Tuesday, December 24, 2013

Halo, Leiden!

Halo apa kabar teman-teman?

Sekarang tanggal 19 Desember 2013, pukul 10:31 PM. Di Indonesia, tepatnya di Jogja, seharusnya sekarang jam 04.33 AM. Nah lho emang dimana saya? Jawabannya: Leiden, Belanda.

Leiden, saya sudah lama bermimpi bisa ke sini. Bukan untuk sekolah hukum sebagaimana banyak dicita-citakan oleh teman sejawat saya (kecuali mungkin untuk kajian hukum adat atau sejarah). Saya bermimpi ke sini karena ingin mengunjungi dan melihat langsung koleksi naskah-naskah kuno Indonesia yang tertidur damai di perpustakaannya. Kota yang menguasai imajinasi saya dengan kuat sebagai kiblatnya para pengkaji bidang sejarah dan budaya Nusantara. Leiden, oh... Leiden.


Dan sekarang, detik ini juga saya sudah berada di kota ini. Dengan membawa sebuah misi: La Galigo! Selama beberapa hari ke depan kami akan bertemu dengan orang-orang yang namanya selama ini hanya dapat kami baca dari buku. Kami akan menampilkan sebuah pentas yang mengusung nama sebuah tradisi kuno dengan penafsiran yang baru lewat musik dan tari.

Leiden, jadilah saksi untuk kami hari ini. Izinkanlah kami untuk menikmati udara, air dan tanahmu, menghirup saripati kekayaan leluhur bangsa kami yang engkau simpan di dalam perutmu.

Perjalanan baru dimulai.

Sunday, December 8, 2013

Selamat Jalan, Mandela!

Saya tidak kenal Mandela. Tapi saya tahu siapa dia.

Setiap kali mendengar kata "Afrika Selatan", yang terbayang pasti adalah namanya. Mandela. Jauh sebelum Waka-Waka dan kehebohan Piala Dunia, Mandela telah membuat mata seluruh dunia tertuju ke arahnya. Ya, negara yang dulunya mengagungkan bangsa berkulit putih sebagai bangsa paling mulia di Benua Hitam ini tercabik-cabik oleh rasa malu ketika seorang Mandela berhasil menggerakkan rakyat Afrika Selatan untuk meruntuhkan rezim apartheid. Ia bicara, bukan hitam atau putihnya kulit seseorang yang menentukan kemuliaan. Akan tetapi hati dan aksi yang mencerminkan keutamaan seseorang.
Mandela dibenci. Mandela dicaci. Mandela tidak disenangi. Banyak pula yang iri dengan sosok Mandela. Tapi Mandela keras kepala. Mandela terus maju. Mandela bertahan dengan idealismenya. Hari ini, di Afrika Selatan seorang anak kulit hitam dapat bergandengan tangan dengan seorang anak kulit putih sambil berlarian di taman. Mandela yang selalu tersenyum, dengan batik asli dari Indonesia yang selalu ia kenakan mencintai sesosok ulama Islam asal Tanah Gowa bernama Syekh Yusuf. Ia adalah putra terbaik Afrika Selatan, ujarnya. Tidak hanya itu, Syekh Yusuf juga diakui oleh negaranya sebagai seorang pahlawan nasional.
Mandela, menyingkirkan prahara sosial terkait rasisme.
Mandela, membuat rasa persaudaraan antara Afrika dan Indonesia begitu dekat.
Mandela, beristirahatlah dengan tenang.

Di suatu sore yang tenang, di pinggir sebuah danau di tepi bukit yang hijau... Tuhan menepuk-nepuk punggung Mandela yang memandangi aliran sungai itu seraya berkata kepadanya:
"Saatnya pulang, Mandela, saatnya beristirahat."