Wednesday, January 6, 2010

Petualangan Malam Tahun Baru 2010




Life is an Adventure.



Demikianlah kalimat pembuka yang tepat untuk mengawali hari pertama di tahun 2010 ini. Hidup adalah sebuah petualangan yang menakjubkan, penuh dengan tantangan serta butuh kemauan yang kuat. Jangan lupakan pula spontanitas, pemicu dari ide-ide gila yang kelihatannya mustahil terjadinya akan tetapi diluar dugaan kita dapat terwujud. Anda mau buktinya? Simak cerita saya yang satu ini.
Tanggal 31 Desember 2009, saya bangun dengan kepala agak pusing. Sehari sebelumnya saya agak kelelahan dan sedikit masuk angin, pasalnya setelah puas ber’thawaf’ keliling Gejayan bersama saudara Nabriz untuk mencar-cari percetakan Fisindo, jam 2 siangnya ada latihan MCC lagi. Siang itu hujan deras, sorenya saya terlambat makan (ditambah malamnya online sampai sekitar jam pagi). Setelah sholat subuh saya pun tertidur kembali. Sebelumnya saya sempatkan untuk mengirimkan ucapan selamat ulang tahun kepada ayahanda tercinta, Bapak Muhammad Dawasir yang kebetulan berulang tahun di hari terakhir tahun 2009 ini.

Menjelang siang, saya agak kelimpungan. Malam ini adalah malam pergantian tahun, sedih juga jika tidak pergi kemana-mana. Saya tidak ingin terpenjara di dalam kosan sendirian (terlebih lagi karena saya berasumsi bahwa Toni, teman sekamar saya, akan bergabung bersama teman-temannya dari Pekanbaru untuk merayakan tahun baru). Saya pun mengirimkan sms yang berbunyi sedikit dramatis plus lebay kepada sesama rekan AFSers; Gita, Nurria, Zein, Luki, Mbak Nhira, Uda Heru, Iconx, dan Diva (via jarkom, tentu saja). Sms saya seperti ini; “I Know that tonite you’ll hang out with your friends or family. So how ‘bout this lonely friend of you? Wanna go get some 2009’s end lunch?”


Zein was the first person who send a reply message back to me. He said, ”Aku kuliah sampai sore. Huaa :(. Maap ya bro. Kamu ga coba contact Gita/Icx to do anything tonite.”

(On that moment I thought it was a sick joke to have a class on a day before New Year. But since, I trust all my friends, i felt pitty on him for it)

Luki was the second person to send me a message and asking for the lunch time. When I said it might be around 11-12.30, he apologized and said he won’t make it because he already had an appoinment with other people.

Third sms that came into my inbox was from Aji. He asked me to join his ‘caravan’ to Tugu after watch movie (Avatar or Sang Pemimpi). I had watched both movies and I don’t think spend my New Year’s Eve in between a doodle of random people (thank God if they weren’t drunk) and trap inside a maze of crowdies would be a good option.

Fourth sms was from Hanif who asked me whether I want to join a pilgrimage to Muslim’s saints (Wali-Wali Islam) on Central Java, East Java, and Madura during the break after UAS. Sire, I don’t think so, I hafta be back to Makassar around January 16th. Sorry, but thanks for offering me that.


Gita, she was the only one who all of sudden called me and asked about the plan. But I desperately told her that we better breach it, realizing none of them show any intention to have a 2009 Farewell Lunch with me. Gita said she’ll come over to my place with Mas Jun –her boyfriend- to bring me ice cream after taking some book from library. It’d be nice to hang out with these two peeps, i think, rather than alone in my room. Around 11.00 pm, Toni and I bought our lunch from Bu Siti. He told me that he’ll be off this afternoon to his friend’s place. So, I assumed that I’ll experience a New Year’s Eve with total emptiness. Well, that would be a great moment to study, rightie! Hey, UAS is in front of your nose, no time left to have such a fun like those silly teenagers outside there. Beside, New Year celebration is really not Islamic! (Arguments that I used to convince myself while overwhelmed by a depressing atmosphere of loneliness).


Gita and Mas Jun visited me at 01.14 pm. We spent time by chatting, laughing, watching Gus Dur’s funeral ceremony, and taking pictures. On 03.34 pm, Uda Heru unpredictably sent me sms to ask about the New Year’s plan. I told him I dunno, and Gita is at my place now with Mas Jun. Maybe it’ll be great if we talk about it together here. Then, he came around 04.09 pm. Four of us then gathered in Aquarium (that’s the way I called Bulaksumur’s lobby) and plotted things to do on New Year 2010. The crazy idea came across our mind when seeing Harian Yogya Commercial’s banner on corner of the room. It shows a silhoutte of Borobudur’s biggest stupa with a glorious yet so wonderful rising sun as the background. Then Uda Heru threw that idea; let us race with the new year’s eve to go to that place and then wait til the sunrise of 2010 emerge.


What an astonishing allurement, isn’t is? I spontaneously agree, it would be really amazing to go to Candi Borobudur at night and find a hill to see the sunrise. I remember about a nice hotel that happened to be a place for me to stay when I visited the candi for the first time a long-long time ago. It did have a magical perspective to see the candi. After some crazy discussion to convince Mas Jun (he was a little bit worried about our journey at night, beside Gita seemed sick), we prayed for maghrib then preparing stuff to go there. I went with uda Heru to his kos while Gita followed Mas Jun to his dormy. We’ll grouped again soon at Uda Heru’s place. Around 8-ish, all members of this New Year 2010 spectacular trip had already gathered. Only by two motorcycle (Uda Heru gave me a ride with Mas Jun’s motorcycle, Gita and Mas Jun ride her own motorcycle) we headed to Muntilan at Central Java. We were aiming to stop at Jejamuran first to have some dinner, but unfortunately the place ran out of foods. So, we decided to eat at Magelang or wherever we can get.


Sekitar jam 10.30-an kita sampai di Muntilan. Kota kecil itu berubah menjadi ramai dengan semarak warganya yang duduk-duduk di jalan untuk menunggu malam pergantian tahun. Kami mampir sebentar untuk beli tolak angin dan baterai kamera di Indomart. Perjalanan diteruskan menuju ke Candi Borobudur. Sekitar jam 11.00 pm, kami yang kelaparan akhirnya mondok di sebuah warung pecel-lele. Kami makan, bicara ngalor-ngidul serta bermain ‘Pak Polisi’ dan ‘Pancasila Lima Dasar’. Tak disangka waktu menunjukkan 15 menit sebelum jam 12.00. Di tengah jalan kembali hit the road, kami mampir lagi di Indomart untuk membeli baterai kamera (ternyata baterai merk ‘P’ tidak tahan untuk digunakan pada kamera digital. Untung saja, saya mengetes kamera di Candi Mendut sebelum kami sampai di tempat tujuan, sehingga masih ada waktu untuk menukarnya dengan baterai merk ‘A’ atau ‘E’). Saat itu tepat pukul jam 12.00 pm ketika kami sedang duduk di atas motor di pinggir jalan Borobudur menanti Mas Jun yang sedang berada di toilet Indomart ketika tahun berganti dan penduduk sekitar menyalakan kembang api.


Singkat cerita, seorang bapak-bapak yang lagi nongkrong di depan hotel Manohara Borobudur memberikan kami sebuah informasi berharga; ada sebuah bukit yang dari puncaknya kita bisa melihat candi borobudur, gunung merbabu-gunung merapi, serta matahari terbit. Wah, kedengarannya seperti mendapatkan bonus paket wisata ke beberapa tempat sekaligus. Berbekal navigasi buta dan arahan dari sang bapak, kami sempat tersesat mencari-cari puncak yang dimaksud. Pertama, kami mendapatkan info bahwa tujuan kami sebenarnya adalah sebuah desa yang bernama Karuhan Budur. Kedua, setelah semakin lama masuk ke hutan-hutan (tengah malam lagi, hiii) dan sempat tidak tahu kemana arah tujuan, sekumpulan bapak-bapak yang lagi nongkrong di depan rumah menjadi juru selamat kami. Puncak yang dimaksud ternyata adalah sebuah bukit yang bernama Punthuk Setumbung. Tempat tersebut disebut-sebut sebagai salah satu tempat PENGAMBILAN FOTO TERBAIK DI DUNIA. Whooaaah... I felt sooo damn lucky!


Kami kemudian melaju menuju tempat yang dimaksud. Setelah sampai di depan tempat pendakian, kami beristirahat di masjid yang terletak tepat di depannya. Jam 12.39 kami duduk-duduk di tangga belakang masjid seraya menghabiskan malam yang dingin dengan berceloteh. Mas Jun sempat muntah-muntah masuk angin. But after all, everything is okay. Seharusnya kami tidur sampai waktu subuh tiba (karena sehabis sholat rencananya kami akan mulai mendaki), akan tetapi tidak ada satu pun dari kami yang mengantuk. Dimulailah obrolan panjang malam itu. Sangat menyenangkan dapat mendengar hal-hal baru dari kawan-kawan seperjalanan saya yang pintar-pintar itu. Kita bicara tentang sejarah, kerajaan-kerajaan kuno, Tuhan, UFO, proper blessings for Nabi Muhammad, Dajal, kiamat, tradisi, people, West and East, Robinson Cruse, filsafat, hingga postmodern serta gejala reality vs virtual world. Tahun baru yang menakjubkan karena dipenuhi oleh obrolan ilmiah, tidak hanya sekedar meniup terompet dan hura-hura muda belaka. Sekitar jam 02.08 am terjadi Gerhana Bulan setengah. Waaah... Alhamdulillah, segala puji bagi Tuhan semesta alam... tahun baru kami semakin indah dihiasi oleh fenomena alam yang luarbiasa ini. Mami Michelle yang sedari tadi saya ceritakan kronologis kejadiannya jadi iri pengen ikutan tahun baruan ala kami :D



Sekitar jam 04.00 am lebih, kami sholat subuh. 04.30 kami memulai petualangan mendaki Punthuk Setumbung. Dengan panduan dari seorang anak kelas 3 SD bernama Wahyu, kami mendaki bukit yang gelap, becek, licin, dan berjalan sempit itu. Sempat memicu adrenalin juga, gimana nggak, jurang menganga di samping kami (tapi masih lebih terjal jalannya gunung Bawakaraeng yang saya daki waktu SMP dulu sih). Karena masih agak gelap, jadi kadar oksigennya kurang, dada saya jadi sedikit sesak. Beberapa menit kemudian kami sampai di puncak, dan... subhanallah! Gunung Merapi dan Merbabu tampak anggun menjulang tinggi. Di bawahnya mengalir sungai kabut yang indah. Embun-embun naik ke permukaan, semuanya seperti menyambut kedatangan kami. Masih dalam keadaan berkeringat dan ngos-ngosan kami excitely taking picture berlatar keindahan alam itu. Tidak berapa lama kemudian matahari terbit dari ufuk timur, menebarkan cahaya di hari pertama tahun 2010 yang penuh dengan tantangan dan hal-hal menyenangkan lainnya.


Kami turun dari puncak itu jam 05.30 dengan niat untuk mengunjungi Candi Borobudur. Akan tetapi, sempat terjadi insiden kecil yang hampir saja membatalkan acara tersebut. Ban motor Gita mendadak kempes, dicurigai bocor. Setelah desperate karena ketiadaan juru bengkel, akhirnya seorang penduduk lokal nan baik hati memeriksa ban motor Gita dan end up dengan kesimpulan ban itu ternyata Cuma kempes biasa. Pukul 07. 16 kami sudah berada di kompleks Candi Buddha terbesar di dunia yang oleh UNESCO digelari pula sebagai World Heritage. Saya berjalan di jalur Pradaksina, jalur suci yang dulu digunakan oleh para biksu menuju ke candi. Candi Borobudur terlihat begitu megah dari kejauhan. Semakin mendekat, seperti ada panggilan ke zaman yang telah hilang.



Candi tersebut bertingkat-tingkat, dan pada setiap tingkat terdapat relief yang menggambarkan makna-makna tertentu. Sementara Uda Heru sibuk berkeliling dengan kameranya, saya, Mas Jun dan Gita menelusuri relief-relief tersebut dan menggali ingatan akan arti dari simbol-simbol yang kami temukan. Di teras terbawah ada gambar seorang pria berwajah bhuto dengan dua orang wanita di kanan-kirinya, ada gambar seorang wanita dengan kalung, perhiasan serta uang di tangannya, dan adapula gambar orang yang memegang gelas (yang kami curigai sebagai minuman keras). Teras pertama disebut sebagai Kamadhatu, perwujudan dari nafsu buruk manusia. Teras-teras lain di atasnya menggambarkan alam yang sudah bebas dari ahamkara. Kami juga menyaksikan gambaran kehidupan Sang Buddha Siddharta Gautama yang diabadikan pada relief-relief Borobudur. Kami menerka-nerka cerita apa yang dikandung oleh frame yang satu ke yang lainnya. Satu hal yang perlu disadari adalah kehebatan nenek moyang kita yang membangun candi ini dan kekuatan budaya luhur asli bangsa Indonesia. Meskipun cerita Siddharta berasal dari India (nama-nama tempat seperti Kapilawastu, Lumbini, Bodh Gaya dan Kosalya jelas tidak dikenal di nusantara), namun mereka mengakulturasikan relief-relief kehidupan sang buddha tersebut dengan ciri-ciri alam (fauna-flora) yang khas tanah air. Kita bisa menemukan ukiran yang menggambarkan pohon pisang, pohon sukun, pohon beringin, monyet, singa, bangau, angsa, burung parkit, dan lain sebagainya. Di samping itu, yang membuat saya terkagum-kagum adalah sistem saluran air di candi ini. Saya pernah membaca buku yang mengatakan; ‘tolak ukur majunya peradaban dari sebuah bangsa dapat dilihat dari seberapa advance-kah water system yang mereka miliki’. Ternyata parit-parit di sekitar candi serta saluran air berbentuk ukiran gandharva yang sedang menganga menjadi bukti nyata bahwa peradaban Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu pun sama majunya dengan peradaban kuno negara lain di dunia!


Kami meninggalkan Borobudur sebelum jam 09.00 am. Perut saya agak susah diajak kompromi sejak malam tahun baru, namun diperjalanan pulang Magelang-Jogja rasanya agak mendingan. Kami mampir untuk makan pagi di Jejamuran. Setelah perut terisi, kantuk pun hilang.

Apa hikmah dari petualangan singkat malam tahun baru ini?

Saya tidak dapat menuliskannya kata per kata, bait per bait. Yang jelas, tahun 2010 akan menjadi tahun penuh petualangan besar yang membantu membangun karakter kami menjadi manusia berakal dan berbudi luhur, insya Allah. Jalan cahaya telah menunggu di depan kami :)


Let us rise up and be thankful, for if we didn't learn a lot today, at least we learned a little, and if we didn't learn a little, at least we didn't get sick, and if we got sick, at least we didn't die; so, let us all be thankful." - Buddha

Saturday, October 3, 2009

Belajar Bahasa Belanda


Wah... Im so excited for this week!
Im gonna learn Dutch on Bahasa Hukum Class. Why it must to be Dutch? Well, taht's because The Law System in Indonesia was a heritage by the Dutch Colonial Gov't, so it's important for us to understand this language since some old resources literature are written by this language.

Here are some of the basic materials that i got from learndutch.org. Have fun!

