Showing posts with label Makassar. Show all posts
Showing posts with label Makassar. Show all posts

Friday, August 29, 2014

Kejutan Tengah Tahun: Makassar International Writers Festival 2014 dan Leiden Universiteit’s Colonial and Global History.



Judulnya kali ini tidak hanya cukup panjang namun juga amat deskriptif. April hingga Juli harus saya akui sebagai bulan-bulan terpadat dari tahun ini sekaligus bulan-bulan yang amat penuh dengan kejutan!

Awalnya begini. Bulan Januari tahun ini saya dan Ran melaunching novel kami yang berjudul The Extraordinary Cases of Detective Buran. Novel tersebut sebenarnya tercipta dari keisengan kami semata dan hanya untuk konsumsi pribadi. Akan tetapi setelah dipikir-pikir, saya berinisiatif untuk membagi isi cerita petualangan dunia karakter fiksi yang kami ciptakan itu ke orang-orang banyak. Apalah hakikat sebuah tulisan jika tidak untuk dibagi dan dibaca oleh banyak orang, bukan? Saya pun memaksa Ran agar ia mau segera merampungkan cerita yang ia buat. Benar, memaksanya. Soalnya waktu itu posisinya saya akan berangkat untuk KKN ke Pulau Selayar yang akses internetnya serba terbatas. Saat itu saya berupaya meyakinkan Ran agar novel kami di self publish pada sebuah penerbitan dunia maya bernama nulisbuku.com. Akan tetapi karena suatu dan lain hal, rencana kami terbengkalai. Fokus saya pun terpecah; menyelesaikan skripsi dan persiapan team La Galigo Music Project pentas ke Belanda.

Singkat cerita, naskah yang sudah jadi itu tersimpan rapi di dalam peti es ketidakpastian selama beberapa dekade hingga akhirnya program La Galigo Goes to The Netherlands selesai dengan manis. Saat pulang ke Makassar, kak Sawing dari Kedai Buku Jenny menawarkan agar novel tersebut diterbitkan secara indie oleh Kedai Buku Jenny. Terus terang itu adalah sebuah tawaran yang unik dan sesuai dengan visi kami. Kami ingin agar buku ini dapat dinikmati oleh publik sekaligus sebagai stimulator perkembangan industri kreatif, utamanya di kota asal kami tercinta. Tidak ada yang lebih oke selain diterbitkan oleh sebuah gerakan indie asli kota tersebut, bukan? Dalam hitungan minggu setelah kontrak ditandatangani, novel kami pun terbit. Launching pertama di Kedai Buku Jenny pula (cek TKP http://kedaibukujenny.blogspot.com/2014/02/dua-kawan-dua-petualangan.html).

Beberapa bulan setelah novel kami rilis, The Extraordinary Cases of Detective Buran telah menemukan dirinya berada di berbagai pelosok tanah air melalui pemesanan online hingga Belanda (pesanan kak Daus dan kak Dodo di Leiden, kak Sunarti Tutu di The Hague serta Bu Betty yang menyumbangkan 1 eksemplar ke perpustakaan KITLV). Di tengah euforia tersebut, kami mendengar kabar akan adanya seleksi untuk Penulis Kawasan Timur Indonesia di Makassar International Writers Festival. Dengan penuh keisengan maksimal dan semangat nothing to lose, Ran pun mendaftarkan novel ini. Kehendak Tuhan, setelah sekian lama kami mendapatkan kabar bahwa karya kami diterima dan kami pun menjadi salah 2 dari 6 orang penulis undangan! Siapa yang tidak senang jika dapat duduk bersanding bersama nama-nama papan atas yang telah malang-melintang di dunia literatur Indonesia? 

6 Penulis Undangan Kawasan Indonesia Timur 2014: (dari kiri ke kanan) Pringadi Abdi, Saddam Husein, Louie Buana, Ran Jiecess, Amaya Kim, Ama Achmad
Ada Pak Peter Carey penulis buku tentang Pangeran Diponegoro, kak Ridwan Alimuddin yang pakar di bidang jelajah tulis-menulis maritim tradisional, kak Krishna Pabhicara yang novel dan puisi-puisinya termashyur, stand up comedian Andi Gunawan, kak Luna Vidya dan kak Lily Yulianti Farid yang namanya beken di dunia jurnalistik serta literatur Indonesia Timur, seniman Landung Simatupang, sutradara Riri Riza dan masih banyak lagi. Momen di saat saya dan Ran diundang ke atas panggung untuk membacakan beberapa paragraf dari The Extraordinary Cases of Detective Buran di hadapan seluruh mata yang hadir di Fort Rotterdam malam itu menurut saya adalah one of the bestest moment in my life. Yang penasaran gimana serunya acara kemarin, bisa tengok ke sini --> http://www.alineatv.com/2014/06/miwf2014-suara-suara-dari-indonesia-timur/

