Friday, April 23, 2010

lose


When I lose something,
On that moment I just realized how much I need the thing
Although I sees it most of time, but when i can’t find it
The thing becoming so important
When i can’t find it
I keep searching, with a hopeful heart to get it back to my side
My properties, freedom, and friends
Any small stuff that seems not really important
When I can’t find one of them, when I need all of them and I can’t get any
I’ll be so sad, my face turns pale and my hearts will hardly trembling
Where can I get them?
i don’t know.
Where can I get them?
How could I know?

Wednesday, April 21, 2010

Birthday's Mug




Every year, when I open the upper closure of my mug, I always find various blessings in it

Last year, I opened it and I saw Hopes and Happiness with Family and Friends
Two years ago, I found Self-Identification and Pride to my Ancestors lied on the bottom of my mug
This year, I see Independency and Trust shines and glows from it

I wonder, why You poured me Independency and Trust, Dear Lord?
The Angel of Inspiration come into my tic nerve and calmly whisper;
Independency is a blessing from your God, to grow you older and wiser
To erode childish desire and addiction to others
Rise up your flag, walk on your own road
Although the way is not easy, bumpy, or spirits will distract you
You grab this Independency in your hand, then sure you shall make it through

Trust as the Greatest Gift from your Lord,
To help you face the real world that bustling with unfaithful hearts
Deliver only set of truthfulness, promise only things that you can fulfill
Then you shall overcome, like what Mr. Khan did
Paint your dream, start it from the early dawn like Davinci
Be brave and keep your high minded like Kartini
Transform your life like the way Mother Earth shares Her affection and care
Always give the best, although get hurts
Always be a an utilitarian person everywhere and whenever
Those are your birthday blessing for 2010

Feliz Cumpleanos, my Louie

Monday, April 12, 2010

Prelude of 'Penyihir dari Eropa' by Louie Buana


Prelude

Pada zaman dahulu, ketika seorang sultan di Baghdad memiliki permadani ajaib bersulam indah yang dapat terbang dan seorang Kaisar Cina memelihara naga api raksasa yang dapat berkeliaran bebas di taman Kota Terlarang, wilayah lain di belahan bumi utara dilanda kegelapan selama seribu tahun.
Eropa di abad pertengahan tidaklah seperti Eropa yang kita kenal sekarang. Zaman itu adalah jam perang diantara para penghuni kastil suram yang dingin dan kelam. Zaman ketika wabah hitam merangkak dari bawah tanah untuk mencabuti nyawa setiap orang yang putus asa.

Itulah masa ketika para penyihir dikejar-kejar. Itulah masa ketika takkan ada yang heran mengapa banyak mayat dibiarkan berserakan di jalanan. Itulah masa ketika bau tak sedap dari tubuh penduduk yang tak pernah mandi berkeliaran di udara. Itulah masa ketika takkan ada yang heran mengapa seorang wanita dari lantai dua sebuah rumah bertingkat membuang sebaskom penuh kotoran anaknya ke jalan raya begitu saja.
Di masa ketika kegelapan melanda bahkan di hari yang cerah oleh sinar mentari, perburuan penyihir dilakukan untuk membasmi siapa saja yang mencurigakan. Dan tentu saja, orang jahat selalu ada di setiap zaman. Beberapa orang jahat di zaman pertengahan itu dengan liciknya memanfaatkan waktu yang tepat untuk memfitnah musuh-musuh mereka sebagai seorang penyihir. Alhasil, banyak tanah yang kehilangan tuannya, banyak barang-barang yang kehilangan dagangannya, dan banyak pula wanita-wanita yang kehilangan suaminya.

