Sunday, June 23, 2013

calling back the genetics: Moorish of Spain and Malagasy of Madagascar

According to Professor Dwight Reynolds, 
"perhaps the most shocking thing in the expulsion is they were not actually expelling Arabs nor were they expelling Berbers. The huge majority of the people that were being expelled, by blood, by DNA if you will, were as Iberian as their Christian cousins in the North who were kicking them out of Peninsula".
In 2006, a proposal was made to return Spanish citizenship to the descendants of the Moriscos as an apology and acknowledgement of mistakes from the Inquisitional persecution, forced relocations, and exile. The proposal has not yet been materialized, in part due to the difficulty in safely identifying Morisco ancestry.

In 1951 Otto Christian Dahl demonstrated the close affinity of Malagasy to the Ma'anyan language in SE Kalimantan (the Indonesian part of Borneo). Thus the ancestors of the Malagasy must have migrated from Kalimantan to Madagascar. Dahl substantiates, from linguistic, cultural and historical evidence, why, how and when this migration took place. The actual time of the migration is determined by means of an inscription, partly in old Ma'anyan, found on Bangka and dated AD 686, and the Sanskrit loanwords in Malagasy, which were most likely borrowed from the Srivijaya society at that time. This dating has been further corroborated by archaeological findings of human traces in Madagascar from around AD 700. Still earlier voyages across the Indian Ocean are also discussed. In Madagascar the Ma'anyan merged with a Bantu substratum which has had a great influence on the later development of the Malagasy language.

Friday, June 21, 2013

Resensi Buku: Adrian Lapian's Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut

Adrian B. Lapian adalah seorang sejarawan yang langka. Disertasinya yang diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul “Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut” merupakan sebuah buku sejarah dengan topik unik. Sebelum buku tersebut ditulis, tidak banyak sejarawan Indonesia yang berkutat dengan unsur kelautan nusantara. Boleh dikatakan bahwa Adrian B. Lapian merupakan Bapak Sejarah Maritim Indonesia yang juga merintis studi mengenai sejarah bahari di kawasan Asia Tenggara. Tak heran jika Shaharil Talib, Guru Besar Universiti Malaya pernah menjulukinya sebagai “Nahkoda Pertama Sejarah Maritim Asia Tenggara”.
            Buku setebal 390 halaman ini adalah sumber ilmu pengetahuan berharga akan keperkasaan bahari nusantara di kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Tidak banyak yang mengetahui bahwa selain kuatnya pengamanan jalur perdagangan internasional dari dan menuju Sriwijaya atau kegemilangan armada Majapahit, Indonesia menyimpan banyak cerita tentang kejayaan di laut. Buku ini menjadi semakin unik karena bahasannya yang tak biasa: bajak laut serta sepak terjang mereka di perairan di nusantara.Di samping materi yang terbilang baru pada masa itu (disertasinya ditulis tahun 1980), Adrian juga memberikan kritik kepada rekan-rekan sesama sejarawan yang lebih suka menulis tentang Indonesia dengan menggunakan sumber-sumber asing. Ia mengutip ucapan Van Leur yang mengibaratkan metode ini dengan ‘melihat sejarah dari geladak kapal Belanda dan benteng VOC’. Di halaman pertama bukunya Ia menulis:
"...usaha untuk mendekati sejarah kepulauan ini dari dalam lebih berupa pendekatan dari ‘pedalaman’ dan sering dilupakan bahwa sejarah dari dalam juga berarti bahwa pendekatan melalui geladak kapal Pribumi dan bandar pelabuhan tidak boleh diabadikan.” 
Adrian menekankan pentingnya melihat sejarah tentang laut melalui orang-orang yang hidup dari laut itu sendiri.
            Cetakan pertama buku yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu ini muncul pada tahun 2009. Adrian membagi tulisannya menjadi enam buah bab. Di awal, Ia memaparkan kekeliruan cara pandang masyarakat awam akan “negara kepulauan”. Definisi atas negara kepulauan adalah negara laut utama yang ditaburi oleh pulau-pulau, bukan negara pulau-pulau yang dikelilingi oleh lautan. Ia membagi obyek bahasannya menjadi tiga entitas: orang laut, bajak laut, dan raja laut. Orang laut diklasifikasikan sebagai kelompok masyarakat yang hidup secara berpindah-pindah di atas perahu pada suatu kawasan perairan tertentu (sea nomads). Meskipun tidak mengenal sistem organisasi pemerintah dalam bentuk kerajaan atau negara, mereka memiliki wilayah dengan batasan-batasan “kedaulatan” yang dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Raja laut merupakan pemegang kekuasaan atas kekuatan laut dalam lingkup area tertentu. Ia memiliki kekuasaan untuk menggunakan kekerasan atas siapa saja yang memasuki wilayahnya tanpa mengindahkan peraturan yang berlaku. Terakhir, Bajak Laut diartikan sebagai kelompok pelaut yang melakukan kekerasan di daerah kekuasaan Raja Laut atau meneror kehidupan Orang Laut. Bajak Laut tidak dapat digolongkan sebagai anggota masyarakat Orang Laut, mereka juga tidak dapat dianggap sebagai pemayar kerajaan Pribumi atau kekuatan kolonial. Bajak Laut adalah kelompok yang bertindak atas kepentingan diri sendiri atau kepentingan pemimpinnya.

