Showing posts with label friendship. Show all posts
Showing posts with label friendship. Show all posts

Saturday, November 29, 2014

Di Aachen: Tenggelam dalam Keagungan Charlemagne dan Romantisme Habibie

Habibie, waktu itu usianya 19 tahun. Ia yang baru saja lulus dari sekolah tinggi di Bandung kemudian mendapatkan kesempatan untuk belajar di negeri Belanda. Kala itu, pemuda yang berasal dari kota kecil Pare-Pare ini memilih untuk belajar teknologi penerbangan dan aerospace di Univesity of Delft, Belanda. Sekedar informasi, hingga hari ini TU Delft pun masih terkenal di dunia internasional sebagai universitas teknik terbaik, apalagi untuk bidang hidrologinya. Maklum, Belanda memang tak terkalahkan dalam hal bendung-membendung dan kelola-mengelola air. Nah, Habibie seharusnya dapat melanjutkan studinya dengan aman dan nyaman di tempat yang memang didedikasikan khusus untuk penikmat angka dan ilmu pasti itu. Akan tetapi, pada tahun 1955 ia memutuskan untuk pindah studi ke RWTH di Aachen, Jerman karena saat itu kondisi politik Indonesia dan Belanda kembali memanas (perihal perebutan Irian Barat). Belanda pasti menyesal jika beberapa tahun kemudian mereka menyadari telah kehilangan salah seorang pria paling jenius abad ini. Di Aachen, Jerman yang saat itu mulai merangkak bangkit dari puing-puing kehancurannya pasca Perang Dunia II, Habibie memulai perjalanan besarnya sebagai seorang ilmuwan, tidak hanya bagi bangsa Indonesia namun juga bagi mancanegara.

Pertanyaannya, mengapa Aachen?

Dua minggu lalu saya mengajak teman-teman kuliah di Leiden University untuk membeli dagkaart. Dagkaart merupakan sebuah kartu sakti dimana dengan kartu seharga 17,50 euro itu anda mendapatkan akses bus, kereta maupun tram untuk keliling Belanda selama 24 jam. Saya mengajak mereka untuk jalan-jalan ke Maastricht, sebuah kota cantik di ujung Belanda paling selatan yang berbatasan dengan Belgia dan Jerman. Dari Maastricht, kami akan melanjutkan perjalanan ke kota Aachen yang jaraknya hanya 50 menit dengan bus. Hujan dingin merintik, membasahi bumi Belanda saat kami mulai mengayuh sepeda dari apartemen kami di Smaragdlaan. Kami berangkat subuh buta, saat matahari pun masih enggan untuk menampakkan wajahnya. Kereta kami melaju kencang dari stasiun Leiden Centraal, singgah di Utrecht Centraal untuk berganti arah, kemudian tanpa ampun mengejar waktu ke kota Maastricht. Rombongan kami terdiri atas 2 orang Indonesia, seorang Thailand, seorang Sri Lanka, dua orang India, dan seorang Bangladesh. Kami bunuh waktu dengan berbincang panjang lebar mengenai sejarah, politik, ekonomi, budaya, hingga kehidupan artis dari jazirah-jazirah tempat kami masing-masing berasal. Ada seorang ibu-ibu keturunan Maluku yang menyimak cerita kami dengan seksama di bangku belakang. Ketika akhirnya kereta berhenti, ia menyapa saya dan berkata dengan Bahasa Indonesia yang lancar: "Terima kasih ya, saya dengar terus cerita kalian dan jadi banyak tahu keadaan di Indonesia." Wah, meskipun lahir dan besar di Belanda, si ibu tetap diwarisi kemampuan Bahasa Indonesia yang baik.

Di tengah Centrum Maastricht

Singkat cerita, kami tiba di tempat tujuan. Maastricht adalah sebuah kota tua, beraroma Burgundy, berjalan lebar, Katolik, dan sangat cantik. Ia bagaikan seorang putri bertubuh sempurna yang mengenakan mahkota tiara berwarna putih. Maastricht begitu anggun. Nah, setelah puas melihat-lihat centrum serta gereja-gereja paling tua di Belanda, kami meneruskan perjalanan kami menembus gerimis. Kami melintasi keindahan alam yang disembunyikan tengkuk Belanda sebelah timur, menyaksikan betapa indahnya bukit-bukit kecil saling susul-menyusul membentuk punuk-punuk hijau nan (meskipun tidak sesubur areal persawahan di tanah air) menyegarkan pandangan. Kami yang terlena oleh keindahan alam di perbatasan kedua negara baru sadar bahwa Belanda sudah lewat saat toko-toko di sepanjang jalan mulai banyak yang menggunakan tanda baca umlaut. Ah, Jerman! Akhirnya. Setelah sekian tahun hanya mendengar dan membaca tentangnya, setelah 3 tahun belajar bahasanya di SMA Neg. 05 Makassar, saya diberi kesempatan oleh-Nya untuk menginjak langsung tanah dan menghirup segar udara negerinya.

