Friday, April 2, 2010

Louie Buana: Karena Kita Beda Maka Indonesia ADA




Teman-teman, saya ingin sedikit berbagi cerita dengan kalian.

Hari ini saya pergi ke bioskop di Amplaz bersama saudara Farid Alwajdi untuk menonton sebuah film berjudul My Name is Khan. Sebenarnya kami sudah sejak kemarin merencanakan untuk menonton film ini, sayangnya Bli Edwin yang juga ingin gabung bersama kita ternyata mengalami kecelakaan. Mau tidak mau rencananya terpaksa kami undur, dan akhirnya saya jadi nonton juga walaupun hanya bersama saudara Farid sore hari ini.

Tidak usah berpanjang lebar, yang jelas apa yang akan saya bahas selanjutnya bukanlah mengenai sinopsis film ‘My Name is Khan’, perjalanan saya dari Bulaksumur Residence ke Amplaz, atau anjuran untuk memilih film yang bagus di tahun 2010. Yang ingin saya bagi di sini adalah apa yang saya rasakan dan pikirkan setelah menonton film tersebut.

Saya tidak bohong kalau baru beberapa menit film tersebut diputar mata saya sudah sembab. Yah... gak bermaksud lebay sih, tapi bagaimana pun juga yang membuat saya menangis adalah semacam... de javu (jika bisa dikategorikan sebagai de javu). Perasaan sedih yang sama dengan perasaan yang dirasakan oleh Khan ketika Ia harus mendapatkan pemeriksaan serta interview extra dari petugas bandara Amerika hanya karena Ia adalah seorang Muslim.

Dua tahun lalu, ketika saya tinggal di Amerika, saya sempat mengalami peristiwa yang sama. Agak konyol memang, ketika baru pertama kali tiba saya ditahan di bandara dan mendapatkan pemeriksaan extra karena nama depan saya adalah ‘Muhammad’. Yup, nama yang kedengarannya Islam banget. Apalagi saya berasal dari Indonesia. Sepatu dicopot, jaket dibuka, laptop dimasukkan ke dalam scanner terpisah, dll. Kesan pertama saya langsung buruk terhadap Amerika yang ‘Maha Kuasa’ sehingga bisa mengobok-obok privasi individu saat itu juga.


Berlanjut ke kehidupan selama di Amerika. Saya memang tidak pernah mengalami diskriminasi secara langsung selama bersekolah di sana. Setidaknya teman-teman di sana baru mengetahui ternyata saya adalah seorang Muslim menjelang kepulangan kembali ke Indonesia di tahun 2008. Yang mereka tahu adalah saya bernama Louie Buana dan anak dari sebuah keluarga imigran dari Guatemala (hahaha... yang terakhir itu benar-benar salah kaprah. Tidak ada yang percaya ketika untuk pertama kalinya saya memperkenalkan diri dari Indonesia, salah satu negara di benua Asia). Katanya kulit saya terlalu gelap untuk ‘menjadi’ orang Asia. Walhasil, mereka pun menisbatkan saya sebenarnya berasal dari Guatemala (kebetulan banyak keluarga imigran dari Guatemala yang tinggal di kota Athens). Hanya sedikit yang mengetahui bahwa saya sebenarnya adalah seorang Muslim, di antaranya adalah Unita, a clerk on Athens High School Attendance’s Office dan Mr. Read, guru di kelas American History.

Cerita berlanjut, setiap pagi di kelas American History kami diputarkan Channel One, saluran TV khusus berisi berita singkat selama 10 menit. Pagi itu (sekitar bulan Oktober kalau tidak salah) berita yang menjadi tajuk utama kebetulan adalah kisah mengenai seorang guru berkebangsaan Inggris yang ditahan di Sudan karena menamai boneka Teddy Bear yang Ia berikan kepada muridnya. Sang guru ditahan karena pelecehan agama oleh pemerintah Islam garis besar. Berita tersebut mengundang keributan di kelas saya. Beberapa orang classmates mengatakan hal-hal yang menusuk hati seperti “Islam agama yang aneh”, “I would name my Teddy Bear as Jesus and no one will arrest me in United States”, dll. Sedihnya lagi, sang guru tiba-tiba mendatangi saya dan tiba-tiba bertanya: “Will you get arrest in Indonesia if you named your Teddy Bear Muhammad, Louie?”.


Salah satu hari yang paling menyedihkan adalah 9/11. Saat itu di setiap kelas, semua orang mengadakan renungan atas peristiwa mengenaskan yang telah membunuh banyak orang serta meluluh lantakkan The Twin Towers tersebut. Sehabis renungan, semua anak bercerita apa yang terjadi dengan mereka pada hari itu, dan bagaimana respon mereka begitu mengetahui bahwa Amerika baru saja diserang oleh Islamic extremist bernama Osama bin Laden. Yang saya takutkan pun terjadi. Generasi yang lahir untuk menyaksikan peristiwa dahsyat tersebut adalah generasi yang menjadi korban dari mainstream media yang menampilkan citra Islam dan Timur Tengah secara buruk. Komentar-komentar mereka mengiris hati saya yang menjadi crypto-Muslim saat itu. Tidak ada yang sadar bahwa saya adalah seorang Muslim dan saya pun hanya bisa diam di tengah komentar mereka yang menyudutkan Islam. Sebelas September telah mengawali sebuah era baru di dunia kita. Dan yang terkena dampaknya bukan hanya orang-orang yang beragama Islam saja, namun seluruh manusia yang terlanjur tercebur di dalam globalisasi internasional.


Sebelum tinggal di Amerika, saya tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi seorang minoritas yang menjadi sorotan dunia secara blak-blakan. Tapi bukan berarti sebelumnya saya tidak dapat memahami perasaan orang-orang yang membentuk satuan terkecil dalam komposisi negara Bhinneka Tunggal Ika ini. Saya lahir di Timor-Timur, negara dengan mayoritas penduduknya beragama Katolik Roma. Saya berteman dengan kawan-kawan beragama Katolik tanpa memandang perbedaan, pun mereka menerima saya dengan ramah dan terbuka. Setelah memasuki jenjang SMP saya pindah ke Bali. Di sana sekali lagi saya berada di tengah warga yang beragama Hindu. Walaupun secara konsensus penganut Hindu Dharma di Indonesia adalah minoritas, di Pulau Dewata mereka memegang kendali nomer satu. Saya tidak pernah mengalami diskriminasi di sana, dan saya pun amat menyayangi teman-teman saya yang beragama Hindu. Sampai hari ini pun kami masih keep in touch. Amat berbeda sewaktu saya berada di Amerika, segalanya terasa aman-aman saja dan membahagiakan.

Keluarga saya sendiri amat multikultural. Ibu saya berdarah Jawa-Bugis dan ayah saya keturunan Mandar asli. Mereka berbicara dengan bahasa daerah yang berbeda dan budaya yang berbeda. Sejak kecil saya telah diajari untuk menghargai perbedaan dan mencintai kemajemukan. Berbeda itu tidak salah, yang salah adalah jika kita tidak dapat menghargai apa yang kita miliki dan mulai menyerang orang lain karena apa yang mereka miliki.

Kawan-kawan, negara kita adalah negara yang terdiri dari ratusan suku dan banyak agama. Jika kita tak dapat menghargai arti kesatuan dan persatuan dengan sepenuh hati, niscaya hanya dalam waktu 10 tahun saja tidak akan ada lagi negara berlambang Garuda yang berdaulat di muka bumi. Apa yang terjadi di negara yang menjunjung HAM seperti Amerika adalah sebuah hal yang amat disayangkan. Bukan berarti saya membenci Amerika, sejujurnya saya amat mencintai negara tersebut dengan segala kehebatan dan kemajuannya. Hari-hari saya selama tinggal di sana pun secara garis besar membahagiakan.

Amerika adalah tanah tempat keluarga, teman-teman, dan guru-guru yang saya cintai berada. Saya telah berjanji kepada mereka, suatu saat saya akan kembali ke sana, menjadi Louie yang lebih baik lagi.

Terakhir, saya mengajak teman-teman semua untuk selalu menghargai perbedaan serta memikirkan perasaan orang lain yang (baik secara psikis maupun jasmani) tidak sama dengan kita. Despite the controversy, problems, and missunderstandings that occured in this 20th Century, we shall continue to build a better future for the next generations. We shall overcome, because deep in my heart i do believe that; we shall overcome someday.

Sunday, March 28, 2010

you have no idea how the magic could happens



Hey young intellectuals!
SO sorry, I won’t take this opportunity to give you some short review regarding my experience in HK (on final hours) or about the competition.

I was so exhausted, came back to my humid and dry country, attacked by dramatic situation from surrounding condition, and end up with the routine college’s life again. You know, NO REST. Gotta work hard, I feel left out of materials from each classes (in which i was absent) plus I got this pressure from my LSO to join an internal mcc of FH UGM. Well, I’m not trying to say that they were pushed me to do so, but in fact it was because of me who already felt guilty and burdened by the LSO since I never joined their event (due to Willem C. Vis East’s practices back to the old days). I just want to show them my good intention as a member. And here is the consequency, doubled by duty from AFS’ selection this year (Ch. Jogja chosed me as the Coordinator of 1st selection) and also my ambition to enroll on AIESEC program.

Not just those stuff, as a bonus, i have to finish Hukum Tata Negara midterm's project. I have no idea what should I do other than face all of it as fast as I can and perform the best of me. I must pull my string once more, no days with regrets and despairs. Therefore, move forward and race with the time to see who is the Boss!

At least Victoria (my new itouch) could calm me down on any stressing moment :)

Thursday, March 18, 2010

Hari kelima



Selamat malam semuanya. Sekarang waktu menunjukkan pukul 10 malam kurang 10 menit. Saya masih berada di atas kasur yang sama, di ruangan yang sama, di gedung yang sama, dan di negara (kota) yang sama. Cuaca di Hong Kong sedikit mendingin selama dua hari belakangan, berbeda dari cuaca di hari pertama dan hari kedua yang terasa lebih hangat dan nyaman. Hari ini adalah gilirannya Kak Dhila dan Nabriz untuk perform oral pleadings. Kak Dhila kelihatan stress banget. Tapi siangnya setelah selesai oral pleadings melawan Rajiv Gandhi University (India), ia bisa kembali cengengesan.

Pagi ini saya mengenakan kemeja batik dan jaket putih Kakashi yang saya beli pada hari pertama kedatangan di Ladies Market, Mong Kok. Hari ini sepertinya berjalan begitu cepat. Setelah kembali dari City University, saya, Dahye dan Diva makan siang (belinya di restoran Sedap Gurih di wilayah Sugar Street) kami segera melanjutkan petualangan ke Central Library di depan Victoria Park.


Sekarang saya sedang mendengarkan SAY dari John Mayer. Perut sedikit terasa bergejolak, mungkin karena masuk angin atau karena makan yang tidak teratur. Rasa gugup semakin menjadi-jadi, hari jumat tinggal sehari lagi. Tapi saya punya prinsip yang kuat dan tidak mau capek karena stress, jadi ya dinikmati saja waktu yang tersisa. Hari selasa kami akan kembali ke Indonesia. Semuanya akan kembali normal, kecuali khusus untuk hal mengejar materi-materi kuliah yang ketinggalan.

Note ringkas ini saya tutup dengan lagu ‘Follow Me’ dari The Rocket Boys.

Wednesday, March 17, 2010

Day 4th in HK







Selamat pagi semuanya.
Sekarang waktu telah menunjukkan pukul 12 lewat 21 menit tengah malam waktu Hong Kong. Saya berada di atas tempat tidur berukuran kecil yang mesti di share dengan bapak dosen di dalam sebuah kamar di lantai 5 Indonesian Building Konsulat Jenderal Republik Indonesia.

Lagu ‘Bukannya aku takut’ dari Mulan jameela mengalun sendu dari headset pink milik Dahye yang saya pinjam. Para wanita kelihatannya sudah tertidur, kecuali Maral yang sedang menemani Nabriz di ruang tamu. Tidak disangka sekarang kami telah memasuki hari yang keempat. Hong Kong, sebuah daerah yang istimewa, yang sebelumnya saya tidak pernah sangka akan semenakjubkan ini. Tempat yang entah mengapa membuat saya begitu nyaman dan tentram. Tempat yang membuat saya sekali lagi dapat menjadi open-minded dan berpikiran luas. Di sela-sela menuliskan kata-kata ini, dalam lubuk hati saya yang terdalam bergejolak rasa was-was dan kegelisahan. Pasalnya, hari jumat ini akan menjadi hari oral pleadings bagi saya.

Hari yang ditunggu-tunggu selama 6 bulan terakhir. Hari yang akan menjadi puncak dari seluruh pengorbanan kami selama ini. Sekarang lagunya berganti menjadi ‘lagu Sedih’, masih oleh artis yang sama; Mulan Jameela. Lawan yang akan saya hadapi adalah sekolah yahudi Amerika bernama Benjamin Cardozo yang notabene masuk peringkat top ten school of law di USA (info ini saya dapatkan dari wikipedia).


Padahal tadi ketika menyaksikan penampilan perdana dari Dahye dan Diva, keyakinan dan semangat sempat terpupuk di benak saya, mengingat suasananya yang rileks dan arbitratornya tidak terlalu banyak bertanya. Pun penampilan lawan yang berasal dari Copenhagen menurut saya pribadi tidak terlalu ‘wah’ atau terlalu menakutkan. Tanpa bermaksud untuk sombong, tapi kami masih dapat menampilkan yang lebih baik ketimbang mereka kok.


Hari yang meletihkan. Saatnya semua untuk tidur. Oh iya, ingatkan PR saya untuk menulis mengenai pengalaman berkeliling di Hong Kong Island, perspektif baru mengenai TKW, dan cultural heritage yang hidup di tengah peradaban barat. So far, I love Hong Kong very much.

Monday, March 8, 2010

Were you there 160 million of years ago?


Today at 10:03am

My master has a book of secret. A book that could reveal the truth about doubts, questions, and disputes among human kind. The book that could also excavate the mystery of Past and unwrap the curiousity of Future. My master keeps the book of secret on his left armpit and won't allow anyone to touch it. He created seven spirits from fires and lights to guard the presence of the book.


On the day of Frabjous Day (when a little girl named Alice came to Wonderland and slew a monstrous yet so ugly thing called Jabberwocky), my master hid out in the Cave of Void to meditate for 40 days. I couldn't hold out my desire to open the book. Just like Mother Eve, when the Forbidden Fruit lured her to grope and fed through it into her throat.

I cast spell on those seven archangels, to shut their emission of ray for a moment. Then I made a 'mandala', the burning circle around my body to protect me from unexpected situation of my master's hexes.