1. Dit is het verhaal van hard werkende, vastberaden mensen die samenkomen in een klein buurtrestaurant genaamd Crossroads Café.
1. This is the story of hardworking, determined people who come together at a small neighborhood restaurant called Crossroads Café.

2. Deze mensen maken langzaam een geslaagd buurtrestaurant.
2. These people slowly create a successful neighborhood restaurant.


Mijnheer Brashov is de eigenaar van het restaurant.
Mr. Brashov is the owner of the restaurant.

Jamal is de klusjesman.
Jamal is the handyman.

Katherine is de kelnerin.
Katherine is the waitress.


Het idee van het restaurant was van Eva.
It was the idea of Eva to start a restaurant.

appointment:
a time to meet someone.
My appointment with the dentist is at 4:00 today
afspraak:
een tijd om iemand te ontmoeten.
Mijn afspraak met de tandarts is vandaag om 4 uur.

employment office:
a place that joins companies that need workers with people who need jobs.
I got this job through an employment office.
arbeidsbureau:
een plaats die bedrijven, die werknemers nodig hebben en mensen die een baan nodig hebben, samenbrengt.
Ik kreeg een baan via het arbeidsbureau.

teenager:
someone who is between 13 and 19 years old.
Teenagers like to be free. tiener:
iemand die tussen 13 en 19 jaar oud is.
Tieners willen vrij zijn.

Tuesday, September 29, 2009

Life Expenses!




Betapa tidak enaknya hidup menjadi anak kos. Terpisah dari keluarga, teman-teman dan orang-orang terdekat kita. Walaupun banyak orang yang menuntut dan menghendaki kebebasan, akan tetapi ketika kebebasan itu diberikan kepada mereka belum tentu mereka dapat mengelolanya dengan baik. Nah, dalam hal ini anak kos sering kali dianggap bahagia menikmati kebebasan mereka. Tidak ada pantauan dari orang tua serta tidak ada hukum keluarga yang mengikat mereka.

Tapi nyatanya saya kurang menikmati kebebasan 'liar' seperti itu.
Ada momen-momen dimana saya ingin dimarahi oleh orang tua. Momen-momen ketika harus merengek-rengek minta uang. Momen-momen ketika harus mengendap-endap ke kamar kakak sulung saya untuk mengambil modem internet. Atau momen-momen ketika berjalan naik-turun tangga setengah melingkar di rumah saya lalu membantingkan diri ke atas kasur.

Namun yang paling membuat saya rindu terhadap living activities inside my household adalah perbedaan antara life expenses. Sebelumnya saya tidak pernah peduli berapa milyar uang yang sudah dihabiskan orang tua untuk memenuhi kebutuhan saya. Saya pun tidak mau tahu, menuntut segala sesuatu harus ada karena berasumsi bahwa orang tua selalu punya gaji dan gaji itu berarti uang mengalir. Selama sebulan lebih hidup di kos, saya menjelma menjadi seseorang yang dihantam oleh realita ekonomi. Kebutuhan yang beranekaragam serta tidak terbatas ditambah oleh uang kiriman yang terbatas jelas bukan sarana yang tepat bagi anak muda untuk menghambur-hamburkan uang seenak udelnya sendiri.

Saya terpaksa harus berpikir dua kali jika ingin membeli komik atau makan di tempat mewah. Memang sih, living cost di kota jogjakarta itu tergolong rendah dan makanan yang dijual di sekitar kampus UGM pun murah-murah enak. Meski demikian, gairah hura-hura anak muda masih menggelegak panas disekujur tubuh saya. Pingin ini-itu, ke sana-ke situ. Ditambah dengan pergaulan anak kota yang membuncahkan tagihan orang tua. ckckckckckckck. saya seketika itu juga tersadar; betapa meruginya masa muda jika hanya digunakan untuk menghabiskan uangnya orang tua tanpa dapat memberikan kebahagiaan atau setidaknya kebanggaan untuk mereka.

Apa jadinya jika saya hidup di kota yang living cost-nya minta amun serupa Jakarta, London, atau New York? thank God, dulu saya tinggalnya di Athens, ohio!

Tidak heran banyak orang yang kekurangan uang di kota berbuat kriminal. Semua orang butuh uang, dan barangsiapa yang tak dapat mengaturnya dengan baik, bersiap-siaplah ditelan oleh kerugian.

Saatnya bagi generasi muda untuk sadar ekonomi, dan juga sadar akan kondisi lingkungan sekitarnya. Hukum senantiasa mengatur itu semua, sayangnya banyak yang buta dan mengabaikan nilai-nilai sosial.

Jika anda ingin menghamburkan uang 10.000 rupiah saja, ingat bahwa itu sama dengan dua piring nasi beserta ayam bakar buat saya dan bernilai jutaan harapan bagi seorang bocah ingusan nan miskin di Afrika yang menderita karena kelaparan.

Thursday, September 17, 2009

Berkendara dalam Realita

Wah, saya hebat.
Sudah 2 kali jatuh dari motornya orang dalam seminggu. Yang pertama punya teman dr fak. Hukum juga, saya naiki dengan ceroboh di selokan Mataram dan menabrak pinggir jalan sampai lecet.
Yang kedua pagi ini di Blitar, motornya sepupu saya kendarai dengan penuh kekonyolan hingga menabrak pot bunga besar di dpn masjid. Lampu depannya sampai pecah.