Tibalah kami akhirnya di bumi Aachen. Masih disambut oleh rintik hujan, kami berjalan menuju ke Zentrum alias pusat kota. Di sana ada sebuah katedral besar berkubah yang membuat bulu roma saya berdiri. Katedral itu, yang lazim disebut "Dom" atau "Kaiserdom" oleh warga Aachen, ialah monumen keagungan Charlemagne, Kaisar Kerajaan Romawi Suci (Holy Roman Empire) pertama. Istananya, yang kini telah disulap menjadi balaikota Aachen terletak tepat di seberang Dom. Ternganga saya ketika sekali lagi dikejutkan oleh fakta bahwa dulu Aachen, kota kecil di pinggiran barat Belanda ini dulunya adalah ibukota Kekaisaran Romawi Suci. Charlemagne membangkitkan kembali Eropa pasca kehancuran Romawi. Ia menyalakan lilin kecil yang menerangi kelamnya abad-abad kegelapan. Charlemagne mendukung gerakan penerjemahan buku-buku Yunani, Latin dan Arab; memerangi suku-suku barbar; menciptakan standar penulisan Latin agar bisa kita nikmati hari ini; serta menjalin hubungan internasional dengan kerajaan-kerajaan lain yang lebih maju. Ia tidak takut untuk meminta ilmu, karena ia yakin kerajaannya takkan dapat menjadi besar tanpa hal itu. Tercatat oleh sejarah, ia bersahabat dengan Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad. Sang khalifah mengiriminya seekor gajah albino bernama Abul Abbas dan sebuah jam mekanik bertenaga air sebagai hadiah diplomatik. Belulang gajah itu masih bisa kita lihat hari ini di kota Luneburg Heath, Jerman.
Kaiserdom, Aachen

Tergetar hati ini membayangkan bagaimana seluruh Eropa saat itu dikontrol oleh sang kaisar dari tempat saya menegakkan tungkai kaki sekarang. Hujan masih belum berhenti turun. Kami jelas butuh tempat berteduh. Kami lalu masuk ke dalam Dom, menikmati keindahan dari abad ke-8 Masehi yang terperangkap di antara tiang-tiang dan kubah agungnya. Pelengkung-pelengkung Dom sepintas mengingatkan saya akan arsitektur La Mezquita Cordova (meskipun belum pernah ke Spanyol sih) di Andalusia. Jujur, tempat ini mirip mesjid (tentu saja minus lilin dan ikonografinya). Di tempat ini tersimpan jasad sang raja serta takhtanya yang terlihat amat sederhana. Charlemagne adalah seorang panglima militer yang amat relijius, mencintai ilmu pengetahuan dan juga kebudayaan. Hal itu terefleksikan dengan jelas bahkan hingga hari ini, di kota yang amat ia cintai ini, Aachen.

Interior Kaiserdom
Setelah puas dibuat terlena oleh sejarah Abad Pertengahan, imajinasi saya kembali melayang ke sosok presiden ketiga di Indonesia. Habibie muda bersekolah di sini dari tahun 1955 sampai 1965 dimana ia mendapatkan diploma hingga gelar doktornya. Ia pernah jatuh sakit hingga memaksanya untuk kembali ke tanah air. Di tanah air ia bertemu dengan Ainun, mutiara hati yang ternyata sudah disiapkan oleh-Nya untuk sang ilmuwan muda. Ketika keduanya menikah, komitmen untuk menjalani jatuh-bangun kehidupan bersama pun dimulai. Habibie kembali ke Jerman tahun 1963 setelah ia selesai dengan cuti sakitnya. Kali ini ia tidak sendirian di Aachen. Ia membawa semangat dan cita-cita baru, karena ada Ainun di sisinya.

Hujan musim dingin masih saja tak mau berhenti. Saya menggigil menahan udara yang menggigit-gigit ganas, tapi saya tetap tak mampu menahan bibir ini untuk mengulas senyum. Sambil menyusuri jalanan berbatu Aachen yang fondasinya ditanam oleh Charlemagne, saya membayangkan saat-saat ketika Habibie dan Ainun berjalan di setapak yang sama, di tengah guyuran hujan. Mereka berdua mungkin berbagi payung sambil saling merapatkan tubuh. Cekikikan bersama karena saling melontar guyon. Maklum, dua-duanya masih sama-sama muda. Jiwanya penuh keinginan untuk bertualang, kepalanya penuh dijejali oleh ide-ide besar, hatinya penuh dengan kasih sayang. Seketika, kota ini bagi saya tak lagi hanya tentang keagungan Charlemagne atau tempat akademisi kondang RWTH berkumpul. Sore gerimis itu, Aachen berubah menjadi sebuah kota kecil yang di udaranya penuh dengan cinta.


Leiden,
29 November 2014
17:10  

Tuesday, June 10, 2014

15 Jam di Tana Toraja (Part II)

Okay, rirakkai adaE risittaki pauE alias singkat cerita, setelah mendengarkan banyak penjelasan panjang lebar dari sang guide baby’s grave di Kambira kami pun melanjutkan perjalanan ke dusun Tampangallo. Tampangallo dalam Bahasa Toraja berarti “Matahari yang Gagah”, sebuah  istilah untuk matahari yang bersinar terang dengan indahnya. Di Tampangallo terdapat sebuah gua yang cukup tersembunyi letaknya, di tepi sebuah sungai dan tebing. Nah, di gua inilah kami menemukan banyak sekali erong, tumpukan tengkorak yang usianya sudah ratusan tahun serta boneka tau-tau. Atmosfer gua yang gelap dan lembap memperkaya kesan mistis yang ada. Setelah puas mengambil banyak foto dan video, kami lalu dibawa ke situs King’s Grave yang lokasinya tidak begitu jauh dari Tampangallo. Kedua situs tersebut berada di dalam wilayah kecamatan Sangalla.



Pose pantai yang salah diterapkan di hadapan tebing Para Raja ini.
Sangalla dulunya merupakan sebuah kerajaan. Kerajaan ini diawali oleh turunnya sesosok manusia sakti dari langit yang bernama Tomanurun Sandabilik. Di sebuah bukit bernama Buntu Kalandoq, terdapat tebing yang menjadi pemakaman raja-raja Sangalla keturunan Sandabilik. Dari sekian banyak lubang yang dibuat untuk erong jenazah serta tau-taunya, terdapat sebuah figur tau-tau yang unik. Sebongkah patung kayu tau-tau yang meniru sosok seorang wanita berpakaian adat lengkap terlihat sedang mengacungkan keris dengan gagahnya. Tau-tau ini konon pernah hilang beberapa tahun yang lalu karena dicuri oleh penjarah makam dan dijual di Bali. Syukurnya, bekerjasama dengan polisi akhirnya tau-tau tersebut dapat ditemukan dan dikembalikan ke tempat asalnya. Wuih, jadi ingat kasus pencurian hiasan kodok dari perunggu yang jadi bagian dari gong nekara di Pulau Selayar beberapa tahun lalu. Kodok perunggu tersebut dilas hingga copot dari nekara kemudian dilarikan oleh pihak bertanggungjawab ke Jakarta, untuk selanjutnya dijual ke lelang Christie di Singapore. Untuk saja aksi tidak bertanggungjawab tersebut berhasil digagalkan, dan si kodok perunggu kembali ke asalnya di Selayar.

Setelah puas berfoto di tebing King’s Grave yang selintas mirip Petra itu, kami lalu dibawa makan siang ke sebuah restoran di tepi sawah langganan Pak Ela. Restoran ini bersih dan rapi. Saat kami tiba di sana, ada beberapa orang wisatawan asing yang juga tengah menikmati makan siang. Sepertinya tempat ini cukup terkenal di antara bule yang sedang berkeliling Sangalla (sayang saya lupa nama restorannya apa). Harga makanannya tidak jauh beda dengan makanan yang disajikan di Riman. Saya memesan nasi, fu yung hai berporsi besar dan jus jeruk yang total semuanya Rp 40.000,00. Setelah makan siang, kami dibawa melintas Pak Ela ke daerah perkuburan Lemo, namun kami tidak masuk ke dalam karena Ran sudah cukup puas melihat banyak sekali tengkorak hari ini. Alhasil kami pun hanya berfoto-foto di pinggir jurang menyaksikan hamparan sawah hijau dan tebing-tebing berlobang yang diisi oleh erong-erong dan tau-tau.