Dirimu bisa saja ditangkap pada suatu sore yang indah sewaktu sedang duduk-duduk di beranda rumah dengan alasan yang sangat konyol. Tahi lalat aneh di hidungmu membentuk pola segiempat yang mengerikan ditambah sehelai rambut abu-abu nan ganjil. Tanpa basa-basi, warga yang terlanjur ditelan histeria bersama sepasukan pemburu penyihir akan menangkap dia yang sial karena dicurigai.
Sebagian orang bahkan memanfaatkannya sebagai mata pencaharian tetap. Mereka membakar kegelisahan warga dengan meniupkan desas-desus tentang sihir dan ilmu hitam lalu tampil bak seorang pahlawan dengan seperangkat peralatan penangkal sihir palsu, seperti cerita Malcrim Si Tukang Bual.

“Para penyihir memiliki tanda khusus dari Iblis. Tanda itu dapat berupa bercak merah seperti darah atau telapak kaki katak. Biasanya penyihir wanita membubuhkan tanda itu di sekitar dada atau pantat, supaya bisa mengelak bila diperiksa.”

Dalam keremangan cahaya lilin, orang bertudung hitam besar itu memandangi alat-alat penangkap penyihir yang dibawa oleh Malcrim. Malcrim adalah seorang haberdasher, pedagang eceran. Tetapi ia menobatkan dirinya sendiri sebagai seorang haberdasher yang khusus menyediakan benda-benda anti-sihir. Demi memastikan uang terus mengalir ke dalam kantongnya, ia bersedia untuk melayani pembeli; sekalipun pada suatu malam di pertengahan musim panas di sebuah rumah tua yang jauh di pinggiran kota London seperti sekarang ini.

“Kebanyakan penyihir di daerah sini adalah wanita. Mereka bisa kelihatan seperti manusia biasa dan bahkan dinikahi oleh manusia biasa. Namun selihai apapun mereka tetap saja masih bisa kita lacak. Dengan alat-alat saya segalanya beres. Orang-orang tak perlu lagi takut dengan tetangga mereka. Tak perlu terkejut jika suatu hari ketika baru bangun tidur, istri yang tadinya molek berubah kisut seperti mangga tua berkutil. Botol ini berisi wangi-wangian khusus yang bisa membuat penyihir bersin.

Cukup teteskan di baju orang yang dicurigai dan jika benar ia penyihir maka ia akan bersin-bersin sampai ke wujud asalnya. Saya juga menjual kayu pancang cemara untuk membunuh vampir. Musim panas tahun lalu banyak ternak yang mati karena dihisap darahnya oleh vampire. Tergerak untuk menolong para petani yang malang itu saya buat kayu pancang asli dari Transylvania. Mademoiselle dapat menyentuh dan merasakan urat-uratnya yang bertonjolan...”

“Jadi seluruh benda ini dapat membongkar identitas seorang penyihir ?” tanya si calon pembeli. Perawakan dan suaranya menunjukkan bahwa ia adalah seorang perempuan. Tanpa tudung hitam yang menyelubungi sekalipun sebenarnya Malcrim kesusahan melihat wajahnya karena cahaya lilin yang remang-remang. Selain itu mata Malcrim juga rabun.

“Tentu… tentu Mademoiselle! Ramuan ini dan belati itu dapat melumpuhkan mereka, ditambah dengan debu dari makam para santo di Yeru...” Malcrim kembali menawarkan barang-barangnya ke bawah hidung orang itu. Tapi si calon pembeli justru terkekeh geli melihat tingkahnya.

Sambil mengernyit, Malcrim berhenti bicara. Ia mengernyitkan dahinya dan menunggu sampai calon pembelinya selesai terkekeh.

“Maaf?”

Kejengkelannya menumpuk. Ia sibuk berkeliling sepanjang siang, dan kalau bukan karena hutang bir-nya di bar Madame Madeleyn Ia jelas tidak mau ngobrol berdua saja dengan seorang berjubah kumuh yang berjalan dengan kaki telanjang dari arah pelabuhan itu.

