Friday, September 2, 2016

Universalitas, Lokalitas dan Dongeng-Dongeng Timur

Sebagai seorang mahasiswa yang belajar European and International Human Rights Law di sebuah universitas papan atas macam Leiden, sejak hari pertama duduk di ruang kelas, sebuah prinsip dasar bernama ‘universalitas' sudah harus saya untal bulat-bulat ke dalam tenggorokan. Bak makanan pembuka, sebelum dapat melaju ke bahan-bahan kuliah selanjutnya saya sudah harus memahami apa itu universalitas.
Se-fancy kedengarannya, oleh dosen saya universalitas didogmakan sebagai sebuah pernyataan (ingat, bukan pertanyaan) yang pada dasarnya bisa diterima oleh semua orang di segala lokasi geografis, karena dipercaya bahwa umat manusia ini pada dasarnya memiliki kesadaran maupun keinginan yang sama. Kata ini mengandung sebuah gagasan yang sifatnya memonopoli, merangkul semuanya, karena bersumber dari kata ‘universeum’ yang berarti segala sesuatu. Setiap manusia tidak ingin nyawanya dicabut dengan semena-mena ataupun disiksa, contohnya, adalah keinginan yang sifatnya universal. Demikian pula dengan hak untuk dapat menyembah suatu ilah atau sesembahan dengan bebas tanpa paksaan ataupun gangguan dari kaum lainnya. Itu universal sifatnya, jelas semua manusia ingin beragama dan menjalankan agamanya dengan bebas. Meskipun paham dengan makna di balik kata ini, tetap saja bagi saya kata universal itu sendiri mengandung keangkuhan tiada tara karena berani-beraninya menyimpelkan keanekaragaman identitas umat manusia yang terlalu amatlah rumitnya ke dalam sebuah kotak bernama 'pada dasarnya'.
Hak-hak asasi manusia ini dimitoskan (ya, saya harus menggunakan kata mitos karena di banyak artikel ilmiah pun ada beragam pertentangan ide mengenai universalitas hak asasi manusia itu sendiri, akan tetapi para pendukung universalisme hak asasi manusia yang punya golongan massa lebih banyak berhasil mengakarkan ide mereka sedemikian rupa sehingga kata ‘human’ pada human rights itu sendiri pun sudah mengandung elemen universalitas tanpa perlu dijabarkan lebih lanjut; pada akhirnya pendapat ini pun menjadi semacam urban legend yang terus-menerus hidup bersama dengan reproduksi ilmiah mengenai hak manusia) ada di setiap budaya dan kultur: apa yang dikehendaki oleh manusia itu pada dasarnya adalah sama dimanapun ia berada. Oleh banyak akademisi Barat, universalitas ini kerap disabung dengan prinsip lain yang bernama lokalitas (yang terakhir ini konon banyak didukung oleh negara-negara dunia ketiga yang masih sibuk memikirkan besok-makan-apa dan dimana-kita-hendak-berteduh-malam ini jika disandingkan dengan level hidup di negara-negara dunia pertama yang sudah dapat menikmati air-minum-dari ledeng serta lampu kelas yang-dapat mati sendiri-jika-tidak ada-orang di dalam ruangan).
Lokalitas ialah segala sesuatu yang berkebalikan dari universalitas: norma tidak bisa dipukul rata sama semuanya di belahan dunia mana pun; sistem nilai bergantung pada latar agama, budaya, politik, sosial dan eknomi peradaban yang bersangkutan; serta setiap entitas umat manusia ialah unik karena perjalanan sejarah mereka sendiri. Islam contohnya, mengakui eksistensi hukuman mati sebagai salah satu sanksi pidana di dalam kitab sucinya dengan persyaratan tertentu. Di Afrika Selatan, beberapa suku-suku asli masih menerapkan hukuman cambuk di depan umum untuk memberikan efek jera bagi si pelaku sekaligus pengajaran bagi para penontonnya. European Convention on Human Rights sebagai piagam hak asasi manusia tercanggih abad ini jelas mengutuk kedua contoh sanksi tersebut: tidak ada manusia yang boleh dijatuhi hukuman mati maupun disiksa sedemikian rupa oleh negara maupun institusi lainnya. Bagi sistem nilai yang dianut oleh masyarakat Eropa modern, sanksi-sanksi tersebut dianggap barbar, terbelakang, primitif, sudah tidak pada tempatnya serta tidak menyelesaikan masalah. Sebuah hukuman tidak seharusnya melukai hak-hak dasar seorang manusia sebagai seorang ‘manusia’. Dalam hal ini, banyak lingkaran adat maupun komunitas-komunitas tradisional di penjuru bumi yang jelas tidak mampu menangkap pesan ‘universalitas’ hak asasi manusia versi Eropa tadi. Alhasil, universalitas yang dipahami serampangan dapat menjadi dasar sekaligus daya paksa baru untuk kemudian mencekokkan norma-norma asing kepada negara-negara di belahan bumi lainnya. Ini kenyataan, banyak kasus yang sudah terjadi mengakibatkan kepunahan bahasa, hilangnya tradisi maupun musnahnya identitas lokal atas dasar kebersamaan nilai.
Oke, tujuan saya menulis artikel ini sebenarnya bukan untuk membahas masalah universalitas hak asasi manusia. Saya ingin bercerita tentang pengalaman saya saat berkunjung ke Berlin dan Praha minggu lalu. Berlin sebagaimana yang kita semua ketahui ialah ibukota Jerman. Kota yang dulunya jatuh di yurisdiksi komunis ini adalah tempat bertakhtanya Angela Merkel, the Queen of Europe. Berlin adalah pertemuan antara dua dunia: masa lalu dan masa kini, komunisme dan kapitalisme. Berlin berusaha untuk keluar dari wajahnya yang kekiri-kirian itu dengan banyak mengadopsi arsitektur modern dan memancanegarakan dirinya. Berlin dikenal sebagai ibukota hipster Eropa, ini pun diakui oleh para hipster New York yang terkagum-kagum dengan kekreatifan hipster Berlin yang menurut mereka “out of the box”. Praha di sisi lain juga merupakan sebuah kota bekas peradaban komunisme dulu pernah berjaya. Sisi kiri Praha masih nampak di beberapa sudut kotanya, akan tetapi sebenarnya yang menonjol dari kota cantik ini ialah sejarah masa lalunya jauh sebelum Uni Soviet menularkan pengaruh mereka ke Eropa timur. Praha dulunya ialah ibukota Holy Roman Empire, dibangun untuk menerima segala kemegahan dan keagungan takhta yang -katanya- dimahkotakan oleh Tuhan itu sendiri ke kepala Raja Charles. Charles Bridge, Charles Castle, St. Vito Cathedral, Opera House, semuanya dicipta dengan cita rasa yang tinggi untuk menghiasi kotaraja tersebut. Charles mengklaim dirinya sebagai raja Romawi, kerajaan yang pernah menguasai seantero Eropa dan sekeliling Laut Tengah. Titelnya ini besar sekali, meskipun pada kenyataannya kekuasaan si raja tidak sampai setengah dari luas kerajaan Romawi dahulu kala.
