Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Wednesday, March 29, 2017

“Walisongo” Islam Nusantara versi Seorang Profesor Katolik

Menjadi bahagian dari konferensi PCINU Belanda dua hari yang lalu adalah sebuah kesempatan yang tidak saja membuat saya yang masih ingusan dan cetek ilmu ini merasa terhormat. Momen kemarin bagi saya sekaligus juga menjadi ajang untuk meraup ilmu sebanyak-banyaknya dari kaum cendekiawan Islam yang memang mumpuni di bidangnya. Dengan mengangkat tema Islam Nusantara, generasi muda Nahdlatul Ulama yang berdiaspora di Negeri Kincir Angin membuka diri seluas-luasnya dengan menghadirkan para terpelajar dari berbagai disiplin ilmu serta latar belakang. Ada sembilan panel yang masing-masing membicarakan fenomena Islam Nusantara dari sudut pandang sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum, dan lain sebagaimanya. Suasana keilmuan terasa amat kental karena acaranya sendiri diadakan di Vrije Universiteit Amsterdam dan dipanitiai oleh pelajar-pelajar Nahdliyin yang tengah menuntut ilmu di Belanda. 
 
Saya saat mempresentasikan paper terkait hukum adat dan Islam di Konferens Islam Nusantara NU.
Terlepas dari apa haluan politiknya, agamanya, rasnya maupun mazhabnya, kemarin saya benar-benar merasakan Islam sebagai sesuatu yang rahmatan lil ‘alamin alias universal. Yah, bagaimana tidak, instead of hanya mengundang syekh-syekh atau kiai-kiai, konferens ini diramaikan pula oleh mereka yang beragama non-muslim yang telah malang-melintang di dunia kajian keislaman. Islam akhirnya dimiliki bersama tidak hanya sebagai sebuah konsep kepercayaan namun juga sebagai sebuah fenomena menarik yang pernah dan sedang terjadi di planet bumi. Di sini Islam dibahas dalam konteks pengetahuan, tidak hanya sebagai sebuah persepsi benar dan salah. Peserta konferens pun demikian pula majemuknya, ada yang beragama Protestan, Katolik dan bahkan agnostik ikut hadir untuk mendapatkan ilmu baru mengenai Islam. Apa yang menarik mereka sehingga berkenan hadir di acara yang kental dengan nuansa hijaunya ini? Ya tentu saja keinklusifan Islam dan wajah ramah yang digadang-gadangkan oleh para junior Gus Dur ini. Toh, pada akhirnya ilmu pengetahuan yang bersumber dari Islam sebagaimana halnya dari agama lain adalah warisan bagi umat manusia secara keseluruhan.
Salah satu highlight dari konferens ini ialah saat Profesor Karel Steenbrink menyampaikan lecture yang sekaligus menjadi penutup acara. Karel Steenbrink yang sudah paruh baya dan rambutnya berubah warna menjadi putih semua ini adalah seorang profesor emeritus dari Utrecht University untuk Intercultural Theology. Karel adalah seorang Katolik yang jatuh cinta dengan sejarah dan perkembangan Islam. Beliau telah menghasilkan banyak sekali penelitian terkait Islam dan Kekristenan di Indonesia. Interpretasi Alquran juga merupakan salah satu bidang yang ia tekuni selama bertahun-tahun. Karel Steenbrink bukanlah orang asing, namanya sudah sering dirujuk oleh para peneliti di kalangan Islamic Studies.
Profesor Karel Steenbrink membawakan ceramahnya di penutupan konferens
Pada kesempatan itu Karel Steenbrink membawakan tema yang cukup menarik. Ia membuka lecture-nya dengan membacakan ayat “innallaha ma’ash-shobirin” karena mengetahui betapa lelahnya wajah-wajah kami sore itu menunggu acara untuk ditutup. Kami yang sudah terkuras energinya dan setengah mengempet lapar kemudian hanya bisa bereaksi dengan nyengir-nyengir manja. Karel melanjutkan pembahasannya, berbincang mengenai sembilan orang scholar yang menjadi pahlawan-pahlawan baginya dalam mempelajari Islam Nusantara. Kesembilan pahlawan intelektual tersebut menginspirasinya untuk mengukuhkan teori bahwa praktek keislaman yang terjadi di Indonesia memang lah unik, khas bagi penduduknya itu sendiri, serta berbeda secara kultural dari Islam yang dipraktekkan di tempat asalnya di Saudi Arabia. Karel lebih jauh lagi kemudian menyebut sembilan tokoh tersebut sebagai Walisongo Islam Nusantara di sepanjang karirnya.
List Walisongo versi Karel ini dibuka oleh seorang maestro Islamolog yang amat kontroversial dalam sejarah Indonesia itu sendiri: Snouck Hurgronje. Si jenius yang pernah menjadi mata-mata Belanda untuk Aceh ini mencetuskan bahwa Islam di Indonesia memang berbeda dengan Islam yang ada di Arab, akan tetapi perbedaan ini tidak kemudian membuat Islam di Indonesia menjadi tidak murni atau inferior terhadap Islamnya Arab. Bahkan untuk ukuran Aceh yang notabene “amat Islam”, di sana Snouck menemukan bahwa praktek keislaman dipengaruhi oleh elemen-elemen kebudayaan yang membuatnya kehilangan ke-Arabannya. 
Di urutan kedua ada Merle Ricklefs yang banyak sekali membahas tradisi mistisme di Jawa dalam karya-karyanya. Ricklefs berpendapat bahwa kraton di Jawa membantu terciptanya sebuah sintesa mistik antara Islam dan praktek kepercayaan lokal yang kemudian menghasilkan sebuah perpaduan unik, yang sekali lagi berbeda dengan praktek keislaman di Timur Tengah ataupun Aceh. Ia juga menyebutkan bagaimana perbedaan yang tajam antara kaum santri dan kaum abangan pada tahun 1850 - 1990 membentuk persepsi masyarakat atas wajah Islam Jawa.
J.W. Bakker alias Rahmat Soegagiyo menduduki peringkat ketiga. Ia adalah seorang pendeta Jesuit di Yogyakarta pada masa kolonial dan banyak merenung mengenai usaha-usaha peleburan nilai-nilai agama yang datang dari Barat ini kepada masyarakat Jawa. Sebuah buku berjudul “Agama Asli Indonesia” lahir dari kontemplasinya tersebut. Salah satu poin utama yang ia kemukakan ialah bahwa agama asing yang masuk ke Indonesia harusnya meminjam wajah lokal untuk dapat diterima masyarakat tidak hanya sebagai sistem kepercayaan namun juga sebagai sebuah sistem kebudayaan. Gereja Ganjuran yang ia bangun dengan meminjam bentuk candi-candi zaman Hindu Buddha merupakan pengejawentahan dari ide tersebut. 
Wilfred Smith dengan “religion is cumulative traditions”-nya menjadi walisongo keempat bagi Karel. Ia disusul oleh dua orang cendekiawan Muslim asal Indonesia yaitu Ash-Shiddieqy dan Hazairin. Ash-Shiddieqy dan Hazairin dikenang karena usaha mereka mempromosikan pengakuan atas sebuah mazhab Islam khusus bagi Muslimin Nusantara. Mazhab yang kemudian disebut Mazhab Indonesia ini dilihat sebagai solusi atas keunikan praktek-praktek keislaman yang terjadi di daerah (Hazairin itu sendiri adalah salah seorang profesor hukum adat pertama Indonesia). Mazhab Indonesia diharapkan pula mampu menjadi sebuah contoh atas keberhasilan menyatunya nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat Indonesia tanpa kehilangan identitas asli mereka. Pendapat ini sayangnya pupus dengan sendirinya karena ketidakmampuan untuk menjawab tantangan kebhinnekaan di tanah air dalam mengaplikasikan hukum syariah.
Terakhir, sekaligus menjadi salah seorang wali yang punya hubungan dekat dengan Karel sendiri ialah Harun Nasution. Harun Nasution ialah seorang cendekiawan Islam yang getol dalam mempromosikan pentingnya menggunakan akal di samping iman saja dalam beragama. Di dalam karya-karyanya ia sering mempertanyakan:  
dapatkah akal menandingi wahyu?; haruskah akal tunduk kepada wahyu?; bagaimana bila terjadi pertentangan antara ilmu pengetahuan modern dengan wahyu? 
Salah satu argumen Nasution yang paling mencengangkan ialah saat ia menyatakan bahwa Alquran tidak mengandung segala-galanya, bahkan pula tidak menjelaskan semua permasalahan agama. Perihal sholat contohnya, hanya sekedar disebutkan di dalam Alquran tanpa ada detail proseduralnya. Iman saja tidak cukup dalam memahami Islam. Ide-ide Nasution yang cukup kontroversial bagi penganut Islam awam di Indonesia sayangnya membuat beliau dicap Muktazilah dan lain sebagainya.
Karel Steenbrink, seorang profesor Katolik yang menyusun Walisongo kajian Islam Nusantara-nya sendiri. Presentasinya di penghujung konferens NU ini menstimulasi lahirnya ide-ide yang mengalir deras di kepala saya. Pada akhirnya sebagai sebuah agama yang dipraktekkan, sebagai sebuah kepercayaan yang mewujud melalui keseharian penganutnya, Islam tidaklah stagnan. Islam lahir, bergerak dan berkembang bersama manusia yang membawanya. Dialog-dialog seperti inilah yang saya harapkan banyak terjadi hari ini maupun di masa yang akan datang. Melalui acara-acara seperti inilah dialektika Islam menjadi nafas yang menyegarkan untuk dihirup, tidak melulu berkubang dalam dogma, taqlid buta yang mengekslusifkan diri atau perselisihan bermotif politik dan ekonomi.
Jadilah kita rahmat bagi semesta alam!

Berkel en Rodenrijs,
29 Maret 2017

Tuesday, October 18, 2016

Bahasa dan Tulisan Arab: Antara Harapan dan Ketakutan

Seingat saya dulu, beberapa saat sebelum berangkat ke Amerika Serikat di tahun 2007, ada semacam trend dimana Bahasa Arab tiba-tiba menjadi istimewa di kalangan umat Islam Indonesia. Sebelumnya saya tidak sadar akan adanya fenomena seperti ini hingga saya perhatikan teman-teman saya di bangku SMP dan SMA saat itu jadi suka menggunakan sepatah-dua patah kata Arab di antara kalimat-kalimatnya. Setelah dibesarkan dengan ‘assalamu’alaikum’, ‘alhamdulillah’, astaghfirullah’, ‘masya Allah’, ‘subhanallah’, ‘Allahu akbar’ dalam percakapan sehari-hari, waktu itu kosakata saya jadi bertambah. Rasanya tidak afdhol bagi sebagian dari mereka apabila tidak menyapa kawan laki-lakinya sebagai ‘akhi’ dan kawan perempuannya sebagai ‘ukhti’, atau mengucapkan terima kasih dengan ‘syukran’ serta mempersilakan untuk menikmati segelas sirup dengan ‘tafaddal’. Kebanyakan dari teman-teman saya ini memang anggota rohis sekolah. Uniknya, kebiasaan-kebiasaan untuk menggunakan kata-kata Arab baru ini kemudian juga diadopsi oleh mereka yang bukan anggota rohis saking seringnya kata-kata tersebut diulang-ulang.

Sebenarnya, Bahasa Arab dianggap sebagai bahasa suci karena melalui bahasa inilah Quran diwahyukan serta Nabi Muhammad berlisan. Meskipun pada faktanya Bahasa Arab yang dipelihara di dalam kitab Alquran dan Bahasa Arab hari ini amat sangat berbeda, kebanyakan masyarakat awam di Indonesia masih terbuai dengan logika sinonim yang kurang tepat: Arab = Islam. Itulah sebabnya Bahasa Arab pun menjadi Bahasa Islam. Sewaktu duduk di bangku SMA kelas dua, sekolah saya pernah mewajibkan siswa-siswinya untuk belajar Bahasa Arab pula, seakan-akan pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jerman tidak cukup. Bahasa Arab diinstitusikan sedemikian rupa di dalam sistem pendidikan kami dengan metode yang sebenarnya jika dipikir-pikir cukup diskriminatif: hanya siswa yang beragama Islam saja yang diikutkan kelas Bahasa Arab, sedangkan yang non-Muslim diwajibkan kelas Bahasa Jepang. Saya terus terang masih tidak paham mengapa sekolah mewajibkan Bahasa Arab saat itu. Toh, setelah belajar Bahasa Arab sekali seminggu selama setahun saya juga masih tidak dapat mengartikan Alquran tanpa membuka tafsirnya hingga hari ini.

Konsekuensi dari pengultusan Bahasa Arab serta ketidakmampuan untuk memisahkannya dari esensi Islam di saat yang sama ialah terciptanya penumpulan logika yang bersifat massal. Ada cerita lucu yang dikisahkan oleh ayah saya ketika suatu ketika di bulan Ramadhan sebuah toko baju memutarkan lagu-lagu berbahasa Arab. Lagu-lagu yang ternyata masuk ke kategori Pop tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan Quran ataupun Islam. Lagu-lagu tersebut dinyanyikan oleh biduanita tersohor asal Mesir bernama Ummi Kalsum dan liriknya berisi tentang cinta, kerinduan, patah hati dan lain sebagaimana. Ayah saya tertawa karena melihat reaksi ibu-ibu mendengarkan lagu-lagu tersebut: mereka seakan-akan sedang dikuasai oleh Roh Kudus karena mengira lagu Arab itu berisi puji-pujian kepada Tuhan dan mulai mengamin-amini setiap lirik Umi Kalsum. Tulisan Arab pun sama saja. Banyak yang kemudian mengultuskannya karena dianggap memiliki daya spiritual khusus. Padahal, bagi mereka yang tidak mengerti artinya, bisa saja selembar kertas yang berisi penuh tulisan Arab itu adalah instruksi untuk menggunakan minyak  pemanjang kumis dan jenggot Wak Doyok instead of sholawat nariyah atau ayat-ayat Qurani.


Lain di Indonesia, lain pula di luar negeri. Ketika di tanah air tulisan Arab mampu menghadirkan harapan bagi kaum beriman karena simbolisme yang dicantol-cantolkan dengan spiritualisme, di Amerika Serikat sana tulisan Arab justru menjadi personifikasi atas aksi terorisme dan fanatisme. Islamophobia berubah menjadi Arabophobia ketika segala sesuatunya yang berhubungan dengan Islam diasosiasikan dengan bahasa maupun tulisan Arab. Ini persis sama dengan yang terjadi di tanah air, hanya saja perspektifnya yang berbeda. Tulisan Arab ditakuti karena dianggap sebagai potongan Alquran, kitab yang menginspirasi golongan teroris untuk melaksanakan jihad. Beberapa hari yang lalu beredar meme di dunia Twitter yang menyinggung permasalahan ini di tengah sengit dan panasnya suasana pemilihan presiden di Amerika Serikat. Yang menjadi penyebab mengapa publik Amerika mengasosiasikan Islam dengan Arab ialah karena peran media yang senantiasa menggambarkan teroris sebagai pria Arab berjanggut lebat dan bersorban putih. Ini juga tidak ada bedanya dengan apa yang terjadi di Indonesia ketika jubah-jubah Arab kemudian dianggap mewakili Islam dimana-mana.



Di Leiden sendiri, beberapa orang teman kelas saya di program European and International Human Rights Law tertarik untuk mempelajari bahasa dan tulisan Arab karena dianggap ‘seksi’. Seksi berhubung saat ini Timur Tengah adalah daerah yang jadi sorotan utama dunia sehubungan dengan konflik-konflik hak asasi manusia. Tulisan Arab bagi mereka mungkin tidak menyimbolkan harapan maupun ketakutan sama sekali, tulisan tersebut mereka pelajari memang layaknya sebagai alat komunikasi dan sumber informasi. Tidak ada takhayul bahwa bahasa maupun tulisan Arab akan menuntun mereka menuju spiritual awakening atau ketakutan tidak beralasan tentang terorisme. Setidaknya dalam hal ini saya setuju dengan kawan-kawan saya di kelas bahwa bahasa maupun tulisan Arab sejatinya tidak berbeda dengan bahasa maupun tulisan lainnya di dunia ini.

Terakhir, penggunaan simbol-simbol bahasa maupun tulisan Arab sesungguhnya tidak sepenuhnya salah. After all betul bahwa bahasa maupun tulisan Arab memiliki peran besar di dalam penyebaran Islam yang kemudian menjadi agama mayoritas di Indonesia. Bahasa Arab menjadi bahasa ritual yang hidup dalam aktivitas spiritual masing-masing individu. Hanya saja amat disayangkan ketika kemudian bahasa maupun tulisan Arab tidak dipahami konteksnya secara benar. Yang saya khawatirkan ialah ketidakmampuan kita untuk dapat menempatkan bahasa maupun tulisan Arab sebagai dua hal yang terpisah dengan Islam itu sendiri: bisa-bisa justru akan menjerumuskan banyak orang ke jurang-jurang kekonyolan (sebagaimana yang sudah terjadi di banyak kasus, dan sedang terjadi di negeri Paman Sam sana). Dan yang lebih penting, tentu saja agar jangan sampai kita melupakan bahasa maupun tulisan dalam bahasa ibu kita sendiri, kekayaan yang sesungguhnya.

Leiden yang kembali dingin,


18 Oktober 2016

Saturday, November 21, 2015

Roro Kidul dan Snow Queen: Peyorasi Matriarkal dalam Narasi Rakyat

Ada dua tokoh alpha female dalam dunia dongeng Nusantara dan Eropa yang ditampilkan sedemikian rupa sehingga memicu terperciknya narasi rakyat yang cukup menyeramkan tentang mereka.

Kedua sosok ini memiliki karakteristik yang kurang lebih sama: mereka digambarkan sebagai tokoh perempuan yang memiliki kuasa atas sebuah takhta; kuat dan mandiri; terasosiasi pada elemen alam tertentu (dalam konteks cerita saya ini ialah laut dan salju); memiliki abdi-abdi malang yang bekerja di bawah kontrol mereka; serta yang paling penting mereka berhati dingin. Perempuan-perempuan ini dalam bayangan saya sejatinya merupakan olah citra dari imaji primordial manusia yang hidup di bawah kepimpinan matriarkal, namun pada saat yang sama juga menyimbolkan ketakutan kaum patriarki atas bangkitnya perempuan dari dominasi mereka. Mereka disegani tapi juga dibenci.

Kemunculan kedua sosok ini direkam pertama kali di abad ke-18 untuk cerita rakyat yang berasal dari Indonesia dan abad ke-19 untuk dongeng yang berasal dari Eropaa. Di kurun-kurun waktu tersebut, Nusantara mulai "dimasukkan" ke dalam hegemoni kolonialisme dan imperialisme Eropa. Saat itu sebenarnya merupakan abad yang cukup abu-abu alias tidak hitam dan putih: Eropa asing tidak selamanya dipandang sebagai musuh yang harus dibasmi namun terkadang berperan sebagai sekutu aktif yang bantuannya amat diperlukan untuk melanggengkan kuasa seorang penguasa pribumi, serta sebaliknya sesama penguasa pribumi pun terlibat intrik-intrik kekuasaan dimana rezim baru muncul dari rezim lama yang dianggap sudah karatan untuk dapat memimpin. Agama menghiasi ranah politik dimana ulama-ulama pribumi hasil latih-didik ulama generasi impor memberikan restu kepada pangeran-pangeran muda untuk berperang atau memberontak.

Di Eropa, abad ke-19 adalah abad yang cukup menyenangkan. Eksplorasi negara-negara Eropa barat ke Asia, Afrika dan Amerika membuat segala macam kekayaan dunia mengalir ke kanal-kanal dan rumah-rumah mereka. Sains berkembang pesat, ini juga terima kasih kepada dunia Timur yang membukakan jalan mereka ke Taman Firdaus berupa spesimen-spesimen binatang unik, tanaman-tanaman obat, serta agama dan budaya timur yang eksotis. Masuknya Timur ke Barat menstimulus pula lahirnya "permainan" baru semacam pemanggilan arwah (ghost conjuring) serta meningkatnya okultisme. Victorian Age, demikian mereka menyebutnya, saat dimana teknologi berkembang pesat melalui penemuan mesin uap dan Revolusi Industri di Inggris ditambah dengan kebangkitan kembali arsitektur Gothik. Namun di saat yang sama kemiskinan meningkat tajam serta anak kecil dan perempuan diperlakukan jauh lebih buruk daripada sebelumnya. Karya agung Charles Dickens 'Oliver Twist' lahir untuk mengkritisi fenomena ini. Dari latar belakang kedua abad itulah kedua tokoh kita ini lahir.

Sosok pertama yang kita bahas adalah Roro Kidul. Ada beberapa versi mengenai asal mula tokoh ini. Adapula sebagian orang yang memisahkan karakter yang bernama Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul sebagai dua persona yang berbeda. Yang disebut pertama ialah ratunya sedangkan yang disebut kedua ialah jin yang menjadi patihnya. Saya tidak akan membahas itu di sini karena fokus dari tulisan ini adalah narasi rakyat yang berkembang terhadap tokoh perempuan gaib dari laut selatan Jawa. Oke, sebutlah dia Roro Kidul. Roro Kidul yang dikenal oleh narasi rakyat hari ini adalah sesosok perempuan dengan untaian benang melati di rambutnya serta digambarkan amat seduktif terhadap kaum pria (terima kasih kepada almarhumah Suzanna untuk citra ini). Ia gemar memakai pakaian berwarna hijau sehingga konon apabila ada seseorang yang mengenakan warna kesukaannya itu di Pantai Parangtritis maka ia akan terseret ombak dan "diambil" oleh sang penguasa kraton bawah laut untuk menjadi abdinya. Imaji terakhir tentang sosok Roro Kidul ialah ia sering dihubungkan dengan mistisme seks dan kekuasaan: raja-raja Mataram haruslah menjadi suaminya secara turun-temurun dan sebuah kamar di Hotel Samudera Beach 308 disediakan bagi mereka yang ingin memperoleh akses kejayaan dan kekayaan secara instan alias melalui pesugihan.

Yang tak kalah menarik ialah sosok kedua yang kita bahas hari ini: Snow Queen. Tolong jangan samakan dia dengan Putri Salju alias Snow White yang gemar bernyanyi serta mati karena gigitan apel yang mematikan itu. Snow Queen adalah segala karakter yang menjadi kutub berlawanan Snow White: ia bukan gadis remaja melainkan wanita dewasa; ia tidak lemah melainkan amat sangat berkuasa; ia tak menggantungkan diri terhadap bantuan para kurcaci mungil melainkan memegang pecut di tangannya untuk mengendalikan rusa-rusa terbangnya; ia tidak hidup di dalam pengasingan melainkan tinggal di sebuah istana salju yang berdiri di atas sebuah danau yang disihir hingga membeku; ia tidak membutuhkan bantuan dari seorang pangeran untuk melepaskan kutukannya karena justru ia yang memberikan kutukan kepada orang. Imaji Snow Queen sebagai perempuan jahat yang ditakuti oleh umat manusia diadopsi ulang oleh C.S. Lewis dalam Seri Narnia-nya melalui tokoh antagonis pertama: Jadis The White Witch.
Snow Queen ditakuti oleh orang-orang di belahan dunia utara karena ia datang bersama badai salju yang meresahkan. Badai salju itu bisa mengamuk selama berhari-hari, membuat tanaman dan ternak mati serta membuat manusia tak dapat keluar rumah untuk beraktifitas. Ia juga musuh anak-anak kecil: sebagaimana diceritakan oleh Hans Christian Andersen di dalam dongengnya, Snow Queen menculik anak kecil (laki-laki) yang bermain di luar rumah saat salju mengamuk di malam hari.

Roro Kidul lahir saat Panembahan Senopati membutuhkan dukungan untuk mencipta sebuah dinasti baru di tanah Jawa. Ia yang hanya keturunan petani biasa haruslah menerima "wahyu" sebagaimana lazimnya tokoh-tokoh pendiri kerajaan lain yang ada sebelumnya. Senopati telah mendapatkan lampu hijau dari para ulama, dengan demikian ia membutuhkan restu dari "kekuatan ghaib" yang menguasai tanah Jawa untuk melanggengkan jalannya. Maka kekuatan ghaib itu muncul dalam sosok seorang perempuan berbaju hijau yang istananya berada di dasar samudera. Hubungan Senopati dengan perempuan ini cukup istimewa: ia digambarkan berhasil membuat perempuan ini mengakui kesaktiannya karena tapanya mampu membuat laut bergejolak kepanasan. Roro Kidul kemudian menjadikan Senopati sebagai "suaminya" dan sejak saat itu berjanji pula akan menjadi patron kerajaan Mataram serta menjadi istri bagi raja-raja keturunan Senopati berikutnya (entah makna "istri" di sini hanya bersifat simbolis atau melalui persetubuhan fisik betulan, again i won't go that far). Di sinilah sentra ceritanya. Roro Kidul berstatus sebagai istri. Roh feminin dahsyat yang menguasai seluruh lelembut di pulau terpadat di dunia ini takluk membasuh kaki Senopati (dalam pernikahan adat Jawa seorang perempuan harus membasuh kaki calon suaminya). Roro Kidul tak lagi dilihat sebagai sebuah kuasa matriarki tersendiri, hari ini hingga selamanya ia adalah milik raja-raja Mataram. Roro Kidul terikat dalam sebuah kontrak dimana tiap tahun ia diingatkan untuk terus menjaganya: upacara larung oleh kraton Jogja dan Solo di Pantai Parangkusumo untuk memperbaharui sumpah setianya pada Senopati.

Bagaimana halnya dengan Snow Queen? Posisinya tidak jauh lebih baik. Setidaknya ia tidak harus tunduk kepada patriarki melalui institusi bernama persuami-istrian. Snow Queen tetap single di akhir cerita, tidak ada Snow King yang duduk bersama dengannya di atas takhta. Akan tetapi Perempuan-perempuan mandiri seperti inilah yang kemudian jadi sasaran empuk golongan patriarki Eropa abad itu: mereka disifati dengan hal-hal yang jahat serta (somehow) menjadi musuh agama. Berbeda dengan kaum biarawati yang menyerahkan diri untuk tidak menikah di bawah otoritas agama, Snow Queen adalah roh jahat yang menghantui setiap lorong desa dan meresahkan warga karena kekuatannya mampu merusak tatanan. Saljunya dapat membekukan ladang serta membunuh binatang ternak. Di beberapa adegan dalam cerita Snow Queen, ayat-ayat Alkitab dinyanyikan untuk mengusir atau mengalahkan saljunya. Entah mengapa saat membaca itu saya merasa Snow Queen semakin mirip dengan figur Eve dalam kisah Kejadian yang dipersalahkan karena membujuk Adam memakan Buah Pengetahuan. Ia seduktif, ia menculik anak-anak yang keluar malam saat badai salju, mencium mereka dua kali agar lupa dengan masa lalu, kemudian menawan mereka di istananya yang berdiri di atas danau beku bernama Mirror of Understanding. Ada yang salah di sini: ia dibenci karena ia memiliki dua hal yang seharusnya tidak dimiliki oleh perempuan di masa itu yaitu kekuasaan dan pengetahuan (mirror of understanding).

Kedua dongeng di atas sangat menarik untuk dikaji lebih dalam lagi. Roro Kidul ataupun Snow Queen boleh jadi bagi segelintir orang adalah pahlawan, namun mereka yang mempercayai itu hanya akan dianggap menyimpang dari narasi utama: mengapa mengidolakan Roro Kidul dan Snow Queen yang jahat, bukankah mereka meminta tumbal anak lelaki? Matriarki mengalami perendahan makna (peyorasi) dalam dunia dongeng, sebab tak sewajarnya seoramg perempuan hidup dengan karakter seperti itu.

Jangan lupa, mereka adalah produk pada zamannya. Zaman dimana perempuan tidak boleh jadi lebih pintar atau berkuasa di atas lelaki. Dongeng ini anehnya terus hidup di masyarakat modern bersama dongeng-dongeng patriarki lainnya. Padahal, dongeng adalah alat yang paling bagus untuk memulai proses doktrinasi semenjak dini. Anak-anak kecil yang kita buat takjub mendengarnya secara tidak langsung telah ditanamkan ide-ide mengenai patriarki ini. Bagi dongeng patriarki perempuan tak boleh jadi lebih kuat karena mereka itu lemah dan harus diselamatkan dari naga jahat. Haruskah 100 tahun lagi misalnya, dongeng akan selalu jadi seperti itu?

Ini jadi tugas kita bersama kemudian hari ini: mencipta dongeng-dongeng baru dengan nilai-nilai yang sesuai dengan zamannya.

Leiden, 21 November 2015
1.20 PM

PS: Untuk tulisan saya yang senada lainnya, silakan tilik Maleficent dan Salawati Daud: The Hidden Triumph of Matriarchy?

Friday, August 22, 2014

Leiden Berhati Nyaman

Jadi, ntah dari mana saya harus memulainya. Yang jelas selama beberapa bulan sejak awal tahun 2014 ada terlalu banyak kejutan dalam hidup saya. Kejadian demi kejadian menakjubkan silih berganti saya alami sendiri. Salah satunya seperti saat ini: saya sedang selonjoran di atas kasur sambil mengupdate blog dari apartemen mahasiswa di Smaragdlaan, Leiden, Belanda.

Leiden lagi?

Saya pun tidak menyangka jika akan bersua dengan Leiden secepat ini. Kota yang penuh kenangan oleh perjuangan La Galigo Music Project pada bulan desember lalu. Kota yang membuat saya yakin bahwa tidak ada yang mustahil untuk ditempuh di dunia. Segalanya hanya perkara waktu. Bisa cepat, bisa juga lambat. Kota yang membuat saya masih punya keyakinan terhadap kemanusiaan dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Sekarang hari keempat saya di Leiden. Udara Belanda yang seharusnya (masih) riap-riap dengan semangat musim panas ternyata menipu kami semua. Hujan dingin turun tiap hari dengan frekuensi yang berbeda-beda dan durasi yang sempit. Bisa saja lima menit yang lalu langit cerah dan matahari bersinar terang, lalu saat ini mendung menyerang dengan tiupan angin yang menyakitkan. Sungguh, cuaca Leiden saat ini bak seorang remaja pancaroba yang hidupnya penuh drama!

Berhubung jarak dari apartemen Smaragdlaan ke kampus (Gedung Lipsius, Faculty of Humanities Universiteit Leiden) cukup jauh, maka saya dihadiahi sebuah sepeda oleh Dr. Firdaus Hamid, penolong kami nan baik hati pada episode yang lalu. Sepeda tuanya yang dianggurkan selama setengah tahun itu kemudian saya perbaiki. Dengan sepeda itulah petualangan besar saya menapaki kenangan-kenangan lama dan menemukan lorong-lorong baru dimulai.

Setiap hari saya dibuat merinding melintasi Sungai Rijn yang mengalir dari jantungnya di Swiss dan Jerman, menembus gerbang bergaya Romawi kuno di Arsenaalstraat menuju Lipsius yang ternyata letaknya bersebelahan dengan KITLV dan berseberangan dengan Leiden University Library. Setiap hari, selama menjalani kuliah matrikulasi Bahasa Belanda untuk para akademisi Encompass, mata saya menatap Leiden University Library dari jendela. Saya tidak pernah menyangka, sungguh, jika jarak saya dengan NBG 188 (naskah La Galigo terpanjang di dunia) itu hanya selemparan batu setelah pertemuan pertama kami yang menakjubkan di musim dingin 2013.


Ada tempat-tempat dan teman-teman baru yang saya temukan di Leiden Jilid II ini. Peterskerk dan Latin Quarter-nya. English Gate yang ternyata adalah asylum atas leluhur pendiri Amerika Serikat.  Fakultas Indologi di jalan Rapenburg yang dulunya adalah tempat belajar Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Taman Hortus Botanicus yang tak mungkin terwujud tanpa bibit-bibit tanaman tropis yang dibawa VOC. Serta De Academie universitas baru saya ini yang rupa-rupanya menyimpan patung seorang ilmuwan asal Indonesia. Tiap hari Leiden tak kering oleh kejutan. Lorong-lorongnya yang (sepertinya) sudah saya jelajahi oleh kaki dan roda sepeda ternyata bagaikan labirin yang selalu menyiapkan kisah-kisah seru.

Singkat kata, tak henti-hentinya saya bersyukur kepada Tuhan atas nikmat yang telah ia berikan kepada saya. Kemarin sore saat berkunjung ke kamar seorang kawan Encompass dari Thailand dan Cina (namun berkuliah di Tel Aviv dengan jurusan Studi Timur Tengah serta punya nama Arab "Yusuf"!) bersama Neilabh dari India, perbincangan kami mulai mengalir dari Soeharto ke Sriwijaya, ke ISIS, ke konflik Israel-Palestina, ke komunitas Tionghoa Makassar bahkan sampai ke tradisi sufi di Gujarat. Kami menghabiskan waktu berjam-jam hingga malam (yang masih terang-benderang karena musim panas) tanpa merasa letih karena terus bicara. Saat itulah saya merasa bahwa dahaga intelektual yang selama ini bingung kemana rimbanya untuk dipuaskan akhirnya terpenuhi. Di sinilah tempatnya. Leiden adalah tempatnya. Iklim intelektualnya didukung oleh multikulturalisme yang dibawa oleh beragam manusia dari berbagai penjuru dunia. Belum lagi kebaikan hati Marijke dan Esther, program koordinator saya yang amat sangat perhatian dan penuh dukungan. Saya bersyukur karena dipilihkan oleh-Nya untuk belajar di sini, sungguh.

*Meskipun hingga saat ini saya masih bete karena bagasi yang nyasar entah kemana itu hingga sekarang belum dikirim-kirim juga oleh KLM

Hujan dingin boleh kamu turun di Leiden
Menyapu mentari musim panas yang lebat terangnya
Tapi jangan pikir kau kan mampu menyapu
Hasrat akan ilmu yang kubawa dari Indonesia
karena akan kukantongi seluruhnya, kubawa pulang
Dan kubagi-bagikan kepada para pendemo di pinggir jalan

Smaragdlaan,
22 Agustus 2014

Monday, August 11, 2014

Tentang 1826

Suatu hari di apartemen Riverpark, kota kecil Athens, Ohio saat daun-daun mulai berguguran dan diri ini tengah kangen-kangennya dengan makanan Indonesia, saya dijamu oleh dua orang malaikat penolong bernama Nelly Martin dan Mila. Kak Nelly berasal dari Jakarta sedangkan kak Mila yang pernah mengikuti studi ke Australia sebelumnya berasal dari Gorontalo. Sebagai sesama perantau Indonesia di Amerika Serikat, saat itu status saya adalah seorang siswa pertukaran pelajar di Athens High School sementara kedua kakak yang saya kagumi tersebut sedang melanjutkan studi sebagai mahasiswa di Ohio University. Di sela-sela menyantap ayam kecap yang dimasak oleh keduanya, mengalirlah cerita-cerita masa lalu dari pengalaman hidup mereka yang memang jauh lebih banyak daripada saya. Anak SMA yang saat itu baru berumur 16 tahun ini pun duduk manis dengan mata berbinar, mulut sibuk mengunyah dan telinga siap mendengar bait-bait kenangan yang mereka lantunkan kembali.

Kak Nelly yang saat itu berstatus sebagai seorang pengantin baru mengisahkan bagaimana pertemuannya dengan sang suami yang adalah teman SMA-nya juga. Sambil sekali-sekali tersipu malu sendiri, ia bercerita bagaimana dirinya yang dulu bersuara lantang ini dapat menjalin kisah cinta dengan seorang anak remaja mesjid yang juga berbagi tanggal lahir yang sama dengannya. Kami tertawa-tawa siang itu, tidak hanya karena kisahnya yang unik namun juga karena gaya kak Nelly mendeskripsikan kejadian demi kejadian dengan serunya. Berbulan-bulan kemudian di saat kota Athens semakin ramai dengan kedatangan kakak-kakak pelajar Indonesia lainnya, kak Nelly yang selalu jadi pusat perhatian ini dijuluki sebagai tukang lenong, bukan sebagai ejekan namun sebagai apresiasi karena keunikannya dalam ber-storytelling.

Enam tahun kemudian, di bulan Mei saya berjalan keluar dari toko buku Gramedia Ambarrukmo Plaza seraya menggenggam sebuah buku. Buku itu berjudul 1826, pengarangnya bernama Nelly Martin. Saat membuka halaman demi halaman dan tenggelam di antara baris kata-katanya, saya pun tersenyum. Kisah yang serupa tapi tak sama dari seorang Nelly kini terhadir kembali di dunia Kelly.

Review 1826:

1826 berkisah tentang pengalaman seorang gadis muda bernama Kelly yang mengejar cita-citanya untuk bersekolah di Amerika Serikat. Kelly yang penuh ambisi demi mempersiapkan segala sesuatunya untuk belajar ke luar negeri terpaksa harus mendapat pukulan keras dengan kehilangan sang ayah yang amat ia cintai empat hari setelah keberangkatannya. Ia berjuang melawan kesedihan tersebut di tengah lingkungan, cuaca dan budaya baru yang acapkali menimbulkan salah pengertian. Di tengah-tengah kesibukan studi serta kehidupan pertemanannya di Ohio University, tiba-tiba seseorang dari masa lalu Kelly hadir kembali. Kelly dipaksa untuk berhadapan dengan berbagai macam pertimbangan dan pria-pria lainnya yang menunjukkan ketertarikan sebelum akhirnya memutuskan kepada siapa hatinya akan berlabuh.

Buku ini ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama. Perasaan-perasaan serta pikiran-pikiran yang dirasakan oleh Kelly terpapar jelas bagi pembaca. Dunia yang dilihat pun adalah dunia lewat mata Kelly yang digambarkan secara deskriptif; detail terkait ruangan kantor, kampus, teman-teman serta kota Athens yang ia tinggali terasa begitu hidup.Keunikan dari novel ini di tengah kumpulan novel-novel lain yang bercerita tentang kehidupan pelajar Indonesia di luar negeri maupun dilema kisah cinta yang bersemi di negara dengan empat musim terletak pada kekuatan penarasian Kelly. Nelly Martin berani keluar dari bayang-bayang Andre Hirata yang mengobral mimpi sebagai senjata sakti pelajar kampung dari Belitong untuk berkeliling dunia atau karya semi relijius Man Jadda Wa Jadda-nya Ahmad Fuadi. Meskipun berkisah mengenai pengalaman hidup dan belajar di negeri Paman Sam, Nelly tidak menonjolkan sisi tersebut sebagai fokus utama penceritaannya, ia malahbermain-main dengan kegalauan hati tokoh Kelly dalam menentukan pasangan dan sekali-sekali membuat pembaca iri oleh suguhan deskripsi Ohio University. Kisah cinta yang dijalin juga terbilang unik karena tidak biasa, tidak klise atau mendayu-dayu namun apa adanya. Sekilas gaya Nelly bertutur mirip para penulis muda teenlit yang berapi-api, namun dengan aksen yang lebih dewasa. Novel ini pada saat yang bersamaan juga menekankan arti penting spiritualitas sebagai motor penggerak kehidupan manusia. Misteri hidup-mati, jodoh, dan rezeki yang menjadi sentra karya ini mengajarkan kita hikmah dalam setiap keterbatasan kemampuan dan takdir-takdir mengejutkan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Beberapa hal yang kurang sreg bagi pembaca atas novel ini terletak pada repetisi momentum maupun kalimat yang terkadang menggantung. Meskipun tidak mengganggu isi novel, namun dari segi kebahasaan mengurangi sedikit unsur estetikanya. Terlepas dari semua itu, novel ini layak dibaca.

Kak Nelly, selamat atas kelahiran 1826 :) 


Friday, July 4, 2014

Maleficent dan Salawati Daud: The Hidden Triumph of Matriarchy?



Alkisah, cerita asli Sleeping Beauty tidak seperti yang didongengkan kepada kita selama ini.  Putri Aurora yang malang dan dikutuk untuk mengalami tidur  panjang bagaikan maut itu sebenarnya ialah korban atas kesalahan masa lalu sang ayah. Maleficent, seorang peri hutan yang tadinya baik hati berubah menjadi jahat demi melampiaskan kekesalannya atas pengkhianatan cinta yang dilakukan oleh sang raja. Akan tetapi di akhir cerita, Maleficent yang terus mengamati Aurora tumbuh berkembang menjadi seorang gadis yang penuh cinta justru memutuskan untuk menarik kembali kutukannya. Tidak hanya itu, ia juga menyelamatkan Aurora dari kejahatan ayahnya sendiri.
 
Demikianlah kira-kira rangkuman atas film “Maleficent” yang dirilis oleh Disney beberapa minggu lalu. Angelina Jolie yang memerankan Maleficent di film ini berhasil membawakan karakter peri hutan yang amat berkuasa namun rapuh dari segi perasaan. Maleficent ditipu oleh seorang pemuda desa yang berambisi untuk menjadi raja. Sayap Maleficent yang indah menjadi korban atas niat jahat lelaki yang ia cintai itu. Sayap Maleficent ini di mata saya sejatinya merupakan simbolisasi dari trofi atau piala kemenangan sebagai bukti kejantanan laki-laki dalam menaklukkan energi alam yang dianggap liar dan tak beradab. Bukan cerita baru, wanita dijajah pria itu sudah hadir di tengah-tengah dunia sejak dulu kala. 
Sentra utama dongeng yang ditampilkan dalam wajah baru ini sebenarnya ada pada sisi si karakter utama: Maleficent. Maleficent, tidak seperti yang diyakini oleh banyak orang selama ini, tidak berniat untuk mencelakai Aurora hanya karena dirinya tidak diundang ke jamuan makan pembaptisan sang putri. Maleficent di sini merupakan simbolisasi dari perempuan yang terluka, dipaksa untuk tunduk pada dunia patriarki yang tidak mengharapkan figur perempuan untuk tampil di tatanan sosial masyarakat. Perempuan harus didomestikasi, dalam film ini disimbolkan melalui “pengebirian” sayap indah Maleficent.
Angelina Jolie sebagai Maleficent
Ada kisah menarik tentang sosok perempuan yang “dikebiri” sayapnya oleh Orde Baru dan diantagoniskan, persis seperti Maleficent ini. Namanya Salawati Daud. Jika anda tanya siapa dia hari ini, hampir seluruh suara akan langsung mengarah kepada satu kata “PKI!” atau “Gerwani!”. Ya, Salawati Daud memang merupakan seorang aktifis PKI di era 50-an. Ia bahkan turut serta dalam embrio yang kelak akan melahirkan perkumpulan Gerwani bersama Umi Sardjono. Pasca peristiwa G.30/S meletus, Salawati Daud yang saat itu menjadi anggota DPR digelandang oleh tentara keluar gedung parlemen untuk kemudian dijebloskan ke Penjara Bukit Duri. Sejak saat itu nama Salawati Daud bagaikan sebuah nista. Ia dihapus dari dokumen-dokumen sejarah dan dilupakan perannya sebagai tokoh awal pemberdayaan wanita di republik ini.

Salawati Daud ialah seorang perempuan Bugis dari Sulawesi Selatan. Kebudayaan Bugisnya mengajarkan Salawati untuk menjadi seorang perempuan yang tangguh, mitra setara lelaki yang sepadan, bukan sekedar pelengkap hidup semata. Sudah mengalir di dalam kultur Sulawesi Selatannya bahwa perempuan seperti halnya laki-laki bebas untuk mengekspresikan opini di hadapan publik. Sejak tahun 1930 ia aktif menentang kekuasaan kolonial Belanda di tanah air. Ia yang juga anggota Perserikatan Celebes bersama dengan Nadjamoeddin Daeng Malewa, Lindoe Marsajit, Th. Lengkong dan Nyonya Lumenta mendirikan Perhimpunan Perguruan Rakyat Selebes (PPRS) dengan tujuan memajukan pendidikan bagi masyarakat pribumi. Tercatat, Salawati juga merupakan seorang pionir perlawanan perempuan di bidang pers, ia mendirikan majalah Wanita pada tahun 1945 serta menjadi direksi majalah Bersatu yang saat itu adalah bacaan laris. 

Mental baja Salawati yang senantiasa menuntut keadilan bergejolak ketika pasukan NICA memasuki tanah air pasca kemerdekaan. Ia mengobarkan semangat gerilya dengan berkeliling daerah di Sulawesi Selatan serta memimpin sendiri perlawanan ke sebuah tangsi polisi di Masamba (saat ini ibukota Kabupaten Luwu Utara). Salah satu prestasi terbesar Salawati ialah saat ia ditunjuk sebagai Walikota pertama kota Makassar di tahun 1949. Dengan demikian, Salawati merupakan walikota perempuan pertama di Indonesia. Salawati Daud juga seorang tokoh mediator yang berusaha meredam ambisi Kahar Muzakkar saat hendak menggulingkan pemerintah Indonesia dengan gerakan DI/TII-nya. Suaminya yang seorang pejabat pemerintah di Maros amatlah mendukung aktifitas-aktifitas sang istri.

Pada tahun 1955, ia melanjutkan perjuangannya menyuarakan hak-hak sipil wanita ke Senayan dengan menjadi anggota DPR. Sayangnya, berbeda dengan Opu Daeng Risaju, Andi Depu dan Emmy Saelan yang menerima penghargaan dari rakyat Sulawesi Selatan sebagai pejuang-pejuang wanita, nama Salawati Daud tenggelam dalam dongeng-dongeng yang dihembuskan oleh pemerintah akan kejahatan ideologi komunisme di masa Orde Lama. Persis seperti Maleficent. Kita hanya mengenangnya dari logo Palu dan Arit yang dicitrakan jahat seperti iblis. Ia dikebiri oleh dunia lelaki Orde Baru, tidak hanya didomestikasi namun juga didemonisasi.
Satu hal lagi pelajaran moral yang saya dapat dari film Maleficent adalah: kebenaran, sebagaimana pula kejahatan, memiliki dua sisi. Terkadang kita terlalu awam untuk lekas menjatuhkan putusan “ini benar” atau “ini salah”. Ada banyak kisah yang melatari kenyataan mengapa sebuah peristiwa dapat terjadi. Kisah-kisah dan dongeng-dongengan lama mungkin perlu kita tilik ulang kembali. Siapa tahu ada Maleficent-Maleficent dan Salawati-Salawati lainnya yang terselip kepahitan zaman di antara belenggu-belenggu perjuangan. Malang, sebagai manusia kita cenderung bermain Tuhan. Kita tak dapat menerima ketakbersalahan seseorang, namun anehnya mengumbar-umbar ketarbersalahan diri kita sendiri meski telah terbukti kalah.

Selamat berakhir pekan, selamat menunaikan ibadah puasa. Jangan lupa menggunakan hak pilih anda dengan bijaksana di TPS terdekat tanggal 9 Juli 2014.

Yogyakarta,
5 Juli 2014

Wednesday, April 9, 2014

Secangkir Kopi Demokrasi

Hari ini 9 April 2014. Hari dimana demokrasi dirayakan di Republik Indonesia. Hari yang jadi momentum  pemilihan umum bagi anggota legislatif. Hari dimana dalam sekejap seluruh pemuda (dan juga beberapa orang tua) mendadak memenuhi instagram dengan foto jari-jari mereka (entah itu kelingking, jempol, telunjuk, atau bahkan jari tengah) yang dihiasi oleh tinta berwarna ungu. Hari dimana Starbucks dan juga beberapa bisnis lainnya menyajikan layanan gratis bagi mereka yang berjari ungu ini. Hari dimana akhirnya poster-poster caleg itu akan dibersihkan dari pandangan mata kita di jalan raya. Hari dimana partai-partai besar was-was dan hari dimana partai-partai kecil harap-harap cemas. Demikianlah hari ini, bagi kita yang hidup berdemokrasi. Demokrasi berarti anda berhak untuk memilih siapa saja; bahkan berhak untuk tidak memilih. Jika pilihan anda menentukan masa depan, maka ingat pula bahwa ketidakikutsertaan anda pun mewakili masa depan.

Mari rayakan hari ini dengan segelas kopi. Kopi pekat bernama demokrasi. Ingin anda nikmati pahit apa adanya atau dicampur gula, semua tergantung selera.

Saturday, March 29, 2014

Di Akhir Maret...

Ceritanya, alhamdulillah saya diterima untuk melanjutkan sekolah di Erasmus School of Law, Erasmus University. Universitas tertua ketiga di Belanda ini terletak di kota Rotterdam (saya juga baru ngecek kalau ternyata Erasmus University ini bulan November kemarin 'berulang-tahun' yang ke 100, berdiri sejak 1913), dimana dulunya Bapak Proklamator kita, Bung Hatta pernah mengenyam pendidikan Ilmu Ekonomi. Bung Hatta yang setelah belajar di sana, balik ke Indonesia, dan kemudian mencetuskan sistem koperasi. Ya, siapa yang nggak seneng sih. Sekolah hukumnya masuk peringkat 10 menurut Social Science Research Network (SSRN) 2013. Pesaing-pesaing untuk memperebutkan bangku di sekolah ini juga lumayan gila. Bayangkan, tahun 2011 kemarin Erasmus University dibanjiri 20.941 orang pelamar dari seluruh dunia. Bandingkan dengan UGM yang tahun ini membuka diri kepada 45.000 pelamar dan hanya menerima 3.316 orang saja. #promosi #almamater Awesome. Oke, cukup sudah pamernya. Paragraf ini sengaja didedikasikan untuk luapan kegembiraan serta kebanggaan saya pribadi hehehe.

Di Erasmus School of Law nanti saya rencananya akan belajar International and European Public Law. Cukup menyimpang dari jalur saya yang sebenarnya lebih fokus ke Hukum Kekayaan Intelektual (dimana kalau di UGM masuk ke dalam kategori Hukum Bisnis). Lalu apa sebabnya sehingga saya kemudian banting setir ke Hukum Internasional. Jawabannya, selain karena fakta bahwa Erasmus School of Law tidak punya program khusus terkait HAKI, adalah karena saya ingin memanfaatkan kesempatan belajar di Belanda ini untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan dan pengalaman.

Saya adalah seorang pelajar yang multidispliner -atau setidaknya saya ingin menjadi seperti itu. Kesukaan saya terhadap ilmu-ilmu bahasa, sejarah, antropologi terkadang dipandang sebelah mata oleh rekan-rekan ilmu hukum lainnya. Apalagi jika sudah nyerempet-nyerempet ke budaya dan adat, obrolan yang mengasyikkan hanya dapat saya temukan pada beberapa orang saja. Tidak semua orang peduli atau merasa penting dengan bahasan yang saya anggap menarik. Dianggap kuno, padahal menurut saya memandang hukum sebagai ilmu yang berdiri sendiri tanpa mencari kaitannya dengan cabang ilmu lain itu lah yang kuno, sudah nggak zamannya lagi. Hukum sebagai alat untuk menjamin keadilan, kepastian dan kemanfaatan di tengah masyarakat, mengabaikan diri dari mempelajari unsur-unsur yang seharusnya ia lindungi bagi saya adalah kesalahan fatal. Mendalami hukum lingkungan berarti harus faham dengan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan lingkungan, demikian pula jika ingin mendalami hukum bisnis, harus paham betul dengan logika ekonomi serta perkembangan dunia bisnis.

Saya memutuskan untuk mengambil International and European Public Law karena saya memandang diri ini sebagai bagian dari sebuah masyarakat dunia yang melekat dengan akar tradisional. Isu-isu terkait budaya Indonesia tidak bisa cuma dilihat dari tempurung lokal saja, hari ini globalisasi menciptakan banyak jaringan yang menghubungkan seluruh penduduk dunia dalam "rumah yang sama". Demikian juga ketika kita membahas persoalan terkait masyarakat adat, sejauh apakah dunia internasional yang jago merumuskan ini-itu -yang konon demi kesejahteraan golongan ini- paham dengan situasi akar-rumput di negara-negara dunia ketiga? Riset seperti apa yang mereka gunakan untuk membela kepentingan masyarakat yang hidupnya bergantung kepada alam yang terus-menerus dieksploitasi, dan yang beragam ekspresi seninya dirampok habis-habisan melalui komersialisasi, dan yang pada saat itu juga nilai-nilai kearifan lokalnya digerus oleh industrialisasi budaya pop Barat?

Belanda, negeri yang unik. Tidak saja karena ribuan khazanah peradaban Nusantara terawat dengan baik di sana, namun juga karena di mata dunia internasional Belanda menjadi tuan rumah atas ICJ yang terkenal itu. Ribuan kasus masuk ke Mahkamah Internasional yang berkedudukan di Den Haag, didiskusikan, dicari-cari solusinya. Sampai sejauh mana kah perspektif Desa Adat di Bali yang berhadapan dengan hukum nasional serta kepentingan pemodal asing terdengar di sana? Sampai sejauh apakah pemahaman mereka tentang pentingnya "laut ulayat" bagi masyarakat Suku Bajo yang daerah hidupnya dirampok serta trayek pelayarannya disabotase oleh pemerintah Australia? Ya, itu semua memang berada di luar yurisdiksi ICJ, akan tetapi saya ingin menyaksikan secara langsung sejauh apakah concern terkait isu-isu ini disentuh, dibicarakan, serta dibuatkan putusannya.

Saya ingin belajar dan terus berkembang. Karena itu demi memenuhi kualitas diri sekaligus memposisikan diri saya sebagai manusia yang peduli dengan manusia lainnya, saya memutuskan untuk berangkat ke Erasmus School of Law. Seorang pemuda dari kota Benteng Fort Rotterdam yang berkelana mencari ilmu di kota Rotterdam. Doakan, semoga banyak inspirasi yang saya temukan di sana untuk menciptakan petualangan kreatif lainnya di Bumi Nusantara.

Rahayu, kurruq sumangaq!


Yogyakarta,
29 Maret 2014

Monday, February 10, 2014

Duhai Adat, Masih Laku kah Kamu?

Jadi, tulisan ini berawal dari suatu obrolan singkat di siang hari menjelang sore. Obrolan ini berlangsung di kantor saya (yang sebenarnya adalah kantor Wakil Dekan bidang Alumni dan Kerjasama) bersama dengan boss/senior AFS/dosen saya, mbak Linda.

Awalnya saya hanya menunjukkan sebuah buku berjudul "Adat dalam Politik Indonesia" yang diterbitkan oleh KITLV (institut riset yang sebulan lalu saya kunjungi di negeri Belanda). Buku berwarna merah tersebut sengaja saya beli sebagai bahan referensi untuk mengerjakan materi powerpoint terkait "HAM dan Hukum Adat" yang di-assign kan oleh mbak Linda kepada saya. Buku itu ternyata menarik sekali, membahas banyak sudut terkait perjuangan masyarakat adat di negeri berbhinneka yang tengah digempur arus globalisasi serta kepentingan asing.

Saat sedang menceritakan bagian awal dari isi buku tersebut, saya tiba-tiba nyeletuk:
"Mbak, kalau dipikir-pikir sebenarnya kita ini hidup di tengah unsur-unsur hukum asing ya. Coba deh, contohnya dunia sekarang mengarah ke sistem common law-nya Inggris, yang notabene berakar dari kebudayaan mereka. Bukannya itu berarti kita mengikut kepada "hukum adat"-nya mereka ya?"
Pertanyaan tiba-tiba saya itu pun direspon oleh mbak Linda:
"Lul, nggak semua yang asing itu jelek lho. Sistem demokrasi yang diterapkan di Indonesia ini saja kan asalnya bukan dari Jawa tapi juga dari luar. Sepanjang sistem tersebut bermanfaat bagi masyarakat kita ya kenapa tidak? Lagian di negara kita ini, sistem hukum yang dianut memang bersifat dualisme. Hukum Islam maupun Hukum Adat tetap diakui oleh pemerintah sebagai aturan yang hidup di tengah masyarakat, grass root, akan tetapi kedudukan hukum Hukum Nasional adalah superior, berada di atas keduanya. Kondisi masyarakat kita yang majemuk memang menghendaki demikian, dan Hukum Nasional memang harus diutamakan demi menghindari terjadinya benturan."
Setuju. Saya setuju dengan jawaban mbak Linda. Saya setuju, jika seandainya sistem demokrasi berasal dari Zimbabwe pun sepanjang itu memberikan kemanfaatan yang besar bagi umat manusia maka layaklah untuk diadopsi. Akan tetapi saat itu juga saya berfikir: jika kita saat ini terlarut dalam arus unsur-unsur hukum asing yang di dunia internasional diterima sebagai kelaziman, lantas mengapa tidak ada upaya dari dalam negeri ini sendiri untuk mengangkat nilai-nilai universal dari kelokalannya? Apakah tidak ada kira-kira satu unsur saja dari kekayaan ragam Hukum Adat maupun kearifan lokal di negeri kita ini yang dapat diusung sebagai "sistem yang bermanfaat bagi umat manusia" selayaknya metode voting dari Yunani maupun yurisprudensi dari Inggris?

Dalam hal ini saya berpikir keras. Dulu, saya pernah terlibat diskusi seru dengan salah seorang sahabat saya (yang alhamdulilah kemarin baru saja resmi menjadi sarjanawati Hubungan Internasional Universitas Indonesia, hoorah!) yang bernama Diku. Diskusi tersebut berujung pada sebuah kesimpulan kami bahwa sistem negara kesatuan di negeri ini tidak dijalankan dengan baik sehingga menyebabkan banyak kerugian bagi golongan minoritas dan daerah-daerah di Indonesia Timur serta Kalimantan. Otonomi? Bagi saya itu terlihat seperti majikan (sistem sentralistik) yang membagi-bagikan kue dengan porsi kecil kepada anak-anak buahnya. Sistem ini juga kami rasa tidak cocok diterapkan di tengah negara dengan kontur budaya yang majemuk seperti Indonesia. Kami setuju dengan pemikiran Hatta dahulu yang menghendaki agar Indonesia ini jadi negara federal saja. Meskipun banyak cemoohan yang mengatakan bahwa sistem negara serikat sudah pernah diterapkan sebelumnya dan hasilnya adalah sebuah kegagalan, saya dan Diku (serta pacarnya yang ternyata telah terlebih dahulu mencetuskan ide ini) foreseen sebuah utopia bernama United States of Nusantara. Jadi pada hakikatnya kembali ke semangat rakyat itu sendiri, unit-unit mandiri yang masing-masing kemudian memberikan secuil jatah kue mereka kepada pemerintah pusat. 

Saya rasa kita telah terlanjur terjebak di tengah paradigma bahwa Hukum Adat sifatnya tertutup, hanya hidup di tengah masyarakat dengan lingkup geografis tersebut semata. Padahal, semenjak saya aktif menelaah kekayaan budaya lokal dengan mendirikan Lontara Project pada tahun 2011, saya dibuat terkejut-kejut plus terkagum-kagum dengan banyaknya nilai lokal yang pada prinsipnya mengandung nilai-nilai keuniversalan. Salah satu contohnya yang hingga hari ini masih membuat saya takjub adalah muatan unsur-unsur demokrasi, kontrak sosial, emansipasi dan hak atas properti yang terkandung di cerita rakyat turunnya Tumanurung Bainea di kerajaan Gowa yang sumbernya berasal dari lontar-lontar kuno.

Alkisah, memasuki abad ke-14, setelah lewat zaman La Galigo, di Sulawesi Selatan terjadi kekacauan selama tujuh generasi. Abad-abad kegelapan ini ditandai oleh berlakunya hukum rimba, dimana yang kuat menjajah yang lemah, serta bencana alam yang datang susul-menyusul. Di tengah ketiadaan kepastian hukum tersebut, absen pula sosok pemimpin berkarisma yang dapat memecahkan masalah serta mampu memimpin rakyatnya menuju persatuan. Saat itu di wilayah yang saat ini bernama Gowa, terdapat sembilan buah desa dengan masing-masing kepala daerahnya yang bergelar gallarang.

Di suatu malam yang gelap gulita, mendadak turun seberkas cahaya dari langit utara. Kesembilan gallarang merasa bahwa cahaya tersebut merupakan sebuah pertanda yang akan mengakhiri masa-masa kegelapan. Dibekali oleh kepercayaan diri, kesembilan gallarang tersebut meniti cahaya yang konon jatuh di atas sebuah bukit bernama Takaq Bassia. Di atas bukit itulah seorang wanita cantik yang mengenakan mahkota emas berdiri. Merasa bahwa beliau merupakan seorang dewi yang turun dari langit untuk memerintah di muka bumi, maka kesembilan gallarang pun segera menyembah dan meminta sang putri untuk menjadi ratu mereka. Sang Putri yang dikemudian hari dijuluki Tumanurung (orang yang turun dari langit) Bainea (berjenis kelamin wanita) ini tidak serta-merta menerima ajakan dari kesembilan gallarang. Melalui sebuah perjanjian yang panjang dalam bentuk syair 13 pasal, ia sepakat menjadi pemimpin mereka sepanjang hak-haknya diperhatikan. Kesembilan gallarang pun mengakui hak-haknya seraya mengajukan syarat bahwa hak-hak tersebut memiliki batasan, dimana sebagai penguasa Tumanurung Bainea tidak boleh melanggar hak-hak tertentu dari rakyatnya. 

Kejadian tersebut dilukiskan seperti berikut (pasal-pasal pilihan):

Berkatalah kesembilan gallarang kepada Tumanurung

Pasal 1
Anne niallenu kikaraengang (dengan dijadikannya dirimu sebagai raja/pemimpin kami)
Karaeng mako ikau (maka rajalah kamu)
Atamakkang ikambe (kami adalah abdimu)
Pasal 4
Ikambe tanakaddok bassinu (kami tidak akan ditikam oleh besimu)
Ikau tanakaddok bassimang (kamu tidak akan ditikam oleh besi kami)
Pasal 6
Makkanamako kummamiyo (bersabdalah maka akan kami iya-kan)
Naiya punna massongkang (namun apabila kami menjunjung)
Tammallembarakang (kami tidak memikul)
Punna mallembarakang (apabila kami memikul)
Tammassongkang (kami tidak menjunjung)
Pasal 7 
Angimmako ki lekkokayu (dirimu adalah angin, kami adalah daun kayu)
Naisani madidiyaji nuiri (namun hanya daun yang telah kuning yang dapat engkau jatuhkan)
Pasal 10
Anne niallenu kikaraengang (dirajakannya dirimu oleh kami)
Battang kalemanji akkaraengangko (sesungguhnya hanya badan kamilah yang merajakanmu)
Teyai pangannuammang (bukan harta benda milik kami)
Pasal 11
Tanuallei jangang ri lerammang (tidak kau ambil ayam di tenggerannya)
Tanukoccinai bayao ri bakampomang (tidak kau rogoh telur dari keranjangnya)
Tanuallei kaluku sibatummang (tidak kau ambil sebiji pun kelapa)
Rappo sipaemmang (setangkai pun buah kami)
Pasal 13
Karaeng tammanapuk bicara ilalang (raja tidak memutuskan perkara dalam negeri)
punna taenai gallaranga (bila gallarang tidak hadir)
Gallaranga tammanapuk bicara bunduk (gallarang tidak memutuskan perang)
punna taenai karaenga (jika raja tidak hadir)

Nah, dari pembacaan di atas, semoga teman-teman juga mendapatkan maksud yang saya utarakan.
Jelas, jauh sebelum konsep Kontrak Sosial yang diusung oleh John Locke terkait perjanjian antara penguasa dan rakyatnya, di Nusantara kita telah mengenal unsur serupa. Tumanurung Bainea diangkat oleh kesembilan gallarang yang merupakan wakil rakyat sebagai penguasa (pasal 1). Di saat yang sama, ia diberikan hak untuk bertitah, memerintah seluruh negeri. Akan tetapi kekuasaannya ini pun dibatasi. Ia tak dapat bertindak sewenang-wenang atau melakukan power abuse (pasal 4 dan pasal 6). Ia akan dituruti sepanjang perintahnya masuk akal. Pada pasal 7 si penguasa diibaratkan sebagai angin dan rakyatnya sebagai daun pepohonan. Meski demikian, angin tersebut hanya dapat menjatuhkan dedaunan yang berwarna kuning atau memang sudah tua, simbolisasi bahwa titah paduka sepanjang masih dapat diterima akal dan lazim akan kami emban. Pasal 11 menunjukan batasan terkait hak-hak privat yang tidak boleh dilintasi oleh si penguasa. Pasal 13 memaparkan pentingnya wakil rakyat dalam pengambilan keputusan, tidak boleh sebelah pihak saja.

Saya yakin, selain kisah Tumanurunga Bainea dari Sulawesi Selatan, pasti masih banyak kearifan lokal masyarakat adat di daerah lain tekait konsep kenegaraan maupun hukum. Sekarang kembali kepada kita sendiri, sampai sejauh manakah kita ingin mengeksplor apa yang sudah ditinggalkan oleh nenek moyang kita hingga hari ini? Indonesia 50 tahun mendatang ditentukan oleh sikap kita hari ini, lho.



Yogyakarta, 10 Februari 2014

Friday, January 24, 2014

Apakah Soekarno Pernah Membaca Teks Sumpah Palapa?

Pada film Soekarno garapan Hanung Bramantyo yang dirilis Desember 2013 lalu, ada sebuah adegan yang menarik perhatian saya. Dikisahkan, Sukarno yang tengah hidup dalam pengasingan terakhirnya di Bengkulu mengisi hari-hari sebagai seorang guru di sebuah Sekolah Rakyat. Di sanalah ia bertemu dengan siswi Fatmawati, seorang gadis remaja yang kelak akan menjadi istri keduanya. Sukarno, dengan semangatnya yang berapi-api, menularkan ambisi kepada pemuda-pemuda Melayu muda di kelasnya untuk optimis dalam pembentukan sebuah negara bernama Indonesia yang merdeka dari jajahan Belanda. Hal ini mengundang tanya dari salah seorang gadis kritis yang duduk di bangku bahagian depan: bagaimana mungkin Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau yang banyak ini dapat berdiri menjadi SATU buah negara? Dengan senyum flamboyannya Sukarno menjawab: negara yang berdaulat atas pulau-pulau di Nusantara bukanlah hal yang baru, karena dulu kerajaan Majapahit telah melakukan hal yang sama. Mahapatih Gadjah Mada dengan Sumpah Palapa-nya bertekad untuk menyatukan seluruh Nusantara ini ke dalam satu pemerintahan.

Sampai di sini, mungkin hal itu terdengar familiar di telinga kita, sesuai dengan doktrin yang diajarkan di kelas Sejarah atau PPKN saat kita masih duduk di bangku SD. Majapahit dijadikan sebagai negara maritim kedua Nusantara (setelah Sriwijaya) sekaligus kerajaan nasional pertama karena mencangkup beragam pulau di luar Jawa. Sumpah Palapa lah yang kemudian dijadikan sebagai dalil persatuan Nusantara. Gadjah Mada juga jadi ikon pemersatu bangsa, itulah sebabnya universitas nasional pertama di Indonesia (yang dengan bangganya saya katakan, adalah kampus saya sendiri) diberi nama Universitas Gadjah Mada. Sekarang pertanyaannya, dari mana kah Sukarno mengetahui isi Sumpah Palapa?

Patung Bung Karno, Blitar 2009
Negarakertagama merupakan sebuah kitab karangan Mpu Prapanca –seorang mantan pejabat agama Buddha di kraton Majapahit yang dikeluarkan dari istana karena merasa difitnah oleh salah seorang bangsawan tinggi– yang berdasarkan kolofonnya ditulis pada tahun 1365 M atau 1287 Saka. Naskah ini berjenis kakawin, termasuk salah satu koleksi naskah kuno terlangka dan terunik karena isinya tidak berkisah mengenai pewayangan atau ajaran-ajaran agama (sebagaimana lazimnya isi naskah-naskah kuno Jawa dari era Majapahit lainnya) melainkan sebuah reportase dari sudut pandang orang pertama. Naskah ini berisi ulasan perjalanan Prabu Hayam Wuruk keliling daerah kekuasaannya di Jawa Timur serta deskripsi mengenai kondisi ibukota Majapahit. Sejak kemunduran Majapahit di awal abad ke-15, naskah ini baru muncul ke permukaan pada tahun 1894. Itupun tidak ditemukan di Jawa, melainkan di perpustakaan Puri Cakranegara di Lombok. Alkisah, saat tentara KNIL merangsek masuk dan membakar istana sang raja Lombok, seorang filolog Belanda bernama J.L.A. Brandes menyelamatkan beberapa naskah kuno termasuk di antaranya ialah Negarakertagama. Nah, jangan pula dibayangkan bahwa naskah yang diselamatkan oleh Pak Brandes merupakan naskah lontar kuno yang benar-benar berasal dari era Majapahit. Naskah Negarakertagama di Puri Cakranegara merupakan salinan entah dari naskah Negarakertagama zaman kapan. Oleh Pak Brandes, naskah ini diterbitkan pertama kalinya ke hadapan publik dalam bentuk edisi sementara pada tahun 1902. Lontar asli Negarakertagama sendiri disimpan di Leiden selama berpuluh-puluh tahun, hingga akhirnya dikembalikan ke Indonesia saat kunjungan Ratu Juliana pada tahun 1973. Pada tahun 2008 UNESCO mengakui Negarakertagama sebagai Memory of The World.


Balik ke Sumpah Palapa ya. Sayangnya, teks Sumpah Palapa tidak pernah diukir di atas batu prasasti. Sumpah Palapa tidak ditemukan di relief candi-candi. Sumpah Palapa juga ternyata TIDAK termuat di dalam naskah Negarakertagama yang sudah saya uraikan panjang lebar di atas (ups!). Isi otentik Sumpah Palapa ternyata hanya dapat ditemukan di dalam Kitab Pararaton.

Sukarno, lahir di tahun yang sama dengan publikasi pertama naskah Negarakertagama. Sampai abad ke-21, Negarakertagama masih menjadi kakawin Jawa yang paling banyak dikaji, tidak hanya oleh filolog, namun juga oleh para sastrawan, sejarawan dan arkeolog. Meski demikian, saya sangsi jika Sukarno pernah benar-benar membaca terjemahan Negarakertagama. Apalagi Sumpah Palapa yang termaktub di dalam Pararaton. Apa sebabnya? Pararaton pertama kali di-publish oleh Pak Brandes pada tahun 1897. Edisi keduanya yang disempurnakan muncul di tahun 1920. Nah, edisi inilah yang kemudian beredar luas. Sukarno lulus HBS (kira-kira setingkat SMA) pada bulan Juli 1921, dan langsung mendaftar ke Technise Hoogeschool te Bandoeng (kini ITB). Ia lulus pada tahun 1926. Sepanjang tahun tersebut tidak ada tulisan atau indikasi Sukarno pernah membaca tentang Pararaton maupun membahas Gadjah Mada. Ia memang aktif di organisasi yang sifatnya kejawen seperti Tri Koro Dharmo (bagian dari Budi Utomo), akan tetapi saya sangsi di sana ia mendengarkan pengajian Pararaton. Ibunya memang orang Bali dan tetap beragama Hindu, akan tetapi saya juga sangsi jika Ida Ayu Nyoman Rai mengetahui isi Sumpah Palapa. Ingat, Sumpah Palapa hanya ada di dalam Pararaton yang baru terbit belakangan. Sumpah Palapa dan bahkan nama-nama asli raja-ratu Majapahit lenyap dari ingatan masyarakat Jawa ketika memasuki era Demak dan Mataram. Babad-babad dan serat-serat yang tumbuh subur pada era Mataraman hanya mengingat Gadjah Mada sebagai seorang patih nan gagah perkasa lagi sakti mandraguna, ayah tiri dari Adaningkung atau Angkawijaya, raja Majapahit setelah Brawijaya II. Di Babad Tanah Jawi, Gadjah Mada diingat sebagai seorang patih nan setia, ia berlayar hingga ke negeri Cempa untuk melamar seorang putri atas permintaan Prabu Brawijaya. Ia lalu kembali ke Majapahit sambil membawa sang putri disertai oleh gong bernama Kyai Sekar Delima dan tandu bernama Kyai Jebat Bedri.


Bersama sepupu di depan Makam Bung Karno,
Blitar 2009
Ada satu sosok sahabat perjuangan Sukarno yang cocok untuk melengkapi figur “orang yang pernah membaca Pararaton” dan memberitahukan konsep Sumpah Palapa kepada Sukarno. Sosok ini juga adalah orang yang membisikkan kata “Pancasila” (yang diadopsi dari kitab Tipitaka Buddha) ke telinga Sukarno saat rapat BPUPKI sebagai nama dari 5 konsep dasar negara. Namanya Mohammad Yamin. Mohammad Yamin pernah menjabat sebagai Menteri Kehakiman (1951), Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan (1953–1955), serta Ketua Dewan Perancang Nasional (1962). Ia dilahirkan di Sumatera Barat, bersekolah di Palembang, Bogor, Jogja dan Jakarta, serta belajar Bahasa Yunani, Bahasa Latin, Bahasa Koine dan sejarah purbakala. Ia menikah dengan Raden Ajeng Sundari Mertoatmojo, seorang gadis berdarah biru keturunan bangsawan Demak. Mohammad Yamin pernah menjadi pemimpin Jong Sumatranen Bond (1926-1928). Ia juga merupakan tokoh yang berandil besar dalam menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Selain sebagai seorang aktivis, sastrawan dan sejarawan, Mohammad Yamin pun memiliki gelar di bidang hukum. Ia adalah orang yang mendorong agar poin-poin terkait Hak Azazi Manusia (HAM) dimasukkan ke dalam konstitusi Indonesia. Wah, dalam banyak hal saya dan Pak Yamin punya kemiripan ya, sama-sama pelajar hukum yang suka budaya dan sastra hehehe.

Mengapa harus Mohammad Yamin? Nah, ternyata saat belajar sastra-sastra kuno, Mohammad Yamin dimentori oleh beberapa orang filolog Belanda, di antaranya Prof. H. Kraemer dan Ds. Backer. Prof. H. Kraemer ini selain ahli Bahasa Latin juga merupakan salah seorang anggota dari tim penerjemah Kitab Pararaton edisi kedua bersama dengan Pak N.J. Krom, Pak J.C. Jonker dan Pak Poerbatjaraka. Kemungkinan besar dari sang guru inilah Mohammad Yamin menyerap banyak khazanah tentang sejarah Majapahit. Di kemudian hari, tepatnya pada tahun 1945 Mohammad Yamin menerbitkan sebuah buku berjudul “Gadjah Mada” yang merupakan buku sejarah pertama di Indonesia yang mencitrakan sang Mahapatih sebagai pahlawan pemersatu. Sukarno mulai menggempitakan kejayaan Majapahit yang konon meliputi seluruh Nusantara pasca Indonesia merdeka. Menurut saya pribadi ini termasuk salah satu dari “politik mitos”-nya, yang berusaha merangkul ratusan suku di Indonesia ke dalam latar sejarah yang sama. Hari ini, sudah ada banyak temuan yang membantah anggapan tersebut.

Lalu, mengapa kemudian apakah Sukarno pernah membaca teks Sumpah Palapa ini dibahas? Well, jika ingin jujur maka kita harus mengakui bahwa makna kalimat yang diterakan di dalam sumpah yang konon diucapkan oleh Mahapatih Gadjah Mada itu bernada penaklukkan terhadap hampir seluruh wilayah di Nusantara. Majapahit, yang pada periode-periode Raden Wijaya dan Jayanegara dipenuhi oleh konflik internal berupa pengkhianatan dan pemberontakan, memasuki masa-masa damai di era Tribhuwana Tunggadewi. Hal inilah yang kemudian menurut Slamet Muljana memotivasi Gadjah Mada untuk melebarkan wilayah Majapahit yang telah settle ke berbagai penjuru Nusantara.

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, TaƱjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".Terjemahannya,Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".

Malaysia dan Singapura pernah menolak mentah-mentah ketika dikonfrontasi oleh Sukarno dengan klaim Sumpah Palapa ini. Konon, Majapahit telah berhasil menguasai Pahang (Malaysia) dan juga Tumasik (Singapura), sehingga ketika kedua negara tersebut dianugerahi kemerdekaan oleh Inggris seharusnya masuk ke dalam wilayah Republik Indonesia pula. Malaysia juga punya dalil tersendiri untuk menangkis klaim ini: dalam Hikayat Hang Tuah dikisahkan bagaimana utusan raja Malaka yang bernama Hang Tuah memporak-porandakan ibukota Majapahit yang mengancam akan menaklukkan kerajaannya.

Ada yang miss dengan pembacaan Sumpah Palapa ini sehingga dikemudian hari membuatnya menjadi ikon sakti persatuan Nusantara di masa lalu. Padahal, berdasarkan data-data sejarah ter-update hari ini sendiri, luas Majapahit tidaklah sebesar yang kita bayangkan, hanya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura dan Bali. Prof. Dr. C. C. Berg menulis di dalam “De geschiedenis van pril Majapahit” dan “De Sadeng-Oorlog en de mythe van goot Majapahit”:

Majapahit tidak pernah memiliki wilayah yang luasnya kurang lebih sama dengan luas wilayah Indonesia sekarang. Daerah-daerah di luar Pulau Jawa tersebut hanya merupakan suatu cita-cita saja dan tidak pernah masuk ke dalam wilayah kekuasaan Majapahit
.
Yup, jadi inti dari Sumpah Palapa itu baru sebuah cita-cita atau angan-angan, bukan kenangan beneran bahwa Majapahit pernah menaklukkan seluruh Nusantara. Di dalam buku “Menuju Puncak Kejayaan Majapahit” oleh Slamet Muljana, penaklukkan yang dilakukan oleh Mahapatih Gadjah Mada sendiri hanya tercatat dua kali dilakukan: Padompo dan Pasunda alias penaklukkan Dompo serta penaklukkan Sunda. Yang terakhir itu pun amat tragis, berakhir dengan peristiwa Bubat. Bali juga benar pernah ditaklukkan, namun kemudian tidak berada di bawah kontrol langsung pemerintah Majapahit yang berpusat di Jawa Timur. Sumatera? Nope, bahkan Negarakertagama tidak menyebut-nyebut penaklukkan Sumatera sama sekali. Masih menurut Slamet Muljana, penguasaan Majapahit terhadap Nusantara tidak terletak pada aspek militernya, melainkan pada aspek perdagangan. Saat itu bangsa Jawa masih merupakan pelaut ulung yang punya jung-jung atau kapal-kapal raksasa untuk berlayar mengitari seluruh pelosok kepulauan timur. Majapahit juga tampil sebagai primadona di Nusantara sebab mutu barang-barangnya yang amat high class, menjadikannya kiblat seni saat itu. Ini diperkuat oleh pernyataan Guru Besar Arkeologi Asia Tenggara National University of Singapore John N Miksic yang menyatakan:
Di wilayah Melayu ditemukan artefak berupa kesenian bermotif Jawa. Bentuknya adalah arca Kala Makara dan Dewi Prajnaparamita yang memperlihatkan ciri kesenian khas Jawa Majapahit. Selain itu, juga banyak ditemukan gerabah yang lebih berciri Trowulan. Ada kesinambungan yang terjadi antara hubungan Melayu dengan kerajaan Jawa (Majapahit)

Nah. Mari kita berpikir jernih. Majapahit dan juga ratusan kerajaan lainnya di Nusantara ini adalah bahagian dari sejarah Indonesia. Saya mencintai, mengagumi dan tak henti-hentinya terkesima dengan peradaban kerajaan Majapahit. Dan juga Sriwijaya, Aceh, Gowa, Banten, Banjar, Ternate, dan lain sebagainya. Menjadi Indonesia tidak berarti lantas hanya mencintai sejarah sukunya sendiri. Coba tengok Mohammad Yamin yang Minangkabau totok tapi segitu getolnya mengangkat nama Gadjah Mada di panggung nasional.

Kesimpulannya: sejarah, mungkin tidak semanis kenyataan. Akan tetapi hari ini kita harus berbangga hati dan berlapang dada. Kita adalah bagian dari sebuah bangsa yang untuk ukuran bangsa-bangsa lain di luar negeri lumayan gila: ribuan pulau serta ratusan suku dalam 1 pemerintahan! Yup, biarlah jargon “Bhinneka Tunggal Ika” yang menjelaskan semuanya. Karena dengan atau tanpa Sumpah Palapa, Nusantara yang secara genetis, linguistik dan geografis ini berkerabat satu sama lain memang ditakdirkan untuk menjadi satu.




Salam dari kamar saya di Makassar,


24 Januari 2014