Tuesday, July 23, 2013

Jelang Sidang - Mengakhiri 4 Tahun Studi S1 di FH UGM (FINALLY!)

nervous, but we still had fun!
hari sidang untuk ke-13 insan akademika Hukum Bisnis FH UGM


thanks for the flower, peeps!

yeah, we did it guys, we did it!


Wednesday, July 10, 2013

Kau Hisab dan Aku Rukyat

Hisab...
Tahun ini pun masih sama saja seperti tahun-tahun kemarin, kita belum bertemu.
Tak mungkin kah bagi kita untuk bersatu sehingga orang-orang itu tak terus berkubu-kubu di balik bebayangan kami?
Kau hisab dan aku rukyat, seakan kita tercipta untuk terus saling berbeda dan bukan untuk saling melengkapi.
Kau mungkin tak lahir dari ajaran nabi, karena kau adalah hasil paduan teknologi dan asumsi kognitif manusia.
Aku mungkin sudah setua alam raya ini, bahkan saat Adam diturunkan di Srilanka matanya telah menuju-nuju Arasy Tuhan untuk meminta ampun, merukyat langit.
Tapi sesederhananya diriku pun tak mungkin hidup tanpamu, hisab.
Dan serumit apapun selugas apapun dirimu, engkau pun tak mampu hidup tanpaku.

Kehadiranku ini dan kehadiranmu itu sebenarnya adalah rahmat. Perbedaan yang membuat khazanah perabadan umat manusia semakin kaya. Namun sayangnya, mereka selalu meributkan kita. Perlindung di balik bebayangan kita.

Aku rukyat, dan kau hisab. Tak dapatkah kita saling melengkapi, meski berbeda?

Monday, July 1, 2013

Mengorek-ngorek Kendi di Indonesia dengan Kamus Barat

Sekarang ini, jika ada yang ingin belajar sejarah maupun sastra Melayu, tak usah Ia berkiblat pada universitas-universitas di Riau sana. Tak usah pula merujuk pada karangan-karangan lawas Sanusi Pane. Cornell University atau Leiden di Belanda jauh lebih mengiurkan untuk dijadikan tempat belajar, mungkin karena suhunya lebih sejuk dan wc-nya lebih bersih. Buku-buku James T. Collins tentang bahasa dan sejarah Melayu pun lebih menarik untuk dibaca dan ditelaah, karena ditulis dalam Bahasa Inggris, bahasa yang punya derajat lebih mulia dibanding Bahasa Melayu.

Sekarang ini, jika ada  yang ingin belajar Bahasa Kawi, bahasa tua para leluhur Jawa yang diabadikan lewat liuk-liuk aksara di atas batu-batu atau lempeng logam, Ia pasti akan membaca karya-karya Zoetmulder atau Pigeaud. Kamus buatan bangsa-bangsa berkulit putih itu, sejauh ini adalah buku-buku terbaik yang mendata bahasa yang digunakan oleh nenek moyang bangsa ini. Tak bisa disalahkan memang, karena tiada bumiputera yang berminat untuk mendaftar kata-kata Kawi dan menggali-gali apa makna-maknanya setelah sang maestro Poerbatjaraka mangkat. Pak Poer dulu tak pernah belajar formal apalagi kuliah, tapi Ia gemar belajar dan tekun memuaskan rasa keingintahuannya. Kini, ketekunan untuk memuaskan keingintahuan itulah yang tak dimiliki oleh anak muda.

Sekarang ini, belajar Islam saja tak perlu ke tanah suci karena di Inggris sana sudah terbuka banyak sekali universitas-universitas yang menawarkan program studi tentang orientalisme, dengan jajaran profesor yang siap mengajar dan dana besar untuk penelitian. Membaca Alquran tak perlu lewat guru-guru ngaji karena google sudah dapat mengajarkan segalanya, termasuk memberikan arti tanpa perlu susah-susah belajar Bahasa Arab.

Aku takut teman, takut karena kelak yang dibaca oleh anak-cucu kita tentang negeri ini bersumber pada majalah-majalah asing.

Dan ketika sebuah kendi kuno berajah aksara berbahasa kuna ditemukan di bawah kolong rumah, kamus-kamus Barat itulah yang mereka pakai untuk melongok kekayaan bangsanya di masa lampau.

Ku terbangun di tengahnya malam dan menggeliat-geliat gelisah: menangiskah Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka di alam kuburnya jika membaca tulisan tak bermutuku ini?


Pak Poer dan Wayang. Sumber: http://sang-agastya.blogspot.com/