Showing posts with label Nusantara. Show all posts
Showing posts with label Nusantara. Show all posts

Wednesday, March 29, 2017

“Walisongo” Islam Nusantara versi Seorang Profesor Katolik

Menjadi bahagian dari konferensi PCINU Belanda dua hari yang lalu adalah sebuah kesempatan yang tidak saja membuat saya yang masih ingusan dan cetek ilmu ini merasa terhormat. Momen kemarin bagi saya sekaligus juga menjadi ajang untuk meraup ilmu sebanyak-banyaknya dari kaum cendekiawan Islam yang memang mumpuni di bidangnya. Dengan mengangkat tema Islam Nusantara, generasi muda Nahdlatul Ulama yang berdiaspora di Negeri Kincir Angin membuka diri seluas-luasnya dengan menghadirkan para terpelajar dari berbagai disiplin ilmu serta latar belakang. Ada sembilan panel yang masing-masing membicarakan fenomena Islam Nusantara dari sudut pandang sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum, dan lain sebagaimanya. Suasana keilmuan terasa amat kental karena acaranya sendiri diadakan di Vrije Universiteit Amsterdam dan dipanitiai oleh pelajar-pelajar Nahdliyin yang tengah menuntut ilmu di Belanda. 
 
Saya saat mempresentasikan paper terkait hukum adat dan Islam di Konferens Islam Nusantara NU.
Terlepas dari apa haluan politiknya, agamanya, rasnya maupun mazhabnya, kemarin saya benar-benar merasakan Islam sebagai sesuatu yang rahmatan lil ‘alamin alias universal. Yah, bagaimana tidak, instead of hanya mengundang syekh-syekh atau kiai-kiai, konferens ini diramaikan pula oleh mereka yang beragama non-muslim yang telah malang-melintang di dunia kajian keislaman. Islam akhirnya dimiliki bersama tidak hanya sebagai sebuah konsep kepercayaan namun juga sebagai sebuah fenomena menarik yang pernah dan sedang terjadi di planet bumi. Di sini Islam dibahas dalam konteks pengetahuan, tidak hanya sebagai sebuah persepsi benar dan salah. Peserta konferens pun demikian pula majemuknya, ada yang beragama Protestan, Katolik dan bahkan agnostik ikut hadir untuk mendapatkan ilmu baru mengenai Islam. Apa yang menarik mereka sehingga berkenan hadir di acara yang kental dengan nuansa hijaunya ini? Ya tentu saja keinklusifan Islam dan wajah ramah yang digadang-gadangkan oleh para junior Gus Dur ini. Toh, pada akhirnya ilmu pengetahuan yang bersumber dari Islam sebagaimana halnya dari agama lain adalah warisan bagi umat manusia secara keseluruhan.
Salah satu highlight dari konferens ini ialah saat Profesor Karel Steenbrink menyampaikan lecture yang sekaligus menjadi penutup acara. Karel Steenbrink yang sudah paruh baya dan rambutnya berubah warna menjadi putih semua ini adalah seorang profesor emeritus dari Utrecht University untuk Intercultural Theology. Karel adalah seorang Katolik yang jatuh cinta dengan sejarah dan perkembangan Islam. Beliau telah menghasilkan banyak sekali penelitian terkait Islam dan Kekristenan di Indonesia. Interpretasi Alquran juga merupakan salah satu bidang yang ia tekuni selama bertahun-tahun. Karel Steenbrink bukanlah orang asing, namanya sudah sering dirujuk oleh para peneliti di kalangan Islamic Studies.
Profesor Karel Steenbrink membawakan ceramahnya di penutupan konferens
Pada kesempatan itu Karel Steenbrink membawakan tema yang cukup menarik. Ia membuka lecture-nya dengan membacakan ayat “innallaha ma’ash-shobirin” karena mengetahui betapa lelahnya wajah-wajah kami sore itu menunggu acara untuk ditutup. Kami yang sudah terkuras energinya dan setengah mengempet lapar kemudian hanya bisa bereaksi dengan nyengir-nyengir manja. Karel melanjutkan pembahasannya, berbincang mengenai sembilan orang scholar yang menjadi pahlawan-pahlawan baginya dalam mempelajari Islam Nusantara. Kesembilan pahlawan intelektual tersebut menginspirasinya untuk mengukuhkan teori bahwa praktek keislaman yang terjadi di Indonesia memang lah unik, khas bagi penduduknya itu sendiri, serta berbeda secara kultural dari Islam yang dipraktekkan di tempat asalnya di Saudi Arabia. Karel lebih jauh lagi kemudian menyebut sembilan tokoh tersebut sebagai Walisongo Islam Nusantara di sepanjang karirnya.
List Walisongo versi Karel ini dibuka oleh seorang maestro Islamolog yang amat kontroversial dalam sejarah Indonesia itu sendiri: Snouck Hurgronje. Si jenius yang pernah menjadi mata-mata Belanda untuk Aceh ini mencetuskan bahwa Islam di Indonesia memang berbeda dengan Islam yang ada di Arab, akan tetapi perbedaan ini tidak kemudian membuat Islam di Indonesia menjadi tidak murni atau inferior terhadap Islamnya Arab. Bahkan untuk ukuran Aceh yang notabene “amat Islam”, di sana Snouck menemukan bahwa praktek keislaman dipengaruhi oleh elemen-elemen kebudayaan yang membuatnya kehilangan ke-Arabannya. 
Di urutan kedua ada Merle Ricklefs yang banyak sekali membahas tradisi mistisme di Jawa dalam karya-karyanya. Ricklefs berpendapat bahwa kraton di Jawa membantu terciptanya sebuah sintesa mistik antara Islam dan praktek kepercayaan lokal yang kemudian menghasilkan sebuah perpaduan unik, yang sekali lagi berbeda dengan praktek keislaman di Timur Tengah ataupun Aceh. Ia juga menyebutkan bagaimana perbedaan yang tajam antara kaum santri dan kaum abangan pada tahun 1850 - 1990 membentuk persepsi masyarakat atas wajah Islam Jawa.
J.W. Bakker alias Rahmat Soegagiyo menduduki peringkat ketiga. Ia adalah seorang pendeta Jesuit di Yogyakarta pada masa kolonial dan banyak merenung mengenai usaha-usaha peleburan nilai-nilai agama yang datang dari Barat ini kepada masyarakat Jawa. Sebuah buku berjudul “Agama Asli Indonesia” lahir dari kontemplasinya tersebut. Salah satu poin utama yang ia kemukakan ialah bahwa agama asing yang masuk ke Indonesia harusnya meminjam wajah lokal untuk dapat diterima masyarakat tidak hanya sebagai sistem kepercayaan namun juga sebagai sebuah sistem kebudayaan. Gereja Ganjuran yang ia bangun dengan meminjam bentuk candi-candi zaman Hindu Buddha merupakan pengejawentahan dari ide tersebut. 
Wilfred Smith dengan “religion is cumulative traditions”-nya menjadi walisongo keempat bagi Karel. Ia disusul oleh dua orang cendekiawan Muslim asal Indonesia yaitu Ash-Shiddieqy dan Hazairin. Ash-Shiddieqy dan Hazairin dikenang karena usaha mereka mempromosikan pengakuan atas sebuah mazhab Islam khusus bagi Muslimin Nusantara. Mazhab yang kemudian disebut Mazhab Indonesia ini dilihat sebagai solusi atas keunikan praktek-praktek keislaman yang terjadi di daerah (Hazairin itu sendiri adalah salah seorang profesor hukum adat pertama Indonesia). Mazhab Indonesia diharapkan pula mampu menjadi sebuah contoh atas keberhasilan menyatunya nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat Indonesia tanpa kehilangan identitas asli mereka. Pendapat ini sayangnya pupus dengan sendirinya karena ketidakmampuan untuk menjawab tantangan kebhinnekaan di tanah air dalam mengaplikasikan hukum syariah.
Terakhir, sekaligus menjadi salah seorang wali yang punya hubungan dekat dengan Karel sendiri ialah Harun Nasution. Harun Nasution ialah seorang cendekiawan Islam yang getol dalam mempromosikan pentingnya menggunakan akal di samping iman saja dalam beragama. Di dalam karya-karyanya ia sering mempertanyakan:  
dapatkah akal menandingi wahyu?; haruskah akal tunduk kepada wahyu?; bagaimana bila terjadi pertentangan antara ilmu pengetahuan modern dengan wahyu? 
Salah satu argumen Nasution yang paling mencengangkan ialah saat ia menyatakan bahwa Alquran tidak mengandung segala-galanya, bahkan pula tidak menjelaskan semua permasalahan agama. Perihal sholat contohnya, hanya sekedar disebutkan di dalam Alquran tanpa ada detail proseduralnya. Iman saja tidak cukup dalam memahami Islam. Ide-ide Nasution yang cukup kontroversial bagi penganut Islam awam di Indonesia sayangnya membuat beliau dicap Muktazilah dan lain sebagainya.
Karel Steenbrink, seorang profesor Katolik yang menyusun Walisongo kajian Islam Nusantara-nya sendiri. Presentasinya di penghujung konferens NU ini menstimulasi lahirnya ide-ide yang mengalir deras di kepala saya. Pada akhirnya sebagai sebuah agama yang dipraktekkan, sebagai sebuah kepercayaan yang mewujud melalui keseharian penganutnya, Islam tidaklah stagnan. Islam lahir, bergerak dan berkembang bersama manusia yang membawanya. Dialog-dialog seperti inilah yang saya harapkan banyak terjadi hari ini maupun di masa yang akan datang. Melalui acara-acara seperti inilah dialektika Islam menjadi nafas yang menyegarkan untuk dihirup, tidak melulu berkubang dalam dogma, taqlid buta yang mengekslusifkan diri atau perselisihan bermotif politik dan ekonomi.
Jadilah kita rahmat bagi semesta alam!

Berkel en Rodenrijs,
29 Maret 2017

Tuesday, October 18, 2016

Bahasa dan Tulisan Arab: Antara Harapan dan Ketakutan

Seingat saya dulu, beberapa saat sebelum berangkat ke Amerika Serikat di tahun 2007, ada semacam trend dimana Bahasa Arab tiba-tiba menjadi istimewa di kalangan umat Islam Indonesia. Sebelumnya saya tidak sadar akan adanya fenomena seperti ini hingga saya perhatikan teman-teman saya di bangku SMP dan SMA saat itu jadi suka menggunakan sepatah-dua patah kata Arab di antara kalimat-kalimatnya. Setelah dibesarkan dengan ‘assalamu’alaikum’, ‘alhamdulillah’, astaghfirullah’, ‘masya Allah’, ‘subhanallah’, ‘Allahu akbar’ dalam percakapan sehari-hari, waktu itu kosakata saya jadi bertambah. Rasanya tidak afdhol bagi sebagian dari mereka apabila tidak menyapa kawan laki-lakinya sebagai ‘akhi’ dan kawan perempuannya sebagai ‘ukhti’, atau mengucapkan terima kasih dengan ‘syukran’ serta mempersilakan untuk menikmati segelas sirup dengan ‘tafaddal’. Kebanyakan dari teman-teman saya ini memang anggota rohis sekolah. Uniknya, kebiasaan-kebiasaan untuk menggunakan kata-kata Arab baru ini kemudian juga diadopsi oleh mereka yang bukan anggota rohis saking seringnya kata-kata tersebut diulang-ulang.

Sebenarnya, Bahasa Arab dianggap sebagai bahasa suci karena melalui bahasa inilah Quran diwahyukan serta Nabi Muhammad berlisan. Meskipun pada faktanya Bahasa Arab yang dipelihara di dalam kitab Alquran dan Bahasa Arab hari ini amat sangat berbeda, kebanyakan masyarakat awam di Indonesia masih terbuai dengan logika sinonim yang kurang tepat: Arab = Islam. Itulah sebabnya Bahasa Arab pun menjadi Bahasa Islam. Sewaktu duduk di bangku SMA kelas dua, sekolah saya pernah mewajibkan siswa-siswinya untuk belajar Bahasa Arab pula, seakan-akan pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jerman tidak cukup. Bahasa Arab diinstitusikan sedemikian rupa di dalam sistem pendidikan kami dengan metode yang sebenarnya jika dipikir-pikir cukup diskriminatif: hanya siswa yang beragama Islam saja yang diikutkan kelas Bahasa Arab, sedangkan yang non-Muslim diwajibkan kelas Bahasa Jepang. Saya terus terang masih tidak paham mengapa sekolah mewajibkan Bahasa Arab saat itu. Toh, setelah belajar Bahasa Arab sekali seminggu selama setahun saya juga masih tidak dapat mengartikan Alquran tanpa membuka tafsirnya hingga hari ini.

Konsekuensi dari pengultusan Bahasa Arab serta ketidakmampuan untuk memisahkannya dari esensi Islam di saat yang sama ialah terciptanya penumpulan logika yang bersifat massal. Ada cerita lucu yang dikisahkan oleh ayah saya ketika suatu ketika di bulan Ramadhan sebuah toko baju memutarkan lagu-lagu berbahasa Arab. Lagu-lagu yang ternyata masuk ke kategori Pop tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan Quran ataupun Islam. Lagu-lagu tersebut dinyanyikan oleh biduanita tersohor asal Mesir bernama Ummi Kalsum dan liriknya berisi tentang cinta, kerinduan, patah hati dan lain sebagaimana. Ayah saya tertawa karena melihat reaksi ibu-ibu mendengarkan lagu-lagu tersebut: mereka seakan-akan sedang dikuasai oleh Roh Kudus karena mengira lagu Arab itu berisi puji-pujian kepada Tuhan dan mulai mengamin-amini setiap lirik Umi Kalsum. Tulisan Arab pun sama saja. Banyak yang kemudian mengultuskannya karena dianggap memiliki daya spiritual khusus. Padahal, bagi mereka yang tidak mengerti artinya, bisa saja selembar kertas yang berisi penuh tulisan Arab itu adalah instruksi untuk menggunakan minyak  pemanjang kumis dan jenggot Wak Doyok instead of sholawat nariyah atau ayat-ayat Qurani.


Lain di Indonesia, lain pula di luar negeri. Ketika di tanah air tulisan Arab mampu menghadirkan harapan bagi kaum beriman karena simbolisme yang dicantol-cantolkan dengan spiritualisme, di Amerika Serikat sana tulisan Arab justru menjadi personifikasi atas aksi terorisme dan fanatisme. Islamophobia berubah menjadi Arabophobia ketika segala sesuatunya yang berhubungan dengan Islam diasosiasikan dengan bahasa maupun tulisan Arab. Ini persis sama dengan yang terjadi di tanah air, hanya saja perspektifnya yang berbeda. Tulisan Arab ditakuti karena dianggap sebagai potongan Alquran, kitab yang menginspirasi golongan teroris untuk melaksanakan jihad. Beberapa hari yang lalu beredar meme di dunia Twitter yang menyinggung permasalahan ini di tengah sengit dan panasnya suasana pemilihan presiden di Amerika Serikat. Yang menjadi penyebab mengapa publik Amerika mengasosiasikan Islam dengan Arab ialah karena peran media yang senantiasa menggambarkan teroris sebagai pria Arab berjanggut lebat dan bersorban putih. Ini juga tidak ada bedanya dengan apa yang terjadi di Indonesia ketika jubah-jubah Arab kemudian dianggap mewakili Islam dimana-mana.



Di Leiden sendiri, beberapa orang teman kelas saya di program European and International Human Rights Law tertarik untuk mempelajari bahasa dan tulisan Arab karena dianggap ‘seksi’. Seksi berhubung saat ini Timur Tengah adalah daerah yang jadi sorotan utama dunia sehubungan dengan konflik-konflik hak asasi manusia. Tulisan Arab bagi mereka mungkin tidak menyimbolkan harapan maupun ketakutan sama sekali, tulisan tersebut mereka pelajari memang layaknya sebagai alat komunikasi dan sumber informasi. Tidak ada takhayul bahwa bahasa maupun tulisan Arab akan menuntun mereka menuju spiritual awakening atau ketakutan tidak beralasan tentang terorisme. Setidaknya dalam hal ini saya setuju dengan kawan-kawan saya di kelas bahwa bahasa maupun tulisan Arab sejatinya tidak berbeda dengan bahasa maupun tulisan lainnya di dunia ini.

Terakhir, penggunaan simbol-simbol bahasa maupun tulisan Arab sesungguhnya tidak sepenuhnya salah. After all betul bahwa bahasa maupun tulisan Arab memiliki peran besar di dalam penyebaran Islam yang kemudian menjadi agama mayoritas di Indonesia. Bahasa Arab menjadi bahasa ritual yang hidup dalam aktivitas spiritual masing-masing individu. Hanya saja amat disayangkan ketika kemudian bahasa maupun tulisan Arab tidak dipahami konteksnya secara benar. Yang saya khawatirkan ialah ketidakmampuan kita untuk dapat menempatkan bahasa maupun tulisan Arab sebagai dua hal yang terpisah dengan Islam itu sendiri: bisa-bisa justru akan menjerumuskan banyak orang ke jurang-jurang kekonyolan (sebagaimana yang sudah terjadi di banyak kasus, dan sedang terjadi di negeri Paman Sam sana). Dan yang lebih penting, tentu saja agar jangan sampai kita melupakan bahasa maupun tulisan dalam bahasa ibu kita sendiri, kekayaan yang sesungguhnya.

Leiden yang kembali dingin,


18 Oktober 2016

Saturday, November 21, 2015

Roro Kidul dan Snow Queen: Peyorasi Matriarkal dalam Narasi Rakyat

Ada dua tokoh alpha female dalam dunia dongeng Nusantara dan Eropa yang ditampilkan sedemikian rupa sehingga memicu terperciknya narasi rakyat yang cukup menyeramkan tentang mereka.

Kedua sosok ini memiliki karakteristik yang kurang lebih sama: mereka digambarkan sebagai tokoh perempuan yang memiliki kuasa atas sebuah takhta; kuat dan mandiri; terasosiasi pada elemen alam tertentu (dalam konteks cerita saya ini ialah laut dan salju); memiliki abdi-abdi malang yang bekerja di bawah kontrol mereka; serta yang paling penting mereka berhati dingin. Perempuan-perempuan ini dalam bayangan saya sejatinya merupakan olah citra dari imaji primordial manusia yang hidup di bawah kepimpinan matriarkal, namun pada saat yang sama juga menyimbolkan ketakutan kaum patriarki atas bangkitnya perempuan dari dominasi mereka. Mereka disegani tapi juga dibenci.

Kemunculan kedua sosok ini direkam pertama kali di abad ke-18 untuk cerita rakyat yang berasal dari Indonesia dan abad ke-19 untuk dongeng yang berasal dari Eropaa. Di kurun-kurun waktu tersebut, Nusantara mulai "dimasukkan" ke dalam hegemoni kolonialisme dan imperialisme Eropa. Saat itu sebenarnya merupakan abad yang cukup abu-abu alias tidak hitam dan putih: Eropa asing tidak selamanya dipandang sebagai musuh yang harus dibasmi namun terkadang berperan sebagai sekutu aktif yang bantuannya amat diperlukan untuk melanggengkan kuasa seorang penguasa pribumi, serta sebaliknya sesama penguasa pribumi pun terlibat intrik-intrik kekuasaan dimana rezim baru muncul dari rezim lama yang dianggap sudah karatan untuk dapat memimpin. Agama menghiasi ranah politik dimana ulama-ulama pribumi hasil latih-didik ulama generasi impor memberikan restu kepada pangeran-pangeran muda untuk berperang atau memberontak.

Di Eropa, abad ke-19 adalah abad yang cukup menyenangkan. Eksplorasi negara-negara Eropa barat ke Asia, Afrika dan Amerika membuat segala macam kekayaan dunia mengalir ke kanal-kanal dan rumah-rumah mereka. Sains berkembang pesat, ini juga terima kasih kepada dunia Timur yang membukakan jalan mereka ke Taman Firdaus berupa spesimen-spesimen binatang unik, tanaman-tanaman obat, serta agama dan budaya timur yang eksotis. Masuknya Timur ke Barat menstimulus pula lahirnya "permainan" baru semacam pemanggilan arwah (ghost conjuring) serta meningkatnya okultisme. Victorian Age, demikian mereka menyebutnya, saat dimana teknologi berkembang pesat melalui penemuan mesin uap dan Revolusi Industri di Inggris ditambah dengan kebangkitan kembali arsitektur Gothik. Namun di saat yang sama kemiskinan meningkat tajam serta anak kecil dan perempuan diperlakukan jauh lebih buruk daripada sebelumnya. Karya agung Charles Dickens 'Oliver Twist' lahir untuk mengkritisi fenomena ini. Dari latar belakang kedua abad itulah kedua tokoh kita ini lahir.

Sosok pertama yang kita bahas adalah Roro Kidul. Ada beberapa versi mengenai asal mula tokoh ini. Adapula sebagian orang yang memisahkan karakter yang bernama Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul sebagai dua persona yang berbeda. Yang disebut pertama ialah ratunya sedangkan yang disebut kedua ialah jin yang menjadi patihnya. Saya tidak akan membahas itu di sini karena fokus dari tulisan ini adalah narasi rakyat yang berkembang terhadap tokoh perempuan gaib dari laut selatan Jawa. Oke, sebutlah dia Roro Kidul. Roro Kidul yang dikenal oleh narasi rakyat hari ini adalah sesosok perempuan dengan untaian benang melati di rambutnya serta digambarkan amat seduktif terhadap kaum pria (terima kasih kepada almarhumah Suzanna untuk citra ini). Ia gemar memakai pakaian berwarna hijau sehingga konon apabila ada seseorang yang mengenakan warna kesukaannya itu di Pantai Parangtritis maka ia akan terseret ombak dan "diambil" oleh sang penguasa kraton bawah laut untuk menjadi abdinya. Imaji terakhir tentang sosok Roro Kidul ialah ia sering dihubungkan dengan mistisme seks dan kekuasaan: raja-raja Mataram haruslah menjadi suaminya secara turun-temurun dan sebuah kamar di Hotel Samudera Beach 308 disediakan bagi mereka yang ingin memperoleh akses kejayaan dan kekayaan secara instan alias melalui pesugihan.

Yang tak kalah menarik ialah sosok kedua yang kita bahas hari ini: Snow Queen. Tolong jangan samakan dia dengan Putri Salju alias Snow White yang gemar bernyanyi serta mati karena gigitan apel yang mematikan itu. Snow Queen adalah segala karakter yang menjadi kutub berlawanan Snow White: ia bukan gadis remaja melainkan wanita dewasa; ia tidak lemah melainkan amat sangat berkuasa; ia tak menggantungkan diri terhadap bantuan para kurcaci mungil melainkan memegang pecut di tangannya untuk mengendalikan rusa-rusa terbangnya; ia tidak hidup di dalam pengasingan melainkan tinggal di sebuah istana salju yang berdiri di atas sebuah danau yang disihir hingga membeku; ia tidak membutuhkan bantuan dari seorang pangeran untuk melepaskan kutukannya karena justru ia yang memberikan kutukan kepada orang. Imaji Snow Queen sebagai perempuan jahat yang ditakuti oleh umat manusia diadopsi ulang oleh C.S. Lewis dalam Seri Narnia-nya melalui tokoh antagonis pertama: Jadis The White Witch.
Snow Queen ditakuti oleh orang-orang di belahan dunia utara karena ia datang bersama badai salju yang meresahkan. Badai salju itu bisa mengamuk selama berhari-hari, membuat tanaman dan ternak mati serta membuat manusia tak dapat keluar rumah untuk beraktifitas. Ia juga musuh anak-anak kecil: sebagaimana diceritakan oleh Hans Christian Andersen di dalam dongengnya, Snow Queen menculik anak kecil (laki-laki) yang bermain di luar rumah saat salju mengamuk di malam hari.

Roro Kidul lahir saat Panembahan Senopati membutuhkan dukungan untuk mencipta sebuah dinasti baru di tanah Jawa. Ia yang hanya keturunan petani biasa haruslah menerima "wahyu" sebagaimana lazimnya tokoh-tokoh pendiri kerajaan lain yang ada sebelumnya. Senopati telah mendapatkan lampu hijau dari para ulama, dengan demikian ia membutuhkan restu dari "kekuatan ghaib" yang menguasai tanah Jawa untuk melanggengkan jalannya. Maka kekuatan ghaib itu muncul dalam sosok seorang perempuan berbaju hijau yang istananya berada di dasar samudera. Hubungan Senopati dengan perempuan ini cukup istimewa: ia digambarkan berhasil membuat perempuan ini mengakui kesaktiannya karena tapanya mampu membuat laut bergejolak kepanasan. Roro Kidul kemudian menjadikan Senopati sebagai "suaminya" dan sejak saat itu berjanji pula akan menjadi patron kerajaan Mataram serta menjadi istri bagi raja-raja keturunan Senopati berikutnya (entah makna "istri" di sini hanya bersifat simbolis atau melalui persetubuhan fisik betulan, again i won't go that far). Di sinilah sentra ceritanya. Roro Kidul berstatus sebagai istri. Roh feminin dahsyat yang menguasai seluruh lelembut di pulau terpadat di dunia ini takluk membasuh kaki Senopati (dalam pernikahan adat Jawa seorang perempuan harus membasuh kaki calon suaminya). Roro Kidul tak lagi dilihat sebagai sebuah kuasa matriarki tersendiri, hari ini hingga selamanya ia adalah milik raja-raja Mataram. Roro Kidul terikat dalam sebuah kontrak dimana tiap tahun ia diingatkan untuk terus menjaganya: upacara larung oleh kraton Jogja dan Solo di Pantai Parangkusumo untuk memperbaharui sumpah setianya pada Senopati.

Bagaimana halnya dengan Snow Queen? Posisinya tidak jauh lebih baik. Setidaknya ia tidak harus tunduk kepada patriarki melalui institusi bernama persuami-istrian. Snow Queen tetap single di akhir cerita, tidak ada Snow King yang duduk bersama dengannya di atas takhta. Akan tetapi Perempuan-perempuan mandiri seperti inilah yang kemudian jadi sasaran empuk golongan patriarki Eropa abad itu: mereka disifati dengan hal-hal yang jahat serta (somehow) menjadi musuh agama. Berbeda dengan kaum biarawati yang menyerahkan diri untuk tidak menikah di bawah otoritas agama, Snow Queen adalah roh jahat yang menghantui setiap lorong desa dan meresahkan warga karena kekuatannya mampu merusak tatanan. Saljunya dapat membekukan ladang serta membunuh binatang ternak. Di beberapa adegan dalam cerita Snow Queen, ayat-ayat Alkitab dinyanyikan untuk mengusir atau mengalahkan saljunya. Entah mengapa saat membaca itu saya merasa Snow Queen semakin mirip dengan figur Eve dalam kisah Kejadian yang dipersalahkan karena membujuk Adam memakan Buah Pengetahuan. Ia seduktif, ia menculik anak-anak yang keluar malam saat badai salju, mencium mereka dua kali agar lupa dengan masa lalu, kemudian menawan mereka di istananya yang berdiri di atas danau beku bernama Mirror of Understanding. Ada yang salah di sini: ia dibenci karena ia memiliki dua hal yang seharusnya tidak dimiliki oleh perempuan di masa itu yaitu kekuasaan dan pengetahuan (mirror of understanding).

Kedua dongeng di atas sangat menarik untuk dikaji lebih dalam lagi. Roro Kidul ataupun Snow Queen boleh jadi bagi segelintir orang adalah pahlawan, namun mereka yang mempercayai itu hanya akan dianggap menyimpang dari narasi utama: mengapa mengidolakan Roro Kidul dan Snow Queen yang jahat, bukankah mereka meminta tumbal anak lelaki? Matriarki mengalami perendahan makna (peyorasi) dalam dunia dongeng, sebab tak sewajarnya seoramg perempuan hidup dengan karakter seperti itu.

