Friday, June 7, 2013

Buraq dari India (yang tidak Islami) dan Buraq dari Jerman (yang jauh lebih Islami)

[REPORTASE SPESIAL ISRA’ MI’RAJ]

Setiap tahun, pada peringatan hari suci macam Isra’ Mi’raj, kita pasti disuguhi dengan cerita mengenai kendaraan yang membawa Nabi Muhammad melakukan perjalanan malam dari Mekkah ke Masjidil Aqsha (Yerusalem) dan Sidratul Muntaha (langit ketujuh). Yup, hewan yang di dalam literatur shahih disebut dengan nama buraq (yang berarti “kilat”) ini berbentuk seperti campuran antara baghal (anak keledai) dan kuda, berwarna putih bagai salju, serta memiliki sayap. Tidak ada detail lain tentang mahluk ini selain bahwa kecepatannya benar-benar “sejauh mata memandang”.
Yang jadi pertanyaan kemudian, mengapa dalam banyak literatur yang memuat kisah Isra’ Miraj Nabi Muhammad dengan tunggangan bernama buraq ini digambarkan seperti berikut:
Ilustrasi Nabi Muhammad menaiki buraq dalam sebuah kitab Persia
gambar-ulang dari sebuah poster buraq tahun 1990 di India oleh Ravi Varma Press
Mahluk dengan sayap burung, berkepala perempuan, bermahkota, dan terkadang digambarkan pula berekor seperti bulu merak. Dari mana datangnya deskripsi-deskripsi seperti ini? Guru ngaji saya waktu kecil pernah bercerita bahwa gambar-gambar tersebut adalah "propoganda Yahudi" untuk menjelek-jelekkan citra Sang Nabi yang seorang ‘polygamist’. Caranya ya dengan  memasang wajah perempuan sebagai tunggangannya.
Benarkah demikian? Selidik punya selidik ternyata budaya menggambarkan buraq dengan wajah perempuan sudah ada sejak abad ke-15, bahkan sudah muncul di dalam buku-buku bergambar Persia yang jauh lebih awal lagi. Konon bentuk buraq yang seperti ini adalah pinjaman dari kebudayaan India (Hindu) ketika Islam memasuki Anak Benua. Agama Islam meminjam ikon dari budaya lokal agar dapat menarik perhatian pribumi. Metode psikologis ini juga dapat kita temukan di Nusantara, terutama pada zaman para wali, metode kreatif agar dakwah mereka dalam menyiarkan Islam terhindar dari kesan asing bagi masyarakat lokal. Tidak percaya? Nih buktinya ada patung “buraq” yang ternyata merupakan sejenis “kamadhenu” alias mahluk nirwana yang berkepala wanita, berbadan sapi dan bersayap burung dalam mitologi Hindu.
Uniknya, di saat imaji “buraq berkepala wanita” populer di kalangan dunia Muslim seperti di Iran, Turki, Asia Tengah, India, Pakistan dan bahkan Indonesia, Jerman yang jelas-jelas bukan negara dimana Islam pernah berpengaruh dalam kehidupan warganya justru menangkap gambar buraq dengan akurasi sesuai dengan gambaran hadis.
Di bawah ini adalah contoh gambar Sang Nabi yang sedang bersama malaikat Jibril menaiki “Tangga Yakub” menuju ke Sidratul Muntaha, tentu saja dengan menunggangi buraq. Buraq digambarkan dengan begitu sederhana: seekor kuda putih kecil yang bisa terbang. Terlepas dari kontroversi bahwa Sang Nabi ‘digambar dengan wajah’ pada ilustrasi di bawah ini, point-nya adalah: buraq karya pelukis Jerman jauh lebih “islami” dibandingkan buraq dari dunia Muslim itu sendiri.
Saya pribadi sih tidak punya masalah dengan kedua pencitraan buraq di atas. Bagi saya sebenarnya buraq yang dipengaruhi oleh tradisi Hindu merupakan bukti akulturasi budaya ketika Islam menyebar di Anak Benua ratusan tahun yang lalu. Sebagian orang (seperti guru ngaji saya) mungkin saja akan berjengit melihat gambar yang menurutnya menistakan itu, tapi jika dipahami dari kacamata seni dan filosofi secara lebih dalam, sebenarnya kemunculan imaji buraq India tersebut jauh dari niatan blasphemy atau penistaan akidah.
Demikian pula halnya dengan buraq versi Jerman (yang sebenarnya adalah bagian dari sebuah kartu iklan berseri untuk makanan). Sederhana, tapi mengena, sesuai gambaran hadis. Si pelukis yang pada zaman itu belum mengenal google kemungkinan mengambil referensi tentang Isra’ Mi’raj langsung dari hadis-hadis terkait, tanpa menilik ke tradisi kaum Muslimin di berbagai belahan dunia. Dua-duanya tidak salah, sama-sama memiliki dalil interpretasi di dalam menggambarkan buraq.
Oh well, itulah indahnya melihat dengan berbagai sudut pandang. Isra’ Mi’raj yang di kampung saya di Sulawesi Selatan disebut dengan nama “Mammeraje” alias hari me-Mi’raj dirayakan oleh tradisi yang jelas-jelas tidak ada dalam ketentuan Islam seperti barazanji alias sholawat dan pembacaan kisah Sang Nabi dalam campuran Bahasa Arab dan Bugis. Mammeraje seakan mengingatkan kita semua bahwa “untuk berislam itu tidak harus dengan menjadi Arab.” Yup, itulah yang sering dilupakan oleh banyak kaum Muslim hari ini. Kalau belum jenggotan dan bercelana gantung rasanya belum Islam. Di lain pihak, perayaan Tabuik di Pariaman, Sumatera Barat yang mengarak semacam "ogoh-ogoh" berbentuk buraq dianggap bid'ah, syirik oleh golongan yang ke-Arab-Araban. Event budaya itu mereka hakimi sebagai sebuah perayaan sesat karena bagi mereka tabuik adalah bagian tradisi Islam Syi'ah, sebab dilaksanakan pada setiap tanggal 10 Muharram dalam rangka memperingati wafatnya Imam Husein di Padang Karbala. Hey, who are we to judge that our Muslim brother, the Shiites are infidels? Kenapa sih kita hobi banget mendogma seseorang itu sesat?