            Setting yang menjadi obyek bahasan dalam buku ini ialah Laut Sulawesi. Melintasi batas-batas negara yang ditetapkan oleh Indonesia, Malaysia, dan Filipina pasca kolonialisme, Laut Sulawesi bermula dari pesisir Kalimantan Timur naik ke gugus kepulauan Sulu dan Mindanao lalu turun hingga kepulauan Talaud dan Sangihe di Sulawesi Utara. Perairan tersebut memiliki sejarah yang antara satu dengan yang lainnya tak dapat dipisahkan. Adrian mendeskripsikan secara detail kondisi iklim, topografis, hingga bahasa dan sistem kebudayaan bahari yang hidup di wilayah tersebut. Ia juga menceritakan interaksi antar kelompok-kelompok etnis dan pendatang yang memasuki Laut Sulawesi hingga kedatangan penjajah asing yang dipelopori oleh Portugis dan Spanyol.  

Bagi teman-teman yang merasa bahwa ada yang perlu dibenahi dengan kondisi maritim di negeri kepulauan ini, buku "Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut" ini penting untuk dibaca. Keluasan ilmu beliau serta idealismenya akan wawasan kelautan terpapar dengan jelas dalam setiap irisan kata. Sebuah buku wajib bagi mereka yang berminat untuk mengkaji sosio-historis serta aspek geografis dari laut Nusantara kita. 

Sunday, June 16, 2013

monolog siang: tentang khalifah

Bertanya Tuhan: "apa yang sudah kamu lakukan bagi umat manusia?".
Apa ya, udah ngapain aja kita?
"Sy sdh mndpt nilai rapor bagus, menang lomba2, masuk univ terbaik, punya kerjaan bagus, bersenang2 dgn tmn2, ya Tuhan." Begitu?
"Sesungguhnya aku hendak menjadikan khalifah di permukaan bumi." Ah, iya ya. Khalifah. Sudahkah sy menjadi khalifah di permukaan bumi?
Sy trlalu sibuk ujian, skripsian, ngerjain tugas, rapat, makan2, ke mall, ke pantai & lain sebagainya utk mnjadi khalifah di permukaan bumi.
ketika mati dan kemudian ditanya Tuhan: "tugas lo jd khalifah udh terlaksana blm?", sy mungkin cuma bisa bengong.
kita yg mengejar kesuksesan, pujian, uang, popularitas lupa dgn tujuan penciptaan. tujuan yg di akhir nanti bakal ditanyakan Tuhan
"Hey manusia, lupa ya kamu dgn 'innalillahi wa innailahi rojiun?' kamu semua bakal balik ke AKU, AKU lah alpha dan omega. Udah siap blm?"
tanah yang bercampur air ini hanya akan jadi seperti tembikar yang diisi ruh belaka tanpa ada gunanya.
Jadi, apa yang akan kamu jawab ketika Tuhan bertanya: "apa yg sdh kamu lakukan utk umat manusia?"
maaf Tuhan, saya tuli. saya tidak dengar pertanyaan tadi, mohon ulangi. hidupkan saya sekali lagi agar bisa menjadi sprti yg KAU ingini.
maaf Tuhan, mata sy buta. sy tdk bisa melihat manusia selain sy. tolong hidupkan sy sekali lagi agar bisa jd khalifah yg KAU rencanakan.
seandainya terlahir kembali, ku tak ingin jadi manusia. terlalu berat proposalnya. terlalu gampang penyelewengannya.

