Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

Wednesday, March 29, 2017

“Walisongo” Islam Nusantara versi Seorang Profesor Katolik

Menjadi bahagian dari konferensi PCINU Belanda dua hari yang lalu adalah sebuah kesempatan yang tidak saja membuat saya yang masih ingusan dan cetek ilmu ini merasa terhormat. Momen kemarin bagi saya sekaligus juga menjadi ajang untuk meraup ilmu sebanyak-banyaknya dari kaum cendekiawan Islam yang memang mumpuni di bidangnya. Dengan mengangkat tema Islam Nusantara, generasi muda Nahdlatul Ulama yang berdiaspora di Negeri Kincir Angin membuka diri seluas-luasnya dengan menghadirkan para terpelajar dari berbagai disiplin ilmu serta latar belakang. Ada sembilan panel yang masing-masing membicarakan fenomena Islam Nusantara dari sudut pandang sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum, dan lain sebagaimanya. Suasana keilmuan terasa amat kental karena acaranya sendiri diadakan di Vrije Universiteit Amsterdam dan dipanitiai oleh pelajar-pelajar Nahdliyin yang tengah menuntut ilmu di Belanda. 
 
Saya saat mempresentasikan paper terkait hukum adat dan Islam di Konferens Islam Nusantara NU.
Terlepas dari apa haluan politiknya, agamanya, rasnya maupun mazhabnya, kemarin saya benar-benar merasakan Islam sebagai sesuatu yang rahmatan lil ‘alamin alias universal. Yah, bagaimana tidak, instead of hanya mengundang syekh-syekh atau kiai-kiai, konferens ini diramaikan pula oleh mereka yang beragama non-muslim yang telah malang-melintang di dunia kajian keislaman. Islam akhirnya dimiliki bersama tidak hanya sebagai sebuah konsep kepercayaan namun juga sebagai sebuah fenomena menarik yang pernah dan sedang terjadi di planet bumi. Di sini Islam dibahas dalam konteks pengetahuan, tidak hanya sebagai sebuah persepsi benar dan salah. Peserta konferens pun demikian pula majemuknya, ada yang beragama Protestan, Katolik dan bahkan agnostik ikut hadir untuk mendapatkan ilmu baru mengenai Islam. Apa yang menarik mereka sehingga berkenan hadir di acara yang kental dengan nuansa hijaunya ini? Ya tentu saja keinklusifan Islam dan wajah ramah yang digadang-gadangkan oleh para junior Gus Dur ini. Toh, pada akhirnya ilmu pengetahuan yang bersumber dari Islam sebagaimana halnya dari agama lain adalah warisan bagi umat manusia secara keseluruhan.
Salah satu highlight dari konferens ini ialah saat Profesor Karel Steenbrink menyampaikan lecture yang sekaligus menjadi penutup acara. Karel Steenbrink yang sudah paruh baya dan rambutnya berubah warna menjadi putih semua ini adalah seorang profesor emeritus dari Utrecht University untuk Intercultural Theology. Karel adalah seorang Katolik yang jatuh cinta dengan sejarah dan perkembangan Islam. Beliau telah menghasilkan banyak sekali penelitian terkait Islam dan Kekristenan di Indonesia. Interpretasi Alquran juga merupakan salah satu bidang yang ia tekuni selama bertahun-tahun. Karel Steenbrink bukanlah orang asing, namanya sudah sering dirujuk oleh para peneliti di kalangan Islamic Studies.
Profesor Karel Steenbrink membawakan ceramahnya di penutupan konferens
Pada kesempatan itu Karel Steenbrink membawakan tema yang cukup menarik. Ia membuka lecture-nya dengan membacakan ayat “innallaha ma’ash-shobirin” karena mengetahui betapa lelahnya wajah-wajah kami sore itu menunggu acara untuk ditutup. Kami yang sudah terkuras energinya dan setengah mengempet lapar kemudian hanya bisa bereaksi dengan nyengir-nyengir manja. Karel melanjutkan pembahasannya, berbincang mengenai sembilan orang scholar yang menjadi pahlawan-pahlawan baginya dalam mempelajari Islam Nusantara. Kesembilan pahlawan intelektual tersebut menginspirasinya untuk mengukuhkan teori bahwa praktek keislaman yang terjadi di Indonesia memang lah unik, khas bagi penduduknya itu sendiri, serta berbeda secara kultural dari Islam yang dipraktekkan di tempat asalnya di Saudi Arabia. Karel lebih jauh lagi kemudian menyebut sembilan tokoh tersebut sebagai Walisongo Islam Nusantara di sepanjang karirnya.
List Walisongo versi Karel ini dibuka oleh seorang maestro Islamolog yang amat kontroversial dalam sejarah Indonesia itu sendiri: Snouck Hurgronje. Si jenius yang pernah menjadi mata-mata Belanda untuk Aceh ini mencetuskan bahwa Islam di Indonesia memang berbeda dengan Islam yang ada di Arab, akan tetapi perbedaan ini tidak kemudian membuat Islam di Indonesia menjadi tidak murni atau inferior terhadap Islamnya Arab. Bahkan untuk ukuran Aceh yang notabene “amat Islam”, di sana Snouck menemukan bahwa praktek keislaman dipengaruhi oleh elemen-elemen kebudayaan yang membuatnya kehilangan ke-Arabannya. 
Di urutan kedua ada Merle Ricklefs yang banyak sekali membahas tradisi mistisme di Jawa dalam karya-karyanya. Ricklefs berpendapat bahwa kraton di Jawa membantu terciptanya sebuah sintesa mistik antara Islam dan praktek kepercayaan lokal yang kemudian menghasilkan sebuah perpaduan unik, yang sekali lagi berbeda dengan praktek keislaman di Timur Tengah ataupun Aceh. Ia juga menyebutkan bagaimana perbedaan yang tajam antara kaum santri dan kaum abangan pada tahun 1850 - 1990 membentuk persepsi masyarakat atas wajah Islam Jawa.
J.W. Bakker alias Rahmat Soegagiyo menduduki peringkat ketiga. Ia adalah seorang pendeta Jesuit di Yogyakarta pada masa kolonial dan banyak merenung mengenai usaha-usaha peleburan nilai-nilai agama yang datang dari Barat ini kepada masyarakat Jawa. Sebuah buku berjudul “Agama Asli Indonesia” lahir dari kontemplasinya tersebut. Salah satu poin utama yang ia kemukakan ialah bahwa agama asing yang masuk ke Indonesia harusnya meminjam wajah lokal untuk dapat diterima masyarakat tidak hanya sebagai sistem kepercayaan namun juga sebagai sebuah sistem kebudayaan. Gereja Ganjuran yang ia bangun dengan meminjam bentuk candi-candi zaman Hindu Buddha merupakan pengejawentahan dari ide tersebut. 
Wilfred Smith dengan “religion is cumulative traditions”-nya menjadi walisongo keempat bagi Karel. Ia disusul oleh dua orang cendekiawan Muslim asal Indonesia yaitu Ash-Shiddieqy dan Hazairin. Ash-Shiddieqy dan Hazairin dikenang karena usaha mereka mempromosikan pengakuan atas sebuah mazhab Islam khusus bagi Muslimin Nusantara. Mazhab yang kemudian disebut Mazhab Indonesia ini dilihat sebagai solusi atas keunikan praktek-praktek keislaman yang terjadi di daerah (Hazairin itu sendiri adalah salah seorang profesor hukum adat pertama Indonesia). Mazhab Indonesia diharapkan pula mampu menjadi sebuah contoh atas keberhasilan menyatunya nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat Indonesia tanpa kehilangan identitas asli mereka. Pendapat ini sayangnya pupus dengan sendirinya karena ketidakmampuan untuk menjawab tantangan kebhinnekaan di tanah air dalam mengaplikasikan hukum syariah.
Terakhir, sekaligus menjadi salah seorang wali yang punya hubungan dekat dengan Karel sendiri ialah Harun Nasution. Harun Nasution ialah seorang cendekiawan Islam yang getol dalam mempromosikan pentingnya menggunakan akal di samping iman saja dalam beragama. Di dalam karya-karyanya ia sering mempertanyakan:  
dapatkah akal menandingi wahyu?; haruskah akal tunduk kepada wahyu?; bagaimana bila terjadi pertentangan antara ilmu pengetahuan modern dengan wahyu? 
Salah satu argumen Nasution yang paling mencengangkan ialah saat ia menyatakan bahwa Alquran tidak mengandung segala-galanya, bahkan pula tidak menjelaskan semua permasalahan agama. Perihal sholat contohnya, hanya sekedar disebutkan di dalam Alquran tanpa ada detail proseduralnya. Iman saja tidak cukup dalam memahami Islam. Ide-ide Nasution yang cukup kontroversial bagi penganut Islam awam di Indonesia sayangnya membuat beliau dicap Muktazilah dan lain sebagainya.
Karel Steenbrink, seorang profesor Katolik yang menyusun Walisongo kajian Islam Nusantara-nya sendiri. Presentasinya di penghujung konferens NU ini menstimulasi lahirnya ide-ide yang mengalir deras di kepala saya. Pada akhirnya sebagai sebuah agama yang dipraktekkan, sebagai sebuah kepercayaan yang mewujud melalui keseharian penganutnya, Islam tidaklah stagnan. Islam lahir, bergerak dan berkembang bersama manusia yang membawanya. Dialog-dialog seperti inilah yang saya harapkan banyak terjadi hari ini maupun di masa yang akan datang. Melalui acara-acara seperti inilah dialektika Islam menjadi nafas yang menyegarkan untuk dihirup, tidak melulu berkubang dalam dogma, taqlid buta yang mengekslusifkan diri atau perselisihan bermotif politik dan ekonomi.
Jadilah kita rahmat bagi semesta alam!