Lagipula, logisnya tanpa kehadiran penyiar-penyiar Islam Syiah di Nusantara, mungkin agama Islam tidak akan masuk dan diterima oleh masyarakat pribumi di Pariaman. Jadi kenapa malah harus dibenci?

Kembali ke topik utama: bagaimana kah gambaran kita di Indonesia terhadap mahluk bernama buraq ini? Wow, bahkan lebih mengejutkan, lebih heboh serta (dari kacamata kaum orthodox) jauh lebih sensasional ketimbang buraq India. Di Aceh terdapat ilustrasi yang menggambarkan buraq sebagai seekor hewan campuran antara manusia (pria berkumis!), burung, kuda dan entah Tuhan yang tahu apa lagi. Buraq Aceh ini dihiasi oleh ornamen-ornamen meriah yang hanya bisa dikalahkan oleh eksentriknya Lady Gaga. Mengutip tulisan Sonia Kolesnikov-Jessop di The New York Times terkait penggambaran tersebut:

In a watercolor painting now on display at the Asian Civilizations Museum in Singapore, the Buraq is wearing Dutch clogs on its hooves along with traditional Southeast Asian gelang kaki anklets. The beast carries Islamic royal regalia in a canopy on its back, while two flying birds, similar to a Chinese phoenix, hover above him. To his side, there is a palm tree reminiscent of the Tree of Life motif, which is commonly found in Southeast Asian cultures.

Such an eclectic range of multicultural detail is unusual, especially in a painting that dates from the early 20th century. But this lively watercolor was painted in Aceh, on the island of Sumatra, and such details mirror the various cross-cultural influences on the Indonesian island for more than 2,500 years.

Inilah dia buraq oleh Teuku Teungan Aceh:

Singa dan buraq di lambang baru provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Buraq dalam Upacara Tabuik di Pariaman
Jangan cuma lihat fisiknya, lihat pesan yang tersimpan di balik ikonografi buraq ini. Ada pesan perdamaian di dalamnya. Pesan bahwa unsur-unsur asing bisa saling bertemu dan mencapai titik keharmonisan bersama dalam sebuah agama. Lewat buraq kita diantar untuk naik satu jenjang spiritualitas yang lebih tinggi dari pada sekedar membaca agama dengan cara pandang awam: belajar menerima perbedaan!

No comments: