Monday, January 20, 2014

Delft dan Misteri Mutiara Laut Selatan

Selama 17 hari tinggal di negeri Belanda, saya banyak menjelajahi tempat-tempat yang menarik dan bertemu dengan orang-orang yang tak kalah pula menariknya. Meskipun menghabiskan lebih banyak waktu di kota Leiden, saya menyempatkan diri untuk berkeliling kota-kota lain yang punya ciri khasnya masing-masing seperti Den Haag, Amsterdam, Haarlem, Maastrich, Utrecht, Volendam, Hoorn, Middelburg, dan tentu saja Delft.


Delft? Pernah dengar nama ini sebelumnya? Nama Delft jelas kalah famous dibanding kota-kota besar di Belanda. Delft tidak se-metropolitan Amsterdam, se-modern Rotterdam, maupun se-rame Leiden. Impresi pertama saya ketika tiba di stasiun kereta kota Delft (yang waktu itu sedang direnovasi, sehingga lumayan ribet mencari pintu/tangga keluarnya) adalah: "Gini kali ya 'Klaten atau Pangkep'-nya Belanda". Akan tetapi, ada beberapa faktor yang membuat nama Delft seistimewa Volendam sebagai kotanya turis-turis asing di Belanda.
Jody dan Ucup, dua orang anggota
La Galigo Music Project yang jadi
"penghuni kota Delft"
Delft, sebelumnya pernah saya dengar sebagai tempat peristirahatan terakhir raja-raja Belanda zaman dahulu. Maksudnya, tempat dimana dikuburkannya mereka. Kota ini juga terkenal dengan industri keramik biru. Keramik biru inilah yang kemudian menjadi ikon suvenir Belanda, selain tentunya keju dan bunga tulip. Keramik Delft dengan warna birunya yang khas itu muncul dalam beragam bentuk: ada miniatur kincir angin, sepatu clog, dua anak kecil yang saling berciuman, hingga sapi. Saking terkenalnya keramik Delft ini, sampai-sampai kemanapun saya pergi di Belanda, toko suvenirnya pasti memajang tulisan "Delft Blue Ceramics". Otentisitas serta pamor Delft dalam hal ini memang sudah tidak diragukan. Ibarat kata, tidak afdhol datang ke Belanda sebelum membeli sebongkah keramik biru Delft sebagaimana halnya orang yang datang ke Yogyakarta tanpa membeli oleh-oleh bakpia. 

Bicara tentang Delft, selain keramik birunya saya jadi ingat dengan Azzam Santosa. Azzam adalah seorang putra Indonesia totok yang lahir dan besar di kota ini. Si Azzam sekarang bersekolah di Erasmus University Rotterdam, akan tetapi domisili keluarganya tetap di kota Delft. Saya amat salut kepada pemuda berusia 19 tahun ini karena meskipun jauh dari tanah air ia memiliki rasa nasionalisme yang tinggi serta terus update dengan perkembangan di tanah air. Tidak hanya itu, saat ini ia bahkan menduduki jabatan sebagai Sekretaris di PPI Belanda. Pemuda yang mengidolakan sosok Bung Hatta ini pun terus mengasah kemampuannya berbahasa Indonesia tanpa malu-malu. Mengagumkan! Sayang sekali sewaktu saya dan Ran berkunjung ke Delft untuk menengok Ucup, Jody dan Gendon, Azzam sedang berwisata bersama teman-temannya ke Swedia. 

