Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Friday, May 26, 2017

dari Enkhuizen ke Bataviastad: VOC Gaya Lama ke VOC Gaya Baru

Hari minggu tanggal 2 April kemarin, kami sekeluarga dikejutkan dengan sebuah keputusan yang datangnya begitu mendadak. "Ayo, semua siap-siap, kita jalan-jalan ke Enkhuizen!" demikian maklumat John, bapak kos saya di Berkel yang berhati nyaman ini. Tanpa ba-bi-bu lagi, saya yang untungnya saja sudah mandi pagi dan baru saja menyelesaikan sarapan segera bersiap. Hari itu kami berkendara selama hampir 2 jam lamanya menuju ke sebuah kota nelayan kecil di Belanda utara: Enkhuizen.

Enkhuizen dulunya merupakan salah satu dari enam kota utama VOC selain Amsterdam, Delft, Dordrecht, Hoorn dan Middelburg. Sebagaimana halnya dengan kota-kota yang saya sebutkan barusan, Enkhuizen masih menampakkan sisa-sisa kejayaan masa lalunya. Betapa tidak, dulunya seluruh rempah-rempah yang masuk ke Belanda harus distok dulu di Het Peperhuis alias "Rumah Merica" yang sekarang menjadi bagian dari Zuiderzee Museum (Museum Laut Selatan Enkhuizen). Het Peperhuis telah digunakan sejak tahun 1682 oleh VOC untuk menyetok seluruh persediaan merica yang mereka beli di Asia. Keberadaan Het Peperhuis ini membuat perekonomian Enkhuizen secara fantastis melesat naik. Segera saja perdagangan rempah-rempah membuat penduduk kota itu menjadi kaya dan terkenal. Selain karena menjadi sentra perdagangan rempah, Enkhuizen juga merupakan pusat penjualan ikan herring, makanan khas orang Belanda.  

Het Peperhuis
Berpose bersama si mbak penguasa laut selatan (versi Belanda)

Sisa-sisa kejayaan maritim kota dagang ini juga dapat dilihat dari arsitektur kota yang banyak menggambarkan unsur-unsur laut seperti hiasan trisula Poseidon, lambang Hermes sebagai dewa perdagangan maupun relief putri duyung. Pelabuhan Oosterhaven yang terletak tidak jauh dari Het Peperhuis dulunya menampung kapal-kapal yang menanti untuk menurunkan maupun mengangkut barang. Seorang tokoh penjelajah besar kebanggaan Belanda bernama Jan Huygen van Linschoten berasal dari kota ini. Ia adalah orang Belanda pertama yang membocorkan rute laut Portugis menuju ke Asia dengan cara mempublikasikan peta pelayaran mereka dalam buku berjudul "Itinerario" pada tahun 1596. Efek dari publikasi Van Linschoten ini amatlah besar. Sebelumnya, di Eropa hanya bangsa Spanyol dan Portugis yang memonopoli perdagangan rempah-rempah ke timur. Mereka menjaga dengan ketat rahasia rute pelayaran dari bangsa-bangsa Eropa lainnya. Segera setelah Itinerario disebarluaskan dan dibaca banyak orang, berbondong-bondonglah pelaut-pelaut Eropa berlayar menuju ke Hindia Timur. 


Monumen untuk memperingati Van Linschoten the explorer
Replika kapal Batavia zaman VOC di Bataviastad

Setelah puas berkeliling Enkhuizen, kami sekeluarga meneruskan perjalanan menuju ke sebuah kawasan kecil yang untuk ukuran usia sebenarnya tergolong cukup baru di Belanda. Nama kawasan itu adalah Bataviastad, daratan yang direklamasi dari laut dan diresmikan sebagai pusat fashion outlet pada tahun 2001 oleh pemerintah Belanda. Hmmm, menarik ya, namanya mirip dengan nama lama Jakarta. Nama Batavia sengaja dipilih sebab di dekat kawasan tersebut pernah ditemukan bangkai kapal VOC bernama Batavia dari tahun 1628. Terinspirasi dari kejayaan VOC di era keemasannya, replika kapal Batavia menjadi ikon utama yang mengapung penuh kebanggaan di perairan Bataviastad hari ini. Sepertinya benar ya, Belanda masih belum bisa move on dari Indonesia! 


Soldaat alias prajurit VOC di depan pintu masuk cafe
Perahu-perahuan kecil dengan kotak kayu berlambang VOC di depan cafe ini jadi tempat nongkrong buat keluarga yang cukup asyik

Beberapa cafe dan bar di sana juga mengangkat tema petualangan bahari bangsa Belanda di timur. Tidak hanya itu, nama jalanan di Bataviastad seperti Bataviaplein, VOC weg, Oostvaardersdijk dan Zeven Provincieplein merupakan contoh bagaimana imaji akan kebesaran Belanda dalam menaklukkan samudera dan merajai perdagangan dihidupkan kembali di kota buatan nan komersil ini. Jika dulu nama Batavia di Hindia Timur erat dengan kegiatan komersil Belanda dalam perburuan rempah-rempah, maka hari ini nama Batavia di Belanda dihidupkan sebagai pusat shopping. Ujung-ujungnya yang namanya Batavia pasti masih berhubungan dengan uang dan perdagangan di dalam angan-angan bangsa Belanda.

Weekendje yang menyenangkan. Kami berziarah dari VOC gaya lama di Enkhuizen ke VOC gaya baru di Bataviastad. Dulu, Bung Karno pernah nyeletuk bahwa bangsa yang besar ialah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Belanda sudah membuktikan itu. Daratan tanpa identitas yang mereka reklamasi dari lautan mereka beri baju kemoderan namun berakar lokal. Tema kejayaan VOC yang mereka pilih untuk Bataviastad tentunya bukan tanpa sebab: bagi mereka kemajuan yang dimiliki oleh Belanda hari ini tidak lepas dari kejayaan masa lalu yang mampu menstimulasi mereka untuk terus berkarya.

Friday, July 15, 2016

Empat hari untuk tiga kota: Berlin

Seminggu yang lalu, dengan spontan, sehari setelah memasukkan skripsi ke koordinator program saya di Leiden saya berangkat untuk liburan ke tiga kota di sebelah timur Belanda: Berlin, Dresden dan Praha. Idenya benar-benar spontan: setelah stress dengan urusan skripsi dan penat memikirkan masa depan, saya membutuhkan sebuah weekend runaway ke tempat asing untuk mencari suasana serta inspirasi baru. Pilihan jatuh ke tiga kota itu karena saya termotivasi oleh tiga hal: sejarahnya, rekomendasi teman dan jarak.

1. Berlin: Ibukota Hipster Eropa; atau dikenal juga sebagai Kota berwajah Timur dan Barat

Ditemani oleh seorang kawan yang belajar di Universitas Wageningen, kami naik Blablacar (mirip dengan jasa mobil travel di Indonesia dimana si pemilik mobil makan mengangkut beberapa orang dengan tujuan yang sama dengannya setelah membuat appointment online) bertarif 28 euro selama 5 setengah jam menuju ke destinasi pertama, ibukota Jerman. Cukup cepat sih sebenarnya durasi perjalanan kami ini. Kami berangkat sekitar pukul 11.00 dari lapangan parkir stasiun Amsterdam Sloterdijk dan kemudian tiba di Westkreuz (distrik sebelah barat kota Berlin) sekitar pukul 17.00. Di perjalanan kami sempat terjebak macet (yang tentunya incomparable dengan arus mudik lebaran di Indonesia) serta berhenti untuk buang air kecil dua kali.

Yay, akhirnya menginjakkan kaki juga di kota Berlin!
Dari stasiun Westkreuz kami naik metro (U-bahn) menuju ke stasiun Alexanderplatz di jantung kota Berlin. Di sana ceritanya kami telah disambut oleh kawan lama saya yang dulunya juga berkuliah di kota Leiden. Setelah cipika-cipiki haha dan hihi, dalam kondisi yang agak pusing karena kecapekan dan kurang tidur selama beberapa hari belakangan (blame it on thesis) ini, saya segera menelan paracetamol dan minum es kopi di Dunkin Donuts serta bersiap untuk berkeliling kota. Alexanderplatz dipenuhi oleh anak-anak muda dengan berbagai gaya. Sebelumnya saya sudah sering mendengar dari teman saya bahwa Berlin ialah kotanya anak muda, atmosfernya amat menyenangkan untuk bersenang-senang. Hal tersebut ternyata benar. Kemana pun mata memandang, beragam hipster dengan fashion mereka sendiri berseliweran dengan cueknya. Konon katanya Berlin ialah ibukotanya anak-anak hipster di Eropa. Hipster-hipster New York yang berkunjung ke Berlin pun mengakui iklim kreatif di kota ini yang mereka rasa cukup berani dan out of the box dibandingkan dengan tempat-tempat lainnya.

Alexanderplatz dan Brandenburg Tor

Kami berkeliling pusat kota Berlin dan mengunjungi situs-situs yang wajib lihat di dekatnya (berhubung sebentar lagi matahari akan tenggelam) seperti Brandenburg Tor, Murdered Jewish Memorial dan Reichstag (parlemen Jerman). Malam itu di tutup dengan makan-makanan Indonesia di sebuah restoran bernama Nusantara. Sepanjang pengamatan saya akan Berlin, kota ini walaupun terlihat amat modern sebenarnya masih menyisakan banyak sekali jejak dari masa lalu. Berlin dulunya terletak di bahagian Jerman Timur dimana komunisme yang menjadi doktrin utamanya. Ada sisi dari Berlin yang terlihat seperti "negara dunia ketiga", namun dalam radius beberapa meter dari lokasi tersebut sebuah mall megah dengan bau khas kapitalisme berdiri. Pemerintah Jerman hingga hari ini masih menggelontorkan dana subsidi dari daerah bahagian barat Jerman yang kaya dan (dari dulu memang) liberal ke daerah-daerah bekas rezim komunis di timur, termasuk salah satunya ya Berlin ini. Berlin dipilih menjadi ibukota agar dapat menyeimbangkan Jerman yang baru saja bersatu itu, memperkuat wacana persatuan serta kesatuan di negeri yang sempat koyak oleh perbedaan ideologi politik. Berlin menurut saya adalah sebuah paradoks yang mengingatkan kita akan modernitas dan masa lalu, tidak hanya bersanding sebelah-menyebelah namun juga saling rajut-terajut menjadi satu.

Keesokan harinya kami hanya punya waktu hingga jam 2 siang untuk mengunjungi tempat-tempat lain di Berlin. Memang rasanya singkat sekali, soalnya kami harus mengejar bus menuju ke destinasi berikutnya: Dresden. Kami keluar dari apartemen kawan yang kami inapi sekitar jam setengah 9 pagi dan langsung menuju ke situs Berliner Mauer (Berlin Wall) di dekat stasiun Nordbahnhof. Saya lumayan terkejut dengan daerah tempat dinding historis tersebut berada. Daerah ini dipenuhi oleh banyak sekali anak hipster yang, mohon maaf, gayanya lebih mirip hippies, dan juga homeless. Ada banyak peminta-peminta serta pecahan botol bir dimana-mana. Selain itu daerah ini juga cukup kotor. Ada banyak bangunan yang masih dalam kontruksi. Pokoknya benar-benar seperti tidak sedang berada di negara Eropa Barat. Sepintas kekacau-balauannya mengingatkan saya akan stasiun keretapi di Bucharest.

Berlin Wall yang terkenal itu
Kami tidak lama berada di Berliner Mauer. Setelah mengambil beberapa foto dan berjalan di sekitaran dinding yang sekarang tidak punya arti signifikan lagi itu kami segera melanjutkan perjalan ke Museums Insel alias Museum Island di tengah kota. Museum Insel merupakan sebuah komplek museum di tengah-ten gah Sungai Spree yang membelah Berlin dengan gedung-gedung beraksitektur klasik yang amat indah. Sayang sekali karena keterbatasan waktu kami tidak sempat untuk masuk ke dalam salah satu museumnya. Benda-benda yang dipamerkan di museum-museum tersebut berasal dari peradaban-peradaban kuno seperti koleksi Bizantium di Museum Bode, koleksi peradaban Islam di Pergamom dan koleksi Mesir Kuno di Neus Museum. Beberapa koleksi andalan mereka contohnya seperti patung wajah Nefertiti dan pintu gerbang Ishtar dari Babiloni. Saya bertekad untuk kembali lagi suatu hari nanti dan menjelajahi museum-museum di sini satu per satu. Situs terakhir yang kami kunjungi di Berlin ialah tentu saja the iconic Berliner Dom. Puas berpose dengan gaya-gayay yang sok manis dan kemudian berubah menjadi tak lazim, kami pun bergegas menuju terminal bus ZOB di pinggiran kota bus untuk menuju ke kota kedua di trip singkat ini: Dresden.

Bersambung...                                

Friday, July 4, 2014

Maleficent dan Salawati Daud: The Hidden Triumph of Matriarchy?



Alkisah, cerita asli Sleeping Beauty tidak seperti yang didongengkan kepada kita selama ini.  Putri Aurora yang malang dan dikutuk untuk mengalami tidur  panjang bagaikan maut itu sebenarnya ialah korban atas kesalahan masa lalu sang ayah. Maleficent, seorang peri hutan yang tadinya baik hati berubah menjadi jahat demi melampiaskan kekesalannya atas pengkhianatan cinta yang dilakukan oleh sang raja. Akan tetapi di akhir cerita, Maleficent yang terus mengamati Aurora tumbuh berkembang menjadi seorang gadis yang penuh cinta justru memutuskan untuk menarik kembali kutukannya. Tidak hanya itu, ia juga menyelamatkan Aurora dari kejahatan ayahnya sendiri.
 
Demikianlah kira-kira rangkuman atas film “Maleficent” yang dirilis oleh Disney beberapa minggu lalu. Angelina Jolie yang memerankan Maleficent di film ini berhasil membawakan karakter peri hutan yang amat berkuasa namun rapuh dari segi perasaan. Maleficent ditipu oleh seorang pemuda desa yang berambisi untuk menjadi raja. Sayap Maleficent yang indah menjadi korban atas niat jahat lelaki yang ia cintai itu. Sayap Maleficent ini di mata saya sejatinya merupakan simbolisasi dari trofi atau piala kemenangan sebagai bukti kejantanan laki-laki dalam menaklukkan energi alam yang dianggap liar dan tak beradab. Bukan cerita baru, wanita dijajah pria itu sudah hadir di tengah-tengah dunia sejak dulu kala. 
Sentra utama dongeng yang ditampilkan dalam wajah baru ini sebenarnya ada pada sisi si karakter utama: Maleficent. Maleficent, tidak seperti yang diyakini oleh banyak orang selama ini, tidak berniat untuk mencelakai Aurora hanya karena dirinya tidak diundang ke jamuan makan pembaptisan sang putri. Maleficent di sini merupakan simbolisasi dari perempuan yang terluka, dipaksa untuk tunduk pada dunia patriarki yang tidak mengharapkan figur perempuan untuk tampil di tatanan sosial masyarakat. Perempuan harus didomestikasi, dalam film ini disimbolkan melalui “pengebirian” sayap indah Maleficent.
Angelina Jolie sebagai Maleficent
Ada kisah menarik tentang sosok perempuan yang “dikebiri” sayapnya oleh Orde Baru dan diantagoniskan, persis seperti Maleficent ini. Namanya Salawati Daud. Jika anda tanya siapa dia hari ini, hampir seluruh suara akan langsung mengarah kepada satu kata “PKI!” atau “Gerwani!”. Ya, Salawati Daud memang merupakan seorang aktifis PKI di era 50-an. Ia bahkan turut serta dalam embrio yang kelak akan melahirkan perkumpulan Gerwani bersama Umi Sardjono. Pasca peristiwa G.30/S meletus, Salawati Daud yang saat itu menjadi anggota DPR digelandang oleh tentara keluar gedung parlemen untuk kemudian dijebloskan ke Penjara Bukit Duri. Sejak saat itu nama Salawati Daud bagaikan sebuah nista. Ia dihapus dari dokumen-dokumen sejarah dan dilupakan perannya sebagai tokoh awal pemberdayaan wanita di republik ini.

Salawati Daud ialah seorang perempuan Bugis dari Sulawesi Selatan. Kebudayaan Bugisnya mengajarkan Salawati untuk menjadi seorang perempuan yang tangguh, mitra setara lelaki yang sepadan, bukan sekedar pelengkap hidup semata. Sudah mengalir di dalam kultur Sulawesi Selatannya bahwa perempuan seperti halnya laki-laki bebas untuk mengekspresikan opini di hadapan publik. Sejak tahun 1930 ia aktif menentang kekuasaan kolonial Belanda di tanah air. Ia yang juga anggota Perserikatan Celebes bersama dengan Nadjamoeddin Daeng Malewa, Lindoe Marsajit, Th. Lengkong dan Nyonya Lumenta mendirikan Perhimpunan Perguruan Rakyat Selebes (PPRS) dengan tujuan memajukan pendidikan bagi masyarakat pribumi. Tercatat, Salawati juga merupakan seorang pionir perlawanan perempuan di bidang pers, ia mendirikan majalah Wanita pada tahun 1945 serta menjadi direksi majalah Bersatu yang saat itu adalah bacaan laris. 

Mental baja Salawati yang senantiasa menuntut keadilan bergejolak ketika pasukan NICA memasuki tanah air pasca kemerdekaan. Ia mengobarkan semangat gerilya dengan berkeliling daerah di Sulawesi Selatan serta memimpin sendiri perlawanan ke sebuah tangsi polisi di Masamba (saat ini ibukota Kabupaten Luwu Utara). Salah satu prestasi terbesar Salawati ialah saat ia ditunjuk sebagai Walikota pertama kota Makassar di tahun 1949. Dengan demikian, Salawati merupakan walikota perempuan pertama di Indonesia. Salawati Daud juga seorang tokoh mediator yang berusaha meredam ambisi Kahar Muzakkar saat hendak menggulingkan pemerintah Indonesia dengan gerakan DI/TII-nya. Suaminya yang seorang pejabat pemerintah di Maros amatlah mendukung aktifitas-aktifitas sang istri.

Pada tahun 1955, ia melanjutkan perjuangannya menyuarakan hak-hak sipil wanita ke Senayan dengan menjadi anggota DPR. Sayangnya, berbeda dengan Opu Daeng Risaju, Andi Depu dan Emmy Saelan yang menerima penghargaan dari rakyat Sulawesi Selatan sebagai pejuang-pejuang wanita, nama Salawati Daud tenggelam dalam dongeng-dongeng yang dihembuskan oleh pemerintah akan kejahatan ideologi komunisme di masa Orde Lama. Persis seperti Maleficent. Kita hanya mengenangnya dari logo Palu dan Arit yang dicitrakan jahat seperti iblis. Ia dikebiri oleh dunia lelaki Orde Baru, tidak hanya didomestikasi namun juga didemonisasi.
Satu hal lagi pelajaran moral yang saya dapat dari film Maleficent adalah: kebenaran, sebagaimana pula kejahatan, memiliki dua sisi. Terkadang kita terlalu awam untuk lekas menjatuhkan putusan “ini benar” atau “ini salah”. Ada banyak kisah yang melatari kenyataan mengapa sebuah peristiwa dapat terjadi. Kisah-kisah dan dongeng-dongengan lama mungkin perlu kita tilik ulang kembali. Siapa tahu ada Maleficent-Maleficent dan Salawati-Salawati lainnya yang terselip kepahitan zaman di antara belenggu-belenggu perjuangan. Malang, sebagai manusia kita cenderung bermain Tuhan. Kita tak dapat menerima ketakbersalahan seseorang, namun anehnya mengumbar-umbar ketarbersalahan diri kita sendiri meski telah terbukti kalah.

Selamat berakhir pekan, selamat menunaikan ibadah puasa. Jangan lupa menggunakan hak pilih anda dengan bijaksana di TPS terdekat tanggal 9 Juli 2014.

Yogyakarta,
5 Juli 2014

Friday, January 24, 2014

Apakah Soekarno Pernah Membaca Teks Sumpah Palapa?

Pada film Soekarno garapan Hanung Bramantyo yang dirilis Desember 2013 lalu, ada sebuah adegan yang menarik perhatian saya. Dikisahkan, Sukarno yang tengah hidup dalam pengasingan terakhirnya di Bengkulu mengisi hari-hari sebagai seorang guru di sebuah Sekolah Rakyat. Di sanalah ia bertemu dengan siswi Fatmawati, seorang gadis remaja yang kelak akan menjadi istri keduanya. Sukarno, dengan semangatnya yang berapi-api, menularkan ambisi kepada pemuda-pemuda Melayu muda di kelasnya untuk optimis dalam pembentukan sebuah negara bernama Indonesia yang merdeka dari jajahan Belanda. Hal ini mengundang tanya dari salah seorang gadis kritis yang duduk di bangku bahagian depan: bagaimana mungkin Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau yang banyak ini dapat berdiri menjadi SATU buah negara? Dengan senyum flamboyannya Sukarno menjawab: negara yang berdaulat atas pulau-pulau di Nusantara bukanlah hal yang baru, karena dulu kerajaan Majapahit telah melakukan hal yang sama. Mahapatih Gadjah Mada dengan Sumpah Palapa-nya bertekad untuk menyatukan seluruh Nusantara ini ke dalam satu pemerintahan.

Sampai di sini, mungkin hal itu terdengar familiar di telinga kita, sesuai dengan doktrin yang diajarkan di kelas Sejarah atau PPKN saat kita masih duduk di bangku SD. Majapahit dijadikan sebagai negara maritim kedua Nusantara (setelah Sriwijaya) sekaligus kerajaan nasional pertama karena mencangkup beragam pulau di luar Jawa. Sumpah Palapa lah yang kemudian dijadikan sebagai dalil persatuan Nusantara. Gadjah Mada juga jadi ikon pemersatu bangsa, itulah sebabnya universitas nasional pertama di Indonesia (yang dengan bangganya saya katakan, adalah kampus saya sendiri) diberi nama Universitas Gadjah Mada. Sekarang pertanyaannya, dari mana kah Sukarno mengetahui isi Sumpah Palapa?

Patung Bung Karno, Blitar 2009
Negarakertagama merupakan sebuah kitab karangan Mpu Prapanca –seorang mantan pejabat agama Buddha di kraton Majapahit yang dikeluarkan dari istana karena merasa difitnah oleh salah seorang bangsawan tinggi– yang berdasarkan kolofonnya ditulis pada tahun 1365 M atau 1287 Saka. Naskah ini berjenis kakawin, termasuk salah satu koleksi naskah kuno terlangka dan terunik karena isinya tidak berkisah mengenai pewayangan atau ajaran-ajaran agama (sebagaimana lazimnya isi naskah-naskah kuno Jawa dari era Majapahit lainnya) melainkan sebuah reportase dari sudut pandang orang pertama. Naskah ini berisi ulasan perjalanan Prabu Hayam Wuruk keliling daerah kekuasaannya di Jawa Timur serta deskripsi mengenai kondisi ibukota Majapahit. Sejak kemunduran Majapahit di awal abad ke-15, naskah ini baru muncul ke permukaan pada tahun 1894. Itupun tidak ditemukan di Jawa, melainkan di perpustakaan Puri Cakranegara di Lombok. Alkisah, saat tentara KNIL merangsek masuk dan membakar istana sang raja Lombok, seorang filolog Belanda bernama J.L.A. Brandes menyelamatkan beberapa naskah kuno termasuk di antaranya ialah Negarakertagama. Nah, jangan pula dibayangkan bahwa naskah yang diselamatkan oleh Pak Brandes merupakan naskah lontar kuno yang benar-benar berasal dari era Majapahit. Naskah Negarakertagama di Puri Cakranegara merupakan salinan entah dari naskah Negarakertagama zaman kapan. Oleh Pak Brandes, naskah ini diterbitkan pertama kalinya ke hadapan publik dalam bentuk edisi sementara pada tahun 1902. Lontar asli Negarakertagama sendiri disimpan di Leiden selama berpuluh-puluh tahun, hingga akhirnya dikembalikan ke Indonesia saat kunjungan Ratu Juliana pada tahun 1973. Pada tahun 2008 UNESCO mengakui Negarakertagama sebagai Memory of The World.


Balik ke Sumpah Palapa ya. Sayangnya, teks Sumpah Palapa tidak pernah diukir di atas batu prasasti. Sumpah Palapa tidak ditemukan di relief candi-candi. Sumpah Palapa juga ternyata TIDAK termuat di dalam naskah Negarakertagama yang sudah saya uraikan panjang lebar di atas (ups!). Isi otentik Sumpah Palapa ternyata hanya dapat ditemukan di dalam Kitab Pararaton.

Sukarno, lahir di tahun yang sama dengan publikasi pertama naskah Negarakertagama. Sampai abad ke-21, Negarakertagama masih menjadi kakawin Jawa yang paling banyak dikaji, tidak hanya oleh filolog, namun juga oleh para sastrawan, sejarawan dan arkeolog. Meski demikian, saya sangsi jika Sukarno pernah benar-benar membaca terjemahan Negarakertagama. Apalagi Sumpah Palapa yang termaktub di dalam Pararaton. Apa sebabnya? Pararaton pertama kali di-publish oleh Pak Brandes pada tahun 1897. Edisi keduanya yang disempurnakan muncul di tahun 1920. Nah, edisi inilah yang kemudian beredar luas. Sukarno lulus HBS (kira-kira setingkat SMA) pada bulan Juli 1921, dan langsung mendaftar ke Technise Hoogeschool te Bandoeng (kini ITB). Ia lulus pada tahun 1926. Sepanjang tahun tersebut tidak ada tulisan atau indikasi Sukarno pernah membaca tentang Pararaton maupun membahas Gadjah Mada. Ia memang aktif di organisasi yang sifatnya kejawen seperti Tri Koro Dharmo (bagian dari Budi Utomo), akan tetapi saya sangsi di sana ia mendengarkan pengajian Pararaton. Ibunya memang orang Bali dan tetap beragama Hindu, akan tetapi saya juga sangsi jika Ida Ayu Nyoman Rai mengetahui isi Sumpah Palapa. Ingat, Sumpah Palapa hanya ada di dalam Pararaton yang baru terbit belakangan. Sumpah Palapa dan bahkan nama-nama asli raja-ratu Majapahit lenyap dari ingatan masyarakat Jawa ketika memasuki era Demak dan Mataram. Babad-babad dan serat-serat yang tumbuh subur pada era Mataraman hanya mengingat Gadjah Mada sebagai seorang patih nan gagah perkasa lagi sakti mandraguna, ayah tiri dari Adaningkung atau Angkawijaya, raja Majapahit setelah Brawijaya II. Di Babad Tanah Jawi, Gadjah Mada diingat sebagai seorang patih nan setia, ia berlayar hingga ke negeri Cempa untuk melamar seorang putri atas permintaan Prabu Brawijaya. Ia lalu kembali ke Majapahit sambil membawa sang putri disertai oleh gong bernama Kyai Sekar Delima dan tandu bernama Kyai Jebat Bedri.


Bersama sepupu di depan Makam Bung Karno,
Blitar 2009
Ada satu sosok sahabat perjuangan Sukarno yang cocok untuk melengkapi figur “orang yang pernah membaca Pararaton” dan memberitahukan konsep Sumpah Palapa kepada Sukarno. Sosok ini juga adalah orang yang membisikkan kata “Pancasila” (yang diadopsi dari kitab Tipitaka Buddha) ke telinga Sukarno saat rapat BPUPKI sebagai nama dari 5 konsep dasar negara. Namanya Mohammad Yamin. Mohammad Yamin pernah menjabat sebagai Menteri Kehakiman (1951), Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan (1953–1955), serta Ketua Dewan Perancang Nasional (1962). Ia dilahirkan di Sumatera Barat, bersekolah di Palembang, Bogor, Jogja dan Jakarta, serta belajar Bahasa Yunani, Bahasa Latin, Bahasa Koine dan sejarah purbakala. Ia menikah dengan Raden Ajeng Sundari Mertoatmojo, seorang gadis berdarah biru keturunan bangsawan Demak. Mohammad Yamin pernah menjadi pemimpin Jong Sumatranen Bond (1926-1928). Ia juga merupakan tokoh yang berandil besar dalam menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Selain sebagai seorang aktivis, sastrawan dan sejarawan, Mohammad Yamin pun memiliki gelar di bidang hukum. Ia adalah orang yang mendorong agar poin-poin terkait Hak Azazi Manusia (HAM) dimasukkan ke dalam konstitusi Indonesia. Wah, dalam banyak hal saya dan Pak Yamin punya kemiripan ya, sama-sama pelajar hukum yang suka budaya dan sastra hehehe.

Mengapa harus Mohammad Yamin? Nah, ternyata saat belajar sastra-sastra kuno, Mohammad Yamin dimentori oleh beberapa orang filolog Belanda, di antaranya Prof. H. Kraemer dan Ds. Backer. Prof. H. Kraemer ini selain ahli Bahasa Latin juga merupakan salah seorang anggota dari tim penerjemah Kitab Pararaton edisi kedua bersama dengan Pak N.J. Krom, Pak J.C. Jonker dan Pak Poerbatjaraka. Kemungkinan besar dari sang guru inilah Mohammad Yamin menyerap banyak khazanah tentang sejarah Majapahit. Di kemudian hari, tepatnya pada tahun 1945 Mohammad Yamin menerbitkan sebuah buku berjudul “Gadjah Mada” yang merupakan buku sejarah pertama di Indonesia yang mencitrakan sang Mahapatih sebagai pahlawan pemersatu. Sukarno mulai menggempitakan kejayaan Majapahit yang konon meliputi seluruh Nusantara pasca Indonesia merdeka. Menurut saya pribadi ini termasuk salah satu dari “politik mitos”-nya, yang berusaha merangkul ratusan suku di Indonesia ke dalam latar sejarah yang sama. Hari ini, sudah ada banyak temuan yang membantah anggapan tersebut.

Lalu, mengapa kemudian apakah Sukarno pernah membaca teks Sumpah Palapa ini dibahas? Well, jika ingin jujur maka kita harus mengakui bahwa makna kalimat yang diterakan di dalam sumpah yang konon diucapkan oleh Mahapatih Gadjah Mada itu bernada penaklukkan terhadap hampir seluruh wilayah di Nusantara. Majapahit, yang pada periode-periode Raden Wijaya dan Jayanegara dipenuhi oleh konflik internal berupa pengkhianatan dan pemberontakan, memasuki masa-masa damai di era Tribhuwana Tunggadewi. Hal inilah yang kemudian menurut Slamet Muljana memotivasi Gadjah Mada untuk melebarkan wilayah Majapahit yang telah settle ke berbagai penjuru Nusantara.

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, TaƱjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".Terjemahannya,Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".

Malaysia dan Singapura pernah menolak mentah-mentah ketika dikonfrontasi oleh Sukarno dengan klaim Sumpah Palapa ini. Konon, Majapahit telah berhasil menguasai Pahang (Malaysia) dan juga Tumasik (Singapura), sehingga ketika kedua negara tersebut dianugerahi kemerdekaan oleh Inggris seharusnya masuk ke dalam wilayah Republik Indonesia pula. Malaysia juga punya dalil tersendiri untuk menangkis klaim ini: dalam Hikayat Hang Tuah dikisahkan bagaimana utusan raja Malaka yang bernama Hang Tuah memporak-porandakan ibukota Majapahit yang mengancam akan menaklukkan kerajaannya.

Ada yang miss dengan pembacaan Sumpah Palapa ini sehingga dikemudian hari membuatnya menjadi ikon sakti persatuan Nusantara di masa lalu. Padahal, berdasarkan data-data sejarah ter-update hari ini sendiri, luas Majapahit tidaklah sebesar yang kita bayangkan, hanya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura dan Bali. Prof. Dr. C. C. Berg menulis di dalam “De geschiedenis van pril Majapahit” dan “De Sadeng-Oorlog en de mythe van goot Majapahit”:

Majapahit tidak pernah memiliki wilayah yang luasnya kurang lebih sama dengan luas wilayah Indonesia sekarang. Daerah-daerah di luar Pulau Jawa tersebut hanya merupakan suatu cita-cita saja dan tidak pernah masuk ke dalam wilayah kekuasaan Majapahit
.
Yup, jadi inti dari Sumpah Palapa itu baru sebuah cita-cita atau angan-angan, bukan kenangan beneran bahwa Majapahit pernah menaklukkan seluruh Nusantara. Di dalam buku “Menuju Puncak Kejayaan Majapahit” oleh Slamet Muljana, penaklukkan yang dilakukan oleh Mahapatih Gadjah Mada sendiri hanya tercatat dua kali dilakukan: Padompo dan Pasunda alias penaklukkan Dompo serta penaklukkan Sunda. Yang terakhir itu pun amat tragis, berakhir dengan peristiwa Bubat. Bali juga benar pernah ditaklukkan, namun kemudian tidak berada di bawah kontrol langsung pemerintah Majapahit yang berpusat di Jawa Timur. Sumatera? Nope, bahkan Negarakertagama tidak menyebut-nyebut penaklukkan Sumatera sama sekali. Masih menurut Slamet Muljana, penguasaan Majapahit terhadap Nusantara tidak terletak pada aspek militernya, melainkan pada aspek perdagangan. Saat itu bangsa Jawa masih merupakan pelaut ulung yang punya jung-jung atau kapal-kapal raksasa untuk berlayar mengitari seluruh pelosok kepulauan timur. Majapahit juga tampil sebagai primadona di Nusantara sebab mutu barang-barangnya yang amat high class, menjadikannya kiblat seni saat itu. Ini diperkuat oleh pernyataan Guru Besar Arkeologi Asia Tenggara National University of Singapore John N Miksic yang menyatakan:
Di wilayah Melayu ditemukan artefak berupa kesenian bermotif Jawa. Bentuknya adalah arca Kala Makara dan Dewi Prajnaparamita yang memperlihatkan ciri kesenian khas Jawa Majapahit. Selain itu, juga banyak ditemukan gerabah yang lebih berciri Trowulan. Ada kesinambungan yang terjadi antara hubungan Melayu dengan kerajaan Jawa (Majapahit)

Nah. Mari kita berpikir jernih. Majapahit dan juga ratusan kerajaan lainnya di Nusantara ini adalah bahagian dari sejarah Indonesia. Saya mencintai, mengagumi dan tak henti-hentinya terkesima dengan peradaban kerajaan Majapahit. Dan juga Sriwijaya, Aceh, Gowa, Banten, Banjar, Ternate, dan lain sebagainya. Menjadi Indonesia tidak berarti lantas hanya mencintai sejarah sukunya sendiri. Coba tengok Mohammad Yamin yang Minangkabau totok tapi segitu getolnya mengangkat nama Gadjah Mada di panggung nasional.

Kesimpulannya: sejarah, mungkin tidak semanis kenyataan. Akan tetapi hari ini kita harus berbangga hati dan berlapang dada. Kita adalah bagian dari sebuah bangsa yang untuk ukuran bangsa-bangsa lain di luar negeri lumayan gila: ribuan pulau serta ratusan suku dalam 1 pemerintahan! Yup, biarlah jargon “Bhinneka Tunggal Ika” yang menjelaskan semuanya. Karena dengan atau tanpa Sumpah Palapa, Nusantara yang secara genetis, linguistik dan geografis ini berkerabat satu sama lain memang ditakdirkan untuk menjadi satu.




Salam dari kamar saya di Makassar,


24 Januari 2014

Friday, June 14, 2013

"Kelas Serbaserbi Nusantara"

Sudah beberapa hari ini ada yang berbeda di Fakultas Hukum UGM.

Jika teman-teman (yang duduk di semester tua atas alias tahun-tahun terakhir) sudah jarang terlihat lagi di kampus, tidak demikian halnya dengan saya dan rekan Chandrawulan Hardita. Kami masih sering menampakkan batang hidung untuk mampir di perpustakaan atau sekedar berdialog kecil-kecilan tentang musik, infotainment, buku, atau apapun yang kebetulan menyelinap di kepala.

Hari senin lalu, saya sedang duduk-duduk di bangku Mahkamah bersama Chandra ketika Arif Foranto (junior kami, angkatan 2010) yang baru saja pulang dari Hong Kong untuk mengikuti perlombaan peradilan semu internasional mewujudkan dirinya. Sambil menunggu kelas, mereka berdua menemani saya yang sedang rehat dari kerjaan part-time di Kantor Urusan Internasional UGM dengan bercerita ngalor-ngidul tentang apa saja. Saat itulah saya tiba-tiba kepikiran untuk sharing terkait masalah budaya kepada kedua kolega saya ini. Ada begitu banyak hal yang saya dengar, saya baca, dan saya lihat; sayang sekali jika hal-hal berupa fakta menarik mengenai Nusantara itu hanya mengendap di dalam kepala saya tanpa dapat saya bagi dengan teman-teman lainnya.  

So, kisah pun dimulai dengan cerita saya kepada Chandra dan Arif tentang Suku Toraja di Sulawesi Selatan. Kebudayaan suku tua (Proto-Melayu) yang unik ini dapat kita telusuri dari Tongkonan (rumah adat Toraja yang atapnya berbentuk seperti perahu), passuraq alias ukiran-ukiran di dinding Tongkonan yang ternyata merupakan tulisan ala hieroglif khas nusantara, serta tradisi "membangunkan mayat" yang mengundang decak-kagum Arif. Nah, dari cerita-cerita tersebut, Arif sempat kepikiran untuk membuat semacam film petualangan fantasi yang mengambil adegan-adegan dari tradisi Suku Toraja yang mistis itu. Pembicaraan jadi semakin asyik dan mengalir, apalagi saat kami membahas keterkaitan budaya yang ada di Nusantara antara satu dengan yang lainnya.

Sayangnya pembicaraan hari itu berakhir karena Arif dan Chandra harus masuk ke kelas jam 11.00. Secara tidak tertulis kami bertiga sepakat untuk berkumpul lagi di bangku Mahkamah di dekat kantin itu esok hari pukul 10.00 untuk melanjutkan diskusi soal budaya. Dengan penuh semangat, saya menyebut diskusi kecil kami bertiga itu dengan nama "Kelas Serbaserbi Nusantara."

Esok harinya, selasa, jam 10.00 pagi Arif dan Chandra sudah duduk manis di bangku Mahkamah, bahkan sebelum saya datang. Kali ini saya membawa "hadiah" untuk saudari Chandra yang sedang getol-getolnya belajar aksara Lontaraq: buku bertajuk "Worong Mporong, Lipu KupotanraE Arajang Bone". Buku ini sebenarnya adalah pinjaman dari kakanda Fery Afrisal yang sudah mengendap dua tahun di tangan saya hehe. Buku tersebut berisi banyak sekali pappasang (nasihat) dan pau-pau (cerita) dari Tanah Bone. Buku tersebut cocok untuk Chandra yang baru mengenal huruf-huruf Lontaraq, karena di setiap halaman ada tulisan lontaraq beserta Bahasa Bugisnya (dan juga arti dalam Bahasa Indonesianya).

Chandra yang sebenarnya sedang fokus belajar Bahasa Korea dan huruf-huruf Hanggeul berhasil saya buat terkagum-kagum oleh La Galigo. Setelah mendengar riwayat kondisi epos terpanjang di dunia ini sekarang, Ia jadi "gatal" ingin menekuni Lontaraq dengan harapan suatu saat nanti bisa membantu proses penerjemahan naskah La Galigo di Leiden. Arif pun demikian. Diskusi hari kedua mengenai "Sosok-Sosok Misterius" di Nusantara mulai dari Kanjeng Ratu Kidul, Supriyadi, dan bahkan para Tomanurung membuatnya yang tergila-gila dengan game dan film-film Barat merasa bahwa Indonesian culture is awesome!  Kemarin si Arif bahkan nyeletuk kalau La Galigo is the Indonesian Lord of The Rings. Selain sosok-sosok misterius yang ada di Nusantara, hari kedua ini kami juga saling berdiskusi mengenai makhluk-makhluk gaib yang hidup dalam imajinasi masyarakat Barat. Percaya nggak teman-teman kalau sebenarnya imajinasi mereka tentang burung api phoenix, manusia kate alias hobbit, kuda bertanduk satu unicorn, serta naga sebenarnya berasal dari bayangan mereka akan fauna-fauna khas Nusantara? Yep, informasi mengenai hewan gaib yang hidup di Timur, di sekitar Kepulauan Rempah-Rempah yang samar-samar mereka dapat informasinya dari para pedagang Cina inilah yang menurut Blair bersaudara di dalam buku "The Ring of Fire" memperkaya imajinasi bangsa Barat!

Aksara Lontaraq by Chandra -->

Hari rabu, seperti biasa kami berkumpul di bangku Mahkamah jam 10.00 pagi. Kali ini kami kedatangan "siswi" baru yaitu Nadia Tedianto, junior 2012 yang juga merupakan teman satu kosan Chandra. Ternyata semalam Chandra berhasil membuat Nadia penasaran dengan diskusi kami tentang betapa menakjubkannya Nusantara. Di sela-sela kuliah ia rela meluangkan waktu untuk ikutan kelas Serbaserbi Nusantara. Tidak hanya Nadia, kami juga kedatangan "siswa" baru lainnya yaitu Jacko. Jacko yang sepemahaman saya begitu cintanya sama budaya Jepang ternyata bisa juga kami buat tertarik dengan budaya Nusantara. Supaakawaii!
Tema diskusi di hari ketiga adalah "Aksara Nusantara". Saya share sedikit kepada mereka materi-materi yang pernah dibawakan oleh teteh Sinta Ridwan di Heritage Camp kemarin. Pengalaman teh Sinta keliling Nusantara untuk ngumpulin data mengenai naskah kuno, pengalamannya berhadapan dengan pustaha Batak berisi racun, hingga gempa bumi yang mendadak melanda Jakarta setelah pembacaan sebuah naskah kuno berhasil mengundang decak kagum peserta Kelas Serbaserbi Nusantara. Pengetahuan dari ibunda Nurhayati Rahman mengenai "kekerabatan" aksara-aksara tradisional di Indonesia pun saya paparkan secara singkat kepada teman-teman. Bentuk aksara Sunda Kuno yang mirip dengan aksara Lontaraq (bahkan dari susunan abjadnya, 'ka-ga-nga') sekali lagi membuat teman-teman tercengang. Dari 750 lebih suku bangsa di Indonesia hanya 12 saja yang memiliki aksara sebagai alat rekam sejarah sekaligus transfer ilmu. Kekayaan budaya seperti ini seharusnya menjadi kebanggaan dan dilestarikan, eh malah oleh pemerintah, pendidikan Bahasa Daerah justru akan dihilangkan! Nyebelin nggak tuh?

Aksara Sunda Kuno

Hari ini, hari keempat Kelas Serbaserbi Nusantara. Jam 10.00 di bangku Mahkamah saya dan Arif menunggu Chandra. Tapi ternyata Ia datang terlambat karena mesti meminta tanda tangan ke dosen pembimbing skripsi. Akhirnya kami pun mulai tanpa Chandra karena Nadia yang terburu-buru hendak masuk kelas pun juga sudah datang. Tema hari ini adalah "Arsitektur Nusantara". Kebetulan saya baru saja membeli buku berjudul "The Living House An Anthropology Study of Architecture in Southeast Asia", sebuah buku karangan Roxana Waterson yang berisi gambar-gambar menakjubkan serta informasi bermanfaat tentang keragaman tradisi arsitektur lokal di Indonesia. Waduh, kok bisa ya di abad 20 pun masih saja sarjana Barat yang kepikiran mengumpulkan data dan membuat penemuan menarik mengenai budaya Nusantara?

Hari ini kami membahas fakta-fakta menakjubkan tentang betapa majunya pemikiran nenek moyang kita dulu sehingga membuat rumah yang eco-friendly dari kayu. Bentuk rumah adat suku-suku di Indonesia kebanyakan berupa rumah panggung, inipun karena kejeniusan nenek moyang kita dulu dalam membaca alam sekaligus memahami pemanfaatan ruang. Kami menemukan banyak hal menarik, seperti: bahwa dulu sebelum berbentuk joglo rumah adat di Pulau Jawa pun juga berbentuk seperti rumah panggung berdasarkan sebuah relief di Candi Borobudur; bahwa dulunya simbol "tanduk kerbau" memiliki makna penting pada rumah-rumah tradisional bangsa Austronesia bahkan hingga ke Thailand dan Kamboja; serta bagaimana ragam hias sulur tanaman mendominasi ornamen-ornamen rumah-rumah kayu tersebut. Hari ini begitu menyenangkan karena teman-teman dari Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa Mahkamah pun ikutan nimbrung di Kelas Eksotisme Nusantara. Di akhir kelas, kami sempat membahas singkat tentang danau purba di sekeliling Borobudur berdasarkan temuan terbaru para ahli serta pseudo-pelayaran Marcopolo ke Sumatera.

Saya bangga sekali dengan teman-teman saya ini. Meskipun kami semua berasal dari latar belakang etnis yang berbeda-beda tetapi kami sama-sama merasa terikat sebagai generasi pelestari budaya bangsa. Menjamurnya trend mempelajari budaya serta bahasa asing tidak selantasnya kemudian membuat kami melupakan khazanah peradaban nenek moyang sendiri, bukan? Justru dengan menjadi anak muda yang berwawasan internasional namun memiliki akar budaya yang kuat, kita mampu menghadapi kejamnya pertarungan di ajang globalisasi.

Siapa bilang Indonesia nggak keren? Yuk ikutan kelas Serbaserbi Nusantara kami dan buktikan sendiri ;)

Chandra says: "Dad aku gak tau lagi deh kayaknya bakal jadi pemerhati budaya bgt. Krn after I heard lots bout it makin keranjingan!"

Arif says: "Can't hardly wait for another awesome tales!"

28 Maret 2013
Yogyakarta

Monday, April 1, 2013

Belajar dari Sinta Ridwan...


Sosok Sinta Ridwan pertama kali saya kenal dari tayangan Kick Andy Heroes di Metro TV.
Saat itu Ia ditampilkan sebagai seorang gadis muda yang menderita sebuah penyakit langka; Lupus. Akan tetapi, Sinta tidak mendapat anugerah dari Kick Andy karena penyakitnya itu.
Sinta adalah seorang filolog muda yang berjuang melawan kondisi yang lemah untuk mewujudkan cita-citanya melestarikan aksara kuno di Nusantara. Keteguhannya berkeliling ke berbagai tempat untuk berburu naskah kuno, menyalinnya, serta mengumpulkan data-data untuk menciptakan sebuah museum online naskah kuno pertama di Indonesia-lah yang menyebabkan Kick Andy menganugerahinya award. Sebuah cita-cita yang mulia diiringi tekad yang kuat walau terhalang keterbatasan berhasil membuat seorang Sinta Ridwan mencuri perhatian saya. Ia adalah segelintir dari mereka yang menjadi inspirasi saya dalam hidup ini.

Tahun lalu, saat Heritage Camp dirancang untuk pertama kalinya, saya langsung mengusulkan nama Sinta Ridwan sebagai pembicara di sesi "Manuscript and Documentations". Bagi saya, seorang Sinta Ridwan adalah pengejawentahan dari makna "konservasi kreatif" yang kami gadang-gadangkan selama ini. Tidak ada yang bisa menghalanginya untuk berkelana hingga ke Sumatera, berbagai pelosok Jawa dan kawasan Indonesia Timur untuk mengamati naskah-naskah tersebut. Jiwa muda terus membara sebagai energi yang mengisi tubuhnya yang ringkih.

Saat Heritage Camp berlangsung, Ia bercerita betapa unik dan kayanya tradisi tulis-menulis di nusantara ini. Pengalamannya menghirup racun yang tersimpan dalam gulungan pustaha Batak selama ratusan tahun hingga mendengar pembacaan mantra gempa bumi yang sedetik kemudian disusul oleh gempa Jakarta (kebetulan?) berhasil membuat kami yang mendengarnya merasa takjub. Masih banyak lagi pengalaman seru Sinta sepanjang bergulat dengan naskah kuno; ntah itu yang berhubungan dengan hal-hal magis, penemuan-penemuan mutakhir yang tersembunyi di balik selimut ketradisionalan leluhur, maupun keindahan-keindahan bahasa kuno yang menyusun penciptaan naskah-naskah tersebut. Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari sebuah naskah kuno, ujar Sinta. Tidak hanya isinya (yang dapat berupa sejarah, silsilah, hikayat, mantra, nyanyian, nasehat, dll) tapi juga dari bentuk huruf, alat dan media tulis, serta latar belakang sosial yang mendorong penulisan naskah tersebut.
Pokoknya, leluhur nusantara ini keren banget lah, tegas gadis kurus dengan senyum manis ini.

Sinta padahal awalnya belajar Sastra Inggris di UNPAD untuk pendidikan S1-nya. Berawal dari keisengan mengambil kelas filologi di semester akhirnya, Sinta ditantang oleh sang dosen untuk menguasai aksara tradisional Nusantara (saya lupa persis apakah Ia ditantang untuk menguasai tiga jenis aksara nusantara atau hanya satu saja). Tantangan ini memicu adrenalin Sinta untuk terus menggali dan mempelajari lebih dalam tentang tulisan Sunda Kuno, area yang menjadi spesifikasinya. Keisengan tersebut ternyata berubah menjadi lebih dari sekedar ingin tahu. Begitu lulus, Sinta langsung meneruskan pendidikan S2-nya dengan fokus naskah kuno. Kini Ia tengah merampungkan studi S3-nya -masih di bidnag yang sama-. Bahasan tesisnya di S3 ialah sebuah upaya untuk membalik teori akademiawan Barat selama ini: aksara tradisional Nusantara sejatinya tidak sekedar diadopsi dari aksara Pallawa India saja, melainkan aksara tersebut benar-benar asli dari Nusantara, yang kemudian mendapat pengaruh asing. Berani menantang teori yang sudah mapan dan diciptakan oleh para sejarawan senior membuat saya tercengang sekaligus semakin mengagumi sosok Sinta Ridwan.


Terima kasih telah bersedia berbagi, Sinta Ridwan. Dirimu memang tak kering oleh harapan.