Daya navigasi yang luarbiasa.

Mungkin pada kehidupan saya yg sebelumnya, saya adalah reinkarnasi dari kapten kapal Titanic yang tidak sengaja menabrakkan dewa air berbadan besi itu ke bongkahan gunung es.
Atau mungkin saya adalah jelmaan dari Sri Kresna yg menjadi sais kereta Arjuna pada perang Bharatayudha. Di saat2 perang ia sempat bertiwikrama menjadi raksasa dan membuat Arjuna ketakutan; sebuah bentuk tindakan melanggar lalu lintas karena meleng di atas kendaraan ditambah sempat-sempatnya memberikan petuah sepanjang ribuan sloka.

Atau bisa jadi sy justru reinkarnasi dr seorang juara balap motor namun karena trauma maka dikehidupan yg sekarang mengidap paranoia terhadap jalan raya.

Apapun itu, jawabannya hanya satu; HATI-HATI.
Di US dulu, angka kematian remaja yg meninggal karena kecelakaan lalu lintas amatlah tinggi.
Saya ingat, pada program One News yg tayang setiap pagi sebelum kelas2 Social Studies dimulai, sering sebuah iklan singkat tentang akibat yg timbul karena kelalaian remaja di jalan raya ditayangkan.

Keprihatinan akan kecelakaan lalu lintas ini amatlah tinggi, sampai-sampai salah satu negara bagian ada yg melarang siswa high school ke acara School Prom dgn mobil. Tingkat remaja yg mengalami kecelakaan lalu lintas meningkat tajam saat malam Prom dikarenakan kebiasaan mengonsumsi alkohol setelah pesta telah menjadi tradisi siswa yg lulus.

Tapi yg sebenarnya lebih berbahaya itu adalah mengendara di jalan raya dlm keadaan tidak sadar meskipun tidak mabuk.

Monday, August 31, 2009

Eksistensi Negara dan Keberadaan Para Pemikir



note: ini bukan tulisan ilmiah.

Minggu lalu untuk pertama kalinya saya kuliah di kelas Bapak Soehino, seorang guru besar di Universitas Gadjah Mada. Beliau telah cukup berumur, mengingat karirnya mengajar di Universitas Kerakyatan ini dimulai sejak tahun 1959. Beliau mengajarkan Ilmu Negara, salah satu mata kuliah wajib bagi seluruh mahasiswa Fakultas Hukum.

Dipikir-pikir, materi yang disajikan oleh kelas ini tak ubahnya seperti materi pada pelajaran Kewarganegaraan di bangku SMA, namun dielaborasikan dengan sedikit muatan Sosiologi dan Sejarah. Perbedaannya, objek utama pembelajaran ilmu ini adalah mengenai negara dan segala tetek-bengeknya. AKan tetapi tetap saja kita tak dapat menyamakan Ilmu Negara dengan PKN; di fakultas Hukum ada juga mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan yang wajib kami ikuti. Sekali lagi, Ilmu Negara itu berbeda dengan PKN. Ilmu Negara adalah sesuatu yang sebenarnya telah amat familiar dengan kita semua akan tetapi di saat yang bersamaan terasa asing pula. Yah, kalau dianalogikan sih seperti ketika kita bertemu dengan teman masa kecil setelah 10 tahun tidak bertatap muka; meskipun telah menghabiskan waktu bersama di masa lalu, jika kita bertemu setelah dewasa ada sedikit kesan canggung dan asing. Seakan-akan telah banyak hal penting yang kita lewatkan dengannya, walaupun dulunya teman sepermainan.

Ok, back to the track.
Jadi, saya telah membeli sebuah buku berjudul Ilmu Negara hasil karya dosen sepuh saya itu. Karena sehabis buka puasa hari ini kebetulan saya sedang tidak ada kerjaan (dikarenakan tiadanya hiburan di kosan) maka saya memutuskan untuk membuka-buka buku tersebut. Yah, sekalian untuk mendapatkan gambaran sebelum kelas esok hari.

Disebutkan bahwa teori mengenai negara itu sendiri lahir ketika manusia memasuki zaman sejarah (abad-abad setelah abad kelima masehi). Awalnya dirintis dari pemikiran-pemikiran filsuf Yunani Klasik serupa Socrates, Plato, dan Aristoteles. Ketika itu kondisi Yunani sangat memungkinkan untuk terciptanya ide-ide mengenai bentuk negara yang ideal. Di Athena, sebuah polis atau negara-kota, pemerintahan purba mengambil bentuk demokrasi pertama di dunia. Setiap warga negara diikutsertakan dalam setiap pengambilan keputusan (meskipun pada kenyataannya golongan kecil hanya diwakili oleh para pemuka masyarakat atau pedagang yang memiliki kekuasaan di kota. Wanita dan anak-anak tidak memiliki rights to vote, by the way). Prototipe pemerintahan seperti inilah yang kemudian dianut oleh kebanyakan negara di dunia yang merdeka dr penjajahan. Suara rakyat mempunyai andil dalam proses pengambilan keputusan.

Memasuki era Romawi, salah seorang perintis ilmu kenegaraan yang terkenal adalah Cicero. Zaman kejayaan Romawi dipenuhi oleh praktek langsung dari pelaksanaan pemerintahan dalam beragam versi; mulanya republik lalu bertransformasi menjadi kekaisaran dunia (Imperium). Pada era Kekristenan (abad pertengahan), ide-ide dari tokoh seperti St. Agustinus dan Thomas Aquinas melandasi pemahaman teokrasi, Tuhan yang menjadi pucuk dari kekuasaan suatu negara melalui perantara Raja.

Perkembangan yang selanjutnya terjadi selama masa Renaissance dan Enlightenment adalah bermunculannya para filsuf yang mencoba merumuskan bentuk ideal dari sebuah negara. Kebanyakan dari mereka muncul karena rasa ketidaksukaan terhadap pihak kerajaan yang memiliki kekuasaan absolut terhadap kehidupan rakyatnya. Para pemikir serupa Montesquieu, J.J. Rousseau, Hobbes, Groot, dan lainnya muncul sambil membawa solusi berupa bentuk-bentuk negara maupun pemerintahan yang mampu menciptakan kondisi masyarakat yang adil dan makmur. Dengan merdekanya Amerika Serikat dari Kerajaan Inggris pada tahun 1776 dunia untuk pertama kalinya melihat sebuah negara hasil produk pemikiran filsuf-filsuf era reformasi.

Bentuk negara kita merupakan perwujudan dari nilai-nilai demokrasi yang dulunya dianut oleh bangsa Yunani. Dipelopori oleh Amerika Serikat yang mendeklarasikan sebuah bentuk negara baru yang berdaulat serta mandiri, janin-janin negara modern terlahir ke muka bumi. Beberapa abad kemudian bangsa-bangsa lain menyusul. Mereka menentang penjajahan lalu mendeklarasikan kemerdekaan negara mereka dengan sendi yang mirip oleh apa yang dimiliki oleh Amerika Serikat; jabatan kepresidenan, pembagian kekuasaan, serta sistem republik demoratik.

Sebenarnya, eksistensi sebuah negara itu amat bergantung kepada para pemikir-pemikir terdahulu. Bentuk serta sistem sebuah negara itu merupakan hasil dari buah pikiran mereka. Dengan mengambil unsur-unsur dari peradaban lain yang telah lebih maju maka dibentuklah sebuah sistem pemerintahan yang dianggap dapat memenuhi format ideal dari sebuah negara yang bermasyarakat. Begitu simpel, tapi prosesnya memakan waktu hingga ribuan tahun. Negara yang sekarang berdiri secara sah di planet bumi dengan segala macam perkembangan serta konflik internal maupun eksternalnya itu sebenarnya hanyalah hasil pemikiran manusia biasa. Betapa jeniusnya para pemikir serta filsuf-filsuf lama yang sejak zaman dahulu telah memupuk ide akan keberadaan 'wadah' besar tempat masyarakat bermukim pada sebuah wilayah serta dinaungi oleh pemerintahan yang berdaulat.

Pak Soehino mengakhiri kuliahnya dengan kalimat seperti ini; "Objek Ilmu Negara yang kita pelajari ini bukanlah negara seperti Indonesia, Amerika, Inggris, Palestina atau Vatikan. Anda tidak akan dapat menemukannya di dalam peta atau dimanapun di muka bumi ini. Jadi, negara yang manakah yang sejatinya dibahas dalam kelas ini? Pejamkan mata Anda sekarang dan lihat, negara yang Anda pelajari itu ada di dalam kepala kita masing-masing."

Apakah di masa mendatang nanti pengertian serta bentuk negara itu sendiri akan berkembang atau hanya berhenti sampai di sini saja?
Kita tidak pernah tahu.
Yang jelas, selama kita masih dapat membayangkan akan keberadaan negara beserta segala kelengkapannya di dalam kepala ini, masih terbuka peluang bagi para pemikir muda untuk meluaskan filosofi negara.

Saturday, August 29, 2009

Seminggu di Gadjah Mada


Seminggu di Gadjah Mada

Today at 12:31am


It's remind me a quite bit to AHS thou, lol.

Well, akhirnya jadi mahasiswa juga. Di Fakultas Hukum. UGM pula! Hihihihi. Unfortunately we hafta start the college's life right away with the Ramadan. It doubled the exhausting moment!
Minggu pertama ini diisi dengan perkenalan dosen dan perjumpaan pertama dengan mater-materi pembuka Hukum. With all of honesty, it's kinda lame and bored. Beside, I got this syndrome 'lackness of sleep' that have been made me to act like a walking zombie. Mudah-mudahan setelah Lebaran siklusnya kembali normal!

Banyak yang tanya; kenapa Hukum, Lul?
Simple jawabannya kok.
'Saya ingin menegakkan hukum di Indonesia!'
Hihihihihi. Kedengarannya konyolnya?
Tapi itu perlu.
Kalau bukan kita yang muda-muda ini, lantas siapa lagi donk?
Tapi kuliah itu semata-mata hanyalah soal nilai.
Yang penting itu adalah bagaimana kita mampu untuk membuka peluang menuju ke sana.
tentunya dengan ilmu pengetahuan dan keberanian.

Kosan ku disini lumayan.
Lumayan paarah maksudnya :D
Makanya hari ini pindah ke kamar atas.
Duh, frustating!
Gotta move on then find that there's nothing inside those room!
I stand corrected. There are three ghosts hanging on the roof.
ROTFL!

Aah...
Lebaran gak balik ke Makassar.
Katanya mama biar ngumpul ama keluarga di Blitar aja.
Tapi aku pinginnya ngumpul ama Sue dan Aaron sama keluarganya Rick di US lagi :D
Keluarga... maknanya jadi seluas ini.
Disini alhamdulillah aku juga dah punya teman-teman baru.
Keluarga baru.
Namanya 'kelompok sebelas', hehehe.

Seminggu di Gadjah Mada.
Kalau dari kosan jalan ke kampus sekitar 15 menit.
Tiap pagi mampir depan kosan putri 'Annisa' buat nungguin Nu'.
Abis itu kita jalan bareng.
Nothing happened between us lho! Kebetulan kelasku sama kelasnya Nu' sama semua.
Not a coincidence since she's the one whom I seek for help to fill my KRS.

Masih suka bingung kalau milih makanan buat buka puasa maupun sahur.
Terus karena kebiasaan makanan suka milih-milih ujung-ujungnya berakhir bolos juga.
Crap!

Estoy muy cansado, Mi Dio!
Necesito un bueno tiempo para mi y mis amigos...
Aj, i got this homesickness again.

Tapi apa yang membuatku terus bertahan adalah doa-doa dari mereka yang have been supported me until this far. Dan nama baik Gadjah Mada. Serta kampus kerennya, hihihihi.


It's only a week in Gadjah Mada. You will spend the next 4 years on this Top University in Indonesia and categorized on World Class research University. Yes, you're the chosen one, Ahlul!
So, FACE IT!
I know that I can make it, Insha Allah!

Sunday, June 28, 2009

I'm Leaving Makassar!!!


Yes, thank God I've done with anything.
I've passed UAN 2009.
Got accepted on the best college which made my parents so proud.
Finished all of the things at school.
Having a wonderful farewell with my best friends.
And did my best on Jazz Event with The Casa Grande just now.
Tomorrow I'll say goodbye to this city one more time, with so many hopes and dreams.

Mom, dad, and everyone. Thank u so much.
Now i'm feeling so relieve but also anxious. So many things passed by on my head and negative assumption about how hard it's gonna be if I live only by myself or how evil the world outside could be.
I think that's normal, to be worried by such a thing. I have to face it by my own, to show that I can stand up by myself.

Sure, everyone has to keep inside their mind that they're stars and showing good intentions to any other.
We live in this world not just alone. We need people to share, to help, and to love us.

YES I CAN.
The world is waiting for me, and with braveheart Im going to see it!

Thursday, June 18, 2009

A POET's WORLD


A poem was made under the banyan tree
so the poet can be overwhelmed with the spirits
to help him scribe the delusion into reality
to sculp imagination by words of feasibility

the poet subdue his soul to be gluttonous
purposing himself entered a magical grotto
to meet with a beautiful damsel, a lady of anonymous
beyond a wonderful blue ocean like it was told on a canto

he drunk an exquisite vine from a marvelous grail
bewitched, amazing taste of glorious life
the sky and earth were fusion, moved together in water trickle
his eyes covered with stars, lights, and throb of joy

he saw thousands of damsel singin and dancing
full with lust and longing, their rustle of desire echoed on the air
playing hide and seek at the forbidden garden
they were naked like little children

After tired chasing the most divine creatures
he fell down on a very comfortable Persian rug
he slept under a majestic tree made of pearl
for a moment, just let him alone
because when he wake up soon
he'll come back to taste the bitter of real life



Makassar
June, 17th 2009

Sunday, June 14, 2009

Malaysia, Manohara, Ambalat and the future relationship with Indonesia


Manohara Odelia Pinot Cik Puan Temenggong


Jun 4, '09 8:59 AM


As an Indonesian citizen, I see and hear anything from the point of view of Indonesian media which broadcasts in my country. Of course it always brings the story from Indonesian sight-seeing. No matter what, it often tells the story that the Indonesian want to hear with big attention. The same thing works to every country around the globe. The mainstream media will always tell about the story that could ‘buy’ people excitement or create huge phenomena on the society. So does in our neighborhood country, Malaysia.

Long histories between the relation and connection of both countries have been created. Ever since the eve of ancient civilization of Southeast Asia, Malaysia and Indonesia shared the same old cultural root from the same ancestor. They may be different in some cases but the likeness between those two country tide up and even outsider could consider it as one in origin. We could trace it back from the language, tradition and religion of both countries. It would be even more necessary if we know that some part of Malaysia during the period of Hindu-Buddhist kingdom in Indonesia (starts on 5th century until approximately 17th) was also the realm of Sriwijaya and Majapahit kingdom. It continued when the Samudera Pasai and Aceh Sultanate spread their boundaries as fas as Johor and Malacca. Also the Datu and Opu bloodline that has been ruled in Malay for centuries was originated from a royal Bugis family from South Sulawesi. This examples proof how close both countries could be, they live as a big family and having the same backyard.


