Wednesday, February 27, 2013

Heritage Camp 2013: Pada Mulanya...

Saat mendaftar grant ke American Councils sebagai seorang YES Alumni, terus terang saya tidak punya pikiran apa-apa selain bahwa acara ini nantinya akan berlangsung amat sederhana di suatu tempat di Yogyakarta. Bekerja sama dengan adik saya tersayang, nan sabar lagi pengertian; Fitria Sudirman, kami mengumpulkan bahan dan meramu bersama proposal ini. Agak ribet juga, apalagi pihak American Councils amat strict dan menuntut banyak sekali detail. Kira-kira sebulan lebih kami menyusun proposal ini dengan penuh rasa was-was sebelum akhirnya mengirimkannya ke American Councils pada Maret 2012.
Peserta Heritage Camp 2013 angkatan pertama. Tidak hanya mereka yang mendapat banyak materi bermanfaat mengenai pusaka dan konservasi kreatif, namun kami pun juga mengambil banyak sekali inspirasi dari peserta-peserta nan hebat ini :)

Waktu pun berjalan. Tidak ada kabar yang berarti, hingga pada suatu hari di pertengahan 2012 saya mendengar bahwa proposal Waskito dari chapter Yogyakarta tentang interfaith camp diterima oleh American Councils. Saat itu tentu saja saya amat senang, sekaligus juga terkejut. Sudah empat bulan saya menunggu dan tidak ada email satu pun dari American Councils, lalu mendadak proposal Waskito diterima. Ada yang salahkah dengan proposal saya? Jika proposalnya memang tidak diterima, mengapa tidak ada pemberitahuan sama sekali? Momen bahagia itu tidak lama kemudian menuntun saya menjadi galau dan sedih. Namun berhubung momennya bertepatan dengan persiapan KKN UGM ke Selayar serta memang pada dasarnya saya tidak mau ambil pusing dengan hal-hal negatif yang dapat membebani pikiran, maka saat itu juga saya berusaha melupakan grant tersebut. Move on!

Suatu sore di desa Padang, kec. Bontoharu, Kepulauan Selayar...
Sehabis mengajar anak-anak SD di posyandu desa, saya kembali ke pondokan KKN. Tidak ada siapa-siapa di rumah panggung itu. Sepertinya rekan-rekan saya yang lain belum kembali. Saya capek dan haus sekali, saat itu memang bertepatan pula dengan bulan puasa. Saya jatuh terduduk di atas lantai kayu tua rumah pak kades. Konon rumah itu sudah ada semenjak desa Padang ditemukan oleh seorang pedagang Cina dari Gowa, nenek moyang pak kades. Sambil bersandar di Benteng Polong alias tiang pusat rumah nan dianggap keramat, saya membuka hape dan menelusuri email. Tiba-tiba, ntah darimana datangnya perasaan itu, saya dipenuhi emosi mengingat kembali bagaimana proposal yang telah saya dan Fit susun dengan susah payah tidak mendapat respon sama sekali. Dengan kesalnya saya mengirim email ke American Councils menyatakan kekecewaan karena ketiadaan pengumuman sama sekali; at least jika memang ditolak kirimilah kami pemberitahuan!

Saat malam tiba, saya duduk-duduk di teras rumah panggung sambil memandangi laut. Bunyi petasan anak-anak desa dari arah masjid terdengar bersahut-sahutan. Malam itu tidak ada undangan buka puasa bersama oleh warga, jadi kami hanya makan ikan hasil kreasi sendiri. Sambil menikmati angin dan mengamati bintang-gemintang di langit, tiba-tiba hape saya berbunyi. Ada email masuk. Tidak berapa lama setelah membaca email tersebut hati saya melonjak kegirangan. American Councils memohon maaf karena sesuatu dan lain hal terlambat menghubungi saya perihal diterimanya proposal untuk pembuatan camp konservasi kreatif dengan nama "Saving The Heritage Camp". Kekesalan saya hilang, berganti semangat yang meluap-luap. Segera saya hubungi rekanan Lontara Project lainnya melalui Whatsapp. Meskipun grant ini 3 bulan lebih lambat dari email Waskito, tekad saya untuk tetap melaksanakan acara ini tidaklah surut.

Oktober 2012.
Saya bertemu dengan Anggita Paramesti setelah KKN selesai. Ia merupakan sahabat saya selama 5 tahun belakangan ini yang juga merupakan seorang YES Alumni. Setelah sebelumnya mengontak dia lewat sms agar mau menjadi project manager acara ini, kami bertemu pertama kalinya di kantor saya, Office of International Affairs UGM untuk membahas mekanismenya. Saya beruntung mempunyai sahabat serta mempercayakan acara ini kepada orang seperti Gita sebagai pemimpin proyeknya. Sifatnya yang dominan memang terkadang suka membuat saya bete, namun saya paham betul karakter sahabat saya ini. Gita adalah seorang pekerja keras yang tidak akan meninggalkan tanggung jawabnya. Anda boleh meragukan dia, tapi Gita akan selalu kembali dan membawa kejutan di luar dugaan orang-orang. Setelah mendaulat mas Abe, pacarnya yang juga adalah rekan kerja saya di kantor, sebagai koordinator acara, maka mulailah detail acara kami rumuskan. Panitia lainnya pun mulai berdatangan melalui link-link kami, dan meskipun jumlah kami sedikit, itu tidak menjadi masalah.
Been Bestfriends for Five Freaking Years Now!!!

Sempat ada masa-masa ketika SC dari Lontara Project yang belum kenal dengan "peri-peri oprah" Gita di Jogja merasa tidak dilibatkan, namun seiring dengan berjalannya proses selama 4 bulan itu kami satu sama lain menjadi saling memahami karakter masing-masing. Tidak mudah memang hingga sebuah camp dengan tema "konservasi kreatif oleh pemuda" ini  dapat terlaksana. Gonta-ganti nama pembicara hingga jatuh-bangun usaha pencarian dana menghiasi perjalanan kami. Tetapi kami semua bertahan, karena kami saling percaya.

Akhirnya, hari ini, hari kedua pasca Heritage Camp 2013, saya masih dipenuhi dengan perasaan haru sekaligus bangga dengan teman-teman panitia saya ini. Hasil jerih-payah kami terbayar sudah. Kami mendapat 25 orang peserta nan luarbiasa, benar-benar di luar dugaan, dari berbagai pelosok nusantara. Acara berjalan dengan mulus (well, walau kami tidak sempat berkunjung ke Candi Ijo) dan para pembicara pun tidak henti-hentinya melontarkan pujian atas "usaha nekat" kami di camp ini. Terima kasih kawan-kawan... Terima kasih Tuhan!

Tulisan ini saya persembahkan untuk Fitria Sudirman, salah satu aktor paling berjasa di balik penerimaan grant. Makasih banyak ya adikku, meskipun dirimu tidak bisa hadir bersama kami akan tetapi tanpa usahamu camp ini tidak akan mungkin dapat terwujud. Yang sabar ya dear, I'm with you in every prayer. September ini pasti kita berempat bisa kumpul lagi di tempat yang lebih seru, promise. Insya Allah ya dearest :)


Monday, February 11, 2013

Disambut Prabu Anak Wungsu

Masih tentang kembali ke Bali.

