Showing posts with label Sulawesi Selatan. Show all posts
Showing posts with label Sulawesi Selatan. Show all posts

Friday, July 4, 2014

Maleficent dan Salawati Daud: The Hidden Triumph of Matriarchy?



Alkisah, cerita asli Sleeping Beauty tidak seperti yang didongengkan kepada kita selama ini.  Putri Aurora yang malang dan dikutuk untuk mengalami tidur  panjang bagaikan maut itu sebenarnya ialah korban atas kesalahan masa lalu sang ayah. Maleficent, seorang peri hutan yang tadinya baik hati berubah menjadi jahat demi melampiaskan kekesalannya atas pengkhianatan cinta yang dilakukan oleh sang raja. Akan tetapi di akhir cerita, Maleficent yang terus mengamati Aurora tumbuh berkembang menjadi seorang gadis yang penuh cinta justru memutuskan untuk menarik kembali kutukannya. Tidak hanya itu, ia juga menyelamatkan Aurora dari kejahatan ayahnya sendiri.
 
Demikianlah kira-kira rangkuman atas film “Maleficent” yang dirilis oleh Disney beberapa minggu lalu. Angelina Jolie yang memerankan Maleficent di film ini berhasil membawakan karakter peri hutan yang amat berkuasa namun rapuh dari segi perasaan. Maleficent ditipu oleh seorang pemuda desa yang berambisi untuk menjadi raja. Sayap Maleficent yang indah menjadi korban atas niat jahat lelaki yang ia cintai itu. Sayap Maleficent ini di mata saya sejatinya merupakan simbolisasi dari trofi atau piala kemenangan sebagai bukti kejantanan laki-laki dalam menaklukkan energi alam yang dianggap liar dan tak beradab. Bukan cerita baru, wanita dijajah pria itu sudah hadir di tengah-tengah dunia sejak dulu kala. 
Sentra utama dongeng yang ditampilkan dalam wajah baru ini sebenarnya ada pada sisi si karakter utama: Maleficent. Maleficent, tidak seperti yang diyakini oleh banyak orang selama ini, tidak berniat untuk mencelakai Aurora hanya karena dirinya tidak diundang ke jamuan makan pembaptisan sang putri. Maleficent di sini merupakan simbolisasi dari perempuan yang terluka, dipaksa untuk tunduk pada dunia patriarki yang tidak mengharapkan figur perempuan untuk tampil di tatanan sosial masyarakat. Perempuan harus didomestikasi, dalam film ini disimbolkan melalui “pengebirian” sayap indah Maleficent.
Angelina Jolie sebagai Maleficent
Ada kisah menarik tentang sosok perempuan yang “dikebiri” sayapnya oleh Orde Baru dan diantagoniskan, persis seperti Maleficent ini. Namanya Salawati Daud. Jika anda tanya siapa dia hari ini, hampir seluruh suara akan langsung mengarah kepada satu kata “PKI!” atau “Gerwani!”. Ya, Salawati Daud memang merupakan seorang aktifis PKI di era 50-an. Ia bahkan turut serta dalam embrio yang kelak akan melahirkan perkumpulan Gerwani bersama Umi Sardjono. Pasca peristiwa G.30/S meletus, Salawati Daud yang saat itu menjadi anggota DPR digelandang oleh tentara keluar gedung parlemen untuk kemudian dijebloskan ke Penjara Bukit Duri. Sejak saat itu nama Salawati Daud bagaikan sebuah nista. Ia dihapus dari dokumen-dokumen sejarah dan dilupakan perannya sebagai tokoh awal pemberdayaan wanita di republik ini.

Salawati Daud ialah seorang perempuan Bugis dari Sulawesi Selatan. Kebudayaan Bugisnya mengajarkan Salawati untuk menjadi seorang perempuan yang tangguh, mitra setara lelaki yang sepadan, bukan sekedar pelengkap hidup semata. Sudah mengalir di dalam kultur Sulawesi Selatannya bahwa perempuan seperti halnya laki-laki bebas untuk mengekspresikan opini di hadapan publik. Sejak tahun 1930 ia aktif menentang kekuasaan kolonial Belanda di tanah air. Ia yang juga anggota Perserikatan Celebes bersama dengan Nadjamoeddin Daeng Malewa, Lindoe Marsajit, Th. Lengkong dan Nyonya Lumenta mendirikan Perhimpunan Perguruan Rakyat Selebes (PPRS) dengan tujuan memajukan pendidikan bagi masyarakat pribumi. Tercatat, Salawati juga merupakan seorang pionir perlawanan perempuan di bidang pers, ia mendirikan majalah Wanita pada tahun 1945 serta menjadi direksi majalah Bersatu yang saat itu adalah bacaan laris. 

Mental baja Salawati yang senantiasa menuntut keadilan bergejolak ketika pasukan NICA memasuki tanah air pasca kemerdekaan. Ia mengobarkan semangat gerilya dengan berkeliling daerah di Sulawesi Selatan serta memimpin sendiri perlawanan ke sebuah tangsi polisi di Masamba (saat ini ibukota Kabupaten Luwu Utara). Salah satu prestasi terbesar Salawati ialah saat ia ditunjuk sebagai Walikota pertama kota Makassar di tahun 1949. Dengan demikian, Salawati merupakan walikota perempuan pertama di Indonesia. Salawati Daud juga seorang tokoh mediator yang berusaha meredam ambisi Kahar Muzakkar saat hendak menggulingkan pemerintah Indonesia dengan gerakan DI/TII-nya. Suaminya yang seorang pejabat pemerintah di Maros amatlah mendukung aktifitas-aktifitas sang istri.

Pada tahun 1955, ia melanjutkan perjuangannya menyuarakan hak-hak sipil wanita ke Senayan dengan menjadi anggota DPR. Sayangnya, berbeda dengan Opu Daeng Risaju, Andi Depu dan Emmy Saelan yang menerima penghargaan dari rakyat Sulawesi Selatan sebagai pejuang-pejuang wanita, nama Salawati Daud tenggelam dalam dongeng-dongeng yang dihembuskan oleh pemerintah akan kejahatan ideologi komunisme di masa Orde Lama. Persis seperti Maleficent. Kita hanya mengenangnya dari logo Palu dan Arit yang dicitrakan jahat seperti iblis. Ia dikebiri oleh dunia lelaki Orde Baru, tidak hanya didomestikasi namun juga didemonisasi.
Satu hal lagi pelajaran moral yang saya dapat dari film Maleficent adalah: kebenaran, sebagaimana pula kejahatan, memiliki dua sisi. Terkadang kita terlalu awam untuk lekas menjatuhkan putusan “ini benar” atau “ini salah”. Ada banyak kisah yang melatari kenyataan mengapa sebuah peristiwa dapat terjadi. Kisah-kisah dan dongeng-dongengan lama mungkin perlu kita tilik ulang kembali. Siapa tahu ada Maleficent-Maleficent dan Salawati-Salawati lainnya yang terselip kepahitan zaman di antara belenggu-belenggu perjuangan. Malang, sebagai manusia kita cenderung bermain Tuhan. Kita tak dapat menerima ketakbersalahan seseorang, namun anehnya mengumbar-umbar ketarbersalahan diri kita sendiri meski telah terbukti kalah.

Selamat berakhir pekan, selamat menunaikan ibadah puasa. Jangan lupa menggunakan hak pilih anda dengan bijaksana di TPS terdekat tanggal 9 Juli 2014.

Yogyakarta,
5 Juli 2014

Tuesday, June 10, 2014

15 Jam di Tana Toraja (Part II)

Okay, rirakkai adaE risittaki pauE alias singkat cerita, setelah mendengarkan banyak penjelasan panjang lebar dari sang guide baby’s grave di Kambira kami pun melanjutkan perjalanan ke dusun Tampangallo. Tampangallo dalam Bahasa Toraja berarti “Matahari yang Gagah”, sebuah  istilah untuk matahari yang bersinar terang dengan indahnya. Di Tampangallo terdapat sebuah gua yang cukup tersembunyi letaknya, di tepi sebuah sungai dan tebing. Nah, di gua inilah kami menemukan banyak sekali erong, tumpukan tengkorak yang usianya sudah ratusan tahun serta boneka tau-tau. Atmosfer gua yang gelap dan lembap memperkaya kesan mistis yang ada. Setelah puas mengambil banyak foto dan video, kami lalu dibawa ke situs King’s Grave yang lokasinya tidak begitu jauh dari Tampangallo. Kedua situs tersebut berada di dalam wilayah kecamatan Sangalla.



Pose pantai yang salah diterapkan di hadapan tebing Para Raja ini.
Sangalla dulunya merupakan sebuah kerajaan. Kerajaan ini diawali oleh turunnya sesosok manusia sakti dari langit yang bernama Tomanurun Sandabilik. Di sebuah bukit bernama Buntu Kalandoq, terdapat tebing yang menjadi pemakaman raja-raja Sangalla keturunan Sandabilik. Dari sekian banyak lubang yang dibuat untuk erong jenazah serta tau-taunya, terdapat sebuah figur tau-tau yang unik. Sebongkah patung kayu tau-tau yang meniru sosok seorang wanita berpakaian adat lengkap terlihat sedang mengacungkan keris dengan gagahnya. Tau-tau ini konon pernah hilang beberapa tahun yang lalu karena dicuri oleh penjarah makam dan dijual di Bali. Syukurnya, bekerjasama dengan polisi akhirnya tau-tau tersebut dapat ditemukan dan dikembalikan ke tempat asalnya. Wuih, jadi ingat kasus pencurian hiasan kodok dari perunggu yang jadi bagian dari gong nekara di Pulau Selayar beberapa tahun lalu. Kodok perunggu tersebut dilas hingga copot dari nekara kemudian dilarikan oleh pihak bertanggungjawab ke Jakarta, untuk selanjutnya dijual ke lelang Christie di Singapore. Untuk saja aksi tidak bertanggungjawab tersebut berhasil digagalkan, dan si kodok perunggu kembali ke asalnya di Selayar.

Setelah puas berfoto di tebing King’s Grave yang selintas mirip Petra itu, kami lalu dibawa makan siang ke sebuah restoran di tepi sawah langganan Pak Ela. Restoran ini bersih dan rapi. Saat kami tiba di sana, ada beberapa orang wisatawan asing yang juga tengah menikmati makan siang. Sepertinya tempat ini cukup terkenal di antara bule yang sedang berkeliling Sangalla (sayang saya lupa nama restorannya apa). Harga makanannya tidak jauh beda dengan makanan yang disajikan di Riman. Saya memesan nasi, fu yung hai berporsi besar dan jus jeruk yang total semuanya Rp 40.000,00. Setelah makan siang, kami dibawa melintas Pak Ela ke daerah perkuburan Lemo, namun kami tidak masuk ke dalam karena Ran sudah cukup puas melihat banyak sekali tengkorak hari ini. Alhasil kami pun hanya berfoto-foto di pinggir jurang menyaksikan hamparan sawah hijau dan tebing-tebing berlobang yang diisi oleh erong-erong dan tau-tau.

Dari Lemo kami menyusur turun hingga ke lembah Sungai Saddang. Apabila peradaban besar Mesir berawal dari Sungai Nil dan peradaban besar Mesopotamia berasal dari Sungai Eufrat, maka peradaban besar Toraja (yang kelak menjadi cikal-bakal peradaban suku-suku bangsa lainnya di Sulawesi Selatan) berasal dari Sungai Saddang. Saya dan Aiyalee dipenuhi semangat ketika melihat aliran sungai yang mashyur itu. Sungai Saddang mengalir dari daerah Ulu Saddang, Mamasa (Sulawesi Barat) hingga membelah Tana Toraja di selatan. Sungai ini berperan sebagai sarana transportasi warga, sumber air dan makanan, pembangkit listrik serta keperluan sehari-hari lainnya. Sungai Saddang yang sejak ribuan tahun lalu mengaliri Tana Toraja bagaikan nadi yang menggenjot kehidupan masyarakat di sekitarnya. Kami diajak untuk melihat-lihat keindahan Sungai Saddang dari atas sebuah bukit. Tidak hanya keindahan Sungai Saddang yang kami temukan sore itu. Kami pun menyaksikan kegagahan Gunung Bua dikejauhan dengan langit biru nan bersih serta hamparan sawah-sawah warga Sangalla sebagai latarnya. Terakhir, sebelum memutuskan untuk berisitrahat dan mempersiapkan diri pulang ke Makassar, kami dibawa Pak Ela ke sebuah desa dengan jejeran tongkonan tua yang letaknya berada di atas bukit. One of the best view ever! Dari sini kami dapat mengambil foto barisan tongkonan, langit Toraja nan bersih, Gunung Bua serta persawahan yang dialiri oleh air dari Sungai Saddang. What can I expect more than this?
Pak Ela yang ramah dan mobil sewaan kami. Bagi yang berniat ke Toraja,
silakan hubungi beliau di 081342005003
Menjelang pukul 17.00 kami kembali ke Rantepao. Setelah berterima kasih kepada Pak Ela, kami berjalan ke masjid di dekat pasar. Alhamdulillah, kali ini masjid itu terbuka dan menerima kami. Setelah tidur-tiduran sebentar dan menunaikan ibadah sholat maghrib, kami lalu berjalan ke Pasar Rantepao untuk mencari tempat makan malam. Mata kami tertuju kepada sebuah warung makan bernama “Rocket Fried Chicken”. Kami memutuskan untuk mencoba KFC-nya Rantepao itu dengan sedikit perasaan geli. Rasanya lumayan, harganya Rp 15.000,00 sudah termasuk minuman (bisa pilih es teh atau soda). Kami menghabiskan waktu dengan mengobrol dan tertawa-tawa ceria hingga waktu menunjukkan pukul 20.30. Bus Litha tujuan ke Makassar tiba di pol Pasar Rantepao pukul 21.00. Jarak RFC ke pol Litha hanya sekitar 3 menit jalan kaki sehingga kami tidak terlalu terburu-buru.

Demikianlah petualangan singkat kami di Tana Toraja: hanya 15 jam! Agak sayang sebenarnya karena kami melewatkan “kampung di atas awan” tempat banyak batu megalith raksasa berdiri dengan perkasanya di Batutumonga. Namun kami tidak menyesali itu, karena berarti Toraja masih harus kami kunjungi lagi untuk dieksplorasi hingga ke ujung-ujungnya. Wisata ke Toraja sebenarnya berbeda dengan kunjungan ke tempat-tempat lainnya di Nusantara. Di sini kami melihat dan menziarahi kematian. Kematian bukanlah sesuatu yang jauh atau tabu untuk dibicarakan. Kearifan lokal Toraja justru memaknai kematian sebagai sebuah keniscayaan sebagai mahluk ciptaan Tuhan, sehingga kejadiannya pun patut dirayakan. Terima kasih, Toraja. Negeri orang-orang mati yang masih hidup. Negeri yang bulat sempurna seperti Bulan dan Matahari (Tondok leppongan Bulan tana Matariq Allo).


