Sunday, December 27, 2015

Di antara dua Maulid, di antara dua Natal

Hari Natal, dalam versi kaum liberal dan pasar yang kapitalis, sering kali diasosiasikan dengan hadiah. Kado yang dibungkus berwarna-warni, ditumpuk di bawah pohon cemara serta berkotak-kotak coklat dan segala hal yang manis-manis lainnya untuk anak-anak. Terlepas dari derita kaum pengidap diabetes akan betapa tingginya kadar gula di hari itu, Natal akan selalu diingat karena rasanya yang manis.

Sebenarnya di Belanda sendiri Natal tidak melulu identik dengan gula. Buktinya buah jeruk juga pernah masuk ke dalam list hadiah yang dibawakan oleh Sinterklaas kepada anak-anak, sebagaimana diabadikan oleh pelukis asal Leiden, Jan Steen di lukisannya yang berjudul "Het Sint Nicolaas-feest". Keras dugaan saya, selain tentu saja karena kadar vitamin C yang dikandung jeruk sangat dibutuhkan oleh tubuh yang tengah berjuang melawan winter, jeruk dipilih juga karena rasanya yang manis. Gl├╝hwein yang hangat juga diberi kayu manis agar terasa manis, bukan? At the end, yang manis-manis kembali jadi tema besar Natal, dan ia hadir dalam berbagai rupa.

Het Sint Nicolaasfeest, Jan Steen

Natal bagi saya yang besar di tengah lingkungan yang mayoritas muslim adalah hari kelahiran seseorang yang amat penting pula. Isa Almasih alias Yeshua alias Yesus Kristus, dengan nama Arab atau nama Yahudi atau nama Latin anda mengenalnya, lahir ke dunia melalui perantaraan seorang perawan bernama Maria alias Maryam. Isa ini di daftar orang-orang terpilih sebagai utusan Tuhan dalam Alquran punya kedudukan yang istimewa. Tidak saja ia menjadi bukti (ayat) kemahakuasaan Tuhan di muka bumi karena lahir tanpa bapak, ia juga dijuluki sebagai Ruh Allah disebabkan karena ia muncul di dalam rahim Maryam langsung dari tiupan Ruh Kudus. Ia juga dijuluki sebagai Almasih atau Juru Selamat karena bagi pemeluk agama Nasrani dan Islam kelak Yesus akan turun kembali ke dunia untuk menyelamatkan seluruh umat manusia sebelum Hari Pengadilan tiba. Terakhir, ia dipanggil pula dengan nama "Isa Putra Maryam" berulang kali oleh Alquran untuk menegaskan hubungan dengan sang ibu. Maryam memperoleh kedudukan yang istimewa dalam tradisi Islam sudah pernah saya bahas sebelumnya dan penghormatan terhadap beliau pun juga bukan hal yang baru karena ia menjadi simbol kasih sayang, pengorbanan, kecendikiaan serta keberanian di dalam Alquran.

Yesus adalah kado Natal terbaik yang pernah diterima oleh dunia ini. Ia merupakan Firman Tuhan yang mewujud, menjadi manusia untuk menyelamatkan umat manusia lainnya. Kalimat Firman (logos) yang jadi pembuka Injil Yohanes juga dimiliki oleh buku suci kaum muslim di dunia ini, "Kalimatullah" atau Yesus sebagai Kalimat (firman) Allah. Alquran menegaskan bahwa apabila Allah berkehendak maka Ia cukup berfirman "kun!" (Jadilah), maka jadilah apapun yang Ia kehendaki itu. Melalui perantaraan Ruhul Kudus (Islam mengkategorikan malaikat Allah, dalam hal ini ialah Jibril alias Gabriel sebagai roh kudus) untuk membawa Firman-Nya tersebut serta meniupkannya ke rahim si Perawan Maria. Maryam diceritakan begitu terkejut bahkan sempat bertanya kepada Jibril yang mewujud dalam bentuk seorang pria "Bagaimana mungkin aku dapat mengandung sedangkan aku saja belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun?". Jawaban selanjutnya mengantarkan kita kepada Kuasa Tuhan serta keinginan-Nya untuk mengistimewakan Maryam dari seluruh perempuan lain di muka bumi ini untuk mengemban misi besar penyelamatan.

Yesus juga adalah kado Natal terbaik bagi kaum muslimin. Kehadiran Yesus di dalam doktrin Islam ialah untuk menyiapkan jalan bagi kemunculan Nabi Muhammad. Yesus mengingatkan akan lahirnya seorang Nabi yang akan menjadi segel terakhir dari para nabi sebelum Hari Tuhan Yang Besar tiba. Tanpa kehadiran Yesus untuk mengawali jalan takdir Muhammad, maka Sang Nabi tak akan pernah lahir. Muhammad sendiri begitu mencintai Yesus hingga pada salah satu hadithnya ia pernah bersabda bahwa seluruh nabi utusan Allah saling bersaudara dengan ia dan Yesus sebagai saudara yang paling dekat karena ia diutus sebelum dirinya. Seandainya kedua pribadi ini hidup di suatu timeline waktu yang sama, saya yakin mereka berdua akan berkawan mengingat inti ajaran yang mereka bawakan pada dasarnya serupa.