Ternyata bukan hanya fisik saya yang ikut kembali ke sana. Spiritually, saya disambut oleh "sesuatu" yang tidak kasat mata, sesuatu dari masa lampau yang sudah terurai dalam bentuk energi. Selama tinggal di Bali 10 tahun yang lalu, ada tiga situs yang belum sempat saya kunjungi. Ketiga situs tersebut memainkan peran yang penting sebagai jantung peradaban dan sejarah kebudayaan di Pulau Dewata. Yang pertama ialah Trunyan, sebuah desa tempat penduduk Bali Aga atau Bali asli (bukan orang-orang Bali yang tepengaruh oleh Majapahit). Yang kedua ialah Pura Besakih, pura terbesar di Bali sekaligus sentra dari ajaran Hindu Dharma. Pada beberapa periode sekali di tempat ini diadakan sembahyangan besar, dimana seluruh penganut Hindu Dharma dari berbagai penjuru datang untuk merayakannya. Nah, yang terakhir ialah sebuah situs suci, petilasan sekaligus "mausoleum" bagi seorang raja Bali pada masa keemasannya. Situs Candi Gunung Kawi di Tamapk Siring, Ubud.
Petirtaan Puri Gunung Kawi, Sebatu. Konon air suci ini diturunkan oleh Dewa Indra untuk menghidupkan kembali pasukan manusia yang diserang oleh seorang raksasa jahat bernama Mayadenawa.
Anak Wungsu ialah seorang bungsu dari tiga orang bersaudara (yang seluruhnya pria). Kakaknya yang sulung bernama Airlangga, kelak menikah dengan putri raja Mataram Kuno (Jawa Timur) Dharmawangsa Tenguh Anantawikrama. Sosok Airlangga cukup terkenal dalam sejarah tanah air. Pada masanya kerajaan Mataram Kuno mencapai kemakmuran, kesusateraan berkembang pesat dan ilmu agama pun bestari. Legenda Calonarang dan Mpu Bharada mengambil latar pada era pemerintahannya. Ia juga merupakan penguasa pertama di tanah air yang menggunakan lambang burung garuda (Garudhamukha) sebagai emblem negara. Putra kedua bernama Marakatapangkaja, memerintah raja di Bali hanya sebentar saja. Pasca sang kakak meninggal, Anak Wungsu kemudian naik takhta menjadi penguasa tunggal di Pulau Dewata ini.

Zaman pemerintahan Anak Wungsu dikenang sebagai puncak kegemilangan Wangsa Warmadewa di Bali. Ia menghapuskan pajak bagi rakyatnya, menerbitkan banyak sekali prasasti berisi informasi berharga akan sejarah masa lalu, serta menjayakan ilmu agama. Candi Gunung Kawi yang mulai dibangun oleh sang kakak (Marakatapangkaja) kemudian ia lanjutkan dan sempurnakan. Candi itu awalnya merupakan tempat pertapaan, tapi kemudian berubah menjadi semacam mausoleum untuk menghormati sang kakak dan ibu mereka, Ratu Gunapriya dari kerajaan Mataram Kuno (cicit Mpu Sendok). Anak Wungsu juga dikenang sebagai raja yang memerintah Bali terlama, yaitu selama 28 tahun.

Hari kedua kembali ke Bali, kami berputar-putar di jalanan Ubud mencari cara menuju situs Candi Gunung Kawi. Driver yang kami sewa sudah 3 tahun tinggal di Pulau Dewata ini tapi belum pernah sama sekali mengunjungi tempat yang katanya kurang terlalu populer di kalangan wisatawan asing itu. Gunung Kawi yang ada di benaknya hanyalah Gunung Kawi tempat pesugihan yang ada di Kab. Malang Jawa Timur. Pun, dari sekian banyak orang Bali yang ia tanya, tidak ada satu orang jua yang tahu dimana lokasi situs ini berada. Mereka bahkan bilang kalau baru pertama kali mendengar di Bali ada "candi".