“Salamaq, iamo di’e mappau-pau mappannassa uru-uruna diang tau di Toraya. Anna diang tau dini, mula-mulanna Ulu Saddang mo naengei pottana. Iamo naoroi tappa Tonipanurung di Langiq. Iamo mappebaine To Kombong di Bura.”
(Kalimat pembukaan Lontaraq Pattapingan yang menjelaskan awal mula leluhur manusia-manusia di Sulawesi Selatan dan Barat yang turun di Toraja)

Thursday, June 5, 2014

15 Jam di Tana Toraja (Part I)


Backpackeran ke Toraja akhirnya terwujud juga. Kali ini saya harus berterima kasih kepada sahabat saya, Zein Patradinata yang jauh-jauh datang dari bumi kraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk mengajak melihat keunikan alam serta kebudayaan Tana Toraja. Perjalanan singkat kami ini meninggalkan seribu kenangan yang menyenangkan!

Saya pertama kali mengunjungi Toraja ketika berusia 16 tahun. Saat itu saya diajak oleh teman SMP yang asli Toraja untuk melihat kampung halamannya di kaki Gunung Sesean. Pada kunjungan pertama tersebut, saya tidak mengunjungi obyek-obyek wisata yang tersohor di buku-buku panduan turisme Toraja, melainkan hanya menikmati pemandangan alam yang luarbiasa cantik serta menghabiskan waktu lebih banyak dengan kontak sosial bersama masyarakat sekitar. Saya memberanikan diri mencoba arak serta makan daging kerbau, juga naik ke atas tongkonan dan berjuang menghadapi malam demi malam yang penuh serangan nyamuk. 

Kali kedua saya ke Toraja ialah saat gubernur Syahrul Yasin Limpo meresmikan pembukaan program “Lovely December 2008”, yaitu bulan festival di kota Rantepao yang kemudian dirayakan setiap tahunnya. Saat itu saya nebeng dengan keluarganya Diku yang kebetulan diundang oleh Pak Gubernur. Kami tinggal di hotel mewah bernama Toraja Heritage Hotel yang lokasinya berada di puncak gunung. Esok paginya (26 Desember) kami disuguhi oleh beragam tari-tarian Toraja serta prosesi mappadendang alias menumbuk padi dengan lesung yang menghasilkan irama bak hentakan gendang di sebuah lapangan terbuka.

Ke Toraja yang ketiga kalinya ini, saya bersama tiga orang kawan yang tiga-tiganya masih perawan (baca: baru pertama kali ke sana). Awalnya kami bertiga berencana untuk menginap di sana. Berangkat hari jumat malam dan turun ke Makassar pada hari minggu malam. Namun setelah 1 hingga 1001 macam pertimbangan, maka kami pun memutuskan untuk membeli tiket berangkat ke Toraja jumat malam (30 Mei 2014) dan kepulangan sabtu malam (31 Mei 2014). Bermodalkan niat nekat plus ke-soktahu-an untuk menjelajahi Toraja dengan motor sewaan, kami berangkat menaiki Bus Litha (tarif AC VIP = Rp 120.000,00) dari polnya di samping SPN Batua, tepatnya pukul 21.00.

Kami tiba sekitar pukul 06.00 pagi di pol Litha Pasar Rantepao, Kab. Tana Toraja. Masih setengah sadar, sambil membawa tas dan perbekalan lainnya kami berjalan terseok-seok menuju ke masjid terdekat yang seingat saya ada di Pasar Rantepao, untuk numpang mandi dan sembahyang pagi. Benar, masjid berwarna pink dengan corak Toraja yang kental (adaptasi tongkonan dan kubah berwarna hitam-emas) masih berdiri tegar di tempatnya yang dulu. Sayangnya rencana kami terancam gagal karena masjid tersebut dikunci! Aduh, kebingungan lah kami karena tak tahu kemana lagi dapat menikmati segarnya air Toraja yang dingin serta tempat untuk sekedar berteduh mengumpulkan nyawa. 
Kami dengan berani memutuskan untuk menghadapi medan yang asing itu dengan terus berjalan untuk menemukan restoran (sebagian sudah lapar dan sebagian lagi kebelet nyetor pagi). Di tengah ketidakpastian bagai menunggu pengumuman Ujian Akhir Nasional, mendadak sebuah mobil tua mendekati kami. Ya, dialah Pak Ela! Pak Ela si guide yang menawarkan jasanya di depan pol Litha Pasar Rantepao namun kami tolak karena kepede-an ingin menyewa motor saja keliling Toraja Selatan. Pak Ela ternyata menemukan kami yang malang ini dan menawarkan jasa sebesar Rp 350.000,00 keliling Toraja Selatan seharian, sudah termasuk bensin dan makan beliau. Setelah dipikir-pikir, untuk kami berempat itu sebenarnya tidak terlalu mahal. Maka tschuss, kami sepakat untuk menerima jasa Pak Ela. Dengan mobil tua itu dibawanya kami menuju tempat makan, istirahat, buang air, dan bersih-bersih yang paling layak: Restoran Riman di Jalan Andi Mappanyukki, Pasar Rantepao.

Restoran Riman toiletnya bersih dan akses airnya lancar. Kami diizinkan untuk mandi saat menunggu pesanan tiba. Harga makanannya sedikit mahal, di atas standar kantong mahasiswa (*nasi campur = 30.000,00 dan jus jeruk = 10.000,00), namun harus saya akui bahwa rasanya tergolong enak. Setelah bahagia karena berhasil memulihkan diri dari kotornya jasmani serta letihnya nurani, kami pun berangkat. Obyek wisata tujuan pertama kami ialah Desa Adat Ketekesu. Ketekesu terletak sekitar 5 km dari kota Rantepao. Tiket masuk ke Ketekesu –dan juga ke setiap situs sejarah di Tana Toraja lainnya- sebesar Rp 10.000,00 per kepala. Desa ini amat bersih dan rapi. Letaknya berada di sebelah danau kecil yang asri. Dari kejauhan, kami sudah melonjak-lonjak gembira saat melihat barisan tongkonan di pinggir danau tersebut. Lebih melonjak-lonjak gembira lagi ketika menyaksikan di antara tongkonan tersebut terdapat batu-batu menhir setinggi pinggul orang dewasa berdiri pada jarak-jarak tertentu. Sungguh, cantik sekali!

Di belakang barisan tongkonan Ketekesu, terdapat jalan setapak kecil menuju ke sebuah tebing yang cukup tinggi. Tebing ini terletak di antara bentangan sawah dan hutan. Di tebing-tebing tersebut kami menyaksikan banyak sekali erong (*peti kubur yang bentuknya seperti perahu) dan ratusan tengkorak. Tebing tersebut merupakan situs pemakaman kuno Toraja. Selain itu terdapat pula pata’ne atau rumah kubur yang di depannya terdapat tau-tau alias boneka kayu yang bentuknya menyerupai almarhum. Agak serem sih, namun kami juga excited karena akhirnya dapat menyaksikan keunikan Toraja ini secara langsung. Kami menghabiskan waktu selama kurang-lebih 1 jam di Ketekesu. Pak Ela terlihat agak sedikit tergesa-gesa karena ingin membawa kami ke desa terdekat untuk menyaksikan prosesi Rambu Soloq alias pesta kematian. Rambu Soloq? Wah, betapa beruntungnya kami! Tidak setiap hari lho kamu bisa datang ke Toraja dan menyaksikan ritus langka yang jadi ciri khas masyarakat Tana Toraja ini!

Selfie dengan Tongkonan di Ketekesu
Saat tiba di lokasi Rambu Soloq, kami berjalan malu-malu masuk ke arena yang dijadikan sebagai laga “genosida kerbau”. Seorang ibu berjilbab hitam dan bersarung Toraja tiba-tiba datang menghampiri kami, dengan manisnya menawarkan apakah kami ingin menyaksikan prosesi tersebut dari jarak dekat. Ternyata sang ibu adalah cucu dari almarhumah nenek yang tengah dipestakan tersebut. To my surprise, she is a genuine muslim. Padahal selama tinggal di Makassar seluruh teman saya yang bersuku Toraja hampir bisa dipastikan pemeluk agama Katolik atau Protestan. Akan tetapi ternyata agama Islam pun telah dianut oleh banyak orang Toraja, bahkan hingga di pelosok pegunungan Rantepao ini. Sang ibu menyuruh kami berempat untuk mengikutinya. Dengan patuh kami menurut, berjalan menembus kerumunan masyarakat biasa, melewati tongkonan induk, hingga ke rumah-rumahan bambu yang khusus dibangun untuk keluarga dekat. Astaga, betapa beruntungnya kami dapat tempat VIP untuk menyaksikan Rambu Soloq sedekat ini! Meskipun pada detik-detik selanjutnya wajah kami berubah pucat menyaksikan 24 kerbau hitam dibantai selama prosesi tersebut, kami tetap bersyukur serta berterima kasih kepada sang ibu yang telah dengan baik hati mengizinkan kami menjadi bagian dari keriuhan pesta adat tersebut.

Pesta Kerbau pada perayaan Rambu Soloq
Dari perayaan Rambu Soloq, kami dibawa Pak Ela menuju ke Desa Karuaya. Sumpah, I must say that the scenery in this village is among the bestest view i’ve ever seen in my life! Desa Karuaya tidak termasuk di dalam daftar tempat pariwisata mainstream yang biasa diumbar-umbar untuk turis. Pak Ela sengaja mengajak kami ke tempat ini karena tahu kami tidak sedang mencari tempat wisata belaka. Desa Karuaya adalah pilihan yang tepat. 

Tongkonan warganya masih asli, belum dimodifikasi serta penduduknya pun masih hidup dengan amat sederhana. Akses jalanan yang jelek terbayar ketika kami menyaksikan barisan tongkonan di pegunungan serta hamparan sawah menghijau hingga ke kaki langit. Kami diajak untuk singgah ke salah satu tongkonan tua yang masih dianggap orisinil oleh warga sekitar serta befoto dengan seorang nenek-nenek. Dari Karuaya kami terus melaju ke pedalaman menuju ke Desa Kambira. Kambira terkenal dengan obyek wisata baby’s grave atau kuburan bagi bayi yang belum tumbuh giginya. Zaman dahulu, sebelum agama Kristen atau Islam masuk ke Tana Toraja, apabila ada bayi yang belum tumbuh giginya meninggal maka bayi tersebut akan dikuburkan di dalam sebuah pohon di kampung Kambira ini. 

Pohon yang dipilih pun tak sembarangan. Sebuah pohon bernama tarraq yang banyak getah putihnya dianggap suci untuk menerima jasad bayi-bayi tersebut. Getah pohon tarraq dianggap cocok sebagai pengganti air susu ibu, agar roh bayi-bayi tersebut dapat terus hidup beriringan dengan pertumbuhan sang pohon. Dari pohon Kambira yang beratmosfir mistis kami dibawa ke tongkonan keluarga juru kunci pohon (yang saya lupa namanya) untuk dijelaskan filosofi ruang demi ruang serta hiasan ukirnya. Setelah itu kami juga diajak ke rumah almarhum tantenya di sebelah tongkonan tersebut. Sang tante telah meninggal sejak setahun yang lalu namun jasadnya masih disimpan di dalam peti mati pada sebuah kamar di rumahnya. Untuk pertama kalinya kami mendapatkan akses langsung melihat mumi Toraja yang terkenal itu! (*meskipun mumi yang ini hasil formalin sih, sebab di Toraja modern sekarang sudah tidak digunakan lagi ilmu-ilmu untuk membangkitkan mayat maupun memumikan mayat).

Anggota geng backpacker saya kali ini: Zein, Aiyalee, saya sendiri, dan Ran
Bersambung...

Monday, February 10, 2014

Duhai Adat, Masih Laku kah Kamu?

Jadi, tulisan ini berawal dari suatu obrolan singkat di siang hari menjelang sore. Obrolan ini berlangsung di kantor saya (yang sebenarnya adalah kantor Wakil Dekan bidang Alumni dan Kerjasama) bersama dengan boss/senior AFS/dosen saya, mbak Linda.

Awalnya saya hanya menunjukkan sebuah buku berjudul "Adat dalam Politik Indonesia" yang diterbitkan oleh KITLV (institut riset yang sebulan lalu saya kunjungi di negeri Belanda). Buku berwarna merah tersebut sengaja saya beli sebagai bahan referensi untuk mengerjakan materi powerpoint terkait "HAM dan Hukum Adat" yang di-assign kan oleh mbak Linda kepada saya. Buku itu ternyata menarik sekali, membahas banyak sudut terkait perjuangan masyarakat adat di negeri berbhinneka yang tengah digempur arus globalisasi serta kepentingan asing.

Saat sedang menceritakan bagian awal dari isi buku tersebut, saya tiba-tiba nyeletuk:
"Mbak, kalau dipikir-pikir sebenarnya kita ini hidup di tengah unsur-unsur hukum asing ya. Coba deh, contohnya dunia sekarang mengarah ke sistem common law-nya Inggris, yang notabene berakar dari kebudayaan mereka. Bukannya itu berarti kita mengikut kepada "hukum adat"-nya mereka ya?"
Pertanyaan tiba-tiba saya itu pun direspon oleh mbak Linda:
"Lul, nggak semua yang asing itu jelek lho. Sistem demokrasi yang diterapkan di Indonesia ini saja kan asalnya bukan dari Jawa tapi juga dari luar. Sepanjang sistem tersebut bermanfaat bagi masyarakat kita ya kenapa tidak? Lagian di negara kita ini, sistem hukum yang dianut memang bersifat dualisme. Hukum Islam maupun Hukum Adat tetap diakui oleh pemerintah sebagai aturan yang hidup di tengah masyarakat, grass root, akan tetapi kedudukan hukum Hukum Nasional adalah superior, berada di atas keduanya. Kondisi masyarakat kita yang majemuk memang menghendaki demikian, dan Hukum Nasional memang harus diutamakan demi menghindari terjadinya benturan."
Setuju. Saya setuju dengan jawaban mbak Linda. Saya setuju, jika seandainya sistem demokrasi berasal dari Zimbabwe pun sepanjang itu memberikan kemanfaatan yang besar bagi umat manusia maka layaklah untuk diadopsi. Akan tetapi saat itu juga saya berfikir: jika kita saat ini terlarut dalam arus unsur-unsur hukum asing yang di dunia internasional diterima sebagai kelaziman, lantas mengapa tidak ada upaya dari dalam negeri ini sendiri untuk mengangkat nilai-nilai universal dari kelokalannya? Apakah tidak ada kira-kira satu unsur saja dari kekayaan ragam Hukum Adat maupun kearifan lokal di negeri kita ini yang dapat diusung sebagai "sistem yang bermanfaat bagi umat manusia" selayaknya metode voting dari Yunani maupun yurisprudensi dari Inggris?

Dalam hal ini saya berpikir keras. Dulu, saya pernah terlibat diskusi seru dengan salah seorang sahabat saya (yang alhamdulilah kemarin baru saja resmi menjadi sarjanawati Hubungan Internasional Universitas Indonesia, hoorah!) yang bernama Diku. Diskusi tersebut berujung pada sebuah kesimpulan kami bahwa sistem negara kesatuan di negeri ini tidak dijalankan dengan baik sehingga menyebabkan banyak kerugian bagi golongan minoritas dan daerah-daerah di Indonesia Timur serta Kalimantan. Otonomi? Bagi saya itu terlihat seperti majikan (sistem sentralistik) yang membagi-bagikan kue dengan porsi kecil kepada anak-anak buahnya. Sistem ini juga kami rasa tidak cocok diterapkan di tengah negara dengan kontur budaya yang majemuk seperti Indonesia. Kami setuju dengan pemikiran Hatta dahulu yang menghendaki agar Indonesia ini jadi negara federal saja. Meskipun banyak cemoohan yang mengatakan bahwa sistem negara serikat sudah pernah diterapkan sebelumnya dan hasilnya adalah sebuah kegagalan, saya dan Diku (serta pacarnya yang ternyata telah terlebih dahulu mencetuskan ide ini) foreseen sebuah utopia bernama United States of Nusantara. Jadi pada hakikatnya kembali ke semangat rakyat itu sendiri, unit-unit mandiri yang masing-masing kemudian memberikan secuil jatah kue mereka kepada pemerintah pusat. 

Saya rasa kita telah terlanjur terjebak di tengah paradigma bahwa Hukum Adat sifatnya tertutup, hanya hidup di tengah masyarakat dengan lingkup geografis tersebut semata. Padahal, semenjak saya aktif menelaah kekayaan budaya lokal dengan mendirikan Lontara Project pada tahun 2011, saya dibuat terkejut-kejut plus terkagum-kagum dengan banyaknya nilai lokal yang pada prinsipnya mengandung nilai-nilai keuniversalan. Salah satu contohnya yang hingga hari ini masih membuat saya takjub adalah muatan unsur-unsur demokrasi, kontrak sosial, emansipasi dan hak atas properti yang terkandung di cerita rakyat turunnya Tumanurung Bainea di kerajaan Gowa yang sumbernya berasal dari lontar-lontar kuno.

Alkisah, memasuki abad ke-14, setelah lewat zaman La Galigo, di Sulawesi Selatan terjadi kekacauan selama tujuh generasi. Abad-abad kegelapan ini ditandai oleh berlakunya hukum rimba, dimana yang kuat menjajah yang lemah, serta bencana alam yang datang susul-menyusul. Di tengah ketiadaan kepastian hukum tersebut, absen pula sosok pemimpin berkarisma yang dapat memecahkan masalah serta mampu memimpin rakyatnya menuju persatuan. Saat itu di wilayah yang saat ini bernama Gowa, terdapat sembilan buah desa dengan masing-masing kepala daerahnya yang bergelar gallarang.

Di suatu malam yang gelap gulita, mendadak turun seberkas cahaya dari langit utara. Kesembilan gallarang merasa bahwa cahaya tersebut merupakan sebuah pertanda yang akan mengakhiri masa-masa kegelapan. Dibekali oleh kepercayaan diri, kesembilan gallarang tersebut meniti cahaya yang konon jatuh di atas sebuah bukit bernama Takaq Bassia. Di atas bukit itulah seorang wanita cantik yang mengenakan mahkota emas berdiri. Merasa bahwa beliau merupakan seorang dewi yang turun dari langit untuk memerintah di muka bumi, maka kesembilan gallarang pun segera menyembah dan meminta sang putri untuk menjadi ratu mereka. Sang Putri yang dikemudian hari dijuluki Tumanurung (orang yang turun dari langit) Bainea (berjenis kelamin wanita) ini tidak serta-merta menerima ajakan dari kesembilan gallarang. Melalui sebuah perjanjian yang panjang dalam bentuk syair 13 pasal, ia sepakat menjadi pemimpin mereka sepanjang hak-haknya diperhatikan. Kesembilan gallarang pun mengakui hak-haknya seraya mengajukan syarat bahwa hak-hak tersebut memiliki batasan, dimana sebagai penguasa Tumanurung Bainea tidak boleh melanggar hak-hak tertentu dari rakyatnya. 

Kejadian tersebut dilukiskan seperti berikut (pasal-pasal pilihan):

Berkatalah kesembilan gallarang kepada Tumanurung

Pasal 1
Anne niallenu kikaraengang (dengan dijadikannya dirimu sebagai raja/pemimpin kami)
Karaeng mako ikau (maka rajalah kamu)
Atamakkang ikambe (kami adalah abdimu)
Pasal 4
Ikambe tanakaddok bassinu (kami tidak akan ditikam oleh besimu)
Ikau tanakaddok bassimang (kamu tidak akan ditikam oleh besi kami)
Pasal 6
Makkanamako kummamiyo (bersabdalah maka akan kami iya-kan)
Naiya punna massongkang (namun apabila kami menjunjung)
Tammallembarakang (kami tidak memikul)
Punna mallembarakang (apabila kami memikul)
Tammassongkang (kami tidak menjunjung)
Pasal 7 
Angimmako ki lekkokayu (dirimu adalah angin, kami adalah daun kayu)
Naisani madidiyaji nuiri (namun hanya daun yang telah kuning yang dapat engkau jatuhkan)
Pasal 10
Anne niallenu kikaraengang (dirajakannya dirimu oleh kami)
Battang kalemanji akkaraengangko (sesungguhnya hanya badan kamilah yang merajakanmu)
Teyai pangannuammang (bukan harta benda milik kami)
Pasal 11
Tanuallei jangang ri lerammang (tidak kau ambil ayam di tenggerannya)
Tanukoccinai bayao ri bakampomang (tidak kau rogoh telur dari keranjangnya)
Tanuallei kaluku sibatummang (tidak kau ambil sebiji pun kelapa)
Rappo sipaemmang (setangkai pun buah kami)
Pasal 13
Karaeng tammanapuk bicara ilalang (raja tidak memutuskan perkara dalam negeri)
punna taenai gallaranga (bila gallarang tidak hadir)
Gallaranga tammanapuk bicara bunduk (gallarang tidak memutuskan perang)
punna taenai karaenga (jika raja tidak hadir)

Nah, dari pembacaan di atas, semoga teman-teman juga mendapatkan maksud yang saya utarakan.
Jelas, jauh sebelum konsep Kontrak Sosial yang diusung oleh John Locke terkait perjanjian antara penguasa dan rakyatnya, di Nusantara kita telah mengenal unsur serupa. Tumanurung Bainea diangkat oleh kesembilan gallarang yang merupakan wakil rakyat sebagai penguasa (pasal 1). Di saat yang sama, ia diberikan hak untuk bertitah, memerintah seluruh negeri. Akan tetapi kekuasaannya ini pun dibatasi. Ia tak dapat bertindak sewenang-wenang atau melakukan power abuse (pasal 4 dan pasal 6). Ia akan dituruti sepanjang perintahnya masuk akal. Pada pasal 7 si penguasa diibaratkan sebagai angin dan rakyatnya sebagai daun pepohonan. Meski demikian, angin tersebut hanya dapat menjatuhkan dedaunan yang berwarna kuning atau memang sudah tua, simbolisasi bahwa titah paduka sepanjang masih dapat diterima akal dan lazim akan kami emban. Pasal 11 menunjukan batasan terkait hak-hak privat yang tidak boleh dilintasi oleh si penguasa. Pasal 13 memaparkan pentingnya wakil rakyat dalam pengambilan keputusan, tidak boleh sebelah pihak saja.

Saya yakin, selain kisah Tumanurunga Bainea dari Sulawesi Selatan, pasti masih banyak kearifan lokal masyarakat adat di daerah lain tekait konsep kenegaraan maupun hukum. Sekarang kembali kepada kita sendiri, sampai sejauh manakah kita ingin mengeksplor apa yang sudah ditinggalkan oleh nenek moyang kita hingga hari ini? Indonesia 50 tahun mendatang ditentukan oleh sikap kita hari ini, lho.



Yogyakarta, 10 Februari 2014

Friday, August 23, 2013

Rammang-Rammang, Maros - Sulawesi Selatan: When South China met with the Amazon River

Senin, 12 Agustus 2013.

Liburan Idul Fitri ini saya pulang ke Makassar.
Suatu pagi, saya beserta dengan sahabat-sahabat gaul saya di Makassar: Diku, Rijal, Amel, Sam, Fitt dan Rafika menemukan sepotong "surga tersembunyi" di belantara Maros. Kabupaten yang sebelumnya hanya dikenal karena bandara serta tempat wisata air terjun dan taman kupu-kupu Bantimurungnya ini ternyata menyembunyikan "Cina Selatan dan Sungai Amazon" di pedalamannya.

