Showing posts with label dongeng. Show all posts
Showing posts with label dongeng. Show all posts

Sunday, August 7, 2016

Buku Dongeng Freud

Berkunjung ke Vienna sepertinya tidak lengkap jika belum mampir ke Berggasse 19, rumah yang dulunya juga merupakan kantor tempat Sigmund Freud pernah membuka praktek psiko-analisisnya. Lokasi rumah ini tidak begitu jauh dari Universitas Vienna dan Rathaus, dengan kata lain berada tepat di pusat ibukota Austria. Rumah yang dulunya menjadi saksi dimana seorang pria keturunan Yahudi dari keluarga kelas menengah merawat dan menetaskan teori-teori yang kelak menjadi pokok-pokok dasar ilmu psikologi ini sekarang telah berubah menjadi sebuah museum dengan kapasitas kunjung yang cukup terbatas. Di suatu musim panas, saya berziarah ke rumah Freud dan menemukan obsesi terpendamnya mereproduksi dongeng-dongeng dari masa lalu demi membongkar teka-teki mengenai alam pikiran manusia.

Rumah sekaligus kantor Freud di Vienna

Di dinding ruang praktek Freud yang kecil terdapat banyak sekali lukisan. Sebagian di antaranya yang saya ingat adalah gambar-gambar hieroglif dan patung-patung Mesir, adegan-adegan dalam mitologi Yunani serta lukisan-lukisan yang berhubungan dengan cerita-cerita dari peradaban Cina kuno. Lukisan-lukisan yang beraneka ragam ini mempunyai tema yang sama: mitologi dari masa lalu. Freud menghiasi dinding ruang kerjanya dengan dongeng-dongeng paling awal mengenai penciptaan manusia dan bagaimana dunia bisa berjalan tanpa melalui bantuan penjelasan oleh sains. Well, dongeng mungkin adalah sains itu sendiri: di masa ketika matahari masih ditarik oleh tujuh ekor kuda putih dan Anubis menimbang jantung manusia di alam akhirat tidak ada penjelasan lain yang lebih bisa diterima oleh akal untuk menjabarkan mengapa matahari bergerak dari timur ke barat dan kemana perginya manusia yang telah tiada.

Sebelumnya saya tidak pernah tahu mengenai sisi lain dari Freud yang ternyata dipenuhi oleh hasrat keingintahuan akan okultisme yang cukup mendalam ini. Artefak-artefak kuno dari Mesir, Yunani dan Mesopotamia kuno yang terpajang di dalam rak kaca di ruang kerjanya sudah cukup untuk meyakinkan saya akan minatnya yang besar terhadap sejarah, agama dan misteri masa lalu. Di salah satu penjelasan di dalam museum itu disebutkan bahwa Freud juga menggunakan mitologi Mesir kuno untuk menjelaskan asal mula bangsa dan agama Yahudi. Melalui esainya yang berjudul Moses and Monotheism, Freud menggunakan pisau bedahnya sendiri untuk membongkar asal-usul Yudaisme dengan beberapa poin yang cukup kontroversial seperti mengatakan bahwa Musa sesungguhnya bukanlah orang Yahudi dan ia mati dibunuh oleh orang-orang Yahudi pengikutnya pada sebuah pemberontakan. Kelak orang-orang Yahudi tersebut menyesal dan kemudian mengharapkan Musa untuk dapat hidup kembali dan memimpin mereka menuju kejayaan. Itulah, menurut Freud di esai tersebut, mula terciptanya mitos mesiah alias Juru Selamat dalam tradisi Yahudi yang kemudian diwarisi oleh kekristenan.

Koleksi artefak-artefak kuno Freud

Ruang kerja Freud
Salah satu teori Freud yang terkenal mengenai tendensi seksual anak laki-laki terhadap ibunya juga meminjam istilah dari mitologi kuno. Oedipus complex hingga hari ini telah menjadi sebuah terma ilmiah yang dikukuhkan oleh Freud di kamus-kamus istilah modern. Oedipus ia ambil dari nama seorang tokoh laki-laki yang membunuh ayah dan kemudian menikahi ibu kandungnya sendiri dalam dongeng Yunani kuno. Freud dan eksperimennya akan dunia mimpi dan alam bahwa sadar manusia juga banyak dipengaruhi oleh elemen-elemen kisah dari dunia okultisme. Di esainya yang berjudul "Dreams and Occultism" Freud mengatakan bahwa secara umum interpretasi terhadap mimpi dan psiko-analisis dapat membantu untuk memahami okultisme yang selama ini dijauhi oleh sains karena dianggap sebagai omong-kosong semata. Freud membahasakan ulang tidak hanya pandangan namun juga nilai-nilai yang dikandung di dalam dongeng-dongeng tersebut dalam lingkaran akademisi dengan bentuk yang dapat diterima oleh sekumpulan profesor universitas.

Era ketika Freud hidup disebut oleh mereka yang lahir kemudian dengan nama the Age of Reason. Alasannya mengapa, sudah pernah saya jelaskan panjang dan lebar di tulisan mengenai Alice Through the Looking Glass: Perempuan dan Dunia di the Age of Reason. Okultisme yang tumbuh subur di Eropa kala itu merupakan produk dari maraknya keinginan manusia untuk mendapatkan jawaban atas perkara-perkara spiritual yang sebelumnya tak dapat dijelaskan oleh agama. Pasca Perang Dunia I, timbul gairah untuk mempelajari cara berkomunikasi dengan jiwa yang telah mati dari keluarga korban perang. Kematian yang tiba-tiba secara massal tersebut membuat banyak orang tidak dapat menerima kenyataan sehingga terus-menerus mencari cara untuk dapat berhubungan dengan orang yang mereka cintai. Mediumisasi dan berbagai metode yang berhubungan dengan ilmu gaib banyak bermunculan, membentuk semacam pseudo-science yang bersumber dari kepercayaan non-biblikal masyarat Eropa kuno maupun dari tradisi-tradisi timur yang mereka dengar dan kemudian adopsi dari koloni-koloni mereka. Freud hidup di era saat dongeng-dongeng lama sebelum kedatangan Tuhan versi Perjanjian Lama dan Baru kembali dihidupkan. Dongeng memiliki peranan penting dalam imajinasi Freud untuk membentuk teori-teorinya. 

Pada akhirnya, untuk menutup kisah mengenai fantasi Freud dan dongeng-dongeng kuno, saya membayangkan Freud seperti seorang kakek-kakek berjanggut putih yang menaiki tram di kota Vienna pada sebuah senja sambil memeluk tas hitam berisi sekumpulan hartanya yang paling berharga: buku-buku dongeng. Bagi kakek-kakek paruh baya itu tiada yang lebih berharga bagi ide-idenya selain kisah-kisah berbumbu keajaiban yang terjadi di masa lalu dan dinarasikan ulang sebagai sebuah oasis inspirasi. Mirip seperti saya saat duduk di bangku kelas enam SD di Bali. Saat itu tas saya juga dipenuhi oleh buku-buku cerita rakyat Nusantara dan seri mitologi Yunani kuno terbitan Gramedia Pustaka Utama. Di sepanjang perjalanan mobil pulang dari sekolah menuju ke rumah, kepala saya saat itu dipenuhi oleh khayalan tentang kekuatan superhuman dan dimensi-dimensi yang mungkin, suatu hari nanti, bisa ditembus oleh manusia dengan kekuatan pikiran dan teknologi. Freud, dinutrisikan oleh dongeng-dongeng lama, juga memiliki jiwa kanak-kanak yang sama. Ia tidak pernah benar-benar melupakan dan meninggalkan dunia imajinasi yang kaya saat beranjak dewasa, ia justru menginvensi dongeng-dongeng baru berlabel sains dari dongeng-dongeng lama tentang perjalanan umat manusia.

The Hague,
8 Agustus 2016

Saturday, November 21, 2015

Roro Kidul dan Snow Queen: Peyorasi Matriarkal dalam Narasi Rakyat

Ada dua tokoh alpha female dalam dunia dongeng Nusantara dan Eropa yang ditampilkan sedemikian rupa sehingga memicu terperciknya narasi rakyat yang cukup menyeramkan tentang mereka.

Kedua sosok ini memiliki karakteristik yang kurang lebih sama: mereka digambarkan sebagai tokoh perempuan yang memiliki kuasa atas sebuah takhta; kuat dan mandiri; terasosiasi pada elemen alam tertentu (dalam konteks cerita saya ini ialah laut dan salju); memiliki abdi-abdi malang yang bekerja di bawah kontrol mereka; serta yang paling penting mereka berhati dingin. Perempuan-perempuan ini dalam bayangan saya sejatinya merupakan olah citra dari imaji primordial manusia yang hidup di bawah kepimpinan matriarkal, namun pada saat yang sama juga menyimbolkan ketakutan kaum patriarki atas bangkitnya perempuan dari dominasi mereka. Mereka disegani tapi juga dibenci.

Kemunculan kedua sosok ini direkam pertama kali di abad ke-18 untuk cerita rakyat yang berasal dari Indonesia dan abad ke-19 untuk dongeng yang berasal dari Eropaa. Di kurun-kurun waktu tersebut, Nusantara mulai "dimasukkan" ke dalam hegemoni kolonialisme dan imperialisme Eropa. Saat itu sebenarnya merupakan abad yang cukup abu-abu alias tidak hitam dan putih: Eropa asing tidak selamanya dipandang sebagai musuh yang harus dibasmi namun terkadang berperan sebagai sekutu aktif yang bantuannya amat diperlukan untuk melanggengkan kuasa seorang penguasa pribumi, serta sebaliknya sesama penguasa pribumi pun terlibat intrik-intrik kekuasaan dimana rezim baru muncul dari rezim lama yang dianggap sudah karatan untuk dapat memimpin. Agama menghiasi ranah politik dimana ulama-ulama pribumi hasil latih-didik ulama generasi impor memberikan restu kepada pangeran-pangeran muda untuk berperang atau memberontak.

Di Eropa, abad ke-19 adalah abad yang cukup menyenangkan. Eksplorasi negara-negara Eropa barat ke Asia, Afrika dan Amerika membuat segala macam kekayaan dunia mengalir ke kanal-kanal dan rumah-rumah mereka. Sains berkembang pesat, ini juga terima kasih kepada dunia Timur yang membukakan jalan mereka ke Taman Firdaus berupa spesimen-spesimen binatang unik, tanaman-tanaman obat, serta agama dan budaya timur yang eksotis. Masuknya Timur ke Barat menstimulus pula lahirnya "permainan" baru semacam pemanggilan arwah (ghost conjuring) serta meningkatnya okultisme. Victorian Age, demikian mereka menyebutnya, saat dimana teknologi berkembang pesat melalui penemuan mesin uap dan Revolusi Industri di Inggris ditambah dengan kebangkitan kembali arsitektur Gothik. Namun di saat yang sama kemiskinan meningkat tajam serta anak kecil dan perempuan diperlakukan jauh lebih buruk daripada sebelumnya. Karya agung Charles Dickens 'Oliver Twist' lahir untuk mengkritisi fenomena ini. Dari latar belakang kedua abad itulah kedua tokoh kita ini lahir.

Sosok pertama yang kita bahas adalah Roro Kidul. Ada beberapa versi mengenai asal mula tokoh ini. Adapula sebagian orang yang memisahkan karakter yang bernama Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul sebagai dua persona yang berbeda. Yang disebut pertama ialah ratunya sedangkan yang disebut kedua ialah jin yang menjadi patihnya. Saya tidak akan membahas itu di sini karena fokus dari tulisan ini adalah narasi rakyat yang berkembang terhadap tokoh perempuan gaib dari laut selatan Jawa. Oke, sebutlah dia Roro Kidul. Roro Kidul yang dikenal oleh narasi rakyat hari ini adalah sesosok perempuan dengan untaian benang melati di rambutnya serta digambarkan amat seduktif terhadap kaum pria (terima kasih kepada almarhumah Suzanna untuk citra ini). Ia gemar memakai pakaian berwarna hijau sehingga konon apabila ada seseorang yang mengenakan warna kesukaannya itu di Pantai Parangtritis maka ia akan terseret ombak dan "diambil" oleh sang penguasa kraton bawah laut untuk menjadi abdinya. Imaji terakhir tentang sosok Roro Kidul ialah ia sering dihubungkan dengan mistisme seks dan kekuasaan: raja-raja Mataram haruslah menjadi suaminya secara turun-temurun dan sebuah kamar di Hotel Samudera Beach 308 disediakan bagi mereka yang ingin memperoleh akses kejayaan dan kekayaan secara instan alias melalui pesugihan.

Yang tak kalah menarik ialah sosok kedua yang kita bahas hari ini: Snow Queen. Tolong jangan samakan dia dengan Putri Salju alias Snow White yang gemar bernyanyi serta mati karena gigitan apel yang mematikan itu. Snow Queen adalah segala karakter yang menjadi kutub berlawanan Snow White: ia bukan gadis remaja melainkan wanita dewasa; ia tidak lemah melainkan amat sangat berkuasa; ia tak menggantungkan diri terhadap bantuan para kurcaci mungil melainkan memegang pecut di tangannya untuk mengendalikan rusa-rusa terbangnya; ia tidak hidup di dalam pengasingan melainkan tinggal di sebuah istana salju yang berdiri di atas sebuah danau yang disihir hingga membeku; ia tidak membutuhkan bantuan dari seorang pangeran untuk melepaskan kutukannya karena justru ia yang memberikan kutukan kepada orang. Imaji Snow Queen sebagai perempuan jahat yang ditakuti oleh umat manusia diadopsi ulang oleh C.S. Lewis dalam Seri Narnia-nya melalui tokoh antagonis pertama: Jadis The White Witch.
Snow Queen ditakuti oleh orang-orang di belahan dunia utara karena ia datang bersama badai salju yang meresahkan. Badai salju itu bisa mengamuk selama berhari-hari, membuat tanaman dan ternak mati serta membuat manusia tak dapat keluar rumah untuk beraktifitas. Ia juga musuh anak-anak kecil: sebagaimana diceritakan oleh Hans Christian Andersen di dalam dongengnya, Snow Queen menculik anak kecil (laki-laki) yang bermain di luar rumah saat salju mengamuk di malam hari.

Roro Kidul lahir saat Panembahan Senopati membutuhkan dukungan untuk mencipta sebuah dinasti baru di tanah Jawa. Ia yang hanya keturunan petani biasa haruslah menerima "wahyu" sebagaimana lazimnya tokoh-tokoh pendiri kerajaan lain yang ada sebelumnya. Senopati telah mendapatkan lampu hijau dari para ulama, dengan demikian ia membutuhkan restu dari "kekuatan ghaib" yang menguasai tanah Jawa untuk melanggengkan jalannya. Maka kekuatan ghaib itu muncul dalam sosok seorang perempuan berbaju hijau yang istananya berada di dasar samudera. Hubungan Senopati dengan perempuan ini cukup istimewa: ia digambarkan berhasil membuat perempuan ini mengakui kesaktiannya karena tapanya mampu membuat laut bergejolak kepanasan. Roro Kidul kemudian menjadikan Senopati sebagai "suaminya" dan sejak saat itu berjanji pula akan menjadi patron kerajaan Mataram serta menjadi istri bagi raja-raja keturunan Senopati berikutnya (entah makna "istri" di sini hanya bersifat simbolis atau melalui persetubuhan fisik betulan, again i won't go that far). Di sinilah sentra ceritanya. Roro Kidul berstatus sebagai istri. Roh feminin dahsyat yang menguasai seluruh lelembut di pulau terpadat di dunia ini takluk membasuh kaki Senopati (dalam pernikahan adat Jawa seorang perempuan harus membasuh kaki calon suaminya). Roro Kidul tak lagi dilihat sebagai sebuah kuasa matriarki tersendiri, hari ini hingga selamanya ia adalah milik raja-raja Mataram. Roro Kidul terikat dalam sebuah kontrak dimana tiap tahun ia diingatkan untuk terus menjaganya: upacara larung oleh kraton Jogja dan Solo di Pantai Parangkusumo untuk memperbaharui sumpah setianya pada Senopati.

Bagaimana halnya dengan Snow Queen? Posisinya tidak jauh lebih baik. Setidaknya ia tidak harus tunduk kepada patriarki melalui institusi bernama persuami-istrian. Snow Queen tetap single di akhir cerita, tidak ada Snow King yang duduk bersama dengannya di atas takhta. Akan tetapi Perempuan-perempuan mandiri seperti inilah yang kemudian jadi sasaran empuk golongan patriarki Eropa abad itu: mereka disifati dengan hal-hal yang jahat serta (somehow) menjadi musuh agama. Berbeda dengan kaum biarawati yang menyerahkan diri untuk tidak menikah di bawah otoritas agama, Snow Queen adalah roh jahat yang menghantui setiap lorong desa dan meresahkan warga karena kekuatannya mampu merusak tatanan. Saljunya dapat membekukan ladang serta membunuh binatang ternak. Di beberapa adegan dalam cerita Snow Queen, ayat-ayat Alkitab dinyanyikan untuk mengusir atau mengalahkan saljunya. Entah mengapa saat membaca itu saya merasa Snow Queen semakin mirip dengan figur Eve dalam kisah Kejadian yang dipersalahkan karena membujuk Adam memakan Buah Pengetahuan. Ia seduktif, ia menculik anak-anak yang keluar malam saat badai salju, mencium mereka dua kali agar lupa dengan masa lalu, kemudian menawan mereka di istananya yang berdiri di atas danau beku bernama Mirror of Understanding. Ada yang salah di sini: ia dibenci karena ia memiliki dua hal yang seharusnya tidak dimiliki oleh perempuan di masa itu yaitu kekuasaan dan pengetahuan (mirror of understanding).

Kedua dongeng di atas sangat menarik untuk dikaji lebih dalam lagi. Roro Kidul ataupun Snow Queen boleh jadi bagi segelintir orang adalah pahlawan, namun mereka yang mempercayai itu hanya akan dianggap menyimpang dari narasi utama: mengapa mengidolakan Roro Kidul dan Snow Queen yang jahat, bukankah mereka meminta tumbal anak lelaki? Matriarki mengalami perendahan makna (peyorasi) dalam dunia dongeng, sebab tak sewajarnya seoramg perempuan hidup dengan karakter seperti itu.

Jangan lupa, mereka adalah produk pada zamannya. Zaman dimana perempuan tidak boleh jadi lebih pintar atau berkuasa di atas lelaki. Dongeng ini anehnya terus hidup di masyarakat modern bersama dongeng-dongeng patriarki lainnya. Padahal, dongeng adalah alat yang paling bagus untuk memulai proses doktrinasi semenjak dini. Anak-anak kecil yang kita buat takjub mendengarnya secara tidak langsung telah ditanamkan ide-ide mengenai patriarki ini. Bagi dongeng patriarki perempuan tak boleh jadi lebih kuat karena mereka itu lemah dan harus diselamatkan dari naga jahat. Haruskah 100 tahun lagi misalnya, dongeng akan selalu jadi seperti itu?

Ini jadi tugas kita bersama kemudian hari ini: mencipta dongeng-dongeng baru dengan nilai-nilai yang sesuai dengan zamannya.

Leiden, 21 November 2015
1.20 PM

PS: Untuk tulisan saya yang senada lainnya, silakan tilik Maleficent dan Salawati Daud: The Hidden Triumph of Matriarchy?

Friday, July 4, 2014

Maleficent dan Salawati Daud: The Hidden Triumph of Matriarchy?



Alkisah, cerita asli Sleeping Beauty tidak seperti yang didongengkan kepada kita selama ini.  Putri Aurora yang malang dan dikutuk untuk mengalami tidur  panjang bagaikan maut itu sebenarnya ialah korban atas kesalahan masa lalu sang ayah. Maleficent, seorang peri hutan yang tadinya baik hati berubah menjadi jahat demi melampiaskan kekesalannya atas pengkhianatan cinta yang dilakukan oleh sang raja. Akan tetapi di akhir cerita, Maleficent yang terus mengamati Aurora tumbuh berkembang menjadi seorang gadis yang penuh cinta justru memutuskan untuk menarik kembali kutukannya. Tidak hanya itu, ia juga menyelamatkan Aurora dari kejahatan ayahnya sendiri.
 
Demikianlah kira-kira rangkuman atas film “Maleficent” yang dirilis oleh Disney beberapa minggu lalu. Angelina Jolie yang memerankan Maleficent di film ini berhasil membawakan karakter peri hutan yang amat berkuasa namun rapuh dari segi perasaan. Maleficent ditipu oleh seorang pemuda desa yang berambisi untuk menjadi raja. Sayap Maleficent yang indah menjadi korban atas niat jahat lelaki yang ia cintai itu. Sayap Maleficent ini di mata saya sejatinya merupakan simbolisasi dari trofi atau piala kemenangan sebagai bukti kejantanan laki-laki dalam menaklukkan energi alam yang dianggap liar dan tak beradab. Bukan cerita baru, wanita dijajah pria itu sudah hadir di tengah-tengah dunia sejak dulu kala. 
Sentra utama dongeng yang ditampilkan dalam wajah baru ini sebenarnya ada pada sisi si karakter utama: Maleficent. Maleficent, tidak seperti yang diyakini oleh banyak orang selama ini, tidak berniat untuk mencelakai Aurora hanya karena dirinya tidak diundang ke jamuan makan pembaptisan sang putri. Maleficent di sini merupakan simbolisasi dari perempuan yang terluka, dipaksa untuk tunduk pada dunia patriarki yang tidak mengharapkan figur perempuan untuk tampil di tatanan sosial masyarakat. Perempuan harus didomestikasi, dalam film ini disimbolkan melalui “pengebirian” sayap indah Maleficent.
Angelina Jolie sebagai Maleficent
Ada kisah menarik tentang sosok perempuan yang “dikebiri” sayapnya oleh Orde Baru dan diantagoniskan, persis seperti Maleficent ini. Namanya Salawati Daud. Jika anda tanya siapa dia hari ini, hampir seluruh suara akan langsung mengarah kepada satu kata “PKI!” atau “Gerwani!”. Ya, Salawati Daud memang merupakan seorang aktifis PKI di era 50-an. Ia bahkan turut serta dalam embrio yang kelak akan melahirkan perkumpulan Gerwani bersama Umi Sardjono. Pasca peristiwa G.30/S meletus, Salawati Daud yang saat itu menjadi anggota DPR digelandang oleh tentara keluar gedung parlemen untuk kemudian dijebloskan ke Penjara Bukit Duri. Sejak saat itu nama Salawati Daud bagaikan sebuah nista. Ia dihapus dari dokumen-dokumen sejarah dan dilupakan perannya sebagai tokoh awal pemberdayaan wanita di republik ini.

Salawati Daud ialah seorang perempuan Bugis dari Sulawesi Selatan. Kebudayaan Bugisnya mengajarkan Salawati untuk menjadi seorang perempuan yang tangguh, mitra setara lelaki yang sepadan, bukan sekedar pelengkap hidup semata. Sudah mengalir di dalam kultur Sulawesi Selatannya bahwa perempuan seperti halnya laki-laki bebas untuk mengekspresikan opini di hadapan publik. Sejak tahun 1930 ia aktif menentang kekuasaan kolonial Belanda di tanah air. Ia yang juga anggota Perserikatan Celebes bersama dengan Nadjamoeddin Daeng Malewa, Lindoe Marsajit, Th. Lengkong dan Nyonya Lumenta mendirikan Perhimpunan Perguruan Rakyat Selebes (PPRS) dengan tujuan memajukan pendidikan bagi masyarakat pribumi. Tercatat, Salawati juga merupakan seorang pionir perlawanan perempuan di bidang pers, ia mendirikan majalah Wanita pada tahun 1945 serta menjadi direksi majalah Bersatu yang saat itu adalah bacaan laris. 

Mental baja Salawati yang senantiasa menuntut keadilan bergejolak ketika pasukan NICA memasuki tanah air pasca kemerdekaan. Ia mengobarkan semangat gerilya dengan berkeliling daerah di Sulawesi Selatan serta memimpin sendiri perlawanan ke sebuah tangsi polisi di Masamba (saat ini ibukota Kabupaten Luwu Utara). Salah satu prestasi terbesar Salawati ialah saat ia ditunjuk sebagai Walikota pertama kota Makassar di tahun 1949. Dengan demikian, Salawati merupakan walikota perempuan pertama di Indonesia. Salawati Daud juga seorang tokoh mediator yang berusaha meredam ambisi Kahar Muzakkar saat hendak menggulingkan pemerintah Indonesia dengan gerakan DI/TII-nya. Suaminya yang seorang pejabat pemerintah di Maros amatlah mendukung aktifitas-aktifitas sang istri.

Pada tahun 1955, ia melanjutkan perjuangannya menyuarakan hak-hak sipil wanita ke Senayan dengan menjadi anggota DPR. Sayangnya, berbeda dengan Opu Daeng Risaju, Andi Depu dan Emmy Saelan yang menerima penghargaan dari rakyat Sulawesi Selatan sebagai pejuang-pejuang wanita, nama Salawati Daud tenggelam dalam dongeng-dongeng yang dihembuskan oleh pemerintah akan kejahatan ideologi komunisme di masa Orde Lama. Persis seperti Maleficent. Kita hanya mengenangnya dari logo Palu dan Arit yang dicitrakan jahat seperti iblis. Ia dikebiri oleh dunia lelaki Orde Baru, tidak hanya didomestikasi namun juga didemonisasi.
Satu hal lagi pelajaran moral yang saya dapat dari film Maleficent adalah: kebenaran, sebagaimana pula kejahatan, memiliki dua sisi. Terkadang kita terlalu awam untuk lekas menjatuhkan putusan “ini benar” atau “ini salah”. Ada banyak kisah yang melatari kenyataan mengapa sebuah peristiwa dapat terjadi. Kisah-kisah dan dongeng-dongengan lama mungkin perlu kita tilik ulang kembali. Siapa tahu ada Maleficent-Maleficent dan Salawati-Salawati lainnya yang terselip kepahitan zaman di antara belenggu-belenggu perjuangan. Malang, sebagai manusia kita cenderung bermain Tuhan. Kita tak dapat menerima ketakbersalahan seseorang, namun anehnya mengumbar-umbar ketarbersalahan diri kita sendiri meski telah terbukti kalah.

Selamat berakhir pekan, selamat menunaikan ibadah puasa. Jangan lupa menggunakan hak pilih anda dengan bijaksana di TPS terdekat tanggal 9 Juli 2014.

Yogyakarta,
5 Juli 2014