Showing posts with label mahasiswa. Show all posts
Showing posts with label mahasiswa. Show all posts

Friday, August 22, 2014

Leiden Berhati Nyaman

Jadi, ntah dari mana saya harus memulainya. Yang jelas selama beberapa bulan sejak awal tahun 2014 ada terlalu banyak kejutan dalam hidup saya. Kejadian demi kejadian menakjubkan silih berganti saya alami sendiri. Salah satunya seperti saat ini: saya sedang selonjoran di atas kasur sambil mengupdate blog dari apartemen mahasiswa di Smaragdlaan, Leiden, Belanda.

Leiden lagi?

Saya pun tidak menyangka jika akan bersua dengan Leiden secepat ini. Kota yang penuh kenangan oleh perjuangan La Galigo Music Project pada bulan desember lalu. Kota yang membuat saya yakin bahwa tidak ada yang mustahil untuk ditempuh di dunia. Segalanya hanya perkara waktu. Bisa cepat, bisa juga lambat. Kota yang membuat saya masih punya keyakinan terhadap kemanusiaan dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Sekarang hari keempat saya di Leiden. Udara Belanda yang seharusnya (masih) riap-riap dengan semangat musim panas ternyata menipu kami semua. Hujan dingin turun tiap hari dengan frekuensi yang berbeda-beda dan durasi yang sempit. Bisa saja lima menit yang lalu langit cerah dan matahari bersinar terang, lalu saat ini mendung menyerang dengan tiupan angin yang menyakitkan. Sungguh, cuaca Leiden saat ini bak seorang remaja pancaroba yang hidupnya penuh drama!

Berhubung jarak dari apartemen Smaragdlaan ke kampus (Gedung Lipsius, Faculty of Humanities Universiteit Leiden) cukup jauh, maka saya dihadiahi sebuah sepeda oleh Dr. Firdaus Hamid, penolong kami nan baik hati pada episode yang lalu. Sepeda tuanya yang dianggurkan selama setengah tahun itu kemudian saya perbaiki. Dengan sepeda itulah petualangan besar saya menapaki kenangan-kenangan lama dan menemukan lorong-lorong baru dimulai.

Setiap hari saya dibuat merinding melintasi Sungai Rijn yang mengalir dari jantungnya di Swiss dan Jerman, menembus gerbang bergaya Romawi kuno di Arsenaalstraat menuju Lipsius yang ternyata letaknya bersebelahan dengan KITLV dan berseberangan dengan Leiden University Library. Setiap hari, selama menjalani kuliah matrikulasi Bahasa Belanda untuk para akademisi Encompass, mata saya menatap Leiden University Library dari jendela. Saya tidak pernah menyangka, sungguh, jika jarak saya dengan NBG 188 (naskah La Galigo terpanjang di dunia) itu hanya selemparan batu setelah pertemuan pertama kami yang menakjubkan di musim dingin 2013.


Ada tempat-tempat dan teman-teman baru yang saya temukan di Leiden Jilid II ini. Peterskerk dan Latin Quarter-nya. English Gate yang ternyata adalah asylum atas leluhur pendiri Amerika Serikat.  Fakultas Indologi di jalan Rapenburg yang dulunya adalah tempat belajar Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Taman Hortus Botanicus yang tak mungkin terwujud tanpa bibit-bibit tanaman tropis yang dibawa VOC. Serta De Academie universitas baru saya ini yang rupa-rupanya menyimpan patung seorang ilmuwan asal Indonesia. Tiap hari Leiden tak kering oleh kejutan. Lorong-lorongnya yang (sepertinya) sudah saya jelajahi oleh kaki dan roda sepeda ternyata bagaikan labirin yang selalu menyiapkan kisah-kisah seru.

Singkat kata, tak henti-hentinya saya bersyukur kepada Tuhan atas nikmat yang telah ia berikan kepada saya. Kemarin sore saat berkunjung ke kamar seorang kawan Encompass dari Thailand dan Cina (namun berkuliah di Tel Aviv dengan jurusan Studi Timur Tengah serta punya nama Arab "Yusuf"!) bersama Neilabh dari India, perbincangan kami mulai mengalir dari Soeharto ke Sriwijaya, ke ISIS, ke konflik Israel-Palestina, ke komunitas Tionghoa Makassar bahkan sampai ke tradisi sufi di Gujarat. Kami menghabiskan waktu berjam-jam hingga malam (yang masih terang-benderang karena musim panas) tanpa merasa letih karena terus bicara. Saat itulah saya merasa bahwa dahaga intelektual yang selama ini bingung kemana rimbanya untuk dipuaskan akhirnya terpenuhi. Di sinilah tempatnya. Leiden adalah tempatnya. Iklim intelektualnya didukung oleh multikulturalisme yang dibawa oleh beragam manusia dari berbagai penjuru dunia. Belum lagi kebaikan hati Marijke dan Esther, program koordinator saya yang amat sangat perhatian dan penuh dukungan. Saya bersyukur karena dipilihkan oleh-Nya untuk belajar di sini, sungguh.

*Meskipun hingga saat ini saya masih bete karena bagasi yang nyasar entah kemana itu hingga sekarang belum dikirim-kirim juga oleh KLM

Hujan dingin boleh kamu turun di Leiden
Menyapu mentari musim panas yang lebat terangnya
Tapi jangan pikir kau kan mampu menyapu
Hasrat akan ilmu yang kubawa dari Indonesia
karena akan kukantongi seluruhnya, kubawa pulang
Dan kubagi-bagikan kepada para pendemo di pinggir jalan

Smaragdlaan,
22 Agustus 2014

Friday, June 14, 2013

"Kelas Serbaserbi Nusantara"

Sudah beberapa hari ini ada yang berbeda di Fakultas Hukum UGM.

Jika teman-teman (yang duduk di semester tua atas alias tahun-tahun terakhir) sudah jarang terlihat lagi di kampus, tidak demikian halnya dengan saya dan rekan Chandrawulan Hardita. Kami masih sering menampakkan batang hidung untuk mampir di perpustakaan atau sekedar berdialog kecil-kecilan tentang musik, infotainment, buku, atau apapun yang kebetulan menyelinap di kepala.

Hari senin lalu, saya sedang duduk-duduk di bangku Mahkamah bersama Chandra ketika Arif Foranto (junior kami, angkatan 2010) yang baru saja pulang dari Hong Kong untuk mengikuti perlombaan peradilan semu internasional mewujudkan dirinya. Sambil menunggu kelas, mereka berdua menemani saya yang sedang rehat dari kerjaan part-time di Kantor Urusan Internasional UGM dengan bercerita ngalor-ngidul tentang apa saja. Saat itulah saya tiba-tiba kepikiran untuk sharing terkait masalah budaya kepada kedua kolega saya ini. Ada begitu banyak hal yang saya dengar, saya baca, dan saya lihat; sayang sekali jika hal-hal berupa fakta menarik mengenai Nusantara itu hanya mengendap di dalam kepala saya tanpa dapat saya bagi dengan teman-teman lainnya.  

So, kisah pun dimulai dengan cerita saya kepada Chandra dan Arif tentang Suku Toraja di Sulawesi Selatan. Kebudayaan suku tua (Proto-Melayu) yang unik ini dapat kita telusuri dari Tongkonan (rumah adat Toraja yang atapnya berbentuk seperti perahu), passuraq alias ukiran-ukiran di dinding Tongkonan yang ternyata merupakan tulisan ala hieroglif khas nusantara, serta tradisi "membangunkan mayat" yang mengundang decak-kagum Arif. Nah, dari cerita-cerita tersebut, Arif sempat kepikiran untuk membuat semacam film petualangan fantasi yang mengambil adegan-adegan dari tradisi Suku Toraja yang mistis itu. Pembicaraan jadi semakin asyik dan mengalir, apalagi saat kami membahas keterkaitan budaya yang ada di Nusantara antara satu dengan yang lainnya.

Sayangnya pembicaraan hari itu berakhir karena Arif dan Chandra harus masuk ke kelas jam 11.00. Secara tidak tertulis kami bertiga sepakat untuk berkumpul lagi di bangku Mahkamah di dekat kantin itu esok hari pukul 10.00 untuk melanjutkan diskusi soal budaya. Dengan penuh semangat, saya menyebut diskusi kecil kami bertiga itu dengan nama "Kelas Serbaserbi Nusantara."

Esok harinya, selasa, jam 10.00 pagi Arif dan Chandra sudah duduk manis di bangku Mahkamah, bahkan sebelum saya datang. Kali ini saya membawa "hadiah" untuk saudari Chandra yang sedang getol-getolnya belajar aksara Lontaraq: buku bertajuk "Worong Mporong, Lipu KupotanraE Arajang Bone". Buku ini sebenarnya adalah pinjaman dari kakanda Fery Afrisal yang sudah mengendap dua tahun di tangan saya hehe. Buku tersebut berisi banyak sekali pappasang (nasihat) dan pau-pau (cerita) dari Tanah Bone. Buku tersebut cocok untuk Chandra yang baru mengenal huruf-huruf Lontaraq, karena di setiap halaman ada tulisan lontaraq beserta Bahasa Bugisnya (dan juga arti dalam Bahasa Indonesianya).

Chandra yang sebenarnya sedang fokus belajar Bahasa Korea dan huruf-huruf Hanggeul berhasil saya buat terkagum-kagum oleh La Galigo. Setelah mendengar riwayat kondisi epos terpanjang di dunia ini sekarang, Ia jadi "gatal" ingin menekuni Lontaraq dengan harapan suatu saat nanti bisa membantu proses penerjemahan naskah La Galigo di Leiden. Arif pun demikian. Diskusi hari kedua mengenai "Sosok-Sosok Misterius" di Nusantara mulai dari Kanjeng Ratu Kidul, Supriyadi, dan bahkan para Tomanurung membuatnya yang tergila-gila dengan game dan film-film Barat merasa bahwa Indonesian culture is awesome!  Kemarin si Arif bahkan nyeletuk kalau La Galigo is the Indonesian Lord of The Rings. Selain sosok-sosok misterius yang ada di Nusantara, hari kedua ini kami juga saling berdiskusi mengenai makhluk-makhluk gaib yang hidup dalam imajinasi masyarakat Barat. Percaya nggak teman-teman kalau sebenarnya imajinasi mereka tentang burung api phoenix, manusia kate alias hobbit, kuda bertanduk satu unicorn, serta naga sebenarnya berasal dari bayangan mereka akan fauna-fauna khas Nusantara? Yep, informasi mengenai hewan gaib yang hidup di Timur, di sekitar Kepulauan Rempah-Rempah yang samar-samar mereka dapat informasinya dari para pedagang Cina inilah yang menurut Blair bersaudara di dalam buku "The Ring of Fire" memperkaya imajinasi bangsa Barat!

Aksara Lontaraq by Chandra -->

Hari rabu, seperti biasa kami berkumpul di bangku Mahkamah jam 10.00 pagi. Kali ini kami kedatangan "siswi" baru yaitu Nadia Tedianto, junior 2012 yang juga merupakan teman satu kosan Chandra. Ternyata semalam Chandra berhasil membuat Nadia penasaran dengan diskusi kami tentang betapa menakjubkannya Nusantara. Di sela-sela kuliah ia rela meluangkan waktu untuk ikutan kelas Serbaserbi Nusantara. Tidak hanya Nadia, kami juga kedatangan "siswa" baru lainnya yaitu Jacko. Jacko yang sepemahaman saya begitu cintanya sama budaya Jepang ternyata bisa juga kami buat tertarik dengan budaya Nusantara. Supaakawaii!
Tema diskusi di hari ketiga adalah "Aksara Nusantara". Saya share sedikit kepada mereka materi-materi yang pernah dibawakan oleh teteh Sinta Ridwan di Heritage Camp kemarin. Pengalaman teh Sinta keliling Nusantara untuk ngumpulin data mengenai naskah kuno, pengalamannya berhadapan dengan pustaha Batak berisi racun, hingga gempa bumi yang mendadak melanda Jakarta setelah pembacaan sebuah naskah kuno berhasil mengundang decak kagum peserta Kelas Serbaserbi Nusantara. Pengetahuan dari ibunda Nurhayati Rahman mengenai "kekerabatan" aksara-aksara tradisional di Indonesia pun saya paparkan secara singkat kepada teman-teman. Bentuk aksara Sunda Kuno yang mirip dengan aksara Lontaraq (bahkan dari susunan abjadnya, 'ka-ga-nga') sekali lagi membuat teman-teman tercengang. Dari 750 lebih suku bangsa di Indonesia hanya 12 saja yang memiliki aksara sebagai alat rekam sejarah sekaligus transfer ilmu. Kekayaan budaya seperti ini seharusnya menjadi kebanggaan dan dilestarikan, eh malah oleh pemerintah, pendidikan Bahasa Daerah justru akan dihilangkan! Nyebelin nggak tuh?

Aksara Sunda Kuno

Hari ini, hari keempat Kelas Serbaserbi Nusantara. Jam 10.00 di bangku Mahkamah saya dan Arif menunggu Chandra. Tapi ternyata Ia datang terlambat karena mesti meminta tanda tangan ke dosen pembimbing skripsi. Akhirnya kami pun mulai tanpa Chandra karena Nadia yang terburu-buru hendak masuk kelas pun juga sudah datang. Tema hari ini adalah "Arsitektur Nusantara". Kebetulan saya baru saja membeli buku berjudul "The Living House An Anthropology Study of Architecture in Southeast Asia", sebuah buku karangan Roxana Waterson yang berisi gambar-gambar menakjubkan serta informasi bermanfaat tentang keragaman tradisi arsitektur lokal di Indonesia. Waduh, kok bisa ya di abad 20 pun masih saja sarjana Barat yang kepikiran mengumpulkan data dan membuat penemuan menarik mengenai budaya Nusantara?

Hari ini kami membahas fakta-fakta menakjubkan tentang betapa majunya pemikiran nenek moyang kita dulu sehingga membuat rumah yang eco-friendly dari kayu. Bentuk rumah adat suku-suku di Indonesia kebanyakan berupa rumah panggung, inipun karena kejeniusan nenek moyang kita dulu dalam membaca alam sekaligus memahami pemanfaatan ruang. Kami menemukan banyak hal menarik, seperti: bahwa dulu sebelum berbentuk joglo rumah adat di Pulau Jawa pun juga berbentuk seperti rumah panggung berdasarkan sebuah relief di Candi Borobudur; bahwa dulunya simbol "tanduk kerbau" memiliki makna penting pada rumah-rumah tradisional bangsa Austronesia bahkan hingga ke Thailand dan Kamboja; serta bagaimana ragam hias sulur tanaman mendominasi ornamen-ornamen rumah-rumah kayu tersebut. Hari ini begitu menyenangkan karena teman-teman dari Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa Mahkamah pun ikutan nimbrung di Kelas Eksotisme Nusantara. Di akhir kelas, kami sempat membahas singkat tentang danau purba di sekeliling Borobudur berdasarkan temuan terbaru para ahli serta pseudo-pelayaran Marcopolo ke Sumatera.

Saya bangga sekali dengan teman-teman saya ini. Meskipun kami semua berasal dari latar belakang etnis yang berbeda-beda tetapi kami sama-sama merasa terikat sebagai generasi pelestari budaya bangsa. Menjamurnya trend mempelajari budaya serta bahasa asing tidak selantasnya kemudian membuat kami melupakan khazanah peradaban nenek moyang sendiri, bukan? Justru dengan menjadi anak muda yang berwawasan internasional namun memiliki akar budaya yang kuat, kita mampu menghadapi kejamnya pertarungan di ajang globalisasi.

Siapa bilang Indonesia nggak keren? Yuk ikutan kelas Serbaserbi Nusantara kami dan buktikan sendiri ;)

Chandra says: "Dad aku gak tau lagi deh kayaknya bakal jadi pemerhati budaya bgt. Krn after I heard lots bout it makin keranjingan!"

Arif says: "Can't hardly wait for another awesome tales!"

28 Maret 2013
Yogyakarta

Monday, March 11, 2013

Ia Tetap Berdiri

Warga fakultas hukum kaku, tidak peduli lingkungan dan keadaan sekitar, serta tidak berseni? Kemungkinan besar iya. Saya saksinya. Di tempat saya belajar menuntut ilmu selama tiga tahun  belakangan ini saya menyaksikan bagaimana untuk hal simpel dan se-obvious patung saja tidak ada yang peduli.

Patung? Memang apa pedulinya mahasiswa hukum dengan patung?

Sini, saya ceritakan duduk perkaranya.
Di fakultas saya, ada dua buah patung yang ditempatkan di ruang publik. Yang pertama merupakan patungnya Pak Koesoemadi. Beliau merupakan tokoh yang berjasa dalam pendirian sekolah hukum ini.


Patung kedua ialah sebuah replika 'Garuda Wisnu" setinggi 2 meter. Garuda Wisnu ini terbuat dari kayu, konon sengaja dibuat kembar oleh seorang seniman Bali sesuai pesanan alumni Fak. Hukum yang telah mapan dan menjadi duta besar Republik Indonesia untuk Swiss. Si dubes ini menghadiahkan sebuah patung untuk alma maternya tercinta, sedangkan yang satu lagi Ia boyong untuk diletakkan di ruang kerjanya di Swiss. Patung ini sekarang terletak di Gedung IV Fak. Hukum UGM.

Kedua patung ini fungsinya tidak untuk disembah-sembah atau dipuja-puja (dangkal sekali jika ada yang menuduh demikian!), melainkan sebagai hiasan. Yup, memang patung itu berfungsi sebagai penyedap mata, pelengkap keindahan seni arsitektur dan lain sebagainya. Tapi ada satu fungsi patung itu, fungsi utamanya, yang kini mulai terlupakan.

Kedua patung itu merupakan sebuah monumen, penanda jati diri, pengingat akan suatu peristiwa tertentu, dan bahkan menyimpan makna-makna simbolis tertentu. Patung Pak Koesoemadi adalah sebuah perwujudan dari cita-cita untuk menciptakan insan penegak hukum di negara yang saat itu baru seumur jagung. Mimpi dimana suatu saat nanti negara hukum yang berdemokrasi terwujud di Asia Tenggara. Negara dimana semua orang setara di hadapan hukum dan keadilan (entah itu distributiva atau kommutativa) ditegakkan.

Kedua patung tersebut sekarang benar-benar cuma menjadi hiasan di fakultas saya. Miris melihat patung Pak Koesoemadi yang tersembunyi di balik jambangan bunga besar, di ceruk yang bahkan tak diperhatikan orang. Lebih miris lagi melihat patung Garuda Wisnu besar yang terpajang hampa di tengah Gedung IV. Setiap orang melewatinya setiap hari, sekedar lewat tanpa bertanya dalam hati "mengapa patung ini ada di sini? Apa sejarahnya?". Jangankan bertanya, dibersihkan saja tidak. Selama tiga tahun berkampus di FH UGM, tidak pernah sekalipun saya melihat patung ini dibersihkan. Walhasil debu patung ini luarbiasa tebalnya, setebal make up mahasiswi semester baru (yang masih menganggap kalau kampus itu adalah mall).

Warga fakultas hukum kaku, tidak peduli lingkungan dan keadaan sekitar, serta tidak berseni? Kemungkinan besar iya. Saya saksinya. Untuk benda se-artistik, seindah, se-filosofis kedua patung itu saja mereka yang sering berkoar-koar tentang keadilan dan rakyat kecil, sama sekali tidak sensitif. Tidak aware. Tidak tanggap. Ketidakpedulian terhadap apa yang ada di depan mata, terhadap apa yang jelas-jelas berada di sekitar kita tercampakkan oleh sesuatu yang lebih besar nun jauh di sana, di luar kampus.

Haruskah ini dipermasalahkan? Persoalan sepele macam patung ini? Yah, semuanya bermula dari patung di FH UGM, lalu ke Lambang Negara, ke Bendera Negara, Lagu Kebangsaan, dan seterusnya dan seterusnya. Simbol, bagi segelintir orang yang kering filosofi, adalah tidak berharga.

Saya tidak tahu. Yang jelas saya kecewa. Kedua patung itu pun jika seandainya dapat bicara pasti akan mengutarakan hal yang sama. Betapa kini makna tidak dihargai.

Namun, kedua patung itu tetap berdiri.

Thursday, March 29, 2012

Mahasiswa Makassar Menghadapi Tantangan Zaman

*repost dari note saya di facebook, tiga bulan yang lalu

Siapa yang tidak pernah mendengar nama Makassar? Familiar di telinga mungkin iya, tapi kenal belum tentu. Sebagian masyarakat di Indonesia masih menggunakan nama lama Makassar yaitu "Ujung Pandang" untuk menyebut nama ibukota Provinsi Sulawesi Selatan ini. Makassar juga merupakan nama untuk salah satu suku asli dari empat etnis yang berdiam di provinsi penghasil coklat terbesar di Indonesia itu (yang kemudian membuat negara kita menjadi produsen coklat rangking 3 di dunia). Di zaman pemerintahan Ratu Victoria dan Raja Edward di Inggris dulu nama "Macassar" sempat populer sebagai nama hair conditioner berupa minyak kelapa atau palem yang dicampur dengan aroma-aroma tertentu. Cerita punya cerita, ternyata memang Macassar oil tersebut berasal dari Sulawesi Selatan.




Sekarang, nama Makassar kembali menghiasi media-media cetak maupun elektronik di Indonesia. Pemberitaan Makassar kali ini tidak ada kaitannya dengan kebesaran masa lampau, inovasi-inovasi, atau prestasi yang dicapai oleh salah satu putra daerahnya di ajang-ajang tertentu. Makassar hangat diberitakan karena tingkah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negrinya yang secara brutal melakukan aksi-aksi anarkisme di area kampus. Tawuran, pelukaan dengan senjata, aksi perusakan serta pembakaran terhadap fasilitas umum menciptakan lingkaran cerita negatif yang tak kunjung habis. Mahasiswa seakan-akan telah menanggalkan embel-embel mereka selaku civitas akademika dan merubah kampus menjadi arena pertarungan terbuka. Entah mengapa, mahasiswa yang terlibat aksi tersebut di Makassar bangga atas "perjuangan" yang mereka lakukan.

Ketika penulis menanyakan langsung kepada mahasiswa-mahasiswa yang terlibat di dalam aksi kekerasan, hampir seluruh jawaban bernada sama. Solidaritas. Ya, definisi mereka terhadap solidaritas berpadan dengan istilah "satu rasa". Apabila ada kawannya yang diserang, sontak mereka akan segera menyerang balik. Apabila ada juniornya yang dilukai, sontak mereka akan melukai balik. Begitu seterusnya, menurut mereka harga diri atas status kebersamaan itulah yang mereka jaga. Jika tidak begitu, maka sistem yang sudah dibangun selama bertahun-tahun sejak zaman senior-senior mereka dulu dapat hilang begitu saja. Padahal keberadaan sistem itulah yang menjamin eksisnya tradisi senioritas di kampus.  

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengadili mahasiswa-mahasiswa Makassar yang gemar tawuran. Bagi penulis, kesalahan tidak sepenuhnya ada pada mereka. Akan tetapi, ada sebuah faktor yang selalu luput dari perspektif pers ketika memberitakan kebrutalan mahasiswa-mahasiswa ini di media nasional. Penggambaran terhadap mahasiswa Makassar di mata mereka yang tidak pernah mengenal atau menginjakkan kaki ke Tanah Daeng bagaikan kanvas yang dituangi tinta hitam dengan merata. Generalisasi seperti inilah yang menciptakan prejudice atau stereotipe buruk. Pada kenyataannya, ada banyak mahasiswa asli Makassar yang tidak setuju terhadap aksi-aksi tersebut. Ada banyak suara-suara yang menentang tindak-tindak kekerasan di dalam kehidupan kampus. Sayangnya, sekali ada pemberitaan tentang Makassar, pasti tidak jauh-jauh dari aksi memalukan mahasiswanya yang membakar ban di jalan raya atau menyerang polisi. Ambil contoh prestasi unit kesenian tari dari Universitas Hasanuddin yang meraih juara IV pada Perlombaan Tarian Tradisional Tingkat Internasional di Istanbul, Turki kemarin. Kemenangan tersebut kurang disoroti oleh media, padahal jika prestasi tersebut diraih oleh universitas-universitas lain di pulau Jawa niscaya kisahnya telah diliput dimana-mana.

Ketika daerah-daerah lain di Indonesia sibuk berbenah dari tragedi bencana alam atau disibukkan dengan proyek-proyek pembangunan, di Makassar isu anarkisme mahasiswa masih riuh. Tahun lalu, beberapa perusahaan besar di Indonesia sempat "memberikan teguran" kepada mahasiswa-mahasiswa Makassar agar segera menghentikan kebiasaan mereka tersebut dengan mengeluarkan larangan menerima lulusan dari sebuah universitas negri yang gemar tawuran. Rupanya teguran seperti itu pun tidak mempan. Kebijakan rektorat yang akan memecat mahasiswa yang ikut tawuran pun juga tidak berhasil. Aparat penegak hukum pun dibuat kelimpungan oleh mereka.

Dulu, pemuda-pemuda Bugis-Makassar pernah mencapai puncak kebudayaan maritim melalui evolusi perahu tradisional ciptaan mereka. Perahu pinisi  pada masa lalu memamerkan kejayaannya di pantai-pantai Semenanjung Malaya, Australia Utara, Madagaskar, pesisir Jawa, Kalimantan, Sumatra, dan Indonesia bagian timur. Kecakapan dan pengenalan pemuda Bugis-Makassar terhadap perahu diperkirakan terjadi sebelum abad ke-10 dengan terdapatnya relief perahu layar padewakkang danlepa-lepa serta rumah panggung Bugis-Makassar di Candi Borobudur. Di periode pembebasan Irian Barat tahun 60-an, Presiden Soekarno sering berkonsultasi dengan pimpinan pelayaran Bugis di pelabuhan Sunda Kelapa, Muara Baru, dan Tanjung Priok. Beliau mengetahui potensi “armada perahu semut” padewakkang yang bentuknya kecil namun kokoh ini sehingga tahun-tahun itu perajin dari Bulukumba membuat puluhan perahu untuk pendaratan pasukan di Irian Barat.

Tidak inginkah kita mengharumkan nama Makassar seperti di masa lalu? Sudah saatnya bagi mahasiswa Makassar untuk berubah. Tradisi tawuran yang sifatnya primordial itu kini tidak dapat lagi diterima oleh masyarakat luas. Pemerintah di daerah maupun pembuat kebijakan di kampus perlu memikirkan bagaimana caranya mahasiswa dapat disibukkan dengan aktifitas-aktifitas yang mengundang prestasi. Peningkatan mutu ini penting, mengingat persaingan di daerah lain di Indonesia pun semakin lama semakin ketat. Keberanian, semangat untuk tampil, serta energi besar yang menjadi ciri karakter mahasiswa-mahasiswa Makassar hendaknya diarahkan melalui peningkatan kesadaran terhadap kearifan lokal atau organisasi-organisasi kepemudaan. Voluntarisme dapat menjadi pilihan yang tepat bagi mereka yang ingin menunjukkan karya nyata di tengah masyarakat. Menulis, bermusik, atau mengembangkan bakat olahraga secara profesional pun dapat dijadikan alternatif. Ada banyak pilihan untuk menghadapi tantangan zaman, namun semua itu tidak mungkin terwujud tanpa adanya dorongan dari masyarakat, termasuk dari kaum muda lainnya di persada nusantara.

Melalui tulisan ini, penulis berharap agar saudara-saudara mahasiswa di Makassar dapat mengulangi kejayaan masa lalu nenek moyangnya dengan prestasi-prestasi besar. Tugas kita sebagai mahasiswa amatlah simpel: mengisi kemerdekaan yang dulu telah diperjuangkan oleh bapak-bapak bangsa. Penulis juga berharap kepada rekan-rekan mahasiswa lainnya di Indonesia sedia untuk selalu berbagi inspirasi. Kiranya dengan motivasi dari mahasiswa-mahasiswa lainnya, mahasiswa Makassar dapat mengaktifkan peran mereka dengan efektif di tengah komunitas. Masalah yang dihadapi pemuda manapun di Indonesia hari ini adalah masalah kita bersama.

Paentengi sirri'nu! 




Jumat, 18 November 2011
Yogyakarta