Di sini, di Praha, saya tidak menemukan apa-apa yang berhubungan dengan Nusantara. Biasanya tiap kali berkunjung ke sebuah tempat baru yang punya sejarah cukup lama, saya akan mencari-cari narasi dimana tempat tersebut ternyata memiliki hubungan dengan Indonesia, kampung halaman saya. Saat berkunjung ke Sevilla contohnya, kota yang pernah jadi pelabuhan dagang besar itu ternyata merupakan tempat dimana Ferdinand Magelhaens mengumpulkan informasi serta berangkat menuju ke Kepulauan Rempah-Rempah yang tidak lain adalah Maluku. Di Antwerp juga saya mati-matian mencari pelabuhannya hanya sekedar untuk berfoto di titik yang dulu kekayaan dari timur memasuki low countries sebelum kemudian perannya digantikan oleh Amsterdam. Mencipta narasi baru tentang kampung halaman yang sifatnya global namun juga ambisius, itu yang saya kejar. Akan tetapi, di Praha saya tidak menemukan itu. Berbeda dengan Den Haag dan Rotterdam yang dibangun oleh ekspor gula dan kopi dari Jawa, Praha tidak pernah menyelip masuk ke Nusantara dan menjadi pemeran utama. Praha punya urusannya sendiri, Holy Roman Empire yang saat itu disusupi oleh raja-raja Habsburg Austria selama 14 generasi tidak punya narasi istimewa mengenai Indonesia. Mungkin ada narasi-narasi tidak langsung seperti menyan dari Borneo yang dibakar di katedral atau kayumanis Sumatera yang masuk lewat pedagang-pedagang Belanda akan tetapi saat berjalan di atas jembatan Charles yang megah itu saya tidak melihat ada jejak kapal Sawerigading pernah berlayar maupun bekas keris sakti Patih Gadjah Mada saat Hamukti Palapa. Tidak, tidak ada benang yang dapat saya tarik untuk universalitas dengan Nusantara di sini.
Di dalam pergaulan Kepulauan Nusantara atau yang oleh Anthony Reid disebut dengan nama “Negeri-Negeri Bawah Angin” ini, Hayam Wuruk dari Jawa bisa hidup dan disebut-sebut di cerita mengenai Hang Tuah asal Melayu. Pangeran Jafar dari tanah Bugis pun dapat berlayar dan melamar Putri Lindung Bulan dari Jambi. Putri Ontin dari negeri sejauh Cina saja dapat hamil tanpa disentuh oleh Sunan Gunung Djati yang bermukim di Cirebon. Figur-figur maupun anekdot-anekdot yang nampaknya lokal dan hanya muncul sebagai karakteristik di sebuah daerah dapat dipinjam untuk memperkaya narasi di tempat lain. Yang lokal pada akhirnya tidak selokal yang kita bayangkan. Sarung sutera yang penting untuk keperluan adat Minangkabau ternyata diimpor dari Mandar, besi sebagai bahan pembuat keris terbaik di zaman Majapahit berasal dari Luwu, rantai emas yang harus dipakai oleh raja-raja Makassar dalam penobatan mereka aslinya dari Filipina, dan seterusnya dan seterusnya. Kelokalan yang khas antara satu daerah dengan daerah lainnya itu saling rajut-merajut membentuk apa yang pada akhirnya narasi bersama. Narasi-narasi ini mampu berkelindan karena adanya interaksi antara kelokalan satu dengan lainnya sehingga tidak hanya saling pinjam-meminjam namun juga saling pengaruh-mempengaruhi satu sama lain.
Kembali ke Praha, kelokalan Nusantara tidak hadir di sini karena miskinnya interaksi antara ibukota Holy Roman Empire dengan ‘dongeng-dongeng’ dari timur tersebut. Di Praha maupun Berlin, konon Malin Kundang tidak pernah singgah untuk berdagang. Nawang Wulan juga tidak pernah turun untuk mandi di Sungai Vlatava atau Sungai Spree. Tidak ada bangsa jin dari Prambanan yang membantu proses pembuatan Charles Bridge dalam semalam. Apabila di berbagai belahan Nusantara seorang anak yang meninggalkan orang tuanya yang sudah tua dapat dilaknat menjadi batu menangis atau binatang jadi-jadian, maka di Jerman seorang anak berkerudung merah justru disuruh oleh ibunya untuk menembus hutan berserigala seorang diri. Dongeng merupakan cerminan nilai dari masyarakat, seorang anak diajar sedari kecil mengenai norma dan falsafah hidup melalui konflik-konflik yang ia sajikan. Dari dongeng-dongeng ini pun kita tahu bahwa universalitas adalah sesuatu yang sifatnya diimpi-impikan, bukan kenyataan. Lokalitas justru kuat mewarnai dalam menentukan apa yang benar dan apa yang salah. Bisa saja kisah mengenai anak durhaka yang dilaknat juga muncul di dongeng-dongeng barat dalam bentuk yang lain, namun pertanyaan selanjutnya: sampai sejauh manakah perbedaan narasi itu kemudian dapat diakui oleh standar dongeng-dongeng timur sebagai ‘sekedar variasi’ atau justru adalah ‘sebentuk deviasi’?
Bagi saya, universalitas ialah sebuah invensi. Kesadaran kolektif berbeda dengan universalitas: kesadaran kolektif sifatnya tidak memonopoli dan memukul rata di saat yang sama. Universalitas kebalikannya, ia memonopoli dan mewajibkan pukul rata di semua tempat pada saat yang sama. Bukan berarti universalitas itu sesuatu yang buruk, tidak. Hanya saja ia akan terlihat buruk apabila dipaksakan untuk bersanding dengan lokalitas yang memang sudah menjadi bahagian dari peradaban manusia sejak awal. Lihat, betapa kayanya dongeng-dongeng yang muncul secara unik dari kelokalan masing-masing kebudayaan. Ada karakteristik unik yang membumbui setiap narasinya. Lokalitas, sebagai yang lebih tua daripada universalitas, pada hakikatnya mampu menciptakan kondisi bagi terwujudnya jalan menuju yang disebut terakhir. Malin Kundang akan tetap menjadi konsep dongeng yang aneh bagi penduduk Praha sebagaimana kisah golem yang diciptakan oleh Rabbi Lowe bagi penduduk Kepulauan Cocos.
Yang ingin saya simpulkan pada akhirnya ialah, tidak ada yang bisa kita dapat dari ‘dongeng-dongeng’ lokal yang dipaksa untuk menjadi universal selain kehilangan warna dan kekuatan aromanya. Universalitas justru akan terasa indah melalui penciptaan nilai-nilai bersama yang baru, tidak melalui peredaman narasi-narasi lokal. Jadilah seperti Berlin: mencipta nilai-nilai hipster universal melalui elemen-elemen yang dulunya saling berbenturan satu sama lain namun kemudian dapat diakurkan melalui interaksi yang interaktif.