Friday, June 14, 2013

"Kelas Eksotisme Nusantara"

*Tulisan ini sebelumnya sudah pernah saya post di facebook note

Sudah beberapa hari ini ada yang berbeda di Fakultas Hukum UGM.

Jika teman-teman (yang duduk di semester tua atas alias tahun-tahun terakhir) sudah jarang terlihat lagi di kampus, tidak demikian halnya dengan saya dan rekan Chandrawulan Hardita. Kami masih sering menampakkan batang hidung untuk mampir di perpustakaan atau sekedar berdialog kecil-kecilan tentang musik, infotainment, buku, atau apapun yang kebetulan menyelinap di kepala.

Hari senin lalu, saya sedang duduk-duduk di bangku Mahkamah bersama Chandra ketika Arif Foranto (junior kami, angkatan 2010) yang baru saja pulang dari Hong Kong untuk mengikuti perlombaan peradilan semu internasional mewujudkan dirinya. Sambil menunggu kelas, mereka berdua menemani saya yang sedang rehat dari kerjaan part-time di Kantor Urusan Internasional UGM dengan bercerita ngalor-ngidul tentang apa saja. Saat itulah saya tiba-tiba kepikiran untuk sharing terkait masalah budaya kepada kedua kolega saya ini. Ada begitu banyak hal yang saya dengar, saya baca, dan saya lihat; sayang sekali jika hal-hal berupa fakta menarik mengenai Nusantara itu hanya mengendap di dalam kepala saya tanpa dapat saya bagi dengan teman-teman lainnya.  

So, kisah pun dimulai dengan cerita saya kepada Chandra dan Arif tentang Suku Toraja di Sulawesi Selatan. Kebudayaan suku tua (Proto-Melayu) yang unik ini dapat kita telusuri dari Tongkonan (rumah adat Toraja yang atapnya berbentuk seperti perahu), passuraq alias ukiran-ukiran di dinding Tongkonan yang ternyata merupakan tulisan ala hieroglif khas nusantara, serta tradisi "membangunkan mayat" yang mengundang decak-kagum Arif. Nah, dari cerita-cerita tersebut, Arif sempat kepikiran untuk membuat semacam film petualangan fantasi yang mengambil adegan-adegan dari tradisi Suku Toraja yang mistis itu. Pembicaraan jadi semakin asyik dan mengalir, apalagi saat kami membahas keterkaitan budaya yang ada di Nusantara antara satu dengan yang lainnya.

Sayangnya pembicaraan hari itu berakhir karena Arif dan Chandra harus masuk ke kelas jam 11.00. Secara tidak tertulis kami bertiga sepakat untuk berkumpul lagi di bangku Mahkamah di dekat kantin itu esok hari pukul 10.00 untuk melanjutkan diskusi soal budaya. Dengan penuh semangat, saya menyebut diskusi kecil kami bertiga itu dengan nama "Kelas Eksotisme Nusantara."

Esok harinya, selasa, jam 10.00 pagi Arif dan Chandra sudah duduk manis di bangku Mahkamah, bahkan sebelum saya datang. Kali ini saya membawa "hadiah" untuk saudari Chandra yang sedang getol-getolnya belajar aksara Lontaraq: buku bertajuk "Worong Mporong, Lipu KupotanraE Arajang Bone". Buku ini sebenarnya adalah pinjaman dari kakanda Fery Afrisal yang sudah mengendap dua tahun di tangan saya hehe. Buku tersebut berisi banyak sekali pappasang (nasihat) dan pau-pau (cerita) dari Tanah Bone. Buku tersebut cocok untuk Chandra yang baru mengenal huruf-huruf Lontaraq, karena di setiap halaman ada tulisan lontaraq beserta Bahasa Bugisnya (dan juga arti dalam Bahasa Indonesianya).

Chandra yang sebenarnya sedang fokus belajar Bahasa Korea dan huruf-huruf Hanggeul berhasil saya buat terkagum-kagum oleh La Galigo. Setelah mendengar riwayat kondisi epos terpanjang di dunia ini sekarang, Ia jadi "gatal" ingin menekuni Lontaraq dengan harapan suatu saat nanti bisa membantu proses penerjemahan naskah La Galigo di Leiden. Arif pun demikian. Diskusi hari kedua mengenai "Sosok-Sosok Misterius" di Nusantara mulai dari Kanjeng Ratu Kidul, Supriyadi, dan bahkan para Tomanurung membuatnya yang tergila-gila dengan game dan film-film Barat merasa bahwa Indonesian culture is awesome!  Kemarin si Arif bahkan nyeletuk kalau La Galigo is the Indonesian Lord of The Rings. Selain sosok-sosok misterius yang ada di Nusantara, hari kedua ini kami juga saling berdiskusi mengenai makhluk-makhluk gaib yang hidup dalam imajinasi masyarakat Barat. Percaya nggak teman-teman kalau sebenarnya imajinasi mereka tentang burung api phoenix, manusia kate aliashobbit, kuda bertanduk satu unicorn, serta naga sebenarnya berasal dari bayangan mereka akan fauna-fauna khas Nusantara? Yep, informasi mengenai hewan gaib yang hidup di Timur, di sekitar Kepulauan Rempah-Rempah yang samar-samar mereka dapat informasinya dari para pedagang Cina inilah yang menurut Blair bersaudara di dalam buku "The Ring of Fire" memperkaya imajinasi bangsa Barat!

Aksara Lontaraq by Chandra -->

Hari rabu, seperti biasa kami berkumpul di bangku Mahkamah jam 10.00 pagi. Kali ini kami kedatangan "siswi" baru yaitu Nadia Tedianto, junior 2012 yang juga merupakan teman satu kosan Chandra. Ternyata semalam Chandra berhasil membuat Nadia penasaran dengan diskusi kami tentang betapa menakjubkannya Nusantara. Di sela-sela kuliah ia rela meluangkan waktu untuk ikutan kelas Eksotisme Nusantara. Tidak hanya Nadia, kami juga kedatangan "siswa" baru lainnya yaitu Jacko. Jacko yang sepemahaman saya begitu cintanya sama budaya Jepang ternyata bisa juga kami buat tertarik dengan budaya Nusantara. Supaakawaii!
Tema diskusi di hari ketiga adalah "Aksara Nusantara". Saya share sedikit kepada mereka materi-materi yang pernah dibawakan oleh teteh Sinta Ridwan di Heritage Camp kemarin. Pengalaman teh Sinta keliling Nusantara untuk ngumpulin data mengenai naskah kuno, pengalamannya berhadapan dengan pustaha Batak berisi racun, hingga gempa bumi yang mendadak melanda Jakarta setelah pembacaan sebuah naskah kuno berhasil mengundang decak kagum peserta Kelas Eksotisme Nusantara. Pengetahuan dari ibunda Nurhayati Rahman mengenai "kekerabatan" aksara-aksara tradisional di Indonesia pun saya paparkan secara singkat kepada teman-teman. Bentuk aksara Sunda Kuno yang mirip dengan aksara Lontaraq (bahkan dari susunan abjadnya, 'ka-ga-nga') sekali lagi membuat teman-teman tercengang. Dari 750 lebih suku bangsa di Indonesia hanya 12 saja yang memiliki aksara sebagai alat rekam sejarah sekaligus transfer ilmu. Kekayaan budaya seperti ini seharusnya menjadi kebanggaan dan dilestarikan, eh malah oleh pemerintah, pendidikan Bahasa Daerah justru akan dihilangkan! Nyebelin nggak tuh?

Aksara Sunda Kuno

Hari ini, hari keempat Kelas Eksotisme Nusantara. Jam 10.00 di bangku Mahkamah saya dan Arif menunggu Chandra. Tapi ternyata Ia datang terlambat karena mesti meminta tanda tangan ke dosen pembimbing skripsi. Akhirnya kami pun mulai tanpa Chandra karena Nadia yang terburu-buru hendak masuk kelas pun juga sudah datang. Tema hari ini adalah "Arsitektur Nusantara". Kebetulan saya baru saja membeli buku berjudul "The Living House An Anthropology Study of Architecture in Southeast Asia", sebuah buku karangan Roxana Waterson yang berisi gambar-gambar menakjubkan serta informasi bermanfaat tentang keragaman tradisi arsitektur lokal di Indonesia. Waduh, kok bisa ya di abad 20 pun masih saja sarjana Barat yang kepikiran mengumpulkan data dan membuat penemuan menarik mengenai budaya Nusantara?

Hari ini kami membahas fakta-fakta menakjubkan tentang betapa majunya pemikiran nenek moyang kita dulu sehingga membuat rumah yang eco-friendly dari kayu. Bentuk rumah adat suku-suku di Indonesia kebanyakan berupa rumah panggung, inipun karena kejeniusan nenek moyang kita dulu dalam membaca alam sekaligus memahami pemanfaatan ruang. Kami menemukan banyak hal menarik, seperti: bahwa dulu sebelum berbentuk joglo rumah adat di Pulau Jawa pun juga berbentuk seperti rumah panggung berdasarkan sebuah relief di Candi Borobudur; bahwa dulunya simbol "tanduk kerbau" memiliki makna penting pada rumah-rumah tradisional bangsa Austronesia bahkan hingga ke Thailand dan Kamboja; serta bagaimana ragam hias sulur tanaman mendominasi ornamen-ornamen rumah-rumah kayu tersebut. Hari ini begitu menyenangkan karena teman-teman dari Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa Mahkamah pun ikutan nimbrung di Kelas Eksotisme Nusantara. Di akhir kelas, kami sempat membahas singkat tentang danau purba di sekeliling Borobudur berdasarkan temuan terbaru para ahli serta pseudo-pelayaran Marcopolo ke Sumatera.

Saya bangga sekali dengan teman-teman saya ini. Meskipun kami semua berasal dari latar belakang etnis yang berbeda-beda tetapi kami sama-sama merasa terikat sebagai generasi pelestari budaya bangsa. Menjamurnya trend mempelajari budaya serta bahasa asing tidak selantasnya kemudian membuat kami melupakan khazanah peradaban nenek moyang sendiri, bukan? Justru dengan menjadi anak muda yang berwawasan internasional namun memiliki akar budaya yang kuat, kita mampu menghadapi kejamnya pertarungan di ajang globalisasi.

Siapa bilang Indonesia nggak keren? Yuk ikutan kelas Eksotisme Nusantara kami dan buktikan sendiri ;)

Chandra says: "Dad aku gak tau lagi deh kayaknya bakal jadi pemerhati budaya bgt. Krn after I heard lots bout it makin keranjingan!"

Arif says: "Can't hardly wait for another awesome tales!"

