Wednesday, January 27, 2010

About people that gone and blown by the time



I woke up this morning at 9:40 am and found myself lying at my parents’ bedroom. Yeah, I’m here, on my beloved hometown, Makassar. I’ve been here for a week and three days. I got a nice refreshing time after UAS and MCC’s training. My team will be ready for Oral Pleadings by the time I’m back to Jogja. Preparation to Hong Kong is almost done, except for the delaying sponsorship proposals. Naturally I love to be on my own house again (who doesn’t?). But I felt, again, the same loneliness to my old friends.

It is a strange feeling, exactly the same like when I came back to Indonesia from USA two years ago. I meant, when I still sit on the airplane, I have this strong excitement to see my friends and family, and to hang out with them. I already created those images of me going to have a blast with friends in Makassar. But unfortunately when I’m here, it didn’t happen. The weather is simply not supporting at all, it always been a hard-rainy-day most of the time. But when it comes to the sunny day, my friends were busied by their college’s stuff of other businesses. I did meet with some of them, had a fun moment during karaoke and also made a little Spaghetti’s Day. But that happy moment is just at a glance.

I realize now that the world is changing every second, and when you move out, people who stay on your original place will have their movement too. The image that lives inside your head about them is unchangeable, but they are just like you: Another human being, and as it has fated by the Supreme Being, everything is shade off.
I understand about this matter since long time ago, but when it is facing right in front of me, I always got hit by sense of longing. The best way to avoid it is be positive, ignore the bad sensations, and think about future. Yeah, I know that friendship couldn’t last forever just like human’s soul. It is sad, but I prefer to keep the good memories with them rather than blaming or cried over spilt milk of them.

Anyway, I’ll hookup with many people else in the future, right? Stop being Platonic!

Wednesday, January 6, 2010

Petualangan Malam Tahun Baru 2010




Life is an Adventure.



Demikianlah kalimat pembuka yang tepat untuk mengawali hari pertama di tahun 2010 ini. Hidup adalah sebuah petualangan yang menakjubkan, penuh dengan tantangan serta butuh kemauan yang kuat. Jangan lupakan pula spontanitas, pemicu dari ide-ide gila yang kelihatannya mustahil terjadinya akan tetapi diluar dugaan kita dapat terwujud. Anda mau buktinya? Simak cerita saya yang satu ini.
Tanggal 31 Desember 2009, saya bangun dengan kepala agak pusing. Sehari sebelumnya saya agak kelelahan dan sedikit masuk angin, pasalnya setelah puas ber’thawaf’ keliling Gejayan bersama saudara Nabriz untuk mencar-cari percetakan Fisindo, jam 2 siangnya ada latihan MCC lagi. Siang itu hujan deras, sorenya saya terlambat makan (ditambah malamnya online sampai sekitar jam pagi). Setelah sholat subuh saya pun tertidur kembali. Sebelumnya saya sempatkan untuk mengirimkan ucapan selamat ulang tahun kepada ayahanda tercinta, Bapak Muhammad Dawasir yang kebetulan berulang tahun di hari terakhir tahun 2009 ini.

Menjelang siang, saya agak kelimpungan. Malam ini adalah malam pergantian tahun, sedih juga jika tidak pergi kemana-mana. Saya tidak ingin terpenjara di dalam kosan sendirian (terlebih lagi karena saya berasumsi bahwa Toni, teman sekamar saya, akan bergabung bersama teman-temannya dari Pekanbaru untuk merayakan tahun baru). Saya pun mengirimkan sms yang berbunyi sedikit dramatis plus lebay kepada sesama rekan AFSers; Gita, Nurria, Zein, Luki, Mbak Nhira, Uda Heru, Iconx, dan Diva (via jarkom, tentu saja). Sms saya seperti ini; “I Know that tonite you’ll hang out with your friends or family. So how ‘bout this lonely friend of you? Wanna go get some 2009’s end lunch?”


Zein was the first person who send a reply message back to me. He said, ”Aku kuliah sampai sore. Huaa :(. Maap ya bro. Kamu ga coba contact Gita/Icx to do anything tonite.”

(On that moment I thought it was a sick joke to have a class on a day before New Year. But since, I trust all my friends, i felt pitty on him for it)

Luki was the second person to send me a message and asking for the lunch time. When I said it might be around 11-12.30, he apologized and said he won’t make it because he already had an appoinment with other people.