Leiden, 22 Juli 2016

Sunday, August 7, 2016

Buku Dongeng Freud

Berkunjung ke Vienna sepertinya tidak lengkap jika belum mampir ke Berggasse 19, rumah yang dulunya juga merupakan kantor tempat Sigmund Freud pernah membuka praktek psiko-analisisnya. Lokasi rumah ini tidak begitu jauh dari Universitas Vienna dan Rathaus, dengan kata lain berada tepat di pusat ibukota Austria. Rumah yang dulunya menjadi saksi dimana seorang pria keturunan Yahudi dari keluarga kelas menengah merawat dan menetaskan teori-teori yang kelak menjadi pokok-pokok dasar ilmu psikologi ini sekarang telah berubah menjadi sebuah museum dengan kapasitas kunjung yang cukup terbatas. Di suatu musim panas, saya berziarah ke rumah Freud dan menemukan obsesi terpendamnya mereproduksi dongeng-dongeng dari masa lalu demi membongkar teka-teki mengenai alam pikiran manusia.

Rumah sekaligus kantor Freud di Vienna

Di dinding ruang praktek Freud yang kecil terdapat banyak sekali lukisan. Sebagian di antaranya yang saya ingat adalah gambar-gambar hieroglif dan patung-patung Mesir, adegan-adegan dalam mitologi Yunani serta lukisan-lukisan yang berhubungan dengan cerita-cerita dari peradaban Cina kuno. Lukisan-lukisan yang beraneka ragam ini mempunyai tema yang sama: mitologi dari masa lalu. Freud menghiasi dinding ruang kerjanya dengan dongeng-dongeng paling awal mengenai penciptaan manusia dan bagaimana dunia bisa berjalan tanpa melalui bantuan penjelasan oleh sains. Well, dongeng mungkin adalah sains itu sendiri: di masa ketika matahari masih ditarik oleh tujuh ekor kuda putih dan Anubis menimbang jantung manusia di alam akhirat tidak ada penjelasan lain yang lebih bisa diterima oleh akal untuk menjabarkan mengapa matahari bergerak dari timur ke barat dan kemana perginya manusia yang telah tiada.

Sebelumnya saya tidak pernah tahu mengenai sisi lain dari Freud yang ternyata dipenuhi oleh hasrat keingintahuan akan okultisme yang cukup mendalam ini. Artefak-artefak kuno dari Mesir, Yunani dan Mesopotamia kuno yang terpajang di dalam rak kaca di ruang kerjanya sudah cukup untuk meyakinkan saya akan minatnya yang besar terhadap sejarah, agama dan misteri masa lalu. Di salah satu penjelasan di dalam museum itu disebutkan bahwa Freud juga menggunakan mitologi Mesir kuno untuk menjelaskan asal mula bangsa dan agama Yahudi. Melalui esainya yang berjudul Moses and Monotheism, Freud menggunakan pisau bedahnya sendiri untuk membongkar asal-usul Yudaisme dengan beberapa poin yang cukup kontroversial seperti mengatakan bahwa Musa sesungguhnya bukanlah orang Yahudi dan ia mati dibunuh oleh orang-orang Yahudi pengikutnya pada sebuah pemberontakan. Kelak orang-orang Yahudi tersebut menyesal dan kemudian mengharapkan Musa untuk dapat hidup kembali dan memimpin mereka menuju kejayaan. Itulah, menurut Freud di esai tersebut, mula terciptanya mitos mesiah alias Juru Selamat dalam tradisi Yahudi yang kemudian diwarisi oleh kekristenan.

Koleksi artefak-artefak kuno Freud

Ruang kerja Freud
Salah satu teori Freud yang terkenal mengenai tendensi seksual anak laki-laki terhadap ibunya juga meminjam istilah dari mitologi kuno. Oedipus complex hingga hari ini telah menjadi sebuah terma ilmiah yang dikukuhkan oleh Freud di kamus-kamus istilah modern. Oedipus ia ambil dari nama seorang tokoh laki-laki yang membunuh ayah dan kemudian menikahi ibu kandungnya sendiri dalam dongeng Yunani kuno. Freud dan eksperimennya akan dunia mimpi dan alam bahwa sadar manusia juga banyak dipengaruhi oleh elemen-elemen kisah dari dunia okultisme. Di esainya yang berjudul "Dreams and Occultism" Freud mengatakan bahwa secara umum interpretasi terhadap mimpi dan psiko-analisis dapat membantu untuk memahami okultisme yang selama ini dijauhi oleh sains karena dianggap sebagai omong-kosong semata. Freud membahasakan ulang tidak hanya pandangan namun juga nilai-nilai yang dikandung di dalam dongeng-dongeng tersebut dalam lingkaran akademisi dengan bentuk yang dapat diterima oleh sekumpulan profesor universitas.

Era ketika Freud hidup disebut oleh mereka yang lahir kemudian dengan nama the Age of Reason. Alasannya mengapa, sudah pernah saya jelaskan panjang dan lebar di tulisan mengenai Alice Through the Looking Glass: Perempuan dan Dunia di the Age of Reason. Okultisme yang tumbuh subur di Eropa kala itu merupakan produk dari maraknya keinginan manusia untuk mendapatkan jawaban atas perkara-perkara spiritual yang sebelumnya tak dapat dijelaskan oleh agama. Pasca Perang Dunia I, timbul gairah untuk mempelajari cara berkomunikasi dengan jiwa yang telah mati dari keluarga korban perang. Kematian yang tiba-tiba secara massal tersebut membuat banyak orang tidak dapat menerima kenyataan sehingga terus-menerus mencari cara untuk dapat berhubungan dengan orang yang mereka cintai. Mediumisasi dan berbagai metode yang berhubungan dengan ilmu gaib banyak bermunculan, membentuk semacam pseudo-science yang bersumber dari kepercayaan non-biblikal masyarat Eropa kuno maupun dari tradisi-tradisi timur yang mereka dengar dan kemudian adopsi dari koloni-koloni mereka. Freud hidup di era saat dongeng-dongeng lama sebelum kedatangan Tuhan versi Perjanjian Lama dan Baru kembali dihidupkan. Dongeng memiliki peranan penting dalam imajinasi Freud untuk membentuk teori-teorinya. 

Pada akhirnya, untuk menutup kisah mengenai fantasi Freud dan dongeng-dongeng kuno, saya membayangkan Freud seperti seorang kakek-kakek berjanggut putih yang menaiki tram di kota Vienna pada sebuah senja sambil memeluk tas hitam berisi sekumpulan hartanya yang paling berharga: buku-buku dongeng. Bagi kakek-kakek paruh baya itu tiada yang lebih berharga bagi ide-idenya selain kisah-kisah berbumbu keajaiban yang terjadi di masa lalu dan dinarasikan ulang sebagai sebuah oasis inspirasi. Mirip seperti saya saat duduk di bangku kelas enam SD di Bali. Saat itu tas saya juga dipenuhi oleh buku-buku cerita rakyat Nusantara dan seri mitologi Yunani kuno terbitan Gramedia Pustaka Utama. Di sepanjang perjalanan mobil pulang dari sekolah menuju ke rumah, kepala saya saat itu dipenuhi oleh khayalan tentang kekuatan superhuman dan dimensi-dimensi yang mungkin, suatu hari nanti, bisa ditembus oleh manusia dengan kekuatan pikiran dan teknologi. Freud, dinutrisikan oleh dongeng-dongeng lama, juga memiliki jiwa kanak-kanak yang sama. Ia tidak pernah benar-benar melupakan dan meninggalkan dunia imajinasi yang kaya saat beranjak dewasa, ia justru menginvensi dongeng-dongeng baru berlabel sains dari dongeng-dongeng lama tentang perjalanan umat manusia.

The Hague,
8 Agustus 2016

Tuesday, July 19, 2016

Empat hari untuk tiga kota: Dresden

Hari minggu tanggal 10 Juli 2016 seharusnya kami berangkat ke kota Dresden dari stasiun ZOB di Berlin Pukul 14.00. Setelah dengan cukup terburu-buru berusaha menamatkan atraksi di ibukota Jerman ini, ternyata kami harus menunggu sekitar satu jam dalam ketidakpastian karena bus yang akan membawa kami ke Dresden di-delay tanpa ada pemberitahuan sama sekali. Sejam kemudian, tepatnya Pukul 15.00 lebih sedikit Flixbus yang harusnya membawa kami akhirnya tiba. Meskipun cukup lelah dan sedikit sakit kepala karena tidur siang yang terpotong, begitu melihat kota Dresden dari seberang sungai Elbe, mata saya langsung terbuka lebar. Jantung saya berdegub. Kota ini sungguh berbeda dengan si cantik Brugge, Florence, Venezia maupun Utrecht. Ada yang istimewa dari Dresden.