Oke, lanjut ceritanya ya. Sambil berjalan-jalan di Centrum alias pusat kota Delft yang mirip dengan alun-alun di kota-kota besar di Pulau Jawa, saya bergumam, oh jadi dari kota kecil inilah Azzam tumbuh dan besar. Suasana kotanya yang tenang, arsitekturnya (saya amat menyukai ornamen-ornamen di Nieuwe Kerk dan Stadhuis alias Balaikota) yang tetap menjaga spirit medieval membuat kota klasik ini nyaman dijadikan hunian. Setidaknya, sahabat saya si Ucup sampai bercita-cita untuk tinggal di Delft dan membuka toko kecil di sini, hehehe. Oh ya, hampir di setiap kota yang saya kunjungi di Belanda, stasiun kereta api (Centraal) itu letaknya tidak terlalu jauh dari Centrum. Dan hampir bisa dipastikan di sebelah Centrum pasti ada Stadhuis dan Groete Markt alias pasar, dan juga gereja utama kota tersebut. Unik ya! Konon kota-kota di Indonesia dulunya juga sudah dirancang seperti demikian akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, pembangunan yang tidak teratur membuat tata kota jadi amburadul.
Ran dan Louie, mejeng di sebelah Stadhuis. Di seberang kami tampak Nieuwe Kerk Delft
Anyway. Nah, begitu menginjakkan kaki di toko-toko suvenir yang berserakan di sekeliling Centrum, saya terkejut menyaksikan kartu pos-kartu pos yang dipajang oleh si empunya toko. Lukisan seorang gadis yang mengenakan "surban model Eropa" -dengan wajah menengadah ke arah orang yang melihatnya- menghiasi hampir seluruh kartu pos. Tidak hanya itu, wajah gadis itu pun dilukis pula di atas keramik dengan warna biru yang menjadikannya sebagai salah satu oleh-oleh favorite dari kota Delft.

Saya tercengang, menganga dalam kehampaan selama sekian detik. Lukisan sang gadis seketika membawa ingatan saya mundur kembali ke tahun 2010. Saat itu sedang liburan semester tiga dan saya pulang ke rumah orang tua di Makassar. Di rumah, sambil leyeh-leyeh malas dan berguling-guling manja, saya membuka laptop kakak dan menemukan sebuah film berjudul "Girl with Pearl Earrings". Film keluaran tahun 2003 ini mencatut Scarlet Johansson sebagai pemeran utama wanitanya. Berhubung saya suka dengan film-film yang berbau sejarah maupun kerajaan-kerajaan masa lalu, maka dengan senang hati saya pun menontonnya.

Okay, no-spoiler. Bagi yang belum nonton, monggo ditonton dulu ya hehehe. Kembali ke Delft. Ketika saya bertanya kepada ibu-ibu penjaga toko mengapa lukisan gadis yang berjudul "Girl with Pearl Earrings" (GPE) itu ada dimana-mana di kota ini, sang ibu dengan lugas menunjuk ke seberang jalan dari jendela tokonya.
"Itu rumah Jan Vermeer, di seberang jalan. Vermeer adalah pelukis terkenal asal kota Delft yang membuat lukisan GPE ini." 
Seketika itulah saya terkesiap. Wah gila, saya berada tepat di seberang jalan sebuah tempat yang menjadi latar sejarah dari sebuah film yang pernah saya tonton beberapa tahun yang lalu :D

Lukisan GPE yang diciptakan pada tahun 1665 ini menjadi terkenal selain karena teknik melukis Jan Vermeer yang luarbiasa juga dikarenakan oleh misteri yang tersimpan di dalamnya. Kira-kira mirip dengan misteri yang menyelubungi lukisan Monalisa karya Da Vinci lah. Sampai hari ini para pemerhati seni belum sepakat menentukan siapakah sosok gadis yang dilukis oleh Vermeer. Sebagian ada yang memprediksi sang gadis sebagai istri Vermeer, anak perempuan sulungnya, dan bahkan salah seorang pembantu mudanya (lihat http://www.essentialvermeer.com/catalogue/girl_with_a_pearl_earring.html). Ketika para sejarawan seni itu sibuk membahas sosok yang menjadi model lukisan hingga maksud dari ekspresi sang gadis yang kelihatannya ambigu itu, saya justru tertarik kepada anting-anting mutiara yang ia kenakan.
Het Meisje met Parel alias Girl with Pearl Earrings
Anting-anting mutiara di lukisan GPE merupakan salah satu mutiara terbesar yang pernah saya lihat. Mutiara ini berbentuk seperti tetesan air (berarti dalam proses pembuatannya menjadi sebuah anting-anting bentuk aslinya telah sedikit dipoles) dan berwarna putih keperak-perakan. Ketika banyak orang yang skeptis bahwa mutiara tersebut benar-benar nyata (mereka menganggap bahwa Vermeer berimajinasi dalam menggambarkan anting mutiara tersebut) saya justru optimis bahwa mutiara yang dijadikan model di dalam lukisan tersebut benar-benar nyata. Dan hampir 100% yakin mutiara tersebut adalah Mutiara Laut Selatan (Southern Sea Pearl) yang sejak zaman VOC hingga hari ini menjadi primadona dunia.