Third sms that came into my inbox was from Aji. He asked me to join his ‘caravan’ to Tugu after watch movie (Avatar or Sang Pemimpi). I had watched both movies and I don’t think spend my New Year’s Eve in between a doodle of random people (thank God if they weren’t drunk) and trap inside a maze of crowdies would be a good option.

Fourth sms was from Hanif who asked me whether I want to join a pilgrimage to Muslim’s saints (Wali-Wali Islam) on Central Java, East Java, and Madura during the break after UAS. Sire, I don’t think so, I hafta be back to Makassar around January 16th. Sorry, but thanks for offering me that.


Gita, she was the only one who all of sudden called me and asked about the plan. But I desperately told her that we better breach it, realizing none of them show any intention to have a 2009 Farewell Lunch with me. Gita said she’ll come over to my place with Mas Jun –her boyfriend- to bring me ice cream after taking some book from library. It’d be nice to hang out with these two peeps, i think, rather than alone in my room. Around 11.00 pm, Toni and I bought our lunch from Bu Siti. He told me that he’ll be off this afternoon to his friend’s place. So, I assumed that I’ll experience a New Year’s Eve with total emptiness. Well, that would be a great moment to study, rightie! Hey, UAS is in front of your nose, no time left to have such a fun like those silly teenagers outside there. Beside, New Year celebration is really not Islamic! (Arguments that I used to convince myself while overwhelmed by a depressing atmosphere of loneliness).


Gita and Mas Jun visited me at 01.14 pm. We spent time by chatting, laughing, watching Gus Dur’s funeral ceremony, and taking pictures. On 03.34 pm, Uda Heru unpredictably sent me sms to ask about the New Year’s plan. I told him I dunno, and Gita is at my place now with Mas Jun. Maybe it’ll be great if we talk about it together here. Then, he came around 04.09 pm. Four of us then gathered in Aquarium (that’s the way I called Bulaksumur’s lobby) and plotted things to do on New Year 2010. The crazy idea came across our mind when seeing Harian Yogya Commercial’s banner on corner of the room. It shows a silhoutte of Borobudur’s biggest stupa with a glorious yet so wonderful rising sun as the background. Then Uda Heru threw that idea; let us race with the new year’s eve to go to that place and then wait til the sunrise of 2010 emerge.


What an astonishing allurement, isn’t is? I spontaneously agree, it would be really amazing to go to Candi Borobudur at night and find a hill to see the sunrise. I remember about a nice hotel that happened to be a place for me to stay when I visited the candi for the first time a long-long time ago. It did have a magical perspective to see the candi. After some crazy discussion to convince Mas Jun (he was a little bit worried about our journey at night, beside Gita seemed sick), we prayed for maghrib then preparing stuff to go there. I went with uda Heru to his kos while Gita followed Mas Jun to his dormy. We’ll grouped again soon at Uda Heru’s place. Around 8-ish, all members of this New Year 2010 spectacular trip had already gathered. Only by two motorcycle (Uda Heru gave me a ride with Mas Jun’s motorcycle, Gita and Mas Jun ride her own motorcycle) we headed to Muntilan at Central Java. We were aiming to stop at Jejamuran first to have some dinner, but unfortunately the place ran out of foods. So, we decided to eat at Magelang or wherever we can get.


Sekitar jam 10.30-an kita sampai di Muntilan. Kota kecil itu berubah menjadi ramai dengan semarak warganya yang duduk-duduk di jalan untuk menunggu malam pergantian tahun. Kami mampir sebentar untuk beli tolak angin dan baterai kamera di Indomart. Perjalanan diteruskan menuju ke Candi Borobudur. Sekitar jam 11.00 pm, kami yang kelaparan akhirnya mondok di sebuah warung pecel-lele. Kami makan, bicara ngalor-ngidul serta bermain ‘Pak Polisi’ dan ‘Pancasila Lima Dasar’. Tak disangka waktu menunjukkan 15 menit sebelum jam 12.00. Di tengah jalan kembali hit the road, kami mampir lagi di Indomart untuk membeli baterai kamera (ternyata baterai merk ‘P’ tidak tahan untuk digunakan pada kamera digital. Untung saja, saya mengetes kamera di Candi Mendut sebelum kami sampai di tempat tujuan, sehingga masih ada waktu untuk menukarnya dengan baterai merk ‘A’ atau ‘E’). Saat itu tepat pukul jam 12.00 pm ketika kami sedang duduk di atas motor di pinggir jalan Borobudur menanti Mas Jun yang sedang berada di toilet Indomart ketika tahun berganti dan penduduk sekitar menyalakan kembang api.


