Showing posts with label belanda. Show all posts
Showing posts with label belanda. Show all posts

Friday, May 26, 2017

dari Enkhuizen ke Bataviastad: VOC Gaya Lama ke VOC Gaya Baru

Hari minggu tanggal 2 April kemarin, kami sekeluarga dikejutkan dengan sebuah keputusan yang datangnya begitu mendadak. "Ayo, semua siap-siap, kita jalan-jalan ke Enkhuizen!" demikian maklumat John, bapak kos saya di Berkel yang berhati nyaman ini. Tanpa ba-bi-bu lagi, saya yang untungnya saja sudah mandi pagi dan baru saja menyelesaikan sarapan segera bersiap. Hari itu kami berkendara selama hampir 2 jam lamanya menuju ke sebuah kota nelayan kecil di Belanda utara: Enkhuizen.

Enkhuizen dulunya merupakan salah satu dari enam kota utama VOC selain Amsterdam, Delft, Dordrecht, Hoorn dan Middelburg. Sebagaimana halnya dengan kota-kota yang saya sebutkan barusan, Enkhuizen masih menampakkan sisa-sisa kejayaan masa lalunya. Betapa tidak, dulunya seluruh rempah-rempah yang masuk ke Belanda harus distok dulu di Het Peperhuis alias "Rumah Merica" yang sekarang menjadi bagian dari Zuiderzee Museum (Museum Laut Selatan Enkhuizen). Het Peperhuis telah digunakan sejak tahun 1682 oleh VOC untuk menyetok seluruh persediaan merica yang mereka beli di Asia. Keberadaan Het Peperhuis ini membuat perekonomian Enkhuizen secara fantastis melesat naik. Segera saja perdagangan rempah-rempah membuat penduduk kota itu menjadi kaya dan terkenal. Selain karena menjadi sentra perdagangan rempah, Enkhuizen juga merupakan pusat penjualan ikan herring, makanan khas orang Belanda.  

Het Peperhuis
Berpose bersama si mbak penguasa laut selatan (versi Belanda)

Sisa-sisa kejayaan maritim kota dagang ini juga dapat dilihat dari arsitektur kota yang banyak menggambarkan unsur-unsur laut seperti hiasan trisula Poseidon, lambang Hermes sebagai dewa perdagangan maupun relief putri duyung. Pelabuhan Oosterhaven yang terletak tidak jauh dari Het Peperhuis dulunya menampung kapal-kapal yang menanti untuk menurunkan maupun mengangkut barang. Seorang tokoh penjelajah besar kebanggaan Belanda bernama Jan Huygen van Linschoten berasal dari kota ini. Ia adalah orang Belanda pertama yang membocorkan rute laut Portugis menuju ke Asia dengan cara mempublikasikan peta pelayaran mereka dalam buku berjudul "Itinerario" pada tahun 1596. Efek dari publikasi Van Linschoten ini amatlah besar. Sebelumnya, di Eropa hanya bangsa Spanyol dan Portugis yang memonopoli perdagangan rempah-rempah ke timur. Mereka menjaga dengan ketat rahasia rute pelayaran dari bangsa-bangsa Eropa lainnya. Segera setelah Itinerario disebarluaskan dan dibaca banyak orang, berbondong-bondonglah pelaut-pelaut Eropa berlayar menuju ke Hindia Timur. 


Monumen untuk memperingati Van Linschoten the explorer
Replika kapal Batavia zaman VOC di Bataviastad

Setelah puas berkeliling Enkhuizen, kami sekeluarga meneruskan perjalanan menuju ke sebuah kawasan kecil yang untuk ukuran usia sebenarnya tergolong cukup baru di Belanda. Nama kawasan itu adalah Bataviastad, daratan yang direklamasi dari laut dan diresmikan sebagai pusat fashion outlet pada tahun 2001 oleh pemerintah Belanda. Hmmm, menarik ya, namanya mirip dengan nama lama Jakarta. Nama Batavia sengaja dipilih sebab di dekat kawasan tersebut pernah ditemukan bangkai kapal VOC bernama Batavia dari tahun 1628. Terinspirasi dari kejayaan VOC di era keemasannya, replika kapal Batavia menjadi ikon utama yang mengapung penuh kebanggaan di perairan Bataviastad hari ini. Sepertinya benar ya, Belanda masih belum bisa move on dari Indonesia! 


Soldaat alias prajurit VOC di depan pintu masuk cafe
Perahu-perahuan kecil dengan kotak kayu berlambang VOC di depan cafe ini jadi tempat nongkrong buat keluarga yang cukup asyik

Beberapa cafe dan bar di sana juga mengangkat tema petualangan bahari bangsa Belanda di timur. Tidak hanya itu, nama jalanan di Bataviastad seperti Bataviaplein, VOC weg, Oostvaardersdijk dan Zeven Provincieplein merupakan contoh bagaimana imaji akan kebesaran Belanda dalam menaklukkan samudera dan merajai perdagangan dihidupkan kembali di kota buatan nan komersil ini. Jika dulu nama Batavia di Hindia Timur erat dengan kegiatan komersil Belanda dalam perburuan rempah-rempah, maka hari ini nama Batavia di Belanda dihidupkan sebagai pusat shopping. Ujung-ujungnya yang namanya Batavia pasti masih berhubungan dengan uang dan perdagangan di dalam angan-angan bangsa Belanda.

Weekendje yang menyenangkan. Kami berziarah dari VOC gaya lama di Enkhuizen ke VOC gaya baru di Bataviastad. Dulu, Bung Karno pernah nyeletuk bahwa bangsa yang besar ialah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Belanda sudah membuktikan itu. Daratan tanpa identitas yang mereka reklamasi dari lautan mereka beri baju kemoderan namun berakar lokal. Tema kejayaan VOC yang mereka pilih untuk Bataviastad tentunya bukan tanpa sebab: bagi mereka kemajuan yang dimiliki oleh Belanda hari ini tidak lepas dari kejayaan masa lalu yang mampu menstimulasi mereka untuk terus berkarya.

Wednesday, March 29, 2017

“Walisongo” Islam Nusantara versi Seorang Profesor Katolik

Menjadi bahagian dari konferensi PCINU Belanda dua hari yang lalu adalah sebuah kesempatan yang tidak saja membuat saya yang masih ingusan dan cetek ilmu ini merasa terhormat. Momen kemarin bagi saya sekaligus juga menjadi ajang untuk meraup ilmu sebanyak-banyaknya dari kaum cendekiawan Islam yang memang mumpuni di bidangnya. Dengan mengangkat tema Islam Nusantara, generasi muda Nahdlatul Ulama yang berdiaspora di Negeri Kincir Angin membuka diri seluas-luasnya dengan menghadirkan para terpelajar dari berbagai disiplin ilmu serta latar belakang. Ada sembilan panel yang masing-masing membicarakan fenomena Islam Nusantara dari sudut pandang sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum, dan lain sebagaimanya. Suasana keilmuan terasa amat kental karena acaranya sendiri diadakan di Vrije Universiteit Amsterdam dan dipanitiai oleh pelajar-pelajar Nahdliyin yang tengah menuntut ilmu di Belanda. 
 
Saya saat mempresentasikan paper terkait hukum adat dan Islam di Konferens Islam Nusantara NU.
Terlepas dari apa haluan politiknya, agamanya, rasnya maupun mazhabnya, kemarin saya benar-benar merasakan Islam sebagai sesuatu yang rahmatan lil ‘alamin alias universal. Yah, bagaimana tidak, instead of hanya mengundang syekh-syekh atau kiai-kiai, konferens ini diramaikan pula oleh mereka yang beragama non-muslim yang telah malang-melintang di dunia kajian keislaman. Islam akhirnya dimiliki bersama tidak hanya sebagai sebuah konsep kepercayaan namun juga sebagai sebuah fenomena menarik yang pernah dan sedang terjadi di planet bumi. Di sini Islam dibahas dalam konteks pengetahuan, tidak hanya sebagai sebuah persepsi benar dan salah. Peserta konferens pun demikian pula majemuknya, ada yang beragama Protestan, Katolik dan bahkan agnostik ikut hadir untuk mendapatkan ilmu baru mengenai Islam. Apa yang menarik mereka sehingga berkenan hadir di acara yang kental dengan nuansa hijaunya ini? Ya tentu saja keinklusifan Islam dan wajah ramah yang digadang-gadangkan oleh para junior Gus Dur ini. Toh, pada akhirnya ilmu pengetahuan yang bersumber dari Islam sebagaimana halnya dari agama lain adalah warisan bagi umat manusia secara keseluruhan.
Salah satu highlight dari konferens ini ialah saat Profesor Karel Steenbrink menyampaikan lecture yang sekaligus menjadi penutup acara. Karel Steenbrink yang sudah paruh baya dan rambutnya berubah warna menjadi putih semua ini adalah seorang profesor emeritus dari Utrecht University untuk Intercultural Theology. Karel adalah seorang Katolik yang jatuh cinta dengan sejarah dan perkembangan Islam. Beliau telah menghasilkan banyak sekali penelitian terkait Islam dan Kekristenan di Indonesia. Interpretasi Alquran juga merupakan salah satu bidang yang ia tekuni selama bertahun-tahun. Karel Steenbrink bukanlah orang asing, namanya sudah sering dirujuk oleh para peneliti di kalangan Islamic Studies.
Profesor Karel Steenbrink membawakan ceramahnya di penutupan konferens
Pada kesempatan itu Karel Steenbrink membawakan tema yang cukup menarik. Ia membuka lecture-nya dengan membacakan ayat “innallaha ma’ash-shobirin” karena mengetahui betapa lelahnya wajah-wajah kami sore itu menunggu acara untuk ditutup. Kami yang sudah terkuras energinya dan setengah mengempet lapar kemudian hanya bisa bereaksi dengan nyengir-nyengir manja. Karel melanjutkan pembahasannya, berbincang mengenai sembilan orang scholar yang menjadi pahlawan-pahlawan baginya dalam mempelajari Islam Nusantara. Kesembilan pahlawan intelektual tersebut menginspirasinya untuk mengukuhkan teori bahwa praktek keislaman yang terjadi di Indonesia memang lah unik, khas bagi penduduknya itu sendiri, serta berbeda secara kultural dari Islam yang dipraktekkan di tempat asalnya di Saudi Arabia. Karel lebih jauh lagi kemudian menyebut sembilan tokoh tersebut sebagai Walisongo Islam Nusantara di sepanjang karirnya.
List Walisongo versi Karel ini dibuka oleh seorang maestro Islamolog yang amat kontroversial dalam sejarah Indonesia itu sendiri: Snouck Hurgronje. Si jenius yang pernah menjadi mata-mata Belanda untuk Aceh ini mencetuskan bahwa Islam di Indonesia memang berbeda dengan Islam yang ada di Arab, akan tetapi perbedaan ini tidak kemudian membuat Islam di Indonesia menjadi tidak murni atau inferior terhadap Islamnya Arab. Bahkan untuk ukuran Aceh yang notabene “amat Islam”, di sana Snouck menemukan bahwa praktek keislaman dipengaruhi oleh elemen-elemen kebudayaan yang membuatnya kehilangan ke-Arabannya. 
Di urutan kedua ada Merle Ricklefs yang banyak sekali membahas tradisi mistisme di Jawa dalam karya-karyanya. Ricklefs berpendapat bahwa kraton di Jawa membantu terciptanya sebuah sintesa mistik antara Islam dan praktek kepercayaan lokal yang kemudian menghasilkan sebuah perpaduan unik, yang sekali lagi berbeda dengan praktek keislaman di Timur Tengah ataupun Aceh. Ia juga menyebutkan bagaimana perbedaan yang tajam antara kaum santri dan kaum abangan pada tahun 1850 - 1990 membentuk persepsi masyarakat atas wajah Islam Jawa.
J.W. Bakker alias Rahmat Soegagiyo menduduki peringkat ketiga. Ia adalah seorang pendeta Jesuit di Yogyakarta pada masa kolonial dan banyak merenung mengenai usaha-usaha peleburan nilai-nilai agama yang datang dari Barat ini kepada masyarakat Jawa. Sebuah buku berjudul “Agama Asli Indonesia” lahir dari kontemplasinya tersebut. Salah satu poin utama yang ia kemukakan ialah bahwa agama asing yang masuk ke Indonesia harusnya meminjam wajah lokal untuk dapat diterima masyarakat tidak hanya sebagai sistem kepercayaan namun juga sebagai sebuah sistem kebudayaan. Gereja Ganjuran yang ia bangun dengan meminjam bentuk candi-candi zaman Hindu Buddha merupakan pengejawentahan dari ide tersebut. 
Wilfred Smith dengan “religion is cumulative traditions”-nya menjadi walisongo keempat bagi Karel. Ia disusul oleh dua orang cendekiawan Muslim asal Indonesia yaitu Ash-Shiddieqy dan Hazairin. Ash-Shiddieqy dan Hazairin dikenang karena usaha mereka mempromosikan pengakuan atas sebuah mazhab Islam khusus bagi Muslimin Nusantara. Mazhab yang kemudian disebut Mazhab Indonesia ini dilihat sebagai solusi atas keunikan praktek-praktek keislaman yang terjadi di daerah (Hazairin itu sendiri adalah salah seorang profesor hukum adat pertama Indonesia). Mazhab Indonesia diharapkan pula mampu menjadi sebuah contoh atas keberhasilan menyatunya nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat Indonesia tanpa kehilangan identitas asli mereka. Pendapat ini sayangnya pupus dengan sendirinya karena ketidakmampuan untuk menjawab tantangan kebhinnekaan di tanah air dalam mengaplikasikan hukum syariah.
Terakhir, sekaligus menjadi salah seorang wali yang punya hubungan dekat dengan Karel sendiri ialah Harun Nasution. Harun Nasution ialah seorang cendekiawan Islam yang getol dalam mempromosikan pentingnya menggunakan akal di samping iman saja dalam beragama. Di dalam karya-karyanya ia sering mempertanyakan:  
dapatkah akal menandingi wahyu?; haruskah akal tunduk kepada wahyu?; bagaimana bila terjadi pertentangan antara ilmu pengetahuan modern dengan wahyu? 
Salah satu argumen Nasution yang paling mencengangkan ialah saat ia menyatakan bahwa Alquran tidak mengandung segala-galanya, bahkan pula tidak menjelaskan semua permasalahan agama. Perihal sholat contohnya, hanya sekedar disebutkan di dalam Alquran tanpa ada detail proseduralnya. Iman saja tidak cukup dalam memahami Islam. Ide-ide Nasution yang cukup kontroversial bagi penganut Islam awam di Indonesia sayangnya membuat beliau dicap Muktazilah dan lain sebagainya.
Karel Steenbrink, seorang profesor Katolik yang menyusun Walisongo kajian Islam Nusantara-nya sendiri. Presentasinya di penghujung konferens NU ini menstimulasi lahirnya ide-ide yang mengalir deras di kepala saya. Pada akhirnya sebagai sebuah agama yang dipraktekkan, sebagai sebuah kepercayaan yang mewujud melalui keseharian penganutnya, Islam tidaklah stagnan. Islam lahir, bergerak dan berkembang bersama manusia yang membawanya. Dialog-dialog seperti inilah yang saya harapkan banyak terjadi hari ini maupun di masa yang akan datang. Melalui acara-acara seperti inilah dialektika Islam menjadi nafas yang menyegarkan untuk dihirup, tidak melulu berkubang dalam dogma, taqlid buta yang mengekslusifkan diri atau perselisihan bermotif politik dan ekonomi.
Jadilah kita rahmat bagi semesta alam!

Berkel en Rodenrijs,
29 Maret 2017

Monday, September 22, 2014

Sosiologi Rumah Belanda: Antara Lahan, Free-Will dan Rahasia dalam Kamar

Di Belanda, semuanya bisa.

Anda mau mengonsumsi marijuana sampai mual-mual tidak enak badan keesokan harinya atau menikmati pertunjukan erotis di area khusus seks komersial, semuanya boleh. Di sini tidak boleh melarang orang sembarangan, karena hak pribadi untuk mengekspresikan diri maupun untuk melakukan apapun yang seorang individu kehendaki dilindungi oleh negara. Keterbukaan bukanlah sesuatu yang tabu, sebagaimana di tanah air. Keterbukaan dapat muncul dari vulgarnya gaya seseorang berpakaian, frontalnya seseorang dalam berbicara maupun liarnya ide-ide yang terlahir dari pikiran. Keterbukaan ini menjadi salah satu ciri masyarakat Belanda yang paling kentara. Ketika berbicara, mereka akan amat sangat direct serta seperlunya saja, tidak mengenal basa-basi. Terkadang jawaban yang jujur dapat menimbulkan kesan yang kurang menyenangkan di hati bagi lawan bicaranya.

Lucunya, keterbukaan dalam masyarakat Belanda ini bersinergi dengan antonimnya: ketertutupan. Keterbukaan tidak kemudian dengan serta-merta menjadi lawan bagi kebalikannya. Keterbukaan yang mereka pamerkan itu pada hakikatnya justru lahir dari sebuah ide yang mengakar kuat tentang privasi, individualisme dan kerahasiaan.

Ketika untuk pertama kalinya saya mengunjungi Belanda pada akhir tahun lalu, pemandangan rumah-rumah kecil mereka yang menempel satu sama lain serta letak pintu dan jendelanya yang begitu dekat dengan pinggir jalan amatlah mengundang perhatian. Rumah-rumah mungil mereka itu semuanya memiliki jendela besar dengan korden yang tidak pernah ditutup, sehingga anda yang lalu-lalang di jalan umum dapat melihat: acara tv apa yang sedang mereka tonton; makan malam apa yang sedang dihidangkan; hingga merek meubel apa yang mereka pajang di woonkamer (ruang tamu). Jelas, bagi jiwa seorang Indonesia yang serba ingin tahu, saya tak tahan untuk segera melongok-longokkan kepala dengan norak ke sana-sini memandangi isi perabot rumah mereka. Itu, kalau kejadiannya di Indonesia -dimana tetangga beli mobil baru aja kita yang sibuk- mungkin akan menuai banyak konflik sosial. Akan tetapi, di sini orang-orang Belandanya sendiri tidak memiliki rasa ingin tahu sebesar yang kita punya. 

Jejeran rumah di kota tua Haarlem. Typisch Nederland, tipikal Belanda beud.
Ketidakpedulian Belanda atas urusan orang lain ini menurut hipotesa saya pribadi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yang paling kentara adalah faktor lahan. Anda tentunya tahu kan bahwa sebagian daerah di Belanda (utamanya provinsi Holland, Zuid Holland dan Zeeland) sejatinya berada di bawah permukaan air laut. Bangsa Belanda menggunakan teknologi bendungan untuk mengeringkan air laut serta saluran kanal untuk mengatur curah air. Keterbatasan lahan ini kemudian menciptakan kepentingan individual atas properti yang ia miliki. Lahan = mahal,  mengakibatkan setiap orang memiliki perasaan yang sama atas lahan tersebut: urusilah properti anda sendiri, tidak usah ikut-ikutan mengurusi lahan saya, apalagi setelah runtuhnya feodalisme. Lahan yang cuma seiprit serta terbatas ini juga kemudian memicu lahirnya kesadaran kolektif yaitu tidak ingin diganggu oleh orang lain, prevensi untuk menghindari konflik agraria. Walhasil masyarakat bertipe individualistis pun lahir, yang karakternya jelas berbeda jauh dengan masyatakat komunal seperti bangsa Indonesia (dimana secara vice versa komunalitas itu sejatinya juga disebabkan karena luasnya lahan yang dijadikan sebagai ruang hidup).  

Gang sempit di kota Leiden, dimana jarak rumah (area privat) dan jalanan (area publik) terlihat tipis, namun sejatinya tertutupi oleh sebuah dinding tebal yang tak kasat mata.
Faktor kedua ialah kuatnya sense of free will yang disebabkan oleh ketidaksukaan mereka terhadap opresi atau persekusi. Di sini, sejak dahulu kala Belanda telah menerima para pengungsi Yahudi, Protestan, separatis Maluku dan (sekarang) imigran Muslim dari negara-negara dunia ketiga. Orang-orang tersebut merupakan korban opresi dari pemerintah atau institusi agama di negara asalnya. Ketika di zaman abad pertengahan rawan terjadi konflik sektarian Protestan v. Katolik dan pengganyangan etnis Yahudi, Belanda membuka lebar-lebar lengannya bagi para pengungsi tersebut. Munculnya Decree of Toleration oleh Perserikatan Utrecht pada tahun 1579 mengundang banyak sekali pengungsi malang dari negara-negara Eropa lain yang intoleran dan opresif. Keturunan dari para pengungsi inilah yang kemudian turut berjasa membangun Pax Hollandica, menjunjung tinggi kebebasan berpikir serta beragama (sewaktu agama masih merupakan salah satu unsur esensial dalam kehidupan mereka). Beberapa di antara pengungsi ini yang terkenal adalah filsuf Baruch Spinoza (keturunan pelarian Yahudi dari Spanyol) dan penulis kamus Pierre Bayle (seorang Huguenot Protestan yang kabur dari Prancis). Kontribusi dari para pencari suaka inilah yang kemudian membawa Belanda menuju ke Era-Era Keemasannya. Iklim kebebasan berpikir Belanda membuat masalah-masalah doktrin agama menjadi tidak penting. Kami tidak peduli maupun ingin mengetahui apa yang orang Yahudi atau Muslim itu makan di dapur mereka sepanjang mereka tidak membuat masalah bagi orang lain; begitu kira-kira prinsip orang Belanda.

Satu lagi hal menarik yang terlihat dari rumah-rumah sempit khas Belanda ini adalah fakta bahwa mereka sebenarnya adalah sebuah bangsa dengan jiwa pedagang era medieval. Perdagangan internasional yang mereka lakukan dari Hindia Barat hingga Hindia Timur membutuhkan biaya yang amat besar. Tidak heran jika kemudian mereka amat berhemat (ingat, Belanda bukanlah negara yang kaya akan sumber daya alam. Penemuan kincir angin sebagai alat untuk memproses gandum juga sebenarnya timbul karena desakan alam mereka yang kurang bersahabat). Kebiasaan ini membuat mereka terkesan kikir dalam hal pengeluaran. Berbeda dengan bangsa petani, persaingan bagi masyarakat pedagang adalah hal yang lumrah. 

Jika ditilik dalam sejarah, kapitalisme lahir pertama kali di muka bumi ini dari Amsterdam dan London, yang ditandai oleh penciptaan perusahaan (VOC dan EIC) serta sistem perbankan modern. Para pedagang ini saling berkompetisi satu sama lain, termasuk salah satu metodenya adalah dengan menyembunyikan rapat-rapat rahasia dagang yang mereka miliki dari pihak lain. Mentalitas ini terpelihara selama ratusan tahun, bahkan mengendap sebagai karakter mereka. Oleh karena itu tidak heran jika dalam Bahasa Inggris istilah untuk bayar makanan sendiri-sendiri ialah Go Dutch. Semangat hidup itu pula yang lalu memfondasi rumah-rumah sempit mereka: meskipun kecil, sepanjang rahasia di dalam rumah ini tetap berada di tempatnya, tetap di dalam kamar, kami semua bahagia. Tidak usah nguping atau mikirin urusan orang lain, hush!

Itulah sebabnya mengapa di sini ada area khusus yang disediakan untuk menikmati kegiatan seks komersial, bebas mengonsumsi marijuana, bahkan hingga legal untuk melakukan perkawinan sesama jenis. Mind your own business, stay away from other's property and take care of your own deep dark secret.

Di Belanda, semuanya bisa.


16:58
22 September 2014
Leiden

Friday, August 29, 2014

Kejutan Tengah Tahun: Makassar International Writers Festival 2014 dan Leiden Universiteit’s Colonial and Global History.



Judulnya kali ini tidak hanya cukup panjang namun juga amat deskriptif. April hingga Juli harus saya akui sebagai bulan-bulan terpadat dari tahun ini sekaligus bulan-bulan yang amat penuh dengan kejutan!

Awalnya begini. Bulan Januari tahun ini saya dan Ran melaunching novel kami yang berjudul The Extraordinary Cases of Detective Buran. Novel tersebut sebenarnya tercipta dari keisengan kami semata dan hanya untuk konsumsi pribadi. Akan tetapi setelah dipikir-pikir, saya berinisiatif untuk membagi isi cerita petualangan dunia karakter fiksi yang kami ciptakan itu ke orang-orang banyak. Apalah hakikat sebuah tulisan jika tidak untuk dibagi dan dibaca oleh banyak orang, bukan? Saya pun memaksa Ran agar ia mau segera merampungkan cerita yang ia buat. Benar, memaksanya. Soalnya waktu itu posisinya saya akan berangkat untuk KKN ke Pulau Selayar yang akses internetnya serba terbatas. Saat itu saya berupaya meyakinkan Ran agar novel kami di self publish pada sebuah penerbitan dunia maya bernama nulisbuku.com. Akan tetapi karena suatu dan lain hal, rencana kami terbengkalai. Fokus saya pun terpecah; menyelesaikan skripsi dan persiapan team La Galigo Music Project pentas ke Belanda.

Singkat cerita, naskah yang sudah jadi itu tersimpan rapi di dalam peti es ketidakpastian selama beberapa dekade hingga akhirnya program La Galigo Goes to The Netherlands selesai dengan manis. Saat pulang ke Makassar, kak Sawing dari Kedai Buku Jenny menawarkan agar novel tersebut diterbitkan secara indie oleh Kedai Buku Jenny. Terus terang itu adalah sebuah tawaran yang unik dan sesuai dengan visi kami. Kami ingin agar buku ini dapat dinikmati oleh publik sekaligus sebagai stimulator perkembangan industri kreatif, utamanya di kota asal kami tercinta. Tidak ada yang lebih oke selain diterbitkan oleh sebuah gerakan indie asli kota tersebut, bukan? Dalam hitungan minggu setelah kontrak ditandatangani, novel kami pun terbit. Launching pertama di Kedai Buku Jenny pula (cek TKP http://kedaibukujenny.blogspot.com/2014/02/dua-kawan-dua-petualangan.html).

Beberapa bulan setelah novel kami rilis, The Extraordinary Cases of Detective Buran telah menemukan dirinya berada di berbagai pelosok tanah air melalui pemesanan online hingga Belanda (pesanan kak Daus dan kak Dodo di Leiden, kak Sunarti Tutu di The Hague serta Bu Betty yang menyumbangkan 1 eksemplar ke perpustakaan KITLV). Di tengah euforia tersebut, kami mendengar kabar akan adanya seleksi untuk Penulis Kawasan Timur Indonesia di Makassar International Writers Festival. Dengan penuh keisengan maksimal dan semangat nothing to lose, Ran pun mendaftarkan novel ini. Kehendak Tuhan, setelah sekian lama kami mendapatkan kabar bahwa karya kami diterima dan kami pun menjadi salah 2 dari 6 orang penulis undangan! Siapa yang tidak senang jika dapat duduk bersanding bersama nama-nama papan atas yang telah malang-melintang di dunia literatur Indonesia? 

6 Penulis Undangan Kawasan Indonesia Timur 2014: (dari kiri ke kanan) Pringadi Abdi, Saddam Husein, Louie Buana, Ran Jiecess, Amaya Kim, Ama Achmad
Ada Pak Peter Carey penulis buku tentang Pangeran Diponegoro, kak Ridwan Alimuddin yang pakar di bidang jelajah tulis-menulis maritim tradisional, kak Krishna Pabhicara yang novel dan puisi-puisinya termashyur, stand up comedian Andi Gunawan, kak Luna Vidya dan kak Lily Yulianti Farid yang namanya beken di dunia jurnalistik serta literatur Indonesia Timur, seniman Landung Simatupang, sutradara Riri Riza dan masih banyak lagi. Momen di saat saya dan Ran diundang ke atas panggung untuk membacakan beberapa paragraf dari The Extraordinary Cases of Detective Buran di hadapan seluruh mata yang hadir di Fort Rotterdam malam itu menurut saya adalah one of the bestest moment in my life. Yang penasaran gimana serunya acara kemarin, bisa tengok ke sini --> http://www.alineatv.com/2014/06/miwf2014-suara-suara-dari-indonesia-timur/

Lalu, bagaimana kisahnya sehingga saya yang seharusnya melanjutkan kuliah di Erasmus School of Law Rotterdam tiba-tiba end up di Faculty of Humanities-nya Universiteit Leiden untuk belajar Sejarah? Nah. Setelah diterima oleh Erasmus, saya iseng-iseng membuka website Leiden University. Pengalaman La Galigo Music Project di kota ini kemarin amat tak terlupakan. Saya ingin kembali ke sana lagi! Kalau bisa untuk belajar Sejarah atau Antropologi, dua bidang ilmu yang saya amat impi-impikan sayangnya belum terwujud. Di saat yang sama saya juga tidak ingin membuang 4 tahun pengalaman merengkuh gelar Sarjana Hukum dengan percuma begitu saja. Iklim multidispliner Indonesia yang masih miskin dan sempit menurut saya perlu dientaskan. Sekat-sekat perlu hilang demi kemanfaatan bangsa kita sendiri. Siapa bilang sih kalau Sejarah itu membosankan atau tidak sepenting Hukum? Sebuah program beasiswa bernama Encompass yang saya lihat di situs Leiden University (dimana program ini mewadahi segala bidang ilmu sosial untuk belajar sejarah kolonial) pun menjadi pilihan yang menggiurkan.
8 dari 11 orang Encompass scholars terpilih untuk angkatan 2014 berpose bersama dengan 2 orang alumni dan Marijke van Wissen, asisten koordinator program
Singkat cerita, di tengah gempuran hujan abu Jogja, saya mengirimkan berkas via email ke koordinator Encompass di Indonesia yaitu Bapak Bambang Purwanto dari UGM. Bulan April 2014 saya dihubungi untuk proses wawancara. Terus terang saat itu saya amat minder karena saingan saya yang lain berlatarbelakang ilmu Sejarah dan Sosiologi. Proses menanti pengumuman Encompass terus terang terasa menyakitkan karena saya sempat jatuh sakit (saudara Ryjan saksinya) saking gugupnya. Saya adalah mahasiswa SH pertama yang mendaftar ke program ini, dan alhamdulillah juga yang pertama kali melolosinya. Rasanya sungguh ingin terbang ke langit, mengetuk pintu-pintu surga dan menciumi malaikat-malaikat cherubim (karubiyyun) satu per satu! Setelah meminta izin kepada Dekan dan boss saya di kampus, tawaran untuk S2 di Erasmus saya undur ke tahun 2015 agar dapat fokus dengan program Cosmopolis (Encompass) di Universiteit Leiden selama setahun. Subhanallah, benar kata peribahasa itu: sekali mendayung dua-tiga pulau bisa terlampaui!

 Apa kira-kira hikmah menarik dari kejutan-kejutan di tengah tahun 2014 ini?

Jangan pernah meremehkan cita-citamu sendiri! Mungkin kemarin dan hari ini tidak, tapi di masa depan akan ada banyak jalan yang terbuka jika niatmu benar-benar tulus dan tekadmu benar-benar kuat. Hargai setiap pilihan yang ada, dan jangan pernah tinggi hati. Terkadang sesuatu yang besar dan tak masuk akal justru terwujud dari biji kacang polong mini yang dijatuhkan oleh Jack dari saku celana usangnya. Siapa sangka dalam tahun ini saya dapat menerbitkan buku dan belajar Sejarah di Leiden University?

"You have to dream before your dreams can come true."
A.P.J. Abdul Kalam

Friday, August 22, 2014

Leiden Berhati Nyaman

Jadi, ntah dari mana saya harus memulainya. Yang jelas selama beberapa bulan sejak awal tahun 2014 ada terlalu banyak kejutan dalam hidup saya. Kejadian demi kejadian menakjubkan silih berganti saya alami sendiri. Salah satunya seperti saat ini: saya sedang selonjoran di atas kasur sambil mengupdate blog dari apartemen mahasiswa di Smaragdlaan, Leiden, Belanda.

Leiden lagi?

Saya pun tidak menyangka jika akan bersua dengan Leiden secepat ini. Kota yang penuh kenangan oleh perjuangan La Galigo Music Project pada bulan desember lalu. Kota yang membuat saya yakin bahwa tidak ada yang mustahil untuk ditempuh di dunia. Segalanya hanya perkara waktu. Bisa cepat, bisa juga lambat. Kota yang membuat saya masih punya keyakinan terhadap kemanusiaan dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Sekarang hari keempat saya di Leiden. Udara Belanda yang seharusnya (masih) riap-riap dengan semangat musim panas ternyata menipu kami semua. Hujan dingin turun tiap hari dengan frekuensi yang berbeda-beda dan durasi yang sempit. Bisa saja lima menit yang lalu langit cerah dan matahari bersinar terang, lalu saat ini mendung menyerang dengan tiupan angin yang menyakitkan. Sungguh, cuaca Leiden saat ini bak seorang remaja pancaroba yang hidupnya penuh drama!

Berhubung jarak dari apartemen Smaragdlaan ke kampus (Gedung Lipsius, Faculty of Humanities Universiteit Leiden) cukup jauh, maka saya dihadiahi sebuah sepeda oleh Dr. Firdaus Hamid, penolong kami nan baik hati pada episode yang lalu. Sepeda tuanya yang dianggurkan selama setengah tahun itu kemudian saya perbaiki. Dengan sepeda itulah petualangan besar saya menapaki kenangan-kenangan lama dan menemukan lorong-lorong baru dimulai.

Setiap hari saya dibuat merinding melintasi Sungai Rijn yang mengalir dari jantungnya di Swiss dan Jerman, menembus gerbang bergaya Romawi kuno di Arsenaalstraat menuju Lipsius yang ternyata letaknya bersebelahan dengan KITLV dan berseberangan dengan Leiden University Library. Setiap hari, selama menjalani kuliah matrikulasi Bahasa Belanda untuk para akademisi Encompass, mata saya menatap Leiden University Library dari jendela. Saya tidak pernah menyangka, sungguh, jika jarak saya dengan NBG 188 (naskah La Galigo terpanjang di dunia) itu hanya selemparan batu setelah pertemuan pertama kami yang menakjubkan di musim dingin 2013.


Ada tempat-tempat dan teman-teman baru yang saya temukan di Leiden Jilid II ini. Peterskerk dan Latin Quarter-nya. English Gate yang ternyata adalah asylum atas leluhur pendiri Amerika Serikat.  Fakultas Indologi di jalan Rapenburg yang dulunya adalah tempat belajar Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Taman Hortus Botanicus yang tak mungkin terwujud tanpa bibit-bibit tanaman tropis yang dibawa VOC. Serta De Academie universitas baru saya ini yang rupa-rupanya menyimpan patung seorang ilmuwan asal Indonesia. Tiap hari Leiden tak kering oleh kejutan. Lorong-lorongnya yang (sepertinya) sudah saya jelajahi oleh kaki dan roda sepeda ternyata bagaikan labirin yang selalu menyiapkan kisah-kisah seru.

Singkat kata, tak henti-hentinya saya bersyukur kepada Tuhan atas nikmat yang telah ia berikan kepada saya. Kemarin sore saat berkunjung ke kamar seorang kawan Encompass dari Thailand dan Cina (namun berkuliah di Tel Aviv dengan jurusan Studi Timur Tengah serta punya nama Arab "Yusuf"!) bersama Neilabh dari India, perbincangan kami mulai mengalir dari Soeharto ke Sriwijaya, ke ISIS, ke konflik Israel-Palestina, ke komunitas Tionghoa Makassar bahkan sampai ke tradisi sufi di Gujarat. Kami menghabiskan waktu berjam-jam hingga malam (yang masih terang-benderang karena musim panas) tanpa merasa letih karena terus bicara. Saat itulah saya merasa bahwa dahaga intelektual yang selama ini bingung kemana rimbanya untuk dipuaskan akhirnya terpenuhi. Di sinilah tempatnya. Leiden adalah tempatnya. Iklim intelektualnya didukung oleh multikulturalisme yang dibawa oleh beragam manusia dari berbagai penjuru dunia. Belum lagi kebaikan hati Marijke dan Esther, program koordinator saya yang amat sangat perhatian dan penuh dukungan. Saya bersyukur karena dipilihkan oleh-Nya untuk belajar di sini, sungguh.

*Meskipun hingga saat ini saya masih bete karena bagasi yang nyasar entah kemana itu hingga sekarang belum dikirim-kirim juga oleh KLM

Hujan dingin boleh kamu turun di Leiden
Menyapu mentari musim panas yang lebat terangnya
Tapi jangan pikir kau kan mampu menyapu
Hasrat akan ilmu yang kubawa dari Indonesia
karena akan kukantongi seluruhnya, kubawa pulang
Dan kubagi-bagikan kepada para pendemo di pinggir jalan

Smaragdlaan,
22 Agustus 2014

Saturday, March 29, 2014

Di Akhir Maret...

Ceritanya, alhamdulillah saya diterima untuk melanjutkan sekolah di Erasmus School of Law, Erasmus University. Universitas tertua ketiga di Belanda ini terletak di kota Rotterdam (saya juga baru ngecek kalau ternyata Erasmus University ini bulan November kemarin 'berulang-tahun' yang ke 100, berdiri sejak 1913), dimana dulunya Bapak Proklamator kita, Bung Hatta pernah mengenyam pendidikan Ilmu Ekonomi. Bung Hatta yang setelah belajar di sana, balik ke Indonesia, dan kemudian mencetuskan sistem koperasi. Ya, siapa yang nggak seneng sih. Sekolah hukumnya masuk peringkat 10 menurut Social Science Research Network (SSRN) 2013. Pesaing-pesaing untuk memperebutkan bangku di sekolah ini juga lumayan gila. Bayangkan, tahun 2011 kemarin Erasmus University dibanjiri 20.941 orang pelamar dari seluruh dunia. Bandingkan dengan UGM yang tahun ini membuka diri kepada 45.000 pelamar dan hanya menerima 3.316 orang saja. #promosi #almamater Awesome. Oke, cukup sudah pamernya. Paragraf ini sengaja didedikasikan untuk luapan kegembiraan serta kebanggaan saya pribadi hehehe.

Di Erasmus School of Law nanti saya rencananya akan belajar International and European Public Law. Cukup menyimpang dari jalur saya yang sebenarnya lebih fokus ke Hukum Kekayaan Intelektual (dimana kalau di UGM masuk ke dalam kategori Hukum Bisnis). Lalu apa sebabnya sehingga saya kemudian banting setir ke Hukum Internasional. Jawabannya, selain karena fakta bahwa Erasmus School of Law tidak punya program khusus terkait HAKI, adalah karena saya ingin memanfaatkan kesempatan belajar di Belanda ini untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan dan pengalaman.

Saya adalah seorang pelajar yang multidispliner -atau setidaknya saya ingin menjadi seperti itu. Kesukaan saya terhadap ilmu-ilmu bahasa, sejarah, antropologi terkadang dipandang sebelah mata oleh rekan-rekan ilmu hukum lainnya. Apalagi jika sudah nyerempet-nyerempet ke budaya dan adat, obrolan yang mengasyikkan hanya dapat saya temukan pada beberapa orang saja. Tidak semua orang peduli atau merasa penting dengan bahasan yang saya anggap menarik. Dianggap kuno, padahal menurut saya memandang hukum sebagai ilmu yang berdiri sendiri tanpa mencari kaitannya dengan cabang ilmu lain itu lah yang kuno, sudah nggak zamannya lagi. Hukum sebagai alat untuk menjamin keadilan, kepastian dan kemanfaatan di tengah masyarakat, mengabaikan diri dari mempelajari unsur-unsur yang seharusnya ia lindungi bagi saya adalah kesalahan fatal. Mendalami hukum lingkungan berarti harus faham dengan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan lingkungan, demikian pula jika ingin mendalami hukum bisnis, harus paham betul dengan logika ekonomi serta perkembangan dunia bisnis.

Saya memutuskan untuk mengambil International and European Public Law karena saya memandang diri ini sebagai bagian dari sebuah masyarakat dunia yang melekat dengan akar tradisional. Isu-isu terkait budaya Indonesia tidak bisa cuma dilihat dari tempurung lokal saja, hari ini globalisasi menciptakan banyak jaringan yang menghubungkan seluruh penduduk dunia dalam "rumah yang sama". Demikian juga ketika kita membahas persoalan terkait masyarakat adat, sejauh apakah dunia internasional yang jago merumuskan ini-itu -yang konon demi kesejahteraan golongan ini- paham dengan situasi akar-rumput di negara-negara dunia ketiga? Riset seperti apa yang mereka gunakan untuk membela kepentingan masyarakat yang hidupnya bergantung kepada alam yang terus-menerus dieksploitasi, dan yang beragam ekspresi seninya dirampok habis-habisan melalui komersialisasi, dan yang pada saat itu juga nilai-nilai kearifan lokalnya digerus oleh industrialisasi budaya pop Barat?

Belanda, negeri yang unik. Tidak saja karena ribuan khazanah peradaban Nusantara terawat dengan baik di sana, namun juga karena di mata dunia internasional Belanda menjadi tuan rumah atas ICJ yang terkenal itu. Ribuan kasus masuk ke Mahkamah Internasional yang berkedudukan di Den Haag, didiskusikan, dicari-cari solusinya. Sampai sejauh mana kah perspektif Desa Adat di Bali yang berhadapan dengan hukum nasional serta kepentingan pemodal asing terdengar di sana? Sampai sejauh apakah pemahaman mereka tentang pentingnya "laut ulayat" bagi masyarakat Suku Bajo yang daerah hidupnya dirampok serta trayek pelayarannya disabotase oleh pemerintah Australia? Ya, itu semua memang berada di luar yurisdiksi ICJ, akan tetapi saya ingin menyaksikan secara langsung sejauh apakah concern terkait isu-isu ini disentuh, dibicarakan, serta dibuatkan putusannya.

Saya ingin belajar dan terus berkembang. Karena itu demi memenuhi kualitas diri sekaligus memposisikan diri saya sebagai manusia yang peduli dengan manusia lainnya, saya memutuskan untuk berangkat ke Erasmus School of Law. Seorang pemuda dari kota Benteng Fort Rotterdam yang berkelana mencari ilmu di kota Rotterdam. Doakan, semoga banyak inspirasi yang saya temukan di sana untuk menciptakan petualangan kreatif lainnya di Bumi Nusantara.

Rahayu, kurruq sumangaq!


Yogyakarta,
29 Maret 2014

Monday, January 20, 2014

Delft dan Misteri Mutiara Laut Selatan

Selama 17 hari tinggal di negeri Belanda, saya banyak menjelajahi tempat-tempat yang menarik dan bertemu dengan orang-orang yang tak kalah pula menariknya. Meskipun menghabiskan lebih banyak waktu di kota Leiden, saya menyempatkan diri untuk berkeliling kota-kota lain yang punya ciri khasnya masing-masing seperti Den Haag, Amsterdam, Haarlem, Maastrich, Utrecht, Volendam, Hoorn, Middelburg, dan tentu saja Delft.


Delft? Pernah dengar nama ini sebelumnya? Nama Delft jelas kalah famous dibanding kota-kota besar di Belanda. Delft tidak se-metropolitan Amsterdam, se-modern Rotterdam, maupun se-rame Leiden. Impresi pertama saya ketika tiba di stasiun kereta kota Delft (yang waktu itu sedang direnovasi, sehingga lumayan ribet mencari pintu/tangga keluarnya) adalah: "Gini kali ya 'Klaten atau Pangkep'-nya Belanda". Akan tetapi, ada beberapa faktor yang membuat nama Delft seistimewa Volendam sebagai kotanya turis-turis asing di Belanda.
Jody dan Ucup, dua orang anggota
La Galigo Music Project yang jadi
"penghuni kota Delft"
Delft, sebelumnya pernah saya dengar sebagai tempat peristirahatan terakhir raja-raja Belanda zaman dahulu. Maksudnya, tempat dimana dikuburkannya mereka. Kota ini juga terkenal dengan industri keramik biru. Keramik biru inilah yang kemudian menjadi ikon suvenir Belanda, selain tentunya keju dan bunga tulip. Keramik Delft dengan warna birunya yang khas itu muncul dalam beragam bentuk: ada miniatur kincir angin, sepatu clog, dua anak kecil yang saling berciuman, hingga sapi. Saking terkenalnya keramik Delft ini, sampai-sampai kemanapun saya pergi di Belanda, toko suvenirnya pasti memajang tulisan "Delft Blue Ceramics". Otentisitas serta pamor Delft dalam hal ini memang sudah tidak diragukan. Ibarat kata, tidak afdhol datang ke Belanda sebelum membeli sebongkah keramik biru Delft sebagaimana halnya orang yang datang ke Yogyakarta tanpa membeli oleh-oleh bakpia. 

Bicara tentang Delft, selain keramik birunya saya jadi ingat dengan Azzam Santosa. Azzam adalah seorang putra Indonesia totok yang lahir dan besar di kota ini. Si Azzam sekarang bersekolah di Erasmus University Rotterdam, akan tetapi domisili keluarganya tetap di kota Delft. Saya amat salut kepada pemuda berusia 19 tahun ini karena meskipun jauh dari tanah air ia memiliki rasa nasionalisme yang tinggi serta terus update dengan perkembangan di tanah air. Tidak hanya itu, saat ini ia bahkan menduduki jabatan sebagai Sekretaris di PPI Belanda. Pemuda yang mengidolakan sosok Bung Hatta ini pun terus mengasah kemampuannya berbahasa Indonesia tanpa malu-malu. Mengagumkan! Sayang sekali sewaktu saya dan Ran berkunjung ke Delft untuk menengok Ucup, Jody dan Gendon, Azzam sedang berwisata bersama teman-temannya ke Swedia. 

Oke, lanjut ceritanya ya. Sambil berjalan-jalan di Centrum alias pusat kota Delft yang mirip dengan alun-alun di kota-kota besar di Pulau Jawa, saya bergumam, oh jadi dari kota kecil inilah Azzam tumbuh dan besar. Suasana kotanya yang tenang, arsitekturnya (saya amat menyukai ornamen-ornamen di Nieuwe Kerk dan Stadhuis alias Balaikota) yang tetap menjaga spirit medieval membuat kota klasik ini nyaman dijadikan hunian. Setidaknya, sahabat saya si Ucup sampai bercita-cita untuk tinggal di Delft dan membuka toko kecil di sini, hehehe. Oh ya, hampir di setiap kota yang saya kunjungi di Belanda, stasiun kereta api (Centraal) itu letaknya tidak terlalu jauh dari Centrum. Dan hampir bisa dipastikan di sebelah Centrum pasti ada Stadhuis dan Groete Markt alias pasar, dan juga gereja utama kota tersebut. Unik ya! Konon kota-kota di Indonesia dulunya juga sudah dirancang seperti demikian akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, pembangunan yang tidak teratur membuat tata kota jadi amburadul.
Ran dan Louie, mejeng di sebelah Stadhuis. Di seberang kami tampak Nieuwe Kerk Delft
Anyway. Nah, begitu menginjakkan kaki di toko-toko suvenir yang berserakan di sekeliling Centrum, saya terkejut menyaksikan kartu pos-kartu pos yang dipajang oleh si empunya toko. Lukisan seorang gadis yang mengenakan "surban model Eropa" -dengan wajah menengadah ke arah orang yang melihatnya- menghiasi hampir seluruh kartu pos. Tidak hanya itu, wajah gadis itu pun dilukis pula di atas keramik dengan warna biru yang menjadikannya sebagai salah satu oleh-oleh favorite dari kota Delft.

Saya tercengang, menganga dalam kehampaan selama sekian detik. Lukisan sang gadis seketika membawa ingatan saya mundur kembali ke tahun 2010. Saat itu sedang liburan semester tiga dan saya pulang ke rumah orang tua di Makassar. Di rumah, sambil leyeh-leyeh malas dan berguling-guling manja, saya membuka laptop kakak dan menemukan sebuah film berjudul "Girl with Pearl Earrings". Film keluaran tahun 2003 ini mencatut Scarlet Johansson sebagai pemeran utama wanitanya. Berhubung saya suka dengan film-film yang berbau sejarah maupun kerajaan-kerajaan masa lalu, maka dengan senang hati saya pun menontonnya.

Okay, no-spoiler. Bagi yang belum nonton, monggo ditonton dulu ya hehehe. Kembali ke Delft. Ketika saya bertanya kepada ibu-ibu penjaga toko mengapa lukisan gadis yang berjudul "Girl with Pearl Earrings" (GPE) itu ada dimana-mana di kota ini, sang ibu dengan lugas menunjuk ke seberang jalan dari jendela tokonya.
"Itu rumah Jan Vermeer, di seberang jalan. Vermeer adalah pelukis terkenal asal kota Delft yang membuat lukisan GPE ini." 
Seketika itulah saya terkesiap. Wah gila, saya berada tepat di seberang jalan sebuah tempat yang menjadi latar sejarah dari sebuah film yang pernah saya tonton beberapa tahun yang lalu :D

Lukisan GPE yang diciptakan pada tahun 1665 ini menjadi terkenal selain karena teknik melukis Jan Vermeer yang luarbiasa juga dikarenakan oleh misteri yang tersimpan di dalamnya. Kira-kira mirip dengan misteri yang menyelubungi lukisan Monalisa karya Da Vinci lah. Sampai hari ini para pemerhati seni belum sepakat menentukan siapakah sosok gadis yang dilukis oleh Vermeer. Sebagian ada yang memprediksi sang gadis sebagai istri Vermeer, anak perempuan sulungnya, dan bahkan salah seorang pembantu mudanya (lihat http://www.essentialvermeer.com/catalogue/girl_with_a_pearl_earring.html). Ketika para sejarawan seni itu sibuk membahas sosok yang menjadi model lukisan hingga maksud dari ekspresi sang gadis yang kelihatannya ambigu itu, saya justru tertarik kepada anting-anting mutiara yang ia kenakan.
Het Meisje met Parel alias Girl with Pearl Earrings
Anting-anting mutiara di lukisan GPE merupakan salah satu mutiara terbesar yang pernah saya lihat. Mutiara ini berbentuk seperti tetesan air (berarti dalam proses pembuatannya menjadi sebuah anting-anting bentuk aslinya telah sedikit dipoles) dan berwarna putih keperak-perakan. Ketika banyak orang yang skeptis bahwa mutiara tersebut benar-benar nyata (mereka menganggap bahwa Vermeer berimajinasi dalam menggambarkan anting mutiara tersebut) saya justru optimis bahwa mutiara yang dijadikan model di dalam lukisan tersebut benar-benar nyata. Dan hampir 100% yakin mutiara tersebut adalah Mutiara Laut Selatan (Southern Sea Pearl) yang sejak zaman VOC hingga hari ini menjadi primadona dunia.

Jadi begini. Jan Vermeer melukis GPE di kala Belanda tengah memasuki zaman keemasannya. Perdagangan melaju pesat (terima kasih kepada Hindia Timur dan Hindia Barat), Belanda telah merdeka dari cengkraman Spanyol, semua orang bebas memeluk agama masing-masing serta mengeluarkan pendapat, dan kreatifitas para seniman pun berkembang bak tulip di musim semi. Di masa itu, selain bumbu-bumbu dapur, hampir setiap komoditas yang berasal dari Hindia Timur berharga mahal karena cost pelayaran yang mahal serta karena dianggap eksotis. Bahkan burung-burung yang berasal dari daerah tropis seperti nuri dan kakatua dikoleksi oleh kalangan atas hanya demi prestise "benda ini dari Hindia lho". Nah, mutiara tentu saja merupakan salah satu koleksi yang tidak mungkin luput dari mata siaga VOC.
Rumah Vermeer
(http://www.essentialvermeer.com/delft/delft_today/oude_langendijck.html)
Berdasarkan informasi dari Wikipearl, Mutiara Laut Selatan (MLS) tergolong jenis mutiara terbesar sekaligus terlangka di dunia! Mutiara ini berasal dari sejenis kerang bernama Pinctada maxima yang hanya dapat ditemukan di perairan Australia Utara hingga ke Laut Cina Selatan. Diameter mutiara ini berkisar antara 9 mm hingga 20 mm. Sekitar tahun 1500-an, di Indonesia, Australia, Myanmar dan Filipina mutiara ini banyak dibudidayakan. Berhubung hanya dapat ditemukan di area Laut Selatan, maka bangsa Eropa  mengetahui keberadaan mutiara jenis ini baru pada abad ke-16 dan ke-17, tepatnya saat bendera VOC juga sedang berkibar di samudera. Mata orang-orang Eropa ini membelalak kaget melihat ukuran MLS, dan sejak saat itu MLS pun memasuki daftar dagangan di pasar global. Permintaan dunia yang tinggi terhadap MLS menyebabkan nyaris punahnya kerang Pinctada maxima di abad ke-18 dan ke-19. Hari ini, MLS dapat ditemukan di perairan Bali, Lombok, Sumbawa dan Papua.

Wah, menarik sekali. Dari sebuah kota kecil bernama Delft, dari sebuah lukisan yang dihasilkan oleh putra terbaik Belanda, saya menemukan cerita tentang kekayaan tanah air Indonesia. Mulai saat ini, jika berkunjung ke Delft, mungkin ingatan saya tidak akan lagi mengasosiasikannya dengan keramik biru atau patung Hugo Groot yang terpajang penuh kebanggaan di Centrum. Secercah sejarah tentang betapa berharganya keanekaragaman hayati Indonesia yang patut dijaga oleh generasi mudanya hari ini yang mungkin akan terlintas tiap kali menatap lukisan GPE.

Salam,
Makassar, 20 Januari 2014