupan. Fragmen-fragmen yang menceritakan mengenai kehidupan di langit selalu menyebut Datu PatotoE dan Datu Palinge duduk sebelah-menyebelah. Datu Palinge berperan aktif memberikan petuah dan nasihat kepada sang suami. Sang suami pun sebaliknya, tak dapat membuat sebuah keputusan tanpa melalui persetujuan sang istri. Melalui penggambaran keduanya, La Galigo menjelaskan bahwa kekuatan maskulin langit tak dapat lepas dari entitas ruh feminin mahakuasa yang menyertainya. Selintas persatuan antara Datu PatotoE dan Datu Palinge ini mirip dengan konsep shakti dalam tradisi Hindu, namun berbeda. Power balance yang direpresentasikan dalam kisah-kisah La Galigo ini bukanlah pernyataan bahwa energi feminin merupakan baterai kekuatan maskulin (seperti halnya Durga bagi Siwa) melainkan sebuah penegasan bahwa kuasa ilahiah baru bisa hadir apabila elemen maskulin dan femininnya mampu eksis berdampingan secara konstan

Dunia bawah laut (Toddang Toja atau Perettiwi) yang dipimpin oleh sepasang dewa-dewi adikuasa bernama Guru ri Selleq dan Sinauq Toja pun demikian. Guru ri Selleq merupakan kembaran laki-laki Datu Palinge sedangkan Sinauq Toja ialah kembaran perempuan Datu PatotoE. Sebagaimana kedua saudara mereka di langit, pasangan penguasa negeri bawah laut ini selalu disebutkan bersamaan, duduk sebelah-menyebelah. Di kerajaan bawah laut ini kita dapat menyaksikan adanya pembagian peran yang menarik: Guru ri Selleq sebagai 'pemelihara selat' menguasai laut permukaan sedangkan istrinya yang bersemayam di Istana Besi menguasai bahagian terdalam laut. Laut permukaan yang ramai dilayari oleh manusia memuja Guru ri Selleq agar menjamin keamanan mereka melaut. Laut dalam yang menyimpan hasil laut serta harta karun diberikan persembahan oleh manusia agar kiranya sang ibu Sinauq Toja berkenan membagi kasih sayangnya kepada mereka. Perasaan aman dari Guru ri Selleq dan kasih sayang dari Sinauq Toja membentuk jiwa-jiwa pelaut Bugis yang tak takut mengarungi samudera. Pembagian kekuasaan atas laut luar dan laut dalam ini memimik konsepsi ruang dalam kehidupan keluarga Bugis sehari-hari dimana kaum lelaki menguasai bagian ruang tamu hingga ke halaman rumah (luar) sedangkan kaum perempuan bertanggungjawab atas bilik-bilik hingga ke dapur (dalam).

Selain pantheon lokal dan penguasa-penguasa perempuan yang diilustrasikan sejajar dengan counterpart pria mereka, unsur-unsur feminin yang diserap dari kebudayaan lain pun masuk ke dalam La Galigo dengan nada matriarki yang kental. Mitos dewi padi yang kemungkinan besar diadopsi dari Jawa hidup dalam mitologi Bugis kuno sebagai mitos Sangiang Serri We Oddang Riwu. Apabila di versi Babad Tanah Jawi sang dewi padi menjadi ambisi birahi Batara Guru dan Kala Gumarang, maka di siklus La Galigo ia digambarkan sebagai reinkarnasi atas bayi perempuan pasangan penguasa langit yang meninggal segera setelah dilahirkan. Dari kuburan Sangiang Serri muncul tumbuhan padi serta tanaman makanan lainnya. Tumbuhan padi ini oleh masyarakat Bugis diagungkan dan dipuja sedemikian rupa, dirumahkan pada sebuah tempat khusus bernama rakkeyang yang terletak di atas loteng, titik tertinggi rumah panggung mereka. Setiap rumah memiliki sanctuary untuk roh feminin yang dipercaya menyediakan pangan, kehangatan serta kemakmuran di dalam keluarga tersebut. Rakkeyang ini tidak saja menjadi kuil bagi Sangiang Serri, ia juga mempunyai fungsi sebagai ruang tidur anak-anak gadis Bugis yang belum menikah. 
   
Penguasa-penguasa matriarki dan imam-imam perempuan dunia tengah
            Di Dunia Tengah, La Galigo menceritakan peran yang dimainkan oleh perempuan dalam beraneka-ragam skenario. Ada kerajaan-kerajaan bermodel matriarki seperti Alecina yang dipimpin oleh We Tenriabang. We Tenriabang tidak hanya menjalankan pemerintahan dalam negeri namun juga aktif berpartisipasi mengurus hubungan internasional serta berada di garda terdepan pada peperangan-peperangan. Di negeri Alecina ini sepertinya sudah menjadi tradisi bahwa kehendak perempuan memang lebih memiliki arti ketimbang pria. I We Cudai, putri mahkota Alecina yang dilamar Sawerigading sang protagonis utama dalam epos ini contohnya, digambarkan sebagai perempuan berkarakter keras yang punya kontrol atas kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Opunna Cina. I We Cudai yang mempunyai nama lain “Daeng Risompa” (Puan yang disembah) ini menjadi sebab hangus terbakarnya negeri Alecina oleh tentara Sawerigading karena menolak dijodohkan dengan pria asing dari Luwu tersebut. Opunna Cina yang berkedudukan sebagai sovereign tertinggi bahkan tidak dapat membujuk, memerintah atau memaksa sang putri untuk menuruti kemauannya. Gelar Opunna Cina yang secara simultan digunakan oleh pasangan suami-istri La Sattumpugi dan We Tenriabang juga mengilustrasikan fleksibilitas perspektif dalam memandang tokoh pemimpin yang tidak didasari oleh spesifikasi gender tertentu seperti pada istilah “raja” dan “ratu”. 

            Di episode lain, kita menemukan tokoh-tokoh perempuan mandiri yang juga memiliki kontrol penuh atas diri dan perbuatan mereka. Di negeri Pujananti, I La Galigo putra Sawerigading menikahi seorang putri lokal bernama Karaeng Tompoq. Tidak berapa lama menetap di sana, I La Galigo meneruskan pelayaran untuk menengok kakek-neneknya di negeri Luwu. Setelah berbulan-bulan lamanya tidak mendengarkan kabar dari sang suami, Karaeng Tompoq beserta istri-istri pelaut yang menjadi awak kapal I La Galigo pun memutuskan untuk menyamar menjadi laki-laki dan berlayar keliling dunia mencari suami-suami mereka. Ekspedisi tersebut berakhir di negeri Alecina saat mereka bertemu. I La Galigo yang tidak mengenali sang istri dalam wujud laki-laki tersebut terlibat perkelahian dengannya. Meskipun selalu menang di setiap pertarungan-pertarungan yang ia hadapi sebelumnya, anehnya kali ini I La Galigo tidak dapat mengalahkan musuh baru yang terlihat tidak asing tersebut. Baru setelah Karaeng Tompoq beserta para pengikutnya menunjukkan wujud asli mereka maka I La Galigo dan awak kapalnya pun tergelak melihat kesungguhan istri-istri mereka tersebut dalam menunjukkan komitmen serta kekuatan yang sebenarnya jauh melebihi kaum pria. 

            Dari episode-episode di atas, perempuan jelas tidak tampil seperti putri yang dikutuk dan harus diselamatkan oleh pangeran tampan seperti halnya dongeng-dongeng patriarkis di Barat pada kurun yang kurang-lebih tidak terlalu jauh terpisah. Pada dasarnya masyarakat Bugis adalah kaum yang bilateral. Mereka tidak berdasar kepada aturan-aturan patriarkal namun juga tidak berbasis kekuatan matriarki. Seiring dengan berlalunya zaman, terutama setelah agama kemudian menempatkan bahwasanya kaum pria harus memimpin sebagai imam, maka fungsi spiritual perempuan pun terpinggirkan. 

Keunikan lain dari budaya Bugis yang tidak direkam oleh La Galigo namun erat kaitannya dengan perempuan ialah keberadaan lima gender. Bissu adalah istilah yang menjadi titik penghubung antara tradisi Bugis kuno dengan Bugis kontemporer. Hari ini kita mengenal sebutan bissu untuk gender kelima dalam kebudayaan Bugis selain orowane (laki-laki), makkunrai (perempuan), calabai (“perempuan” bertubuh lelaki) dan calalai (“lelaki” bertubuh perempuan). Bissu yang tidak diasosiasikan terhadap salah satu dari keempat gender lainnya ini dihormati oleh masyarakat sebagai pendeta kepercayaan tradisional Bugis. Dulu, kaum bissu amat dihargai karena dipercaya sebagai perantara antara dewa dan manusia, bahkan setelah agama Islam diterima di Sulawesi Selatan. Hari ini golongan bissu terdiri atas sekelompok calabai (dan beberapa orang calalai) yang menguasai ritual serta upacara-upacara adat di daerah. Bissu-bissu ini dalam keseharian mereka ada yang berprofesi sebagai tukang salon maupun perias pengantin, sehingga masyarakat sendiri melihat mereka tak lebih dari sekedar wadam (wanita adam). 

Bergantungnya identitas bissu pada atribut calabai dan calalai tentu saja menarik sebab fenomena tersebut sebenarnya tidak sesuai dengan tradisi La Galigo. Sejatinya, epos tersebut menyebutkan bissu-bissu berjenis kelamin perempuan, bukan calabai. Bissu yang muncul dari kalangan calabai atau calalai ialah fenomena yang muncul saat masyarakat Bugis memasuki era klasik atau era post-La Galigo. Laporan Portugis dari abad ke-16 memang menyebutkan kehadiran pendeta lelaki yang berdandan seperti perempuan serta berperilaku homoseksual di tengah masyarakat Bugis, namun bissu perempuan tidak disebutkan sama sekali.