Dari Lemo kami menyusur turun hingga ke lembah Sungai Saddang. Apabila peradaban besar Mesir berawal dari Sungai Nil dan peradaban besar Mesopotamia berasal dari Sungai Eufrat, maka peradaban besar Toraja (yang kelak menjadi cikal-bakal peradaban suku-suku bangsa lainnya di Sulawesi Selatan) berasal dari Sungai Saddang. Saya dan Aiyalee dipenuhi semangat ketika melihat aliran sungai yang mashyur itu. Sungai Saddang mengalir dari daerah Ulu Saddang, Mamasa (Sulawesi Barat) hingga membelah Tana Toraja di selatan. Sungai ini berperan sebagai sarana transportasi warga, sumber air dan makanan, pembangkit listrik serta keperluan sehari-hari lainnya. Sungai Saddang yang sejak ribuan tahun lalu mengaliri Tana Toraja bagaikan nadi yang menggenjot kehidupan masyarakat di sekitarnya. Kami diajak untuk melihat-lihat keindahan Sungai Saddang dari atas sebuah bukit. Tidak hanya keindahan Sungai Saddang yang kami temukan sore itu. Kami pun menyaksikan kegagahan Gunung Bua dikejauhan dengan langit biru nan bersih serta hamparan sawah-sawah warga Sangalla sebagai latarnya. Terakhir, sebelum memutuskan untuk berisitrahat dan mempersiapkan diri pulang ke Makassar, kami dibawa Pak Ela ke sebuah desa dengan jejeran tongkonan tua yang letaknya berada di atas bukit. One of the best view ever! Dari sini kami dapat mengambil foto barisan tongkonan, langit Toraja nan bersih, Gunung Bua serta persawahan yang dialiri oleh air dari Sungai Saddang. What can I expect more than this?
Pak Ela yang ramah dan mobil sewaan kami. Bagi yang berniat ke Toraja,
silakan hubungi beliau di 081342005003
Menjelang pukul 17.00 kami kembali ke Rantepao. Setelah berterima kasih kepada Pak Ela, kami berjalan ke masjid di dekat pasar. Alhamdulillah, kali ini masjid itu terbuka dan menerima kami. Setelah tidur-tiduran sebentar dan menunaikan ibadah sholat maghrib, kami lalu berjalan ke Pasar Rantepao untuk mencari tempat makan malam. Mata kami tertuju kepada sebuah warung makan bernama “Rocket Fried Chicken”. Kami memutuskan untuk mencoba KFC-nya Rantepao itu dengan sedikit perasaan geli. Rasanya lumayan, harganya Rp 15.000,00 sudah termasuk minuman (bisa pilih es teh atau soda). Kami menghabiskan waktu dengan mengobrol dan tertawa-tawa ceria hingga waktu menunjukkan pukul 20.30. Bus Litha tujuan ke Makassar tiba di pol Pasar Rantepao pukul 21.00. Jarak RFC ke pol Litha hanya sekitar 3 menit jalan kaki sehingga kami tidak terlalu terburu-buru.

Demikianlah petualangan singkat kami di Tana Toraja: hanya 15 jam! Agak sayang sebenarnya karena kami melewatkan “kampung di atas awan” tempat banyak batu megalith raksasa berdiri dengan perkasanya di Batutumonga. Namun kami tidak menyesali itu, karena berarti Toraja masih harus kami kunjungi lagi untuk dieksplorasi hingga ke ujung-ujungnya. Wisata ke Toraja sebenarnya berbeda dengan kunjungan ke tempat-tempat lainnya di Nusantara. Di sini kami melihat dan menziarahi kematian. Kematian bukanlah sesuatu yang jauh atau tabu untuk dibicarakan. Kearifan lokal Toraja justru memaknai kematian sebagai sebuah keniscayaan sebagai mahluk ciptaan Tuhan, sehingga kejadiannya pun patut dirayakan. Terima kasih, Toraja. Negeri orang-orang mati yang masih hidup. Negeri yang bulat sempurna seperti Bulan dan Matahari (Tondok leppongan Bulan tana Matariq Allo).


“Salamaq, iamo di’e mappau-pau mappannassa uru-uruna diang tau di Toraya. Anna diang tau dini, mula-mulanna Ulu Saddang mo naengei pottana. Iamo naoroi tappa Tonipanurung di Langiq. Iamo mappebaine To Kombong di Bura.”
(Kalimat pembukaan Lontaraq Pattapingan yang menjelaskan awal mula leluhur manusia-manusia di Sulawesi Selatan dan Barat yang turun di Toraja)

Monday, January 20, 2014

Delft dan Misteri Mutiara Laut Selatan

Selama 17 hari tinggal di negeri Belanda, saya banyak menjelajahi tempat-tempat yang menarik dan bertemu dengan orang-orang yang tak kalah pula menariknya. Meskipun menghabiskan lebih banyak waktu di kota Leiden, saya menyempatkan diri untuk berkeliling kota-kota lain yang punya ciri khasnya masing-masing seperti Den Haag, Amsterdam, Haarlem, Maastrich, Utrecht, Volendam, Hoorn, Middelburg, dan tentu saja Delft.