Malcrim dulu, dulu sekali adalah seorang pedagang kain miskin di Skotlandia. Dulu orang tuanya petani, ia dipaksa untuk menekuni bisnis warisan itu. Namun karena terdorong oleh jiwa bertualang yang amat besar, ia meninggalkan kampung halamannya sambil membawa lari anak gadis tetangga. Ia memutuskan tinggal di London, pada sebuah rumah kecil berbau kotoran ayam, di dekat jembatan. Kerjanya sehari-hari hanya tidur dan mabuk-mabukkan ( hingga menjadi pelanggan tetap Madame Madeleyn ). Sang istrilah yang bekerja sebagai tukang cuci keliling sambil menyusui anak-anak Malcrim

Istrinya yang tak tahan hidup menderita kabur meninggalkan suami yang pemalas dan keempat orang anak mereka. Dari situ Malcrim harus turun tangan demi menafkahi hidup. Namun pekerjaan apapun yang ia coba tekuni selalu berujung dengan kegagalan. Suatu hari sewaktu ia tengah menghabiskan waktu di bar Madame Madeleyn ditemani segelas bir, kabar perburuan penyihir terhembus ke seluruh Eropa. Insting bisnisnya tak bisa tinggal diam. Ia membantu menyebarkan desas-desus mengerikan ke telinga penduduk lalu tampil ke muka umum dengan sekotak penuh alat-alat bohong anti sihir yang ia buat sendiri (atau ia pungut dari tempat sampah). Dalam sekejap hidup Malcrim pun berubah. Ia manjadi orang yang paling dicari-cari penduduk desa Grantchester. Ia bahagia sekarang karena setiap hari uang mengalir, bahkan ia memiliki langganan tetap.

Sekarang ia menatap calon pembelinya. Orang aneh itu menertawainya di saat ia memberikan pelayanan khusus di tengah malam buta. Tidak sopan! Malcrim sudah biasa menghadapi calon pembeli yang suka mencari-cari celah pada setiap kata-katanya. Biasanya ia akan segera berkelit begitu mengetahui bahwa orang yang berada dihadapnnya itu adalah orang yang berpendidikan. Untuk itu Ia harus memancing sejauh mana kepandaian calon pembelinya.

“Jadi Anda tidak percaya saya? Saya tidak bercanda, Mademoiselle, saya telah menyelamatkan banyak nyawa... termasuk di antaranya nyawa raja! Raja kita yang agung, King Henry VI dari Lancaster, pernah ditenung oleh seorang nenek sihir dengan hidung bengkok berbisul hijau dari Perancis, namanya Gwendyd Si Tangan Kidal. Nenek sihir itu menggunakan ramuan dari ginjal bocah lelaki yang belum dibaptis, ditumbuk sampai halus dan dicampur dengan rempah-rempah Asmosdeus lalu kemudian ditiupkannya melalui angin utara ke bokong raja. Seluruh tabib kerajaan tidak menyadari sihir itu dan terus menerus mengoleskan salep-salep aneh. Pantat raja membengkak empat hari-empat malam. Saat itulah...”

“Humbug! Hahahahaha… Ceritamu adalah bualan paling konyol tentang pantat raja Inggris yang pernah kudengar!”

Malcrim melotot ketika melihat tangan calon pembelinya mengeluarkan tongkat sihir. Tongkat dari ranting keras berwarna hitam pekat dengan bentuk yang tak pernah ia dibayangkan.

“Malcrim, kau selalu membual tentang sihir serta memanfaatkan penderitaan para penyihir untuk mendapatkan uang. Akibatnya kaumku semakin menderita. Histeria itu kini telah menyebar kemana-mana. Jika memang benar sampah-sampahmu ini berguna, mengapa tidak sedari tadi kau menyadariku sebagai penyihir? Sudah sepantasnya orang-orang sepertimu untuk dienyahkan. Bagaimana kalau sekarang kau rasakan sentuhan sihir yang sebenarnya?” potong orang berjubah itu cepat.
Malcrim bergetar ketakutan. Ia berhadapan dengan penyihir sungguhan. Mendadak lenyap imajinasi tentang penyihir selama ini ( nenek-nenek bongkok berkutil yang membawa kuali dan buku mantra. Dapat terbang dengan sapu usang serta bau badan mereka seperti bau kaus kaki ). Penyihir asli jauh lebih mengerikan!
“Wigan!” mantra yang mendadak meluncur dari mulut si penyihir merubah jambangan di dekat Malcrim menjadi butiran pasir-pasir hitam.