I opened the book, search the answer of what I've been looking for this whole centuries.
Were you there 160 million years ago, my dear?

I was born multipliedly, again and again to find you, my enlightenment light. I was born as a royal, as a sonnenblume, as a river, as a star, as an eagle, as a dying infant, as a witch, and as a dust on someone’s desk. I’ve been looking for you this far, searching the one that I could lean my body on.
I got a vision from the book of secret. I saw those terrible, powerful, and wondrous kind of lizards. They all crawled on the face of the earth. They were the most ancient creatures that God ever created in this world. From the Triassic to the Late Cretaceous, when no man stood on The New World, they were the kings of their own kind. Arisen from ground, structurized by water, flamed by fire inside their instinct, and breathed by the rough gust of wind. No one ever witnessed the greatest of those gigantic creatures.

Were you already exist with them, oh my sweetheart? Where were you on the moment of inanition?
Those creatures were doing wrong deeds, attacking each other and eating their own family. They were uncivilized, slop over by shed blood on the face of the earth. God didn’t like what they do, so He ordered an enormous yet so majestic angel to stoned them with a big chunk of asteroid.


“When He decreeth a matter, He saith to it: "Be," and it is.”


The toss made a great devastation. The echoes of destruction were spread out throughout the land. Dusts lifted up on the air, covered up the atmosphere and sights. Sea leves were going higher, the planet’s temperature was stiffingly hotter than usual. Here, came the extinction. I couldn’t find you my dear, between the clouds of wrath. I closed this page, and willing to continue the journey to seek you another time.


Now, before my master shall come back, I'm summoning your name inside my heart.


the picture is taken from http://captainlobsterface.deviantart.com/art/Dinosaurs-113662554

Sunday, March 7, 2010

a small talk about THE MIGHTY GOD



alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5446098915464484018" />


Everything depends on the way how you look upon it

We all know who's God. Despite what those religions teach us regarding what was He (or could even She), the reasons why He created us, and what does He want from humankind (the whole universe, actually), each person already developing their own image or perception about God. Is it a good or bad image, depends on that people's mind, as the reflection of their thought and life experience to determine the act of God.

As I quoted from www.god.com; "There are over six billion people in this world and each person has his or her own thoughts about God", showing how the image of God itself is actually blurry and unrealistic. People will believe what they want to believe, therefore they convinve themselves that the image of God which they have was the rightest one.

Since the dawn of civilization, human already created those images of Gods. Yes, a God with 's', Gods. We weren't sure this very day, whether the concept of monotheism come first, or polytheism come earlier. What do we scientifically agreed upon was that thousands of year ago, the most ancient form of human kind believes on Supreme Being and spirits that taking control of the cosmos, and even their personal life. Can we also conclude that the culture of animism as our ancestor had here in Indonesia was another local concept to define 'God'?

Whatever it was, people from ages to ages keep believing that something great and omnipotent is exist. Our existence flung from His will. Hence, everyone should obey His rules, respect Him, and sacrifice what do they get to Him.

This image of God were struggling together with the up and down of world history. People kills and loves in the name of God (or Gods), kingdoms raises and falls for the sake of God (or Gods), people invents or destroys stuff by the will of God (or Gods), and politically and traditionally One God replaces by Gods, or the vice versa.

The problem is, if from the beginning humankind had assured themselves about the power of God, why He let those tiny creatures to abstractly and wildly interpretated His will for their own interest? Doesn't it seem like He is so active while creating the whole world but passively doing something to straighten up people's interpretation of His image?
This late years, we witnesses how the people begin to forget God (or Gods) and searching for something else. Atheism, Anthropomorphism, Dystheism, Nontheism, and others.

These centuries were crowded.
God, do you think human has gone too far?

As a Muslim, I believe in One God. But if you ask me; "Do you understand about your own God?", I won't answer it with a "Yes". I can't tell that I have understood Him perfectly well, as it mentioned by my religious teachings. If I understand Him 100%, He is not my God, but rather the image of Him that I made and live inside my head.



Yogyakarta,
Macrh 8th, 2010
10:13 AM

Saturday, March 6, 2010

T.O.K.I.

Toki my little rabbit,

Ani O'hev O'Tach

You jump into my backyard
Bruchim Habaim!
You’ve cheered and braced up my day
and also adorned my night
Don’t run too far from the cage that I made
I shall catch you before you’re gone

Come here Toki,

Ani O’hev O’tach

Look at you, sitting on the grass
Chewing your carrot, pretend that you’re unaware of me
While I can see those candy-eyes of you are staring at me
I love those big teeth, reddish fur and thy giant ears



Come here Toki, don’t jump too far!

Ani O’hev O’ Tach

You want to play hide and seek?
You hide, and I seek?
Or you want me simply just to be found by you?