Tahun ini kita merayakan Maulid Nabi atau kelahiran Nabi Muhammad pada tanggal 24 Desember 2015. Dua hari maulid, dua hari natal yang kedua-duanya punya arti yang sama: kelahiran. Maulid atau natal dari dua orang besar di Timur Tengah yang pengaruhnya mampu merubah arah perjalanan sejarah dunia. Perang Salib dan perang-perang peradaban lainnya telah membuat kedua agama yang dibawakan oleh kedua representatif Allah di muka bumi ini saling berhadap-muka dengan wajah yang garang. Sangat jauh dari bayangan kita akan Bapa yang Maha Pengampun sebagaimana disabdakan Yesus maupun Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang seperti yang wajib diucapkan oleh Muhammad saat ia memulai doanya. 

Repetisi kepahitan yang timbul karena egoisme manusia untuk kemudian mencampuraduk agama dengan kepentingan politik dan ekonomi membuat Yesus semakin jauh dari umat Islam dan Muhammad semakin tidak dikenal di kalangan Nasrani. Hari ini bagi sebagian penganut agama masing-masing, Muhammad adalah ISIS yang meneror dunia sedangkan Yesus adalah Vatikan yang skandalis dan korup. Di tengah menyedihkannya prejudice yang kita miliki terhadap sesama umat beragama, momentum kelahiran dua orang suci ini harusnya mampu membuat kita memahami bahwa ada hal-hal besar tentang kemanusiaan yang diajarkan oleh keduanya selain hal-hal mengenai doktrin khas agama masing-masing. Segelintir umat Islam contohnya tidak mau mengucapkan "Selamat Natal" hanya karena takut akidahnya akan terlukai. Yesus adalah Firman Tuhan dan Muhammad adalah Kekasih Tuhan, mengapa kita melupakan Tuhan yang Satu dan mengkotak-kotakkan perbedaan yang sejatinya sudah eksis bahkan tanpa perlu dibuat-buat lagi? Baik Islam maupun Kristen keduanya sama-sama mengajarkan kasih Tuhan, kebaikan kepada sesama dan pengampunan. Melalui kedua hal ini harusnya manusia yang beragama mampu menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Pada peralihan malam dari 24 menuju ke 25, saya berdoa kepada Tuhan. Tuhan yang satu, tanpa embel-embel Tuhannya Islam atau Tuhannya Kristen, yang jelas saya berdoa kepada Tuhan yang selama 24 tahun ini telah begitu rajin mendengarkan saya tanpa saya harus menyatakan terlebih dahulu institusi agama apa yang saya ikuti. Di malam yang sunyi itu saya memperingati turunnya dua cahaya-Nya yang agung, satu di kandang yang sederhana di Bethlehem dan yang satu lagi di rumah sederhana di kota dagang Mekkah. Betapa damainya dunia ini jika kita menyadari bahwa Tuhan begitu menyayangi umat manusia sehingga tiada berkeberatan mengutus kedua favorite-nya ini untuk planet bumi. Teringat saya akan kisah indah yang pernah saya baca di buku Sirah Nabawiyah waktu kelas 6 SD. Sebuah kisah indah tentang gambar Isa dan ibunya di dalam Kabah (sebelum Kabah dibersihkan oleh Sang Nabi dulunya tempat itu ialah semacam kuil yang diisi oleh ratusan berhala suku-suku Arab setempat termasuk di dalamnya sebuah ikon Maria dan bayi Yesus yang kemungkinan dari Syria atau Bizantium) yang dilindungi oleh Nabi Muhammd saat akan dihapus oleh kaum muslim.

"On the day of the conquest of Mecca the Prophet entered the House (the Kaaba) and sent al-Fadl ibn al-Abbas ibn Abdalmuttalib to get water from the well of Zemzem. He ordered to bring pieces of cloth and to imbue them with water and then he commanded to wash off these pictures, as it was done. He stretched his arms, however, over the picture of Jesus, the son of Mary, and of his mother and said: 'Wash off all except what is under my hands!'" 
Al-Azraqi p. 111, cf. p. 76

Saya tutup tulisan ini dengan dua buah kutipan dari dua kitab suci yang mempengaruhi umat manusia hingga hari ini. Dua kalimat yang manis dari Tuhan sebagai kado bagi kita semua. Jika ada di antara ayat-ayat di kitab suci tersebut yang harus kita ingat selalu sebagai manusia yang baik dan hadir di muka bumi ini demi kelanggengan planet bumi, maka saya memilih kedua ayat di bawah ini untuk kita simpan rapat-rapat di hati.

Love thy enemy and pray for those who persecute you. (Matthew 5:44).

Anyone who does evil or wrongs himself and then asks Allah’s forgiveness will find Allah Ever-Forgiving, Most Merciful. (Surat An-Nisa, 110)

Selamat Maulid Nabi dan Selamat Natal dari Leiden! Damai, damai, damai selalu!

No comments: