Showing posts with label leiden. Show all posts
Showing posts with label leiden. Show all posts

Thursday, March 16, 2017

By the Rijn

I just want to sit by the Rijn
During the sunset hour
Watching the reflections of old house and the shadows of passers-by on the water
And listen to birds that are busy chirping on their way home
And not thinking about those starlike eyes
Or the nights that are very long and packed
May we are free from misleading thoughts and repetitive songs, I pray
To walk the future on the new brick road
They say here there will be no tsunami and flood
But check those ruins on my shelf
Who cracks the dam’s wall?
I say, take it, I don’t wanna sing anymore.
 
Berkel, 16 March 2017

Monday, September 22, 2014

Sosiologi Rumah Belanda: Antara Lahan, Free-Will dan Rahasia dalam Kamar

Di Belanda, semuanya bisa.

Anda mau mengonsumsi marijuana sampai mual-mual tidak enak badan keesokan harinya atau menikmati pertunjukan erotis di area khusus seks komersial, semuanya boleh. Di sini tidak boleh melarang orang sembarangan, karena hak pribadi untuk mengekspresikan diri maupun untuk melakukan apapun yang seorang individu kehendaki dilindungi oleh negara. Keterbukaan bukanlah sesuatu yang tabu, sebagaimana di tanah air. Keterbukaan dapat muncul dari vulgarnya gaya seseorang berpakaian, frontalnya seseorang dalam berbicara maupun liarnya ide-ide yang terlahir dari pikiran. Keterbukaan ini menjadi salah satu ciri masyarakat Belanda yang paling kentara. Ketika berbicara, mereka akan amat sangat direct serta seperlunya saja, tidak mengenal basa-basi. Terkadang jawaban yang jujur dapat menimbulkan kesan yang kurang menyenangkan di hati bagi lawan bicaranya.

Lucunya, keterbukaan dalam masyarakat Belanda ini bersinergi dengan antonimnya: ketertutupan. Keterbukaan tidak kemudian dengan serta-merta menjadi lawan bagi kebalikannya. Keterbukaan yang mereka pamerkan itu pada hakikatnya justru lahir dari sebuah ide yang mengakar kuat tentang privasi, individualisme dan kerahasiaan.

Ketika untuk pertama kalinya saya mengunjungi Belanda pada akhir tahun lalu, pemandangan rumah-rumah kecil mereka yang menempel satu sama lain serta letak pintu dan jendelanya yang begitu dekat dengan pinggir jalan amatlah mengundang perhatian. Rumah-rumah mungil mereka itu semuanya memiliki jendela besar dengan korden yang tidak pernah ditutup, sehingga anda yang lalu-lalang di jalan umum dapat melihat: acara tv apa yang sedang mereka tonton; makan malam apa yang sedang dihidangkan; hingga merek meubel apa yang mereka pajang di woonkamer (ruang tamu). Jelas, bagi jiwa seorang Indonesia yang serba ingin tahu, saya tak tahan untuk segera melongok-longokkan kepala dengan norak ke sana-sini memandangi isi perabot rumah mereka. Itu, kalau kejadiannya di Indonesia -dimana tetangga beli mobil baru aja kita yang sibuk- mungkin akan menuai banyak konflik sosial. Akan tetapi, di sini orang-orang Belandanya sendiri tidak memiliki rasa ingin tahu sebesar yang kita punya. 

Jejeran rumah di kota tua Haarlem. Typisch Nederland, tipikal Belanda beud.
Ketidakpedulian Belanda atas urusan orang lain ini menurut hipotesa saya pribadi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yang paling kentara adalah faktor lahan. Anda tentunya tahu kan bahwa sebagian daerah di Belanda (utamanya provinsi Holland, Zuid Holland dan Zeeland) sejatinya berada di bawah permukaan air laut. Bangsa Belanda menggunakan teknologi bendungan untuk mengeringkan air laut serta saluran kanal untuk mengatur curah air. Keterbatasan lahan ini kemudian menciptakan kepentingan individual atas properti yang ia miliki. Lahan = mahal,  mengakibatkan setiap orang memiliki perasaan yang sama atas lahan tersebut: urusilah properti anda sendiri, tidak usah ikut-ikutan mengurusi lahan saya, apalagi setelah runtuhnya feodalisme. Lahan yang cuma seiprit serta terbatas ini juga kemudian memicu lahirnya kesadaran kolektif yaitu tidak ingin diganggu oleh orang lain, prevensi untuk menghindari konflik agraria. Walhasil masyarakat bertipe individualistis pun lahir, yang karakternya jelas berbeda jauh dengan masyatakat komunal seperti bangsa Indonesia (dimana secara vice versa komunalitas itu sejatinya juga disebabkan karena luasnya lahan yang dijadikan sebagai ruang hidup).  

Gang sempit di kota Leiden, dimana jarak rumah (area privat) dan jalanan (area publik) terlihat tipis, namun sejatinya tertutupi oleh sebuah dinding tebal yang tak kasat mata.
Faktor kedua ialah kuatnya sense of free will yang disebabkan oleh ketidaksukaan mereka terhadap opresi atau persekusi. Di sini, sejak dahulu kala Belanda telah menerima para pengungsi Yahudi, Protestan, separatis Maluku dan (sekarang) imigran Muslim dari negara-negara dunia ketiga. Orang-orang tersebut merupakan korban opresi dari pemerintah atau institusi agama di negara asalnya. Ketika di zaman abad pertengahan rawan terjadi konflik sektarian Protestan v. Katolik dan pengganyangan etnis Yahudi, Belanda membuka lebar-lebar lengannya bagi para pengungsi tersebut. Munculnya Decree of Toleration oleh Perserikatan Utrecht pada tahun 1579 mengundang banyak sekali pengungsi malang dari negara-negara Eropa lain yang intoleran dan opresif. Keturunan dari para pengungsi inilah yang kemudian turut berjasa membangun Pax Hollandica, menjunjung tinggi kebebasan berpikir serta beragama (sewaktu agama masih merupakan salah satu unsur esensial dalam kehidupan mereka). Beberapa di antara pengungsi ini yang terkenal adalah filsuf Baruch Spinoza (keturunan pelarian Yahudi dari Spanyol) dan penulis kamus Pierre Bayle (seorang Huguenot Protestan yang kabur dari Prancis). Kontribusi dari para pencari suaka inilah yang kemudian membawa Belanda menuju ke Era-Era Keemasannya. Iklim kebebasan berpikir Belanda membuat masalah-masalah doktrin agama menjadi tidak penting. Kami tidak peduli maupun ingin mengetahui apa yang orang Yahudi atau Muslim itu makan di dapur mereka sepanjang mereka tidak membuat masalah bagi orang lain; begitu kira-kira prinsip orang Belanda.

Satu lagi hal menarik yang terlihat dari rumah-rumah sempit khas Belanda ini adalah fakta bahwa mereka sebenarnya adalah sebuah bangsa dengan jiwa pedagang era medieval. Perdagangan internasional yang mereka lakukan dari Hindia Barat hingga Hindia Timur membutuhkan biaya yang amat besar. Tidak heran jika kemudian mereka amat berhemat (ingat, Belanda bukanlah negara yang kaya akan sumber daya alam. Penemuan kincir angin sebagai alat untuk memproses gandum juga sebenarnya timbul karena desakan alam mereka yang kurang bersahabat). Kebiasaan ini membuat mereka terkesan kikir dalam hal pengeluaran. Berbeda dengan bangsa petani, persaingan bagi masyarakat pedagang adalah hal yang lumrah. 

Jika ditilik dalam sejarah, kapitalisme lahir pertama kali di muka bumi ini dari Amsterdam dan London, yang ditandai oleh penciptaan perusahaan (VOC dan EIC) serta sistem perbankan modern. Para pedagang ini saling berkompetisi satu sama lain, termasuk salah satu metodenya adalah dengan menyembunyikan rapat-rapat rahasia dagang yang mereka miliki dari pihak lain. Mentalitas ini terpelihara selama ratusan tahun, bahkan mengendap sebagai karakter mereka. Oleh karena itu tidak heran jika dalam Bahasa Inggris istilah untuk bayar makanan sendiri-sendiri ialah Go Dutch. Semangat hidup itu pula yang lalu memfondasi rumah-rumah sempit mereka: meskipun kecil, sepanjang rahasia di dalam rumah ini tetap berada di tempatnya, tetap di dalam kamar, kami semua bahagia. Tidak usah nguping atau mikirin urusan orang lain, hush!

Itulah sebabnya mengapa di sini ada area khusus yang disediakan untuk menikmati kegiatan seks komersial, bebas mengonsumsi marijuana, bahkan hingga legal untuk melakukan perkawinan sesama jenis. Mind your own business, stay away from other's property and take care of your own deep dark secret.

Di Belanda, semuanya bisa.


16:58
22 September 2014
Leiden

Friday, August 29, 2014

Kejutan Tengah Tahun: Makassar International Writers Festival 2014 dan Leiden Universiteit’s Colonial and Global History.



Judulnya kali ini tidak hanya cukup panjang namun juga amat deskriptif. April hingga Juli harus saya akui sebagai bulan-bulan terpadat dari tahun ini sekaligus bulan-bulan yang amat penuh dengan kejutan!

Awalnya begini. Bulan Januari tahun ini saya dan Ran melaunching novel kami yang berjudul The Extraordinary Cases of Detective Buran. Novel tersebut sebenarnya tercipta dari keisengan kami semata dan hanya untuk konsumsi pribadi. Akan tetapi setelah dipikir-pikir, saya berinisiatif untuk membagi isi cerita petualangan dunia karakter fiksi yang kami ciptakan itu ke orang-orang banyak. Apalah hakikat sebuah tulisan jika tidak untuk dibagi dan dibaca oleh banyak orang, bukan? Saya pun memaksa Ran agar ia mau segera merampungkan cerita yang ia buat. Benar, memaksanya. Soalnya waktu itu posisinya saya akan berangkat untuk KKN ke Pulau Selayar yang akses internetnya serba terbatas. Saat itu saya berupaya meyakinkan Ran agar novel kami di self publish pada sebuah penerbitan dunia maya bernama nulisbuku.com. Akan tetapi karena suatu dan lain hal, rencana kami terbengkalai. Fokus saya pun terpecah; menyelesaikan skripsi dan persiapan team La Galigo Music Project pentas ke Belanda.

Singkat cerita, naskah yang sudah jadi itu tersimpan rapi di dalam peti es ketidakpastian selama beberapa dekade hingga akhirnya program La Galigo Goes to The Netherlands selesai dengan manis. Saat pulang ke Makassar, kak Sawing dari Kedai Buku Jenny menawarkan agar novel tersebut diterbitkan secara indie oleh Kedai Buku Jenny. Terus terang itu adalah sebuah tawaran yang unik dan sesuai dengan visi kami. Kami ingin agar buku ini dapat dinikmati oleh publik sekaligus sebagai stimulator perkembangan industri kreatif, utamanya di kota asal kami tercinta. Tidak ada yang lebih oke selain diterbitkan oleh sebuah gerakan indie asli kota tersebut, bukan? Dalam hitungan minggu setelah kontrak ditandatangani, novel kami pun terbit. Launching pertama di Kedai Buku Jenny pula (cek TKP http://kedaibukujenny.blogspot.com/2014/02/dua-kawan-dua-petualangan.html).

Beberapa bulan setelah novel kami rilis, The Extraordinary Cases of Detective Buran telah menemukan dirinya berada di berbagai pelosok tanah air melalui pemesanan online hingga Belanda (pesanan kak Daus dan kak Dodo di Leiden, kak Sunarti Tutu di The Hague serta Bu Betty yang menyumbangkan 1 eksemplar ke perpustakaan KITLV). Di tengah euforia tersebut, kami mendengar kabar akan adanya seleksi untuk Penulis Kawasan Timur Indonesia di Makassar International Writers Festival. Dengan penuh keisengan maksimal dan semangat nothing to lose, Ran pun mendaftarkan novel ini. Kehendak Tuhan, setelah sekian lama kami mendapatkan kabar bahwa karya kami diterima dan kami pun menjadi salah 2 dari 6 orang penulis undangan! Siapa yang tidak senang jika dapat duduk bersanding bersama nama-nama papan atas yang telah malang-melintang di dunia literatur Indonesia? 

6 Penulis Undangan Kawasan Indonesia Timur 2014: (dari kiri ke kanan) Pringadi Abdi, Saddam Husein, Louie Buana, Ran Jiecess, Amaya Kim, Ama Achmad
Ada Pak Peter Carey penulis buku tentang Pangeran Diponegoro, kak Ridwan Alimuddin yang pakar di bidang jelajah tulis-menulis maritim tradisional, kak Krishna Pabhicara yang novel dan puisi-puisinya termashyur, stand up comedian Andi Gunawan, kak Luna Vidya dan kak Lily Yulianti Farid yang namanya beken di dunia jurnalistik serta literatur Indonesia Timur, seniman Landung Simatupang, sutradara Riri Riza dan masih banyak lagi. Momen di saat saya dan Ran diundang ke atas panggung untuk membacakan beberapa paragraf dari The Extraordinary Cases of Detective Buran di hadapan seluruh mata yang hadir di Fort Rotterdam malam itu menurut saya adalah one of the bestest moment in my life. Yang penasaran gimana serunya acara kemarin, bisa tengok ke sini --> http://www.alineatv.com/2014/06/miwf2014-suara-suara-dari-indonesia-timur/

Lalu, bagaimana kisahnya sehingga saya yang seharusnya melanjutkan kuliah di Erasmus School of Law Rotterdam tiba-tiba end up di Faculty of Humanities-nya Universiteit Leiden untuk belajar Sejarah? Nah. Setelah diterima oleh Erasmus, saya iseng-iseng membuka website Leiden University. Pengalaman La Galigo Music Project di kota ini kemarin amat tak terlupakan. Saya ingin kembali ke sana lagi! Kalau bisa untuk belajar Sejarah atau Antropologi, dua bidang ilmu yang saya amat impi-impikan sayangnya belum terwujud. Di saat yang sama saya juga tidak ingin membuang 4 tahun pengalaman merengkuh gelar Sarjana Hukum dengan percuma begitu saja. Iklim multidispliner Indonesia yang masih miskin dan sempit menurut saya perlu dientaskan. Sekat-sekat perlu hilang demi kemanfaatan bangsa kita sendiri. Siapa bilang sih kalau Sejarah itu membosankan atau tidak sepenting Hukum? Sebuah program beasiswa bernama Encompass yang saya lihat di situs Leiden University (dimana program ini mewadahi segala bidang ilmu sosial untuk belajar sejarah kolonial) pun menjadi pilihan yang menggiurkan.
8 dari 11 orang Encompass scholars terpilih untuk angkatan 2014 berpose bersama dengan 2 orang alumni dan Marijke van Wissen, asisten koordinator program
Singkat cerita, di tengah gempuran hujan abu Jogja, saya mengirimkan berkas via email ke koordinator Encompass di Indonesia yaitu Bapak Bambang Purwanto dari UGM. Bulan April 2014 saya dihubungi untuk proses wawancara. Terus terang saat itu saya amat minder karena saingan saya yang lain berlatarbelakang ilmu Sejarah dan Sosiologi. Proses menanti pengumuman Encompass terus terang terasa menyakitkan karena saya sempat jatuh sakit (saudara Ryjan saksinya) saking gugupnya. Saya adalah mahasiswa SH pertama yang mendaftar ke program ini, dan alhamdulillah juga yang pertama kali melolosinya. Rasanya sungguh ingin terbang ke langit, mengetuk pintu-pintu surga dan menciumi malaikat-malaikat cherubim (karubiyyun) satu per satu! Setelah meminta izin kepada Dekan dan boss saya di kampus, tawaran untuk S2 di Erasmus saya undur ke tahun 2015 agar dapat fokus dengan program Cosmopolis (Encompass) di Universiteit Leiden selama setahun. Subhanallah, benar kata peribahasa itu: sekali mendayung dua-tiga pulau bisa terlampaui!

 Apa kira-kira hikmah menarik dari kejutan-kejutan di tengah tahun 2014 ini?

Jangan pernah meremehkan cita-citamu sendiri! Mungkin kemarin dan hari ini tidak, tapi di masa depan akan ada banyak jalan yang terbuka jika niatmu benar-benar tulus dan tekadmu benar-benar kuat. Hargai setiap pilihan yang ada, dan jangan pernah tinggi hati. Terkadang sesuatu yang besar dan tak masuk akal justru terwujud dari biji kacang polong mini yang dijatuhkan oleh Jack dari saku celana usangnya. Siapa sangka dalam tahun ini saya dapat menerbitkan buku dan belajar Sejarah di Leiden University?

"You have to dream before your dreams can come true."
A.P.J. Abdul Kalam

Friday, August 22, 2014

Leiden Berhati Nyaman

Jadi, ntah dari mana saya harus memulainya. Yang jelas selama beberapa bulan sejak awal tahun 2014 ada terlalu banyak kejutan dalam hidup saya. Kejadian demi kejadian menakjubkan silih berganti saya alami sendiri. Salah satunya seperti saat ini: saya sedang selonjoran di atas kasur sambil mengupdate blog dari apartemen mahasiswa di Smaragdlaan, Leiden, Belanda.

Leiden lagi?

Saya pun tidak menyangka jika akan bersua dengan Leiden secepat ini. Kota yang penuh kenangan oleh perjuangan La Galigo Music Project pada bulan desember lalu. Kota yang membuat saya yakin bahwa tidak ada yang mustahil untuk ditempuh di dunia. Segalanya hanya perkara waktu. Bisa cepat, bisa juga lambat. Kota yang membuat saya masih punya keyakinan terhadap kemanusiaan dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Sekarang hari keempat saya di Leiden. Udara Belanda yang seharusnya (masih) riap-riap dengan semangat musim panas ternyata menipu kami semua. Hujan dingin turun tiap hari dengan frekuensi yang berbeda-beda dan durasi yang sempit. Bisa saja lima menit yang lalu langit cerah dan matahari bersinar terang, lalu saat ini mendung menyerang dengan tiupan angin yang menyakitkan. Sungguh, cuaca Leiden saat ini bak seorang remaja pancaroba yang hidupnya penuh drama!

Berhubung jarak dari apartemen Smaragdlaan ke kampus (Gedung Lipsius, Faculty of Humanities Universiteit Leiden) cukup jauh, maka saya dihadiahi sebuah sepeda oleh Dr. Firdaus Hamid, penolong kami nan baik hati pada episode yang lalu. Sepeda tuanya yang dianggurkan selama setengah tahun itu kemudian saya perbaiki. Dengan sepeda itulah petualangan besar saya menapaki kenangan-kenangan lama dan menemukan lorong-lorong baru dimulai.

Setiap hari saya dibuat merinding melintasi Sungai Rijn yang mengalir dari jantungnya di Swiss dan Jerman, menembus gerbang bergaya Romawi kuno di Arsenaalstraat menuju Lipsius yang ternyata letaknya bersebelahan dengan KITLV dan berseberangan dengan Leiden University Library. Setiap hari, selama menjalani kuliah matrikulasi Bahasa Belanda untuk para akademisi Encompass, mata saya menatap Leiden University Library dari jendela. Saya tidak pernah menyangka, sungguh, jika jarak saya dengan NBG 188 (naskah La Galigo terpanjang di dunia) itu hanya selemparan batu setelah pertemuan pertama kami yang menakjubkan di musim dingin 2013.


Ada tempat-tempat dan teman-teman baru yang saya temukan di Leiden Jilid II ini. Peterskerk dan Latin Quarter-nya. English Gate yang ternyata adalah asylum atas leluhur pendiri Amerika Serikat.  Fakultas Indologi di jalan Rapenburg yang dulunya adalah tempat belajar Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Taman Hortus Botanicus yang tak mungkin terwujud tanpa bibit-bibit tanaman tropis yang dibawa VOC. Serta De Academie universitas baru saya ini yang rupa-rupanya menyimpan patung seorang ilmuwan asal Indonesia. Tiap hari Leiden tak kering oleh kejutan. Lorong-lorongnya yang (sepertinya) sudah saya jelajahi oleh kaki dan roda sepeda ternyata bagaikan labirin yang selalu menyiapkan kisah-kisah seru.

Singkat kata, tak henti-hentinya saya bersyukur kepada Tuhan atas nikmat yang telah ia berikan kepada saya. Kemarin sore saat berkunjung ke kamar seorang kawan Encompass dari Thailand dan Cina (namun berkuliah di Tel Aviv dengan jurusan Studi Timur Tengah serta punya nama Arab "Yusuf"!) bersama Neilabh dari India, perbincangan kami mulai mengalir dari Soeharto ke Sriwijaya, ke ISIS, ke konflik Israel-Palestina, ke komunitas Tionghoa Makassar bahkan sampai ke tradisi sufi di Gujarat. Kami menghabiskan waktu berjam-jam hingga malam (yang masih terang-benderang karena musim panas) tanpa merasa letih karena terus bicara. Saat itulah saya merasa bahwa dahaga intelektual yang selama ini bingung kemana rimbanya untuk dipuaskan akhirnya terpenuhi. Di sinilah tempatnya. Leiden adalah tempatnya. Iklim intelektualnya didukung oleh multikulturalisme yang dibawa oleh beragam manusia dari berbagai penjuru dunia. Belum lagi kebaikan hati Marijke dan Esther, program koordinator saya yang amat sangat perhatian dan penuh dukungan. Saya bersyukur karena dipilihkan oleh-Nya untuk belajar di sini, sungguh.

*Meskipun hingga saat ini saya masih bete karena bagasi yang nyasar entah kemana itu hingga sekarang belum dikirim-kirim juga oleh KLM

Hujan dingin boleh kamu turun di Leiden
Menyapu mentari musim panas yang lebat terangnya
Tapi jangan pikir kau kan mampu menyapu
Hasrat akan ilmu yang kubawa dari Indonesia
karena akan kukantongi seluruhnya, kubawa pulang
Dan kubagi-bagikan kepada para pendemo di pinggir jalan

Smaragdlaan,
22 Agustus 2014