Jangan lupa, mereka adalah produk pada zamannya. Zaman dimana perempuan tidak boleh jadi lebih pintar atau berkuasa di atas lelaki. Dongeng ini anehnya terus hidup di masyarakat modern bersama dongeng-dongeng patriarki lainnya. Padahal, dongeng adalah alat yang paling bagus untuk memulai proses doktrinasi semenjak dini. Anak-anak kecil yang kita buat takjub mendengarnya secara tidak langsung telah ditanamkan ide-ide mengenai patriarki ini. Bagi dongeng patriarki perempuan tak boleh jadi lebih kuat karena mereka itu lemah dan harus diselamatkan dari naga jahat. Haruskah 100 tahun lagi misalnya, dongeng akan selalu jadi seperti itu?

Ini jadi tugas kita bersama kemudian hari ini: mencipta dongeng-dongeng baru dengan nilai-nilai yang sesuai dengan zamannya.

Leiden, 21 November 2015
1.20 PM

PS: Untuk tulisan saya yang senada lainnya, silakan tilik Maleficent dan Salawati Daud: The Hidden Triumph of Matriarchy?

Friday, January 24, 2014

Apakah Soekarno Pernah Membaca Teks Sumpah Palapa?

Pada film Soekarno garapan Hanung Bramantyo yang dirilis Desember 2013 lalu, ada sebuah adegan yang menarik perhatian saya. Dikisahkan, Sukarno yang tengah hidup dalam pengasingan terakhirnya di Bengkulu mengisi hari-hari sebagai seorang guru di sebuah Sekolah Rakyat. Di sanalah ia bertemu dengan siswi Fatmawati, seorang gadis remaja yang kelak akan menjadi istri keduanya. Sukarno, dengan semangatnya yang berapi-api, menularkan ambisi kepada pemuda-pemuda Melayu muda di kelasnya untuk optimis dalam pembentukan sebuah negara bernama Indonesia yang merdeka dari jajahan Belanda. Hal ini mengundang tanya dari salah seorang gadis kritis yang duduk di bangku bahagian depan: bagaimana mungkin Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau yang banyak ini dapat berdiri menjadi SATU buah negara? Dengan senyum flamboyannya Sukarno menjawab: negara yang berdaulat atas pulau-pulau di Nusantara bukanlah hal yang baru, karena dulu kerajaan Majapahit telah melakukan hal yang sama. Mahapatih Gadjah Mada dengan Sumpah Palapa-nya bertekad untuk menyatukan seluruh Nusantara ini ke dalam satu pemerintahan.

Sampai di sini, mungkin hal itu terdengar familiar di telinga kita, sesuai dengan doktrin yang diajarkan di kelas Sejarah atau PPKN saat kita masih duduk di bangku SD. Majapahit dijadikan sebagai negara maritim kedua Nusantara (setelah Sriwijaya) sekaligus kerajaan nasional pertama karena mencangkup beragam pulau di luar Jawa. Sumpah Palapa lah yang kemudian dijadikan sebagai dalil persatuan Nusantara. Gadjah Mada juga jadi ikon pemersatu bangsa, itulah sebabnya universitas nasional pertama di Indonesia (yang dengan bangganya saya katakan, adalah kampus saya sendiri) diberi nama Universitas Gadjah Mada. Sekarang pertanyaannya, dari mana kah Sukarno mengetahui isi Sumpah Palapa?

Patung Bung Karno, Blitar 2009
Negarakertagama merupakan sebuah kitab karangan Mpu Prapanca –seorang mantan pejabat agama Buddha di kraton Majapahit yang dikeluarkan dari istana karena merasa difitnah oleh salah seorang bangsawan tinggi– yang berdasarkan kolofonnya ditulis pada tahun 1365 M atau 1287 Saka. Naskah ini berjenis kakawin, termasuk salah satu koleksi naskah kuno terlangka dan terunik karena isinya tidak berkisah mengenai pewayangan atau ajaran-ajaran agama (sebagaimana lazimnya isi naskah-naskah kuno Jawa dari era Majapahit lainnya) melainkan sebuah reportase dari sudut pandang orang pertama. Naskah ini berisi ulasan perjalanan Prabu Hayam Wuruk keliling daerah kekuasaannya di Jawa Timur serta deskripsi mengenai kondisi ibukota Majapahit. Sejak kemunduran Majapahit di awal abad ke-15, naskah ini baru muncul ke permukaan pada tahun 1894. Itupun tidak ditemukan di Jawa, melainkan di perpustakaan Puri Cakranegara di Lombok. Alkisah, saat tentara KNIL merangsek masuk dan membakar istana sang raja Lombok, seorang filolog Belanda bernama J.L.A. Brandes menyelamatkan beberapa naskah kuno termasuk di antaranya ialah Negarakertagama. Nah, jangan pula dibayangkan bahwa naskah yang diselamatkan oleh Pak Brandes merupakan naskah lontar kuno yang benar-benar berasal dari era Majapahit. Naskah Negarakertagama di Puri Cakranegara merupakan salinan entah dari naskah Negarakertagama zaman kapan. Oleh Pak Brandes, naskah ini diterbitkan pertama kalinya ke hadapan publik dalam bentuk edisi sementara pada tahun 1902. Lontar asli Negarakertagama sendiri disimpan di Leiden selama berpuluh-puluh tahun, hingga akhirnya dikembalikan ke Indonesia saat kunjungan Ratu Juliana pada tahun 1973. Pada tahun 2008 UNESCO mengakui Negarakertagama sebagai Memory of The World.


Balik ke Sumpah Palapa ya. Sayangnya, teks Sumpah Palapa tidak pernah diukir di atas batu prasasti. Sumpah Palapa tidak ditemukan di relief candi-candi. Sumpah Palapa juga ternyata TIDAK termuat di dalam naskah Negarakertagama yang sudah saya uraikan panjang lebar di atas (ups!). Isi otentik Sumpah Palapa ternyata hanya dapat ditemukan di dalam Kitab Pararaton.

Sukarno, lahir di tahun yang sama dengan publikasi pertama naskah Negarakertagama. Sampai abad ke-21, Negarakertagama masih menjadi kakawin Jawa yang paling banyak dikaji, tidak hanya oleh filolog, namun juga oleh para sastrawan, sejarawan dan arkeolog. Meski demikian, saya sangsi jika Sukarno pernah benar-benar membaca terjemahan Negarakertagama. Apalagi Sumpah Palapa yang termaktub di dalam Pararaton. Apa sebabnya? Pararaton pertama kali di-publish oleh Pak Brandes pada tahun 1897. Edisi keduanya yang disempurnakan muncul di tahun 1920. Nah, edisi inilah yang kemudian beredar luas. Sukarno lulus HBS (kira-kira setingkat SMA) pada bulan Juli 1921, dan langsung mendaftar ke Technise Hoogeschool te Bandoeng (kini ITB). Ia lulus pada tahun 1926. Sepanjang tahun tersebut tidak ada tulisan atau indikasi Sukarno pernah membaca tentang Pararaton maupun membahas Gadjah Mada. Ia memang aktif di organisasi yang sifatnya kejawen seperti Tri Koro Dharmo (bagian dari Budi Utomo), akan tetapi saya sangsi di sana ia mendengarkan pengajian Pararaton. Ibunya memang orang Bali dan tetap beragama Hindu, akan tetapi saya juga sangsi jika Ida Ayu Nyoman Rai mengetahui isi Sumpah Palapa. Ingat, Sumpah Palapa hanya ada di dalam Pararaton yang baru terbit belakangan. Sumpah Palapa dan bahkan nama-nama asli raja-ratu Majapahit lenyap dari ingatan masyarakat Jawa ketika memasuki era Demak dan Mataram. Babad-babad dan serat-serat yang tumbuh subur pada era Mataraman hanya mengingat Gadjah Mada sebagai seorang patih nan gagah perkasa lagi sakti mandraguna, ayah tiri dari Adaningkung atau Angkawijaya, raja Majapahit setelah Brawijaya II. Di Babad Tanah Jawi, Gadjah Mada diingat sebagai seorang patih nan setia, ia berlayar hingga ke negeri Cempa untuk melamar seorang putri atas permintaan Prabu Brawijaya. Ia lalu kembali ke Majapahit sambil membawa sang putri disertai oleh gong bernama Kyai Sekar Delima dan tandu bernama Kyai Jebat Bedri.


Bersama sepupu di depan Makam Bung Karno,
Blitar 2009
Ada satu sosok sahabat perjuangan Sukarno yang cocok untuk melengkapi figur “orang yang pernah membaca Pararaton” dan memberitahukan konsep Sumpah Palapa kepada Sukarno. Sosok ini juga adalah orang yang membisikkan kata “Pancasila” (yang diadopsi dari kitab Tipitaka Buddha) ke telinga Sukarno saat rapat BPUPKI sebagai nama dari 5 konsep dasar negara. Namanya Mohammad Yamin. Mohammad Yamin pernah menjabat sebagai Menteri Kehakiman (1951), Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan (1953–1955), serta Ketua Dewan Perancang Nasional (1962). Ia dilahirkan di Sumatera Barat, bersekolah di Palembang, Bogor, Jogja dan Jakarta, serta belajar Bahasa Yunani, Bahasa Latin, Bahasa Koine dan sejarah purbakala. Ia menikah dengan Raden Ajeng Sundari Mertoatmojo, seorang gadis berdarah biru keturunan bangsawan Demak. Mohammad Yamin pernah menjadi pemimpin Jong Sumatranen Bond (1926-1928). Ia juga merupakan tokoh yang berandil besar dalam menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Selain sebagai seorang aktivis, sastrawan dan sejarawan, Mohammad Yamin pun memiliki gelar di bidang hukum. Ia adalah orang yang mendorong agar poin-poin terkait Hak Azazi Manusia (HAM) dimasukkan ke dalam konstitusi Indonesia. Wah, dalam banyak hal saya dan Pak Yamin punya kemiripan ya, sama-sama pelajar hukum yang suka budaya dan sastra hehehe.

Mengapa harus Mohammad Yamin? Nah, ternyata saat belajar sastra-sastra kuno, Mohammad Yamin dimentori oleh beberapa orang filolog Belanda, di antaranya Prof. H. Kraemer dan Ds. Backer. Prof. H. Kraemer ini selain ahli Bahasa Latin juga merupakan salah seorang anggota dari tim penerjemah Kitab Pararaton edisi kedua bersama dengan Pak N.J. Krom, Pak J.C. Jonker dan Pak Poerbatjaraka. Kemungkinan besar dari sang guru inilah Mohammad Yamin menyerap banyak khazanah tentang sejarah Majapahit. Di kemudian hari, tepatnya pada tahun 1945 Mohammad Yamin menerbitkan sebuah buku berjudul “Gadjah Mada” yang merupakan buku sejarah pertama di Indonesia yang mencitrakan sang Mahapatih sebagai pahlawan pemersatu. Sukarno mulai menggempitakan kejayaan Majapahit yang konon meliputi seluruh Nusantara pasca Indonesia merdeka. Menurut saya pribadi ini termasuk salah satu dari “politik mitos”-nya, yang berusaha merangkul ratusan suku di Indonesia ke dalam latar sejarah yang sama. Hari ini, sudah ada banyak temuan yang membantah anggapan tersebut.

Lalu, mengapa kemudian apakah Sukarno pernah membaca teks Sumpah Palapa ini dibahas? Well, jika ingin jujur maka kita harus mengakui bahwa makna kalimat yang diterakan di dalam sumpah yang konon diucapkan oleh Mahapatih Gadjah Mada itu bernada penaklukkan terhadap hampir seluruh wilayah di Nusantara. Majapahit, yang pada periode-periode Raden Wijaya dan Jayanegara dipenuhi oleh konflik internal berupa pengkhianatan dan pemberontakan, memasuki masa-masa damai di era Tribhuwana Tunggadewi. Hal inilah yang kemudian menurut Slamet Muljana memotivasi Gadjah Mada untuk melebarkan wilayah Majapahit yang telah settle ke berbagai penjuru Nusantara.

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".Terjemahannya,Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".

Malaysia dan Singapura pernah menolak mentah-mentah ketika dikonfrontasi oleh Sukarno dengan klaim Sumpah Palapa ini. Konon, Majapahit telah berhasil menguasai Pahang (Malaysia) dan juga Tumasik (Singapura), sehingga ketika kedua negara tersebut dianugerahi kemerdekaan oleh Inggris seharusnya masuk ke dalam wilayah Republik Indonesia pula. Malaysia juga punya dalil tersendiri untuk menangkis klaim ini: dalam Hikayat Hang Tuah dikisahkan bagaimana utusan raja Malaka yang bernama Hang Tuah memporak-porandakan ibukota Majapahit yang mengancam akan menaklukkan kerajaannya.

Ada yang miss dengan pembacaan Sumpah Palapa ini sehingga dikemudian hari membuatnya menjadi ikon sakti persatuan Nusantara di masa lalu. Padahal, berdasarkan data-data sejarah ter-update hari ini sendiri, luas Majapahit tidaklah sebesar yang kita bayangkan, hanya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura dan Bali. Prof. Dr. C. C. Berg menulis di dalam “De geschiedenis van pril Majapahit” dan “De Sadeng-Oorlog en de mythe van goot Majapahit”:

Majapahit tidak pernah memiliki wilayah yang luasnya kurang lebih sama dengan luas wilayah Indonesia sekarang. Daerah-daerah di luar Pulau Jawa tersebut hanya merupakan suatu cita-cita saja dan tidak pernah masuk ke dalam wilayah kekuasaan Majapahit
.
Yup, jadi inti dari Sumpah Palapa itu baru sebuah cita-cita atau angan-angan, bukan kenangan beneran bahwa Majapahit pernah menaklukkan seluruh Nusantara. Di dalam buku “Menuju Puncak Kejayaan Majapahit” oleh Slamet Muljana, penaklukkan yang dilakukan oleh Mahapatih Gadjah Mada sendiri hanya tercatat dua kali dilakukan: Padompo dan Pasunda alias penaklukkan Dompo serta penaklukkan Sunda. Yang terakhir itu pun amat tragis, berakhir dengan peristiwa Bubat. Bali juga benar pernah ditaklukkan, namun kemudian tidak berada di bawah kontrol langsung pemerintah Majapahit yang berpusat di Jawa Timur. Sumatera? Nope, bahkan Negarakertagama tidak menyebut-nyebut penaklukkan Sumatera sama sekali. Masih menurut Slamet Muljana, penguasaan Majapahit terhadap Nusantara tidak terletak pada aspek militernya, melainkan pada aspek perdagangan. Saat itu bangsa Jawa masih merupakan pelaut ulung yang punya jung-jung atau kapal-kapal raksasa untuk berlayar mengitari seluruh pelosok kepulauan timur. Majapahit juga tampil sebagai primadona di Nusantara sebab mutu barang-barangnya yang amat high class, menjadikannya kiblat seni saat itu. Ini diperkuat oleh pernyataan Guru Besar Arkeologi Asia Tenggara National University of Singapore John N Miksic yang menyatakan:
Di wilayah Melayu ditemukan artefak berupa kesenian bermotif Jawa. Bentuknya adalah arca Kala Makara dan Dewi Prajnaparamita yang memperlihatkan ciri kesenian khas Jawa Majapahit. Selain itu, juga banyak ditemukan gerabah yang lebih berciri Trowulan. Ada kesinambungan yang terjadi antara hubungan Melayu dengan kerajaan Jawa (Majapahit)

Nah. Mari kita berpikir jernih. Majapahit dan juga ratusan kerajaan lainnya di Nusantara ini adalah bahagian dari sejarah Indonesia. Saya mencintai, mengagumi dan tak henti-hentinya terkesima dengan peradaban kerajaan Majapahit. Dan juga Sriwijaya, Aceh, Gowa, Banten, Banjar, Ternate, dan lain sebagainya. Menjadi Indonesia tidak berarti lantas hanya mencintai sejarah sukunya sendiri. Coba tengok Mohammad Yamin yang Minangkabau totok tapi segitu getolnya mengangkat nama Gadjah Mada di panggung nasional.

Kesimpulannya: sejarah, mungkin tidak semanis kenyataan. Akan tetapi hari ini kita harus berbangga hati dan berlapang dada. Kita adalah bagian dari sebuah bangsa yang untuk ukuran bangsa-bangsa lain di luar negeri lumayan gila: ribuan pulau serta ratusan suku dalam 1 pemerintahan! Yup, biarlah jargon “Bhinneka Tunggal Ika” yang menjelaskan semuanya. Karena dengan atau tanpa Sumpah Palapa, Nusantara yang secara genetis, linguistik dan geografis ini berkerabat satu sama lain memang ditakdirkan untuk menjadi satu.




Salam dari kamar saya di Makassar,


24 Januari 2014

Thursday, November 28, 2013

Catching Fire, Imaji Hindia dan Orientalisme

Ketika menonton Hunger Games: Catching Fire, apa yang terlintas di benak teman-teman sekalian? Kejahatan Presiden Snow; tantangan berbahaya yang harus dihadapi oleh Katnis Everdeen dan Peeta Mellark; negara Panem yang diambang keruntuhan; atau bahaya demi bahaya yang mengancam di tengah persaingan buta untuk menyelamatkan nyawa sendiri di Quarter Quell? Well, kalau saya yang ditanya akan pertanyaan serupa, refleks saya jawab: film yang penuh dengan simbologi orientalisme!
Nah lho, kok ada orientalisme segala? Begini ceritanya.

Orang Barat di Abad Pertengahan -ketika mereka baru saja terbebas dari kegelapan selama seribu tahun dan sedang marak-maraknya menjadi “humanis”- memandang Hindia (baca: Nusantara, Kepulauan Indonesia sebelum menjadi NKRI) sebagai tempat yang menyenangkan, sarangnya petualangan besar, sekaligus... menyeramkan. McGrane dalam Beyond Anthropology, Society and the Other berkata bahwa masyarakat yang hidup di era Renaissance melihat orang yang bukan Eropa dalam konteks saleh dan dosa berdasarkan konsep keKristenan. Menurut mereka, masyarakat dan kebudayaan di luar Eropa (yang belum menerima keimanan Kristiani) berada di dalam kuasa setan. Akan tetapi, perspektif ini tidak bertahan lama. Booming “Ketimuran” segera muncul di benua tersebut, tepatnya selama abad-abad eksplorasi. Ketika orang-orang Eropa telah berani mengembangkan layar menyusuri lautan untuk mencari jalan langsung menuju Kepulauan Rempah-Rempah yang legendaris itu (jalan laut menjadi pilihan mereka demi mendapatkan rempah-rempah setelah Perang Salib dimulai. Permusuhan dengan dunia Islam menjadikan Jalur Sutra daratan bukan lagi pilihan utama dalam perdagangan global), maka ide-ide tentang kawasan Timur yang eksotis dan misterius pun turut terbawa oleh angin laut ke jalan-jalan sempit dan berlumpur Eropa.

Saking populernya Hindia di dalam imajinasi Eropa, seorang pengarang Prancis bernama Honore de Balzac –yang bahkan sekalipun dalam hidupnya belum pernah menginjakkan kaki di atas kapal– membuat  roman menarik mengenai perjalanan khayalnya ke Tanah Jawa. Ia menulis:
Semua kenikmaan itu bertemu: perempuan Jawa, bunga-bunga, burung-burung, wewangian, matahari, udara, puisi yang memasukkan seluruh jiwa ke dalam tiap makna, membuatku berkata sejak kepulanganku dari Hindia. Berbahagialah mereka yang mati di Jawa...
            Berlebihan? Tidak, jika Anda adalah seorang Prancis yang hidup di tahun 1832. Saat itu “Demam Hindia” tengah melanda Benua Biru, pulau Jawa menjadi ikon perpaduan semua kesenangan dan misteri dari Timur. Akan tetapi, tidak selamanya “Demam Hindia” ini berdampak positif terhadap reputasi Nusantara. Sebuah tempat asing yang jauh dengan iklim yang hangat, beragam tumbuhan menyembul dari permukaan tanah serta air yang segar tentunya terlihat menyenangkan jika Anda berasal dari Eropa yang beku dan kaku. Akan tetapi, sebuah tempat asing yang sama, jauh dari rumah yang nyaman tentunya juga membangkitkan rasa was-was, prasangka, dan paranoia. De Molins yang berlayar ke Hindia pada Januari 1858 menggambarkan perasaannya:
Kesan liar pada orang-orang tersebut muncul dari gerakan mereka yang seperti kucing, perilaku yang malu-malu, sorot yang terpancar dari mata yang sehitam batuara, perubahan raut muka, bahasa mereka yang tidak dapat kami cerna, semua membuat saya heran bercampur dengan sedikit rasa ngeri. Saya merasa seperti ditelantarkan di wilayah timur yang misterius ini, di batas akhir peradaban. Di sini tidak ada apa pun dari Eropa maupun dari Prancis... Di sana orang lebih dilindungi oleh norma hukum yang damai dan norma adat-istiadat, sedangkan di sini yang berkuasa adalah naluri alamiah, tipu-muslihat halus, rasa dendam, benci dan cemburu.
            Wow, bayangkan apa yang dicitrakan oleh wartawan Prancis ini tentang orang-orang Hindia dari kontak pertamanya dengan mereka. Tidak, ia bahkan belum berinteraksi dengan pedagang-pedagang Melayu yang berjualan sayuran di atas perahu ini, ia hanya melihat mereka dari kejauhan, dari atas kapal Nicolas saat mereka hendak merapat di Batavia! Melalui pandangan pertama tersebut, ia telah mampu membuat sebuah rangkuman mengenai sifat dan pembawaan manusia Hindia yang kelak akan dibaca oleh ribuan orang Prancis di majalah traveling Le Tour de Monde. Bahan-bahan sejarah bernuansa orientalisme dan poskolonialisme ini jelas berbahaya karena tidak benar-benar menggambarkan situasi masyarakat dan alam Hindia yang sesungguhnya. Sayangnya, cerita-cerita tersebut terlanjur tersebar ke berbagai penjuru Eropa dan Amerika, sehingga stereotype terhadap daerah tropis yang dikepung oleh lautan pun menjelma dalam impian-impian terliar mereka.
Gambaran tentang Jawa, koleksi Tropenmuseum
            Catching Fire adalah salah satu contoh terbaik yang memamerkan imaji Barat terhadap Timur nan misterius dan dangerous. Mengapa lokasi permainan saling-bunuh antara para pemenang Hunger Games dilaksanakan di sebuah hutan hujan tropis? Jawabannya karena imaji akan Timur yang berbahaya itu masih terus terwariskan melalui DNA sastra dan pop-kultur Barat. Ada quote dari karakter bernama Johanna yang kurang lebih menggambarkan ketakutan orang-orang Barat terhadapnya misteri yang tersimpan di balik kerimbunan hutan hujan tropis:
“Mengapa kita tetap bertahan di pantai? Karena berada di tepi pantai jauh lebih aman dari pada berada di tengah hutan.”
            Pernyataan tersebut seakan-akan melegetimasi pandangan nenek moyang kulit putihnya dulu yang pertama kali berlayar mengarungi lautan dan terkejut menyaksikan hutan hujan tropis yang kelebatannya bahkan membuat sinar matahari susah untuk tembus. Musibah demi musibah yang diderita oleh para pemenang Hunger Games dari berbagai generasi ini juga menampilkan secara tepat ketakutan masyarakat Eropa Abad Pertengahan terhadap Timur. Bahaya-bahaya seperti: 

kesulitan air tawar; kabut beracun yang menyebabkan penyakit kulit; serangan monyet raksasa pada malam hari; petir yang menyambar pepohonan besar berulang kali; gelombang laut yang mematikan; serta burung-burung hitam yang membawa suara-suara orang yang mereka kasihi jelas, merupakan perumpamaan atas: ketakutan orang Eropa awal terhadap sumber-sumber air di Hindia yang dianggap tidak bersih; penyakit kulit daerah tropis (gatal-gatal, kudis, kurap, panu); binatang khas setempat (imajinasinya selalu monyet karena di Eropa sana tidak ada monyet. Ingat nggak kalau dalam film King Kong kera raksasa itu juga asalnya dari Sumatera?); badai tropis yang mematikan (El Nino, La Nina, Yolanda, dll.); tsunami; dan suara burung-burung yang seperti suara manusia sebagai metafora gejala depresi sebagai impak dari keterasingan berada di tempat yang tidak menyenangkan.


            Way to go, Hunger Games. Pengarangnya cerdas karena dapat memadukan unsur-unsur yang telah mengendap lama dalam tradisi mereka itu dengan amat halus. Saya penasaran, kira-kira citra Hindia macam apalagi ya yang akan muncul di film-film Hollywood pada masa yang akan datang? Kita sudah kenyang dengan eksotisme Bali melalui “Eat, Pray, Love” serta betapa jagonya Densus 88 dalam menghabisi gembong narkoba yang banyak bersarang di Indonesia lewat “The Raid”. Sejauh ini prestasi Indonesia di Hollywood baru nampak dari sisi eksotis dan barbariknya sahaja. Semoga apapun itu nanti, pencitraannya tidak dipengaruhi oleh unsur-unsur macam orientalisme dan poskolonialisme ya. Film harus diakui adalah salah satu senjata paling efektif untuk merubah perspektif seseorang terhadap sesuatu.        

Friday, June 14, 2013

"Kelas Serbaserbi Nusantara"

Sudah beberapa hari ini ada yang berbeda di Fakultas Hukum UGM.

Jika teman-teman (yang duduk di semester tua atas alias tahun-tahun terakhir) sudah jarang terlihat lagi di kampus, tidak demikian halnya dengan saya dan rekan Chandrawulan Hardita. Kami masih sering menampakkan batang hidung untuk mampir di perpustakaan atau sekedar berdialog kecil-kecilan tentang musik, infotainment, buku, atau apapun yang kebetulan menyelinap di kepala.

Hari senin lalu, saya sedang duduk-duduk di bangku Mahkamah bersama Chandra ketika Arif Foranto (junior kami, angkatan 2010) yang baru saja pulang dari Hong Kong untuk mengikuti perlombaan peradilan semu internasional mewujudkan dirinya. Sambil menunggu kelas, mereka berdua menemani saya yang sedang rehat dari kerjaan part-time di Kantor Urusan Internasional UGM dengan bercerita ngalor-ngidul tentang apa saja. Saat itulah saya tiba-tiba kepikiran untuk sharing terkait masalah budaya kepada kedua kolega saya ini. Ada begitu banyak hal yang saya dengar, saya baca, dan saya lihat; sayang sekali jika hal-hal berupa fakta menarik mengenai Nusantara itu hanya mengendap di dalam kepala saya tanpa dapat saya bagi dengan teman-teman lainnya.  

So, kisah pun dimulai dengan cerita saya kepada Chandra dan Arif tentang Suku Toraja di Sulawesi Selatan. Kebudayaan suku tua (Proto-Melayu) yang unik ini dapat kita telusuri dari Tongkonan (rumah adat Toraja yang atapnya berbentuk seperti perahu), passuraq alias ukiran-ukiran di dinding Tongkonan yang ternyata merupakan tulisan ala hieroglif khas nusantara, serta tradisi "membangunkan mayat" yang mengundang decak-kagum Arif. Nah, dari cerita-cerita tersebut, Arif sempat kepikiran untuk membuat semacam film petualangan fantasi yang mengambil adegan-adegan dari tradisi Suku Toraja yang mistis itu. Pembicaraan jadi semakin asyik dan mengalir, apalagi saat kami membahas keterkaitan budaya yang ada di Nusantara antara satu dengan yang lainnya.

Sayangnya pembicaraan hari itu berakhir karena Arif dan Chandra harus masuk ke kelas jam 11.00. Secara tidak tertulis kami bertiga sepakat untuk berkumpul lagi di bangku Mahkamah di dekat kantin itu esok hari pukul 10.00 untuk melanjutkan diskusi soal budaya. Dengan penuh semangat, saya menyebut diskusi kecil kami bertiga itu dengan nama "Kelas Serbaserbi Nusantara."

Esok harinya, selasa, jam 10.00 pagi Arif dan Chandra sudah duduk manis di bangku Mahkamah, bahkan sebelum saya datang. Kali ini saya membawa "hadiah" untuk saudari Chandra yang sedang getol-getolnya belajar aksara Lontaraq: buku bertajuk "Worong Mporong, Lipu KupotanraE Arajang Bone". Buku ini sebenarnya adalah pinjaman dari kakanda Fery Afrisal yang sudah mengendap dua tahun di tangan saya hehe. Buku tersebut berisi banyak sekali pappasang (nasihat) dan pau-pau (cerita) dari Tanah Bone. Buku tersebut cocok untuk Chandra yang baru mengenal huruf-huruf Lontaraq, karena di setiap halaman ada tulisan lontaraq beserta Bahasa Bugisnya (dan juga arti dalam Bahasa Indonesianya).

Chandra yang sebenarnya sedang fokus belajar Bahasa Korea dan huruf-huruf Hanggeul berhasil saya buat terkagum-kagum oleh La Galigo. Setelah mendengar riwayat kondisi epos terpanjang di dunia ini sekarang, Ia jadi "gatal" ingin menekuni Lontaraq dengan harapan suatu saat nanti bisa membantu proses penerjemahan naskah La Galigo di Leiden. Arif pun demikian. Diskusi hari kedua mengenai "Sosok-Sosok Misterius" di Nusantara mulai dari Kanjeng Ratu Kidul, Supriyadi, dan bahkan para Tomanurung membuatnya yang tergila-gila dengan game dan film-film Barat merasa bahwa Indonesian culture is awesome!  Kemarin si Arif bahkan nyeletuk kalau La Galigo is the Indonesian Lord of The Rings. Selain sosok-sosok misterius yang ada di Nusantara, hari kedua ini kami juga saling berdiskusi mengenai makhluk-makhluk gaib yang hidup dalam imajinasi masyarakat Barat. Percaya nggak teman-teman kalau sebenarnya imajinasi mereka tentang burung api phoenix, manusia kate alias hobbit, kuda bertanduk satu unicorn, serta naga sebenarnya berasal dari bayangan mereka akan fauna-fauna khas Nusantara? Yep, informasi mengenai hewan gaib yang hidup di Timur, di sekitar Kepulauan Rempah-Rempah yang samar-samar mereka dapat informasinya dari para pedagang Cina inilah yang menurut Blair bersaudara di dalam buku "The Ring of Fire" memperkaya imajinasi bangsa Barat!

Aksara Lontaraq by Chandra -->

Hari rabu, seperti biasa kami berkumpul di bangku Mahkamah jam 10.00 pagi. Kali ini kami kedatangan "siswi" baru yaitu Nadia Tedianto, junior 2012 yang juga merupakan teman satu kosan Chandra. Ternyata semalam Chandra berhasil membuat Nadia penasaran dengan diskusi kami tentang betapa menakjubkannya Nusantara. Di sela-sela kuliah ia rela meluangkan waktu untuk ikutan kelas Serbaserbi Nusantara. Tidak hanya Nadia, kami juga kedatangan "siswa" baru lainnya yaitu Jacko. Jacko yang sepemahaman saya begitu cintanya sama budaya Jepang ternyata bisa juga kami buat tertarik dengan budaya Nusantara. Supaakawaii!
Tema diskusi di hari ketiga adalah "Aksara Nusantara". Saya share sedikit kepada mereka materi-materi yang pernah dibawakan oleh teteh Sinta Ridwan di Heritage Camp kemarin. Pengalaman teh Sinta keliling Nusantara untuk ngumpulin data mengenai naskah kuno, pengalamannya berhadapan dengan pustaha Batak berisi racun, hingga gempa bumi yang mendadak melanda Jakarta setelah pembacaan sebuah naskah kuno berhasil mengundang decak kagum peserta Kelas Serbaserbi Nusantara. Pengetahuan dari ibunda Nurhayati Rahman mengenai "kekerabatan" aksara-aksara tradisional di Indonesia pun saya paparkan secara singkat kepada teman-teman. Bentuk aksara Sunda Kuno yang mirip dengan aksara Lontaraq (bahkan dari susunan abjadnya, 'ka-ga-nga') sekali lagi membuat teman-teman tercengang. Dari 750 lebih suku bangsa di Indonesia hanya 12 saja yang memiliki aksara sebagai alat rekam sejarah sekaligus transfer ilmu. Kekayaan budaya seperti ini seharusnya menjadi kebanggaan dan dilestarikan, eh malah oleh pemerintah, pendidikan Bahasa Daerah justru akan dihilangkan! Nyebelin nggak tuh?

Aksara Sunda Kuno

Hari ini, hari keempat Kelas Serbaserbi Nusantara. Jam 10.00 di bangku Mahkamah saya dan Arif menunggu Chandra. Tapi ternyata Ia datang terlambat karena mesti meminta tanda tangan ke dosen pembimbing skripsi. Akhirnya kami pun mulai tanpa Chandra karena Nadia yang terburu-buru hendak masuk kelas pun juga sudah datang. Tema hari ini adalah "Arsitektur Nusantara". Kebetulan saya baru saja membeli buku berjudul "The Living House An Anthropology Study of Architecture in Southeast Asia", sebuah buku karangan Roxana Waterson yang berisi gambar-gambar menakjubkan serta informasi bermanfaat tentang keragaman tradisi arsitektur lokal di Indonesia. Waduh, kok bisa ya di abad 20 pun masih saja sarjana Barat yang kepikiran mengumpulkan data dan membuat penemuan menarik mengenai budaya Nusantara?

Hari ini kami membahas fakta-fakta menakjubkan tentang betapa majunya pemikiran nenek moyang kita dulu sehingga membuat rumah yang eco-friendly dari kayu. Bentuk rumah adat suku-suku di Indonesia kebanyakan berupa rumah panggung, inipun karena kejeniusan nenek moyang kita dulu dalam membaca alam sekaligus memahami pemanfaatan ruang. Kami menemukan banyak hal menarik, seperti: bahwa dulu sebelum berbentuk joglo rumah adat di Pulau Jawa pun juga berbentuk seperti rumah panggung berdasarkan sebuah relief di Candi Borobudur; bahwa dulunya simbol "tanduk kerbau" memiliki makna penting pada rumah-rumah tradisional bangsa Austronesia bahkan hingga ke Thailand dan Kamboja; serta bagaimana ragam hias sulur tanaman mendominasi ornamen-ornamen rumah-rumah kayu tersebut. Hari ini begitu menyenangkan karena teman-teman dari Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa Mahkamah pun ikutan nimbrung di Kelas Eksotisme Nusantara. Di akhir kelas, kami sempat membahas singkat tentang danau purba di sekeliling Borobudur berdasarkan temuan terbaru para ahli serta pseudo-pelayaran Marcopolo ke Sumatera.

Saya bangga sekali dengan teman-teman saya ini. Meskipun kami semua berasal dari latar belakang etnis yang berbeda-beda tetapi kami sama-sama merasa terikat sebagai generasi pelestari budaya bangsa. Menjamurnya trend mempelajari budaya serta bahasa asing tidak selantasnya kemudian membuat kami melupakan khazanah peradaban nenek moyang sendiri, bukan? Justru dengan menjadi anak muda yang berwawasan internasional namun memiliki akar budaya yang kuat, kita mampu menghadapi kejamnya pertarungan di ajang globalisasi.

Siapa bilang Indonesia nggak keren? Yuk ikutan kelas Serbaserbi Nusantara kami dan buktikan sendiri ;)

Chandra says: "Dad aku gak tau lagi deh kayaknya bakal jadi pemerhati budaya bgt. Krn after I heard lots bout it makin keranjingan!"

Arif says: "Can't hardly wait for another awesome tales!"

28 Maret 2013
Yogyakarta

Wednesday, May 15, 2013

Bacpacking! Part II - Uji Kesabaran Menuju Ibukota Majapahit

Jika pada tulisan sebelumnya saya telah bercerita tentang keindahan sekaligus kesakralan panorama alam Bromo serta masyarakat Hindu Tengger, maka kali ini saya akan membawa anda ke sebuah tempat yang menjadi pusat peradaban Majapahit sekitar 700 tahun yang lalu. Tidak ada tempat terbaik di muka bumi untuk mengenal Majapahit selain di Trowulan, bekas ibukota keprabuan yang menjadi cikal-bakal NKRI.

Sabtu, 11 Mei 2013 sekitar pukul 16.00

Dengan tubuh letih dan kepanasan karena baru saja turun dari Cemara Lawang (yang udaranya sejuk) menuju ke terminal Probolinggo yang sumuk, lengket, dan panas kami, kami menyeret kaki untuk segera mencari bus bertarif murah dengan tujuan Mojokerto. Setelah bertanya-tanya ke sana-sini, akhirnya ada seorang bapak-bapak baik hati yang sedari tadi menguping kegelisahan kami. Ia menasihati kami untuk naik bus antarkabupaten dengan tujuan akhir Japanan (Mojokerto). Berbekal kepercayaan kepada sesama orang Indonesia, maka segera kami ejawantahkan nasihat tersebut dengan mencari bus menuju Japanan. Bus tersebut ternyata cukup besar dan tidak ber-AC (namun alhamdulillah seluruh jendela atasnya terbuka). Tarifnya hanya Rp 11.000. Walau untuk ukuran antarkabupaten tergolong murah, tiap waktu, sopirnya akan menepi mendadak ke pinggir jalan raya untuk mengambil penumpang. Tercatat rute bus ini membelah Probolinggo hingga melintasi daerah-daerah seperti Pasuruan dan Bangil. Cukup menyenangkan sebenarnya perjalanan dengan bus ini (minus bunyi klakson yang menggetarkan jiwa) karena kami dapat menikmati pemandangan daerah-daerah di Jawa Timur bahagian utara. Setelah kira-kira waktu menunjukkan pukul 18.00, tibalah kami di Japanan. Kami diturunkan di perempatan sebuah jalan raya (ya, di tengah jalan!) lalu diarahkan untuk naik sebuah minibus berwarna kuning yang tujuannya akan berakhir di terminal bus Mojokerto.

Terus terang, saya sudah tidak dapat mengharapkan sesuatu yang lebih buruk lagi selain terperangkap dalam sebuah bus kecil nan pengap bersama 'ratusan' manusia lainnya. Ya, itulah yang terjadi di dalam minibus Japanan tersebut. Sesuai namanya, 'mini'-bus ya seharusnya punya quota yang mini, akan tetapi tetap saja manusia-manusia yang mengendalikannya (seorang supir dan seorang kernet yang hobi menggoda kaum Hawa) terus-terusan berimprovisasi untuk menerima penumpang. Walhasil, saya harus berdiri berdesak-desakan dengan penumpang lain yang memegangi pinggul dan pundak saya karena tidak lagi dapat berpegangan pada apapun. Tarif minibus yang membuat diri kami yang sudah letih dan menderita itu menjadi lebih tersiksa selama dua jam berikutnya adalah Rp 6.000. Selama perjalanan di dalam minibus kuning tersebut, ada saja kejadian aneh. Seorang ibu-ibu yang tengah pesiar dengan anak dan putranya tiba-tiba memecah keheningan maghrib dengan memutar lagu-lagu SYAHRINI keras-keras melalui handphonenya. Walhasil, permulaan hari berdasarkan ketentuan kalender hijriah saat itu kami mulai dengan senandung sakit hati Syahrini.

Bagaikan bayi yang brojol dari kandungan perasaan lega yang menghampiri saat akhirnya kami dapat menyeruak keluar dari minibus kuning tersebut di terminal Mojokerto. Setelah berkeliling menanyakan keberadaan penginapan murah untuk memulihkan energi, kami diarahkan menuju "Tejo Wulan." Tejo Wulan ialah sebuah hostel yang terletak tidak terlalu jauh di seberang terminal Mojokerto. Tarif semalamnya Rp 130.000, sudah termasuk sarapan pagi. Penginapan ini amat recommended bagi kamu yang traveling dengan budget mepet. Pengurus penginapan Tejo Wulan amatlah baik, kami diberi banyak informasi mengenai situs apa saja yang dapat dikunjungi di Trowulan besok serta bagaimana cara pulang ke Jogja dari sana. Meskipun mereka sempat menawarkan jasa ojek dan mobil untuk menemani kami seharian keliling Trowulan, kami menolak. Tujuan utama dari petualangan Gita dan Louie ini adalah low-budget backpacking, jalan kaki hingga remuk memang sudah kami kehendaki dari awal. So, we say no to those offers.

Minggu, 12 Mei 2013

Kami bangun dan mulai bersiap sekitar pukul 06.00 lewat. Jam 08.00 kami sudah berpakaian wangi dan melibas sarapan pagi berupa mie goreng dan telur dadar sesembahan dari penginapan Tejo Wulan. Setelah check-out, kami berdiri di tepi jalan untuk menunggu angkot kuning berlogo C dengan tujuan Trowulan. Pucuk dicita ulam pun tiba, sekitar jam setengah 9 kami telah berada di dalam angkot yang menuju ke pusat kerajaan Majapahit tersebut. Pemandangan selama perjalanan sih biasa saja. Kami masuk ke dalam area perkampungan penduduk yang tipikal area perkampungan (ya eyalah). Sepanjang perjalanan ada banyak kanal besar yang kami lewati, ini membuat saya pun bertanya-tanya; apakah kanal-kanal tersebut termasuk salah satu peninggalan Majapahit yang terkenal dengan kanal-kanal besar ala Venesia-nya di ibukota, atau kanal tersebut hanyalah galian warisan Orde Baru saat pembangunan digenjot oleh Pak Harto? Entahlah.

Dalam setiap perjalanan yang harusnya mulus pasti selalu saja ada hambatan. Nah, hal tersebut pun terjadi pula dalam perjalanan kami ini. Bayangkan, setelah dengan penuh semangat menuju Trowulan, tiba-tba kami terjebak macet di area "ring-road" Mojokerto. Kemacetan selama sekitar 45 menit tersebut disebabkan oleh sebuah truk yang mengangkat pasir/bebatuan kecil mengalami kecelakaan di perempatan jalan. Sambil menahan panas, kami dengan sabar menunggu (penumpangnya tinggal kami berdua) sedangkan si sopir misuh-misuh sendiri. Begitu terbebas dari macet, angkot langsung melaju dengan kecepatan penuh mengantarkan kami ke tujuan (yang seharusnya adalah), Museum Majapahit.

Eh, sekali lagi kesabaran kami harus diuji.

Si sopir yang seharusnya memiliki kewajiban untuk mengantarkan kami ke Museum Majapahit dan hak-nya atas jasa tersebut hanyalah Rp 6.000 sesuai ketentuan peraturan daerah jasa angkutan transportasi umum malah menurunkan kami di KANTOR Museum Majapahit yang jauhnya sekitar 3 kilo lebih dari lokasi museum aslinya, serta memungut bayaran sebesar Rp 15.000 per kepala. Meskipun kami telah berupaya memprotes dengan amat sangat sopan, akan tetapi sopir nan gemar misuh itu tetap bersikeras bahwa tarifnya memang segitu (padahal trayek yang setiap hari Ia jalani untuk mencari nafkah itu ya memang sejalur dengan tujuan kami).

Jalanan Desa Bejijong, Trowulan
Sambil ngempet nahan amarah, kami keluar dari angkot dan berjalan hampa menuju kantor Museum Majapahit. Pak satpam museum nan baik hati memberikan kami penjelasan bahwa tempat tersebut bukanlah museum: museum asli letaknya cukup jauh - lebih baik dituju dengan ojek - karena sudah terlanjur sampai di daerah Bejijong maka tak ada salahnya jika mampir dulu ke Maha Vihara Majapahit yang letaknya sekitar 500 meter dari pinggir jalan - setelah itu kami pun masih dapat mengunjungi Candi Brahu.

Berjalanlah kami di tengah teriknya matahari Mojokerto dengan hati yang remuk. Setidaknya destinasi kami menuju Maha Vihara Majapahit untuk melihat "patung Buddha tidur terbesar ketiga di dunia" menjadi penyemangat. Ajaran penuh kesabaran dan kesadaran diri yang diajarkan oleh Sang Buddha seakan-akan menjadi pesan bagi kami di awal hari itu. Setelah berjalan sekitar 7 menit, sampailah kami di sebuah gerbang agung tempat peribadatan umat Buddha di tengah perkampungan muslim tersebut. Suasana Maha Vihara Majapahit amatlah damai dan menyejukkan hati. Setelah berfoto dengan Sang Buddha Tidur yang terkenal itu, kami berkeliling vihara. Ada banyak hal-hal menakjubkan di tempat ini (yang akan saya bahas dalam sebuah tulisan khusus), sayangnya saya pribadi sedikit terganggu dengan banyaknya anak muda pacaran yang kurang bisa menjaga sopan-santun di tetamanan vihara.

The Reclining Buddha and Dwarapala

Muka gosong abis disiram Srengenge diobati oleh damainya ekspresi tidur Sang Buddha

Waktu menunjukkan pukul 10.00 lewat, maka kami pun punya alasan untuk makan bakso-lontong serta menyesap es kelapa muda yang dijajakan di depan vihara. Hanya dengan Rp 8.500, perut kami terisi dan mood kami mulai membaik. Setelah mendapatkan petunjuk mengenai arah Candi Brahu yang konon bagi penduduk terletak tidak begitu jauh dari vihara (masih sama-sama dalam wilayah yurisdiksi desa Bejijong), maka berangkatlah kami ke candi yang menjadi tempat pembakaran jenazah para raja Majapahit tersebut.

Alamak jan... ternyata jarak dari Maha Vihara Majapahit menuju Candi Brahu itu jauh benar! Entah berapa kilo jaraknya, yang jelas lumayan membuat betis saya cranky. Mana udaranya panas lagi. Walaupun jalannya tidak menanjak seperti saat kami hiking di Bromo, teriknya sinar mentari seakan ikut pula menguapkan energi kami. Setelah berjalan kurang lebih 40 menit, sampailah kami di Candi Brahu. Rasa letih kami langsung hilang saat melihat candi pertama dari rangkaian Rediscovering Majapahit Trip kami.

Sebagaimana ciri khas bangunan dari era Majapahit lainnya, Candi Brahu juga terbuat dari bata merah. Candi ini sudah tidak bisa dinaiki lagi karena amat rentan oleh kerusakan. Kami hanya dapat berfoto di area sekeliling candi serta menyentuh sejarah yang melekat selama kurang lebih 700 tahun di bata-bata merah itu.


Berlatarkan Candi Brahu dari Masa Lalu

Kami hanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit di area Candi Brahu. Banyaknya situs yang mesti dikunjungi serta terbatasnya waktu membuat kami segera bergegas menuju Museum Majapahit. Nantinya, kami akan dikejutkan oleh banyak sekali hal dan kejadian menarik selama berada di kompleks ibukota Majapahit tersebut. Stay tuned!