2. Dresden: Si Cantik dari Timur yang bangkit dari puing-puing Perang Dunia II


Dresden adalah ibukota negara bagian Saxony di Jerman Timur. Kota ini menurut saya adalah salah satu kota tercantik di Jerman. Dresden dipenuhi oleh bangunan-bangunan megah bergaya baroque yang menunjukkan bahwa dulunya kota ini amatlah kaya. Namun saya merasakan atmosfer yang berbeda jika dibandingkan dengan saat berada di antara bangunan bergaya baroque di Paris ataupun Roma. Sebelum Perang Dunia II meletus, kota ini dijuluki dengan nama "Florence on the Elbe" untuk menggambarkan kecantikannya yang dianggap setara dengan kota Florence di Italia.


Salah satu tokoh yang menjadi pemimpin paling terkenal di kota ini yang juga menggiring Dresden menuju ke masa-masa kejayaan ialah elector Holy Roman Empire yang bernama Augustus I. Pangeran Augustus I ialah seorang Protestan. Ia menyediakan suaka bagi Martin Luther saat sang pembawa reformasi ini dimusuhi oleh seluruh Eropa. Augustus I juga dikenang oleh sejarah karena perannya dibalik Peace of Augsburg yang mengakhiri percekcokan antara kutub Protestan dan Katolik di Jerman.



Frederick Augustus III "The Just", penguasa Saxony zaman Napoleon
Pemandangan puing-puing kota Dresden di lihat dari puncak Rathaus saat PD II. Patung yang selamat dari pemboman di atap Rathaus ini ialah "Die Gute". Sumber: theguardian
Pemandangan Altstadt (kota tua) Dresden dari kejauhan
Dresden yang kita lihat hari ini sebenarnya tak sama dengan Dresden seabad silam. Serangan Inggris saat Perang Dunia II berhasil meluluhlantakkan kota ini, meninggalkan bangunan-bangunan baroque yang megah itu menjadikepingan-kepingan batu. Salah satu foto paling terkenal di Dresden dari masa tersebut ialah pemandangan kota yang hampir rata dengan tanah dilihat dari puncak Rathaus (balaikota). Pada tahun 2005, pemerintah Jerman tak segan-segan mengucurkan dana besar-besaran untuk merekonstruksi bangunan-bangunan lama yang hancur pada zaman peperangan sesuai dengan bentuk aslinya. Ya, bangunan-bangunan yang telah musnah menjadi kepingan batu tersebut berusaha dihidupkan kembali dari atas puing-puingnya bermodalkan dokumentasi, teknologi dan imajinasi para undagi! Nah, atas berkat inisiatif itulah jika berkunjung ke Dresden sekarang kita masih dapat menikmati keindahan kota ini seperti di masa keemasannya dulu. Luar biasa mengagumkannya ya usaha pemerintah dan warga Jerman dalam melindungi dan menjaga heritage bangsa mereka.


Monumen untuk mengenang Martin Luther yang pernah mencari suaka di Dresden, depan Frauenkirche
Meskipun hanya berada sekitar 4 jam di kota ini sebelum kemudian mengejar bus untuk melanjutkan petualangan ke kota selanjutnya, saya merasa cukup. Dresden tidak sebesar Berlin, atraksi sejarahnya pun terpusat di sekitaran kota tuanya. Ada banyak sisi Dresden yang belum sempat saya eksplor lebih jauh lagi, akan tetapi bagi saya impresi yang saya dapatkan dari kota ini sudah amat memuaskan. Oh ya, sebelumnya saya agak takut-takut untuk datang ke kota ini sebenarnya. Selain memiliki reputasi sebagai si Cantik dari Jerman sebelah timur, Dresden dikenal juga sebagai sarangnya PEGIDA (Patriotic Europeans Against the Islamisation of the West). 

Beberapa kejadian tidak menyenangkan sempat terjadi di kota ini, melibatkan serangan serta tindakan diskriminasi terhadap orang-orang asing yang berkunjung. Selain itu, rombongan pengungsi dari Syria juga banyak yang berusaha untuk masuk ke kota ini untuk mencari suaka, menimbulkan banyak friksi dengan warga lokal yang tidak menghendaki kotanya "dikotori" oleh kehadiran mereka. Sungguh amat sangat disayangkan. Kota yang seharusnya belajar dari masa lalunya sendiri ini ternyata belum mampu untuk membuka tangan lebar-lebar dan mengakomodasi perbedaan. Padahal dulunya seorang Luther yang juga adalah refugee pernah mencari suaka di sini. Masa depan dunia bisa berubah apabila saat itu warga Dresden tidak menghendaki Luther yang notabene dianggap kafir oleh Paus di Roma untuk tinggal di kota mereka.


Matahari tenggelam di barat dengan perlahan. Saya dan kawan pun segera berangkat ke stasiun untuk mengejar bus kami menuju ke Praha. Sambil memandangi kota yang kecantikannya berbeda dengan kota-kota lain yang pernah saya lihat itu, cahaya senja semakin memanjang, membias di atas sungai Elbe yang meliuk-liuk membelah Dresden.


Bersambung...

Friday, July 15, 2016

Empat hari untuk tiga kota: Berlin

Seminggu yang lalu, dengan spontan, sehari setelah memasukkan skripsi ke koordinator program saya di Leiden saya berangkat untuk liburan ke tiga kota di sebelah timur Belanda: Berlin, Dresden dan Praha. Idenya benar-benar spontan: setelah stress dengan urusan skripsi dan penat memikirkan masa depan, saya membutuhkan sebuah weekend runaway ke tempat asing untuk mencari suasana serta inspirasi baru. Pilihan jatuh ke tiga kota itu karena saya termotivasi oleh tiga hal: sejarahnya, rekomendasi teman dan jarak.

1. Berlin: Ibukota Hipster Eropa; atau dikenal juga sebagai Kota berwajah Timur dan Barat

Ditemani oleh seorang kawan yang belajar di Universitas Wageningen, kami naik Blablacar (mirip dengan jasa mobil travel di Indonesia dimana si pemilik mobil makan mengangkut beberapa orang dengan tujuan yang sama dengannya setelah membuat appointment online) bertarif 28 euro selama 5 setengah jam menuju ke destinasi pertama, ibukota Jerman. Cukup cepat sih sebenarnya durasi perjalanan kami ini. Kami berangkat sekitar pukul 11.00 dari lapangan parkir stasiun Amsterdam Sloterdijk dan kemudian tiba di Westkreuz (distrik sebelah barat kota Berlin) sekitar pukul 17.00. Di perjalanan kami sempat terjebak macet (yang tentunya incomparable dengan arus mudik lebaran di Indonesia) serta berhenti untuk buang air kecil dua kali.

Yay, akhirnya menginjakkan kaki juga di kota Berlin!
Dari stasiun Westkreuz kami naik metro (U-bahn) menuju ke stasiun Alexanderplatz di jantung kota Berlin. Di sana ceritanya kami telah disambut oleh kawan lama saya yang dulunya juga berkuliah di kota Leiden. Setelah cipika-cipiki haha dan hihi, dalam kondisi yang agak pusing karena kecapekan dan kurang tidur selama beberapa hari belakangan (blame it on thesis) ini, saya segera menelan paracetamol dan minum es kopi di Dunkin Donuts serta bersiap untuk berkeliling kota. Alexanderplatz dipenuhi oleh anak-anak muda dengan berbagai gaya. Sebelumnya saya sudah sering mendengar dari teman saya bahwa Berlin ialah kotanya anak muda, atmosfernya amat menyenangkan untuk bersenang-senang. Hal tersebut ternyata benar. Kemana pun mata memandang, beragam hipster dengan fashion mereka sendiri berseliweran dengan cueknya. Konon katanya Berlin ialah ibukotanya anak-anak hipster di Eropa. Hipster-hipster New York yang berkunjung ke Berlin pun mengakui iklim kreatif di kota ini yang mereka rasa cukup berani dan out of the box dibandingkan dengan tempat-tempat lainnya.

Alexanderplatz dan Brandenburg Tor

Kami berkeliling pusat kota Berlin dan mengunjungi situs-situs yang wajib lihat di dekatnya (berhubung sebentar lagi matahari akan tenggelam) seperti Brandenburg Tor, Murdered Jewish Memorial dan Reichstag (parlemen Jerman). Malam itu di tutup dengan makan-makanan Indonesia di sebuah restoran bernama Nusantara. Sepanjang pengamatan saya akan Berlin, kota ini walaupun terlihat amat modern sebenarnya masih menyisakan banyak sekali jejak dari masa lalu. Berlin dulunya terletak di bahagian Jerman Timur dimana komunisme yang menjadi doktrin utamanya. Ada sisi dari Berlin yang terlihat seperti "negara dunia ketiga", namun dalam radius beberapa meter dari lokasi tersebut sebuah mall megah dengan bau khas kapitalisme berdiri. Pemerintah Jerman hingga hari ini masih menggelontorkan dana subsidi dari daerah bahagian barat Jerman yang kaya dan (dari dulu memang) liberal ke daerah-daerah bekas rezim komunis di timur, termasuk salah satunya ya Berlin ini. Berlin dipilih menjadi ibukota agar dapat menyeimbangkan Jerman yang baru saja bersatu itu, memperkuat wacana persatuan serta kesatuan di negeri yang sempat koyak oleh perbedaan ideologi politik. Berlin menurut saya adalah sebuah paradoks yang mengingatkan kita akan modernitas dan masa lalu, tidak hanya bersanding sebelah-menyebelah namun juga saling rajut-terajut menjadi satu.

Keesokan harinya kami hanya punya waktu hingga jam 2 siang untuk mengunjungi tempat-tempat lain di Berlin. Memang rasanya singkat sekali, soalnya kami harus mengejar bus menuju ke destinasi berikutnya: Dresden. Kami keluar dari apartemen kawan yang kami inapi sekitar jam setengah 9 pagi dan langsung menuju ke situs Berliner Mauer (Berlin Wall) di dekat stasiun Nordbahnhof. Saya lumayan terkejut dengan daerah tempat dinding historis tersebut berada. Daerah ini dipenuhi oleh banyak sekali anak hipster yang, mohon maaf, gayanya lebih mirip hippies, dan juga homeless. Ada banyak peminta-peminta serta pecahan botol bir dimana-mana. Selain itu daerah ini juga cukup kotor. Ada banyak bangunan yang masih dalam kontruksi. Pokoknya benar-benar seperti tidak sedang berada di negara Eropa Barat. Sepintas kekacau-balauannya mengingatkan saya akan stasiun keretapi di Bucharest.

Berlin Wall yang terkenal itu
Kami tidak lama berada di Berliner Mauer. Setelah mengambil beberapa foto dan berjalan di sekitaran dinding yang sekarang tidak punya arti signifikan lagi itu kami segera melanjutkan perjalan ke Museums Insel alias Museum Island di tengah kota. Museum Insel merupakan sebuah komplek museum di tengah-ten gah Sungai Spree yang membelah Berlin dengan gedung-gedung beraksitektur klasik yang amat indah. Sayang sekali karena keterbatasan waktu kami tidak sempat untuk masuk ke dalam salah satu museumnya. Benda-benda yang dipamerkan di museum-museum tersebut berasal dari peradaban-peradaban kuno seperti koleksi Bizantium di Museum Bode, koleksi peradaban Islam di Pergamom dan koleksi Mesir Kuno di Neus Museum. Beberapa koleksi andalan mereka contohnya seperti patung wajah Nefertiti dan pintu gerbang Ishtar dari Babiloni. Saya bertekad untuk kembali lagi suatu hari nanti dan menjelajahi museum-museum di sini satu per satu. Situs terakhir yang kami kunjungi di Berlin ialah tentu saja the iconic Berliner Dom. Puas berpose dengan gaya-gayay yang sok manis dan kemudian berubah menjadi tak lazim, kami pun bergegas menuju terminal bus ZOB di pinggiran kota bus untuk menuju ke kota kedua di trip singkat ini: Dresden.

Bersambung...                                

Tuesday, June 7, 2016

Ramadan tahun ini, Ali sudah tak lagi ikut berbuka

Ali, Ali, jumat kemarin ia dijemput
saat pintu rumahnya diketuk, ia sungguh terlihat takut
"I am the greatest!" terlintas ucapannya dahulu saat sudah di depan mata si Maut
serpihan kenangan berlalu-lalang dalam pikiran, saling sahut-menyahut
Ali sedih, ia tengok anak-anak dan cucu-cucunya yang duduk di samping tak dapat membuka mulut
Si Maut mendekat, ia berbisik halus kepada Ali:
"You know what, i'll take you to a beautiful place,
where you can be young again, you can be handsome again, you can be fast again
a place where you don't have to feel lonely, and sad and insecure
a place nearby the Greatest of All, where you can be a butterfly and fly around His beautiful garden"
Ali tertawa, kepalanya lalu manggut-manggut
ia kini sudah tak takut, malah begitu takjub
dari balik jubah si Maut ia melihat taman surga yang mendecak salut
karena sebentar lagi ada kupu-kupu cantik yang 'kan masuk menghirup
nektar Ar-Rahman yang lalu larut
sampai ke tenggorokan, saat ruh Ali kemudian dicabut

Rest in peace, Muhammad Ali

Leiden, 7 Juni 2016

Monday, May 30, 2016

Tentang Selera

Menulis itu bagi saya merupakan kegiatan yang menyenangkan. Membuat tulisan itu seperti menciptakan sebuah makanan baru. Ada resep yang harus diikuti sebagai panduan, namun yang paling penting ialah citarasa berupa improvisasi terhadap bumbu-bumbu mauopun teknik memasaknya agar makanan yang kita buat dapat menyajikan keunikan rasanya sendiri.

Menulis, sebagaimana memasak, bisa menjadi tidak menyenangkan apabila kita dituntut untuk membuat makanan yang tidak sesuai dengan citarasa kita. Kita bisa saja membuat makanan tersebut, namun hati kita tak akan pernah puas karena rasanya ada yang mengganjal. Selera manusia memang berbeda-beda dari satu orang ke orang lainnya. Itulah mengapa di Barat ini, gastronomi mendapatkan tempat yang istimewa tidak hanya di dalam dunia kuliner namun juga keilmuan. Selera itu mahal oleh sebab makanan tak lagi hanya dilihat sebagai sekedar obyek untuk memenuhi kebutuhan primer manusia melainkan sebagai kebutuhan tersier.