Berkel en Rodenrijs,
29 Maret 2017

Tuesday, October 18, 2016

Bahasa dan Tulisan Arab: Antara Harapan dan Ketakutan

Seingat saya dulu, beberapa saat sebelum berangkat ke Amerika Serikat di tahun 2007, ada semacam trend dimana Bahasa Arab tiba-tiba menjadi istimewa di kalangan umat Islam Indonesia. Sebelumnya saya tidak sadar akan adanya fenomena seperti ini hingga saya perhatikan teman-teman saya di bangku SMP dan SMA saat itu jadi suka menggunakan sepatah-dua patah kata Arab di antara kalimat-kalimatnya. Setelah dibesarkan dengan ‘assalamu’alaikum’, ‘alhamdulillah’, astaghfirullah’, ‘masya Allah’, ‘subhanallah’, ‘Allahu akbar’ dalam percakapan sehari-hari, waktu itu kosakata saya jadi bertambah. Rasanya tidak afdhol bagi sebagian dari mereka apabila tidak menyapa kawan laki-lakinya sebagai ‘akhi’ dan kawan perempuannya sebagai ‘ukhti’, atau mengucapkan terima kasih dengan ‘syukran’ serta mempersilakan untuk menikmati segelas sirup dengan ‘tafaddal’. Kebanyakan dari teman-teman saya ini memang anggota rohis sekolah. Uniknya, kebiasaan-kebiasaan untuk menggunakan kata-kata Arab baru ini kemudian juga diadopsi oleh mereka yang bukan anggota rohis saking seringnya kata-kata tersebut diulang-ulang.

Sebenarnya, Bahasa Arab dianggap sebagai bahasa suci karena melalui bahasa inilah Quran diwahyukan serta Nabi Muhammad berlisan. Meskipun pada faktanya Bahasa Arab yang dipelihara di dalam kitab Alquran dan Bahasa Arab hari ini amat sangat berbeda, kebanyakan masyarakat awam di Indonesia masih terbuai dengan logika sinonim yang kurang tepat: Arab = Islam. Itulah sebabnya Bahasa Arab pun menjadi Bahasa Islam. Sewaktu duduk di bangku SMA kelas dua, sekolah saya pernah mewajibkan siswa-siswinya untuk belajar Bahasa Arab pula, seakan-akan pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jerman tidak cukup. Bahasa Arab diinstitusikan sedemikian rupa di dalam sistem pendidikan kami dengan metode yang sebenarnya jika dipikir-pikir cukup diskriminatif: hanya siswa yang beragama Islam saja yang diikutkan kelas Bahasa Arab, sedangkan yang non-Muslim diwajibkan kelas Bahasa Jepang. Saya terus terang masih tidak paham mengapa sekolah mewajibkan Bahasa Arab saat itu. Toh, setelah belajar Bahasa Arab sekali seminggu selama setahun saya juga masih tidak dapat mengartikan Alquran tanpa membuka tafsirnya hingga hari ini.

Konsekuensi dari pengultusan Bahasa Arab serta ketidakmampuan untuk memisahkannya dari esensi Islam di saat yang sama ialah terciptanya penumpulan logika yang bersifat massal. Ada cerita lucu yang dikisahkan oleh ayah saya ketika suatu ketika di bulan Ramadhan sebuah toko baju memutarkan lagu-lagu berbahasa Arab. Lagu-lagu yang ternyata masuk ke kategori Pop tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan Quran ataupun Islam. Lagu-lagu tersebut dinyanyikan oleh biduanita tersohor asal Mesir bernama Ummi Kalsum dan liriknya berisi tentang cinta, kerinduan, patah hati dan lain sebagaimana. Ayah saya tertawa karena melihat reaksi ibu-ibu mendengarkan lagu-lagu tersebut: mereka seakan-akan sedang dikuasai oleh Roh Kudus karena mengira lagu Arab itu berisi puji-pujian kepada Tuhan dan mulai mengamin-amini setiap lirik Umi Kalsum. Tulisan Arab pun sama saja. Banyak yang kemudian mengultuskannya karena dianggap memiliki daya spiritual khusus. Padahal, bagi mereka yang tidak mengerti artinya, bisa saja selembar kertas yang berisi penuh tulisan Arab itu adalah instruksi untuk menggunakan minyak  pemanjang kumis dan jenggot Wak Doyok instead of sholawat nariyah atau ayat-ayat Qurani.


Lain di Indonesia, lain pula di luar negeri. Ketika di tanah air tulisan Arab mampu menghadirkan harapan bagi kaum beriman karena simbolisme yang dicantol-cantolkan dengan spiritualisme, di Amerika Serikat sana tulisan Arab justru menjadi personifikasi atas aksi terorisme dan fanatisme. Islamophobia berubah menjadi Arabophobia ketika segala sesuatunya yang berhubungan dengan Islam diasosiasikan dengan bahasa maupun tulisan Arab. Ini persis sama dengan yang terjadi di tanah air, hanya saja perspektifnya yang berbeda. Tulisan Arab ditakuti karena dianggap sebagai potongan Alquran, kitab yang menginspirasi golongan teroris untuk melaksanakan jihad. Beberapa hari yang lalu beredar meme di dunia Twitter yang menyinggung permasalahan ini di tengah sengit dan panasnya suasana pemilihan presiden di Amerika Serikat. Yang menjadi penyebab mengapa publik Amerika mengasosiasikan Islam dengan Arab ialah karena peran media yang senantiasa menggambarkan teroris sebagai pria Arab berjanggut lebat dan bersorban putih. Ini juga tidak ada bedanya dengan apa yang terjadi di Indonesia ketika jubah-jubah Arab kemudian dianggap mewakili Islam dimana-mana.



Di Leiden sendiri, beberapa orang teman kelas saya di program European and International Human Rights Law tertarik untuk mempelajari bahasa dan tulisan Arab karena dianggap ‘seksi’. Seksi berhubung saat ini Timur Tengah adalah daerah yang jadi sorotan utama dunia sehubungan dengan konflik-konflik hak asasi manusia. Tulisan Arab bagi mereka mungkin tidak menyimbolkan harapan maupun ketakutan sama sekali, tulisan tersebut mereka pelajari memang layaknya sebagai alat komunikasi dan sumber informasi. Tidak ada takhayul bahwa bahasa maupun tulisan Arab akan menuntun mereka menuju spiritual awakening atau ketakutan tidak beralasan tentang terorisme. Setidaknya dalam hal ini saya setuju dengan kawan-kawan saya di kelas bahwa bahasa maupun tulisan Arab sejatinya tidak berbeda dengan bahasa maupun tulisan lainnya di dunia ini.

Terakhir, penggunaan simbol-simbol bahasa maupun tulisan Arab sesungguhnya tidak sepenuhnya salah. After all betul bahwa bahasa maupun tulisan Arab memiliki peran besar di dalam penyebaran Islam yang kemudian menjadi agama mayoritas di Indonesia. Bahasa Arab menjadi bahasa ritual yang hidup dalam aktivitas spiritual masing-masing individu. Hanya saja amat disayangkan ketika kemudian bahasa maupun tulisan Arab tidak dipahami konteksnya secara benar. Yang saya khawatirkan ialah ketidakmampuan kita untuk dapat menempatkan bahasa maupun tulisan Arab sebagai dua hal yang terpisah dengan Islam itu sendiri: bisa-bisa justru akan menjerumuskan banyak orang ke jurang-jurang kekonyolan (sebagaimana yang sudah terjadi di banyak kasus, dan sedang terjadi di negeri Paman Sam sana). Dan yang lebih penting, tentu saja agar jangan sampai kita melupakan bahasa maupun tulisan dalam bahasa ibu kita sendiri, kekayaan yang sesungguhnya.

Leiden yang kembali dingin,


18 Oktober 2016

Thursday, June 5, 2014

15 Jam di Tana Toraja (Part I)


Backpackeran ke Toraja akhirnya terwujud juga. Kali ini saya harus berterima kasih kepada sahabat saya, Zein Patradinata yang jauh-jauh datang dari bumi kraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk mengajak melihat keunikan alam serta kebudayaan Tana Toraja. Perjalanan singkat kami ini meninggalkan seribu kenangan yang menyenangkan!