Lalu, bagaimana kisahnya sehingga saya yang seharusnya melanjutkan kuliah di Erasmus School of Law Rotterdam tiba-tiba end up di Faculty of Humanities-nya Universiteit Leiden untuk belajar Sejarah? Nah. Setelah diterima oleh Erasmus, saya iseng-iseng membuka website Leiden University. Pengalaman La Galigo Music Project di kota ini kemarin amat tak terlupakan. Saya ingin kembali ke sana lagi! Kalau bisa untuk belajar Sejarah atau Antropologi, dua bidang ilmu yang saya amat impi-impikan sayangnya belum terwujud. Di saat yang sama saya juga tidak ingin membuang 4 tahun pengalaman merengkuh gelar Sarjana Hukum dengan percuma begitu saja. Iklim multidispliner Indonesia yang masih miskin dan sempit menurut saya perlu dientaskan. Sekat-sekat perlu hilang demi kemanfaatan bangsa kita sendiri. Siapa bilang sih kalau Sejarah itu membosankan atau tidak sepenting Hukum? Sebuah program beasiswa bernama Encompass yang saya lihat di situs Leiden University (dimana program ini mewadahi segala bidang ilmu sosial untuk belajar sejarah kolonial) pun menjadi pilihan yang menggiurkan.
8 dari 11 orang Encompass scholars terpilih untuk angkatan 2014 berpose bersama dengan 2 orang alumni dan Marijke van Wissen, asisten koordinator program
Singkat cerita, di tengah gempuran hujan abu Jogja, saya mengirimkan berkas via email ke koordinator Encompass di Indonesia yaitu Bapak Bambang Purwanto dari UGM. Bulan April 2014 saya dihubungi untuk proses wawancara. Terus terang saat itu saya amat minder karena saingan saya yang lain berlatarbelakang ilmu Sejarah dan Sosiologi. Proses menanti pengumuman Encompass terus terang terasa menyakitkan karena saya sempat jatuh sakit (saudara Ryjan saksinya) saking gugupnya. Saya adalah mahasiswa SH pertama yang mendaftar ke program ini, dan alhamdulillah juga yang pertama kali melolosinya. Rasanya sungguh ingin terbang ke langit, mengetuk pintu-pintu surga dan menciumi malaikat-malaikat cherubim (karubiyyun) satu per satu! Setelah meminta izin kepada Dekan dan boss saya di kampus, tawaran untuk S2 di Erasmus saya undur ke tahun 2015 agar dapat fokus dengan program Cosmopolis (Encompass) di Universiteit Leiden selama setahun. Subhanallah, benar kata peribahasa itu: sekali mendayung dua-tiga pulau bisa terlampaui!

 Apa kira-kira hikmah menarik dari kejutan-kejutan di tengah tahun 2014 ini?

Jangan pernah meremehkan cita-citamu sendiri! Mungkin kemarin dan hari ini tidak, tapi di masa depan akan ada banyak jalan yang terbuka jika niatmu benar-benar tulus dan tekadmu benar-benar kuat. Hargai setiap pilihan yang ada, dan jangan pernah tinggi hati. Terkadang sesuatu yang besar dan tak masuk akal justru terwujud dari biji kacang polong mini yang dijatuhkan oleh Jack dari saku celana usangnya. Siapa sangka dalam tahun ini saya dapat menerbitkan buku dan belajar Sejarah di Leiden University?

"You have to dream before your dreams can come true."
A.P.J. Abdul Kalam

Friday, July 4, 2014

Maleficent dan Salawati Daud: The Hidden Triumph of Matriarchy?



Alkisah, cerita asli Sleeping Beauty tidak seperti yang didongengkan kepada kita selama ini.  Putri Aurora yang malang dan dikutuk untuk mengalami tidur  panjang bagaikan maut itu sebenarnya ialah korban atas kesalahan masa lalu sang ayah. Maleficent, seorang peri hutan yang tadinya baik hati berubah menjadi jahat demi melampiaskan kekesalannya atas pengkhianatan cinta yang dilakukan oleh sang raja. Akan tetapi di akhir cerita, Maleficent yang terus mengamati Aurora tumbuh berkembang menjadi seorang gadis yang penuh cinta justru memutuskan untuk menarik kembali kutukannya. Tidak hanya itu, ia juga menyelamatkan Aurora dari kejahatan ayahnya sendiri.
 
Demikianlah kira-kira rangkuman atas film “Maleficent” yang dirilis oleh Disney beberapa minggu lalu. Angelina Jolie yang memerankan Maleficent di film ini berhasil membawakan karakter peri hutan yang amat berkuasa namun rapuh dari segi perasaan. Maleficent ditipu oleh seorang pemuda desa yang berambisi untuk menjadi raja. Sayap Maleficent yang indah menjadi korban atas niat jahat lelaki yang ia cintai itu. Sayap Maleficent ini di mata saya sejatinya merupakan simbolisasi dari trofi atau piala kemenangan sebagai bukti kejantanan laki-laki dalam menaklukkan energi alam yang dianggap liar dan tak beradab. Bukan cerita baru, wanita dijajah pria itu sudah hadir di tengah-tengah dunia sejak dulu kala. 
Sentra utama dongeng yang ditampilkan dalam wajah baru ini sebenarnya ada pada sisi si karakter utama: Maleficent. Maleficent, tidak seperti yang diyakini oleh banyak orang selama ini, tidak berniat untuk mencelakai Aurora hanya karena dirinya tidak diundang ke jamuan makan pembaptisan sang putri. Maleficent di sini merupakan simbolisasi dari perempuan yang terluka, dipaksa untuk tunduk pada dunia patriarki yang tidak mengharapkan figur perempuan untuk tampil di tatanan sosial masyarakat. Perempuan harus didomestikasi, dalam film ini disimbolkan melalui “pengebirian” sayap indah Maleficent.
Angelina Jolie sebagai Maleficent
Ada kisah menarik tentang sosok perempuan yang “dikebiri” sayapnya oleh Orde Baru dan diantagoniskan, persis seperti Maleficent ini. Namanya Salawati Daud. Jika anda tanya siapa dia hari ini, hampir seluruh suara akan langsung mengarah kepada satu kata “PKI!” atau “Gerwani!”. Ya, Salawati Daud memang merupakan seorang aktifis PKI di era 50-an. Ia bahkan turut serta dalam embrio yang kelak akan melahirkan perkumpulan Gerwani bersama Umi Sardjono. Pasca peristiwa G.30/S meletus, Salawati Daud yang saat itu menjadi anggota DPR digelandang oleh tentara keluar gedung parlemen untuk kemudian dijebloskan ke Penjara Bukit Duri. Sejak saat itu nama Salawati Daud bagaikan sebuah nista. Ia dihapus dari dokumen-dokumen sejarah dan dilupakan perannya sebagai tokoh awal pemberdayaan wanita di republik ini.