Bissu-bissu yang diceritakan di dalam epos La Galigo ialah putri-putri bangsawan yang dipilih oleh langit untuk menjadi pasangan bangsa dewa sehingga mereka sering mengalami trance atau kesurupan saat berkomunikasi dengan dunia atas. Dalam kondisi trance tersebut mereka biasanya akan menari atau menyampaikan pesan dari langit. Salah satu contoh bissu yang terkenal ialah saudari kembar Sawerigading yang ingin ia nikahi sendiri, We Tenri Abeng. Saat Sawerigading berlayar ke Alecina, We Tenri Abeng dijemput pula naik ke atas langit untuk menikah dengan Rammang ri Langiq, pasangan dewanya. We Tenri Dio, anak perempuan Sawerigading hasil pernikahannya dengan We Cudai juga merupakan salah satu bissu yang memainkan peranan penting sebab dipercaya sebagai leluhur bangsa Selayar dalam versi lisan.

Lalu, apa yang menyebabkan hingga bissu tidak lagi “dijabat” oleh perempuan? Itulah misteri yang belum terpecahkan dan membutuhkan lebih banyak lagi penelusuran. Hipotesa sementara saya ialah karena kaum perempuan kehilangan dominasi mereka terhadap La Galigo dan spiritualisme lokal, tergantikan oleh kepercayaan monoteis yang memperkenalkan strukturnya sendiri. Namun toh ini juga tidak dapat memberikan jawaban terhadap kenyataan bahwa mengapa kemudian golongan transgender yang mengambil alih posisi tersebut dari tangan perempuan. Apakah ada tawar-menawar untuk memperbolehkan calabai menjadi imam kepercayaan tradisional sepanjang bukan perempuan yang menjabatnya? 

Di Sulawesi Selatan sendiri sekitar tahun 80-an pernah terjadi fenomena yang cukup unik terkait dengan pengambilalihan peran perempuan oleh kaum calabai. Bangkitnya semangat kesalehan di daerah membuat gerak perempuan di ruang publik menjadi terbatas. Aliran-aliran yang membawa Islam “versi murni” merasuk ke pedesaan dan perlahan merubah cara pandang masyarakat tradisional terhadap femininitas. Perempuan pun sebisa mungkin tidak terjun ke dunia luar, utamanya dunia hiburan. Saat atraksi-atraksi di pasar malam mulai dimarakkan dengan pertunjukan dangdut erotis, beberapa daerah justru melakukan negoisasi moral untuk melindungi kaum perempuan mereka dari tindakan-tindakan yang tidak senonoh dengan mempopulerkan calabai sebagai bintang panggung. Kehadiran calabai dianggap sebagai alternatif yang paling baik untuk mengganti fungsi perempuan di pentas pasar malam. Dalam sekejap maka calabai-calabai ini menjadi idola warga desa: kaum pria tidak perlu merasa risih untuk menyiul-siulinya sementara kaum hawa pun terhibur dengan gerakan-gerakan vulgar yang mereka lakukan saat menari. Liuk-liukkan tubuh yang terlarang untuk mereka lakukan di hadapan umum. Calabai-calabai ini kemudian menjadi ikon: mereka adalah biduan yang menghibur dan juga komoditas seksual bagi para lelaki yang ingin tetap mempertahankan moralitas religius mereka tanpa perlu merasa berdosa karena melakukannya dengan sesama jenis. Apakah proses pergantian peran bissu dari perempuan (sebagaimana yang diceritakan di dalam La Galigo) menjadi calabai dan calalai juga menyembunyikan realita yang sama? Entahlah. Yang jelas hari ini dewa-dewa sudah tak lagi memilih tubuh perempuan-perempuan sebagai rumah mereka. Mereka mengganti inang-inang lama itu dengan tubuh-tubuh lelaki berpakaian perempuan yang menari-nari sambil mengangkat keris. 

Kesimpulannya, apakah La Galigo ditulis oleh perempuan atau sekelompok perempuan, itu masih menjadi misteri seperti halnya peran laki-laki dalam penciptaan epos ini. Satu hal yang pasti, jejak-jejak perempuan sebagai pemegang fungsi vital dalam praktek-praktek pemerintahan maupun spiritualisme Bugis kuno masih dapat kita lacak dari fragmen-fragmennya. Rekonstruksi perspektif atas epos ini dapat memberikan kita gambaran bahwa jazirah Sulawesi Selatan telah mengalami dinamika politik serta revolusi ideologi yang cukup konstan dan massalnya sifatnya selama abad-abad yang tidak direkam oleh sejarah dan setelahnya.

Perubahan-perubahan terus terjadi selama masa sebelum masuknya Islam; setelah Islam diinstitusionalisasikan sebagai agama rakyat; ketika kekuasaan kolonial mulai efektif; setelah Indonesia merdeka dan saat globalisasi mengakrabi kehidupan masyarakatnya. Hari ini saat La Galigo sudah tidak lagi signifikan dalam keseharian akar rumput masyarakat Bugis selain sebagai tradisi atau warisan budaya, narasi perempuan sebagai dewi, penguasa maupun imam dikalahkan oleh cerita-cerita pahit mengenai mahalnya harga panaiq alias mahar nikah yang harus dibayarkan oleh pengantin pria kepada keluarga pengantin wanita. Kekuasaan lelaki menjadi semakin kuat sehingga tidak heran jika ikon yang ditonjolkan dalam pamflet-pamflet pariwisata Sulawesi Selatan ialah kejantanan pria-pria Bugis dalam mengarungi samudera ketimbang menampilkan wujud perempuan-perempuan mandiri yang melestarikan tradisi literasi dan spiritualisme leluhur mereka.