28 Maret 2013
Yogyakarta

Friday, June 7, 2013

Buraq dari India (yang tidak Islami) dan Buraq dari Jerman (yang jauh lebih Islami)

[REPORTASE SPESIAL ISRA’ MI’RAJ]

Setiap tahun, pada peringatan hari suci macam Isra’ Mi’raj, kita pasti disuguhi dengan cerita mengenai kendaraan yang membawa Nabi Muhammad melakukan perjalanan malam dari Mekkah ke Masjidil Aqsha (Yerusalem) dan Sidratul Muntaha (langit ketujuh). Yup, hewan yang di dalam literatur shahih disebut dengan nama buraq (yang berarti “kilat”) ini berbentuk seperti campuran antara baghal (anak keledai) dan kuda, berwarna putih bagai salju, serta memiliki sayap. Tidak ada detail lain tentang mahluk ini selain bahwa kecepatannya benar-benar “sejauh mata memandang”.
Yang jadi pertanyaan kemudian, mengapa dalam banyak literatur yang memuat kisah Isra’ Miraj Nabi Muhammad dengan tunggangan bernama buraq ini digambarkan seperti berikut:
Ilustrasi Nabi Muhammad menaiki buraq dalam sebuah kitab Persia
gambar-ulang dari sebuah poster buraq tahun 1990 di India oleh Ravi Varma Press
Mahluk dengan sayap burung, berkepala perempuan, bermahkota, dan terkadang digambarkan pula berekor seperti bulu merak. Dari mana datangnya deskripsi-deskripsi seperti ini? Guru ngaji saya waktu kecil pernah bercerita bahwa gambar-gambar tersebut adalah "propoganda Yahudi" untuk menjelek-jelekkan citra Sang Nabi yang seorang ‘polygamist’. Caranya ya dengan  memasang wajah perempuan sebagai tunggangannya.
Benarkah demikian? Selidik punya selidik ternyata budaya menggambarkan buraq dengan wajah perempuan sudah ada sejak abad ke-15, bahkan sudah muncul di dalam buku-buku bergambar Persia yang jauh lebih awal lagi. Konon bentuk buraq yang seperti ini adalah pinjaman dari kebudayaan India (Hindu) ketika Islam memasuki Anak Benua. Agama Islam meminjam ikon dari budaya lokal agar dapat menarik perhatian pribumi. Metode psikologis ini juga dapat kita temukan di Nusantara, terutama pada zaman para wali, metode kreatif agar dakwah mereka dalam menyiarkan Islam terhindar dari kesan asing bagi masyarakat lokal. Tidak percaya? Nih buktinya ada patung “buraq” yang ternyata merupakan sejenis “kamadhenu” alias mahluk nirwana yang berkepala wanita, berbadan sapi dan bersayap burung dalam mitologi Hindu.
Uniknya, di saat imaji “buraq berkepala wanita” populer di kalangan dunia Muslim seperti di Iran, Turki, Asia Tengah, India, Pakistan dan bahkan Indonesia, Jerman yang jelas-jelas bukan negara dimana Islam pernah berpengaruh dalam kehidupan warganya justru menangkap gambar buraq dengan akurasi sesuai dengan gambaran hadis.
Di bawah ini adalah contoh gambar Sang Nabi yang sedang bersama malaikat Jibril menaiki “Tangga Yakub” menuju ke Sidratul Muntaha, tentu saja dengan menunggangi buraq. Buraq digambarkan dengan begitu sederhana: seekor kuda putih kecil yang bisa terbang. Terlepas dari kontroversi bahwa Sang Nabi ‘digambar dengan wajah’ pada ilustrasi di bawah ini, point-nya adalah: buraq karya pelukis Jerman jauh lebih “islami” dibandingkan buraq dari dunia Muslim itu sendiri.
Saya pribadi sih tidak punya masalah dengan kedua pencitraan buraq di atas. Bagi saya sebenarnya buraq yang dipengaruhi oleh tradisi Hindu merupakan bukti akulturasi budaya ketika Islam menyebar di Anak Benua ratusan tahun yang lalu. Sebagian orang (seperti guru ngaji saya) mungkin saja akan berjengit melihat gambar yang menurutnya menistakan itu, tapi jika dipahami dari kacamata seni dan filosofi secara lebih dalam, sebenarnya kemunculan imaji buraq India tersebut jauh dari niatan blasphemy atau penistaan akidah.
Demikian pula halnya dengan buraq versi Jerman (yang sebenarnya adalah bagian dari sebuah kartu iklan berseri untuk makanan). Sederhana, tapi mengena, sesuai gambaran hadis. Si pelukis yang pada zaman itu belum mengenal google kemungkinan mengambil referensi tentang Isra’ Mi’raj langsung dari hadis-hadis terkait, tanpa menilik ke tradisi kaum Muslimin di berbagai belahan dunia. Dua-duanya tidak salah, sama-sama memiliki dalil interpretasi di dalam menggambarkan buraq.
Oh well, itulah indahnya melihat dengan berbagai sudut pandang. Isra’ Mi’raj yang di kampung saya di Sulawesi Selatan disebut dengan nama “Mammeraje” alias hari me-Mi’raj dirayakan oleh tradisi yang jelas-jelas tidak ada dalam ketentuan Islam seperti barazanji alias sholawat dan pembacaan kisah Sang Nabi dalam campuran Bahasa Arab dan Bugis. Mammeraje seakan mengingatkan kita semua bahwa “untuk berislam itu tidak harus dengan menjadi Arab.” Yup, itulah yang sering dilupakan oleh banyak kaum Muslim hari ini. Kalau belum jenggotan dan bercelana gantung rasanya belum Islam. Di lain pihak, perayaan Tabuik di Pariaman, Sumatera Barat yang mengarak semacam "ogoh-ogoh" berbentuk buraq dianggap bid'ah, syirik oleh golongan yang ke-Arab-Araban. Event budaya itu mereka hakimi sebagai sebuah perayaan sesat karena bagi mereka tabuik adalah bagian tradisi Islam Syi'ah, sebab dilaksanakan pada setiap tanggal 10 Muharram dalam rangka memperingati wafatnya Imam Husein di Padang Karbala. Hey, who are we to judge that our Muslim brother, the Shiites are infidels? Kenapa sih kita hobi banget mendogma seseorang itu sesat?