Saya pertama kali mengunjungi Toraja ketika berusia 16 tahun. Saat itu saya diajak oleh teman SMP yang asli Toraja untuk melihat kampung halamannya di kaki Gunung Sesean. Pada kunjungan pertama tersebut, saya tidak mengunjungi obyek-obyek wisata yang tersohor di buku-buku panduan turisme Toraja, melainkan hanya menikmati pemandangan alam yang luarbiasa cantik serta menghabiskan waktu lebih banyak dengan kontak sosial bersama masyarakat sekitar. Saya memberanikan diri mencoba arak serta makan daging kerbau, juga naik ke atas tongkonan dan berjuang menghadapi malam demi malam yang penuh serangan nyamuk. 

Kali kedua saya ke Toraja ialah saat gubernur Syahrul Yasin Limpo meresmikan pembukaan program “Lovely December 2008”, yaitu bulan festival di kota Rantepao yang kemudian dirayakan setiap tahunnya. Saat itu saya nebeng dengan keluarganya Diku yang kebetulan diundang oleh Pak Gubernur. Kami tinggal di hotel mewah bernama Toraja Heritage Hotel yang lokasinya berada di puncak gunung. Esok paginya (26 Desember) kami disuguhi oleh beragam tari-tarian Toraja serta prosesi mappadendang alias menumbuk padi dengan lesung yang menghasilkan irama bak hentakan gendang di sebuah lapangan terbuka.

Ke Toraja yang ketiga kalinya ini, saya bersama tiga orang kawan yang tiga-tiganya masih perawan (baca: baru pertama kali ke sana). Awalnya kami bertiga berencana untuk menginap di sana. Berangkat hari jumat malam dan turun ke Makassar pada hari minggu malam. Namun setelah 1 hingga 1001 macam pertimbangan, maka kami pun memutuskan untuk membeli tiket berangkat ke Toraja jumat malam (30 Mei 2014) dan kepulangan sabtu malam (31 Mei 2014). Bermodalkan niat nekat plus ke-soktahu-an untuk menjelajahi Toraja dengan motor sewaan, kami berangkat menaiki Bus Litha (tarif AC VIP = Rp 120.000,00) dari polnya di samping SPN Batua, tepatnya pukul 21.00.

Kami tiba sekitar pukul 06.00 pagi di pol Litha Pasar Rantepao, Kab. Tana Toraja. Masih setengah sadar, sambil membawa tas dan perbekalan lainnya kami berjalan terseok-seok menuju ke masjid terdekat yang seingat saya ada di Pasar Rantepao, untuk numpang mandi dan sembahyang pagi. Benar, masjid berwarna pink dengan corak Toraja yang kental (adaptasi tongkonan dan kubah berwarna hitam-emas) masih berdiri tegar di tempatnya yang dulu. Sayangnya rencana kami terancam gagal karena masjid tersebut dikunci! Aduh, kebingungan lah kami karena tak tahu kemana lagi dapat menikmati segarnya air Toraja yang dingin serta tempat untuk sekedar berteduh mengumpulkan nyawa. 
Kami dengan berani memutuskan untuk menghadapi medan yang asing itu dengan terus berjalan untuk menemukan restoran (sebagian sudah lapar dan sebagian lagi kebelet nyetor pagi). Di tengah ketidakpastian bagai menunggu pengumuman Ujian Akhir Nasional, mendadak sebuah mobil tua mendekati kami. Ya, dialah Pak Ela! Pak Ela si guide yang menawarkan jasanya di depan pol Litha Pasar Rantepao namun kami tolak karena kepede-an ingin menyewa motor saja keliling Toraja Selatan. Pak Ela ternyata menemukan kami yang malang ini dan menawarkan jasa sebesar Rp 350.000,00 keliling Toraja Selatan seharian, sudah termasuk bensin dan makan beliau. Setelah dipikir-pikir, untuk kami berempat itu sebenarnya tidak terlalu mahal. Maka tschuss, kami sepakat untuk menerima jasa Pak Ela. Dengan mobil tua itu dibawanya kami menuju tempat makan, istirahat, buang air, dan bersih-bersih yang paling layak: Restoran Riman di Jalan Andi Mappanyukki, Pasar Rantepao.

Restoran Riman toiletnya bersih dan akses airnya lancar. Kami diizinkan untuk mandi saat menunggu pesanan tiba. Harga makanannya sedikit mahal, di atas standar kantong mahasiswa (*nasi campur = 30.000,00 dan jus jeruk = 10.000,00), namun harus saya akui bahwa rasanya tergolong enak. Setelah bahagia karena berhasil memulihkan diri dari kotornya jasmani serta letihnya nurani, kami pun berangkat. Obyek wisata tujuan pertama kami ialah Desa Adat Ketekesu. Ketekesu terletak sekitar 5 km dari kota Rantepao. Tiket masuk ke Ketekesu –dan juga ke setiap situs sejarah di Tana Toraja lainnya- sebesar Rp 10.000,00 per kepala. Desa ini amat bersih dan rapi. Letaknya berada di sebelah danau kecil yang asri. Dari kejauhan, kami sudah melonjak-lonjak gembira saat melihat barisan tongkonan di pinggir danau tersebut. Lebih melonjak-lonjak gembira lagi ketika menyaksikan di antara tongkonan tersebut terdapat batu-batu menhir setinggi pinggul orang dewasa berdiri pada jarak-jarak tertentu. Sungguh, cantik sekali!

Di belakang barisan tongkonan Ketekesu, terdapat jalan setapak kecil menuju ke sebuah tebing yang cukup tinggi. Tebing ini terletak di antara bentangan sawah dan hutan. Di tebing-tebing tersebut kami menyaksikan banyak sekali erong (*peti kubur yang bentuknya seperti perahu) dan ratusan tengkorak. Tebing tersebut merupakan situs pemakaman kuno Toraja. Selain itu terdapat pula pata’ne atau rumah kubur yang di depannya terdapat tau-tau alias boneka kayu yang bentuknya menyerupai almarhum. Agak serem sih, namun kami juga excited karena akhirnya dapat menyaksikan keunikan Toraja ini secara langsung. Kami menghabiskan waktu selama kurang-lebih 1 jam di Ketekesu. Pak Ela terlihat agak sedikit tergesa-gesa karena ingin membawa kami ke desa terdekat untuk menyaksikan prosesi Rambu Soloq alias pesta kematian. Rambu Soloq? Wah, betapa beruntungnya kami! Tidak setiap hari lho kamu bisa datang ke Toraja dan menyaksikan ritus langka yang jadi ciri khas masyarakat Tana Toraja ini!

Selfie dengan Tongkonan di Ketekesu
Saat tiba di lokasi Rambu Soloq, kami berjalan malu-malu masuk ke arena yang dijadikan sebagai laga “genosida kerbau”. Seorang ibu berjilbab hitam dan bersarung Toraja tiba-tiba datang menghampiri kami, dengan manisnya menawarkan apakah kami ingin menyaksikan prosesi tersebut dari jarak dekat. Ternyata sang ibu adalah cucu dari almarhumah nenek yang tengah dipestakan tersebut. To my surprise, she is a genuine muslim. Padahal selama tinggal di Makassar seluruh teman saya yang bersuku Toraja hampir bisa dipastikan pemeluk agama Katolik atau Protestan. Akan tetapi ternyata agama Islam pun telah dianut oleh banyak orang Toraja, bahkan hingga di pelosok pegunungan Rantepao ini. Sang ibu menyuruh kami berempat untuk mengikutinya. Dengan patuh kami menurut, berjalan menembus kerumunan masyarakat biasa, melewati tongkonan induk, hingga ke rumah-rumahan bambu yang khusus dibangun untuk keluarga dekat. Astaga, betapa beruntungnya kami dapat tempat VIP untuk menyaksikan Rambu Soloq sedekat ini! Meskipun pada detik-detik selanjutnya wajah kami berubah pucat menyaksikan 24 kerbau hitam dibantai selama prosesi tersebut, kami tetap bersyukur serta berterima kasih kepada sang ibu yang telah dengan baik hati mengizinkan kami menjadi bagian dari keriuhan pesta adat tersebut.

Pesta Kerbau pada perayaan Rambu Soloq
Dari perayaan Rambu Soloq, kami dibawa Pak Ela menuju ke Desa Karuaya. Sumpah, I must say that the scenery in this village is among the bestest view i’ve ever seen in my life! Desa Karuaya tidak termasuk di dalam daftar tempat pariwisata mainstream yang biasa diumbar-umbar untuk turis. Pak Ela sengaja mengajak kami ke tempat ini karena tahu kami tidak sedang mencari tempat wisata belaka. Desa Karuaya adalah pilihan yang tepat. 

Tongkonan warganya masih asli, belum dimodifikasi serta penduduknya pun masih hidup dengan amat sederhana. Akses jalanan yang jelek terbayar ketika kami menyaksikan barisan tongkonan di pegunungan serta hamparan sawah menghijau hingga ke kaki langit. Kami diajak untuk singgah ke salah satu tongkonan tua yang masih dianggap orisinil oleh warga sekitar serta befoto dengan seorang nenek-nenek. Dari Karuaya kami terus melaju ke pedalaman menuju ke Desa Kambira. Kambira terkenal dengan obyek wisata baby’s grave atau kuburan bagi bayi yang belum tumbuh giginya. Zaman dahulu, sebelum agama Kristen atau Islam masuk ke Tana Toraja, apabila ada bayi yang belum tumbuh giginya meninggal maka bayi tersebut akan dikuburkan di dalam sebuah pohon di kampung Kambira ini. 

Pohon yang dipilih pun tak sembarangan. Sebuah pohon bernama tarraq yang banyak getah putihnya dianggap suci untuk menerima jasad bayi-bayi tersebut. Getah pohon tarraq dianggap cocok sebagai pengganti air susu ibu, agar roh bayi-bayi tersebut dapat terus hidup beriringan dengan pertumbuhan sang pohon. Dari pohon Kambira yang beratmosfir mistis kami dibawa ke tongkonan keluarga juru kunci pohon (yang saya lupa namanya) untuk dijelaskan filosofi ruang demi ruang serta hiasan ukirnya. Setelah itu kami juga diajak ke rumah almarhum tantenya di sebelah tongkonan tersebut. Sang tante telah meninggal sejak setahun yang lalu namun jasadnya masih disimpan di dalam peti mati pada sebuah kamar di rumahnya. Untuk pertama kalinya kami mendapatkan akses langsung melihat mumi Toraja yang terkenal itu! (*meskipun mumi yang ini hasil formalin sih, sebab di Toraja modern sekarang sudah tidak digunakan lagi ilmu-ilmu untuk membangkitkan mayat maupun memumikan mayat).

Anggota geng backpacker saya kali ini: Zein, Aiyalee, saya sendiri, dan Ran
Bersambung...

Friday, June 7, 2013

Buraq dari India (yang tidak Islami) dan Buraq dari Jerman (yang jauh lebih Islami)

[REPORTASE SPESIAL ISRA’ MI’RAJ OLEH LOUIE BUANA]

Setiap tahun, pada peringatan hari Isra’ Mi’raj, kita senantiasa disuguhi dengan cerita mengenai perjalanan malam Nabi Muhammad dari Mekkah ke Masjidil Aqsha (Yerusalem) dan Sidratul Muntaha (langit ketujuh). Nah, salah satu elemen menarik dari cerita ini adalah penyebutan seekor hewan tunggangan yang membawa Sang Nabi melipat bumi dan menembus batas-batas dimensi Ilahiah. Hewan yang di dalam literatur shahih disebut dengan nama buraq (yang berarti “kilat”) ini berbentuk seperti campuran antara baghal (anak keledai) dan kuda, berwarna putih bagai salju, serta memiliki sayap. Tidak ada detail lain tentang mahluk ini selain bahwa kecepatannya benar-benar “sejauh mata memandang”.
Yang jadi pertanyaan kemudian, mengapa dalam banyak literatur yang memuat kisah Isra’ Miraj Nabi Muhammad dengan tunggangan bernama buraq ini digambarkan seperti berikut:
Ilustrasi Nabi Muhammad menaiki buraq dalam sebuah kitab Persia
gambar-ulang dari sebuah poster buraq tahun 1990 di India oleh Ravi Varma Press
Mahluk dengan sayap burung, berkepala perempuan, bermahkota, dan terkadang digambarkan pula berekor seperti bulu merak. Dari mana datangnya deskripsi-deskripsi seperti ini? Seorang guru ngaji pernah mengatakan kepada saya bahwa gambar-gambar tersebut adalah "propaganda Yahudi" untuk menjelek-jelekkan citra Sang Nabi yang seorang ‘polygamist’. Caranya ya dengan  memasang wajah perempuan sebagai tunggangannya.

Benarkah demikian? 

Selidik punya selidik ternyata budaya menggambarkan buraq dengan wajah perempuan sudah ada sebelum abad ke-15 Masehi dan tidak ada kaitannya dengan konspirasi Yahudi apalagi Illuminati. Di kebudayaan Islamo-Persia, ilustrasi buraq banyak menghiasi manuskrip-manuskrip yang dimiliki oleh golongan penguasa maupun sarjana pada masa itu. Konon bentuk buraq yang seperti ini adalah pinjaman dari kebudayaan India (Hindu) ketika Islam memasuki Anak Benua. Agama Islam meminjam ikon dari budaya lokal agar dapat menarik perhatian masyarakat pribumi. Metode kultural-psikologis ini juga dapat kita temukan di Nusantara, khususon zaman para wali di era-era awal Islamisasi. Hibridasi buraq ke dalam mahluk mitologis lokal Anak Benua adalah metode kreatif agar dakwah mereka dalam menyiarkan Islam terhindar dari kesan asing bagi masyarakat lokal.
Masa' iya ikonografi buraq datangnya dari India? Nih, buktinya India punya penggambaran “buraq” yang lebih tua lewat perwujudan “kamadhenu” alias mahluk nirwana yang berkepala wanita, berbadan sapi dan bersayap burung dalam mitologi Hindu. Mau contoh mahluk hybrid mirip buraq yang lebih tua lagi? Coba google "sphinx" dari peradaban Mesir kuno. Kepopuleran sphinx membuatnya menjadi ikon dalam banyak cerita rakyat di kawasan sekitar Laut Tengah pula (baca: Yunani dan Romawi).
Uniknya, di saat imaji “buraq berkepala wanita” populer di kalangan dunia Muslim seperti di Iran, Turki, Asia Tengah, India, Pakistan dan bahkan Indonesia, Jerman yang jelas-jelas bukan negara dimana Islam pernah berpengaruh dalam kehidupan warganya justru menangkap gambar buraq dengan akurasi sesuai dengan gambaran hadis.
Di bawah ini adalah contoh gambar Sang Nabi yang sedang bersama malaikat Jibril menaiki “Tangga Yakub” menuju ke Sidratul Muntaha, tentu saja dengan menunggangi buraq. Buraq digambarkan dengan begitu sederhana: seekor kuda putih kecil yang bisa terbang. Terlepas dari kontroversi bahwa Sang Nabi ‘digambar dengan wajah’ pada ilustrasi di bawah ini, point-nya adalah: buraq karya pelukis Jerman jauh lebih “Islami” dibandingkan buraq dari dunia Muslim itu sendiri.
Saya pribadi sih tidak punya masalah dengan kedua pencitraan buraq di atas. Bagi saya sebenarnya buraq yang dipengaruhi oleh tradisi Hindu merupakan bukti akulturasi budaya ketika Islam menyebar di Anak Benua ratusan tahun yang lalu. Sebagian orang (seperti guru ngaji saya) mungkin saja akan berjengit melihat gambar yang menurutnya menistakan itu, tapi jika dipahami dari kacamata seni dan budaya serta dipelajari filosofinya secara lebih dalam, sebenarnya kemunculan imaji buraq India tersebut jauh dari niatan blasphemy atau penistaan akidah.
Demikian pula halnya dengan buraq versi Jerman (yang sebenarnya adalah bagian dari sebuah kartu iklan berseri untuk makanan). Sederhana, tapi mengena, sesuai gambaran hadis. Si pelukis yang pada zaman itu belum mengenal wikipedia atau google kemungkinan mengambil referensi tentang Isra’ Mi’raj langsung dari penggambaran kuda putih sakti yang bisa terbang seperti pegasus atau unicorn dalam imaji Eropa, tanpa menilik ke tradisi kaum Muslimin di berbagai belahan dunia. Dua-duanya tidak salah, sama-sama memiliki dalil interpretasi di dalam menggambarkan buraq.
Oh well, itulah indahnya melihat dengan berbagai sudut pandang. Kembali ke tanah air. Isra’ Mi’raj di Sulawesi Selatan disebut dengan nama “Mammeraje” alias hari me-Mi’raj dirayakan oleh tradisi yang jelas-jelas tidak ada dalam ketentuan Islam seperti barazanji alias sholawat dan pembacaan kisah Sang Nabi dalam campuran Bahasa Arab dan Bugis. Mammeraje seakan mengingatkan kita semua bahwa “untuk berislam itu tidak harus dengan menjadi Arab.” Yup, itulah yang sering dilupakan oleh banyak kaum Muslim hari ini. Kalau belum jenggotan dan bercelana gantung rasanya belum "absah" Islam. Di lain pihak, perayaan Tabuik di Pariaman, Sumatera Barat yang mengarak semacam "ogoh-ogoh" berbentuk buraq dianggap bid'ah, syirik oleh golongan yang ke-Arab-Araban. Event budaya itu mereka hakimi sebagai sebuah perayaan sesat karena bagi mereka tabuik adalah bagian tradisi Islam Syiah, sebab dilaksanakan pada setiap tanggal 10 Muharram dalam rangka memperingati wafatnya Imam Husein di Padang Karbala. Hey, who are we to judge our Muslim brothers, the Shiites, as infidels? Kenapa sih kita hobi banget mendogma seseorang itu sesat? Mari tengok sejarahnya.

FYI, aliran Syiah dan Sunni telah berdampingan di tanah air sejak zaman kerajaan Samudera Pasai dan Aceh Darussalam. Bahkan sultan pertama kerajaan Perlak yang bernama Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah (840-864 Masehi) bermazhab Syiah. Samudera Pasai juga pernah dipimpin oleh seorang perdana menteri Syiah bernama Maharaja Bakui Ahmad Permala di abad ke-15. Selain itu, Islam masuk ke Sumatera Barat dibawa oleh seorang ulama dengan pengaruh Syiah asal Aceh bernama Syekh Burhanuddin Tuanku di Ulakan. Ia berhasil mengislamkan seorang raja Minangkabau bernama Sultan Muhammad Alif di abad ke-17. Tuanku Ulakan lah yang pertama kali memperkenalkan tradisi Batabuik serta Basapa di Sumatera Barat. Logisnya tanpa kehadiran penyiar-penyiar Islam beraliran Syiah di Nusantara, mungkin agama Islam tidak akan masuk dan diterima oleh masyarakat pribumi di Pariaman. Jadi kenapa malah harus dibenci?

Kembali ke topik utama: bagaimana kah gambaran kita di Indonesia terhadap mahluk bernama buraq ini? Wow, bahkan lebih mengejutkan, lebih heboh serta (dari kacamata kaum orthodoks) jauh lebih sensasional ketimbang buraq India. Di Aceh terdapat ilustrasi yang menggambarkan buraq sebagai seekor hewan campuran antara manusia (pria berkumis!), burung, kuda dan entah Tuhan yang tahu apa lagi. Buraq Aceh ini dihiasi oleh ornamen-ornamen meriah yang tidak kalah meriah. Aksesoris Lady Gaga mah, kalah! Mengutip tulisan Sonia Kolesnikov-Jessop di The New York Times terkait penggambaran tersebut:

In a watercolor painting now on display at the Asian Civilizations Museum in Singapore, the Buraq is wearing Dutch clogs on its hooves along with traditional Southeast Asian gelang kaki anklets. The beast carries Islamic royal regalia in a canopy on its back, while two flying birds, similar to a Chinese phoenix, hover above him. To his side, there is a palm tree reminiscent of the Tree of Life motif, which is commonly found in Southeast Asian cultures.

Such an eclectic range of multicultural detail is unusual, especially in a painting that dates from the early 20th century. But this lively watercolor was painted in Aceh, on the island of Sumatra, and such details mirror the various cross-cultural influences on the Indonesian island for more than 2,500 years.

Inilah dia buraq oleh Teuku Teungan Aceh:

Singa dan buraq di lambang baru provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Buraq dalam Upacara Tabuik di Pariaman
Jangan cuma lihat fisiknya, lihat pesan yang tersimpan di balik ikonografi buraq ini. Ada pesan perdamaian di dalamnya. Pesan bahwa unsur-unsur asing bisa saling bertemu dan mencapai titik keharmonisan bersama dalam sebuah agama. Lewat buraq kita diantar untuk naik satu jenjang spiritualitas yang lebih tinggi dari pada sekedar membaca agama dengan cara pandang awam: belajar menerima perbedaan!

Sunday, March 3, 2013

Menusantarakan Agama Barat

Saya cinta Indonesia.

Yang membuat saya cinta negeri ini di tengah carut-marutnya korupsi serta krisis kepercayaan terhadap pemimpin bangsa sendiri itu adalah karena budaya dan manusianya. Ya, tidak muluk-muluk juga sih, bukan maksud saya untuk menjadi seorang etnosentris yang beranggapan bahwa budaya Indonesia berada di atas segala bangsa di dunia. Tidak juga kemudian ikut-ikutan latah dengan mengatakan bahwa Indonesia adalah Atlantis (nama yang sangat asumtif dari naskah Yunani yang dipertanyakan keotentikannya, mungkin benar dulu ada benua tenggelam di sekitar Pasifik dan Samudera Hindia tapi namanya bukan itu), asal-mula peradaban (ada banyak peradaban di negeri ini tapi kita bukan yang tertua), asal-mula manusia (konon Adam turun di Afrika) dan segala macamnya itu. Satu hal yang pasti adalah bahwa Indonesia ini memiliki banyak keunikan kearifan lokal, sejarah serta manusia-manusia berkarakter yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lainnya di dunia.

Hari minggu kemarin saya pergi ke Ganjuran. Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin beziarah ke tempat ibadah umat Nasrani (Katolik Roma) yang tergolong unik ini. Sebelumnya saya hanya mendengar tentang Ganjuran dari teman-teman saya yang beragama Katolik di kampus.
"Ada tuh gereja bagus banget di Ganjuran. Arsitekturnya Jawa gitu, ada candinya pula. Lokasinya tenang, enak dipake buat meditasi. Kamu pasti suka deh!" celetuk salah seorang kawan saya.
Penasaran, saya lalu rajin menggoogle tentang gereja ini. Terus terang saya terkesima, bahkan hanya dari info-info yang saya dapatkan di internet. Awalnya saya mengira gereja ini sebenarnya adalah sebuah situs candi Hindu-Buddha dari zaman Mataram di Bantul yang kemudian di-convert menjadi tempat ibadah Nasrani. Nyatanya tidak. Arsitek Belanda bernama J. Yh. Van Oyen sengaja didaulat oleh dua orang pengusaha pabrik gula lokal asal Jerman untuk menghadirkan semangat Rerum Navarum alias semangat mencintai sesama (utamanya masyarakat Jawa) melalui kehadiran gereja tersebut. Sengaja dipilih bangunan bergaya anak-Candi Prambanan agar dapat menimbulkan kesan yang membumi dengan kebudayaan masyarakat pribumi. Meskipun sempat dilanda gempa pada tahun 2006, gereja itu kembali bangkit berdiri hingga saat ini pun masih dapat digunakan untuk beribadah.
Kemarin akhirnya keinginan saya untuk melihat langsung gereja unik ini terwujud. Bersama dengan Chandrawulan Hardita, sahabat saya di Fakultas Hukum UGM, kami bermotor hingga ke perbatasan Jogja-Bantul. Di sebuah Indomaret kami berhenti dan memarkir motor. Sesuai arahan warga sekitar, kami lalu berdiri di pinggir jalan untuk menyetop Bus N menuju ke arah Samas. Lokasinya cukup jauh juga, 11 kilometer dari Pojok Benteng Wetan. Setelah dengan sabarnya kami menunggu sambil kepanasan di bawah terik srengenge Jogja, akhirnya bus yang kami nanti datang juga. Waktu itu sekitar jam 11.00 dan perjalanan dari tempat kami menunggu bus hingga ke Ganjuran memakan waktu 15 menit.

Gereja Ganjuran ternyata berada di dalam sebuah kampung yang tidak dimasuki oleh bus. Mau tak mau kami akhirnya turun di depan gerbang kampung tersebut. Untungnya ada dua orang tukang ojek yang sedang mengaso di dekat situ. Ketiadaan pilihan lain membuat kami pasrah saja ditariki Rp 5.000,00 untuk di antar ke lokasi gereja. Sesampainya di depan gereja tersebut, segala perasaan letih kami langsung hilang! Gapura gerejanya yang bergaya pura dan dihiasi oleh relief malaikat berpakaian ala Jawa membuat badan kami segar kembali.

Kompleks gereja ini lumayan luas. Ada pendopo depan yang dipakai oleh anak-anak kecil sekolah minggu. Bangsal utama yang berbentuk seperti joglo merupakan tempat altar utama sekaligus misa dilakukan. Di bagian dalam terdapat sebuah candi tunggal dari batu yang berisi patung Yesus Kritus dalam bentuk menyerupai seorang raja Jawa. Di dekat pintu gerbang belakang terdapat sebuah pesanggrahan yang berisi patung Dyah Ibu Ratu Marijah alias Bunda Maria yang dipahat seperti seorang dewi dalam pewayangan. Suasananya saat itu ramai karena memang bertepatan dengan hari minggu, hari ibadah umat Katolik. Setelah berkeliling dan menikmati arsitektur Gereja Ganjuran, saya dan Chandra pun beristirahat sebentar sambil minum es kelapa muda di seberang gereja. Hmmm... Enaknya!

Kembali ke pernyataan awal saya tadi tentang bangga sebagai seorang Indonesia. Agama-agama Semitik yang masuk ke tanah air terbukti tidak diadopsi mentah-mentah oleh leluhur kita dulu. Masuknya agama-agama itupun tidak lantas menghapuskan identitas asli nenek moyang kita. Contohnya saja, Islam tidak masuk ke Indonesia dengan menyinonimkan diri dengan budaya Arab. Alkitab pun sejak zaman kolonial dulu telah banyak dibuat versi bahasa daerahnya. Bukti penetrasi agama Barat ke dalam budaya lokal nusantara nampak dari bangunan seperti Masjid Kudus yang arsitekturnya asli Majapahit serta lagu anak-anak seperti Lir-Ilir dan Cublak-Cublak Suweng karya Sunan Kalijaga. Di daerah lain di nusantara ini pun seperti itu. Ketika Islam memasuki Sulawesi Selatan, salah satu metode agar masyarakat awam dapat memahami kehadiran syariat baru ini adalah dengan menciptakan sebuah episode baru dalam La Galigo yang menceritakan mengenai pertemuan antara Sawerigading dan Nabi Muhammad. Sawerigading juga konon dikatakan pernah mengunjungi Mekkah untuk berhaji. Proses penyesuaian dan penggabungan seperti ini (yang dikalangan sejarawan sering disebut sebagai akulturasi dan asimilasi) jelas tidak mudah. Dibutuhkan proses kreatif, ketekunan, tekad serta kesabaran yang luarbiasa.
Lihat saja, hari ini, senjata tradisional Jawa macam keris yang akarnya berasal dari zaman Hindu-Buddha justru menjadi bagian dari identitas para wali dan kesultanan-kesultanan Islam nusantara. Tidak jarang kita menemukan ada keris yang dirajah dengan kalimat syahadat maupun takbir. Tradisi barzanji yang isinya adalah puji-pujian terhadap Nabi Muhammad dibacakan saat upacara naik rumah baru, kelahiran anak, hingga pada pesta perkawinan. Padahal sebelumnya masyarakat Bugis menyenandungkan Sureq Galigo di momen-momen tersebut.

Indonesia kita ini memang luar biasa, kawan. Pengaruh asing bahkan sanggup dinusantarakan oleh leluhur kita nan jenius kreatif. Seharusnya kita tidak perlu pontang-panting berhadapan dengan globalisasi hari ini. Bangsa kita sudah terbiasa menyerap unsur-unsur yang baik dan mengabaikan unsur-unsur yang tidak baik untuk memperkaya khazanah peradabannya sendiri.

Kunjungan pertama saya ke Ganjuran hari itu berakhir dengan menyenangkan. Senang hati ini bisa melihat wajah Yesus ala Jawa secara langsung, serta menikmati keunikan perkawinan antara agama Barat dan tradisi Timur. Gereja pribumi untuk orang pribumi yang tidak ke-Latin-Latinan.
Bunda Maria versi Ganjuran
Altar Utama dengan patung malaikat yang sedang bersimpuh dan api Roh Kudus di atasnya.