Jadi begini. Jan Vermeer melukis GPE di kala Belanda tengah memasuki zaman keemasannya. Perdagangan melaju pesat (terima kasih kepada Hindia Timur dan Hindia Barat), Belanda telah merdeka dari cengkraman Spanyol, semua orang bebas memeluk agama masing-masing serta mengeluarkan pendapat, dan kreatifitas para seniman pun berkembang bak tulip di musim semi. Di masa itu, selain bumbu-bumbu dapur, hampir setiap komoditas yang berasal dari Hindia Timur berharga mahal karena cost pelayaran yang mahal serta karena dianggap eksotis. Bahkan burung-burung yang berasal dari daerah tropis seperti nuri dan kakatua dikoleksi oleh kalangan atas hanya demi prestise "benda ini dari Hindia lho". Nah, mutiara tentu saja merupakan salah satu koleksi yang tidak mungkin luput dari mata siaga VOC.
Rumah Vermeer
(http://www.essentialvermeer.com/delft/delft_today/oude_langendijck.html)
Berdasarkan informasi dari Wikipearl, Mutiara Laut Selatan (MLS) tergolong jenis mutiara terbesar sekaligus terlangka di dunia! Mutiara ini berasal dari sejenis kerang bernama Pinctada maxima yang hanya dapat ditemukan di perairan Australia Utara hingga ke Laut Cina Selatan. Diameter mutiara ini berkisar antara 9 mm hingga 20 mm. Sekitar tahun 1500-an, di Indonesia, Australia, Myanmar dan Filipina mutiara ini banyak dibudidayakan. Berhubung hanya dapat ditemukan di area Laut Selatan, maka bangsa Eropa  mengetahui keberadaan mutiara jenis ini baru pada abad ke-16 dan ke-17, tepatnya saat bendera VOC juga sedang berkibar di samudera. Mata orang-orang Eropa ini membelalak kaget melihat ukuran MLS, dan sejak saat itu MLS pun memasuki daftar dagangan di pasar global. Permintaan dunia yang tinggi terhadap MLS menyebabkan nyaris punahnya kerang Pinctada maxima di abad ke-18 dan ke-19. Hari ini, MLS dapat ditemukan di perairan Bali, Lombok, Sumbawa dan Papua.

Wah, menarik sekali. Dari sebuah kota kecil bernama Delft, dari sebuah lukisan yang dihasilkan oleh putra terbaik Belanda, saya menemukan cerita tentang kekayaan tanah air Indonesia. Mulai saat ini, jika berkunjung ke Delft, mungkin ingatan saya tidak akan lagi mengasosiasikannya dengan keramik biru atau patung Hugo Groot yang terpajang penuh kebanggaan di Centrum. Secercah sejarah tentang betapa berharganya keanekaragaman hayati Indonesia yang patut dijaga oleh generasi mudanya hari ini yang mungkin akan terlintas tiap kali menatap lukisan GPE.

Salam,
Makassar, 20 Januari 2014

1 comment:

Muhammad Yusuf said...

Loe udah berhasil bikin gue menitikkan air mata kerinduan akan Delft... Tulisan yg punya arti dan kenangan yg kuat. Delft is an unstopable momentum.