Tuesday, June 2, 2009

Amerika dari kacamata seorang remaja muslim Indonesia




Tahun lalu adalah sebuah kebahagiaan sekaligus anugerah dari Allah SWT bagi saya. Sebagai seorang remaja yang sedang puber-pubernya dilanda oleh gejolak darah muda yang menggelegak saya diberi kesempatan untuk mewakili pelajar tanah air selama setahun di negri Paman Sam. Pengalaman yang saya dapatkan di sana sungguh tak terbandingkan. Setiap detik yang saya alami begitu berharga di dalam kepingan-kepingan memori. Mungkin saya tidak akan menjadi seperti ‘Louie’ yang sekarang tanpa melewati masa-masa tersebut.

Dulu sebelum berangkat ke Amerika, opini saya terhadap negri dengan jumlah penduduk terbanyak ketiga di dunia itupun tak jauh dengan pandangan awam masyarakat Indonesia yang telah tergeneralisasi. Bayangan ‘superpower-haus minyak-nan kapitalis’ yang disajikan oleh media begitu nyata. Demikian pula dengan pencitraan sebagai ‘musuh’ dari beberapa kalangan keagamaan. Rasa sedih serta sakit hati yang didera oleh warga Afghanistan, Irak, Vietnam serta kesengsaraan yang muncul di Palestina seakan tak lepas dari tangan Amerika yang menggerakkan sendi-sendi dunia. Amerika adalah perwujudan dari si bos besar yang membawa kehancuran bagi negara-negara dunia ketiga terutama negara-negara Islam. Masih banyak lagi hal-hal berbau negative yang dapat dikait-kaitkan dengan negara asal KFC dan Pizza Hut ini. Oleh karena itu, ketika mengikuti seleksi pertukaran pelajar pada sebuah program internasional yang memang telah memiliki nama, saya sudah meniatkan untuk tidak ingin memilih Amerika sebagai negara tujuan. Saat itu saya tergabung dalam rohis SMA serta rasa ketidaksukaan yang dalam telah terpupuk di dalam benak saya terhadap negri yang diserang oleh Osama bin Laden itu. saat itu saya berpikiran bahwa pergi ke Amerika hanya akan menemukan dosa dari pergaulan bebas remajanya. Saya lebih memilih untuk pergi ke negara lain seperti Jepang atau Belgia.



Namun rupanya nasib berkata lain. Alhamdulillah saya berhasil melewati tahap-tahap seleksi pertukaran pelajar tersebut, hingga akhirnya tibalah saat pembagian negara tujuan bagi siswa-siswa se-Indonesia yang dinyatakan lulus. Saya yakin segala sesuatu telah menjadi kehendak Allah. Demikian pula halnya ketika saya mendapatkan Amerika sebagai negara tujuan. Awalnya jujur saya kurang begitu senang. Saya iri dengan teman yang mendapatkan negara lain seperti Jepang dan telah berangkat awal. Akan tetapi kemudian saya ingat bahwa mungkin ada hikmah tersembunyi yang Allah kehendaki melalui pilihan yang jatuh kepada saya ini. Maka setelah segala persiapan yang panjang dilakukan, pada tanggal 4 Agustus 2007 saya meninggalkan tanah air menuju kiblat negara-negara dunia; Amerika Serikat.

Apa yang terjadi selanjutnya selama hampir setahun tinggal di sebuah kota kecil bernama Athens di wilayah negara bagian Ohio sungguh memberikan pelajaran hidup yang penting. Mata saya seakan-akan terbuka seperti saat seorang bayi kecil pertama kali melihat dunia. Amerika yang telah terbentuk di dalam pikiran saya itu berbeda dengan Amerika yang sekarang saya alami. Meskipun penduduk negri ini bukanlah penganut agama Islam dari segi agama akan tetapi keteraturan serta kedisiplinan yang mereka praktekkan merupakan teladan nabi. Waktu adalah pedang, ujar sebuah pepatah Arab. Di Indonesia metode jam karet telah lama diterapkan pada kehidupan sehari-hari, akan tetapi jangan harap Anda bisa menggunakan system yang sama di sekolah saya, Athens High School. Setiap pagi pukul tujuh tepat sebuah bus sekolah berwarna kuning akan muncul diujung Columbus Avenue, jalan raya di dekat rumah keluarga angkat saya berada. Bus hanya akan menunggul sekitar 2-3 menit, selebih itu apabila tidak ada anak sekolah yang muncul maka sang sopir akan segera menancap gas menuju sekolah. Tidak ada kata terlambat karena segala sesuatu berjalan sesuai schedule. Sehari-hari di sekolah bel akan berbunyi pada waktunya, dalam sebelum itu tidak ada seorang murid pun yang boleh berkeliaran di hallway. Kelas pun tak pernah kosong tanpa guru. Ditunjang oleh fasilitas yang baik, kebersihan terjaga, buku-buku menarik, jaringan internet serta guru-guru muda yang tidak canggung untuk bercanda dengan muridnya saya merasa nyaman dengan sekolah menengah atas di Amerika.

Orang-orang yang saya temui pun rata-rata berpikiran terbuka. Sebagai contoh host-mom (ibu angkat) saya yang seorang dokter. Ia suka sekali mendengar cerita tentang betapa uniknya Indonesia. Saya memberitahunya tentang keanekaragaman negara yang bersuku-suku ini. Bahkan di tempat saya bermukim di Sulawesi Selatan saja ada empat etnis yang hidup berdampingan sambil tetap membawa cirri khas bahasa dan budaya masing-masing. Teman-teman saya terkejut sewaktu saya mengatakan bahwa Indonesia terdiri lebih dari 17.000 pulau. Pun mereka juga terkejut ketika mengetahui bahwa Indonesia adalah negara dengan jumlah kaum muslim terbanyak di dunia. Gambaran yang diciptakan oleh media Barat (yang cendenrung pula memojokkan grup-grup islam) membuat mereka berpikir bahwa orang-orang Islam itu adalah orang-orang Arab. Salah satu kelas favorite saya selama berada di sana adalah kelas Sociology dan Psychology. Di kelas itu biasanya kami bereksperimen dengan sesama siswa atau memberikan presentasi berupa pendapat kita tentang materi yang dipelajari. Sungguh tidak membosankan, karena kami bahkan hampir tak pernah harus membuka buku, kecuali untuk mendapatkan referensi atau membaca teori. Cara transfer ilmu yang dilakukan tidaklah monoton sebagaimana yang banyak dikeluhkan oleh siswa-siswa di tanah air. 

Kemajuan yang dimiliki oleh negara ini pun patut diacungi jempol. Internet bukanlah hal yang langka di sana. Ada wifi yang dapat di akses dimanapun Anda berada. Demikian halnya dengan peredaran buku-buku berkualitas. Saya sejak dulu gemar membaca dan semenjak melihat begitu kayanya khazanah Amerika dengan buku-buku spektakuler saya menjadi begitu iri. Bahasa Inggris sebagai bahasa utama dunia memungkinkan saya untuk membaca karya-karya langka yang belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bahkan buku-buku tentang Islam yang tak dapat ditemukan di tanah air pun ada. Perpustakaan umum selalu ramai dikunjungi. Pada hari jumat dan sabtu biasanya orang tua akan datang ke Athens Public Library sambil membawa anak-anak mereka. Sebuah piknik yang mendidik. Hal itu ditunjang pula oleh dekorasi perpustakaan yang nyaman, lapang, bersih, terang serta teratur. Seluruh buku disampul dan dalam kondisi yang prima. Tidak hanya itu, disediakan pula beberapa komputer untuk online serta kaset-kaset cd dan dvd. Anda dapat meminjam buku berapa pun banyaknya secara gratis, tentunya setelah membuat kartu anggota.

Jika tidak pernah menginjakkan kaki di negri Paman Sam, mungkin saya tidak akan menjadi setoleran sekarang ini terhadap pemilik agama lain. Saya merasakan betul bagaimana rasanya menjadi minoritas. Bayangkan, ketika bulan Ramadan tiba, hanya ada dua orang yang berpuasa di sekolah saya! Hari raya Idul Fitri pun tidak terhitung sebagai hari libur sehingga saya harus minta izin dari sekolah untuk merayakannya di Islamic Center. Di negri sendiri azan selalu terdengar bersahut-sahutan lima kali sehari, namun di Athens suara azan adalah hal yang asing. Namun saya tidak menyalahkan Amerika karena itu. justru saya diajari untuk merasakan hal yang juga dialami oleh kaum minoritas di negara kita. Selama berada di sna, saya juga tidak pernah mengalami prilaku diskriminatif dari warga Amerika yang katanya anti-islam itu. Mereka malah terkejut ketika melihat mengapa seorang muslim bisa begitu fleksibel memakai kaos dan celana jeans karena mind-set yang ada dalam benak mereka seorang muslim itu haruslah berjanggut dan memakai sorban. Problem yang sebenarnya tercipta di antara Amerika dan Dunia Islam sebenarnya adalah ketidak-terbukaan. Masyarakat dikedua belah pihak akhirnya tidak mengetahui dengan baik perihal satu sama lain sehingga dengan mudahnya termakan oleh stereotype-stereotype.

Bisa dikatakan bahwa Amerika yang sekarang ini adalah kota Baghdad yang kaya akan pengetahuan serta kemajuan pada zaman dahulu. Berbagai bangsa datang ke negri Paman Sam bukan hanya untuk mencari penghidupan semata namun juga untuk menuntut ilmu. Amerika adalah negri yang multicultural, sehingga agak susah sebenarnya jika disuruh mendefenisikan karakteristik warganya secara khusus. Amerika bukanlah negri kulit putih, karena di sana kita dapat menemukan seorang Amerika yang berkulit hitam, seorang Amerika yang berperawakan Cina, seorang Amerika yang beraksen Latin dan seorang Amerika yang muslim.

Saya belajar banyak dari negri yang didirikan oleh George Washington dan para cendikiawan lainnya itu. Tidak hanya mengagumi pelayanan publik yang cepat serta memuaskan atau kebebasan warganya untuk menyuarakan hak-hak mereka, tapi juga pelajaran akan kebijaksanaan terhadap sesama. Kebaikan-kebaikan suatu negara tentu diiringi pula oleh kekurangan-kekurangan yang dimilikinya, akan tetapi demi menjembatani perbedaan dan mengukuhkan perdamaian dunia untuk apa kita menengok yang buruk-buruk. Saya yakin, suatu saat nanti Indonesia dan Amerika mampu berubah menjadi lebih baik. Khususnya Amerika, semoga usaha-usaha saling tukar pikiran antara Islam dan Barat yang belakangan ini marak dilaksanakan dapat menggenjot potensi yang dimiliki negara itu untuk menampilkan wajah yang lebih ramah kepada kaum muslim.

Tuesday, April 7, 2009

Lagi Mumet tapi Hepi


Alhamdulillah aku keterima di Antropologinya Universitas Indonesia. 
Nggak disangka-sangka!!!
Kabar gembira itu disampaikan oleh salah seorang sahabat saya yang bernama Randy via telepon di pagi hari ketika saya baru saja mendarat di Jogja untuk mengikuti tes UM UGM.

se-Makassar, kira-kira hanya 5 orang yang lulus seleksi UI!!! 

Tapi, sudah sejak dulu hati ini kecantol dan ingin sekali kuliah di UGM. Kita hanya bisa berdoa semoga diberi yang terbaik oleh Allah SWT...
nah, sepulang dari Jogja kembali ke Makassar saya harus menghadapi UAS (Ujian AKhir Sekolah). karena waktunya yang bertepatan, saya pun terpaksa nyusul ujian hari pertama (KN dan Agama) di hari ketiga. 

Waduh... badan masih capek, lemes. Sekarang hadapi ujian lagi. 2 minggu lagi UAN (Ujian Akhir Nasional). Huaaaah... Kepala mumet banget!!! Pagi tadi kayaknya ujian sejarahku keteteran deh, padahal guru sejarahku seneng banget pas dengar aku keterima di UI. kira-kira gimana reaksinya kalau lihat nilaiku tadi ya?

Ya Allah... I beg you... With all of Your Merci... Give me strength and Your Kindness Help...

Amin.

Wednesday, April 1, 2009

My Favorite Quote

Terlampir di bawah ini adalah sebahagian dari favorite-favorite quote saya selama berada di negri Paman Sam. Pesan moralnya lebih dikondisikan dengan keadaan saat saya masih berada di sana. Tujuan saya share hal ini sebenarnya hanya untuk refreshing dikit, minggu-minggu penuh ujian dan tes masuk perguruan tinggi harapan. Wish me luck! Semoga ada beberapa quote yang kecantol di hati :)

History is the version of past events that people have decided to agree upon.
( Napoleon Bonaparte )

I never think of the future - it comes soon enough.
( Albert Einstein )

My father taught me to work; he did not teach me to love it.
( Abe Lincoln )

Obladi, Oblada life goes on... BRA!!!
( The Beatles )

IMAGINATIOOON!!!
( Spongebob Squarepant)

Ushi Van Dijk : What is your favorite position in the bed?
Ronn Moss : Doggy-style
Ushi Van Dijk : I mean, your sleeping position
Ronn Moss : Oh... Uh, hmmm... lying down on the bed...
[awkward pause]
Ushi Van Dijk : Sex?
Ronn Moss : We already cover that.

My mother never saw the irony in calling me a son-of-a-bitch.
( Jack Nicholson )

Japans Grapje!
( Ushi Van Dijk )

Be peaceful, be courteous, obey the law, respect everyone; but if someone puts his hand on you, send him to the cemetery.
( Malcolm X )

Experience is a dear teacher, and only fools will learn from no other.
( Ben Franklin )

I don't have time for hating people. I must pay my bill, clean up my house, my car is broken, etc. I don't have a time for hating people...
( Ms. Santoni )

Nothing in this world happened by random... everything is fated...
( Yuuko-xxxHolic )

I cannot rest from travel: I will drink
Life to the lees: all times I have enjoyed
Greatly, have suffered greatly, both with those
That loved me, and alone
( Ulysses-Lord Tennyson )

Louie! Don't be like American!
( Mariya Kukhtina )

Who is stopping you?!
( Sherika Adams )

To work hard, to live hard, to die hard, and then go to hell after all would be too damn hard.
( Carl Sandburg )

""I miss the Shire. I spent all my childhood pretending I was off somewhere else. Off with you, on one of your adventures. But my own adventure turned out to be quite different."
( Frodo Baggins )

"My name is Bunifa-Hanifa-Latifa-Sharifa Jackson... You hafta respect our sister name! Hey, Sonya!"
( Bunifa-MadTV )

Johann Wolfgang von Goethe says;
“If a good person does you wrong, act as though you had not noticed it. They will make note of this and not remain in your debt long.”

"Ehyeh asher ehyeh"
( Shemot 3:14 )

"You're an Asian, Louie??? I thought you are Guatemalan!"
( Mrs. Zimmerman )

"You're come back to Indonesia? I thought you are from Middle East!"
( Mrs. Heinke )

"I Like your hair!"
( Ani B. )

Kelsie S. : "I love Louie's lips! It's look so juicy!"
Me : "Hmmm... Is that a compliment?"
Ozzy : "Yeah!"
Me : "Oh, well... Thank you then..."

"I vote for Louie's hysterical earthworm!!!"
( Mike Lopez )

"I Loves you than I loves my mom, Louie!!!"
( Maddie )

"Louie loves Shark and watch Disney Channel!"
( Ozzy )

"DUMM DUMM DUMM, DUMM DUMM... A LOUIE-LOUIE!"
( Tyler, Eddie, Ms. Z, Ms. Kem, and anybody else who always singing that song when they saw me )

"You have a beautiful complexion and quiet hair too..."
( A Senegalese Gypsy Woman At ComFest )

Saturday, March 28, 2009

My Laptop Is Broken!!!


I think this is the hardest moment ever in my life.

I just got back from Jogjakarta. I had applied for Gadjah Mada University right there and really wish I could pass the test on the following week. I also had fun to hang out with my friend Ogi, Putri and AFSers chapter Jogja. I spent my time by visiting Kraton, Candi Prambanan, Taman Sari and Malioboro. I had exquisite moment with my favorite little cousin, Ikra Preswara. Although getting wet by rain on the last day after AFSers dinner, I still enjoyed the happiness atmosphere there.

Then I came back to Makassar.
The story is so simple. I got a little fight with my oldest sister because of the internet using in our house. But then she suddenly exaggerated her stupid madness into wild and barbarian act by throwing my laptop to the floor. I was so shocked. On that time I hope my lovely laptop that have been accompanied me from USA will be fine. But when I tried to start it on again, it won't work. I realized a horrible nightmare has come.

So, a computer expert came over to our place and tried to fix it. Unfortunately he said that the hard disk was broken and I'll lose all data I have. I can't belief this!!! Oh My God.

My pictures during exchange year in USA!
My memory with all of my friends there!
My video with my host-family!
My school folders!
My writings! My essays! My stories!
My music! My jazz!
My life, my everything!
And the newest pictures on Jogja!

Shit. What can I say to her? Get rotten in the hell? Be buried in the dark pit of sharp-tooth worms?

I can't even cry anymore. I lose all of my feelings like a walking zombie.
Gosh, my precious experience that'd been captured on pictures are gone. I pray to God he'll get me a better situation after all of this nasty crap.

Lord have Mercy on me...

Thursday, February 12, 2009

'They All Laughed' By Ella Fitzgerald


I heard this song for the first time from youtube. I felt something inside my heart moved by hearing the lyrics. This song is simply amazing and inspiring people. Ella did a really good job delivered the message of this song to the listeners. I realize that none of the great people in the world born as someone succesful. They have to struggle with faith and heard people laughing. But the point here is; never give up and keep build your dreams. Someday they'll understand that you are the one who could make anything possible by moving forward.



They All Laughed Lyrics
Artist(Band):Ella Fitzgerald


They all laughed at Christopher Columbus
When he said the world was round
They all laughed when Edison recorded sound
They all laughed at Wilbur and his brother
When they said that man could fly

They told Marconi
Wireless was a phony
It's the same old cry
They laughed at me wanting you
Said I was reaching for the moon
But oh, you came through
Now they'll have to change their tune

They all said we never could be happy
They laughed at us and how!
But ho, ho, ho!
Who's got the last laugh now?

They all laughed at Rockefeller Center
Now they're fighting to get in
They all laughed at Whitney and his cotton gin
They all laughed at Fulton and his steamboat
Hershey and his chocolate bar

Ford and his Lizzie
Kept the laughers busy
That's how people are
They laughed at me wanting you
Said it would be, "Hello, Goodbye."
And oh, you came through
Now they're eating humble pie

They all said we'd never get together
Darling, let's take a bow
For ho, ho, ho!
Who's got the last laugh?
Hee, hee, hee!
Let's at the past laugh
Ha, ha, ha!
Who's got the last laugh now?"

Thursday, February 5, 2009

Old Writings: NATIONAL TREASURE (Book Of Secret) AND ANOTHER DA VINCI's CODE

January 23, 2008 - Wednesday

NATIONAL TREASURE (Book of Secret) AND ANOTHER DA VINCI CODE
Current mood: argumentative
Category: Movies, TV, Celebrities

Jan. 22, 2008

Two weeks ago (Jan. 6, 2008) i went to movie with my mom.

That was the last day before come back to school after winter break. We decidec to watch National Treasure 2 on Athena Grand. Both me and my mom were fantasy-suspends fans and we curious to know the story of President secret book that this movie promoted.

So, we went there, watched the movie, eat the popcorn then go back home. My mom so impressed with a guy who played as Railey, which is Main character's assistent. i dont know who's that guy name when she asked me, so we keep waiting until the movie's credit. When we came back, on the car, we kept discuss about it. National Treasure is cool movie with great effect. The story is fresh and smart, about conspiracy, government secret, treasure, secret map, and lost civilization. But after all, we prefer Da Vinci Code (not the movie) is better than National Treasure.

The Da Vinci Code brought more mystery and conspiracy than National Treasure. It made us don't wanna put the book, or stop to read the next pages when we just start to read it. And the object of Da Vinci Code is bigger; the author brave to challenge the secret of art, Vatican, and Catholic's doctrine.♠

But Da Vinci Code The Movie just another sucks movies. It's really-really lame, when we watched it 2 years ago. They cut some important scene and i can't feel the atmosphere of curiousity. So, if there's another movie which adopted from book (such this brand new Harry Potter Books, The Tunnels, Narnia, LOTR, etc.) i think it's better to read the book first before we watch the movie, if we don't want to be dissapointed!

Old Writings: OHH... My Dear Cameraaa...

Apr. 27, 2008

Today, I was in a really bad-mood.

We still have a last performent of High School Musical at Athens High School, but sadness and hatred covered my eyes...

Yesterday was a really wonderful night.
Everyone celebrated Sami's birthday, right after our second days of performent.
I was one of them, jumped, and yelled. I took a lot of pics of that event w/ my camera.
Everyone goin wild.
When I asked some of my friend to take my pic,
She dropped my dear camera ( I knew it without purpose though ).
Of course my camera is broken.I can't turn it on, although i checked every single part of it.
I can't turn it on, although i put the newest and finest battery on the earth.

I feel really sad. My camera is dead! Tragically, with it's lens coming out and stuck.

I want to blame her (my friend who dropped it), but i can't.
Of course i can't blame my own friend.
I just being patient and keep silent.

But what make me really angry is she didn;t even said sorry or something to me...
brengsek!!!

Then, today, i went to maddie;s house.
I hope i could still move pics from the memory card into my laptop.
Maddie's opened it with her computer.

But, oh, Sweet Lord, it didn;t work!!!
Suddenly i feel like falling into a deep dark pit.
Gosh, i've so many pics on that camera!
I've so many memories w/ my friends during this shows.
I only have another 24 days to be w/ them, and now i lose it.
The time of happiness that i tried to capture on the picture,
the moment of "we're all in this together" that frozen inside my memory card,
now dissapear, gone with the wind.

Oh, My dear camera...
even though i could buy a new one
but still, u've been with me for months...
U take my friend's picture,
Every single event that happening to me
and now, u're gone,
with the newest memory from High School Musical Play

Rest In Peace, My dear...

I will always remember you

Monday, January 12, 2009

Thoughts in January 2009

Friday, 2 January 2009

FRIDAY, JAN 2nd 09

Well, I don’t know how to put it rightly, but let me start this writing with things passed-by inside my mind.

It’s the second day of New Year 2009, and it’s gloomy. The sky above Makassar rained, and nothing you could do outside. This noon, I was flip-flopping my own mind; whether decided to go to the mosque for Friday Prayer in the middle of windy-rain (I can’t find any ugly slippers. Dad wore mind, and I got some traumatic experience by wearing nice slippers or shoes to the mosque) or just stay calm inside my room and feel guilty to God. But after some tense from my mother and not-quite-inspiring arguments by my sister which forced me to go to the mosque, I went there wearing my broken shoes. No one would steal it, I belief.

Today is the seventh day since Israel attacked Palestine and left a massive destruction with so many victims. Most of them are civilians of course, and that stupid Zionist still couldn’t understand the meaning of freedom and peace that every single humanitarian around the world shout to them. This afternoon when I watched TV each channel was giving the same story about the war that is going on. It’s hurt me, it’s hurt millions of soul that knows the story of Palestinian children.

I can’t think straightly today. You know, I only have 2 days left from my holidays! Too bad. Then when I come back to school, I’ve to warn myself that we are entering the last semester of school year, which is the craziest, the hardest, the saddest, and also the most stressful. I have made an appointment to hang out with my AFS fellows tomorrow (which is today. Because it’s 12:36 AM already). Tila is coming from Palu and she only has one day to be with us. The fool thing is that I also already made arrangement meeting with Kak Mira and her English camp. I’ll be one of the instructor on that camp but seriously I messed up everything so then I have to meet her tomorrow (which is today) and make up the whole plan. So then everyone could be happy and I could enjoy the rest of the day.

Today I got stomachache. Horrible. The best reason to explain it is perhaps because I’ve been eating rendang and pallumara this past few days.

Oh yeah, I also have a plan with Agus to join a huge demonstration house by Hizbut Tahrir Indonesia on Sunday. This is gonna be my first demonstration ever! Ha ha, kinda excited.

God, I got insomnia again. This is the worst one. It’s all started three day ago. Don’t know why. Maybe because I ate too much rendang without any variation of dishes. Well, all I know is because of this damn wretched trouble sleeping disease, I’ve kinda heard weird voices inside my head (or maybe because I was influenced by the movie Joan of Arc that I watched recently). Gosh, I felt like something corrupted my faith. But I just ignored it. I belief God always be with His good humble servant. And there’s a dozens of more serious problem that my head need to be turned on.

People are counting on me. I’m nervous. Uh oh. Final exams! And then the university. Uh! My back is so itchy. My arms and neck also. I think it’s because of the weather. It’s humid, wet, and gloomy. Perfect timing for me to got another hives again. Lord has mercy on me. Well, gotta go to bed right now. It’s 12:49 AM already. I’m alone. Mom and dad are sleeping, Nanda and Rani too, so does Mas Din. Gotta go to bed now. Bye.

Senin, 12 January 2009

Kenapa ya, begitu sukar bagi seseorang untuk memahami arti kebebasan orang lain. Apakah kebebasan berpendapat maupun berpikir sebegitu buruknyakah sehingga hal tersebut dapat menimbulkan bencana bagi orang lain?

Saya hanya mau belajar, mempelajari apa yang ingin saya pelajari. Karena bagi saya belajar itu adalah sebuah kebutuhan, bukan sebuah paksaan. Belajar itu yang akan membawa kita menjadi ahli di bidang kita masing-masing, bukan justru menjadi penghalang menuju arah yang kita inginkan. Toh segalanya hanya masalah waktu dan kesempatan. Tidaklah menjamin apabila seseorang dengan nilai ijazah sempurna akan selalu mendapatkan semua yang mereka cita-citakan di dalam hidup.

Sejarah telah menunjukkan dihadapan kita bagaimana seorang anak gembala yatim piatu miskin di Arabia nan gersang ditunjuk oleh Tuhan Yang Mahakuasa sebagai penyampai risalah-Nya. Anak serupa Einstein yang dulunya dianggap ‘agak miring’ nyatanya mampu untuk menciptakan sebuah teori pencetus terciptanya senjata pemusnah massal yang membuat mata dunia terbelalak ketakutan. Dan bahkan seorang pemuda canggung yang ditolak mentah-mentah dari sebuah akademi seni bergengsi di Vienna, Austria menjelma menjadi seorang Adolf Hitler yang namanya saja membuat merinding banyak orang. Dunia tidak sepatutnya hanya dimiliki oleh satu orang atau sebagian kelompok saja. Hakikatnya, seluruh manusia mempunyai hak yang sama di mata Tuhan, sebagai disebut di dalam Kitab Al-Qur’an bahwa kita ini telah ditunjuk sebagai khalifah-Nya di atas muka bumi.

Tapi tetap saja, apa yang dianggap baik oleh seseorang belum tentu pula dianggap baik oleh orang lainnya. Ada banyak pertimbangan. Dan juga banyak paksaan yang diiringi oleh ketidakpuasan. Semuanya merupakan bagian dari hidup bermasyarakat. Oleh karena itu pula kebebasan yang saya permasalahkan di sini pun bak koin dengan dua belah sisi. Tergantung dari mata si pengamat hendak melihat ke sisi yang mana.

Seandainya budak-budak Afrika yang diseret dari tanah kelahirannya menuju Benua Amerika dulu keturunan mereka tidak dianggap setara melalui Perang Saudara masa Abraham Lincoln, akankah Beyonce Knowles, Michael Jackson, atau Oprah Winfrey dapat setenar sekarang ini? Seandainya Belanda tidak pernah menginjakkan kaki di Indonesia, apakah Anda yakin kita dapat menjadi sebuah bangsa yang ‘Indonesia’ seperti saat ini? Bukankah dulunya kita ini terpisah oleh ratusan etnik grup dan bahasa serta budaya yang berbeda satu sama lain? Seandainya Soekarno tak pernah lahir, dapatkah kita merayakan 17 Agustus setiap tahunnya? Atau (jika Anda seorang Muslim) bagaimana jika seandainya Anda lahir di tengah lingkungan keluarga Hindu yang taat, apakah Anda akan mempunyai pandangan serta cara hidup seperti yang Anda miliki sekarang?

Dan sekarang dunia ini semakin lama semakin butek rasanya. Agresi Israel ke Palestina, telah merenggut ribuan nyawa negara malang itu. Namun dunia ini buta. Mayoritas orang hanya bisa mengerling sesaat kepada gambaran mayat warga sipil Palestina yang terkapar di atas usungan lalu lupa apa yang baru saja mereka lihat pada menit berikutnya. Kemudian bencana alam di tengah musim hujan turut pula meramaikan layar kaca. Berita cerai selebritis. Kecelakaan di jalan raya. Kerusuhan. Kenakalan remaja. Apakah segalanya memang selalu dapat kita lihat dari dua sisi? Bagaimana cara kita dapat memahami visi yang jelas-jelas berseberangan dengan apa yang kita percayai? Dapatkah seseorang pada saat yang sama mendukung Israel tapi bersimpati pula pada Palestina? Melihat atau berada di dalam dua sisi itu amatlah sukar. Jadi, kebebasan itu sebenarnya adalah ancaman atau sebuah anugerah? Di pihak yang mana Anda berdiri? Rasa-rasanya dunia ini dipenuhi oleh hal-hal bodoh dan konyol nan terasa menyenangkan...


“Kebenaran itu adalah apa yang ingin kamu dengar atau percayai.”
(Julius Caesar)

Sunday, December 28, 2008

My December 2008, the beginning of the new end


Ada banyak sekali peristiwa yang terjadi di bulan ini. Banyak, amat banyak. Di antaranya;
  • Dua orang sahabatku kehilangan ayah mereka. Peristiwa yang begitu mengejutkan. Memang kematian itu hanya milik Allah, dan kita sebagai hambaNya hanya bisa bersabar. Semoga keluarga mereka berdua diberi kekuatan; Ocha dan Amnah.
  • Ujian semester datang dan usai. Betul-betul gila. Dan amat menjengkelkan ketika kita tak bisa menjadi diri sendiri di tengah badai kecarutan penuh kecurangan.
  • Pelaku pencuri uangku ketahuan! Ternyata bukan orang yang selama ini kucurigai. Oops... maaf! Teledor...
  • Ikut rombongannya gubernur Yasin Limpo ke acara Lovely December di Toraja bersama Dqu. Capek dan agak sedikit bikin jengkel (karena terpaksa tidur di bath-tub :() tapi menambah pengalaman.
  • Kumpul-kumpul bersama Gunyu-Gunyu Kids! Masak spaghetti dan bikin 2009 resolutions!
  • Siap menyongsong masa depan baru!!! 2009 aku dataaaaaaang!!! Dengan doa dan usaha, semua pasti bisa. INSYA ALLAH!!!

Monday, December 8, 2008

again, something that just popped-out from my Trunk of Idea


Life is not all about me. Or about other people either. Life is about all kind; every single thing that happens during your life. It’s not all about receiving something; it’s also about what on earth that we’ve done for others. Just be grateful that we are existed in the era when everything is possible to be known.

Sometimes, I got scared with different color of thoughts. Pain, happiness, sadness, joy, exaggerated, overwhelmed, or bullied. Even a piece of shit could have a valuable meaning. Like appearance, how important is somebody’s shape in your prejudicial mind? Is that true, the attitude of someone, their behavior is more capable to be the object of judgment than their appearance? Is that really shows someone’s characteristic; their way of life or their way of thought?

Other example, when I said God is a relative figure for everyone, and that the Truth itself no matter what is really complicated or even the truth itself is being considered as doubtful from different point of view; if so, what is the Truth, or which point of view do we have to hold as our beliefs?

What is that mean to be someone, if no one even realizes you were there, breathed the same air with everyone else and taste the same water from the fountain? What is that mean to be with somebody else when in the same time you feel scare to lose him or not pretty sure that you will love him without any guarantee that’ll make bored?

What is that mean to be angry, when your emotion going down you doesn’t even feel the exact same feeling that just passed in your mind? Or what is that mean to be happy if you can’t really see the purpose and the result of your happiness, if it will last forever or no?

Don’t just stay here alone. Life is a travel, so go grab your backpack and start to walk out from your room to see the world. With big heart and wide mind, expand your ideas and be generous. Then help me to find, what the other meaning of this drama is.