Lagipula, logisnya tanpa kehadiran penyiar-penyiar Islam Syiah di Nusantara, mungkin agama Islam tidak akan masuk dan diterima oleh masyarakat pribumi di Pariaman. Jadi kenapa malah harus dibenci?

Kembali ke topik utama: bagaimana kah gambaran kita di Indonesia terhadap mahluk bernama buraq ini? Wow, bahkan lebih mengejutkan, lebih heboh serta (dari kacamata kaum orthodox) jauh lebih sensasional ketimbang buraq India. Di Aceh terdapat ilustrasi yang menggambarkan buraq sebagai seekor hewan campuran antara manusia (pria berkumis!), burung, kuda dan entah Tuhan yang tahu apa lagi. Buraq Aceh ini dihiasi oleh ornamen-ornamen meriah yang hanya bisa dikalahkan oleh eksentriknya Lady Gaga. Mengutip tulisan Sonia Kolesnikov-Jessop di The New York Times terkait penggambaran tersebut:

In a watercolor painting now on display at the Asian Civilizations Museum in Singapore, the Buraq is wearing Dutch clogs on its hooves along with traditional Southeast Asian gelang kaki anklets. The beast carries Islamic royal regalia in a canopy on its back, while two flying birds, similar to a Chinese phoenix, hover above him. To his side, there is a palm tree reminiscent of the Tree of Life motif, which is commonly found in Southeast Asian cultures.

Such an eclectic range of multicultural detail is unusual, especially in a painting that dates from the early 20th century. But this lively watercolor was painted in Aceh, on the island of Sumatra, and such details mirror the various cross-cultural influences on the Indonesian island for more than 2,500 years.

Inilah dia buraq oleh Teuku Teungan Aceh:

Singa dan buraq di lambang baru provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Buraq dalam Upacara Tabuik di Pariaman
Jangan cuma lihat fisiknya, lihat pesan yang tersimpan di balik ikonografi buraq ini. Ada pesan perdamaian di dalamnya. Pesan bahwa unsur-unsur asing bisa saling bertemu dan mencapai titik keharmonisan bersama dalam sebuah agama. Lewat buraq kita diantar untuk naik satu jenjang spiritualitas yang lebih tinggi dari pada sekedar membaca agama dengan cara pandang awam: belajar menerima perbedaan!