Singkat cerita, seorang bapak-bapak yang lagi nongkrong di depan hotel Manohara Borobudur memberikan kami sebuah informasi berharga; ada sebuah bukit yang dari puncaknya kita bisa melihat candi borobudur, gunung merbabu-gunung merapi, serta matahari terbit. Wah, kedengarannya seperti mendapatkan bonus paket wisata ke beberapa tempat sekaligus. Berbekal navigasi buta dan arahan dari sang bapak, kami sempat tersesat mencari-cari puncak yang dimaksud. Pertama, kami mendapatkan info bahwa tujuan kami sebenarnya adalah sebuah desa yang bernama Karuhan Budur. Kedua, setelah semakin lama masuk ke hutan-hutan (tengah malam lagi, hiii) dan sempat tidak tahu kemana arah tujuan, sekumpulan bapak-bapak yang lagi nongkrong di depan rumah menjadi juru selamat kami. Puncak yang dimaksud ternyata adalah sebuah bukit yang bernama Punthuk Setumbung. Tempat tersebut disebut-sebut sebagai salah satu tempat PENGAMBILAN FOTO TERBAIK DI DUNIA. Whooaaah... I felt sooo damn lucky!


Kami kemudian melaju menuju tempat yang dimaksud. Setelah sampai di depan tempat pendakian, kami beristirahat di masjid yang terletak tepat di depannya. Jam 12.39 kami duduk-duduk di tangga belakang masjid seraya menghabiskan malam yang dingin dengan berceloteh. Mas Jun sempat muntah-muntah masuk angin. But after all, everything is okay. Seharusnya kami tidur sampai waktu subuh tiba (karena sehabis sholat rencananya kami akan mulai mendaki), akan tetapi tidak ada satu pun dari kami yang mengantuk. Dimulailah obrolan panjang malam itu. Sangat menyenangkan dapat mendengar hal-hal baru dari kawan-kawan seperjalanan saya yang pintar-pintar itu. Kita bicara tentang sejarah, kerajaan-kerajaan kuno, Tuhan, UFO, proper blessings for Nabi Muhammad, Dajal, kiamat, tradisi, people, West and East, Robinson Cruse, filsafat, hingga postmodern serta gejala reality vs virtual world. Tahun baru yang menakjubkan karena dipenuhi oleh obrolan ilmiah, tidak hanya sekedar meniup terompet dan hura-hura muda belaka. Sekitar jam 02.08 am terjadi Gerhana Bulan setengah. Waaah... Alhamdulillah, segala puji bagi Tuhan semesta alam... tahun baru kami semakin indah dihiasi oleh fenomena alam yang luarbiasa ini. Mami Michelle yang sedari tadi saya ceritakan kronologis kejadiannya jadi iri pengen ikutan tahun baruan ala kami :D



Sekitar jam 04.00 am lebih, kami sholat subuh. 04.30 kami memulai petualangan mendaki Punthuk Setumbung. Dengan panduan dari seorang anak kelas 3 SD bernama Wahyu, kami mendaki bukit yang gelap, becek, licin, dan berjalan sempit itu. Sempat memicu adrenalin juga, gimana nggak, jurang menganga di samping kami (tapi masih lebih terjal jalannya gunung Bawakaraeng yang saya daki waktu SMP dulu sih). Karena masih agak gelap, jadi kadar oksigennya kurang, dada saya jadi sedikit sesak. Beberapa menit kemudian kami sampai di puncak, dan... subhanallah! Gunung Merapi dan Merbabu tampak anggun menjulang tinggi. Di bawahnya mengalir sungai kabut yang indah. Embun-embun naik ke permukaan, semuanya seperti menyambut kedatangan kami. Masih dalam keadaan berkeringat dan ngos-ngosan kami excitely taking picture berlatar keindahan alam itu. Tidak berapa lama kemudian matahari terbit dari ufuk timur, menebarkan cahaya di hari pertama tahun 2010 yang penuh dengan tantangan dan hal-hal menyenangkan lainnya.