Malcrim terduduk lemas di lantai. Ia mencoba untuk bangkit berdiri dan lari sekuat tenaga, tapi kakinya terasa kaku. Tangannya menggenggam erat-erat kalung emas St. Paul yang ia ambil dari istrinya beberapa tahun yang lalu sambil berkomat-kamit membaca doa perlindungan. Akan tetapi tongkat si penyihir telah mengarah ke arahnya dan dalam sekejap kalung itu pun lumer menjadi lumpur. Malcrim menatap lumpur yang mencair di tangannya tak percaya.

“Ampuni saya! Ampuni saya, Mademoiselle... saya berjanji tak akan pernah mengusik kehidupan penyihir lagi! Saya mohon... Ada tujuh orang anak kecil, tiga orang istri, serta lima ekor anak anjing yang menunggu saya di rumah, Mademoiselle. Mereka semua membutuhkan saya. Sumpah demi Tuhan saya tak mungkin berbohong!”

Si penyihir menatap wajah Malcrim yang memelas ketakutan. Ia bisa membaca pikiran pria itu. Pembohong. Mereka adalah orang-orang yang rela melakukan apa saja demi menyelamatkan diri sendiri. Apakah ada binatang yang mau memakan bangkai anaknya sendiri? Jelas tidak ada, tapi manusia seperti Malcrim ini pasti mau-mau saja melakukan hal hina seperti itu dalam keadaan terdesak.
Si penyihir meludahi wajah si haberdasher, menendangnya ke pinggir, dan membakar seluruh benda-benda palsu yang ada di atas meja dengan bola api sihiran dari ujung tongkat sihirnya. Malcrim meringkuk ketakutan di lantai.

“Betapa beraninya kau berbohong dihadapan penyihir yang selama ini paling dicari-cari oleh seluruh umat manusia. Kau telah berani mengakali jerat kematian. Tapi kali ini tidak akan ada lagi kebohongan, karena aku Sang Penyihir Terakhir akan mengakhiri semuanya...”

Malcrim menggigil. Ia meronta-ronta ketakutan, berjanji untuk hidup tenang di sebuah biara jauh di Skotlandia, bersumpah tidak akan pernah lagi berhubungan dengan sihir serta lain sebagainya. Tapi penyihir itu sudah kehilangan welas asih. Telinganya bising mendengar rentetan omong kosong Malcrim.

Diiringi bunyi lengkingan panjang Malcrim berubah wujud. Ia mengutuk Malcrim menjadi seekor katak gendut berwarna jingga. Katak itu melompat-lompat di sekitarnya seakan minta dikembalikan menjadi manusia. Tapi sang penyihir sudah memutuskan untuk pergi.

Ia berdesis, “Ceorlfolc, dengan bodohnya kalian menciptakan dongeng-dongeng konyol tentang kehidupan kami. Apa kalian menganggap kami ini mahkluk lucu? Kalian pikir kami adalah sekumpulan orang-orang aneh yang mengayun-ayunkan tongkat, mengaduk-aduk kuali dan terbang mengelilingi cerobong asap dengan sapu? Sekarang aku akan membuatmu merasakan sendiri hasil imajinasi dari kepala kalian…
Seorang pangeran yang disihir menjadi katak dapat berubah kembali menjadi manusia setelah dicium oleh seorang putri cantik.
Oh! Betapa menggelikannya, manusia... Nikmatilah sisa hidupmu sebagai katak jelek dan berkelanalah mencari putri cantik. Tapi, itupun kalau ada yang mau menciummu!”