Benarkah? Saya tidak peduli. Saya ingin menziarahi tempat tersebut dan meresapi momen-momen masa lalu yang terekam, menghirup residual energi dari berabad-abad yang lalu saat peradaban Bali pertama kali diciptakan. Hujan turun rintik-rintik, kami mulai cemas. Sudah tiga kali driver kami bolak-balik uptown Ubud, bertanya ke sana - ke mari namun tidak juga menemukan lokasi yang saya damba-dambakan itu. Akhirnya, setelah memasuki kawasan pedalaman sampailah kami di sebuah tempat bernama Puri Gunung Kawi. Tempat ini sebenarnya pura, bukan destinasi yang kami tuju. Saya agak kecewa, tapi apa boleh buat, sudah sejauh ini toh. Lagipula atmosfer pura yang memiliki pelinggih tua dan kolam air suci ini ternyata amat sangat tenang dan damai. Sumpah, berada di dalam tempat sembahyang dengan beragam energi positif yang terejawantahkan di dalamnya membuat hati saya amat sejuk.
Masih di Puri Gunung Kawi, Sebatu. Damai!
Ketika bersiap-siap akan kembali ke Kuta, petugas di Puri Gunung Kawi mengatakan bahwa selain di desa ini juga terdapat situs lain yang bernama Gunung Kawi. Di Bali, ada tiga tempat yang memiliki nama Gunung Kawi. Saya pun terlonjak kaget. Serta merta saya menanyakan apakah dia mengetahui lokasi candi yang kami incar-incar sedari tadi itu? Sang petugas dengan baik hati menerangkan bahwa jaraknya tidak lebih 4 kilometer dari tempat kami berdiri! Maka tanpa ba-bi-bu lagi perjalanan mencari Candi Gunung Kawi pun kami teruskan.

Akhirnya sampailah kami di Candi Gunung Kawi. Setelah menikmati makan siang yang agak telat, kami pun segera menuruni 315 anak tangga menuju tempat dimakamkannya sang raja terbesar dalam sejarah Bali. Sebelum memasuki lokasi candi, kami diminta untuk memercikkan diri dengan tirta atau air suci yang diletakkan dalam kendi tanah liat di depan gerbang. Saya berkeliling tempat itu dengan perasaan takjub. Sebuah sungai bernama Pakrisan mengalir di tengah-tengah situs. Keindahan alam bercampur keindahan seni arsitektur zaman Warmadewa itu seperti menyihir saya. Hujan gerimis tidak masalah, saya benar-benar menikmati pemandangan yang ada dan membayangkan seperti apa kehidupan masa lalu di sini.

Lalu, "sesuatu" di luar akal sehat manusia pun terjadi. Saya dan Waskito naik ke sebuah tempat di atas dinding karang yang membentuk ceruk-ceruk besar seperti gua. Di salah satu ceruk terdapat meja batu yang dibungkus dengan kain berwarna kuning. Saat itulah, tanpa tedeng aling-aling apapun, saya tiba-tiba merasakan ada "sesuatu" yang berada di atas meja batu tersebut. "Sesuatu" itu punya energi yang amat besar, saking besarnya saya sampai tidak dapat untuk mengangkat wajah.
Candi Gunung Kawi, di tepi Sungai Pakrisan.
Setelah itu saya lalu keluar karena kaki ini seakan-akan ada yang menarik untuk berjalan menuju ke pelataran tempat candi-candi yang diukir pada dinding batu karang. Lima deret candi. Tepat ketika berada di depan candi yang paling tengah, telinga kanan saya berdering nyaring (konon, mahluk halus yang berbeda frekuensi dengan manusia ketika mencoba berkomunikasi dengan kita di dimensi ketiga ini akan menimbulkan bunyi nyaring di telinga. Sebenarnya mereka sedang menyampaikan sesuatu, akan tetapi berhubung saya tidak memiliki sixth sense jadi bahasa yang mereka gunakan itu tertangkap seperti bunyi garpu tala nan nyaring di telinga saya). Setelah itu, masih dalam kebingungan dan ketakutan yang saya rasakan, tiba-tiba ada sesuatu yang menyuruh saya (?) untuk berjalan menuju petirtaan di pojok kanan candi dan menyucikan wajah di sana. Setelah itu segala keanehan nan mistik itu selesai.
Saya tidak tahu apa yang saya alami barusan. Yang jelas, menurut penuturan teman yang memiliki sixth sense, penunggu Candi Gunung Kawi yang tiba-tiba mengajak saya berkomunikasi itu ialah sesuatu yang positif, mahluk yang auranya baik. Mungkinkah dia adalah Prabu Anak Wungsu itu sendiri? Saya tidak tahu. Yang jelas, setelah 10 tahun meninggalkan Pulau Dewata, saya kembali disambut melalui kemistikannya.

Monday, February 4, 2013

Kembali ke Bali

"Lul, mungkin salah satu alasan kenapa kamu memiliki ketertarikan yang kuat terhadap budaya, sejarah maupun kesenian itu adalah karena kamu pernah hidup dan tinggal Bali." - ujar seorang kawan saat kami sedang bermobil di daerah Ubud dan ketika saya sedang menjelaskan mengenai peninggalan Majapahit dalam seni griya Bali. Benarkah?
Patung Bima-Ruci di persimpangan Sunset Road, depan Mall Galleria Denpasar
Kenangan yang tersisa akan Bali dari masa kecil saya jelas berbeda dengan apa yang ada dalam persepsi mayoritas umat manusia ketika mendengar tentang pulau ini. Bagi saya Bali lebih dari sekedar tempat wisata, atau lokasi syuting film Julia Robets. Bagi saya Bali bukanlah sebuah titik komersil seperti yang digembong-gembongkan oleh pemernntah negeri ini.
amazing details on Balinese carvings always astonished me!
Sejak 10 tahun lalu pindah dari Pulau Dewata menyeberangi samudera ke tanah leluhur di Tana Daeng, ada sesuatu yang terus melekat di dalam diri saya  Jalinan waktu yang disulam bersama pengalaman saya dengan iklim budaya serta kepercayaan lokal membuat Bali menjadi salah satu tempat ketika fase-fase alam bawah sadar saya tumbuh dengan subur. Yang tumbuh di dalam sana adalah benih-benih ekspresi seni serta kecintaan terhadap artefak budaya. Mantra-mantra kuno yang dinyanyikan dalam Bahasa Kawi itu terus berotasi mengikuti saya, membuat bayangan akan detail-detail arsitektur pura, bunyi gamelan saat piodalan maupun warna-warna cerah pada prada penari Bali bergelayutan di terminal subconcious saya.

Ketika selama seminggu ini saya menginjakkan kembali kaki ke Pulau Dewata, roh-roh masa lalu yang mengendap di dalam sanubari itu seakan berteriak-teriak riang, memukul-mukul gambuh dan menari-nari kecak. Saat akhirnya dapat berkunjung kembali ke Denpasar, kota dimana saya memaknai arti persahabatan dan perpisahan untuk pertama kalinya, hati saya berdebar-debar kencang. SD No. 18 Pemecutan di Banjar Mertha Yasa Jalan Gunung Agung telah berubah, meskipun tidak terlalu signifikan. Kini, sesosok Ganesha dengan lambung tundila-nya yang melambangkan keluasan ilmu pengetahuan dan sesosok Saraswati sebagai lambang kearifan dan kesenian berdiri di lapangan tempat upacara saya dulu. Masa lalu itu menang, mereka mengalahkan saya. Saya takluk dan mencintai masa lalu saya di tempat ini.
sekolahku tercinta :')
Terima kasih, Bali. Karenamu lah kuhargai apa yang diwariskan oleh nenek moyangku dulu dalam beragam ekspresi peradaban yang tersisa hari ini. Tidak hanya Bali, saya pun berhutang budi kepada Alam Minangkabau dan tanah tempat lahirnya matahari, Timor Loro Sae. Memang rencana Tuhan itu Maha-Agung; sebelum saya menemukan ntah itu ke-Mandar-an, ke-Bugis-an, atau ke-Jawa-an di dalam darah saya, mereka telah hadir terlebih dahulu dengan perspektif luas sebelum saya belajar merangkak.

Astungkara, Sang Hyang Widhi Wasa.