Tuesday, June 23, 2015

Dam di Sudut-Sudut Mata

Senja itu aku sadar bahwa kesedihanku itu sungguhlah nyata
Bersama dengan bulan yang menuju setengah gelap di rasi si Perawan,
dan Merkurius yang menyelip di sela-sela tanduk Taurus
Ku terduduk malu menahan desakan air yang telah menggenangi pelupuk mata

Seandainya dulu kupelajari ilmu hidrologi dan ilmu bangunan
Niscaya telah kubikinkan dam di sudut-sudut mata ini
Agar tak ada lagi waktu yang terbuang, menanti dalam ketersia-siaan
Detik demi detik rasa yang ditelan oleh rakusnya keterisolasian

Padahal, sudah ditegur diriku oleh delapan cawan yang penuh untuk segera pergi
Pergi, melangkah jauh dengan jubah merah dan tongkat tanpa melihat kembali
seperti Musa yang mendaki Gunung Sinai Tuhannya
Ia pergi, pergi jauh sekali tanpa membawa emosi

Semakin tak terbendung lagi duka di mataku
ketika ku dikabari oleh enam tongkat kayu yang terbalik
Bahwa sesungguhnya dirimu sungguh telah penuh luka
hingga akhirnya dalam sunyi kau menarik diri, lelah dan tak bisa lagi berpura-pura dengan tawa
Lalu kita lewat begitu saja, lewat untuk saling bersembunyi di balik Jubah Gaib

Leiden,
23 Juni 2015
19:49


Monday, June 1, 2015

Tentang Menulis di 2015

Jujur, saya agak sedih. Selama hampir setahun di negeri Belanda saya tidak seproduktif sebelumnya dalam hal tulis-menulis. Saya masih terus menulis sih sebenarnya,tidak pernah berhenti malah, tapi itu semua untuk keperluan akademis. Untuk kelas Dutch History saya menghasilkan sebuah paper yang cukup panjang mengenai komoditas mutiara zaman VOC dan kebangkitan seni di Belanda. Di kelas Premodern South and Southeast Asia saya menulis dua buah paper pendek tentang sejarah Jawanisasi dewi-dewi Hindu. Untuk kelas Japan: Light of Asia? saya menulis banyak review artikel dan paper-paper yang cukup panjang mengenai kondisi Asia Tenggara saat Perang Dunia II. Di akhir tahun ajaran ini saya kembali disibukkan dengan skripsi yang waktu pengerjaannya (riset sekaligus penulisan dan revisinya) hanya 1,5 bulan. Ya, 15.000 kata dan hanya 1,5 bulan! Ini jadi rekor tersendiri saya dalam bidang penulisan akademis.

Apa sebabnya ya kira-kira (selain tentu saja waktu yang tidak cukup dikarenakan tugas-tugas kuliah)? Hmmm jawabannya sebenarnya datang dari kondisi di sekeliling saya. Di sini saya tidak bergabung dengan komunitas tulis-menulis sebagaimana halnya ketika saya masih berada di Indonesia. Di sini juga saya belum menemukan partner in crime yang seru untuk diajakin proyekan menulis (until recently, I met with the amazing and crazy Fuji Riang Prastowo).

Sekedar catatan, selama 2015 ini saya hanya sekedar menulis empat buah artikel. Sedih ya. Artikel-artikel tersebut diterbitkan oleh:


Menemukan Jejak Indonesia Sebelum Kemerdekaan di Leiden (ditulis bersama Bhredipta Socarana), majalah Jong Indonesia PPI Belanda edisi Maret-April 2015, http://issuu.com/ppibelanda/docs/maret-april?e=0/12352909#search 

Olok-Olok Kreatif Dua Detektif, Wawancara bersama Saddam HP, http://angintimur2014.tumblr.com/post/117909195340/olok-olok-kreatif-dua-detektif 

Tak Ada "Ahlul" di Belanda, website Mahasiswa Rantau, http://mahasiswarantau.com/tak-ada-ahlul-di-belanda/ 

BPPM Balairung UGM (terlampir fotonya)




Aaah... semoga sisa 2015 ini bisa lebih dimanfaatkan untuk menulis dengan lebih giat lagi! Hidup saya sungguh akan kering tanpa kehadiran aktifitas baca-tulis, musik dan teman yang asyik dalam perjalanan seru ke sebuah tempat baru. Baru setengah jalan kan, yuk berproses kreatif!

1 Juni 2015
Leiden