Salawati Daud ialah seorang perempuan Bugis dari Sulawesi Selatan. Kebudayaan Bugisnya mengajarkan Salawati untuk menjadi seorang perempuan yang tangguh, mitra setara lelaki yang sepadan, bukan sekedar pelengkap hidup semata. Sudah mengalir di dalam kultur Sulawesi Selatannya bahwa perempuan seperti halnya laki-laki bebas untuk mengekspresikan opini di hadapan publik. Sejak tahun 1930 ia aktif menentang kekuasaan kolonial Belanda di tanah air. Ia yang juga anggota Perserikatan Celebes bersama dengan Nadjamoeddin Daeng Malewa, Lindoe Marsajit, Th. Lengkong dan Nyonya Lumenta mendirikan Perhimpunan Perguruan Rakyat Selebes (PPRS) dengan tujuan memajukan pendidikan bagi masyarakat pribumi. Tercatat, Salawati juga merupakan seorang pionir perlawanan perempuan di bidang pers, ia mendirikan majalah Wanita pada tahun 1945 serta menjadi direksi majalah Bersatu yang saat itu adalah bacaan laris

Mental baja Salawati yang senantiasa menuntut keadilan bergejolak ketika pasukan NICA memasuki tanah air pasca kemerdekaan. Ia mengobarkan semangat gerilya dengan berkeliling daerah di Sulawesi Selatan serta memimpin sendiri perlawanan ke sebuah tangsi polisi di Masamba (saat ini ibukota Kabupaten Luwu Utara). Salah satu prestasi terbesar Salawati ialah saat ia ditunjuk sebagai Walikota pertama kota Makassar di tahun 1949. Dengan demikian, Salawati merupakan walikota perempuan pertama di Indonesia. Salawati Daud juga seorang tokoh mediator yang berusaha meredam ambisi Kahar Muzakkar saat hendak menggulingkan pemerintah Indonesia dengan gerakan DI/TII-nya. Suaminya yang seorang pejabat pemerintah di Maros amatlah mendukung aktifitas-aktifitas sang istri.

Pada tahun 1955, ia melanjutkan perjuangannya menyuarakan hak-hak sipil wanita ke Senayan dengan menjadi anggota DPR. Sayangnya, berbeda dengan Opu Daeng Risaju, Andi Depu dan Emmy Saelan yang menerima penghargaan dari rakyat Sulawesi Selatan sebagai pejuang-pejuang wanita, nama Salawati Daud tenggelam dalam dongeng-dongeng yang dihembuskan oleh pemerintah akan kejahatan ideologi komunisme di masa Orde Lama. Persis seperti Maleficent. Kita hanya mengenangnya dari logo Palu dan Arit yang dicitrakan jahat seperti iblis. Ia dikebiri oleh dunia lelaki Orde Baru, tidak hanya didomestikasi namun juga didemonisasi.
Satu hal lagi pelajaran moral yang saya dapat dari film Maleficent adalah: kebenaran, sebagaimana pula kejahatan, memiliki dua sisi. Terkadang kita terlalu awam untuk lekas menjatuhkan putusan “ini benar” atau “ini salah”. Ada banyak kisah yang melatari kenyataan mengapa sebuah peristiwa dapat terjadi. Kisah-kisah dan dongeng-dongengan lama mungkin perlu kita tilik ulang kembali. Siapa tahu ada Maleficent-Maleficent dan Salawati-Salawati lainnya yang terselip kepahitan zaman di antara belenggu-belenggu perjuangan. Malang, sebagai manusia kita cenderung bermain Tuhan. Kita tak dapat menerima ketakbersalahan seseorang, namun anehnya mengumbar-umbar ketarbersalahan diri kita sendiri meski telah terbukti kalah.

Selamat berakhir pekan, selamat menunaikan ibadah puasa. Jangan lupa menggunakan hak pilih anda dengan bijaksana di TPS terdekat tanggal 9 Juli 2014.

Yogyakarta,
5 Juli 2014

Thursday, June 5, 2014

15 Jam di Tana Toraja (Part I)


Backpackeran ke Toraja akhirnya terwujud juga. Kali ini saya harus berterima kasih kepada sahabat saya, Zein Patradinata yang jauh-jauh datang dari bumi kraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk mengajak melihat keunikan alam serta kebudayaan Tana Toraja. Perjalanan singkat kami ini meninggalkan seribu kenangan yang menyenangkan!