Malam sebelumnya, saat mengajak teman-teman ke sana -info mengenai tempat wisata ini saya dapat dari sebuah situs backpacker-, saya sudah menginstruksikan mereka untuk mencari tahu mengenai jajaran karst di Maros yang telah diakui oleh UNESCO sebagai World Heritage Site. Jajaran pegunungan karst ini membentang sepanjang 4.700-an hektare, membuatnya sebagai karst kedua terpanjang di dunia setelah karst di Cina Selatan. Saat itu reaksi teman-teman saya adalah seperti ini:

Amel --> "Sudah mi kutanya paceku. Batu-batu begitu ji."
Diku --> "Aaaah... ndak mau ka'! Mau ka' berenang di Bantimurung! Mau ka' berenang!"
Rijal --> "Apa itu kah? Belum pa google ki."

Setelah sekitar 40 menitan kami berkendara dengan mobilnya Amel melewati jalan menuju Bantimurung, lurus hingga kemudian berbelok di jalan masuk menuju tambang semen Bosowa, lalu belok kiri ke Desa Salenrang dan kemudian diarahkan oleh warga menuju ke Dusun Berau tempat situs Rammang-Rammang berada; teman-teman saya itu pun melotot dengan mulut ternganga. Tidak saja kami dapat bertualang dengan sejenis perahu tradisional Bugis-Makassar bernama lepa-lepa (yang kami sewa bertujuh pulang-pergi, ditunggui selama 3 jam, dengan tarif sebesar Rp 200.000,00), kami juga bertemu dengan Daeng Beta, seorang penduduk lokal yang mengarahkan kami menuju gua-gua prasejarah tersembunyi. Gua-gua tersebut berumur lebih tua daripada situs Gua Leang-Leang (juga masih berada di daerah kabupaten Maros) serta pada dindingnya terdapat bekas-bekas telapak tangan dan mata panah purba dari tulang binatang. Sayangnya, beberapa peneliti dari Australia mengambil artefak-artefak bersejarah itu kembali ke negara mereka :/

Singkat kata, jika ingin berpetualang ke tempat baru dengan suasana dan pemandangan ala-ala alam raya luar negeri (Cina Selatan dan Sungai Amazon), nggak usah nabung lama-lama deh. Segera ke Maros, Sulawesi Selatan. Because dude, that place is AWESOME!!!
















Thursday, March 29, 2012

Mahasiswa Makassar Menghadapi Tantangan Zaman

*repost dari note saya di facebook, tiga bulan yang lalu

Siapa yang tidak pernah mendengar nama Makassar? Familiar di telinga mungkin iya, tapi kenal belum tentu. Sebagian masyarakat di Indonesia masih menggunakan nama lama Makassar yaitu "Ujung Pandang" untuk menyebut nama ibukota Provinsi Sulawesi Selatan ini. Makassar juga merupakan nama untuk salah satu suku asli dari empat etnis yang berdiam di provinsi penghasil coklat terbesar di Indonesia itu (yang kemudian membuat negara kita menjadi produsen coklat rangking 3 di dunia). Di zaman pemerintahan Ratu Victoria dan Raja Edward di Inggris dulu nama "Macassar" sempat populer sebagai nama hair conditioner berupa minyak kelapa atau palem yang dicampur dengan aroma-aroma tertentu. Cerita punya cerita, ternyata memang Macassar oil tersebut berasal dari Sulawesi Selatan.




Sekarang, nama Makassar kembali menghiasi media-media cetak maupun elektronik di Indonesia. Pemberitaan Makassar kali ini tidak ada kaitannya dengan kebesaran masa lampau, inovasi-inovasi, atau prestasi yang dicapai oleh salah satu putra daerahnya di ajang-ajang tertentu. Makassar hangat diberitakan karena tingkah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negrinya yang secara brutal melakukan aksi-aksi anarkisme di area kampus. Tawuran, pelukaan dengan senjata, aksi perusakan serta pembakaran terhadap fasilitas umum menciptakan lingkaran cerita negatif yang tak kunjung habis. Mahasiswa seakan-akan telah menanggalkan embel-embel mereka selaku civitas akademika dan merubah kampus menjadi arena pertarungan terbuka. Entah mengapa, mahasiswa yang terlibat aksi tersebut di Makassar bangga atas "perjuangan" yang mereka lakukan.

Ketika penulis menanyakan langsung kepada mahasiswa-mahasiswa yang terlibat di dalam aksi kekerasan, hampir seluruh jawaban bernada sama. Solidaritas. Ya, definisi mereka terhadap solidaritas berpadan dengan istilah "satu rasa". Apabila ada kawannya yang diserang, sontak mereka akan segera menyerang balik. Apabila ada juniornya yang dilukai, sontak mereka akan melukai balik. Begitu seterusnya, menurut mereka harga diri atas status kebersamaan itulah yang mereka jaga. Jika tidak begitu, maka sistem yang sudah dibangun selama bertahun-tahun sejak zaman senior-senior mereka dulu dapat hilang begitu saja. Padahal keberadaan sistem itulah yang menjamin eksisnya tradisi senioritas di kampus.  

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengadili mahasiswa-mahasiswa Makassar yang gemar tawuran. Bagi penulis, kesalahan tidak sepenuhnya ada pada mereka. Akan tetapi, ada sebuah faktor yang selalu luput dari perspektif pers ketika memberitakan kebrutalan mahasiswa-mahasiswa ini di media nasional. Penggambaran terhadap mahasiswa Makassar di mata mereka yang tidak pernah mengenal atau menginjakkan kaki ke Tanah Daeng bagaikan kanvas yang dituangi tinta hitam dengan merata. Generalisasi seperti inilah yang menciptakan prejudice atau stereotipe buruk. Pada kenyataannya, ada banyak mahasiswa asli Makassar yang tidak setuju terhadap aksi-aksi tersebut. Ada banyak suara-suara yang menentang tindak-tindak kekerasan di dalam kehidupan kampus. Sayangnya, sekali ada pemberitaan tentang Makassar, pasti tidak jauh-jauh dari aksi memalukan mahasiswanya yang membakar ban di jalan raya atau menyerang polisi. Ambil contoh prestasi unit kesenian tari dari Universitas Hasanuddin yang meraih juara IV pada Perlombaan Tarian Tradisional Tingkat Internasional di Istanbul, Turki kemarin. Kemenangan tersebut kurang disoroti oleh media, padahal jika prestasi tersebut diraih oleh universitas-universitas lain di pulau Jawa niscaya kisahnya telah diliput dimana-mana.

Ketika daerah-daerah lain di Indonesia sibuk berbenah dari tragedi bencana alam atau disibukkan dengan proyek-proyek pembangunan, di Makassar isu anarkisme mahasiswa masih riuh. Tahun lalu, beberapa perusahaan besar di Indonesia sempat "memberikan teguran" kepada mahasiswa-mahasiswa Makassar agar segera menghentikan kebiasaan mereka tersebut dengan mengeluarkan larangan menerima lulusan dari sebuah universitas negri yang gemar tawuran. Rupanya teguran seperti itu pun tidak mempan. Kebijakan rektorat yang akan memecat mahasiswa yang ikut tawuran pun juga tidak berhasil. Aparat penegak hukum pun dibuat kelimpungan oleh mereka.

Dulu, pemuda-pemuda Bugis-Makassar pernah mencapai puncak kebudayaan maritim melalui evolusi perahu tradisional ciptaan mereka. Perahu pinisi  pada masa lalu memamerkan kejayaannya di pantai-pantai Semenanjung Malaya, Australia Utara, Madagaskar, pesisir Jawa, Kalimantan, Sumatra, dan Indonesia bagian timur. Kecakapan dan pengenalan pemuda Bugis-Makassar terhadap perahu diperkirakan terjadi sebelum abad ke-10 dengan terdapatnya relief perahu layar padewakkang danlepa-lepa serta rumah panggung Bugis-Makassar di Candi Borobudur. Di periode pembebasan Irian Barat tahun 60-an, Presiden Soekarno sering berkonsultasi dengan pimpinan pelayaran Bugis di pelabuhan Sunda Kelapa, Muara Baru, dan Tanjung Priok. Beliau mengetahui potensi “armada perahu semut” padewakkang yang bentuknya kecil namun kokoh ini sehingga tahun-tahun itu perajin dari Bulukumba membuat puluhan perahu untuk pendaratan pasukan di Irian Barat.

Tidak inginkah kita mengharumkan nama Makassar seperti di masa lalu? Sudah saatnya bagi mahasiswa Makassar untuk berubah. Tradisi tawuran yang sifatnya primordial itu kini tidak dapat lagi diterima oleh masyarakat luas. Pemerintah di daerah maupun pembuat kebijakan di kampus perlu memikirkan bagaimana caranya mahasiswa dapat disibukkan dengan aktifitas-aktifitas yang mengundang prestasi. Peningkatan mutu ini penting, mengingat persaingan di daerah lain di Indonesia pun semakin lama semakin ketat. Keberanian, semangat untuk tampil, serta energi besar yang menjadi ciri karakter mahasiswa-mahasiswa Makassar hendaknya diarahkan melalui peningkatan kesadaran terhadap kearifan lokal atau organisasi-organisasi kepemudaan. Voluntarisme dapat menjadi pilihan yang tepat bagi mereka yang ingin menunjukkan karya nyata di tengah masyarakat. Menulis, bermusik, atau mengembangkan bakat olahraga secara profesional pun dapat dijadikan alternatif. Ada banyak pilihan untuk menghadapi tantangan zaman, namun semua itu tidak mungkin terwujud tanpa adanya dorongan dari masyarakat, termasuk dari kaum muda lainnya di persada nusantara.

Melalui tulisan ini, penulis berharap agar saudara-saudara mahasiswa di Makassar dapat mengulangi kejayaan masa lalu nenek moyangnya dengan prestasi-prestasi besar. Tugas kita sebagai mahasiswa amatlah simpel: mengisi kemerdekaan yang dulu telah diperjuangkan oleh bapak-bapak bangsa. Penulis juga berharap kepada rekan-rekan mahasiswa lainnya di Indonesia sedia untuk selalu berbagi inspirasi. Kiranya dengan motivasi dari mahasiswa-mahasiswa lainnya, mahasiswa Makassar dapat mengaktifkan peran mereka dengan efektif di tengah komunitas. Masalah yang dihadapi pemuda manapun di Indonesia hari ini adalah masalah kita bersama.

Paentengi sirri'nu! 




Jumat, 18 November 2011
Yogyakarta

Monday, March 5, 2012

Short Vacation Always Has Some Meaningful Experience!

Pada tanggal 8 Februari 2012 lalu saya pulang kampung ke Makassar. Tapi, ini bukan pulang kampung seperti biasanya. Intervalnya tergolong pendek karena pada tanggal 15 Februari saya sudah harus terbang kembali ke Yogyakarta. Pulang kampung yang memegang rekor terpendek selama 3 tahun belakangan ini karena saya hanya 3 hari full berada di rumah. Sisanya dihabiskan dengan perjalanan yang mengasyikkan menuju Pulau Selayar.

Tim KKN UGM yang saya rintis insya Allah akan berangkat ke pulau berjuluk "Tana Doang" ini bulan Juli 2012. Kami akan menghabiskan waktu selama 40 hari di sana, membaktikan ilmu kami langsung kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan bantuan. Kenapa Selayar? Saya sendiri sebenarnya belum pernah menginjakkan kaki di pulau itu selama 5 tahun tinggal di Makassar. Salah seorang sahabat baik saya di SMP berasal dari Pulau Selayar. Yang terbayang jika mendengar nama itu adalah hasil laut yang melimpah, kapal nelayan, emping manis, Takabonerate, dan black magic.

Semenjak diterima di Universitas Gadjah Mada dan mendengar program KKN, saya sudah membulatkan diri untuk tidak ber-KKN di Pulau Jawa. Saya ingin KKN, membuktikan ilmu saya dapat diaplikasikan di daerah lain di nusantara, yang setertinggal-tertinggalnya suatu wilayah di Pulau Jawa, di sana masih lebih membutuhkan lagi uluran tangan kami. Awalnya sih sempat berminat untuk KKN di Batam, namun di tengah jalan saya mengurungkan niat tersebut. Saya ingin berguna bagi kampung halaman. Saya ingin membalas tanah nenek moyang saya (meskipun selama 21 tahun hidup di dunia saya sendiri baru tinggal tidak lama di sana). Maka dari itu, Sulawesi Selatan pun saya canangkan sebagai daerah tujuan KKN. Dan Selayar menjadi targetnya, bukan tanpa sebab, tapi setelah menghabiskan waktu selama 2 bulan untuk mencari-cari lokasi yang tepat.

Team KKN UGM ke Selayar diliput oleh Harian Fajar, salah satu media partner kami

Singkat cerita, sejak Oktober 2011 kami telah berupaya untuk menyusun proposal, mengumpulkan anggota, membuat program, mencari dosen pembimbing, serta mengusahakan mitra/sponsor. Libur Februari kemarin menjadi saat-saat yang menentukan dimana kami harus membawakan proposal untuk ijin lokasi langsung ke Sekretaris Daerah Kab. Kepulauan Selayar serta mencari dana melalui sponsorship di kota Makassar. Lalu, apa saja detail kegiatan Team Survey yang beranggotakan 4 orang ini (Me, Calvin, Kamil, dan Eka)? Monggo disimak...

Rabu, Februari 8, 2012
-Alhamdulillah, cuaca cerah. Meskipun sempat empot-empotan sama Merpati gara-gara tiket promo saya dimajukan sehari, saya bersyukur sebab dengan demikian waktu bersantai di rumah bertambah hehe. Selepas dhuhur rekan Ran dan Fit bertandang ke rumah untuk membicarakan Lontara Project. Malam harinya, sekita jam 23.00 WITA saya, bapak, dan Rani menjemput Calvin dan Eka di Bandara Sultan Hasanuddin. Calvin ternganga ketika mengetahui Makassar punya jalan tol! Hahaha, selama ini yang ada di kepalanya Makassar bersinonim dengan wilayah yang tergolong "remote" dan penduduknya barbarik karena suka tawuran. Wuits, jangan salah le! Makassar yang jadi salah satu kota metropolitan di Indonesia ini dijuluki "Ratu Indonesia Timur", bandar raya yang menjadi pusat perdagangan internasional bahkan sebelum bangsa Eropa menjajah Indonesia. Malam itu juga mereka kami jamu dengan "Mie Titi" makanan khas Makassar berupa mie kering yang disiram oleh kuah seafood dan nyuknyang. Yumm!
Menunggu di Wisma Kalla
Kamis, Februari 9, 2012
-Sekitar jam 8 pagi kami sudah rapi berseragam jas almamater. Calvin memberanikan diri untuk membawa mobil bapak keliling kota Makassar dengan saya sebagai navigatornya. Tujuan pertama kami ialah Kantor Gubernur Sulsel. Di sana kami disambut dengan positif, namun kabar mengenai diterima atau tidaknya permohonan bantuan dana kami baru dapat diberitakan beberapa minggu kemudian. Kami lalu tancap gas menuju Wisma Kalla. Sekitar jam makan siang Kamil mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin dari Jakarta, karena jarak dari pusat kota ke bandara lumayan jauh, walhasil Kamil harus naik taksi ke rumah saya dan menunggu kami pulang. Sore itu hujan mengguyur Makassar dengan deras. Saya, Eka, dan Calvin yang sedari siang berkeliling kota satelit Tanjung Bunga untuk mencari Gowa Tourism Makassar tak kunjung mendapatkan tempat yang dituju, sehingga kami pun memutuskan untuk berteduh sebentar di Trans Mall. Setelah hujan reda kami kembali ke daerah Panakkukang (rumah saya) dan bertemu Kamil. Malamnya kami menyambut Kamil dengan hidangan Coto Daeng Bagadang di belakang Mall Panakkukang.

Jumat, Februari 10, 2012
Graha Pena, Kantor Harian Fajar
-Hari Sabtu kami berkeliling beberapa tempat untuk memasukkan proposal, seperti PT. Vale (Inco), Harian Fajar, dan Walhi. Pagi dimulai dengan kunjungan ke Unhas, sebab saya dan Ran telah membuat janji dengan Ibu Nurhayati Rahman di Pusat Studi La Galigo. Calvin dan Kamil berkeliling Unhas sambil menunggu kami selesai berdiskusi, sementara Eka mengikuti saya dan Ran menemui Bu Nurhayati. Apa saja yang kami lakukan di Pusat Studi La Galigo dan Jurusan Sastra Daerah Unhas? Simak tulisannya di http://lontaraproject.com/101-la-galigo/kerja-sunyi-para-pejuang-la-galigo/. Malamnya kami tutup dengan berjalan-jalan di sekitar daerah Pettarani, menyaksikan Phinisi Tower UNM, lalu makan Terang Bulan sambil nonton film di kamar saya.

Sabtu, Februari 11, 2012
-It's Free Time! Hari ini anak-anak Team Survey yang sudah 2 hari full keliling Makassar untuk menyebar-nyebar proposal mendapatkan jatah mereka untuk bersenang-senang. Kami main di Trans Studio seharian. Ada saja kejadian kocak yang terjadi, termasuk ketika kami masuk "Derings", atau ketika Calvin ikut acara Gombal Gila di tengah Trans Studio hanya untuk mempermalukan dirinya sendiri (dan bahkan tidak mendapatkan hadiah yang telah dijanjikan). Malamnya kami tutup dengan siap-siap packing ke Selayar.


Minggu, Februari 11, 2012
-Tepatnya pukul 09.00 WITA dari Terminal Mallengkeri di pinggiran kota Makassar kami naik bus "Sumber Mas Murni" menuju Pulau Selayar. Busnya besar, ber-AC, dan bagus. Hanya saja, mungkin karena sedang musim liburan, bus kami penuh sesak dengan orang-orang yang hendak kembali ke Selayar. Ada yang membawa beras, beragam buah-buahan, dan kerdus-kerdus. Perjalanannya menyenangkan karena pemandangan alam dari Makassar menuju Bira amatlah menawan. Cuacanya pun sempurna. Jalanannya bagus, lurus tidak berbelok-belok. Kami sempat dibuat terkagum-kagum dengan galangan kapal Phinisi yang sedang dibangun di atas perairan Bira. Rupanya bus yang kami tumpangi tergolong lambat, sehingga ketika tiba di tempat penyeberangan ferry di Tanjung Bira kami harus menunggu ferry berikutnya 1 jam kemudian. Tapi masa penantian tersebut terganjar dengan kecantikan Selat Selayar dan indahnya sunset ketika selama 2 jam kami terapung dengan damai di atas lautan! Ada tiga buah pulau yang tak putus menemani kami di tengah Selat Selayar. Di sanalah saya pertama kali menyaksikan "rumpong", kearifan lokal pelaut Mandar yang tersebar di seluruh perairan nusantara. 


Singkat cerita, setelah terapung-apung di atas Selat Selayar selama hampir 2 jam, kami berlabuh di Pamatata, ujung paling utara pulau ini. Perjalanan masih dilanjutkan dengan bus selama kira-kira 1 jam hingga mendarat di terminal kota Benteng. Di sana kami disambut oleh kak Chalis, tetangga keluarga Pak Shalahudin. Pak Shalahudin ini sendiri merupakan informan kami, paman dari salah seorang kawan saya di AFS, Agung dari chapter Bandung. Kami disambut dengan keramahan ala Selayar dan langsung diajak makan malam. Malam itu kami menginap di rumah saudara kak Chalis yang kebetulan kosong. Hmmm... Finally we made it :)
Memandang Sunset di Selat Selayar
Senin, Februari 12, 2012
-Pagi-pagi benar kami sudah siap dengan jas almamater dan bubur manis buatan istri Pak Shalahudin. Dengan diantarkan oleh mobil kak Chalis, kami tiba di kantor Bupati Selayar. Kami langsung bertemu dengan Sekda-nya. Sambutannya positif. Setelah itu kami lanjutkan petualangan dengan menyebarkan proposal ke Dinas Perikanan dan Kelautan Selayar serta Dinas Kesehatan. Alhamdulillahnya lagi, ternyata Wakil Bupati Selayar adalah alumni Fakultas Hukum UGM! Di Pulau Selayar ini nama UGM jauh lebih besar daripada nama universitas-universitas lainnya di Indonesia, karena kebanyakan putra daerahnya menimba ilmu di sana. Luarbiasa, takdir Tuhan! :) 


Setelah seharian berkeliling kantor-kantor, sorenya kami menengok lokasi KKN kami di desa Bontosunggu dan Bontotangnga. Wah, ada banyak PR buat kami! Potensi wilayahnya sebenarnya besar, lokasinya pun indah karena berada di pinggir laut. Hanya saja fasilitas di sana masih kurang memadai (padahal udah ada bandara kecil dengan penerbangan rutin ke Makassar dan Bali tiap harinya lho!). Kami juga menyempatkan diri untuk bermain-main di Pantai Pasir Putih Baloya, Bali-nya Selayar. Tempatnya damai dan indah, sayangnya ada banyak sampah yang terbawa oleh air laut menumpuk di pinggirannya. Sampah-sampah tersebut bukan milik penduduk lokal, namun kebanyakan berasal dari daratan Sulawesi yang terseret ombak hingga ke Selayar (pernyataan ini penulis legitimasi karena di Selat Selayar penulis melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sampah-sampah dari Tanjung Bira melayang-layang terbawa arus laut menuju Pulau Selayar).

Selasa, Februari 14, 2012


Bersama Wabup Selayar, Alumni FH UGM
Lokasi KKN kami
-Tepatnya pasca sholat subuh kami sudah dijemput oleh bus "Sumber Mas Murni" di rumah saudara kak Chalis. Untung pada malam sebelumnya kami sempat berpamitan dengan keluarga Pak Shalahudin dan kak Chalis. Perjalanan kami nikmati semaksimal mungkin meskipun badan ini pegal-pegal. Kami sampai di Makassar sekitar jam 5 sore. Dinner di malam itu spesial, kami memasak Spagetthi untuk merayakan Valentine's Day kecil-kecilan ala makhluk-makhluk jomblo yang kesepian :D

Rabu, Februari 15, 2012
-Berhubung pesawat Kamil ke Jakarta berangkat jam 3 siang, maka pagi-paginya kami sudah muter-muter kota Makassar lagi. Saya mengajak mereka untuk makan di Popsa sekalian mampir ke benteng Fort Rotterdam di depannya. Pada saat yang bersamaan ternyata ada "kampanye terselubung demo", hehehe. Sore harinya, kami pun terbang kembali ke Jogja. Aaah... Liburan yang singkat tapi bermakna. Makassar, Selayar, tunggu kami empat bulan lagi ya! :)