Monday, May 30, 2016

Tentang Selera

Menulis itu bagi saya merupakan kegiatan yang menyenangkan. Membuat tulisan itu seperti menciptakan sebuah makanan baru. Ada resep yang harus diikuti sebagai panduan, namun yang paling penting ialah citarasa berupa improvisasi terhadap bumbu-bumbu mauopun teknik memasaknya agar makanan yang kita buat dapat menyajikan keunikan rasanya sendiri.

Menulis, sebagaimana memasak, bisa menjadi tidak menyenangkan apabila kita dituntut untuk membuat makanan yang tidak sesuai dengan citarasa kita. Kita bisa saja membuat makanan tersebut, namun hati kita tak akan pernah puas karena rasanya ada yang mengganjal. Selera manusia memang berbeda-beda dari satu orang ke orang lainnya. Itulah mengapa di Barat ini, gastronomi mendapatkan tempat yang istimewa tidak hanya di dalam dunia kuliner namun juga keilmuan. Selera itu mahal oleh sebab makanan tak lagi hanya dilihat sebagai sekedar obyek untuk memenuhi kebutuhan primer manusia melainkan sebagai kebutuhan tersier.

Saat ini saya belajar European and International Human Rights Law di Fakultas Hukum Universitas Leiden. Program ini baru berjalan dua tahun. Saya angkatan yang kedua. Di sini, tulis-menulis adalah hal yang biasa. Seluruh tugas saya berupa esai. Ujian saya pun sifatnya tertulis. Seharusnya dengan banyaknya tuntutan untuk menulis itu, kemampuan menulis saya pun mestinya semakin terlatih. Sayangnya, pada kenyataannya itu tidak terjadi. Adanya benturan idealisme antara apa yang dikehendaki oleh program ini dengan apa yang saya bawa dari negara dunia ketiga bernama Indonesia itu amatlah berbeda. Di sini, di ruang kelas yang kecil kami memperdebatkan dosa-dosa dari negara-negara di luar sana yang tidak mau tunduk pada rambu-rambu Hak Azasi Manusia. Di ruang kelas yang sama, saat berdebat itu, saya melihat kebutaan yang jelas dari teman-teman maupun teman-teman sekelas saya terhadap pengertian akan apa itu syariah, agama, budaya dan tradisi. Harap maklum, agama dan budaya merupakan dua musuh utama HAM yang terbit dari cara pandang Barat ini. Berusaha untuk menjelaskan mengenai mengenakan jilbab itu esensial bagi kaum Muslim atau mengapa hukum adat itu penting bagi golongan suku-suku pedalaman di Afrika Selatan sama susahnya dengan memaksa seorang koki internasional di sebuah hotel berbintang lima di Monaco untuk membuat nasi penyetan dengan rasa yang persis sama seperti Penyetan Ayam Pak Kobis di samping pos ronda UNY di Jogja.

Saya setuju dengan ide-ide HAM. Menurut saya HAM itu esensial. Akan tetapi mengakui keberadaan HAM bagi saya tidak sama dengan kemudian menutup mata dari eksistensi agama dan budaya dalam masyarakat setempat. Yang membuat saya sedih itu adalah kenyataan bahwa setiap kali kami berdebat di kelas, semua itu kemudian hanya akan berakhir di situ saja. Dosen saya yang seorang feminis garis keras hanya akan mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda untuk menghormati argumen saya di kelas saat saya menjelaskan panjang lebar tentang hukum Islam dan praktik local wisdom di Indonesia. Sekelarnya diskusi pun ia akan tetap bersikukuh memandang bahwa praktik hukum Islam itu merendahkan wanita dan praktik adat hanyalah cerminan dari keterbelakangan manusia di belahan bumi lainnya. Itulah kemudian yang membuat saya kesusahan untuk menulis bagi mereka. Karena saya tak dapat menciptakan narasi yang dapat memenuhi harapan mereka. Narasi yang saya ciptakan hanya akan memenuhi selera saya saja.

Kultur masyarakat Eropa yang sedikit-dikit membawa masalah ke pengadilan juga bertentangan dengan kenyataan sehari-hari pada akar rumput di negara dunia ketiga. Indonesia yang masih berbenah dengan sistem hukumnya jelas tak dapat menampung seluruh permasalahan sehari-hari di pengadilan. Kasus mengenai seorang pekerja Muslim asal Maroko yang menolak untuk menyajikan anggur kepada pelanggannya dapat menjadi isu hukum di Belanda. Di Indonesia, beda lagi perspektifnya. Ada masalah-masalah yang memang seharusnya tak perlu ditempuhkan jalur hukum karena hanya akan memakan waktu, biaya dan energi. "Kalah jadi abu, menang jadi arang" demikian pesan dosen saya di UGM dulu saat menjelaskan fungsi pengadilan sebagai ultimum remidium. Sayangnya, di Barat ini (termasuk melalui ajaran dari dosen saya di Leiden) kehadiran pengadilan HAM regional merupakan salah satu indikator terciptanya kepastian hukum dan penjamin keadilan. Itulah sebabnya berulang kali selalu tercetus di kelas saya selama setahun ini bahwa European human rights regime is the most advanced system in the world, dan regional Asia yang belum memiliki konvensi maupun komite HAM-nya sendiri dianggap sebagai yang paling terbelakang.

Menulis, sebagaimana memasak, tidak hanya membutuhkan ketrampilan namun juga inovasi. Yang saya rasakan selama berada di dalam pelatihan "memasak" ini justru sebaliknya: saya tak dapat berinovasi karena sudut pandang yang terlalu Eropa-sentris dalam memahami HAM. Ini sungguh amat menyedihkan. Dunia timur terasa begitu jauh dan asing dari bangku tempat saya duduk. Kalaupun kemudian dunia timur disuguhkan ke atas meja kuliah di hadapan kami, nasibnya hanya akan berakhir seperti kelinci laboratorium yang kemudian dibedah-bedah tanpa perasaan. Semuanya terasa begitu mekanik. Proses ini disinonimkan dengan kata "intelektual" karena munculnya dari sebuah lembaga akademik. Bagi saya ini sungguh memprihatinkan karena intelektualitas tersebut sendiri diwarnai dengan banyak subyektifitas yang lahir karena ketiadaan rasa maupun ketidakmampuan untuk memahami diversitas dunia.

Ah, sudah cukuplah tulisan yang tidak jelas ini. Semoga suatu saat nanti saya bisa merasakan manfaat dari konflik batin yang saya alami hari ini. Semoga.

Selamat hari senin,
Leiden
30 Mei 2016


Saturday, May 28, 2016

Alice Through the Looking Glass: Perempuan dan Dunia di Age of Reason

Kemarin sore saya secara impulsif memutuskan untuk pergi ke bioskop di Den Haag demi menonton film Alice Through the Looking Glass. Film ini merupakan sekuel dari Alice in Wonderland dan diadaptasi dari buku anak-anak karangan Lewis Caroll. Saya yakin sebagian besar pembaca pasti kenal cerita Alice atau minimal pernah mendengar tentang buku ini. Kisah Alice in Wonderland sudah sedemikian tercangkoknya di karya literasi, musik, fashion, sinematika maupun okultisme sehingga nama Alice dan petualangannya itu sendiri telah menjadi semacam mitos di dunia fiksi.

Film Alice Through the Looking Glass dimulai dengan adegan kejar-kejaran antara bajak laut Cina dengan kapal "De Wonder" yang dikapiteni oleh Alice di Selat Malaka. Berlatar di tahun 1874 ceritanya Alice yang mewarisi kapal De Wonder dari ayahnya baru saja menyelesaikan ekspedisinya mengeksplorasi interior Cina untuk mendirikan hubungan perdagangan antara firma keluarga Ascot dengan dunia timur. Cerita terus bergulir dengan kembalinya Alice ke Inggris, kekecewaan yang ia terima karena mimpi besarnya untuk membina hubungan dagang antara Barat dan Timur harus kandas karena hutang-hutang keluarganya serta tanggapan miring tentang perempuan dan pekerjaan. Alice kembali ke Wonderland secara tiba-tiba melalui sebuah cermin dan dihadapkan pada sebuah misi baru: mengarungi waktu untuk merubah masa lalu demi menyelamatkan keluarga Mad Hatter dari kematian. Akan tetapi pada akhirnya ia mendapatkan sebuah pelajaran berharga setelah hampir kehilangan seluruh sahabatnya dan menggiring Wonderland kepada kehancuran: masa lalu takkan pernah bisa dirubah.

Dengan mengambil latar di Inggris pada era Victoria dan puncak Revolusi Industri, film ini sebenarnya menyimpan sebuah pesan yang menyegarkan. Pesan dari sebuah abad yang menentukan perkembangan zaman hingga hari ini. The Age of Reason alias Abad Rasionalitas, dengan nama itulah dekade 1800-an akhir dikenal. Di dalam pidatonya di Rijksmuseum pada bulan November 2015 silam, Ayu Utami secara panjang lebar menceritakan ulang gairah penemuan dan eksplorasi pengetahuan untuk memenuhi kehausan akan rasa penasaran Barat terhadap dunia Timur di abad ini (diwakili dengan pakaian Cina yang dikenakan oleh Alice di sepanjang film, konon ia pernah berhadapan langsung dengan kaisar Cina mengenakan baju tersebut). Pendirian Rijksmuseum, Taman Botani Bogor, Batavian Society of Arts, semuanya terjadi di dalam kurun waktu yang sama. Di Inggris sendiri ada gairah yang meluap-luap seiring ditemukannya mesin uap. Teknologi baru lahir, beragam penemuan perkakas untuk memudahkan kehidupan orang banyak juga muncul di zaman ini, termasuk listrik dan bola lampu. Pemikiran kritis terhadap dogma-dogma lama serta munculnya rasa kemanusiaan yang pada akhirnya berimbas pada sebuah peristiwa monumental dalam sejarah umat manusia pun berlangsung di tengah spirit Age of Reason: penghapusan perbudakan oleh Inggris dan Prancis yang kemudian diikuti oleh negara-negara kolonialis lainnya. Dekade 1800-an akhir adalah periode yang menyuburkan jiwa fantasi para petualang (pengarang besar Jules Verne pun lahir dan berkarya di era ini).

Alice tumbuh dan berkembang menyaksikan semua perubahan tersebut. Ia sudah bukan gadis cilik lagi, namun rasa penasarannya (Curious, so curious!) ingin menemukan hal-hal baru dan menyelamatkan teman-temannya belum hilang. Sayangnya semangat Alice yang begitu menggelora tersebut justru mendapatkan perlawanan dari golongan paling menentukan di era itu: kaum pria kelas atas yang menguasai politik dan perdagangan. Perempuan dilihat tidak layak untuk mengelola aset keluarga, apalagi pergi berlayar ke Timur. Perempuan harusnya duduk manis di rumah, kalaupun ingin bekerja maka menjadi clerk atau juru tulis merupakan pekerjaan yang paling ideal di era Victoria. Alice mewakili semangat pembaruan menentang ide tersebut dan tetap berjuang untuk mewujudkan cita-citanya sendiri.

Waktu menjadi tema sentra di film ini. Apa yang sudah terjadi takkan bisa diulang atau bahkan dirubah lagi. Akan tetapi waktu bisa menjadi pelajaran berharga untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Itulah pesan dari film ini. The Age of Reason tidak tercipta untuk merubah masa lalu, melainkan untuk merubah masa depan umat manusia. The Age of Reason yang dipenuhi oleh gairah inovasi itu menjadi era yang menstimulus manusia untuk berpikir tidak hanya tentang hari ini, akan tetapi juga tentang sebuah masa depan yang tidak jauh lagi. Perempuan yang jadi korban patriarki di masa lalu kini memiliki ruang yang lebih terbuka dan dinamis untuk dapat berkarya. Alice tidak membawa semangat untuk merubah apa yang telah terjadi, namun ia datang membawa harapan serta kesempatan demi masa depan yang lebih baik lagi.

Oh ya, satu lagi. Banyak orang yang mungkin akan kecewa dengan film ini karena benar-benar keluar dari pakem cerita aslinya di dalam buku. Well, what can you expect from movies based on books anyway. Tapi sebenarnya, masih berhubungan dengan topik Age of Reason di atas, saya menginterpretasi "through the looking glass" sebagai sebuah satir untuk zaman itu: berhenti melihat hanya refleksi atau bayangan anda sendiri, melainkan see through it. Inggris yang muncul sebagai superpower saat itu merasa bahwa mereka lah pusat dunia. Inggris selalu berkaca kepada diri mereka sendiri, tanpa memandang peradaban dari sisi dunia yang lain. Alice berhasil keluar dari narsisisme tersebut dan bergerak maju; ia menembus cermin dan melihat dunia lain di seberang sana. Ia mendobrak golongan elite mapan dengan pemikirannya yang telah maju melampaui zamannya sendiri, sebab ia telah melihat dunia.

Alice has seen the world, and the wonderland too :)

Leiden,
27 Mei 2016 

Sunday, May 15, 2016

And the winner is... Leidsche 1922!

Sabtu 14 Mei 2016 kemarin merupakan hari yang sangat istimewa.


Band keroncong Leidsche 1922 yang tampil perdana di acara ONEIndonesia PPIRotterdam berhasil meraih juara 1! Sebenarnya tak usah heran sih, selain karena beranggotakan warga-warga kota Leiden yang luarbiasa dan memiliki karakternya masing-masing, band kami ini juga mengangkat dua lagu unik yang mungkin tidak terpikirkan oleh band-band lainnya: Kopral Jono dan Keroncong Kemayoran. Band-band yang berpartisipasi dari kota-kota lain kebanyakan menampilkan lagu berbahasa Inggris dan bergenre Barat (jazz, rock). Nggak ada yang salah dengan itu, namun karena temanya adalah mengenai Indonesia jadi agak "wagu" aja jika yang diketengahkan justru gaya bermusik yang non-Indonesia (meskipun keroncong itu sendiri aslinya musik Portugis).

Band Leidsche 1922 istimewa karena tidak hanya beranggotakan mahasiswa saja, melainkan juga warga Indonesia yang telah lama menetap di Belanda. Ada kang Deni, mas Tio, teh Meira dan mbak Retno yang memperkaya tim ini. Leidsche 1922 memperkuat jalinan kekeluargaan yang sudah ada antara kami sebagai pelajar yang sifatnya menetap sementara dengan mereka, senior-senior yang mencari penghidupannya di negeri kincir angin ini.


Yang lebih serunya lagi, penonton juga kelihatan sekali hanyut dalam suasana. Beberapa orang teman saya dari PPI Belanda maupun kota-kota lainnya serta rekanan penyiar Radio PPI Belanda tak henti-hentinya meneriakkan "Louie Louie!" dari tempat duduk mereka. Lumayan berisik sih, namun justru mereka lah yang menghidupkan suasana.


Terima kasih teman-teman semua. Di tengah kehidupan akademik yang deadline-nya semakin dekat ini, kalian telah memperkaya warna-warni kehidupan kami di negeri Belanda :)

Saturday, May 7, 2016

Untuk kakak kami, Martir Irawan


Di bulan Mei, di bulan Bunda Maria yang Terberkati, aku merayakan cerita tentang dirimu.

Dalam rahim Pieterkerk, bersama kisah yang indah dari bapak Walikota dan senandung Nina Bobo dari anak yatim yang ayahnya lahir di Hindia engkau dihidupkan kembali. Seperti Yesus yang bangkit dari kuburnya lalu bermi'raj ke langit, kehidupanmu yang sudah tanpa jasad dihadirkan ruhnya dan kami takhtakan kembali di muka bumi.

Di lantai gereja, ada genangan darah. Menetes kental dan perlahan. Itu darahmu. Darah yang mengucur dari dahimu, kakakku, tidaklah percuma. Itu luka, yang menganga lebar, adalah stigmata, yang tak dapat menebus dosa, namun dapat membayar harga untuk sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan dari negeri yang menjajah rakyatmu.

Kakakku Irawan yang belum sempat melihat parade kebebasan. Yang belum sempat menghirup bau sawah dan rawa lagi. Yang namanya terlupakan di kampung halamannya sendiri. Tidurlah yang tenang, Hamzah dari tepian Rijn. Singa syahid tanpa modal senjata cakra maupun pedang zulfikar. Sungguh, engkau tak butuh relik gigi tanggal yang dapat disimpan dan dikuilkan dalam museum biar untuk dikenang. Yang direkam-rekam terkadang penuh dengan kebohongan. Padahal hatimu yang muda itu jujur dan kaya akan ketulusan. Sini kakak, sini. Biar kurekam dirimu lekat-lekat di dalam sanubariku saja.

Irawan Soejono, with the nickname Harry of the Liberation (the Liberation was an illegal paper), helped in every way he could by getting stencil machines, transporting papers and so on. On the 13th of January 1945 he was captured by the Germans on the Boommarkt in Leiden. A German soldier from the Wehrmacht shot him through the head. -Mayor of Leiden

Nina bobo... Ooh Nina bobo... kalau tidak bobo digigit nyamuk

Leiden,
5 Mei 2016

Sunday, April 17, 2016

Meneruskan Tradisi? Meneruskan dan Mengombinasi Tradisi!

Apa tujuan kamu sekolah di luar negeri?

Apakah untuk terus-terusan mengurung diri di dalam perpustakaan? Apakah untuk mengayuh sepeda sambil membawa beban atas tugas-tugas kuliah yang menumpuk? Apakah untuk terus-terusan mengeluh karena suhu udara yang tak kunjung hangat?
Atau sesimpel hanya untuk terus-terusan bermain, berjalan-jalan ke berbagai tempat dan belanja di sana-sini?


Ramainya antrian masuk ke Museum Bronbeek
Minggu tanggal 17 April 2016, tepatnya sehari setelah ulang tahun saya, bersama dengan grup tari Kuwung-Kuwung asuhan Bu Clara Brakel kami mementaskan empat buah tari klasik Jawa di hadapan pengunjung Museum Bronbeek, Arnhem. Museum Bronbeek, merupakan museum yang juga merangkap sebagai panti jompo bagi soldaten KNIL. Museum ini istimewa karena mengangkat tema aktifitas militer tentara Kerajaan Belanda di Hindia dahulu kala. Teman-teman juga bisa melihat banyak artefak-artefak seperti meriam-meriam Aceh, keris-keris Jawa dan senjata-senjata tradisional lainnya yang merupakan rampasan perang Belanda saat berhadapan dengan khalayak pribumi. Meskipun narasinya ya... masih amat kolonial ya!

Ada kebahagiaan tersendiri saat dapat mementaskan tarian tradisional Indonesia di luar negeri. Apalagi pentasnya di Belanda, negeri yang pernah menjajah kampung halaman kita. Nah, pementasan hari ini bahkan berlokasi di museum KNIL: indahnya gerakan tarian yang berpadu dengan dentingan irama gamelan berhasil membuat banyak eks-pasukan KNIL serta opa-opa dan oma-oma Indisch (orang Belanda totok yang dulunya lahir dan besar di Nederlandsch-Indie) hanyut, terombang-ambing oleh kenangan akan "het verre verre land" di seberang samudera sana. Ya, ekspresi wajah memang tak bisa berbohong meskipun kebisuan penuh di udara.


Dansgroep Kuwung-Kuwung in action!

Menampilkan kesenian di muka publik Belanda juga bukan hal baru di kalangan mahasiswa asal Indonesia. Sebagaimana disebutkan di dalam buku "Di Negeri Penjajah" tulisan Harry Poeze halaman 181, mahasiswa-mahasiswa pribumi di kota Leiden sudah sering sekali meramaikan negara hujan dan angin ini dengan rupa-rupa tradisi kesenian nusantara. Pada tahun 1923 R. S. Hardjodiringgo serta Noto Soeroto yang juga merupakan pendiri Perhimpoenan Hindia (PH) pernah menampilkan tarian Jawa serta memainkan wayang hingga sejauh kota Paris. Memang waktu itu aktifitas kebudayaan banyak diselenggarakan oleh anggota-anggota PH dengan Noto Soeroto sebagai pentolan utamanya. Kegiatan seni merupakan salah satu senjata utama PH untuk membantu meningkatkan pemahaman akan budaya Timur terhadap masyarakat Barat. (De oostenwind waait naar het westen: Indische componisten, Indische composities, 1898-1945 oleh Henk Mak van Dijk, halaman 39).

Di tahun selanjutnya dengan dipandu oleh Poerbatjacaraka yang multitalenta, Noto Soeroto bersama dengan Soerjowinoto dan Wirjono melakukan perjalanan keliling Belanda menyajikan tari-tarian Jawa guna mengumpulkan dana untuk mendirikan lembaga Indisch Bronbeek (sumbernya masih dari buku Harry Poeze di halaman yang sama). Pada saat itu Poerbatjaraka merupakan anggota aktif dari Perhimpoenan Indonesia (PI) yang tidak lain adalah perubahan dari nama PH. FYI, lembaga Indisch Bronbeek inilah yang kelak di kemudian hari menjadi cikal-bakal Museum Bronbeek (tempat grup kami tampil tadi) dan juga "Kumpulan Bronbeek", semacam tempat kongkow bagi opa-oma Indisch yang masih belum dapat move on dari kenangan masa lalu. What a coincidence, sungguh sebuah kenyataan yang tidak hanya mengejutkan tetapi juga menyenangkan karena saya dapat menari di sebuah lembaga yang benihnya dulu turut disemai pula lewat aksi kebudayaan para pendahulu saya, mahasiswa Leiden anggota Perhimpoenan Indonesia. 
Noto Soeroto dan sepupunya, Ki Hajar Dewantara saat menari di Den Haag, Maret 1916
sumber: gatholotjo
Saat PH berubah nama menjadi PI, memang kegiatan kebudayaan sudah tak lagi menjadi sesignifikan saat Noto Soeroto masih menjadi pengurus. PI lebih berfokus pada kegiatan politik dengan menghasilkan tulisan-tulisan yang bernada kecaman kepada pemerintah kolonial. Kemerdekaan harga mati, tak pakai kolaborasi-kolaborasian, begitu kira-kira tegasnya. Nah, di abad ke-21 ini saat Indonesia telah terbebas dari cengkraman penjajahan, mahasiswa-mahasiswanya kembali menghidupkan semangat untuk menjembatani antara Timur dan Barat lewat kesenian. Apa yang dahulu diimpi-impikan oleh para aktifis PH ("geheel volgens het gedachte goed van de IV over wederzijds begrip en waardering wilden zij met deze artikelen oosterse en westerse cultuur nader tot elkaar brengen") bisa terwujud melalui sebuah pentas seni yang dieksekusi tidak hanya oleh orang pribumi namun juga oleh warganegara Belanda yang mencintai luhurnya kebudayaan tanah air. Hal yang menakjubkan ialah bahwa apa yang dicita-citakan oleh PH dan PI ternyata bisa terwujud melalui aktifitas mahasiswa Indonesia di Leiden hari ini.

Ya, pada kenyataannya ternyata kami tidak hanya telah meneruskan tradisi. Hari ini, pentas kami di Museum Bronbeek adalah saksi bahwa tradisi tersebut tidak hanya terus bestari di tangan kami, namun kami juga berhasil mengombinasikan apa yang dikehendaki oleh leluhur-leluhur kami para pendahulu di PH dan PI :)

Salam dari Leiden yang dingin!
12:36


Thursday, April 14, 2016

Bran Castle, Vlad Dracul yang Bukan Dracula dan Meriam VOC

Saya merasa beruntung sekali selama tinggal di Eropa. Sudah tidak terhitung banyaknya tempat-tempat maupun event-event yang sebelumnya hanya saya dengar dari televisi atau baca dari buku yang sekarang dapat saya kunjungi langsung.

Sebenarnya ini cukup satirik juga sih, karena itu berarti kita ini telah dikepung oleh media elektronik dan media cetak yang amat Eropa-sentris sehingga dapat menanamkan imajinasi akan Benua Biru sedemikian rupa ke dalam alam bawah sadar seorang anak berkulit gelap dari negara dunia ketiga, yang bisa begitu ngilernya untuk berziarah ke tempat-tempat tersebut. Well, anyway. Bertandang ke ruang baca KITLV sebelum ditutup pada tahun 2013, misa Natal 2014 langsung dari Vatikan, menghadiri Sail Amsterdam 2015 yang hanya terjadi tiap empat tahun sekali hanyalah segelintir dari sekian banyak contohnya. Apalagi untuk tinggal di kota Leiden yang legendaris ini, wah bagi saya rasanya sungguh bahagia tak terbayangkan.

Salah satu highlight dari trip saya ke berbagai tempat bersejarah di Eropa terjadi beberapa hari lalu saat saya selama seminggu menikmati liburan musim semi ke Italia dan Romania. Liburan ini sejatinya lebih menyerupai "melarikan diri" singkat dari gempuran thesis porposal dan paper-paper yang makin lama makin menyebalkan. Mengutip kata-kata program director saya "this is an ADVANCED MASTER" jadi bebannya wajar jika dua kali lebih berat dari master biasa. Maka dengan logika yang sama saya pun berani mengambil keputusan: senang-senangnya pun wajar jika dua kali lebih banyak daripada master biasa. Sikatlah kesempatan libur yang ada dengan sebaik-baiknya, prinsip saya.
*maaf jadi curcol malahan.

Oke jadi yang membuat liburan saya ini istimewa ialah karena selain berkeliling lima kota di dua negara dengan jadwal yang cukup padat (Roma - Bucharest - Brasov - Bologna -Venezia) saya berkesempatan untuk menziarahi beberapa tempat yang selama ini saya impi-impikan untuk bisa didatangi. Salah satunya ialah Bran Castle alias Kastil Dracula di sebuah desa kecil di dekat kota Brasov, Rumania. Kastil ini terletak di atas sebuah karang (bukit?) yang dikepung oleh pegunungan Transylvania. Kastil ini menjadi salah satu yang paling terkenal di Romania karena asosiasinya dengan Vlad Dracul, tokoh yang menginspirasi seorang novelis asal Irlandia bernama Bram Stoker untuk menciptakan tokoh vampir sakti mandraguna bernama Dracula.
Bran Castle dari kejauhan

Ah, Transylvania! Mendengar namanya saja sudah membuat merinding. Sebagai seorang bocah generasi 90-an, Transylvania menjadi populer seiring dengan munculnya film "Dracula" pada tahun 1992. Film yang dibintangi oleh Johny Deep, Keanu Reeves dan Wynona Ryder ini cukup horror di zamannya, membuat saya yang waktu itu masih TK bisa terbirit-birit menyaksikan taring Count Dracula yang siap menerkam mangsanya yang malang. Setelah film yang cukup epik tersebut, booming Dracula dan vampirisme mulai merambah Hollywood dan industri film lainnya. Tidak peduli berapa banyak remake yang dibuat maupun interpretasi-interpretasi baru yang dilahirkan dari kisah Count Dracul, bagi saya Dracula 1992 tetap yang paling serem. Oh ya, Dracula 1992 ini juga diadaptasi dari novel Bram Stoker.

Vlad Dracul memang pernah tinggal selama beberapa lama di Bran Castle, akan tetapi kastil tersebut ternyata bukan merupakan tempat kediaman utamanya. Kastil tersebut menjadi penting karena letaknya yang berada di perbatasan antara wilayah Transylvania dan Wallachia. Vlad Dracul alias Vlad Tepes ialah seorang pangeran dari Wallachia yang berada di garda terdepan dalam membela tanah airnya dari invasi pasukan Ottoman Turki. Historically speaking, Vlad Dracul tidak punya asosiasi apa-apa dengan vampirisme, itu sih cuma bisa-bisanya si Bram Stoker saja dalam berimajinasi. Akan tetapi tokoh Vlad Dracul memang diingat di penjuru Eropa sebagai seorang pria yang jahat dan "haus darah" (ini ungkapan ya, bukan dalam artian sesungguhnya) karena dua hal.

interior di dalam Bran Castle

Pertama, ia dikenal sebagai Vlad the Impaler atau Vlad si Tukang Pasak karena hobinya menusuk musuh-musuhnya dengan pasak hingga mati tergantung karena kehabisan darah. Ribuan orang meninggal dengan cara seperti ini di tangannya. Kedua, ia tak kenal belas kasihan terhadap para pedagang-pedagang Saxons asal Jerman di Brasov yang tak memenuhi kewajiban untuk membayar pajak di Wallachia. Pedagang-pedagang Jerman ini memasuki wilayah Wallachia dari Transylvania, dengan demikian kastil Bran menjadi lokasi yang cocok bagi Vlad untuk menangani pedagang-pedagang tersebut. Akibat ketegasan Vlad ini banyak orang Saxons yang kembali ke Jerman sambil membawa cerita-cerita buruk tentangnya. Tak heran, referensi mengenai Vlad Dracul di literatur Jerman abad ke-15 amatlah identik dengan kebengisan dan kejahatan.

Lantas, apa halnya dengan kastil Bran yang saya kunjungi? Di kastil ini saya anehnya justru tidak merasakan perasaan horor, melainkan perasaan sedih dan kasih sayang yang begitu dalam. Perlu diketahui, kastil ini hanya pernah beberapa kali ditinggali Vlad secara langsung. Kepemilikan kastil ini pada akhirnya jatuh kepada Mahkota Kerajaan Rumania. Kastil ini direnovasi besar-besaran untuk ditinggali seorang ratu pada zaman jelang Perang Dunia Kedua. Kastil ini bahkan pernah dijadikan rumah sakit untuk menampung warga-warga sekitar serta anak-anak yatim piatu yang menderita kemalangan. Kastil ini pada akhirnya justru menjadi sanctuary atau tempat perlindungan bagi banyak orang, mulai dari keluarga kerajaan hingga common people.


pemandangan halaman tengah
Bran Castle

Gaya arsitektur kastil ini cukup unik karena berbeda dengan kastil-kastil di Eropa yang pernah saya kunjungi. Menara dengan atap cone yang lancip mengingatkan saya akan kastil De Haar di Utrecht. Beberapa bagian dari kastil ini memiliki pengaruh Jerman, akan tetapi tipe halaman terbukanya, lorong-lorongnya yang sempit, gaya jendela serta gaya sumurnya menurut saya amat menonjolkan gaya Rumania atau gaya Eropa Timur. Ada aksen tersendiri yang membuatnya berbeda dengan kastil-kastil di Eropa Barat. Kastil ini cukup sederhana jika dibandingkan dengan kastil-kastil lainnya.

Oh ya, di kastil ini saya juga menemukan dua buah meriam kecil (kalau di dunia Melayu ia disebut dengan nama "rentaka") dengan lambang VOC pada badannya. Entah mengapa saya juga merasakan adanya pertalian antara sejarah kastil ini dengan sejarah global perusahaan multinasional pertama di dunia itu. Bisa jadi dulunya VOC pernah jadi pemasok senjata untuk memperkuat perlindungan kastil Bran dari serangan asing. Salah seorang bewindhebber VOC alias pemegang saham utama dari Amsterdam yang bernama Elijah Tripp sekitar abad ke-17 pernah berjualan senjata api hingga sejauh Swedia dan Venezia. Berbisnis di saat perang ternyata sudah bukan hal baru lagi ya.

meriam VOC di Bran Castle

Meskipun pada akhirnya saya tidak "bertemu" dengan Dracula yang sesungguhnya, berkunjung ke kastil ini tentu saja akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Bagi teman-teman yang tertarik untuk berkunjung ke kastil ini sembari menikmati keindahan alam Transylvania, musim semi adalah pilihan yang terbaik. Sepanjang perjalanan teman-teman bisa menyaksikan pula "hidup kembali"-nya alam melalui bunga-bunga liar yang mulai bertumbuhan di tepi jalan.

Salam dari Leiden yang (sedikit) mulai menghangat,
Louie

10:26
14 April 2016

Tuesday, March 22, 2016

One fine afternoon in Brussels

Last weekend i went to Belgium with three other friends by car. That was my first road trip (inter-state) ever since living in Netherlands. I've been traveling to many countries in Europe by train or plane, hence that experience was one of the kind. We packed our own lunch to avoid over spending money and brought our own snacks. Azzam's mother provided us with ayam goreng, white rice, salads, and tempeh mendoan. We weren't lacking of anything at all (except for some Belgian waffles!).

The idea behind this Belgium trip is to visit the historical side of Waterloo where the destiny of Europe was determined. I am a big fan of Napoleon and of course this site is in my must-go-list. After seeing the Lion monument in Waterloo we visited a beautiful and picturesque small town named Dinant. The Maas river flows across the town, it continues the journey to the north and will end up in the famous city of Rotterdam, The Throat of Europe. We went to a fort on the top of massive rock by the town's cathedral and enjoyed the amazing view of Dinant from high above. We ended our trip by visiting the capital city, Brussels and having our late lunch on the park not too far from Atomium.

The city of Dinant

It was Saturday, 19 March 2016. The Atomium was packed with people. Families and children. Lone travelers and couples. Man and woman. Everyone from all over places were there. The parking area for car was also full with vehicles. I saw kids playing soccer on the grass field in nearby park. Old men walking with his dog. Tourists from Asian country taking selfies. Everything was peaceful and normal. I smiled and snapped several pictures. I hoped to post the picture in my instagram with caption: "was terorrized by crazy extremists but manage to keep the life goes on".

i was hoping that i can share
this picture from last week
to show that everything was
fine and normal in Brussels until
this morning

This morning i heard a terrible news about the attack in Brussels. My friends were terrified. We all have someone we know who lives or studies  there. Indeed, every attack in Belgium scares the shit out of us who lives just next door. How come a place that i just visited two days ago in one fine spring day suddenly being torned by this terrible incident? Belgium has been under the spotlight these past month. The Molenbeek neighborhood in Brussels where the terrorist-suspects live find itself in the list together with Bronx and Queens as the most notorious neighbourhood in the world. Brussels once again has to face another scar on her pretty face. It turns out that in my trip we visited Waterloo, the site where a prominent battle in Europe happened in 1812 and Brussels, the city which is in the front line on another important battle: the 21st century war against terrorism.

I pray to every victim and their family. We should not tolerate our planet to be terrorized under any names or any ideologies like this. Not just towards the West but the same goes to the East as well. It is our job to make sure that everything is in peace and harmony.

Leiden,
22 March 2016

Sunday, February 7, 2016

Time Travel - Sasrokartono

Di suatu musim dingin pada bulan Februari, saya bersepeda dari Lipsius bersama adik saya menuju ke jalan Breestraat di jantung kota Leiden. Tidak berapa lama kami berhenti di depan sebuah bangunan. Saat tengah mengunci sepeda, adik saya bertanya:

"Mas, katanya mau ke situs bekas rumah tempat tinggal kakaknya Kartini di Leiden, kenapa malah ke toko baju?" 

Saya mafhum dengan protesnya karena memang kami berhenti di depan toko baju Globe Reisburo Brooks. Tapi tidak salah lagi, memang benar ini alamatnya. Breestraat 95, Leiden. Ini adalah rumah hunian Sasrokartono, seorang pangeran muda Jawa putra Bupati Jepara yang juga merupakan kakak kandung Raden Adjeng Kartini. 
Breestraat 95, Leiden

Saya tak menjawab pertanyaan adik saya itu, saya hanya memberinya isyarat untuk mengikuti saya masuk ke dalam toko. Ternyata bagian dalam toko itu cukup luas. Bangunan yang dibangun sekitar tahun 1700-an ini ditinggali oleh Sasrokartono selama masa studinya di Leiden sejak tahun 1901. Sebelumnya ia pernah selama 4 tahun belajar di Politeknik Delft, namun ternyata jiwanya lebih tertarik kepada hal-hal yang berbau sastra dan kebudayaan ketimbang teknik. 

Entah mengapa saat berada di dalam Breestraat 95, di antara rak-rak baju wanita yang sedang korting 70% saya merasakan adanya pertalian yang kuat dengan dirinya. 

Kami tidak berlama-lama di dalam gedung itu karena adik saya mulai merasa kelaparan. 

"Mas, Topvis yuk mas! Mesen mixschotel yang 2 kg seafood itu!" bujuknya sambil manyun. Saya hanya menurut sambil terus membawa perasaan aneh tadi. 

***

Malamnya saat berada di atas kasur dan sudah berkemul selimut, saya merasa ada seseorang yang menarik-narik ujung kain yang menyelimuti saya itu. Saat saya bangkit untuk duduk, di samping kasur telah berdiri sesosok pria berjas hitam, mengenakan blangkon dan jarik. Saya terkejut, panik tapi tidak dapat teriak. Wajahnya tidak terlihat dengan jelas namun saya tahu betul siapa dia. Rumahnya baru saja saya kunjungi siang tadi. 

***

Setahun kemudian, di musim gugur pada bulan Oktober, saya berada di Jenewa. Jenewa, kota perdamaian dunia. Bersama dengan rombongan kawan-kawan dari program European and International Human Rights Law kami berkunjung ke markas Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai bagian dari program studi kami. Setelah bertemu dengan beberapa orang penting dari Komisi Perlindungan Hak Asasi Manusia, kami diizinkan untuk touring keliling bangunan megah yang konon dibangun demi melindungi kepentingan seluruh umat manusia itu.

Saat berjalan menuju ke sayap lama bangunan Paleis de Nations yang dulunya merupakan gedung Liga Bangsa-Bangsa (organisasi embrio PBB sebelum Perang Dunia II), saya merasakan sensasi yang sama saat berada di Breestraat 95. Ada jejak Sosrokartono di sini. Saya ikut berjalan mengikuti tour guide kami menuju ke Bangsal Agung Liga Bangsa-Bangsa. Bangsal berukuran raksasa dengan warna hijau zaitun itu dipenuhi oleh lukisan di dinding hingga ke langit-langitnya. Dibiayai oleh Kerajaan Spanyol yang saat itu masih merupakan salah satu superpower di dunia, pelukis asal Barcelona José Maria Sert mengabadikan kemajuan teknologi, perkembangan sosial, peperangan, persatuan dan harapan akan perdamaian dunia melalui lukisannya yang berwarna keemasan dan abu-abu.
Council Chamber, Paleis de Nations Geneve
Saat tengah menikmati simbologi yang dititipkan oleh Jose Maria di dalam karyanya, tiba-tiba saya merasa ada seseorang yang menepuk-nepuk punggung saya. Ketika saya menoleh, ah, di situ berdiri sosok yang sama yang menghampiri saya pada suatu malam di bulan Februari. Sasrokartono menggerutu, katanya saya tidak sopan karena datang tanpa sowan. Saya hanya bisa pasrah meminta maaf pada pria yang dijuluki "Javanese prince" di Leiden oleh kawan-kawannya itu. Ia perlahan menghilang ke bahagian bawah bangsal, menuju ke sebuah meja dengan mesin tik.

***


Sasrokartono yang prodigi itu ternyata pernah menjabat sebagai kepala bahagian penerjemah di Liga Bangsa-Bangsa pada tahun 1920-an. Ia tidak menyelesaikan pendidikan Masternya di Leiden karena "clash of idealism" dengan supervisor skripsinya saat itu, Snouck Hurgronje. Sasrokartono yang menguasai 26 bahasa daerah dan dunia kembali ke Hindia Belanda pada tahun 1925 dan menjadi seorang mistik yang terkenal. Bakat spiritualnya memang tinggi, ia tak hanya dapat menyembuhkan orang sakit dengan media air putih namun juga berhasil memotret kawah gunung Kawi pertama kali dari udara, tanpa menggunakan pesawat terbang. 


***


Terakhir kali saya "bertemu" dengannya ialah saat saya tengah berjalan kaki di sekitar Academiegebouw pada suatu malam. Saat itu ia juga tengah berjalan-jalan di tepi kanal Rapenburg, tangan kirinya bertumpu pada sebuah tongkat sedangkan tangan kanannya memegang cerutu. Dari jauh rupanya ia sudah melihat saya. Waktu itu hari baru saja masuk maghrib, lampu-lampu jalanan di sepanjang kanal Rapenburg juga baru saja menyala. Ia berjalan ke arah saya lalu bergumam sesuatu yang tak dapat saya tangkap.

Sejak saat itu saya tidak pernah lagi bertemu dengannya. Oh, ternyata kami mempunyai horoskop Jawa yang sama. Ia lahir 10 April 1879 dan jatuh pada zodiak Kasadasa. Saya lahir pada tanggal 16 April dan otomatis punya zodiak yang sama pula. Mungkin itu penyebabnya sehingga kami dapat terhubung. Apa benar iya, saya pun juga tak tahu.



Wednesday, January 27, 2016

Second Generation of Human Rights Mindset: Remaining of the Long Finished War

The Cold War was over and many believes that today is the new era for the universal and united concepts of human rights in the Western hemisphere. There is no longer“this group of rights is inferior to that group of rights”. Is this true? Judge Silvis in his talk with students from Leiden University in the European Court of Human Rights, Strasbourg addressed the civil and political rights as the &First Generation of Human Rights&. It might only show his way of classifying civil and political rights with the economic, social and cultural rights to commemorate the long passed history, but it could also implicitly reveal the existence of these two type of separation for human rights in the unconscious mind of the European Court of Human Rights' judges.
In the last 5 years, HUDOC website reports that from 7.415 applications being submitted to the Court related to the &second generation of human rights&, only 104 are declared admissible and 44 cases lead to follow up decisions (43 resolutions of the Committee of Ministers and 1 recommendation of the Committee of Ministers). While facing the second generation of human rights issue, the fundamental rights mention in ECHR are used as indirect recognition due to the absence of those rights in the Convention. The protection of ‘finding historical truth’ for example, is not exist in the present Covention. However, through the case of Dink v. Turkey (2010), the Court was able stretch the use as Article 10 on freedom of expression to certain degree that it would also fit the scene of denigrating Turkish identity for the victim by expressing views on the Armenian massacre 1915.

European Court of Human Rights in Strasbourg, France
As much as it is indeed exciting to see how the judges plays with interpretation, this however could lead to another big problem: overstretching the concept of fundamental rights itself. In a recent case of housing as resembles in Winterstein v. France (2013), France was found guilty of the violation of Art. 8 due to its decision to evict group of travellers and not being responsible for their alternative housing. The question that appear from this case: is it the right to get a home that must be provided by the authority or the right to respect home that has already existed as mentioned in Art. 8? The Court with it’s decision, trying to combat State’s action to conduct activities that might violate human rights of certain community using power and running away from providing accommodations as the consequences.
Finally, the answer for how long can the separation between these two type of rights and the indirect implementation of ECHR to the “second generation rights” could last, rely on how legal scholars and practitioners understand the words “interdependent” and “indivisibility” of the two rights. If the overstretching interpretation of civil and political rights seen as necessary enough address all the needs for the development of economic, social and cultural rights, then it is our legal creativity (not just reasoning, but also imagination) that must be responsible to be expanded for wide ranging context in the coming years.

Friday, January 8, 2016

Oasis Kemanusiaan di Al-Andalus

Sejak kecil saya sudah bermimpi untuk dapat berkunjung ke Andalusia. Mimpi ini tentu saja tidak datang dengan tiba-tiba. Imajinasi tersebut muncul saat saya duduk di bangku kelas I SMP melalui enam jilid buku bernama Ensiklopedia Islam untuk Pelajar terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve. Saat itu kami sekeluarga baru saja pindah dari Bali dan ayah saya ingin agar anak-anaknya yang berlatar multikultural ini embracing ajaran Islam dengan baik, salah satu caranya lewat buku pengetahuan dasar yang kaya dengan ilustrasi berwarna itu. Dari sekian ratus lembar-lembar berwarna itu, saya biasanya akan skip langsung ke bahagian-bahagiaan yang bercerita tentang kisah para nabi atau kerajaan-kerajaan (kekhalifahan maupun kesultanan) Islam di berbagai pelosok dunia. Dasarnya memang suka dengan cerita-cerita rakyat dan dongeng, bagian-bagian yang bentuknya narasi itulah yang bagi saya lebih menarik daripada entri mengenai hal-hal fiqih.

Sebuah entri khusus mengenai kekhalifahan Bani Umayyah di Andalusia (istilah bangsa Arab untuk menyebut Spanyol) membuat saya terpukau. Di Andalusia, selama kurang lebih 700 tahun pernah berdiri sebuah sistem pemerintahan Islam yang mengakomodir kehidupan masyarakat Yahudi dan Nasrani dengan damai. Di tempat itu ilmuwan-ilmuwan serta seniman-seniman terbaik umat manusia lahir serta berkarya, kelak menginspirasi belahan bumi Eropa lainnya dengan Renaissance. Sepertinya utopis sekali Andalusia ini: semangat convivencia alias hidup bersama antara tiga agama Abrahamik di tengah masyarakat yang sekuler dalam segi ilmu pengetahuan menciptakan istana-istana, taman-taman, perpustakaan-perpustakaan, universitas-universitas serta pemukiman-pemukiman yang indah. Cordoba, kota yang dijuluki oleh seorang biarawan asal Jerman yang berkunjung ke sana di abad pertengahan dijuluki sebagai Ornament of the World. Jalanan kota Cordoba telah beraspal dan diberi lampu penerangan saat malam ketika London dan Paris masih berkubang lumpur di kala hujan. Cordoba sebagai ibukota kekhalifahan dinasti Umayyah yang baru (dulunya di Damaskus sebelum kemudian direbut oleh dinasti Abbasiyah) memiliki kurang lebih 70 perpustakaan dan koleksi buku sebanyak 400.000 volume, yang terbanyak di Eropa saat itu. Pasta gigi dan deodoran juga dikenal oleh bangsa Spanyol dan Jerman pertama kali lewat Cordoba.
La Mequita Cordoba dari atas jembatan Romawi Puente de Romano.
Saya memegang foto peta kuno kep. Maluku karena dulunya
dari Sungai Guadalguivir inilah kapal-kapal pemburu rempah Spanyol
berlayar mencari rute menuju Maluku.
Bagi anak kecil seperti saya yang besar di tengah cerita-cerita mengenai isu antarumat beragama serta etnis, Andalusia adalah oasis yang menyenangkan. Oasis ini seringkali saya kunjungi di dunia imajinasi saya, membayangkan istana khalifah yang dipenuhi oleh juru tulis Kristen, ahli ekonomi Yahudi serta tabib-tabib Muslim. Semuanya hidup bertetangga dengan rukun, mengembangkan kebudayaan serta peradaban milik bersama yang membuat iri negeri-negeri lainnya. Meskipun pada akhirnya bangsa Moor (julukan orang Castilla atau Spanyol masa kini untuk kaum Muslim) dan Yahudi terusir secara paksa melalui Spanish Inquisition, rasa yang ingin saya hirup adalah kenangan bahwa pada suatu masa di tempat ini umat manusia dari berbagai latar belakang pernah merayakan indahnya menjadi khalifah di bumi Tuhan yang penuh berkat. Oasis yang membuat saya punya kepercayaan terhadap golden age bersama seluruh anak cucu Adam.
Kastil Alhambra di kejauha, Granada.
Minggu pertama di bulan Januari tahun 2016 menjadi hadiah terindah untuk si Louie kecil yang tiap pulang sekolah rajin mengulang-ulang bacaan tentang Andalusia ini. Saat menapakkan kaki di jalan-jalan berbatu Albayzin dan memandang Alhambra dari kejauhan, saya terenyuh. Melankolis sekali rasanya mengingat masa indah itu telah berlalu, tapi hati saat itu terus terang justru lebih dipenuhi oleh rasa senang. Bagaimana tidak, imajinasi kanak-kanak saya akan negeri ini mewujud dalam citra nyata! Ketika saya mengunjungi Catedral La Mezquita di Cordoba dan menyentuh hutan pilar-pilar marmernya, tubuh saya mendadak tersempal jauh sekali: lamat-lamat saya dapat mendengarkan gaung suara Ibn al-Arabi yang menyuarakan pandangannya mengenai kesatuan antara Tuhan dan mahluk dalam doktrin Wahdatul Wujud dan penjelasan Abenhazen mengenai heliosentrisme dengan alat bantu globe perunggunya seusai sholat Jumat. Di sini, di tempat ini dulu orang-orang besar itu sibuk berdiskusi tentang masalah-masalah spiritualisme hingga persoalan sains seperti mengapa air bisa mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah tanpa ada persekusi. Segala ide semerbak bersama masyarakatnya yang diverse dan moderate. Liberalisme dalam hal berpikir justru lahir di jantung agama Cordoba. Lalu saat saya berada di Sevilla, ah, Sevilla! Kota yang tidak akan pernah dilupakan Tuhan karena kecantikannya. Inilah ibukota dinasti Umayyah Spanyol yang pertama sebelum berpindah ke Cordoba. Di kota ini pula seluruh kekayaan dunia mengalir, mulai dari perak dan mutiara Amerika hingga rempah-rempah Maluku.
Ngobrol sore di Casa de Pilatos, Sevilla.
Rumah ini unik sekali karena menggabungkan
arsitektur Moorish dengan Renaissance

Masih ada banyak siku jalanan, gedung, alun-alun dan taman yang belum saya kunjungi. Seminggu rasanya sungguh terlalu singkat untuk dapat mengeksplorasi setiap sudut negeri imajinasi saya ini. Kami berada di Granada tepat saat perayaan Toma de Granada atau perayaan kekalahan Sultan Boabdil of Granada terhadap Isabella dan Ferdinand berlangsung. Kami pun berada di Sevilla tepat saat perayaan Los Reyes Magos alias Tiga Raja dari Timur datang berkunjung untuk membagikan hadiah kepada anak-anak yang baik. Ada terlalu banyak kebetulan yang bagi saya pribadi adalah sebuah "kode keras" untuk datang kembali.

Sambil berjalan kaki di area Juderia (pemukiman orang Yahudi yang letaknya berada persis di samping Katedral Masjid Cordoba) saya menyanyikan lagu Sefardi Avram Avinu (Bapak kami Ibrahim). Lagu yang menyisakan gembiraan akan hari-hari penuh damai dan persatuan di oasis bernama Al-Andalus. Tak ada yang lebih membahagiakan selain mengawali tahun dengan imajinasi yang menjadi kenyataan.


Leiden,
8 Januari 2016
1:11 PM