Kami turun dari puncak itu jam 05.30 dengan niat untuk mengunjungi Candi Borobudur. Akan tetapi, sempat terjadi insiden kecil yang hampir saja membatalkan acara tersebut. Ban motor Gita mendadak kempes, dicurigai bocor. Setelah desperate karena ketiadaan juru bengkel, akhirnya seorang penduduk lokal nan baik hati memeriksa ban motor Gita dan end up dengan kesimpulan ban itu ternyata Cuma kempes biasa. Pukul 07. 16 kami sudah berada di kompleks Candi Buddha terbesar di dunia yang oleh UNESCO digelari pula sebagai World Heritage. Saya berjalan di jalur Pradaksina, jalur suci yang dulu digunakan oleh para biksu menuju ke candi. Candi Borobudur terlihat begitu megah dari kejauhan. Semakin mendekat, seperti ada panggilan ke zaman yang telah hilang.



Candi tersebut bertingkat-tingkat, dan pada setiap tingkat terdapat relief yang menggambarkan makna-makna tertentu. Sementara Uda Heru sibuk berkeliling dengan kameranya, saya, Mas Jun dan Gita menelusuri relief-relief tersebut dan menggali ingatan akan arti dari simbol-simbol yang kami temukan. Di teras terbawah ada gambar seorang pria berwajah bhuto dengan dua orang wanita di kanan-kirinya, ada gambar seorang wanita dengan kalung, perhiasan serta uang di tangannya, dan adapula gambar orang yang memegang gelas (yang kami curigai sebagai minuman keras). Teras pertama disebut sebagai Kamadhatu, perwujudan dari nafsu buruk manusia. Teras-teras lain di atasnya menggambarkan alam yang sudah bebas dari ahamkara. Kami juga menyaksikan gambaran kehidupan Sang Buddha Siddharta Gautama yang diabadikan pada relief-relief Borobudur. Kami menerka-nerka cerita apa yang dikandung oleh frame yang satu ke yang lainnya. Satu hal yang perlu disadari adalah kehebatan nenek moyang kita yang membangun candi ini dan kekuatan budaya luhur asli bangsa Indonesia. Meskipun cerita Siddharta berasal dari India (nama-nama tempat seperti Kapilawastu, Lumbini, Bodh Gaya dan Kosalya jelas tidak dikenal di nusantara), namun mereka mengakulturasikan relief-relief kehidupan sang buddha tersebut dengan ciri-ciri alam (fauna-flora) yang khas tanah air. Kita bisa menemukan ukiran yang menggambarkan pohon pisang, pohon sukun, pohon beringin, monyet, singa, bangau, angsa, burung parkit, dan lain sebagainya. Di samping itu, yang membuat saya terkagum-kagum adalah sistem saluran air di candi ini. Saya pernah membaca buku yang mengatakan; ‘tolak ukur majunya peradaban dari sebuah bangsa dapat dilihat dari seberapa advance-kah water system yang mereka miliki’. Ternyata parit-parit di sekitar candi serta saluran air berbentuk ukiran gandharva yang sedang menganga menjadi bukti nyata bahwa peradaban Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu pun sama majunya dengan peradaban kuno negara lain di dunia!


Kami meninggalkan Borobudur sebelum jam 09.00 am. Perut saya agak susah diajak kompromi sejak malam tahun baru, namun diperjalanan pulang Magelang-Jogja rasanya agak mendingan. Kami mampir untuk makan pagi di Jejamuran. Setelah perut terisi, kantuk pun hilang.

Apa hikmah dari petualangan singkat malam tahun baru ini?

Saya tidak dapat menuliskannya kata per kata, bait per bait. Yang jelas, tahun 2010 akan menjadi tahun penuh petualangan besar yang membantu membangun karakter kami menjadi manusia berakal dan berbudi luhur, insya Allah. Jalan cahaya telah menunggu di depan kami :)


Let us rise up and be thankful, for if we didn't learn a lot today, at least we learned a little, and if we didn't learn a little, at least we didn't get sick, and if we got sick, at least we didn't die; so, let us all be thankful." - Buddha