Si penyihir tertawa senang. Sambil jejingrakkan ia melangkahkan kaki meninggalkan rumah tua di pinggir London itu. Dari jejak langkahnya muncul tiang-tiang api raksasa yang berkobar-kobar, menghanguskan bukti keberadaan Malcrim, si penjual keliling. Api itu semakin lama semakin besar, mengancam kota London dengan tangan-tangan sihir. Sang penyihir terakhir mendengar kabar bahwa orang tuanya dulu pernah tinggal di kota itu sebelum diserang dari segala penjuru. Ia akan membalaskan dendam leluhurnya. Setelah beberapa saat berjalan, ia berbalik menghadap ke rumah tua yang sementara dirubung api itu. Bak seorang dirigen, ia memerintahkan api yang semakin menggila dengan gerakan tongkat sihirnya itu mengarah ke ibukota.

Domine, dirige nos.

Saturday, April 10, 2010

some scholarships and exchange information for you




Hi guys, what’s up?

To the point ya, jadi begini... sebagian dari kalian banyak yang memiliki keinginan untuk mendapatkan pengalaman ke luar negri. Beberapa di antara kalian juga ada yang pernah mendatangi saya dan bertanya “Lul, gimana sih caranya supaya bisa ke luar negri?”. Saat itu mungkin saya tidak dapat memberikan jawaban secara langsung, karena di samping saya sendiri bukan makelar beasiswa, saya juga belum mendapatkan informasi pas yang kira-kira sesuai dengan keinginan teman-teman.

Kebanyakan dari kita pada umumnya menginginkan pengalaman internasional di universitas yang keren dengan akomodasi gratis. Agak susah sih, mengingat program-program internasional biasanya mewajibkan adanya ‘sumbangan’ dari kocek kita pribadi. Sebenarnya ada program yang bagus sekali yang pernah saya ikuti, tidak butuh dana tambahan apapun, program belajarnya selama setahun full, dan bahkan setiap bulannya mendapat uang jajan dari pemerintah Amerika Serikat. Nama programnya YES (Youth Exchange Study, klo di Indonesia jadi ber-afiliasi dengan AFS Indonesia), sayangnya program tersebut hanya untuk anak-anak high school.

Lanjut, tujuan saya memberikan informasi ini adalah karena saya ingin agar setiap orang diberi kesempatan yang sama untuk mendapatkan pengalaman Internasional. Pengalaman Internasional itu adalah sesuatu yang amat berharga serta pembelajaran bagi kita semua agar dapat menjadi manusia yang berwawasan terbuka. Sekarang, saya berniat untuk membagi informasi bagi kawan-kawan agar kita dapat berjuang bersama-sama. Tidak ada orang yang eksklusif, yang ada hanya mereka yang mau maju, berusaha, dan terus melatih diri ke level yang lebih tinggi.


Berikut beberapa link yang bisa kalian coba:

1. NUPACE 2010/2011
Nagoya University Programme for Academic Exchange (NUPACE) is now open for application both for autumn and spring semester. NUPACE offers a unique curriculum consisting of Japanese language instruction, Japan area/intercultural studies, and courses in the students major field of study.
Academic Calendar
Autumn Semester
• Class schedule: 1 October 2010 – 10 February 2011
• Winter Vacation: 28 December 2010 – 7 January 2011
• Spring Vacation 11 February 2011 – 31 March 2011
• Students joining NUPACE programme in autun 2010 are required to arrive in Japan in late September for pre-class orientation
Spring Semester 2011
• Class schedule (tentative): 13 April 2011 – 5 August 2011
• Summer Vacation: 8 August 2011 – 30 September 2011
• Students joining NUPACE programme in Spring 2011 are required to arrive in Japan in the early April 2011 for a pre-class orientation.
Eligibility
The scholarship is open to students who at the time of application and admission to Nagoya University are enrolled in full-time courses in UGM who meet following conditions:
1. GPA minimum 3.1 on a scale of 4.0
2. Applicants must demonstrate that they will benefit from studying in Japan, and are required to produce a clear study plan with regard to their studies at Nagoya University
3. Applicants must not be previous recipients of JASSO scholarship
4. Applicants are not permitted to simultaneously apply for a Japanese Government (Monbukagakusho) Scholarship for the same academic year
5. Applicants must, upon completion of their term of scholarship submit a study report to Nagoya University
6. Applicants must for reasons of financial difficulty, be unable to finance their studies in Japan independently
7. Applicants must, upon their completion o the term of exchange, return to their home institution
8. Applicants must be eligible to obtain a ‘college students’ visa for the purpose of study in Japan and, therefore must hold a nationality other than Japanese
9. Applicants must not be recipients of scholarship awards from other organization that exceeds 80.000 Yen per month
10. Applicants must have a good english capability (TOEFL min. 550)
Documents Submission
Register online and submit two copies of your application documents to Office of International Affairs before March 10, 2010. For those who want to aply for spring semester, the deadline is September 15, 2010.

2. Goldman Sach’s Global Leader Program
The Indonesia International Education Foundation (IIEF) bersama UGM mengundang mahasiswa untuk mengikuti Global Leadership Institute di New York. Persyaratan untuk mahasiswa antara lain: menjalani tahun kedua kuliah program sarjana apapun, berprestasi, memiliki IPK minimal 3,4, memiliki TOEFL institusional minimal 525, memiliki potensi untuk menjadi pemimpin, dan aktif dalam kegiatan di dalam maupun di luar kampus. Seratus mahasiswa terpilih dari berbagai universitas di dunia akan mendapatkan predikat Goldman Sach Global Leaders dan hadiah US 3.000. info lebih lanjut hubungi www.globalleadersprogram.com.

3. ASEAN UNIVERSITY NETWORK (AUN)
Setiap tahunnya AUN memberikan beasiswa kepada mahasiswa di universitas yang menjadi anggota AUN seperti Universitas Brunei Darussalam, Royal University of Phnom Penh, UI, Universiti Malaya, Universiti Sains Malaysia, De La Salla University, dan Chulalongkorn University. Informasi lebih lanjut silakan hubungi website AUN.

4. DelPHE-British Council
Info lebih lanjut hubungi di situs www.britishcouncil.org/delphe.htm

5. Beasiswa Pemerintah Russia
Beasiswa bagi mahasiswa S1, S2 (sebanyak 20 mahasiswa), S3, Post Doctoral dan para peneliti dalam berbagai bidang studi (sebanyak 5 beasiswa). Penerima beasiswa harus menyediakan uang saki sendiri minimal 150 USD per bulan dan memiliki polis asuransitidak lebih dari 200 USD, serta tiket pesawat pergi-pulang. Lamaran paling lambat diajukan bulan April. Hubungi ruscsc@dnet.net.id

6. Exchange Opportunity to University of Bern
The University of Bern offers top quality across the board: it enjoys special recognition in leading-edge disciplines, is reputed for the excellent quality of its teaching, offers a delightful setting, and a campus environment intimately linked to the social, economic and political life of the city. Universitas Gadjah Mada have an exchange agreements with The University of Bern, Switzerland in MA and PhD. UGM could send 2 (two) of its second year MA or PhD students to University of Bern each semester. The university’s comprehensive offering includes 8 faculties and some 160 institutes that date back to the XVIth century. With 13,000 students, it is of mid-range size among Swiss universities. For more information contact our site.

7. AIESEC
You can check the website for more detail

Untuk sekarang aku baru nemu ini guys. Kalo ada info, kita saling share ya. Good luck :)

Friday, April 2, 2010

Louie Buana: Karena Kita Beda Maka Indonesia ADA




Teman-teman, saya ingin sedikit berbagi cerita dengan kalian.

Hari ini saya pergi ke bioskop di Amplaz bersama saudara Farid Alwajdi untuk menonton sebuah film berjudul My Name is Khan. Sebenarnya kami sudah sejak kemarin merencanakan untuk menonton film ini, sayangnya Bli Edwin yang juga ingin gabung bersama kita ternyata mengalami kecelakaan. Mau tidak mau rencananya terpaksa kami undur, dan akhirnya saya jadi nonton juga walaupun hanya bersama saudara Farid sore hari ini.

