Saturday, March 31, 2018

Perempuan-Perempuan yang Hilang dari Khotbah Jumat

Sudah tak terhitung berapa kali ibadah sholat Jumat yang pernah saya hadiri. Tidak terhitung pula ada berapa kali sholat Jumat yang pernah diselenggarakan di bumi Nusantara sejak zaman para wali dan aulia penganjur Islam hingga sekarang. Dari sekian ribu ibadah yang didahului oleh khotbah tersebut, sayangnya topik yang dibahas selalu monoton. Tidak heran jika ada banyak sekali jamaah sholat Jumat yang akhirnya tertidur dalam keadaan duduk di shafnya masing-masing. Tidur duduk. Tidur bersandar pada tiang/dinding masjid. Hingga tidur sambil bertopang dagu.
Hampir bisa ditebak isi dari khotbah Jumat tersebut, tidak jauh-jauh dari materi Pendidikan Agama Islam untuk Sekolah Menengah Tingkat Pertama kelas IX. Apa yang dipesankan si pengkhotbah selalu sama: ulangan dari potongan-potongan ayat yang tentunya sudah dihapal oleh jemaah di luar kepala, pesan-pesan normatif terkait akhlak serta ancaman-ancaman batalnya pahala bagi mereka yang banyak gerak atau berbicara saat khatib naik ke mimbar. Bahkan untuk sekedar “Ssstt!” kepada seseorang agar tenang pun dapat membatalkan pahala Jumat!

Dari ribuan kali khotbah Jumat yang pernah saya dengar, belum ada yang benar-benar memberikan saya wawasan baru akan masalah-masalah agama. Ada yang bilang bahwa karena khotbah Jumat itu bernilai pahala juga maka harus disajikan dengan format yang formal. Untuk pernyataan-pernyataan yang seperti ini saya lantas balik bertanya: apa kemudian formal itu harus selalu diidentikkan dengan kata ‘membosankan’ dari segi substansi? Keabsenan gairah dari para jemaah sholat Jumat untuk mendengarkan isi khotbah nampak dari mata yang sayu, dagu yang ditopang, kaki yang digaruk meskipun tak gatal serta obrolan-obrolan dengan volume kecil di shaf-shaf belakang. Khotbah Jumat kehilangan esensinya di zaman yang semakin berubah ini. Akhirnya datang untuk duduk dan mendengarkan khotbah dengan khidmat tak ubahnya sebuah ritual formal yang kering dan tak memberikan apa-apa bagi umat.

Salah satu tema krusial yang saya sadari tidak pernah muncul dalam khotbah-khotbah Jumat ini adalah mengenai perempuan. Saya tidak tahu apakah memang karena sholat Jumat hanya diperuntukkan untuk kaum lelaki maka bahasan mengenai perempuan pun dihilangkan atau memang karena topik tersebut tidak cukup elite untuk menjadi bahasan di khotbah-khotbah Jumat. Di sini maksud saya adalah materi khotbah mengenai kedudukan perempuan di dalam Islam. Pengetahuan mengenai kaum perempuan terus-terang cukup terbatas atau bahkan pada taraf tertentu cukup buruk di kalangan kaum Muslim awam. Kedudukan perempuan telah direduksi sedemikian rupa sehingga bahasan mengenai mereka di pengajian hanya seputar menutup aurat, kewajiban istri dalam rumah tangga, peran ibu bagi anaknya atau terkait nifas. Dengan demikian, ujung-ujungnya dunia perempuan tidak jauh-jauh dari fungsi reproduksinya.

Di zaman Orba dulu khotbah Jumat juga dijadikan pemerintah sebagai alatnya. Bahkan belakangan doktrin-doktrin fanatisme yang menjurus kepada aksi-aksi ekstrem juga diselipkan pada khotbah-khotbah ini. Lalu mengapa khotbah Jumat belum juga ramah kepada kaum perempuan? Apakah seharusnya kita bersyukur bahwa terhindarnya perempuan dari topik-topik khotbah Jumat justru memberikan mereka ruang untuk bebas dari dogma-dogma yang didendangkan kaum patriarki? Setidaknya saat sholat Jumat berlangsung selama satu jam perempuan-perempuan dapat menghirup udara Amazonia yang melegakan. Atau justru keabsenan mereka ini malah menandakan keterasingan konsep tentang perempuan dari rutinitas spiritual para uztad sholat Jumat?


Perspektif yang sempit seperti ini membuat perempuan-perempuan Muslim terlihat diperlakukan sebagai warga kelas dua yang posisinya memang berada di belakang kaum pria saat ibadah sholat. Tentunya diskursus yang lebih mendalam mengenai doktrin Islam, seharusnya, tidak memandang perempuan dengan demikian. Sebagai mitra setara lelaki, perempuan memiliki hak-haknya sebagai manusia serta peran yang amat signifikan dalam sejarah peradaban Islam . Tema-tema nan edukatif terkait peranan perempuan yang tidak ada kaitannya dengan fungsi reproduktif jelas masih asing bagi kalangan awam, seperti yang saya utarakan di atas. Keasingan mereka ini terepresentasi dari kemiskinan khotbah Jumat yang membahas tema perempuan di tengah kehidupan bermasyarakat.
Perempuan telah dicerabut sedemikian rupa dari kepentingan agama itu sendiri sehingga untuk diselipkan sebagai tema khotbah Jumat diantara monolog-monolog panjang mengenai kebersihan hati, keutamaan zikir maupun siksaan-siksaan yang menanti di akhirat atas dosa-dosa tertentu seakan-akan tidak pantas.
Yang jelas saya melihat bahwa khotbah Jumat memiliki potensi besar untuk mengedukasi umat Islam (terutama golongan pria) agar memahami permasalahan akar rumput yang mereka hadapi sehari-hari. Frekuensi khotbah Jumat yang seminggu sekali dan wajib hukumnya untuk dihadiri tentu saja momen yang selalu dapat dimanfaatkan oleh para pemberi pesan. Terbukti bahwa khotbah Jumat sering dijadikan panggung politik selama musim kampanye.

Makassar,
9 Juni 2017