Saat ini saya belajar European and International Human Rights Law di Fakultas Hukum Universitas Leiden. Program ini baru berjalan dua tahun. Saya angkatan yang kedua. Di sini, tulis-menulis adalah hal yang biasa. Seluruh tugas saya berupa esai. Ujian saya pun sifatnya tertulis. Seharusnya dengan banyaknya tuntutan untuk menulis itu, kemampuan menulis saya pun mestinya semakin terlatih. Sayangnya, pada kenyataannya itu tidak terjadi. Adanya benturan idealisme antara apa yang dikehendaki oleh program ini dengan apa yang saya bawa dari negara dunia ketiga bernama Indonesia itu amatlah berbeda. Di sini, di ruang kelas yang kecil kami memperdebatkan dosa-dosa dari negara-negara di luar sana yang tidak mau tunduk pada rambu-rambu Hak Azasi Manusia. Di ruang kelas yang sama, saat berdebat itu, saya melihat kebutaan yang jelas dari teman-teman maupun teman-teman sekelas saya terhadap pengertian akan apa itu syariah, agama, budaya dan tradisi. Harap maklum, agama dan budaya merupakan dua musuh utama HAM yang terbit dari cara pandang Barat ini. Berusaha untuk menjelaskan mengenai mengenakan jilbab itu esensial bagi kaum Muslim atau mengapa hukum adat itu penting bagi golongan suku-suku pedalaman di Afrika Selatan sama susahnya dengan memaksa seorang koki internasional di sebuah hotel berbintang lima di Monaco untuk membuat nasi penyetan dengan rasa yang persis sama seperti Penyetan Ayam Pak Kobis di samping pos ronda UNY di Jogja.

Saya setuju dengan ide-ide HAM. Menurut saya HAM itu esensial. Akan tetapi mengakui keberadaan HAM bagi saya tidak sama dengan kemudian menutup mata dari eksistensi agama dan budaya dalam masyarakat setempat. Yang membuat saya sedih itu adalah kenyataan bahwa setiap kali kami berdebat di kelas, semua itu kemudian hanya akan berakhir di situ saja. Dosen saya yang seorang feminis garis keras hanya akan mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda untuk menghormati argumen saya di kelas saat saya menjelaskan panjang lebar tentang hukum Islam dan praktik local wisdom di Indonesia. Sekelarnya diskusi pun ia akan tetap bersikukuh memandang bahwa praktik hukum Islam itu merendahkan wanita dan praktik adat hanyalah cerminan dari keterbelakangan manusia di belahan bumi lainnya. Itulah kemudian yang membuat saya kesusahan untuk menulis bagi mereka. Karena saya tak dapat menciptakan narasi yang dapat memenuhi harapan mereka. Narasi yang saya ciptakan hanya akan memenuhi selera saya saja.

Kultur masyarakat Eropa yang sedikit-dikit membawa masalah ke pengadilan juga bertentangan dengan kenyataan sehari-hari pada akar rumput di negara dunia ketiga. Indonesia yang masih berbenah dengan sistem hukumnya jelas tak dapat menampung seluruh permasalahan sehari-hari di pengadilan. Kasus mengenai seorang pekerja Muslim asal Maroko yang menolak untuk menyajikan anggur kepada pelanggannya dapat menjadi isu hukum di Belanda. Di Indonesia, beda lagi perspektifnya. Ada masalah-masalah yang memang seharusnya tak perlu ditempuhkan jalur hukum karena hanya akan memakan waktu, biaya dan energi. "Kalah jadi abu, menang jadi arang" demikian pesan dosen saya di UGM dulu saat menjelaskan fungsi pengadilan sebagai ultimum remidium. Sayangnya, di Barat ini (termasuk melalui ajaran dari dosen saya di Leiden) kehadiran pengadilan HAM regional merupakan salah satu indikator terciptanya kepastian hukum dan penjamin keadilan. Itulah sebabnya berulang kali selalu tercetus di kelas saya selama setahun ini bahwa European human rights regime is the most advanced system in the world, dan regional Asia yang belum memiliki konvensi maupun komite HAM-nya sendiri dianggap sebagai yang paling terbelakang.

Menulis, sebagaimana memasak, tidak hanya membutuhkan ketrampilan namun juga inovasi. Yang saya rasakan selama berada di dalam pelatihan "memasak" ini justru sebaliknya: saya tak dapat berinovasi karena sudut pandang yang terlalu Eropa-sentris dalam memahami HAM. Ini sungguh amat menyedihkan. Dunia timur terasa begitu jauh dan asing dari bangku tempat saya duduk. Kalaupun kemudian dunia timur disuguhkan ke atas meja kuliah di hadapan kami, nasibnya hanya akan berakhir seperti kelinci laboratorium yang kemudian dibedah-bedah tanpa perasaan. Semuanya terasa begitu mekanik. Proses ini disinonimkan dengan kata "intelektual" karena munculnya dari sebuah lembaga akademik. Bagi saya ini sungguh memprihatinkan karena intelektualitas tersebut sendiri diwarnai dengan banyak subyektifitas yang lahir karena ketiadaan rasa maupun ketidakmampuan untuk memahami diversitas dunia.

Ah, sudah cukuplah tulisan yang tidak jelas ini. Semoga suatu saat nanti saya bisa merasakan manfaat dari konflik batin yang saya alami hari ini. Semoga.

Selamat hari senin,
Leiden
30 Mei 2016


Saturday, May 28, 2016

Alice Through the Looking Glass: Perempuan dan Dunia di Age of Reason

Kemarin sore saya secara impulsif memutuskan untuk pergi ke bioskop di Den Haag demi menonton film Alice Through the Looking Glass. Film ini merupakan sekuel dari Alice in Wonderland dan diadaptasi dari buku anak-anak karangan Lewis Caroll. Saya yakin sebagian besar pembaca pasti kenal cerita Alice atau minimal pernah mendengar tentang buku ini. Kisah Alice in Wonderland sudah sedemikian tercangkoknya di karya literasi, musik, fashion, sinematika maupun okultisme sehingga nama Alice dan petualangannya itu sendiri telah menjadi semacam mitos di dunia fiksi.

Film Alice Through the Looking Glass dimulai dengan adegan kejar-kejaran antara bajak laut Cina dengan kapal "De Wonder" yang dikapiteni oleh Alice di Selat Malaka. Berlatar di tahun 1874 ceritanya Alice yang mewarisi kapal De Wonder dari ayahnya baru saja menyelesaikan ekspedisinya mengeksplorasi interior Cina untuk mendirikan hubungan perdagangan antara firma keluarga Ascot dengan dunia timur. Cerita terus bergulir dengan kembalinya Alice ke Inggris, kekecewaan yang ia terima karena mimpi besarnya untuk membina hubungan dagang antara Barat dan Timur harus kandas karena hutang-hutang keluarganya serta tanggapan miring tentang perempuan dan pekerjaan. Alice kembali ke Wonderland secara tiba-tiba melalui sebuah cermin dan dihadapkan pada sebuah misi baru: mengarungi waktu untuk merubah masa lalu demi menyelamatkan keluarga Mad Hatter dari kematian. Akan tetapi pada akhirnya ia mendapatkan sebuah pelajaran berharga setelah hampir kehilangan seluruh sahabatnya dan menggiring Wonderland kepada kehancuran: masa lalu takkan pernah bisa dirubah.