Saya pertama kali mengunjungi Toraja ketika berusia 16 tahun. Saat itu saya diajak oleh teman SMP yang asli Toraja untuk melihat kampung halamannya di kaki Gunung Sesean. Pada kunjungan pertama tersebut, saya tidak mengunjungi obyek-obyek wisata yang tersohor di buku-buku panduan turisme Toraja, melainkan hanya menikmati pemandangan alam yang luarbiasa cantik serta menghabiskan waktu lebih banyak dengan kontak sosial bersama masyarakat sekitar. Saya memberanikan diri mencoba arak serta makan daging kerbau, juga naik ke atas tongkonan dan berjuang menghadapi malam demi malam yang penuh serangan nyamuk. 

Kali kedua saya ke Toraja ialah saat gubernur Syahrul Yasin Limpo meresmikan pembukaan program “Lovely December 2008”, yaitu bulan festival di kota Rantepao yang kemudian dirayakan setiap tahunnya. Saat itu saya nebeng dengan keluarganya Diku yang kebetulan diundang oleh Pak Gubernur. Kami tinggal di hotel mewah bernama Toraja Heritage Hotel yang lokasinya berada di puncak gunung. Esok paginya (26 Desember) kami disuguhi oleh beragam tari-tarian Toraja serta prosesi mappadendang alias menumbuk padi dengan lesung yang menghasilkan irama bak hentakan gendang di sebuah lapangan terbuka.

Ke Toraja yang ketiga kalinya ini, saya bersama tiga orang kawan yang tiga-tiganya masih perawan (baca: baru pertama kali ke sana). Awalnya kami bertiga berencana untuk menginap di sana. Berangkat hari jumat malam dan turun ke Makassar pada hari minggu malam. Namun setelah 1 hingga 1001 macam pertimbangan, maka kami pun memutuskan untuk membeli tiket berangkat ke Toraja jumat malam (30 Mei 2014) dan kepulangan sabtu malam (31 Mei 2014). Bermodalkan niat nekat plus ke-soktahu-an untuk menjelajahi Toraja dengan motor sewaan, kami berangkat menaiki Bus Litha (tarif AC VIP = Rp 120.000,00) dari polnya di samping SPN Batua, tepatnya pukul 21.00.

Kami tiba sekitar pukul 06.00 pagi di pol Litha Pasar Rantepao, Kab. Tana Toraja. Masih setengah sadar, sambil membawa tas dan perbekalan lainnya kami berjalan terseok-seok menuju ke masjid terdekat yang seingat saya ada di Pasar Rantepao, untuk numpang mandi dan sembahyang pagi. Benar, masjid berwarna pink dengan corak Toraja yang kental (adaptasi tongkonan dan kubah berwarna hitam-emas) masih berdiri tegar di tempatnya yang dulu. Sayangnya rencana kami terancam gagal karena masjid tersebut dikunci! Aduh, kebingungan lah kami karena tak tahu kemana lagi dapat menikmati segarnya air Toraja yang dingin serta tempat untuk sekedar berteduh mengumpulkan nyawa. 
Kami dengan berani memutuskan untuk menghadapi medan yang asing itu dengan terus berjalan untuk menemukan restoran (sebagian sudah lapar dan sebagian lagi kebelet nyetor pagi). Di tengah ketidakpastian bagai menunggu pengumuman Ujian Akhir Nasional, mendadak sebuah mobil tua mendekati kami. Ya, dialah Pak Ela! Pak Ela si guide yang menawarkan jasanya di depan pol Litha Pasar Rantepao namun kami tolak karena kepede-an ingin menyewa motor saja keliling Toraja Selatan. Pak Ela ternyata menemukan kami yang malang ini dan menawarkan jasa sebesar Rp 350.000,00 keliling Toraja Selatan seharian, sudah termasuk bensin dan makan beliau. Setelah dipikir-pikir, untuk kami berempat itu sebenarnya tidak terlalu mahal. Maka tschuss, kami sepakat untuk menerima jasa Pak Ela. Dengan mobil tua itu dibawanya kami menuju tempat makan, istirahat, buang air, dan bersih-bersih yang paling layak: Restoran Riman di Jalan Andi Mappanyukki, Pasar Rantepao.

Restoran Riman toiletnya bersih dan akses airnya lancar. Kami diizinkan untuk mandi saat menunggu pesanan tiba. Harga makanannya sedikit mahal, di atas standar kantong mahasiswa (*nasi campur = 30.000,00 dan jus jeruk = 10.000,00), namun harus saya akui bahwa rasanya tergolong enak. Setelah bahagia karena berhasil memulihkan diri dari kotornya jasmani serta letihnya nurani, kami pun berangkat. Obyek wisata tujuan pertama kami ialah Desa Adat Ketekesu. Ketekesu terletak sekitar 5 km dari kota Rantepao. Tiket masuk ke Ketekesu –dan juga ke setiap situs sejarah di Tana Toraja lainnya- sebesar Rp 10.000,00 per kepala. Desa ini amat bersih dan rapi. Letaknya berada di sebelah danau kecil yang asri. Dari kejauhan, kami sudah melonjak-lonjak gembira saat melihat barisan tongkonan di pinggir danau tersebut. Lebih melonjak-lonjak gembira lagi ketika menyaksikan di antara tongkonan tersebut terdapat batu-batu menhir setinggi pinggul orang dewasa berdiri pada jarak-jarak tertentu. Sungguh, cantik sekali!

Di belakang barisan tongkonan Ketekesu, terdapat jalan setapak kecil menuju ke sebuah tebing yang cukup tinggi. Tebing ini terletak di antara bentangan sawah dan hutan. Di tebing-tebing tersebut kami menyaksikan banyak sekali erong (*peti kubur yang bentuknya seperti perahu) dan ratusan tengkorak. Tebing tersebut merupakan situs pemakaman kuno Toraja. Selain itu terdapat pula pata’ne atau rumah kubur yang di depannya terdapat tau-tau alias boneka kayu yang bentuknya menyerupai almarhum. Agak serem sih, namun kami juga excited karena akhirnya dapat menyaksikan keunikan Toraja ini secara langsung. Kami menghabiskan waktu selama kurang-lebih 1 jam di Ketekesu. Pak Ela terlihat agak sedikit tergesa-gesa karena ingin membawa kami ke desa terdekat untuk menyaksikan prosesi Rambu Soloq alias pesta kematian. Rambu Soloq? Wah, betapa beruntungnya kami! Tidak setiap hari lho kamu bisa datang ke Toraja dan menyaksikan ritus langka yang jadi ciri khas masyarakat Tana Toraja ini!

Selfie dengan Tongkonan di Ketekesu
Saat tiba di lokasi Rambu Soloq, kami berjalan malu-malu masuk ke arena yang dijadikan sebagai laga “genosida kerbau”. Seorang ibu berjilbab hitam dan bersarung Toraja tiba-tiba datang menghampiri kami, dengan manisnya menawarkan apakah kami ingin menyaksikan prosesi tersebut dari jarak dekat. Ternyata sang ibu adalah cucu dari almarhumah nenek yang tengah dipestakan tersebut. To my surprise, she is a genuine muslim. Padahal selama tinggal di Makassar seluruh teman saya yang bersuku Toraja hampir bisa dipastikan pemeluk agama Katolik atau Protestan. Akan tetapi ternyata agama Islam pun telah dianut oleh banyak orang Toraja, bahkan hingga di pelosok pegunungan Rantepao ini. Sang ibu menyuruh kami berempat untuk mengikutinya. Dengan patuh kami menurut, berjalan menembus kerumunan masyarakat biasa, melewati tongkonan induk, hingga ke rumah-rumahan bambu yang khusus dibangun untuk keluarga dekat. Astaga, betapa beruntungnya kami dapat tempat VIP untuk menyaksikan Rambu Soloq sedekat ini! Meskipun pada detik-detik selanjutnya wajah kami berubah pucat menyaksikan 24 kerbau hitam dibantai selama prosesi tersebut, kami tetap bersyukur serta berterima kasih kepada sang ibu yang telah dengan baik hati mengizinkan kami menjadi bagian dari keriuhan pesta adat tersebut.

Pesta Kerbau pada perayaan Rambu Soloq
Dari perayaan Rambu Soloq, kami dibawa Pak Ela menuju ke Desa Karuaya. Sumpah, I must say that the scenery in this village is among the bestest view i’ve ever seen in my life! Desa Karuaya tidak termasuk di dalam daftar tempat pariwisata mainstream yang biasa diumbar-umbar untuk turis. Pak Ela sengaja mengajak kami ke tempat ini karena tahu kami tidak sedang mencari tempat wisata belaka. Desa Karuaya adalah pilihan yang tepat. 

Tongkonan warganya masih asli, belum dimodifikasi serta penduduknya pun masih hidup dengan amat sederhana. Akses jalanan yang jelek terbayar ketika kami menyaksikan barisan tongkonan di pegunungan serta hamparan sawah menghijau hingga ke kaki langit. Kami diajak untuk singgah ke salah satu tongkonan tua yang masih dianggap orisinil oleh warga sekitar serta befoto dengan seorang nenek-nenek. Dari Karuaya kami terus melaju ke pedalaman menuju ke Desa Kambira. Kambira terkenal dengan obyek wisata baby’s grave atau kuburan bagi bayi yang belum tumbuh giginya. Zaman dahulu, sebelum agama Kristen atau Islam masuk ke Tana Toraja, apabila ada bayi yang belum tumbuh giginya meninggal maka bayi tersebut akan dikuburkan di dalam sebuah pohon di kampung Kambira ini

Pohon yang dipilih pun tak sembarangan. Sebuah pohon bernama tarraq yang banyak getah putihnya dianggap suci untuk menerima jasad bayi-bayi tersebut. Getah pohon tarraq dianggap cocok sebagai pengganti air susu ibu, agar roh bayi-bayi tersebut dapat terus hidup beriringan dengan pertumbuhan sang pohon. Dari pohon Kambira yang beratmosfir mistis kami dibawa ke tongkonan keluarga juru kunci pohon (yang saya lupa namanya) untuk dijelaskan filosofi ruang demi ruang serta hiasan ukirnya. Setelah itu kami juga diajak ke rumah almarhum tantenya di sebelah tongkonan tersebut. Sang tante telah meninggal sejak setahun yang lalu namun jasadnya masih disimpan di dalam peti mati pada sebuah kamar di rumahnya. Untuk pertama kalinya kami mendapatkan akses langsung melihat mumi Toraja yang terkenal itu! (*meskipun mumi yang ini hasil formalin sih, sebab di Toraja modern sekarang sudah tidak digunakan lagi ilmu-ilmu untuk membangkitkan mayat maupun memumikan mayat).

Anggota geng backpacker saya kali ini: Zein, Aiyalee, saya sendiri, dan Ran
Bersambung...

Monday, May 19, 2014

Cinta Pertamaku

Apa buku yang pertama kali Anda baca dalam hidup ini? Ketika banyak orang yang masih mengingat bagaimana pahit-manisnya cinta pertama, apakah Anda masih mengingat buku pertama Anda?

Bertahun-tahun yang lalu, sewaktu masih duduk di bangku kelas 2 SD Madrasah Ibtidaiyyah An-Nur Kampung Alor, Dili (Timor-Timur) rasa penasaran telah menggerakkan saya untuk mengambil sebuah buku tebal dari lemari putih Bapak di ruang TV. Buku itu berjudul Ihya’ Ulumuddin karangan Imam Al Ghazali. Saat itu saya baru saja lancar membaca, sudah dapat memahami kalimat-kalimat yang sedikit panjang. Mungkin karena jenuh dengan buku bergambar dan komik (Doraemon Petualangan di Dunia Mimpi, Sailor Moon seri yang berwarna dan Dragon Pigmario merupakan manga-manga pertama saya) Ihya’ Ulumuddin pun menjadi buku pertama yang saya jadikan latihan “membaca serius”.

Ternyata kegiatan ini diketahui dan didukung oleh Bapak. Tidak hanya mengizinkan untuk membaca Ihya’ Ulumuddin, ia bahkan menunjukkan sebuah buku tebal berjudul Sejarah Muhammad karya Muhammad Husain Haikal. Buku biografi tentang Nabi Muhammad ini amat terkenal karena memposisikan beliau sebagai seorang manusia dengan pandangan yang obyektif dan jalur pencitraan yang lepas dari nuansa religius. Buku itu menarik sekali, dan terus terang merupakan perjumpaan pertama saya dengan Nabi Muhammad melalui jalur tulisan (sebelumnya saya hanya mendengar kisah-kisah beliau melalui tradisi lisan yang diteruskan oleh guru ngaji serta guru agama di madrasah ibtidaiyyah). Membaca langsung mengenai Nabi Muhammad dalam figurnya sebagai seorang lelaki, suami, dan ayah dari anak-anaknya membuat saya dekat dengan beliau. Bahkan imaji terhadap sosok beliau sebagai manusia biasa jauh menempel lebih kuat ketimbang imaji manusia suci yang disodor-sodorkan oleh guru-guru agama.

Anyway, novel  pertama yang saya baca ialah Goosebumps berjudul Mesin Tik Hantu. Meskipun bukan merupakan serial Goosebumps yang paling oke, novel ini tetap punya kenangan istimewa di dalam kehidupan saya, karena inilah untuk pertama kalinya saya bisa baca buku ‘keren’. Saat berusia 7 tahun, Goosebumps sedang booming-boomingnya. Booming ini juga menjangkiti kedua orang kakak saya. Akan tetapi karena dianggap masih terlalu kecil untuk memahami ceritanya yang ‘remaja’ maka saya hanya diperbolehkan untuk membaca komik. Goosebumps membantu memperkaya imajinasi saya. Termasuk novel favorite saya selanjutnya, Harry Potter. Novel Harry Potter pertama yang saya baca ialah jilid keduanya, Harry Potter and the Chamber of Secret. Saat itu kami sekeluarga telah hijrah dari Dili ke kota Lubuk Sikaping, usia saya 10 tahun. Saya pertama kali mengetahui informasi tentang Harry Potter dari newsletter Gramedia Junior yang dikirimkan setiap tiga bulan sekali (dan selalu terlambat seminggu lebih). Keren sekali rasanya ketika membaca resensi Harry Potter. Sayangnya untuk pergi ke Gramedia di kota Padang berarti saya harus naik mobil selama 4 jam melewati jalanan yang berliku-liku di kanan-kiri jurang dan tak jarang membuat orang mabuk kendaraan. Itulah yang kemudian membuat saya amat menghargai Harry Potter serta buku-buku lainnya yang saya beli di Padang. Akses serta derita jarak yang sulit mendorong saya untuk benar-benar mencintai serta mengkaji buku-buku tersebut.
Membaca naskah La Galigo edisi Middelburg. Tidak hanya buku bacaan, saya pun tergila-gila dengan naskah kuno semenjak Lontara Project berdiri tahun 2011 silam.
Hari ini saya bersyukur sekali mendapatkan kemudahan dalam mengakses buku. Entah itu di Makassar apalagi di Yogyakarta. Buku adalah cinta pertama saya, yang sampai sekarang pun masih membuat saya mabuk kepayang. Terkadang dalam 1 minggu saya dapat pergi ke toko buku hingga 2-3 kali. Walau terkadang belum menyelesaikan sebuah buku, saya sudah gatal saja ingin membeli yang lainnya.
Benar adanya pepatah yang mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Ada banyak tempat yang saya datangi hanya melalui buku, dan ada banyak pula tempat yang secara fisik saya kunjungi juga karena pengetahuan di dalam buku. Saya bangga punya hobi membaca. Saya bangga menggemari buku.


Makassar,
20 Mei 2014

Friday, August 23, 2013

Rammang-Rammang, Maros - Sulawesi Selatan: When South China met with the Amazon River

Senin, 12 Agustus 2013.

Liburan Idul Fitri ini saya pulang ke Makassar.
Suatu pagi, saya beserta dengan sahabat-sahabat gaul saya di Makassar: Diku, Rijal, Amel, Sam, Fitt dan Rafika menemukan sepotong "surga tersembunyi" di belantara Maros. Kabupaten yang sebelumnya hanya dikenal karena bandara serta tempat wisata air terjun dan taman kupu-kupu Bantimurungnya ini ternyata menyembunyikan "Cina Selatan dan Sungai Amazon" di pedalamannya.

Malam sebelumnya, saat mengajak teman-teman ke sana -info mengenai tempat wisata ini saya dapat dari sebuah situs backpacker-, saya sudah menginstruksikan mereka untuk mencari tahu mengenai jajaran karst di Maros yang telah diakui oleh UNESCO sebagai World Heritage Site. Jajaran pegunungan karst ini membentang sepanjang 4.700-an hektare, membuatnya sebagai karst kedua terpanjang di dunia setelah karst di Cina Selatan. Saat itu reaksi teman-teman saya adalah seperti ini:

Amel --> "Sudah mi kutanya paceku. Batu-batu begitu ji."
Diku --> "Aaaah... ndak mau ka'! Mau ka' berenang di Bantimurung! Mau ka' berenang!"
Rijal --> "Apa itu kah? Belum pa google ki."

Setelah sekitar 40 menitan kami berkendara dengan mobilnya Amel melewati jalan menuju Bantimurung, lurus hingga kemudian berbelok di jalan masuk menuju tambang semen Bosowa, lalu belok kiri ke Desa Salenrang dan kemudian diarahkan oleh warga menuju ke Dusun Berau tempat situs Rammang-Rammang berada; teman-teman saya itu pun melotot dengan mulut ternganga. Tidak saja kami dapat bertualang dengan sejenis perahu tradisional Bugis-Makassar bernama lepa-lepa (yang kami sewa bertujuh pulang-pergi, ditunggui selama 3 jam, dengan tarif sebesar Rp 200.000,00), kami juga bertemu dengan Daeng Beta, seorang penduduk lokal yang mengarahkan kami menuju gua-gua prasejarah tersembunyi. Gua-gua tersebut berumur lebih tua daripada situs Gua Leang-Leang (juga masih berada di daerah kabupaten Maros) serta pada dindingnya terdapat bekas-bekas telapak tangan dan mata panah purba dari tulang binatang. Sayangnya, beberapa peneliti dari Australia mengambil artefak-artefak bersejarah itu kembali ke negara mereka :/

Singkat kata, jika ingin berpetualang ke tempat baru dengan suasana dan pemandangan ala-ala alam raya luar negeri (Cina Selatan dan Sungai Amazon), nggak usah nabung lama-lama deh. Segera ke Maros, Sulawesi Selatan. Because dude, that place is AWESOME!!!
















Thursday, March 29, 2012

Mahasiswa Makassar Menghadapi Tantangan Zaman

*repost dari note saya di facebook, tiga bulan yang lalu

Siapa yang tidak pernah mendengar nama Makassar? Familiar di telinga mungkin iya, tapi kenal belum tentu. Sebagian masyarakat di Indonesia masih menggunakan nama lama Makassar yaitu "Ujung Pandang" untuk menyebut nama ibukota Provinsi Sulawesi Selatan ini. Makassar juga merupakan nama untuk salah satu suku asli dari empat etnis yang berdiam di provinsi penghasil coklat terbesar di Indonesia itu (yang kemudian membuat negara kita menjadi produsen coklat rangking 3 di dunia). Di zaman pemerintahan Ratu Victoria dan Raja Edward di Inggris dulu nama "Macassar" sempat populer sebagai nama hair conditioner berupa minyak kelapa atau palem yang dicampur dengan aroma-aroma tertentu. Cerita punya cerita, ternyata memang Macassar oil tersebut berasal dari Sulawesi Selatan.




Sekarang, nama Makassar kembali menghiasi media-media cetak maupun elektronik di Indonesia. Pemberitaan Makassar kali ini tidak ada kaitannya dengan kebesaran masa lampau, inovasi-inovasi, atau prestasi yang dicapai oleh salah satu putra daerahnya di ajang-ajang tertentu. Makassar hangat diberitakan karena tingkah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negrinya yang secara brutal melakukan aksi-aksi anarkisme di area kampus. Tawuran, pelukaan dengan senjata, aksi perusakan serta pembakaran terhadap fasilitas umum menciptakan lingkaran cerita negatif yang tak kunjung habis. Mahasiswa seakan-akan telah menanggalkan embel-embel mereka selaku civitas akademika dan merubah kampus menjadi arena pertarungan terbuka. Entah mengapa, mahasiswa yang terlibat aksi tersebut di Makassar bangga atas "perjuangan" yang mereka lakukan.

Ketika penulis menanyakan langsung kepada mahasiswa-mahasiswa yang terlibat di dalam aksi kekerasan, hampir seluruh jawaban bernada sama. Solidaritas. Ya, definisi mereka terhadap solidaritas berpadan dengan istilah "satu rasa". Apabila ada kawannya yang diserang, sontak mereka akan segera menyerang balik. Apabila ada juniornya yang dilukai, sontak mereka akan melukai balik. Begitu seterusnya, menurut mereka harga diri atas status kebersamaan itulah yang mereka jaga. Jika tidak begitu, maka sistem yang sudah dibangun selama bertahun-tahun sejak zaman senior-senior mereka dulu dapat hilang begitu saja. Padahal keberadaan sistem itulah yang menjamin eksisnya tradisi senioritas di kampus.  

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengadili mahasiswa-mahasiswa Makassar yang gemar tawuran. Bagi penulis, kesalahan tidak sepenuhnya ada pada mereka. Akan tetapi, ada sebuah faktor yang selalu luput dari perspektif pers ketika memberitakan kebrutalan mahasiswa-mahasiswa ini di media nasional. Penggambaran terhadap mahasiswa Makassar di mata mereka yang tidak pernah mengenal atau menginjakkan kaki ke Tanah Daeng bagaikan kanvas yang dituangi tinta hitam dengan merata. Generalisasi seperti inilah yang menciptakan prejudice atau stereotipe buruk. Pada kenyataannya, ada banyak mahasiswa asli Makassar yang tidak setuju terhadap aksi-aksi tersebut. Ada banyak suara-suara yang menentang tindak-tindak kekerasan di dalam kehidupan kampus. Sayangnya, sekali ada pemberitaan tentang Makassar, pasti tidak jauh-jauh dari aksi memalukan mahasiswanya yang membakar ban di jalan raya atau menyerang polisi. Ambil contoh prestasi unit kesenian tari dari Universitas Hasanuddin yang meraih juara IV pada Perlombaan Tarian Tradisional Tingkat Internasional di Istanbul, Turki kemarin. Kemenangan tersebut kurang disoroti oleh media, padahal jika prestasi tersebut diraih oleh universitas-universitas lain di pulau Jawa niscaya kisahnya telah diliput dimana-mana.

Ketika daerah-daerah lain di Indonesia sibuk berbenah dari tragedi bencana alam atau disibukkan dengan proyek-proyek pembangunan, di Makassar isu anarkisme mahasiswa masih riuh. Tahun lalu, beberapa perusahaan besar di Indonesia sempat "memberikan teguran" kepada mahasiswa-mahasiswa Makassar agar segera menghentikan kebiasaan mereka tersebut dengan mengeluarkan larangan menerima lulusan dari sebuah universitas negri yang gemar tawuran. Rupanya teguran seperti itu pun tidak mempan. Kebijakan rektorat yang akan memecat mahasiswa yang ikut tawuran pun juga tidak berhasil. Aparat penegak hukum pun dibuat kelimpungan oleh mereka.

Dulu, pemuda-pemuda Bugis-Makassar pernah mencapai puncak kebudayaan maritim melalui evolusi perahu tradisional ciptaan mereka. Perahu pinisi  pada masa lalu memamerkan kejayaannya di pantai-pantai Semenanjung Malaya, Australia Utara, Madagaskar, pesisir Jawa, Kalimantan, Sumatra, dan Indonesia bagian timur. Kecakapan dan pengenalan pemuda Bugis-Makassar terhadap perahu diperkirakan terjadi sebelum abad ke-10 dengan terdapatnya relief perahu layar padewakkang danlepa-lepa serta rumah panggung Bugis-Makassar di Candi Borobudur. Di periode pembebasan Irian Barat tahun 60-an, Presiden Soekarno sering berkonsultasi dengan pimpinan pelayaran Bugis di pelabuhan Sunda Kelapa, Muara Baru, dan Tanjung Priok. Beliau mengetahui potensi “armada perahu semut” padewakkang yang bentuknya kecil namun kokoh ini sehingga tahun-tahun itu perajin dari Bulukumba membuat puluhan perahu untuk pendaratan pasukan di Irian Barat.

Tidak inginkah kita mengharumkan nama Makassar seperti di masa lalu? Sudah saatnya bagi mahasiswa Makassar untuk berubah. Tradisi tawuran yang sifatnya primordial itu kini tidak dapat lagi diterima oleh masyarakat luas. Pemerintah di daerah maupun pembuat kebijakan di kampus perlu memikirkan bagaimana caranya mahasiswa dapat disibukkan dengan aktifitas-aktifitas yang mengundang prestasi. Peningkatan mutu ini penting, mengingat persaingan di daerah lain di Indonesia pun semakin lama semakin ketat. Keberanian, semangat untuk tampil, serta energi besar yang menjadi ciri karakter mahasiswa-mahasiswa Makassar hendaknya diarahkan melalui peningkatan kesadaran terhadap kearifan lokal atau organisasi-organisasi kepemudaan. Voluntarisme dapat menjadi pilihan yang tepat bagi mereka yang ingin menunjukkan karya nyata di tengah masyarakat. Menulis, bermusik, atau mengembangkan bakat olahraga secara profesional pun dapat dijadikan alternatif. Ada banyak pilihan untuk menghadapi tantangan zaman, namun semua itu tidak mungkin terwujud tanpa adanya dorongan dari masyarakat, termasuk dari kaum muda lainnya di persada nusantara.

Melalui tulisan ini, penulis berharap agar saudara-saudara mahasiswa di Makassar dapat mengulangi kejayaan masa lalu nenek moyangnya dengan prestasi-prestasi besar. Tugas kita sebagai mahasiswa amatlah simpel: mengisi kemerdekaan yang dulu telah diperjuangkan oleh bapak-bapak bangsa. Penulis juga berharap kepada rekan-rekan mahasiswa lainnya di Indonesia sedia untuk selalu berbagi inspirasi. Kiranya dengan motivasi dari mahasiswa-mahasiswa lainnya, mahasiswa Makassar dapat mengaktifkan peran mereka dengan efektif di tengah komunitas. Masalah yang dihadapi pemuda manapun di Indonesia hari ini adalah masalah kita bersama.

Paentengi sirri'nu! 




Jumat, 18 November 2011
Yogyakarta