Toki, you’ve reminded me of Bambi!
On my backyard that afternoon
Acharei Hatzohorayim
I still keep the memory of you and Bambi were chasing each other

The old Bambi had passed away

But I have you here, Toki
Don’t play too far, my dearest

Then you shall not disappear from my sight


Ani O’hev O’Tach

Wednesday, March 3, 2010

Establishing the Role of Woman in Society



God create human based on two kind; male and female. Some believe that male was created first, and the female one was cold-drawn from his ribs. Others believe, base on the biological evidence of daily life, the creation of female come earlier before the birth of the male. Therefore, the role of women is higher compare to the male; she is the cause of human kind existence. She also takes care of them, compassionately.

It’s been a long controversy regarding the role of woman in society throughout the history of human. Woman treated unfair by some religion’s doctrines, but in another hand they were praised because of their beauty, love, and affection. As a mother to a grumpy and spoiled 11 years old boy, she always get scold if doing inadvertent mistakes. But she rarely receive a big hug or sincere smile for her forbearance and endless love, which that spoiled kid gets every day in his life. That description illustrates how people (read: male) are sometime unfairly upstaging woman, regardless their effort and help on building the civilization.

Because of their weakness, people treat woman as the second class of human being. Woman does not have the ability to think like common man does, woman does not have rights to vote, and woman is too feeble for battle-field. They should stay at home, deliver the babies, raise children up, and cook for their husband. For thousands of years, this mainstream idea had blinded woman from their own chance under the shadow of obedience.



Take a flash look at the picture of Srikandi on my t-shirt. In Indonesian culture, she’s a heroine figure. She has a big ambition, undefeatable power, and firmness character. Although she’s only a mythical personage, she has planted a seed of freedom inside female’s audiences, which make them dare to dream. Just like their counterpart, woman also gets the same chance to keep move forward and protect their own rights. It is agreeable that woman and man both are different. Indeed, no satisfying reason could explain that they are just the same. Woman and man are born to be different, but they are all equal. Differences between male and female doesn’t make one side superior toward the other. Legend told us how Arjuna always stays on Srikandi’s side during Bharatayudha. Both of them are covering each other, fulfilling each other necessity, and completing their couple deficiency.

How beautiful is life between man and woman on that myth, living in harmony side by side. But it seems like in the reality, man is getting a lot more privileges than woman. On some cases, it is also understandable that woman can not insist to take man’s position. Again, they are different although they are equal. The diversity among them is making woman can’t be able to obtain certain position or stuff that is particular for man, and also man can’t be able to do stuff that required woman presence only.

Lastly, what was the background issue of me to write a note about woman? Considering the globalization and rapid changing in our daily life, the issue of gender and sexism will increase due to the distribution of function and opportunity. If we can’t perform the good faith and honest act as we should have been (in connection with gender) these whole years, then we shall do it in the future to build a better understanding. Don’t treat your spouse badly, dude. You want to live with her/him, not as a rival :)

Yogyakarta,
Wednesday 8:08 pm

Wednesday, January 6, 2010

Petualangan Malam Tahun Baru 2010




Life is an Adventure.



Demikianlah kalimat pembuka yang tepat untuk mengawali hari pertama di tahun 2010 ini. Hidup adalah sebuah petualangan yang menakjubkan, penuh dengan tantangan serta butuh kemauan yang kuat. Jangan lupakan pula spontanitas, pemicu dari ide-ide gila yang kelihatannya mustahil terjadinya akan tetapi diluar dugaan kita dapat terwujud. Anda mau buktinya? Simak cerita saya yang satu ini.
Tanggal 31 Desember 2009, saya bangun dengan kepala agak pusing. Sehari sebelumnya saya agak kelelahan dan sedikit masuk angin, pasalnya setelah puas ber’thawaf’ keliling Gejayan bersama saudara Nabriz untuk mencar-cari percetakan Fisindo, jam 2 siangnya ada latihan MCC lagi. Siang itu hujan deras, sorenya saya terlambat makan (ditambah malamnya online sampai sekitar jam pagi). Setelah sholat subuh saya pun tertidur kembali. Sebelumnya saya sempatkan untuk mengirimkan ucapan selamat ulang tahun kepada ayahanda tercinta, Bapak Muhammad Dawasir yang kebetulan berulang tahun di hari terakhir tahun 2009 ini.

Menjelang siang, saya agak kelimpungan. Malam ini adalah malam pergantian tahun, sedih juga jika tidak pergi kemana-mana. Saya tidak ingin terpenjara di dalam kosan sendirian (terlebih lagi karena saya berasumsi bahwa Toni, teman sekamar saya, akan bergabung bersama teman-temannya dari Pekanbaru untuk merayakan tahun baru). Saya pun mengirimkan sms yang berbunyi sedikit dramatis plus lebay kepada sesama rekan AFSers; Gita, Nurria, Zein, Luki, Mbak Nhira, Uda Heru, Iconx, dan Diva (via jarkom, tentu saja). Sms saya seperti ini; “I Know that tonite you’ll hang out with your friends or family. So how ‘bout this lonely friend of you? Wanna go get some 2009’s end lunch?”


Zein was the first person who send a reply message back to me. He said, ”Aku kuliah sampai sore. Huaa :(. Maap ya bro. Kamu ga coba contact Gita/Icx to do anything tonite.”

(On that moment I thought it was a sick joke to have a class on a day before New Year. But since, I trust all my friends, i felt pitty on him for it)

Luki was the second person to send me a message and asking for the lunch time. When I said it might be around 11-12.30, he apologized and said he won’t make it because he already had an appoinment with other people.

Third sms that came into my inbox was from Aji. He asked me to join his ‘caravan’ to Tugu after watch movie (Avatar or Sang Pemimpi). I had watched both movies and I don’t think spend my New Year’s Eve in between a doodle of random people (thank God if they weren’t drunk) and trap inside a maze of crowdies would be a good option.

Fourth sms was from Hanif who asked me whether I want to join a pilgrimage to Muslim’s saints (Wali-Wali Islam) on Central Java, East Java, and Madura during the break after UAS. Sire, I don’t think so, I hafta be back to Makassar around January 16th. Sorry, but thanks for offering me that.


Gita, she was the only one who all of sudden called me and asked about the plan. But I desperately told her that we better breach it, realizing none of them show any intention to have a 2009 Farewell Lunch with me. Gita said she’ll come over to my place with Mas Jun –her boyfriend- to bring me ice cream after taking some book from library. It’d be nice to hang out with these two peeps, i think, rather than alone in my room. Around 11.00 pm, Toni and I bought our lunch from Bu Siti. He told me that he’ll be off this afternoon to his friend’s place. So, I assumed that I’ll experience a New Year’s Eve with total emptiness. Well, that would be a great moment to study, rightie! Hey, UAS is in front of your nose, no time left to have such a fun like those silly teenagers outside there. Beside, New Year celebration is really not Islamic! (Arguments that I used to convince myself while overwhelmed by a depressing atmosphere of loneliness).


Gita and Mas Jun visited me at 01.14 pm. We spent time by chatting, laughing, watching Gus Dur’s funeral ceremony, and taking pictures. On 03.34 pm, Uda Heru unpredictably sent me sms to ask about the New Year’s plan. I told him I dunno, and Gita is at my place now with Mas Jun. Maybe it’ll be great if we talk about it together here. Then, he came around 04.09 pm. Four of us then gathered in Aquarium (that’s the way I called Bulaksumur’s lobby) and plotted things to do on New Year 2010. The crazy idea came across our mind when seeing Harian Yogya Commercial’s banner on corner of the room. It shows a silhoutte of Borobudur’s biggest stupa with a glorious yet so wonderful rising sun as the background. Then Uda Heru threw that idea; let us race with the new year’s eve to go to that place and then wait til the sunrise of 2010 emerge.


What an astonishing allurement, isn’t is? I spontaneously agree, it would be really amazing to go to Candi Borobudur at night and find a hill to see the sunrise. I remember about a nice hotel that happened to be a place for me to stay when I visited the candi for the first time a long-long time ago. It did have a magical perspective to see the candi. After some crazy discussion to convince Mas Jun (he was a little bit worried about our journey at night, beside Gita seemed sick), we prayed for maghrib then preparing stuff to go there. I went with uda Heru to his kos while Gita followed Mas Jun to his dormy. We’ll grouped again soon at Uda Heru’s place. Around 8-ish, all members of this New Year 2010 spectacular trip had already gathered. Only by two motorcycle (Uda Heru gave me a ride with Mas Jun’s motorcycle, Gita and Mas Jun ride her own motorcycle) we headed to Muntilan at Central Java. We were aiming to stop at Jejamuran first to have some dinner, but unfortunately the place ran out of foods. So, we decided to eat at Magelang or wherever we can get.


Sekitar jam 10.30-an kita sampai di Muntilan. Kota kecil itu berubah menjadi ramai dengan semarak warganya yang duduk-duduk di jalan untuk menunggu malam pergantian tahun. Kami mampir sebentar untuk beli tolak angin dan baterai kamera di Indomart. Perjalanan diteruskan menuju ke Candi Borobudur. Sekitar jam 11.00 pm, kami yang kelaparan akhirnya mondok di sebuah warung pecel-lele. Kami makan, bicara ngalor-ngidul serta bermain ‘Pak Polisi’ dan ‘Pancasila Lima Dasar’. Tak disangka waktu menunjukkan 15 menit sebelum jam 12.00. Di tengah jalan kembali hit the road, kami mampir lagi di Indomart untuk membeli baterai kamera (ternyata baterai merk ‘P’ tidak tahan untuk digunakan pada kamera digital. Untung saja, saya mengetes kamera di Candi Mendut sebelum kami sampai di tempat tujuan, sehingga masih ada waktu untuk menukarnya dengan baterai merk ‘A’ atau ‘E’). Saat itu tepat pukul jam 12.00 pm ketika kami sedang duduk di atas motor di pinggir jalan Borobudur menanti Mas Jun yang sedang berada di toilet Indomart ketika tahun berganti dan penduduk sekitar menyalakan kembang api.


Singkat cerita, seorang bapak-bapak yang lagi nongkrong di depan hotel Manohara Borobudur memberikan kami sebuah informasi berharga; ada sebuah bukit yang dari puncaknya kita bisa melihat candi borobudur, gunung merbabu-gunung merapi, serta matahari terbit. Wah, kedengarannya seperti mendapatkan bonus paket wisata ke beberapa tempat sekaligus. Berbekal navigasi buta dan arahan dari sang bapak, kami sempat tersesat mencari-cari puncak yang dimaksud. Pertama, kami mendapatkan info bahwa tujuan kami sebenarnya adalah sebuah desa yang bernama Karuhan Budur. Kedua, setelah semakin lama masuk ke hutan-hutan (tengah malam lagi, hiii) dan sempat tidak tahu kemana arah tujuan, sekumpulan bapak-bapak yang lagi nongkrong di depan rumah menjadi juru selamat kami. Puncak yang dimaksud ternyata adalah sebuah bukit yang bernama Punthuk Setumbung. Tempat tersebut disebut-sebut sebagai salah satu tempat PENGAMBILAN FOTO TERBAIK DI DUNIA. Whooaaah... I felt sooo damn lucky!


Kami kemudian melaju menuju tempat yang dimaksud. Setelah sampai di depan tempat pendakian, kami beristirahat di masjid yang terletak tepat di depannya. Jam 12.39 kami duduk-duduk di tangga belakang masjid seraya menghabiskan malam yang dingin dengan berceloteh. Mas Jun sempat muntah-muntah masuk angin. But after all, everything is okay. Seharusnya kami tidur sampai waktu subuh tiba (karena sehabis sholat rencananya kami akan mulai mendaki), akan tetapi tidak ada satu pun dari kami yang mengantuk. Dimulailah obrolan panjang malam itu. Sangat menyenangkan dapat mendengar hal-hal baru dari kawan-kawan seperjalanan saya yang pintar-pintar itu. Kita bicara tentang sejarah, kerajaan-kerajaan kuno, Tuhan, UFO, proper blessings for Nabi Muhammad, Dajal, kiamat, tradisi, people, West and East, Robinson Cruse, filsafat, hingga postmodern serta gejala reality vs virtual world. Tahun baru yang menakjubkan karena dipenuhi oleh obrolan ilmiah, tidak hanya sekedar meniup terompet dan hura-hura muda belaka. Sekitar jam 02.08 am terjadi Gerhana Bulan setengah. Waaah... Alhamdulillah, segala puji bagi Tuhan semesta alam... tahun baru kami semakin indah dihiasi oleh fenomena alam yang luarbiasa ini. Mami Michelle yang sedari tadi saya ceritakan kronologis kejadiannya jadi iri pengen ikutan tahun baruan ala kami :D



Sekitar jam 04.00 am lebih, kami sholat subuh. 04.30 kami memulai petualangan mendaki Punthuk Setumbung. Dengan panduan dari seorang anak kelas 3 SD bernama Wahyu, kami mendaki bukit yang gelap, becek, licin, dan berjalan sempit itu. Sempat memicu adrenalin juga, gimana nggak, jurang menganga di samping kami (tapi masih lebih terjal jalannya gunung Bawakaraeng yang saya daki waktu SMP dulu sih). Karena masih agak gelap, jadi kadar oksigennya kurang, dada saya jadi sedikit sesak. Beberapa menit kemudian kami sampai di puncak, dan... subhanallah! Gunung Merapi dan Merbabu tampak anggun menjulang tinggi. Di bawahnya mengalir sungai kabut yang indah. Embun-embun naik ke permukaan, semuanya seperti menyambut kedatangan kami. Masih dalam keadaan berkeringat dan ngos-ngosan kami excitely taking picture berlatar keindahan alam itu. Tidak berapa lama kemudian matahari terbit dari ufuk timur, menebarkan cahaya di hari pertama tahun 2010 yang penuh dengan tantangan dan hal-hal menyenangkan lainnya.


Kami turun dari puncak itu jam 05.30 dengan niat untuk mengunjungi Candi Borobudur. Akan tetapi, sempat terjadi insiden kecil yang hampir saja membatalkan acara tersebut. Ban motor Gita mendadak kempes, dicurigai bocor. Setelah desperate karena ketiadaan juru bengkel, akhirnya seorang penduduk lokal nan baik hati memeriksa ban motor Gita dan end up dengan kesimpulan ban itu ternyata Cuma kempes biasa. Pukul 07. 16 kami sudah berada di kompleks Candi Buddha terbesar di dunia yang oleh UNESCO digelari pula sebagai World Heritage. Saya berjalan di jalur Pradaksina, jalur suci yang dulu digunakan oleh para biksu menuju ke candi. Candi Borobudur terlihat begitu megah dari kejauhan. Semakin mendekat, seperti ada panggilan ke zaman yang telah hilang.



Candi tersebut bertingkat-tingkat, dan pada setiap tingkat terdapat relief yang menggambarkan makna-makna tertentu. Sementara Uda Heru sibuk berkeliling dengan kameranya, saya, Mas Jun dan Gita menelusuri relief-relief tersebut dan menggali ingatan akan arti dari simbol-simbol yang kami temukan. Di teras terbawah ada gambar seorang pria berwajah bhuto dengan dua orang wanita di kanan-kirinya, ada gambar seorang wanita dengan kalung, perhiasan serta uang di tangannya, dan adapula gambar orang yang memegang gelas (yang kami curigai sebagai minuman keras). Teras pertama disebut sebagai Kamadhatu, perwujudan dari nafsu buruk manusia. Teras-teras lain di atasnya menggambarkan alam yang sudah bebas dari ahamkara. Kami juga menyaksikan gambaran kehidupan Sang Buddha Siddharta Gautama yang diabadikan pada relief-relief Borobudur. Kami menerka-nerka cerita apa yang dikandung oleh frame yang satu ke yang lainnya. Satu hal yang perlu disadari adalah kehebatan nenek moyang kita yang membangun candi ini dan kekuatan budaya luhur asli bangsa Indonesia. Meskipun cerita Siddharta berasal dari India (nama-nama tempat seperti Kapilawastu, Lumbini, Bodh Gaya dan Kosalya jelas tidak dikenal di nusantara), namun mereka mengakulturasikan relief-relief kehidupan sang buddha tersebut dengan ciri-ciri alam (fauna-flora) yang khas tanah air. Kita bisa menemukan ukiran yang menggambarkan pohon pisang, pohon sukun, pohon beringin, monyet, singa, bangau, angsa, burung parkit, dan lain sebagainya. Di samping itu, yang membuat saya terkagum-kagum adalah sistem saluran air di candi ini. Saya pernah membaca buku yang mengatakan; ‘tolak ukur majunya peradaban dari sebuah bangsa dapat dilihat dari seberapa advance-kah water system yang mereka miliki’. Ternyata parit-parit di sekitar candi serta saluran air berbentuk ukiran gandharva yang sedang menganga menjadi bukti nyata bahwa peradaban Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu pun sama majunya dengan peradaban kuno negara lain di dunia!


Kami meninggalkan Borobudur sebelum jam 09.00 am. Perut saya agak susah diajak kompromi sejak malam tahun baru, namun diperjalanan pulang Magelang-Jogja rasanya agak mendingan. Kami mampir untuk makan pagi di Jejamuran. Setelah perut terisi, kantuk pun hilang.

Apa hikmah dari petualangan singkat malam tahun baru ini?

Saya tidak dapat menuliskannya kata per kata, bait per bait. Yang jelas, tahun 2010 akan menjadi tahun penuh petualangan besar yang membantu membangun karakter kami menjadi manusia berakal dan berbudi luhur, insya Allah. Jalan cahaya telah menunggu di depan kami :)


Let us rise up and be thankful, for if we didn't learn a lot today, at least we learned a little, and if we didn't learn a little, at least we didn't get sick, and if we got sick, at least we didn't die; so, let us all be thankful." - Buddha

Saturday, October 3, 2009

Belajar Bahasa Belanda


Wah... Im so excited for this week!
Im gonna learn Dutch on Bahasa Hukum Class. Why it must to be Dutch? Well, taht's because The Law System in Indonesia was a heritage by the Dutch Colonial Gov't, so it's important for us to understand this language since some old resources literature are written by this language.

Here are some of the basic materials that i got from learndutch.org. Have fun!

1. Dit is het verhaal van hard werkende, vastberaden mensen die samenkomen in een klein buurtrestaurant genaamd Crossroads Café.
1. This is the story of hardworking, determined people who come together at a small neighborhood restaurant called Crossroads Café.

2. Deze mensen maken langzaam een geslaagd buurtrestaurant.
2. These people slowly create a successful neighborhood restaurant.


Mijnheer Brashov is de eigenaar van het restaurant.
Mr. Brashov is the owner of the restaurant.

Jamal is de klusjesman.
Jamal is the handyman.

Katherine is de kelnerin.
Katherine is the waitress.


Het idee van het restaurant was van Eva.
It was the idea of Eva to start a restaurant.

appointment:
a time to meet someone.
My appointment with the dentist is at 4:00 today
afspraak:
een tijd om iemand te ontmoeten.
Mijn afspraak met de tandarts is vandaag om 4 uur.

employment office:
a place that joins companies that need workers with people who need jobs.
I got this job through an employment office.
arbeidsbureau:
een plaats die bedrijven, die werknemers nodig hebben en mensen die een baan nodig hebben, samenbrengt.
Ik kreeg een baan via het arbeidsbureau.

teenager:
someone who is between 13 and 19 years old.
Teenagers like to be free. tiener:
iemand die tussen 13 en 19 jaar oud is.
Tieners willen vrij zijn.