Dengan mengambil latar di Inggris pada era Victoria dan puncak Revolusi Industri, film ini sebenarnya menyimpan sebuah pesan yang menyegarkan. Pesan dari sebuah abad yang menentukan perkembangan zaman hingga hari ini. The Age of Reason alias Abad Rasionalitas, dengan nama itulah dekade 1800-an akhir dikenal. Di dalam pidatonya di Rijksmuseum pada bulan November 2015 silam, Ayu Utami secara panjang lebar menceritakan ulang gairah penemuan dan eksplorasi pengetahuan untuk memenuhi kehausan akan rasa penasaran Barat terhadap dunia Timur di abad ini (diwakili dengan pakaian Cina yang dikenakan oleh Alice di sepanjang film, konon ia pernah berhadapan langsung dengan kaisar Cina mengenakan baju tersebut). Pendirian Rijksmuseum, Taman Botani Bogor, Batavian Society of Arts, semuanya terjadi di dalam kurun waktu yang sama. Di Inggris sendiri ada gairah yang meluap-luap seiring ditemukannya mesin uap. Teknologi baru lahir, beragam penemuan perkakas untuk memudahkan kehidupan orang banyak juga muncul di zaman ini, termasuk listrik dan bola lampu. Pemikiran kritis terhadap dogma-dogma lama serta munculnya rasa kemanusiaan yang pada akhirnya berimbas pada sebuah peristiwa monumental dalam sejarah umat manusia pun berlangsung di tengah spirit Age of Reason: penghapusan perbudakan oleh Inggris dan Prancis yang kemudian diikuti oleh negara-negara kolonialis lainnya. Dekade 1800-an akhir adalah periode yang menyuburkan jiwa fantasi para petualang (pengarang besar Jules Verne pun lahir dan berkarya di era ini).

Alice tumbuh dan berkembang menyaksikan semua perubahan tersebut. Ia sudah bukan gadis cilik lagi, namun rasa penasarannya (Curious, so curious!) ingin menemukan hal-hal baru dan menyelamatkan teman-temannya belum hilang. Sayangnya semangat Alice yang begitu menggelora tersebut justru mendapatkan perlawanan dari golongan paling menentukan di era itu: kaum pria kelas atas yang menguasai politik dan perdagangan. Perempuan dilihat tidak layak untuk mengelola aset keluarga, apalagi pergi berlayar ke Timur. Perempuan harusnya duduk manis di rumah, kalaupun ingin bekerja maka menjadi clerk atau juru tulis merupakan pekerjaan yang paling ideal di era Victoria. Alice mewakili semangat pembaruan menentang ide tersebut dan tetap berjuang untuk mewujudkan cita-citanya sendiri.

Waktu menjadi tema sentra di film ini. Apa yang sudah terjadi takkan bisa diulang atau bahkan dirubah lagi. Akan tetapi waktu bisa menjadi pelajaran berharga untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Itulah pesan dari film ini. The Age of Reason tidak tercipta untuk merubah masa lalu, melainkan untuk merubah masa depan umat manusia. The Age of Reason yang dipenuhi oleh gairah inovasi itu menjadi era yang menstimulus manusia untuk berpikir tidak hanya tentang hari ini, akan tetapi juga tentang sebuah masa depan yang tidak jauh lagi. Perempuan yang jadi korban patriarki di masa lalu kini memiliki ruang yang lebih terbuka dan dinamis untuk dapat berkarya. Alice tidak membawa semangat untuk merubah apa yang telah terjadi, namun ia datang membawa harapan serta kesempatan demi masa depan yang lebih baik lagi.

Oh ya, satu lagi. Banyak orang yang mungkin akan kecewa dengan film ini karena benar-benar keluar dari pakem cerita aslinya di dalam buku. Well, what can you expect from movies based on books anyway. Tapi sebenarnya, masih berhubungan dengan topik Age of Reason di atas, saya menginterpretasi "through the looking glass" sebagai sebuah satir untuk zaman itu: berhenti melihat hanya refleksi atau bayangan anda sendiri, melainkan see through it. Inggris yang muncul sebagai superpower saat itu merasa bahwa mereka lah pusat dunia. Inggris selalu berkaca kepada diri mereka sendiri, tanpa memandang peradaban dari sisi dunia yang lain. Alice berhasil keluar dari narsisisme tersebut dan bergerak maju; ia menembus cermin dan melihat dunia lain di seberang sana. Ia mendobrak golongan elite mapan dengan pemikirannya yang telah maju melampaui zamannya sendiri, sebab ia telah melihat dunia.

Alice has seen the world, and the wonderland too :)

Leiden,
27 Mei 2016 

Sunday, May 15, 2016

And the winner is... Leidsche 1922!

Sabtu 14 Mei 2016 kemarin merupakan hari yang sangat istimewa.


Band keroncong Leidsche 1922 yang tampil perdana di acara ONEIndonesia PPIRotterdam berhasil meraih juara 1! Sebenarnya tak usah heran sih, selain karena beranggotakan warga-warga kota Leiden yang luarbiasa dan memiliki karakternya masing-masing, band kami ini juga mengangkat dua lagu unik yang mungkin tidak terpikirkan oleh band-band lainnya: Kopral Jono dan Keroncong Kemayoran. Band-band yang berpartisipasi dari kota-kota lain kebanyakan menampilkan lagu berbahasa Inggris dan bergenre Barat (jazz, rock). Nggak ada yang salah dengan itu, namun karena temanya adalah mengenai Indonesia jadi agak "wagu" aja jika yang diketengahkan justru gaya bermusik yang non-Indonesia (meskipun keroncong itu sendiri aslinya musik Portugis).

Band Leidsche 1922 istimewa karena tidak hanya beranggotakan mahasiswa saja, melainkan juga warga Indonesia yang telah lama menetap di Belanda. Ada kang Deni, mas Tio, teh Meira dan mbak Retno yang memperkaya tim ini. Leidsche 1922 memperkuat jalinan kekeluargaan yang sudah ada antara kami sebagai pelajar yang sifatnya menetap sementara dengan mereka, senior-senior yang mencari penghidupannya di negeri kincir angin ini.


Yang lebih serunya lagi, penonton juga kelihatan sekali hanyut dalam suasana. Beberapa orang teman saya dari PPI Belanda maupun kota-kota lainnya serta rekanan penyiar Radio PPI Belanda tak henti-hentinya meneriakkan "Louie Louie!" dari tempat duduk mereka. Lumayan berisik sih, namun justru mereka lah yang menghidupkan suasana.


Terima kasih teman-teman semua. Di tengah kehidupan akademik yang deadline-nya semakin dekat ini, kalian telah memperkaya warna-warni kehidupan kami di negeri Belanda :)

Saturday, May 7, 2016

Untuk kakak kami, Martir Irawan


Di bulan Mei, di bulan Bunda Maria yang Terberkati, aku merayakan cerita tentang dirimu.

Dalam rahim Pieterkerk, bersama kisah yang indah dari bapak Walikota dan senandung Nina Bobo dari anak yatim yang ayahnya lahir di Hindia engkau dihidupkan kembali. Seperti Yesus yang bangkit dari kuburnya lalu bermi'raj ke langit, kehidupanmu yang sudah tanpa jasad dihadirkan ruhnya dan kami takhtakan kembali di muka bumi.

Di lantai gereja, ada genangan darah. Menetes kental dan perlahan. Itu darahmu. Darah yang mengucur dari dahimu, kakakku, tidaklah percuma. Itu luka, yang menganga lebar, adalah stigmata, yang tak dapat menebus dosa, namun dapat membayar harga untuk sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan dari negeri yang menjajah rakyatmu.