Delft? Pernah dengar nama ini sebelumnya? Nama Delft jelas kalah famous dibanding kota-kota besar di Belanda. Delft tidak se-metropolitan Amsterdam, se-modern Rotterdam, maupun se-rame Leiden. Impresi pertama saya ketika tiba di stasiun kereta kota Delft (yang waktu itu sedang direnovasi, sehingga lumayan ribet mencari pintu/tangga keluarnya) adalah: "Gini kali ya 'Klaten atau Pangkep'-nya Belanda". Akan tetapi, ada beberapa faktor yang membuat nama Delft seistimewa Volendam sebagai kotanya turis-turis asing di Belanda.
Jody dan Ucup, dua orang anggota
La Galigo Music Project yang jadi
"penghuni kota Delft"
Delft, sebelumnya pernah saya dengar sebagai tempat peristirahatan terakhir raja-raja Belanda zaman dahulu. Maksudnya, tempat dimana dikuburkannya mereka. Kota ini juga terkenal dengan industri keramik biru. Keramik biru inilah yang kemudian menjadi ikon suvenir Belanda, selain tentunya keju dan bunga tulip. Keramik Delft dengan warna birunya yang khas itu muncul dalam beragam bentuk: ada miniatur kincir angin, sepatu clog, dua anak kecil yang saling berciuman, hingga sapi. Saking terkenalnya keramik Delft ini, sampai-sampai kemanapun saya pergi di Belanda, toko suvenirnya pasti memajang tulisan "Delft Blue Ceramics". Otentisitas serta pamor Delft dalam hal ini memang sudah tidak diragukan. Ibarat kata, tidak afdhol datang ke Belanda sebelum membeli sebongkah keramik biru Delft sebagaimana halnya orang yang datang ke Yogyakarta tanpa membeli oleh-oleh bakpia. 

Bicara tentang Delft, selain keramik birunya saya jadi ingat dengan Azzam Santosa. Azzam adalah seorang putra Indonesia totok yang lahir dan besar di kota ini. Si Azzam sekarang bersekolah di Erasmus University Rotterdam, akan tetapi domisili keluarganya tetap di kota Delft. Saya amat salut kepada pemuda berusia 19 tahun ini karena meskipun jauh dari tanah air ia memiliki rasa nasionalisme yang tinggi serta terus update dengan perkembangan di tanah air. Tidak hanya itu, saat ini ia bahkan menduduki jabatan sebagai Sekretaris di PPI Belanda. Pemuda yang mengidolakan sosok Bung Hatta ini pun terus mengasah kemampuannya berbahasa Indonesia tanpa malu-malu. Mengagumkan! Sayang sekali sewaktu saya dan Ran berkunjung ke Delft untuk menengok Ucup, Jody dan Gendon, Azzam sedang berwisata bersama teman-temannya ke Swedia. 

Oke, lanjut ceritanya ya. Sambil berjalan-jalan di Centrum alias pusat kota Delft yang mirip dengan alun-alun di kota-kota besar di Pulau Jawa, saya bergumam, oh jadi dari kota kecil inilah Azzam tumbuh dan besar. Suasana kotanya yang tenang, arsitekturnya (saya amat menyukai ornamen-ornamen di Nieuwe Kerk dan Stadhuis alias Balaikota) yang tetap menjaga spirit medieval membuat kota klasik ini nyaman dijadikan hunian. Setidaknya, sahabat saya si Ucup sampai bercita-cita untuk tinggal di Delft dan membuka toko kecil di sini, hehehe. Oh ya, hampir di setiap kota yang saya kunjungi di Belanda, stasiun kereta api (Centraal) itu letaknya tidak terlalu jauh dari Centrum. Dan hampir bisa dipastikan di sebelah Centrum pasti ada Stadhuis dan Groete Markt alias pasar, dan juga gereja utama kota tersebut. Unik ya! Konon kota-kota di Indonesia dulunya juga sudah dirancang seperti demikian akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, pembangunan yang tidak teratur membuat tata kota jadi amburadul.
Ran dan Louie, mejeng di sebelah Stadhuis. Di seberang kami tampak Nieuwe Kerk Delft
Anyway. Nah, begitu menginjakkan kaki di toko-toko suvenir yang berserakan di sekeliling Centrum, saya terkejut menyaksikan kartu pos-kartu pos yang dipajang oleh si empunya toko. Lukisan seorang gadis yang mengenakan "surban model Eropa" -dengan wajah menengadah ke arah orang yang melihatnya- menghiasi hampir seluruh kartu pos. Tidak hanya itu, wajah gadis itu pun dilukis pula di atas keramik dengan warna biru yang menjadikannya sebagai salah satu oleh-oleh favorite dari kota Delft.

Saya tercengang, menganga dalam kehampaan selama sekian detik. Lukisan sang gadis seketika membawa ingatan saya mundur kembali ke tahun 2010. Saat itu sedang liburan semester tiga dan saya pulang ke rumah orang tua di Makassar. Di rumah, sambil leyeh-leyeh malas dan berguling-guling manja, saya membuka laptop kakak dan menemukan sebuah film berjudul "Girl with Pearl Earrings". Film keluaran tahun 2003 ini mencatut Scarlet Johansson sebagai pemeran utama wanitanya. Berhubung saya suka dengan film-film yang berbau sejarah maupun kerajaan-kerajaan masa lalu, maka dengan senang hati saya pun menontonnya.

Okay, no-spoiler. Bagi yang belum nonton, monggo ditonton dulu ya hehehe. Kembali ke Delft. Ketika saya bertanya kepada ibu-ibu penjaga toko mengapa lukisan gadis yang berjudul "Girl with Pearl Earrings" (GPE) itu ada dimana-mana di kota ini, sang ibu dengan lugas menunjuk ke seberang jalan dari jendela tokonya.
"Itu rumah Jan Vermeer, di seberang jalan. Vermeer adalah pelukis terkenal asal kota Delft yang membuat lukisan GPE ini." 
Seketika itulah saya terkesiap. Wah gila, saya berada tepat di seberang jalan sebuah tempat yang menjadi latar sejarah dari sebuah film yang pernah saya tonton beberapa tahun yang lalu :D

Lukisan GPE yang diciptakan pada tahun 1665 ini menjadi terkenal selain karena teknik melukis Jan Vermeer yang luarbiasa juga dikarenakan oleh misteri yang tersimpan di dalamnya. Kira-kira mirip dengan misteri yang menyelubungi lukisan Monalisa karya Da Vinci lah. Sampai hari ini para pemerhati seni belum sepakat menentukan siapakah sosok gadis yang dilukis oleh Vermeer. Sebagian ada yang memprediksi sang gadis sebagai istri Vermeer, anak perempuan sulungnya, dan bahkan salah seorang pembantu mudanya (lihat http://www.essentialvermeer.com/catalogue/girl_with_a_pearl_earring.html). Ketika para sejarawan seni itu sibuk membahas sosok yang menjadi model lukisan hingga maksud dari ekspresi sang gadis yang kelihatannya ambigu itu, saya justru tertarik kepada anting-anting mutiara yang ia kenakan.
Het Meisje met Parel alias Girl with Pearl Earrings
Anting-anting mutiara di lukisan GPE merupakan salah satu mutiara terbesar yang pernah saya lihat. Mutiara ini berbentuk seperti tetesan air (berarti dalam proses pembuatannya menjadi sebuah anting-anting bentuk aslinya telah sedikit dipoles) dan berwarna putih keperak-perakan. Ketika banyak orang yang skeptis bahwa mutiara tersebut benar-benar nyata (mereka menganggap bahwa Vermeer berimajinasi dalam menggambarkan anting mutiara tersebut) saya justru optimis bahwa mutiara yang dijadikan model di dalam lukisan tersebut benar-benar nyata. Dan hampir 100% yakin mutiara tersebut adalah Mutiara Laut Selatan (Southern Sea Pearl) yang sejak zaman VOC hingga hari ini menjadi primadona dunia.

Jadi begini. Jan Vermeer melukis GPE di kala Belanda tengah memasuki zaman keemasannya. Perdagangan melaju pesat (terima kasih kepada Hindia Timur dan Hindia Barat), Belanda telah merdeka dari cengkraman Spanyol, semua orang bebas memeluk agama masing-masing serta mengeluarkan pendapat, dan kreatifitas para seniman pun berkembang bak tulip di musim semi. Di masa itu, selain bumbu-bumbu dapur, hampir setiap komoditas yang berasal dari Hindia Timur berharga mahal karena cost pelayaran yang mahal serta karena dianggap eksotis. Bahkan burung-burung yang berasal dari daerah tropis seperti nuri dan kakatua dikoleksi oleh kalangan atas hanya demi prestise "benda ini dari Hindia lho". Nah, mutiara tentu saja merupakan salah satu koleksi yang tidak mungkin luput dari mata siaga VOC.
Rumah Vermeer
(http://www.essentialvermeer.com/delft/delft_today/oude_langendijck.html)
Berdasarkan informasi dari Wikipearl, Mutiara Laut Selatan (MLS) tergolong jenis mutiara terbesar sekaligus terlangka di dunia! Mutiara ini berasal dari sejenis kerang bernama Pinctada maxima yang hanya dapat ditemukan di perairan Australia Utara hingga ke Laut Cina Selatan. Diameter mutiara ini berkisar antara 9 mm hingga 20 mm. Sekitar tahun 1500-an, di Indonesia, Australia, Myanmar dan Filipina mutiara ini banyak dibudidayakan. Berhubung hanya dapat ditemukan di area Laut Selatan, maka bangsa Eropa  mengetahui keberadaan mutiara jenis ini baru pada abad ke-16 dan ke-17, tepatnya saat bendera VOC juga sedang berkibar di samudera. Mata orang-orang Eropa ini membelalak kaget melihat ukuran MLS, dan sejak saat itu MLS pun memasuki daftar dagangan di pasar global. Permintaan dunia yang tinggi terhadap MLS menyebabkan nyaris punahnya kerang Pinctada maxima di abad ke-18 dan ke-19. Hari ini, MLS dapat ditemukan di perairan Bali, Lombok, Sumbawa dan Papua.

Wah, menarik sekali. Dari sebuah kota kecil bernama Delft, dari sebuah lukisan yang dihasilkan oleh putra terbaik Belanda, saya menemukan cerita tentang kekayaan tanah air Indonesia. Mulai saat ini, jika berkunjung ke Delft, mungkin ingatan saya tidak akan lagi mengasosiasikannya dengan keramik biru atau patung Hugo Groot yang terpajang penuh kebanggaan di Centrum. Secercah sejarah tentang betapa berharganya keanekaragaman hayati Indonesia yang patut dijaga oleh generasi mudanya hari ini yang mungkin akan terlintas tiap kali menatap lukisan GPE.

Salam,
Makassar, 20 Januari 2014

Friday, August 23, 2013

Rammang-Rammang, Maros - Sulawesi Selatan: When South China met with the Amazon River

Senin, 12 Agustus 2013.

Liburan Idul Fitri ini saya pulang ke Makassar.
Suatu pagi, saya beserta dengan sahabat-sahabat gaul saya di Makassar: Diku, Rijal, Amel, Sam, Fitt dan Rafika menemukan sepotong "surga tersembunyi" di belantara Maros. Kabupaten yang sebelumnya hanya dikenal karena bandara serta tempat wisata air terjun dan taman kupu-kupu Bantimurungnya ini ternyata menyembunyikan "Cina Selatan dan Sungai Amazon" di pedalamannya.

Malam sebelumnya, saat mengajak teman-teman ke sana -info mengenai tempat wisata ini saya dapat dari sebuah situs backpacker-, saya sudah menginstruksikan mereka untuk mencari tahu mengenai jajaran karst di Maros yang telah diakui oleh UNESCO sebagai World Heritage Site. Jajaran pegunungan karst ini membentang sepanjang 4.700-an hektare, membuatnya sebagai karst kedua terpanjang di dunia setelah karst di Cina Selatan. Saat itu reaksi teman-teman saya adalah seperti ini:

Amel --> "Sudah mi kutanya paceku. Batu-batu begitu ji."
Diku --> "Aaaah... ndak mau ka'! Mau ka' berenang di Bantimurung! Mau ka' berenang!"
Rijal --> "Apa itu kah? Belum pa google ki."

Setelah sekitar 40 menitan kami berkendara dengan mobilnya Amel melewati jalan menuju Bantimurung, lurus hingga kemudian berbelok di jalan masuk menuju tambang semen Bosowa, lalu belok kiri ke Desa Salenrang dan kemudian diarahkan oleh warga menuju ke Dusun Berau tempat situs Rammang-Rammang berada; teman-teman saya itu pun melotot dengan mulut ternganga. Tidak saja kami dapat bertualang dengan sejenis perahu tradisional Bugis-Makassar bernama lepa-lepa (yang kami sewa bertujuh pulang-pergi, ditunggui selama 3 jam, dengan tarif sebesar Rp 200.000,00), kami juga bertemu dengan Daeng Beta, seorang penduduk lokal yang mengarahkan kami menuju gua-gua prasejarah tersembunyi. Gua-gua tersebut berumur lebih tua daripada situs Gua Leang-Leang (juga masih berada di daerah kabupaten Maros) serta pada dindingnya terdapat bekas-bekas telapak tangan dan mata panah purba dari tulang binatang. Sayangnya, beberapa peneliti dari Australia mengambil artefak-artefak bersejarah itu kembali ke negara mereka :/

Singkat kata, jika ingin berpetualang ke tempat baru dengan suasana dan pemandangan ala-ala alam raya luar negeri (Cina Selatan dan Sungai Amazon), nggak usah nabung lama-lama deh. Segera ke Maros, Sulawesi Selatan. Because dude, that place is AWESOME!!!
















Friday, August 31, 2007

My First Weekend (akhirnya...)


Sepedaan di Bike Path belakang rumah: Ayo, perjalanan masih panjang! 

Huahhhh... Alhamdulillah.. akhirnya setelah setiap detik aku menunggu, setiap menit aku menanti, dan setiap jam aku berharap,,, Weekend pun datang!!!

El finda de semana... i love it!

Capek, capek, capek.. rasanya benar-benar capek sekolah di Amrik dibanding sekolah di Indonesia. Sistem High School di sini beda banget sama di tanah air coz kita yang musti memburu waktu mengejar kelas demi kelas... jadi serasa anak kuliahan...

Plus PR demi PR yang luar biasa nggak bisa dikompromi,, jam makan siang yang cuma sebentar serta sistem gaul di sini yang jelas amat-sangat berbeda dengan tipe pergaulan di Indonesia...

Aku seneng.. banget akhirnya bisa istirahat. Padahal ini baru minggu pertama back to school!
satu hal yang mendorong ini semua sebenarnya adalah karena beban mental yang kubawa-bawa sejak sekolah bakalan dimulai. Aku udah takut duluan sama teman-teman baruku,, sama pergaulan di sini dan sama tetek-bengek nggak penting lainnya. Walhasil sampai hari ini pun aku belum berhasil mendapatkan teman (hiks... sedih banget ya..).

Aku benar-benar drop sekarang. Dulu waktu di Indonesia, kalau jalan di koridor aja pasti ada orang yang nyapa, kalau ke kantin ketemu banyak teman, pokoknya bahagialah berbaur sama mereka. tapi, di sini... boro-boro!
Padahal aku udah berusaha buat nyapa mereka duluan, berbasa-basi di kelas, dan ketawa meskipun joke-jokenya mereka itu kadang-kadang asli nggak lucu banget. Tapi tetep saja...

Yang bikin aku sakit hati berat adalah gara-gara dua orang temanku; si Austin sama si Connor. Austin itu anak kenalannya Sherri (hostmom-ku di sini) dan aku udah kenal dia waktu libur musim panas. Bahkan kami udah pernah jalan-jalan bareng di Uptown, aku diajak main game di game center tempatnya magang, sampai-sampai ditraktir makan makanan Chinese di Peking Express. Waktu hari pertama sekolah aku surprise seneng banget waktu tahu satu kelas ama dia di kelas Psikologinya Mr. Dearing. Tapi.... dia belagak cuek and pura2 nggak kenal aku... hiks.. sedih banget.... bayangkan, kalo ketemu di koridor dan kusapa, dia cuma mengerling sekilas terus terus melangkah maju tanpa segores senyum pun di wajahnya....

About Connor, dia anak tetanggaku di sini. Aku kenalan sama dia gara-gara sama-sama nunggu school bus di depan jalan. Kalau pulang sekolah dia biasanya nungguin aku keluar dari bus terus kita jalan sama-sama ke Hudson Avenue. Dia suka Harry Potter dan karena aku bilang kalau aku juga suka, dia bersedia minjemin aku seri terakhirnya Harry Potter yang belum sempat kubaca; The Deadly Hallows. Si Connor ini sebenarnya anak yang baiiik... banget, tapi, sekali lagi aku dikecewakan. Setiap kali papasan di koridor sekolah dia kayak nggak kenal aku... hiks... kenapa setiap remaja Amerika harus memiliki style seperti ini sih?

Tapi syukur setidaknya aku bisa deket sama Deira dan Sharika. Meskipun baru kenal tapi mereka selalu senyum sama aku kalau ketemu dan gampang mengakrabkan diri. Tapi kayaknya mereka berdua bukan tipe teman yang bisa kuajak nongkrong lama-lama, coz kalau dilihat dari ekspresinya mereka kadang-kadang bosen sama ceritaku.. (hiks lagi!)

Ada lagi sih temenku yg lumayan akrab. Namanya Matthew, anak exchange student dr Belgia. Kami biasanya satu meja kalo lunch dan kelihatannya dy juga merasa kesepian gt... Aku bisa merasakan kesedihannya kok! But sayangnya semenjak jadwal pelajaranku dirubah aku nggak pernah lunch bareng dia lagi...

Meski demikian ada juga sih beberapa anak yang kayaknya merhatiin aku (ge-er nih!), mungkin karena aku exchange student? Contohnya kayak Shawn, classmateku di US History dan Spanish. Dia selalu ngebanyol (meskipun agak nakal sih. Senora Santoni sampai bete gara2 dia), dan aku selalu ketawa bareng anak-anak lainnya. Dari situ dia mulai suka pura-pura joking di depanku terus ngelirik-ngelirik buat melihat reaksiku. Sebagai manusia berhati mulia ya mau tidak mau aku harus ketawa, paling nggak senyumlah.

Kejadian seperti ini terulang juga sama si anak baru (freshman) Andrew yang duduk di sebelahku waktu World Issues dan temannya dari Middle School, Casey.

After all, aku nggak tahu mesti ngapain buat ngedapatin teman di Athens High school (yang sebaya. soalnya di sini sebenarnya lumayan banyak sih kakak-kakak mahasiswa Indonesia yang berbaik hati mau menemani diriku di kala libur.. dan kakak-kakak mahasiswa Amrik di Ohio University yang kulatih bahasa Indonesia di tempatku voluntiring, Indonesian Conversation setiap Jumat pulang sekolah)
I'm so sad... Ooo... Indonesia I Miss U...

Mudah-mudahan minggu depan segalanya lancar ya, amin.....
Tetap optimis! Jangan sombong, dan open minded!
Chao!