Unfortunately, recent accidents that appeared made the bilateral relationship kinda shaky. Hundreds of TKI (Indonesian workers) in Malaysia struggled with their life. Some of them not just get kicked out without payments, but experienced a crucial torture from their ‘owners’. Even worse, some lose their soul. We also heard about the ‘heritage robbery’ by the Malaysian gov’t. Start with ‘Rasa Sayange’ song, then ‘Reog Ponorogo’ that they called barongan, some traditional food like rendang, batik clothing and other were claimed as national heritage of Malaysia. What could be worse than identity crisis? Malaysia had warned by the Indonesian, but the ignoring act made us looks so terrible. It seems like Malaysia counted Indonesia as a ‘labor nation’ that try to mess with ‘more civilized Melayu country’. Although basically Indonesia and Malaysia were the same on culture but still several unique ornaments in tradition can’t be find on one and another. Different like what the Malaysian did, Indonesia never claimed what is not belonging to them. I belief we’re rich enough with those 17.000s islands, 700s traditional languages, thousands of fauna and flora species and millions of enchanted traditions. But for the sake of this country nationalism, the Indonesian has to prevent even a step of its own land.

These days, we heard about Manohara’s dilemmatic story. She’s a beautiful model with Indonesian mother and French father. She married with Tengku Fahri, a prince of Kelantan Sultanate in Malaysia last year (she was 16th!). Right after the wedding, she experienced a horrible sexual abuse and physical torture from her husband. She was jailed in a hidden storage behind bookshelves and not allowed to get any access to go outside. The prince that has been predicted to have a sexual disorder hit her or put burning cigar on her face continually. This harassment could end when Manohara successfully ran away from the Kelantan’s royal family through Singapore, where her mother and sister already waited for her. This story opens public opinion about the real situation that any other Indonesian who work and live in Malaysia could experience. The lack of respect combine with the weakness of Indonesian Embassy in Kuala Lumpur created such a troublesome condition for the Indonesian in Malaysia. They can get in problem without anyone want to help them out just like what happened with Manohara.

This huge event that broadcasted in Indonesian media for days, not getting any significant place on the Malaysian public. The media doesn’t cover up this story because it could bring negative effect to the house of Kelantan’s royal family. As what I’ve said before, people only want to hear what they like from media. There’s no room for the people of Malaysia to talk something bad about their royal family member, although in the reality they clearly do terrible thing. And these passed days we also heard about the interference that Malaysian navy done to the Indonesia’s ocean zone. A block of Island named Ambalat was claimed to be a part of Malaysian Sultanate, but unfortunately that island stands on the Indonesian region. Malaysian navy severally passed the border between two countries and sailed around the block. Even though the Indonesian army have warned them, the Malaysian navy kept ignoring Indonesian supremacy of that region. These week the Malaysian navy have passed the boundary for three times. According to the agreement about both countries sea areas in 1970, those block of island which is rich with oil was considered as part of Indonesian region. But since 2003 the Malaysian navy looked frequently on the region.

The situation is heating up. Never-ending story with Indonesian worker, the heritage robbery, Manohara’s maltreatment by the royal family, and claiming Ambalat as their part of country make the future relationship of both neighboring country could turn worse. Diplomatic way is still on the priority to handle destructive action that might be appearing. As two brothers with relatively speaks the same language, Indonesia and Malaysia still have big opportunity to lasted the conflicts. We only wants peace. Everyone dreams to see peace. Being open-minded and building aim to understand each other is among the best path to hold the peaceful relationship in Indonesia and Malaysia.

Saturday, June 13, 2009

UAN, another comedy in Indonesia

Uufh... Pengumuman UAN ditunda!!!

Benar-benar menyebalkan. Birokrasi yang menyusun negara ini semakin lama semakin semerawut. Giliran kami pelajar Indonesia yang luntang-luntung tak jelas nasibnya korban dari keputusan-keputusan pemerintah. itu bukan kebijakan, melainkan kesemena-menaan.

Kasus-kasus yang bermunculan mengenai beberapa sekolah yang 100% tidak lulus karena menerima kunci jawaban palsu mencuat dan dijadikan sebagai penyebab utama penundaan pengumuman Ujian Akhir Nasional 2009. Menurut saya pribadi, hal ini tentunya amatlah mengada-ngada serta tidak adil.



Kami, pelajar yang selalu kena getahnya. Bayangkan, sejak duduk di bangku SMP kurikulum sudah dirubah sampai 3 kali. hampir setiap tahun harus ganti buku baru, padahal metodenya tidak ada perubahan sama sekali. Rasanya semakin lama kami bukannya dididik menjadi pintar tapi semakin bersemangat untuk membangkang terhadap sistem yang ada.

Amat menyedihkan.
Padahal bidang pendidikan itu yang berperan vital dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan taraf hidup orang banyak. Jika pemerintah memandang UAN sebagai sebuah tes untuk menentukan layak atau tidaknya murid-murid kelas terakhir di SMP dan SMA senusantara untuk lanjut ke jenjang yang lebih tinggi, mengapa kesan yang ditimbulkan justru tidak serius? Padahal yang menjadi taruhan dari kesemena-menaan ini adalah kelulusan kami, ribuan murid Indonesia.

Nasib kami belum jelas sekarang,
Ya Tuhan...