Makassar,
3 Juni 2017

Sunday, May 28, 2017

“Nun” dan Perang Saudara yang Mengakhiri Majapahit

            Kepulangan saya ke Indonesia kali ini cukup istimewa. Setelah seminggu terjebak dalam keriuhan ibukota, saya pulang ke Jogja. Jogja memang rumah yang selalu dirindukan entah itu berupa nuansanya, makanannya, maupun orang-orangnya. Di Jogja, saya memanfaatkan momen yang ada untuk berziarah ke situs-situs yang sudah lama saya impi-impikan untuk datangi namun belum kesampaian. Saya tak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada. Memang tujuan kepulangan ke Indonesia kali ini ialah untuk merecharge energi dan mencari inspirasi baru. Dua di antara situs-situs tersebut ialah Candi Cetho dan Sukuh di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah. 

            Setelah menemukan traveling partner yang juga ingin lari sejenak dari penatnya kehidupan (sebut saja namanya Tekyan), pada suatu subuh yang berbahagia kami bermobil menuju ke Jawa Tengah, tepatnya Kabupaten Karanganyar. Jarak yang ditempuh dari kota Jogja sekitar dua jam lamanya. Tidak jauh memang, apalagi lalu lintasnya belum terlalu padat saat itu. Sengaja berangkatnya pagi-pagi buta karena kami mengejar pemandangan matahari terbit dari depan candi. Perjalanan ke lereng Gunung Lawu ternyata amatlah curam dan menyeramkan, akan tetapi pemandangan yang bakal anda nikmati dari atas sana dijamin tak ada duanya. Kami tiba di hadapan Candi Cetho beberapa saat setelah matahari terbit. Sayang memang, rencana untuk melihat sunrise dari situs tersebut gagal. Namun itu tidak mengurangi gairah kami untuk mengunjungi candi yang masih digunakan sebagai tempat ibadah tersebut.

            Sambil menunggu pukul tujuh tiba, saya dan Tekyan memutuskan untuk beristirahat di warung kopi terdekat. Daerah di sekitar Candi Cetho ini amat menarik menurut saya sebab rumah-rumah mereka dihiasi oleh candi bentar alias gerbang depan yang mirip seperti di Bali. First impression, nuansanya mirip dengan Tengger, desa kecil di kaki Bromo. Saat memesan mie rebus dan teh hangat untuk mengganjal perut pagi itu, anak pemilik warung memanggil-manggil ibunya. Sang ibu yang kebetulan tengah sibuk di dapur membalikkan badannya dan menyahut “Nun!” kepada si anak. Saya terkejut. Akhirnya setelah beberapa tahun tak pernah mendengarkan “nun” dari mulut seseorang, pagi itu di tengah dusun Cetho, kabupaten Karanganyar istilah yang berarti “iya” dalam Bahasa Jawa Timuran itu muncul kembali. Waktu kecil saya dijaga oleh seorang pengasuh yang berasal dari Blitar, Jawa Timur hingga saya masuk SMP. Tidak heran jika saya familiar dengan caranya bertutur, termasuk dengan ekspresi “nun” itu. Jika di Jawa Tengah dan sekitarnya kata yang digunakan untuk menjawab seruan adalah “dalem”, maka di Blitar yang digunakan ialah “nun”. Namun yang jadi pertanyaan selanjutnya, apa sebab “nun” tersesat sedemikian jauh ke Jawa Tengah apalagi di tengah antah-berantah seperti ini?

            Nah, penjelasannya datang saat akhirnya kami diperbolehkan masuk ke Candi Cetho. Tepat pukul tujuh pagar dibuka. Dengan membayar biasa masuk sebesar Rp 7.000,00 kami diberi kampuh alias kain untuk menutup pinggang yang biasanya digunakan untuk sembahyang oleh umat Hindu. Di lokasi candi kami diharapkan untuk menghormati kesuciannya dengan tidak berkata-kata kasar maupun buang sampah sembarangan. Aura sakral dan mistis memang sudah terasa sejak melewati gapura besar utama. Di teras pertama candi terdapat papan informasi yang memaparkan hal-ihwal Candi Cetho dan daerah sekitarnya. 

Konon Candi Cetho ini merupakan tempat dimana Prabu Brawijaya V beserta para pengikutnya mengungsi pasca keruntuhan kerajaan Majapahit. Prabu Brawijaya V moksa atau masuk ke alam gaib bersama para pengikutnya yang setia dari Candi Cetho. Itulah sebabnya candi ini dianggap sebagai salah satu tempat paling keramat sepulau Jawa. Presiden Soeharto hingga SBY dikabarkan pernah bertirakat di candi ini untuk mendapatkan wahyu keprabon alias anugerah dari Sang Penguasa Jagad yang menandai mereka sebagai penguasa Nusantara, meneruskan raja-raja Majapahit. Nah, sisa-sisa pengikut Prabu Brawijaya yang tidak moksa kemudian memutuskan untuk bermukim di sekitar candi, menjaga bangunan suci tersebut secara turun-temurun. Mereka inilah Hindu Jawa pewaris tradisi Majapahit yang terakhir. Selain di Cetho saya juga bertemu dengan komunitas ini di Tengger. Itulah sebabnya area di sekitar Candi Cetho dan Gunung Bromo itu 90% penduduknya masih menganut agama Hindu Jawa. Tidak heran jika mereka yang secara administrasi tergolong ke dalam provinsi Jawa Tengah ternyata berbahasa ala Jawa Timuran. Beberapa pelarian Majapahit ini juga ada yang pergi sejauh Gunung Kidul di Yogyakarta. Itulah sebabnya penduduk Gunung Kidul memiliki tradisi yang cukup kontras dengan penduduk Jawa lain di sekitar mereka. Secara selera makanan mereka suka yang pedas-pedas seperti orang Jawa Timur pada umumnya. Demikian pula dari segi bahasa, mereka menyebut nyamuk dengan nama “jingklong”, istilah yang sama dengan apa yang saya dengar keluar dari mulut pengasuh saya bertahun-tahun yang lalu. Tidak hanya agama, orang-orang keturunan pelarian Majapahit ini juga masih melestarikan istilah-istilah lama dalam bahasa mereka. Menarik sekali ya!

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih dua jam di Candi Cetho, kami kemudian meneruskan perjalanan ke Candi Sukuh yang terletak lebih ke bawah. Kami melewati perkebunan teh “Kemuning” yang indah dan sempat tersesat beberapa kali, hingga akhirnya sampailah kami di dusun Sukuh. Dusun Sukuh berbeda dengan dusun Cetho. Di Sukuh penduduknya sudah mayoritas memeluk agama Islam. Fungsi Candi Sukuh sendiri tidak terlalu dikeramatkan sebagaimana halnya dengan Candi Cetho, hanya saja pada saat-saat tertentu candi ini masih digunakan untuk beribadah. Candi Sukuh sempat mengundang kehebohan beberapa tahun lalu karena bentuknya dianggap mirip dengan ziggurat/piramida bangsa Maya di Amerika Selatan. Beberapa ornamen yang ada di Sukuh seperti patung raksasa penjaga, burung garuda dan naga juga dianggap mirip dengan arca-arca yang ditemukan di benua Amerika sana. Sebuah novel yang terbit tahun 2012 berjudul “Sukuh: Misteri Portal Kuno di Gunung Lawu” karya Rizki Ridyasmara mempopulerkan teori bahwasanya candi ini merupakan sebuah pintu gerbang gaib menuju ke dimensi lain. Mungkin si penulis novel ini terinspirasi dari legenda yang menyatakan bahwa Prabu Brawijaya V moksa di lereng Gunung Lawu.
Candi Cetho dari teras ketiga
            Historically speaking, Candi Cetho dan Sukuh konon dibangun pada abad ke-15 di masa kekuasaan Ratu Suhita. Saat itu Majapahit baru saja menikmati masa damai setelah dirongrong oleh Perang Paregreg yang terjadi akibat perseteruan antarsaudara; Wikramawardhana dan Bhre Wirabumi. Wikramawardhana yang merupakan keponakan dari Prabu Hayam Wuruk menikahi sepupunya yang bernama Kusumawardhani. Kusumawardhani ialah putri mahkota Majapahit. Melalui pernikahan tersebut secara otomatis Wikramawardhana pun diangkat naik sebagai penguasa tunggal kerajaan. Sayangnya, Bhre Wirabumi yang merupakan putra Hayam Wuruk dari seorang selir menentang sahnya klaim Wikramawardhana atas takhta Majapahit. Ia melakukan kudeta dengan jalan mendirikan kedaton wetan alias keraton timur yang berpusat di Blambangan. 

Keberadaan kerajaan di Jawa yang pecah menjadi dua tersebut direkam pula oleh Cheng Ho saat melawat ke Nusantara. Perseteruan keluarga Majapahit baru dapat berakhir setelah Bhre Wirabumi berhasil ditundukkan. Bhre Wirabumi tewas dan kedaton wetan dimasukkan kembali ke dalam yurisdiksi Majapahit. Saat itu Wikramawardhana sengaja mengambil istri salah seorang anak perempan Bhre Wirabumi untuk menghentikan dendam antarkeluarga. Dari pernikahan Wikramawardhana dengan Bhre Wirabumi itulah kemudian lahir Suhita. Ia memerintah dari tahun 1429 hingga 1447 Masehi. Prabustri Suhita digantikan oleh saudara tirinya yang bernama Dyah Kertawijaya, putra Wikramawardhana dengan selir lain. Tidak diceritakan penyebab mengapa takhta tidak diwariskan ke keturunan Suhita karena ditengarai beliau sendiri tidak memiliki anak dari hasil pernikahannya dengan Pangeran Kahuripan bernama Aji Ratnapangkaja.   
Di foto dari salah satu teras Candi Cetho
            Secara arsitektur, Candi Cetho dan Sukuh memang unik dan berbeda dengan candi-candi lainnya yang ada di Jawa Tengah maupun dengan sesama peninggalan Majapahit. Keduanya dibangun tinggi di lereng Gunung Lawu dengan wajah menghadap ke timur. Candi Cetho dan Sukuh dibangun dengan gaya punden berundak-undak, meniru bangunan leluhur masyarakat Jawa sebelum mengenal agama Hindu dan Buddha. Gaya punden yang khas Nusantara ini sayangnya banyak disalahartikan oleh generasi masa kini sebagai “piramida” atau disama-samakan dengan arsitektur Aztek/Maya. Seharusnya kita konsisten dan bangga dengan menyebutnya punden berundak dong, karena gaya tersebut berasal dari nenek moyang kita sendiri, tidak perlu dikait-kaitkan dengan peradaban bangsa lain hanya karena yang di sana itu lebih memancanegara. Hasan Djafar dalam “Masa Akhir Majapahit” menyebutkan bahwa menjelang keruntuhannya, agama Hindu dan Buddha mengalami kemunduran di Majapahit. Agama-agama lokal yang tadinya tersingkir tiba-tiba muncul kembali dalam wujud yang sinkritik dengan kedua agama negara Majapahit tersebut. Jadi tidak heran jika arsitektur sakral lokal pun bangkit kembali di era tersebut. Kedua candi tersebut juga diciptakan untuk tujuan ruwat atau cleansing ceremony. Dalam tradisi Jawa pre-Hindu, ruwatan dilakukan untuk mengusir roh jahat dan untuk menyucikan jiwa. Ritual-ritual seperti itu bangkit kembali dan diberi pakaian Hindu oleh para penganutnya.
 
Bangunan utama Candi Sukuh
Bangunan Candi Cetho dan Sukuh termasuk yang mengagungkan lingga (arca yang menyimbolisasikan phallus Batara Siwa). Di puncak Candi Sukuh dulunya terdapat sebuah lingga raksasa berwarna putih yang tingginya mencapai 2 meter. Lingga tersebut kemudian dipindahkan ke Batavia demi alasan keamanan dan penelitian. Sampai sekarang lingga tersebut masih tersimpan di Museum Gajah. Pemujaan terhadap dewa Siwa melalui penemuan banyaknya lingga tersebar luas di sekitar Gunung Penanggungan dan Gunung Lawu pada era ini. Itulah sebabnya oleh warga sekitar Candi Sukuh disebut juga dengan nama Candi Saru alias candi yang jorok. Tidak hanya lingga, berbagai macam ikonografi alat kelamin perempuan dan hal-hal yang berbau seksual juga dapat ditemukan di Candi Sukuh. Keunikan lainnya ialah hubungan antara lingga yang terdapat di Candi Cetho dan Sukuh dengan ritus pemujaan terhadap gunung. Oleh nenek moyang kita, gunung disakralkan sebagai tempat dimana arwah-arwah leluhur bersemayam sebelum kedatangan agama Hindu dan Buddha. Itulah sebabnya mengapa kedua candi ini arah pemujaannya bukan ke timur sebagaimana lazimnya candi-candi lainnya, melainkan ke arah gunung. Memasuki periode akhir Majapahit, gunung kembali menjadi tempat suci pula bagi dewa-dewi Hindu. Konsekuensinya, muncul semacam kombinasi dengan dewa lokal dimana Siwa disamakan dengan “dewa gunung” atau “penguasa gunung” yang disebut dengan nama Parwataraja, Parwatanatha atau Girinatha.   
 
            Di saat yang bersamaan dengan maraknya pemujaan terhadap dewa gunung ini, di Majapahit terjadi pula pergantian dinasti. Dinasti Rajasa keturunan Ken Arok yang berkuasa sejak zaman Singasari dan telah menurunkan raja-raja Majapahit berganti dengan naiknya Dinasti Girindra. Dinasti Girindra ini sejatinya juga masih keturunan Rajasa, hanya saja tidak berasal langsung dari keturunan permaisuri raja melainkan dari selirnya. Dalam sekejap nama-nama raja yang memerintah diramaikan dengan gelar Girindra yang secara harfiah berarti “Raja Gunung”. Yang paling terkenal tentu saja raja terakhir Majapahit, Dyah Ranawijaya Girindrawardhana
 
Dulunya di atap Candi Sukuh terpasang sebuah arca phallus raksasa perlambang Dewa Siwa

Candi Cetho dan susunan batu berbentuk alat kelamin pria dan wanita

Nah, setelah Dyah Kertawijaya memerintah sebagai raja menggantikan Suhita, baru empat tahun menjabat ia telah digulingkan oleh saudara tirinya (yang lain) putra Wikramawardhana dengan selir (yang lain pula) bernama Rajasawardhana Sang Sinagara. Rajasawardhana pun bernasib malang, ia hanya memerintah selama dua tahun. Di sini nampak bahwa Majapahit tengah mengalami krisis politik. Posisi raja sempat kosong selama 3 tahun hingga akhirnya diisi oleh Girisawardhana, putra almarhum Dyah Kertawijaya. Dari dirinyalah bisa dikatakan Dinasti Girindra dimulai. Putra Girisawardhana yang bernama Bhre Pandansalas Dyah Suraprabhawa menjadi raja selama 8 tahun hingga kemudian dikudeta oleh Bhre Kertabumi.  

Bhre Kertabumi yang mengklaim takhta Majapahir ini ialah putra bungsu Rajasawardhana Sang Sinagara. Ternyata dendam antarkeluarga ini belum larut juga dimakan kala. Bhre Kertabumi merasa ayahnya dicurangi, sebagai putra Sang Sinagara ia berhak atas kursi Majapahit. Diusirnya lah Dinasti Girindra dari istana. Bhre Kertabumi berkuasa selama 10 tahun setelah kemudian diserang oleh Dyah Ranawijaya Girindrawardhana putra Bhre Pandansalas. Bhre Kertabumi sendiri diduga keras ialah tokoh yang sama dengan Brawijaya V dalam narasi Babad Tanah Jawi. Dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan bahwa Brawijaya V memiliki seorang putra dari selir asal Cina yang diberi nama Raden Patah. Betul atau tidaknya cerita tersebut, yang jelas pada tahun 1519 Raden Patah yang saat itu menjabat sebagai Adipati Demak menyerang balik Dyah Ranawijaya Girindrawardhana dan meruntuhkan kerajaan Majapahit. Apakah Raden Patah simply ingin membalaskan dendam ayahnya dalam penyerangan itu? Nah, masih menjadi misteri. Yang jelas sejak saat itu Majapahit menghilang dari sejarah dan Kesultanan Demak tumbuh menjadi kerajaan besar di tanah Jawa.
Setelah itu kami mengakhiri petualangan dengan makan timlo di Solo :P
Menurut saya pribadi, tujuan dibalik pendirian Candi Sukuh selain untuk memenuhi kebutuhan akan ritual ruwat yang saat itu kembali booming di era akhir Majapahit ialah juga sebagai pemenuhan doa dari Ratu Suhita dan suaminya. Sebagaimana telah kita ketahui, pernikahannya dengan Aji Ratnapangkaja tidak menghasilkan keturunan. Di masa pemerintahannya, ia justru mendirikan candi yang dipenuhi oleh aksesoris-aksesoris sakral yang berhubungan dengan aktifitas kesuburan. Sepertinya Candi Sukuh memang menjadi tempat ritual sang ratu bersama suaminya untuk memohon agar dikaruniai penerus. Usahanya seserius itu hingga mendirikan tempat pemujaan dengan arca phallus raksasa di lereng gunung yang jauh dari ibukota kerajaan. Wajar saja, sebenarnya. Di tengah kecamuk perang saudara Majapahit, anak yang terlahir dari perpaduan benih Wikramawardhana dan Bhre Wirabumi diharapkan dapat meredam kekacauan. Akan tetapi sayangnya cita-cita sang ratu tidak terwujud. Majapahit kemudian harus berakhir di tangan perang antara saudara-saudara seayahnya sendiri.

Satu hari yang seru sekali. Saya banyak mendapatkan pengetahuan, pengalaman dan juga cerita-cerita baru. Berawal dari kata “nun” yang punya sihir nostalgik hingga ke runtuhnya sebuah kerajaan besar di candi berphallus. Hidup ini memang dipenuhi oleh anekdot-anekdot menarik yang mungkin hanya bisa dipahami nanti setelah lewat beberapa generasi. Toh, kita yang hidup di zaman ini sejatinya merupakan bahan pelajaran bagi generasi yang akan datang. Semoga dari ziarah-ziarah yang saya lakukan di tanah air ini saya mendapatkan ilham untuk dapat menjadi manusia yang lebih baik lagi. Om Santi Santi Santi Om.

Makassar,
28 Mei 2017
02 Ramadan 1438

Friday, May 26, 2017

dari Enkhuizen ke Bataviastad: VOC Gaya Lama ke VOC Gaya Baru

Hari minggu tanggal 2 April kemarin, kami sekeluarga dikejutkan dengan sebuah keputusan yang datangnya begitu mendadak. "Ayo, semua siap-siap, kita jalan-jalan ke Enkhuizen!" demikian maklumat John, bapak kos saya di Berkel yang berhati nyaman ini. Tanpa ba-bi-bu lagi, saya yang untungnya saja sudah mandi pagi dan baru saja menyelesaikan sarapan segera bersiap. Hari itu kami berkendara selama hampir 2 jam lamanya menuju ke sebuah kota nelayan kecil di Belanda utara: Enkhuizen.

Enkhuizen dulunya merupakan salah satu dari enam kota utama VOC selain Amsterdam, Delft, Dordrecht, Hoorn dan Middelburg. Sebagaimana halnya dengan kota-kota yang saya sebutkan barusan, Enkhuizen masih menampakkan sisa-sisa kejayaan masa lalunya. Betapa tidak, dulunya seluruh rempah-rempah yang masuk ke Belanda harus distok dulu di Het Peperhuis alias "Rumah Merica" yang sekarang menjadi bagian dari Zuiderzee Museum (Museum Laut Selatan Enkhuizen). Het Peperhuis telah digunakan sejak tahun 1682 oleh VOC untuk menyetok seluruh persediaan merica yang mereka beli di Asia. Keberadaan Het Peperhuis ini membuat perekonomian Enkhuizen secara fantastis melesat naik. Segera saja perdagangan rempah-rempah membuat penduduk kota itu menjadi kaya dan terkenal. Selain karena menjadi sentra perdagangan rempah, Enkhuizen juga merupakan pusat penjualan ikan herring, makanan khas orang Belanda.  

Het Peperhuis
Berpose bersama si mbak penguasa laut selatan (versi Belanda)

Sisa-sisa kejayaan maritim kota dagang ini juga dapat dilihat dari arsitektur kota yang banyak menggambarkan unsur-unsur laut seperti hiasan trisula Poseidon, lambang Hermes sebagai dewa perdagangan maupun relief putri duyung. Pelabuhan Oosterhaven yang terletak tidak jauh dari Het Peperhuis dulunya menampung kapal-kapal yang menanti untuk menurunkan maupun mengangkut barang. Seorang tokoh penjelajah besar kebanggaan Belanda bernama Jan Huygen van Linschoten berasal dari kota ini. Ia adalah orang Belanda pertama yang membocorkan rute laut Portugis menuju ke Asia dengan cara mempublikasikan peta pelayaran mereka dalam buku berjudul "Itinerario" pada tahun 1596. Efek dari publikasi Van Linschoten ini amatlah besar. Sebelumnya, di Eropa hanya bangsa Spanyol dan Portugis yang memonopoli perdagangan rempah-rempah ke timur. Mereka menjaga dengan ketat rahasia rute pelayaran dari bangsa-bangsa Eropa lainnya. Segera setelah Itinerario disebarluaskan dan dibaca banyak orang, berbondong-bondonglah pelaut-pelaut Eropa berlayar menuju ke Hindia Timur. 


Monumen untuk memperingati Van Linschoten the explorer
Replika kapal Batavia zaman VOC di Bataviastad

Setelah puas berkeliling Enkhuizen, kami sekeluarga meneruskan perjalanan menuju ke sebuah kawasan kecil yang untuk ukuran usia sebenarnya tergolong cukup baru di Belanda. Nama kawasan itu adalah Bataviastad, daratan yang direklamasi dari laut dan diresmikan sebagai pusat fashion outlet pada tahun 2001 oleh pemerintah Belanda. Hmmm, menarik ya, namanya mirip dengan nama lama Jakarta. Nama Batavia sengaja dipilih sebab di dekat kawasan tersebut pernah ditemukan bangkai kapal VOC bernama Batavia dari tahun 1628. Terinspirasi dari kejayaan VOC di era keemasannya, replika kapal Batavia menjadi ikon utama yang mengapung penuh kebanggaan di perairan Bataviastad hari ini. Sepertinya benar ya, Belanda masih belum bisa move on dari Indonesia! 


Soldaat alias prajurit VOC di depan pintu masuk cafe
Perahu-perahuan kecil dengan kotak kayu berlambang VOC di depan cafe ini jadi tempat nongkrong buat keluarga yang cukup asyik

Beberapa cafe dan bar di sana juga mengangkat tema petualangan bahari bangsa Belanda di timur. Tidak hanya itu, nama jalanan di Bataviastad seperti Bataviaplein, VOC weg, Oostvaardersdijk dan Zeven Provincieplein merupakan contoh bagaimana imaji akan kebesaran Belanda dalam menaklukkan samudera dan merajai perdagangan dihidupkan kembali di kota buatan nan komersil ini. Jika dulu nama Batavia di Hindia Timur erat dengan kegiatan komersil Belanda dalam perburuan rempah-rempah, maka hari ini nama Batavia di Belanda dihidupkan sebagai pusat shopping. Ujung-ujungnya yang namanya Batavia pasti masih berhubungan dengan uang dan perdagangan di dalam angan-angan bangsa Belanda.

Weekendje yang menyenangkan. Kami berziarah dari VOC gaya lama di Enkhuizen ke VOC gaya baru di Bataviastad. Dulu, Bung Karno pernah nyeletuk bahwa bangsa yang besar ialah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Belanda sudah membuktikan itu. Daratan tanpa identitas yang mereka reklamasi dari lautan mereka beri baju kemoderan namun berakar lokal. Tema kejayaan VOC yang mereka pilih untuk Bataviastad tentunya bukan tanpa sebab: bagi mereka kemajuan yang dimiliki oleh Belanda hari ini tidak lepas dari kejayaan masa lalu yang mampu menstimulasi mereka untuk terus berkarya.