Showing posts with label agama. Show all posts
Showing posts with label agama. Show all posts

Wednesday, March 29, 2017

“Walisongo” Islam Nusantara versi Seorang Profesor Katolik

Menjadi bahagian dari konferensi PCINU Belanda dua hari yang lalu adalah sebuah kesempatan yang tidak saja membuat saya yang masih ingusan dan cetek ilmu ini merasa terhormat. Momen kemarin bagi saya sekaligus juga menjadi ajang untuk meraup ilmu sebanyak-banyaknya dari kaum cendekiawan Islam yang memang mumpuni di bidangnya. Dengan mengangkat tema Islam Nusantara, generasi muda Nahdlatul Ulama yang berdiaspora di Negeri Kincir Angin membuka diri seluas-luasnya dengan menghadirkan para terpelajar dari berbagai disiplin ilmu serta latar belakang. Ada sembilan panel yang masing-masing membicarakan fenomena Islam Nusantara dari sudut pandang sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum, dan lain sebagaimanya. Suasana keilmuan terasa amat kental karena acaranya sendiri diadakan di Vrije Universiteit Amsterdam dan dipanitiai oleh pelajar-pelajar Nahdliyin yang tengah menuntut ilmu di Belanda. 
 
Saya saat mempresentasikan paper terkait hukum adat dan Islam di Konferens Islam Nusantara NU.
Terlepas dari apa haluan politiknya, agamanya, rasnya maupun mazhabnya, kemarin saya benar-benar merasakan Islam sebagai sesuatu yang rahmatan lil ‘alamin alias universal. Yah, bagaimana tidak, instead of hanya mengundang syekh-syekh atau kiai-kiai, konferens ini diramaikan pula oleh mereka yang beragama non-muslim yang telah malang-melintang di dunia kajian keislaman. Islam akhirnya dimiliki bersama tidak hanya sebagai sebuah konsep kepercayaan namun juga sebagai sebuah fenomena menarik yang pernah dan sedang terjadi di planet bumi. Di sini Islam dibahas dalam konteks pengetahuan, tidak hanya sebagai sebuah persepsi benar dan salah. Peserta konferens pun demikian pula majemuknya, ada yang beragama Protestan, Katolik dan bahkan agnostik ikut hadir untuk mendapatkan ilmu baru mengenai Islam. Apa yang menarik mereka sehingga berkenan hadir di acara yang kental dengan nuansa hijaunya ini? Ya tentu saja keinklusifan Islam dan wajah ramah yang digadang-gadangkan oleh para junior Gus Dur ini. Toh, pada akhirnya ilmu pengetahuan yang bersumber dari Islam sebagaimana halnya dari agama lain adalah warisan bagi umat manusia secara keseluruhan.
Salah satu highlight dari konferens ini ialah saat Profesor Karel Steenbrink menyampaikan lecture yang sekaligus menjadi penutup acara. Karel Steenbrink yang sudah paruh baya dan rambutnya berubah warna menjadi putih semua ini adalah seorang profesor emeritus dari Utrecht University untuk Intercultural Theology. Karel adalah seorang Katolik yang jatuh cinta dengan sejarah dan perkembangan Islam. Beliau telah menghasilkan banyak sekali penelitian terkait Islam dan Kekristenan di Indonesia. Interpretasi Alquran juga merupakan salah satu bidang yang ia tekuni selama bertahun-tahun. Karel Steenbrink bukanlah orang asing, namanya sudah sering dirujuk oleh para peneliti di kalangan Islamic Studies.
Profesor Karel Steenbrink membawakan ceramahnya di penutupan konferens
Pada kesempatan itu Karel Steenbrink membawakan tema yang cukup menarik. Ia membuka lecture-nya dengan membacakan ayat “innallaha ma’ash-shobirin” karena mengetahui betapa lelahnya wajah-wajah kami sore itu menunggu acara untuk ditutup. Kami yang sudah terkuras energinya dan setengah mengempet lapar kemudian hanya bisa bereaksi dengan nyengir-nyengir manja. Karel melanjutkan pembahasannya, berbincang mengenai sembilan orang scholar yang menjadi pahlawan-pahlawan baginya dalam mempelajari Islam Nusantara. Kesembilan pahlawan intelektual tersebut menginspirasinya untuk mengukuhkan teori bahwa praktek keislaman yang terjadi di Indonesia memang lah unik, khas bagi penduduknya itu sendiri, serta berbeda secara kultural dari Islam yang dipraktekkan di tempat asalnya di Saudi Arabia. Karel lebih jauh lagi kemudian menyebut sembilan tokoh tersebut sebagai Walisongo Islam Nusantara di sepanjang karirnya.
List Walisongo versi Karel ini dibuka oleh seorang maestro Islamolog yang amat kontroversial dalam sejarah Indonesia itu sendiri: Snouck Hurgronje. Si jenius yang pernah menjadi mata-mata Belanda untuk Aceh ini mencetuskan bahwa Islam di Indonesia memang berbeda dengan Islam yang ada di Arab, akan tetapi perbedaan ini tidak kemudian membuat Islam di Indonesia menjadi tidak murni atau inferior terhadap Islamnya Arab. Bahkan untuk ukuran Aceh yang notabene “amat Islam”, di sana Snouck menemukan bahwa praktek keislaman dipengaruhi oleh elemen-elemen kebudayaan yang membuatnya kehilangan ke-Arabannya. 
Di urutan kedua ada Merle Ricklefs yang banyak sekali membahas tradisi mistisme di Jawa dalam karya-karyanya. Ricklefs berpendapat bahwa kraton di Jawa membantu terciptanya sebuah sintesa mistik antara Islam dan praktek kepercayaan lokal yang kemudian menghasilkan sebuah perpaduan unik, yang sekali lagi berbeda dengan praktek keislaman di Timur Tengah ataupun Aceh. Ia juga menyebutkan bagaimana perbedaan yang tajam antara kaum santri dan kaum abangan pada tahun 1850 - 1990 membentuk persepsi masyarakat atas wajah Islam Jawa.
J.W. Bakker alias Rahmat Soegagiyo menduduki peringkat ketiga. Ia adalah seorang pendeta Jesuit di Yogyakarta pada masa kolonial dan banyak merenung mengenai usaha-usaha peleburan nilai-nilai agama yang datang dari Barat ini kepada masyarakat Jawa. Sebuah buku berjudul “Agama Asli Indonesia” lahir dari kontemplasinya tersebut. Salah satu poin utama yang ia kemukakan ialah bahwa agama asing yang masuk ke Indonesia harusnya meminjam wajah lokal untuk dapat diterima masyarakat tidak hanya sebagai sistem kepercayaan namun juga sebagai sebuah sistem kebudayaan. Gereja Ganjuran yang ia bangun dengan meminjam bentuk candi-candi zaman Hindu Buddha merupakan pengejawentahan dari ide tersebut. 
Wilfred Smith dengan “religion is cumulative traditions”-nya menjadi walisongo keempat bagi Karel. Ia disusul oleh dua orang cendekiawan Muslim asal Indonesia yaitu Ash-Shiddieqy dan Hazairin. Ash-Shiddieqy dan Hazairin dikenang karena usaha mereka mempromosikan pengakuan atas sebuah mazhab Islam khusus bagi Muslimin Nusantara. Mazhab yang kemudian disebut Mazhab Indonesia ini dilihat sebagai solusi atas keunikan praktek-praktek keislaman yang terjadi di daerah (Hazairin itu sendiri adalah salah seorang profesor hukum adat pertama Indonesia). Mazhab Indonesia diharapkan pula mampu menjadi sebuah contoh atas keberhasilan menyatunya nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat Indonesia tanpa kehilangan identitas asli mereka. Pendapat ini sayangnya pupus dengan sendirinya karena ketidakmampuan untuk menjawab tantangan kebhinnekaan di tanah air dalam mengaplikasikan hukum syariah.
Terakhir, sekaligus menjadi salah seorang wali yang punya hubungan dekat dengan Karel sendiri ialah Harun Nasution. Harun Nasution ialah seorang cendekiawan Islam yang getol dalam mempromosikan pentingnya menggunakan akal di samping iman saja dalam beragama. Di dalam karya-karyanya ia sering mempertanyakan:  
dapatkah akal menandingi wahyu?; haruskah akal tunduk kepada wahyu?; bagaimana bila terjadi pertentangan antara ilmu pengetahuan modern dengan wahyu? 
Salah satu argumen Nasution yang paling mencengangkan ialah saat ia menyatakan bahwa Alquran tidak mengandung segala-galanya, bahkan pula tidak menjelaskan semua permasalahan agama. Perihal sholat contohnya, hanya sekedar disebutkan di dalam Alquran tanpa ada detail proseduralnya. Iman saja tidak cukup dalam memahami Islam. Ide-ide Nasution yang cukup kontroversial bagi penganut Islam awam di Indonesia sayangnya membuat beliau dicap Muktazilah dan lain sebagainya.
Karel Steenbrink, seorang profesor Katolik yang menyusun Walisongo kajian Islam Nusantara-nya sendiri. Presentasinya di penghujung konferens NU ini menstimulasi lahirnya ide-ide yang mengalir deras di kepala saya. Pada akhirnya sebagai sebuah agama yang dipraktekkan, sebagai sebuah kepercayaan yang mewujud melalui keseharian penganutnya, Islam tidaklah stagnan. Islam lahir, bergerak dan berkembang bersama manusia yang membawanya. Dialog-dialog seperti inilah yang saya harapkan banyak terjadi hari ini maupun di masa yang akan datang. Melalui acara-acara seperti inilah dialektika Islam menjadi nafas yang menyegarkan untuk dihirup, tidak melulu berkubang dalam dogma, taqlid buta yang mengekslusifkan diri atau perselisihan bermotif politik dan ekonomi.
Jadilah kita rahmat bagi semesta alam!

Berkel en Rodenrijs,
29 Maret 2017

Friday, June 7, 2013

Buraq dari India (yang tidak Islami) dan Buraq dari Jerman (yang jauh lebih Islami)

[REPORTASE SPESIAL ISRA’ MI’RAJ OLEH LOUIE BUANA]

Setiap tahun, pada peringatan hari Isra’ Mi’raj, kita senantiasa disuguhi dengan cerita mengenai perjalanan malam Nabi Muhammad dari Mekkah ke Masjidil Aqsha (Yerusalem) dan Sidratul Muntaha (langit ketujuh). Nah, salah satu elemen menarik dari cerita ini adalah penyebutan seekor hewan tunggangan yang membawa Sang Nabi melipat bumi dan menembus batas-batas dimensi Ilahiah. Hewan yang di dalam literatur shahih disebut dengan nama buraq (yang berarti “kilat”) ini berbentuk seperti campuran antara baghal (anak keledai) dan kuda, berwarna putih bagai salju, serta memiliki sayap. Tidak ada detail lain tentang mahluk ini selain bahwa kecepatannya benar-benar “sejauh mata memandang”.
Yang jadi pertanyaan kemudian, mengapa dalam banyak literatur yang memuat kisah Isra’ Miraj Nabi Muhammad dengan tunggangan bernama buraq ini digambarkan seperti berikut:
Ilustrasi Nabi Muhammad menaiki buraq dalam sebuah kitab Persia
gambar-ulang dari sebuah poster buraq tahun 1990 di India oleh Ravi Varma Press
Mahluk dengan sayap burung, berkepala perempuan, bermahkota, dan terkadang digambarkan pula berekor seperti bulu merak. Dari mana datangnya deskripsi-deskripsi seperti ini? Seorang guru ngaji pernah mengatakan kepada saya bahwa gambar-gambar tersebut adalah "propaganda Yahudi" untuk menjelek-jelekkan citra Sang Nabi yang seorang ‘polygamist’. Caranya ya dengan  memasang wajah perempuan sebagai tunggangannya.

Benarkah demikian? 

Selidik punya selidik ternyata budaya menggambarkan buraq dengan wajah perempuan sudah ada sebelum abad ke-15 Masehi dan tidak ada kaitannya dengan konspirasi Yahudi apalagi Illuminati. Di kebudayaan Islamo-Persia, ilustrasi buraq banyak menghiasi manuskrip-manuskrip yang dimiliki oleh golongan penguasa maupun sarjana pada masa itu. Konon bentuk buraq yang seperti ini adalah pinjaman dari kebudayaan India (Hindu) ketika Islam memasuki Anak Benua. Agama Islam meminjam ikon dari budaya lokal agar dapat menarik perhatian masyarakat pribumi. Metode kultural-psikologis ini juga dapat kita temukan di Nusantara, khususon zaman para wali di era-era awal Islamisasi. Hibridasi buraq ke dalam mahluk mitologis lokal Anak Benua adalah metode kreatif agar dakwah mereka dalam menyiarkan Islam terhindar dari kesan asing bagi masyarakat lokal.
Masa' iya ikonografi buraq datangnya dari India? Nih, buktinya India punya penggambaran “buraq” yang lebih tua lewat perwujudan “kamadhenu” alias mahluk nirwana yang berkepala wanita, berbadan sapi dan bersayap burung dalam mitologi Hindu. Mau contoh mahluk hybrid mirip buraq yang lebih tua lagi? Coba google "sphinx" dari peradaban Mesir kuno. Kepopuleran sphinx membuatnya menjadi ikon dalam banyak cerita rakyat di kawasan sekitar Laut Tengah pula (baca: Yunani dan Romawi).
Uniknya, di saat imaji “buraq berkepala wanita” populer di kalangan dunia Muslim seperti di Iran, Turki, Asia Tengah, India, Pakistan dan bahkan Indonesia, Jerman yang jelas-jelas bukan negara dimana Islam pernah berpengaruh dalam kehidupan warganya justru menangkap gambar buraq dengan akurasi sesuai dengan gambaran hadis.
Di bawah ini adalah contoh gambar Sang Nabi yang sedang bersama malaikat Jibril menaiki “Tangga Yakub” menuju ke Sidratul Muntaha, tentu saja dengan menunggangi buraq. Buraq digambarkan dengan begitu sederhana: seekor kuda putih kecil yang bisa terbang. Terlepas dari kontroversi bahwa Sang Nabi ‘digambar dengan wajah’ pada ilustrasi di bawah ini, point-nya adalah: buraq karya pelukis Jerman jauh lebih “Islami” dibandingkan buraq dari dunia Muslim itu sendiri.
Saya pribadi sih tidak punya masalah dengan kedua pencitraan buraq di atas. Bagi saya sebenarnya buraq yang dipengaruhi oleh tradisi Hindu merupakan bukti akulturasi budaya ketika Islam menyebar di Anak Benua ratusan tahun yang lalu. Sebagian orang (seperti guru ngaji saya) mungkin saja akan berjengit melihat gambar yang menurutnya menistakan itu, tapi jika dipahami dari kacamata seni dan budaya serta dipelajari filosofinya secara lebih dalam, sebenarnya kemunculan imaji buraq India tersebut jauh dari niatan blasphemy atau penistaan akidah.
Demikian pula halnya dengan buraq versi Jerman (yang sebenarnya adalah bagian dari sebuah kartu iklan berseri untuk makanan). Sederhana, tapi mengena, sesuai gambaran hadis. Si pelukis yang pada zaman itu belum mengenal wikipedia atau google kemungkinan mengambil referensi tentang Isra’ Mi’raj langsung dari penggambaran kuda putih sakti yang bisa terbang seperti pegasus atau unicorn dalam imaji Eropa, tanpa menilik ke tradisi kaum Muslimin di berbagai belahan dunia. Dua-duanya tidak salah, sama-sama memiliki dalil interpretasi di dalam menggambarkan buraq.
Oh well, itulah indahnya melihat dengan berbagai sudut pandang. Kembali ke tanah air. Isra’ Mi’raj di Sulawesi Selatan disebut dengan nama “Mammeraje” alias hari me-Mi’raj dirayakan oleh tradisi yang jelas-jelas tidak ada dalam ketentuan Islam seperti barazanji alias sholawat dan pembacaan kisah Sang Nabi dalam campuran Bahasa Arab dan Bugis. Mammeraje seakan mengingatkan kita semua bahwa “untuk berislam itu tidak harus dengan menjadi Arab.” Yup, itulah yang sering dilupakan oleh banyak kaum Muslim hari ini. Kalau belum jenggotan dan bercelana gantung rasanya belum "absah" Islam. Di lain pihak, perayaan Tabuik di Pariaman, Sumatera Barat yang mengarak semacam "ogoh-ogoh" berbentuk buraq dianggap bid'ah, syirik oleh golongan yang ke-Arab-Araban. Event budaya itu mereka hakimi sebagai sebuah perayaan sesat karena bagi mereka tabuik adalah bagian tradisi Islam Syiah, sebab dilaksanakan pada setiap tanggal 10 Muharram dalam rangka memperingati wafatnya Imam Husein di Padang Karbala. Hey, who are we to judge our Muslim brothers, the Shiites, as infidels? Kenapa sih kita hobi banget mendogma seseorang itu sesat? Mari tengok sejarahnya.

FYI, aliran Syiah dan Sunni telah berdampingan di tanah air sejak zaman kerajaan Samudera Pasai dan Aceh Darussalam. Bahkan sultan pertama kerajaan Perlak yang bernama Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah (840-864 Masehi) bermazhab Syiah. Samudera Pasai juga pernah dipimpin oleh seorang perdana menteri Syiah bernama Maharaja Bakui Ahmad Permala di abad ke-15. Selain itu, Islam masuk ke Sumatera Barat dibawa oleh seorang ulama dengan pengaruh Syiah asal Aceh bernama Syekh Burhanuddin Tuanku di Ulakan. Ia berhasil mengislamkan seorang raja Minangkabau bernama Sultan Muhammad Alif di abad ke-17. Tuanku Ulakan lah yang pertama kali memperkenalkan tradisi Batabuik serta Basapa di Sumatera Barat. Logisnya tanpa kehadiran penyiar-penyiar Islam beraliran Syiah di Nusantara, mungkin agama Islam tidak akan masuk dan diterima oleh masyarakat pribumi di Pariaman. Jadi kenapa malah harus dibenci?

Kembali ke topik utama: bagaimana kah gambaran kita di Indonesia terhadap mahluk bernama buraq ini? Wow, bahkan lebih mengejutkan, lebih heboh serta (dari kacamata kaum orthodoks) jauh lebih sensasional ketimbang buraq India. Di Aceh terdapat ilustrasi yang menggambarkan buraq sebagai seekor hewan campuran antara manusia (pria berkumis!), burung, kuda dan entah Tuhan yang tahu apa lagi. Buraq Aceh ini dihiasi oleh ornamen-ornamen meriah yang tidak kalah meriah. Aksesoris Lady Gaga mah, kalah! Mengutip tulisan Sonia Kolesnikov-Jessop di The New York Times terkait penggambaran tersebut:

In a watercolor painting now on display at the Asian Civilizations Museum in Singapore, the Buraq is wearing Dutch clogs on its hooves along with traditional Southeast Asian gelang kaki anklets. The beast carries Islamic royal regalia in a canopy on its back, while two flying birds, similar to a Chinese phoenix, hover above him. To his side, there is a palm tree reminiscent of the Tree of Life motif, which is commonly found in Southeast Asian cultures.

Such an eclectic range of multicultural detail is unusual, especially in a painting that dates from the early 20th century. But this lively watercolor was painted in Aceh, on the island of Sumatra, and such details mirror the various cross-cultural influences on the Indonesian island for more than 2,500 years.

Inilah dia buraq oleh Teuku Teungan Aceh:

Singa dan buraq di lambang baru provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Buraq dalam Upacara Tabuik di Pariaman
Jangan cuma lihat fisiknya, lihat pesan yang tersimpan di balik ikonografi buraq ini. Ada pesan perdamaian di dalamnya. Pesan bahwa unsur-unsur asing bisa saling bertemu dan mencapai titik keharmonisan bersama dalam sebuah agama. Lewat buraq kita diantar untuk naik satu jenjang spiritualitas yang lebih tinggi dari pada sekedar membaca agama dengan cara pandang awam: belajar menerima perbedaan!

Sunday, March 3, 2013

Menusantarakan Agama Barat

Saya cinta Indonesia.

Yang membuat saya cinta negeri ini di tengah carut-marutnya korupsi serta krisis kepercayaan terhadap pemimpin bangsa sendiri itu adalah karena budaya dan manusianya. Ya, tidak muluk-muluk juga sih, bukan maksud saya untuk menjadi seorang etnosentris yang beranggapan bahwa budaya Indonesia berada di atas segala bangsa di dunia. Tidak juga kemudian ikut-ikutan latah dengan mengatakan bahwa Indonesia adalah Atlantis (nama yang sangat asumtif dari naskah Yunani yang dipertanyakan keotentikannya, mungkin benar dulu ada benua tenggelam di sekitar Pasifik dan Samudera Hindia tapi namanya bukan itu), asal-mula peradaban (ada banyak peradaban di negeri ini tapi kita bukan yang tertua), asal-mula manusia (konon Adam turun di Afrika) dan segala macamnya itu. Satu hal yang pasti adalah bahwa Indonesia ini memiliki banyak keunikan kearifan lokal, sejarah serta manusia-manusia berkarakter yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lainnya di dunia.

Hari minggu kemarin saya pergi ke Ganjuran. Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin beziarah ke tempat ibadah umat Nasrani (Katolik Roma) yang tergolong unik ini. Sebelumnya saya hanya mendengar tentang Ganjuran dari teman-teman saya yang beragama Katolik di kampus.
"Ada tuh gereja bagus banget di Ganjuran. Arsitekturnya Jawa gitu, ada candinya pula. Lokasinya tenang, enak dipake buat meditasi. Kamu pasti suka deh!" celetuk salah seorang kawan saya.
Penasaran, saya lalu rajin menggoogle tentang gereja ini. Terus terang saya terkesima, bahkan hanya dari info-info yang saya dapatkan di internet. Awalnya saya mengira gereja ini sebenarnya adalah sebuah situs candi Hindu-Buddha dari zaman Mataram di Bantul yang kemudian di-convert menjadi tempat ibadah Nasrani. Nyatanya tidak. Arsitek Belanda bernama J. Yh. Van Oyen sengaja didaulat oleh dua orang pengusaha pabrik gula lokal asal Jerman untuk menghadirkan semangat Rerum Navarum alias semangat mencintai sesama (utamanya masyarakat Jawa) melalui kehadiran gereja tersebut. Sengaja dipilih bangunan bergaya anak-Candi Prambanan agar dapat menimbulkan kesan yang membumi dengan kebudayaan masyarakat pribumi. Meskipun sempat dilanda gempa pada tahun 2006, gereja itu kembali bangkit berdiri hingga saat ini pun masih dapat digunakan untuk beribadah.
Kemarin akhirnya keinginan saya untuk melihat langsung gereja unik ini terwujud. Bersama dengan Chandrawulan Hardita, sahabat saya di Fakultas Hukum UGM, kami bermotor hingga ke perbatasan Jogja-Bantul. Di sebuah Indomaret kami berhenti dan memarkir motor. Sesuai arahan warga sekitar, kami lalu berdiri di pinggir jalan untuk menyetop Bus N menuju ke arah Samas. Lokasinya cukup jauh juga, 11 kilometer dari Pojok Benteng Wetan. Setelah dengan sabarnya kami menunggu sambil kepanasan di bawah terik srengenge Jogja, akhirnya bus yang kami nanti datang juga. Waktu itu sekitar jam 11.00 dan perjalanan dari tempat kami menunggu bus hingga ke Ganjuran memakan waktu 15 menit.

Gereja Ganjuran ternyata berada di dalam sebuah kampung yang tidak dimasuki oleh bus. Mau tak mau kami akhirnya turun di depan gerbang kampung tersebut. Untungnya ada dua orang tukang ojek yang sedang mengaso di dekat situ. Ketiadaan pilihan lain membuat kami pasrah saja ditariki Rp 5.000,00 untuk di antar ke lokasi gereja. Sesampainya di depan gereja tersebut, segala perasaan letih kami langsung hilang! Gapura gerejanya yang bergaya pura dan dihiasi oleh relief malaikat berpakaian ala Jawa membuat badan kami segar kembali.

Kompleks gereja ini lumayan luas. Ada pendopo depan yang dipakai oleh anak-anak kecil sekolah minggu. Bangsal utama yang berbentuk seperti joglo merupakan tempat altar utama sekaligus misa dilakukan. Di bagian dalam terdapat sebuah candi tunggal dari batu yang berisi patung Yesus Kritus dalam bentuk menyerupai seorang raja Jawa. Di dekat pintu gerbang belakang terdapat sebuah pesanggrahan yang berisi patung Dyah Ibu Ratu Marijah alias Bunda Maria yang dipahat seperti seorang dewi dalam pewayangan. Suasananya saat itu ramai karena memang bertepatan dengan hari minggu, hari ibadah umat Katolik. Setelah berkeliling dan menikmati arsitektur Gereja Ganjuran, saya dan Chandra pun beristirahat sebentar sambil minum es kelapa muda di seberang gereja. Hmmm... Enaknya!

Kembali ke pernyataan awal saya tadi tentang bangga sebagai seorang Indonesia. Agama-agama Semitik yang masuk ke tanah air terbukti tidak diadopsi mentah-mentah oleh leluhur kita dulu. Masuknya agama-agama itupun tidak lantas menghapuskan identitas asli nenek moyang kita. Contohnya saja, Islam tidak masuk ke Indonesia dengan menyinonimkan diri dengan budaya Arab. Alkitab pun sejak zaman kolonial dulu telah banyak dibuat versi bahasa daerahnya. Bukti penetrasi agama Barat ke dalam budaya lokal nusantara nampak dari bangunan seperti Masjid Kudus yang arsitekturnya asli Majapahit serta lagu anak-anak seperti Lir-Ilir dan Cublak-Cublak Suweng karya Sunan Kalijaga. Di daerah lain di nusantara ini pun seperti itu. Ketika Islam memasuki Sulawesi Selatan, salah satu metode agar masyarakat awam dapat memahami kehadiran syariat baru ini adalah dengan menciptakan sebuah episode baru dalam La Galigo yang menceritakan mengenai pertemuan antara Sawerigading dan Nabi Muhammad. Sawerigading juga konon dikatakan pernah mengunjungi Mekkah untuk berhaji. Proses penyesuaian dan penggabungan seperti ini (yang dikalangan sejarawan sering disebut sebagai akulturasi dan asimilasi) jelas tidak mudah. Dibutuhkan proses kreatif, ketekunan, tekad serta kesabaran yang luarbiasa.
Lihat saja, hari ini, senjata tradisional Jawa macam keris yang akarnya berasal dari zaman Hindu-Buddha justru menjadi bagian dari identitas para wali dan kesultanan-kesultanan Islam nusantara. Tidak jarang kita menemukan ada keris yang dirajah dengan kalimat syahadat maupun takbir. Tradisi barzanji yang isinya adalah puji-pujian terhadap Nabi Muhammad dibacakan saat upacara naik rumah baru, kelahiran anak, hingga pada pesta perkawinan. Padahal sebelumnya masyarakat Bugis menyenandungkan Sureq Galigo di momen-momen tersebut.

Indonesia kita ini memang luar biasa, kawan. Pengaruh asing bahkan sanggup dinusantarakan oleh leluhur kita nan jenius kreatif. Seharusnya kita tidak perlu pontang-panting berhadapan dengan globalisasi hari ini. Bangsa kita sudah terbiasa menyerap unsur-unsur yang baik dan mengabaikan unsur-unsur yang tidak baik untuk memperkaya khazanah peradabannya sendiri.

Kunjungan pertama saya ke Ganjuran hari itu berakhir dengan menyenangkan. Senang hati ini bisa melihat wajah Yesus ala Jawa secara langsung, serta menikmati keunikan perkawinan antara agama Barat dan tradisi Timur. Gereja pribumi untuk orang pribumi yang tidak ke-Latin-Latinan.
Bunda Maria versi Ganjuran
Altar Utama dengan patung malaikat yang sedang bersimpuh dan api Roh Kudus di atasnya.