Tidak usah berpanjang lebar, yang jelas apa yang akan saya bahas selanjutnya bukanlah mengenai sinopsis film ‘My Name is Khan’, perjalanan saya dari Bulaksumur Residence ke Amplaz, atau anjuran untuk memilih film yang bagus di tahun 2010. Yang ingin saya bagi di sini adalah apa yang saya rasakan dan pikirkan setelah menonton film tersebut.

Saya tidak bohong kalau baru beberapa menit film tersebut diputar mata saya sudah sembab. Yah... gak bermaksud lebay sih, tapi bagaimana pun juga yang membuat saya menangis adalah semacam... de javu (jika bisa dikategorikan sebagai de javu). Perasaan sedih yang sama dengan perasaan yang dirasakan oleh Khan ketika Ia harus mendapatkan pemeriksaan serta interview extra dari petugas bandara Amerika hanya karena Ia adalah seorang Muslim.

Dua tahun lalu, ketika saya tinggal di Amerika, saya sempat mengalami peristiwa yang sama. Agak konyol memang, ketika baru pertama kali tiba saya ditahan di bandara dan mendapatkan pemeriksaan extra karena nama depan saya adalah ‘Muhammad’. Yup, nama yang kedengarannya Islam banget. Apalagi saya berasal dari Indonesia. Sepatu dicopot, jaket dibuka, laptop dimasukkan ke dalam scanner terpisah, dll. Kesan pertama saya langsung buruk terhadap Amerika yang ‘Maha Kuasa’ sehingga bisa mengobok-obok privasi individu saat itu juga.


Berlanjut ke kehidupan selama di Amerika. Saya memang tidak pernah mengalami diskriminasi secara langsung selama bersekolah di sana. Setidaknya teman-teman di sana baru mengetahui ternyata saya adalah seorang Muslim menjelang kepulangan kembali ke Indonesia di tahun 2008. Yang mereka tahu adalah saya bernama Louie Buana dan anak dari sebuah keluarga imigran dari Guatemala (hahaha... yang terakhir itu benar-benar salah kaprah. Tidak ada yang percaya ketika untuk pertama kalinya saya memperkenalkan diri dari Indonesia, salah satu negara di benua Asia). Katanya kulit saya terlalu gelap untuk ‘menjadi’ orang Asia. Walhasil, mereka pun menisbatkan saya sebenarnya berasal dari Guatemala (kebetulan banyak keluarga imigran dari Guatemala yang tinggal di kota Athens). Hanya sedikit yang mengetahui bahwa saya sebenarnya adalah seorang Muslim, di antaranya adalah Unita, a clerk on Athens High School Attendance’s Office dan Mr. Read, guru di kelas American History.

Cerita berlanjut, setiap pagi di kelas American History kami diputarkan Channel One, saluran TV khusus berisi berita singkat selama 10 menit. Pagi itu (sekitar bulan Oktober kalau tidak salah) berita yang menjadi tajuk utama kebetulan adalah kisah mengenai seorang guru berkebangsaan Inggris yang ditahan di Sudan karena menamai boneka Teddy Bear yang Ia berikan kepada muridnya. Sang guru ditahan karena pelecehan agama oleh pemerintah Islam garis besar. Berita tersebut mengundang keributan di kelas saya. Beberapa orang classmates mengatakan hal-hal yang menusuk hati seperti “Islam agama yang aneh”, “I would name my Teddy Bear as Jesus and no one will arrest me in United States”, dll. Sedihnya lagi, sang guru tiba-tiba mendatangi saya dan tiba-tiba bertanya: “Will you get arrest in Indonesia if you named your Teddy Bear Muhammad, Louie?”.