Kakakku Irawan yang belum sempat melihat parade kebebasan. Yang belum sempat menghirup bau sawah dan rawa lagi. Yang namanya terlupakan di kampung halamannya sendiri. Tidurlah yang tenang, Hamzah dari tepian Rijn. Singa syahid tanpa modal senjata cakra maupun pedang zulfikar. Sungguh, engkau tak butuh relik gigi tanggal yang dapat disimpan dan dikuilkan dalam museum biar untuk dikenang. Yang direkam-rekam terkadang penuh dengan kebohongan. Padahal hatimu yang muda itu jujur dan kaya akan ketulusan. Sini kakak, sini. Biar kurekam dirimu lekat-lekat di dalam sanubariku saja.

Irawan Soejono, with the nickname Harry of the Liberation (the Liberation was an illegal paper), helped in every way he could by getting stencil machines, transporting papers and so on. On the 13th of January 1945 he was captured by the Germans on the Boommarkt in Leiden. A German soldier from the Wehrmacht shot him through the head. -Mayor of Leiden

Nina bobo... Ooh Nina bobo... kalau tidak bobo digigit nyamuk

Leiden,
5 Mei 2016

Sunday, April 17, 2016

Meneruskan Tradisi? Meneruskan dan Mengombinasi Tradisi!

Apa tujuan kamu sekolah di luar negeri?

Apakah untuk terus-terusan mengurung diri di dalam perpustakaan? Apakah untuk mengayuh sepeda sambil membawa beban atas tugas-tugas kuliah yang menumpuk? Apakah untuk terus-terusan mengeluh karena suhu udara yang tak kunjung hangat?
Atau sesimpel hanya untuk terus-terusan bermain, berjalan-jalan ke berbagai tempat dan belanja di sana-sini?


Ramainya antrian masuk ke Museum Bronbeek
Minggu tanggal 17 April 2016, tepatnya sehari setelah ulang tahun saya, bersama dengan grup tari Kuwung-Kuwung asuhan Bu Clara Brakel kami mementaskan empat buah tari klasik Jawa di hadapan pengunjung Museum Bronbeek, Arnhem. Museum Bronbeek, sebagaimana yang pernah saya singgung di beberapa tulisan lalu, merupakan museum yang juga merangkap sebagai panti jompo bagi soldaten KNIL. Museum ini istimewa karena mengangkat tema aktifitas militer tentara Kerajaan Belanda di Hindia dahulu kala. Teman-teman juga bisa melihat banyak artefak-artefak seperti meriam-meriam Aceh, keris-keris Jawa dan senjata-senjata tradisional lainnya yang merupakan rampasan perang Belanda saat berhadapan dengan khalayak pribumi.

Ada kebahagiaan tersendiri saat dapat mementaskan tarian tradisional Indonesia di luar negeri. Apalagi pentasnya di Belanda, negeri yang pernah menjajah kampung halaman kita. Nah, pementasan hari ini bahkan berlokasi di museum KNIL: indahnya gerakan tarian yang berpadu dengan dentingan irama gamelan berhasil membuat banyak eks-pasukan KNIL serta opa-opa dan oma-oma Indisch (orang Belanda totok yang dulunya lahir dan besar di Nederlandsch-Indie) hanyut, terombang-ambing oleh kenangan akan "het verre verre land" di seberang samudera sana. Ya, ekspresi wajah memang tak bisa berbohong meskipun kebisuan penuh di udara.


Dansgroep Kuwung-Kuwung in action!

Menampilkan kesenian di muka publik Belanda juga bukan hal baru di kalangan mahasiswa asal Indonesia. Sebagaimana disebutkan di dalam buku "Di Negeri Penjajah" tulisan Harry Poeze halaman 181, mahasiswa-mahasiswa pribumi di kota Leiden sudah sering sekali meramaikan negara hujan dan angin ini dengan rupa-rupa tradisi kesenian nusantara. Pada tahun 1923 R. S. Hardjodiringgo serta Noto Soeroto yang juga merupakan pendiri Perhimpoenan Hindia (PH) pernah menampilkan tarian Jawa serta memainkan wayang hingga sejauh kota Paris. Memang waktu itu aktifitas kebudayaan banyak diselenggarakan oleh anggota-anggota PH dengan Noto Soeroto sebagai pentolan utamanya. Kegiatan seni merupakan salah satu senjata utama PH untuk membantu meningkatkan pemahaman akan budaya Timur terhadap masyarakat Barat. (De oostenwind waait naar het westen: Indische componisten, Indische composities, 1898-1945 oleh Henk Mak van Dijk, halaman 39).

Di tahun selanjutnya dengan dipandu oleh Poerbatjacaraka yang multitalenta, Noto Soeroto bersama dengan Soerjowinoto dan Wirjono melakukan perjalanan keliling Belanda menyajikan tari-tarian Jawa guna mengumpulkan dana untuk mendirikan lembaga Indisch Bronbeek (sumbernya masih dari buku Harry Poeze di halaman yang sama). Pada saat itu Poerbatjaraka merupakan anggota aktif dari Perhimpoenan Indonesia (PI) yang tidak lain adalah perubahan dari nama PH. FYI, lembaga Indisch Bronbeek inilah yang kelak di kemudian hari menjadi cikal-bakal Museum Bronbeek (tempat grup kami tampil tadi) dan juga "Kumpulan Bronbeek", semacam tempat kongkow bagi opa-oma Indisch yang masih belum dapat move on dari kenangan masa lalu. What a coincidence, sungguh sebuah kenyataan yang tidak hanya mengejutkan tetapi juga menyenangkan karena saya dapat menari di sebuah lembaga yang benihnya dulu turut disemai pula lewat aksi kebudayaan para pendahulu saya, mahasiswa Leiden anggota Perhimpoenan Indonesia
Noto Soeroto dan sepupunya, Ki Hajar Dewantara saat menari di Den Haag, Maret 1916
sumber: gatholotjo
Saat PH berubah nama menjadi PI, memang kegiatan kebudayaan sudah tak lagi menjadi sesignifikan saat Noto Soeroto masih menjadi pengurus. PI lebih berfokus pada kegiatan politik dengan menghasilkan tulisan-tulisan yang bernada kecaman kepada pemerintah kolonial. Kemerdekaan harga mati, tak pakai kolaborasi-kolaborasian, begitu kira-kira tegasnya. Nah, di abad ke-21 ini saat Indonesia telah terbebas dari cengkraman penjajahan, mahasiswa-mahasiswanya kembali menghidupkan semangat untuk menjembatani antara Timur dan Barat lewat kesenian. Apa yang dahulu diimpi-impikan oleh para aktifis PH ("geheel volgens het gedachte goed van de IV over wederzijds begrip en waardering wilden zij met deze artikelen oosterse en westerse cultuur nader tot elkaar brengen") bisa terwujud melalui sebuah pentas seni yang dieksekusi tidak hanya oleh orang pribumi namun juga oleh warganegara Belanda yang mencintai luhurnya kebudayaan tanah air. Hal yang menakjubkan ialah bahwa apa yang dicita-citakan oleh PH dan PI ternyata bisa terwujud melalui aktifitas mahasiswa Indonesia di Leiden hari ini.

Ya, pada kenyataannya ternyata kami tidak hanya telah meneruskan tradisi. Hari ini, pentas kami di Museum Bronbeek adalah saksi bahwa tradisi tersebut tidak hanya terus bestari di tangan kami, namun kami juga berhasil mengombinasikan apa yang dikehendaki oleh leluhur-leluhur kami para pendahulu di PH dan PI :)

Salam dari Leiden yang dingin!
12:36