Salah satu hari yang paling menyedihkan adalah 9/11. Saat itu di setiap kelas, semua orang mengadakan renungan atas peristiwa mengenaskan yang telah membunuh banyak orang serta meluluh lantakkan The Twin Towers tersebut. Sehabis renungan, semua anak bercerita apa yang terjadi dengan mereka pada hari itu, dan bagaimana respon mereka begitu mengetahui bahwa Amerika baru saja diserang oleh Islamic extremist bernama Osama bin Laden. Yang saya takutkan pun terjadi. Generasi yang lahir untuk menyaksikan peristiwa dahsyat tersebut adalah generasi yang menjadi korban dari mainstream media yang menampilkan citra Islam dan Timur Tengah secara buruk. Komentar-komentar mereka mengiris hati saya yang menjadi crypto-Muslim saat itu. Tidak ada yang sadar bahwa saya adalah seorang Muslim dan saya pun hanya bisa diam di tengah komentar mereka yang menyudutkan Islam. Sebelas September telah mengawali sebuah era baru di dunia kita. Dan yang terkena dampaknya bukan hanya orang-orang yang beragama Islam saja, namun seluruh manusia yang terlanjur tercebur di dalam globalisasi internasional.


Sebelum tinggal di Amerika, saya tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi seorang minoritas yang menjadi sorotan dunia secara blak-blakan. Tapi bukan berarti sebelumnya saya tidak dapat memahami perasaan orang-orang yang membentuk satuan terkecil dalam komposisi negara Bhinneka Tunggal Ika ini. Saya lahir di Timor-Timur, negara dengan mayoritas penduduknya beragama Katolik Roma. Saya berteman dengan kawan-kawan beragama Katolik tanpa memandang perbedaan, pun mereka menerima saya dengan ramah dan terbuka. Setelah memasuki jenjang SMP saya pindah ke Bali. Di sana sekali lagi saya berada di tengah warga yang beragama Hindu. Walaupun secara konsensus penganut Hindu Dharma di Indonesia adalah minoritas, di Pulau Dewata mereka memegang kendali nomer satu. Saya tidak pernah mengalami diskriminasi di sana, dan saya pun amat menyayangi teman-teman saya yang beragama Hindu. Sampai hari ini pun kami masih keep in touch. Amat berbeda sewaktu saya berada di Amerika, segalanya terasa aman-aman saja dan membahagiakan.

Keluarga saya sendiri amat multikultural. Ibu saya berdarah Jawa-Bugis dan ayah saya keturunan Mandar asli. Mereka berbicara dengan bahasa daerah yang berbeda dan budaya yang berbeda. Sejak kecil saya telah diajari untuk menghargai perbedaan dan mencintai kemajemukan. Berbeda itu tidak salah, yang salah adalah jika kita tidak dapat menghargai apa yang kita miliki dan mulai menyerang orang lain karena apa yang mereka miliki.

Kawan-kawan, negara kita adalah negara yang terdiri dari ratusan suku dan banyak agama. Jika kita tak dapat menghargai arti kesatuan dan persatuan dengan sepenuh hati, niscaya hanya dalam waktu 10 tahun saja tidak akan ada lagi negara berlambang Garuda yang berdaulat di muka bumi. Apa yang terjadi di negara yang menjunjung HAM seperti Amerika adalah sebuah hal yang amat disayangkan. Bukan berarti saya membenci Amerika, sejujurnya saya amat mencintai negara tersebut dengan segala kehebatan dan kemajuannya. Hari-hari saya selama tinggal di sana pun secara garis besar membahagiakan.

Amerika adalah tanah tempat keluarga, teman-teman, dan guru-guru yang saya cintai berada. Saya telah berjanji kepada mereka, suatu saat saya akan kembali ke sana, menjadi Louie yang lebih baik lagi.

Terakhir, saya mengajak teman-teman semua untuk selalu menghargai perbedaan serta memikirkan perasaan orang lain yang (baik secara psikis maupun jasmani) tidak sama dengan kita. Despite the controversy, problems, and missunderstandings that occured in this 20th Century, we shall continue to build a better future for the next generations. We shall overcome, because deep in my heart i do believe that; we shall overcome someday.