Friday, May 26, 2017

dari Enkhuizen ke Bataviastad: VOC Gaya Lama ke VOC Gaya Baru

Hari minggu tanggal 2 April kemarin, kami sekeluarga dikejutkan dengan sebuah keputusan yang datangnya begitu mendadak. "Ayo, semua siap-siap, kita jalan-jalan ke Enkhuizen!" demikian maklumat John, bapak kos saya di Berkel yang berhati nyaman ini. Tanpa ba-bi-bu lagi, saya yang untungnya saja sudah mandi pagi dan baru saja menyelesaikan sarapan segera bersiap. Hari itu kami berkendara selama hampir 2 jam lamanya menuju ke sebuah kota nelayan kecil di Belanda utara: Enkhuizen.

Enkhuizen dulunya merupakan salah satu dari enam kota utama VOC selain Amsterdam, Delft, Dordrecht, Hoorn dan Middelburg. Sebagaimana halnya dengan kota-kota yang saya sebutkan barusan, Enkhuizen masih menampakkan sisa-sisa kejayaan masa lalunya. Betapa tidak, dulunya seluruh rempah-rempah yang masuk ke Belanda harus distok dulu di Het Peperhuis alias "Rumah Merica" yang sekarang menjadi bagian dari Zuiderzee Museum (Museum Laut Selatan Enkhuizen). Het Peperhuis telah digunakan sejak tahun 1682 oleh VOC untuk menyetok seluruh persediaan merica yang mereka beli di Asia. Keberadaan Het Peperhuis ini membuat perekonomian Enkhuizen secara fantastis melesat naik. Segera saja perdagangan rempah-rempah membuat penduduk kota itu menjadi kaya dan terkenal. Selain karena menjadi sentra perdagangan rempah, Enkhuizen juga merupakan pusat penjualan ikan herring, makanan khas orang Belanda.  

Het Peperhuis
Berpose bersama si mbak penguasa laut selatan (versi Belanda)

Sisa-sisa kejayaan maritim kota dagang ini juga dapat dilihat dari arsitektur kota yang banyak menggambarkan unsur-unsur laut seperti hiasan trisula Poseidon, lambang Hermes sebagai dewa perdagangan maupun relief putri duyung. Pelabuhan Oosterhaven yang terletak tidak jauh dari Het Peperhuis dulunya menampung kapal-kapal yang menanti untuk menurunkan maupun mengangkut barang. Seorang tokoh penjelajah besar kebanggaan Belanda bernama Jan Huygen van Linschoten berasal dari kota ini. Ia adalah orang Belanda pertama yang membocorkan rute laut Portugis menuju ke Asia dengan cara mempublikasikan peta pelayaran mereka dalam buku berjudul "Itinerario" pada tahun 1596. Efek dari publikasi Van Linschoten ini amatlah besar. Sebelumnya, di Eropa hanya bangsa Spanyol dan Portugis yang memonopoli perdagangan rempah-rempah ke timur. Mereka menjaga dengan ketat rahasia rute pelayaran dari bangsa-bangsa Eropa lainnya. Segera setelah Itinerario disebarluaskan dan dibaca banyak orang, berbondong-bondonglah pelaut-pelaut Eropa berlayar menuju ke Hindia Timur. 


Monumen untuk memperingati Van Linschoten the explorer
Replika kapal Batavia zaman VOC di Bataviastad

Setelah puas berkeliling Enkhuizen, kami sekeluarga meneruskan perjalanan menuju ke sebuah kawasan kecil yang untuk ukuran usia sebenarnya tergolong cukup baru di Belanda. Nama kawasan itu adalah Bataviastad, daratan yang direklamasi dari laut dan diresmikan sebagai pusat fashion outlet pada tahun 2001 oleh pemerintah Belanda. Hmmm, menarik ya, namanya mirip dengan nama lama Jakarta. Nama Batavia sengaja dipilih sebab di dekat kawasan tersebut pernah ditemukan bangkai kapal VOC bernama Batavia dari tahun 1628. Terinspirasi dari kejayaan VOC di era keemasannya, replika kapal Batavia menjadi ikon utama yang mengapung penuh kebanggaan di perairan Bataviastad hari ini. Sepertinya benar ya, Belanda masih belum bisa move on dari Indonesia! 


Soldaat alias prajurit VOC di depan pintu masuk cafe
Perahu-perahuan kecil dengan kotak kayu berlambang VOC di depan cafe ini jadi tempat nongkrong buat keluarga yang cukup asyik

Beberapa cafe dan bar di sana juga mengangkat tema petualangan bahari bangsa Belanda di timur. Tidak hanya itu, nama jalanan di Bataviastad seperti Bataviaplein, VOC weg, Oostvaardersdijk dan Zeven Provincieplein merupakan contoh bagaimana imaji akan kebesaran Belanda dalam menaklukkan samudera dan merajai perdagangan dihidupkan kembali di kota buatan nan komersil ini. Jika dulu nama Batavia di Hindia Timur erat dengan kegiatan komersil Belanda dalam perburuan rempah-rempah, maka hari ini nama Batavia di Belanda dihidupkan sebagai pusat shopping. Ujung-ujungnya yang namanya Batavia pasti masih berhubungan dengan uang dan perdagangan di dalam angan-angan bangsa Belanda.

Weekendje yang menyenangkan. Kami berziarah dari VOC gaya lama di Enkhuizen ke VOC gaya baru di Bataviastad. Dulu, Bung Karno pernah nyeletuk bahwa bangsa yang besar ialah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Belanda sudah membuktikan itu. Daratan tanpa identitas yang mereka reklamasi dari lautan mereka beri baju kemoderan namun berakar lokal. Tema kejayaan VOC yang mereka pilih untuk Bataviastad tentunya bukan tanpa sebab: bagi mereka kemajuan yang dimiliki oleh Belanda hari ini tidak lepas dari kejayaan masa lalu yang mampu menstimulasi mereka untuk terus berkarya.

Wednesday, March 29, 2017

“Walisongo” Islam Nusantara versi Seorang Profesor Katolik

Menjadi bahagian dari konferensi PCINU Belanda dua hari yang lalu adalah sebuah kesempatan yang tidak saja membuat saya yang masih ingusan dan cetek ilmu ini merasa terhormat. Momen kemarin bagi saya sekaligus juga menjadi ajang untuk meraup ilmu sebanyak-banyaknya dari kaum cendekiawan Islam yang memang mumpuni di bidangnya. Dengan mengangkat tema Islam Nusantara, generasi muda Nahdlatul Ulama yang berdiaspora di Negeri Kincir Angin membuka diri seluas-luasnya dengan menghadirkan para terpelajar dari berbagai disiplin ilmu serta latar belakang. Ada sembilan panel yang masing-masing membicarakan fenomena Islam Nusantara dari sudut pandang sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum, dan lain sebagaimanya. Suasana keilmuan terasa amat kental karena acaranya sendiri diadakan di Vrije Universiteit Amsterdam dan dipanitiai oleh pelajar-pelajar Nahdliyin yang tengah menuntut ilmu di Belanda. 
 
Saya saat mempresentasikan paper terkait hukum adat dan Islam di Konferens Islam Nusantara NU.
Terlepas dari apa haluan politiknya, agamanya, rasnya maupun mazhabnya, kemarin saya benar-benar merasakan Islam sebagai sesuatu yang rahmatan lil ‘alamin alias universal. Yah, bagaimana tidak, instead of hanya mengundang syekh-syekh atau kiai-kiai, konferens ini diramaikan pula oleh mereka yang beragama non-muslim yang telah malang-melintang di dunia kajian keislaman. Islam akhirnya dimiliki bersama tidak hanya sebagai sebuah konsep kepercayaan namun juga sebagai sebuah fenomena menarik yang pernah dan sedang terjadi di planet bumi. Di sini Islam dibahas dalam konteks pengetahuan, tidak hanya sebagai sebuah persepsi benar dan salah. Peserta konferens pun demikian pula majemuknya, ada yang beragama Protestan, Katolik dan bahkan agnostik ikut hadir untuk mendapatkan ilmu baru mengenai Islam. Apa yang menarik mereka sehingga berkenan hadir di acara yang kental dengan nuansa hijaunya ini? Ya tentu saja keinklusifan Islam dan wajah ramah yang digadang-gadangkan oleh para junior Gus Dur ini. Toh, pada akhirnya ilmu pengetahuan yang bersumber dari Islam sebagaimana halnya dari agama lain adalah warisan bagi umat manusia secara keseluruhan.
Salah satu highlight dari konferens ini ialah saat Profesor Karel Steenbrink menyampaikan lecture yang sekaligus menjadi penutup acara. Karel Steenbrink yang sudah paruh baya dan rambutnya berubah warna menjadi putih semua ini adalah seorang profesor emeritus dari Utrecht University untuk Intercultural Theology. Karel adalah seorang Katolik yang jatuh cinta dengan sejarah dan perkembangan Islam. Beliau telah menghasilkan banyak sekali penelitian terkait Islam dan Kekristenan di Indonesia. Interpretasi Alquran juga merupakan salah satu bidang yang ia tekuni selama bertahun-tahun. Karel Steenbrink bukanlah orang asing, namanya sudah sering dirujuk oleh para peneliti di kalangan Islamic Studies.
Profesor Karel Steenbrink membawakan ceramahnya di penutupan konferens
Pada kesempatan itu Karel Steenbrink membawakan tema yang cukup menarik. Ia membuka lecture-nya dengan membacakan ayat “innallaha ma’ash-shobirin” karena mengetahui betapa lelahnya wajah-wajah kami sore itu menunggu acara untuk ditutup. Kami yang sudah terkuras energinya dan setengah mengempet lapar kemudian hanya bisa bereaksi dengan nyengir-nyengir manja. Karel melanjutkan pembahasannya, berbincang mengenai sembilan orang scholar yang menjadi pahlawan-pahlawan baginya dalam mempelajari Islam Nusantara. Kesembilan pahlawan intelektual tersebut menginspirasinya untuk mengukuhkan teori bahwa praktek keislaman yang terjadi di Indonesia memang lah unik, khas bagi penduduknya itu sendiri, serta berbeda secara kultural dari Islam yang dipraktekkan di tempat asalnya di Saudi Arabia. Karel lebih jauh lagi kemudian menyebut sembilan tokoh tersebut sebagai Walisongo Islam Nusantara di sepanjang karirnya.
List Walisongo versi Karel ini dibuka oleh seorang maestro Islamolog yang amat kontroversial dalam sejarah Indonesia itu sendiri: Snouck Hurgronje. Si jenius yang pernah menjadi mata-mata Belanda untuk Aceh ini mencetuskan bahwa Islam di Indonesia memang berbeda dengan Islam yang ada di Arab, akan tetapi perbedaan ini tidak kemudian membuat Islam di Indonesia menjadi tidak murni atau inferior terhadap Islamnya Arab. Bahkan untuk ukuran Aceh yang notabene “amat Islam”, di sana Snouck menemukan bahwa praktek keislaman dipengaruhi oleh elemen-elemen kebudayaan yang membuatnya kehilangan ke-Arabannya. 
Di urutan kedua ada Merle Ricklefs yang banyak sekali membahas tradisi mistisme di Jawa dalam karya-karyanya. Ricklefs berpendapat bahwa kraton di Jawa membantu terciptanya sebuah sintesa mistik antara Islam dan praktek kepercayaan lokal yang kemudian menghasilkan sebuah perpaduan unik, yang sekali lagi berbeda dengan praktek keislaman di Timur Tengah ataupun Aceh. Ia juga menyebutkan bagaimana perbedaan yang tajam antara kaum santri dan kaum abangan pada tahun 1850 - 1990 membentuk persepsi masyarakat atas wajah Islam Jawa.
J.W. Bakker alias Rahmat Soegagiyo menduduki peringkat ketiga. Ia adalah seorang pendeta Jesuit di Yogyakarta pada masa kolonial dan banyak merenung mengenai usaha-usaha peleburan nilai-nilai agama yang datang dari Barat ini kepada masyarakat Jawa. Sebuah buku berjudul “Agama Asli Indonesia” lahir dari kontemplasinya tersebut. Salah satu poin utama yang ia kemukakan ialah bahwa agama asing yang masuk ke Indonesia harusnya meminjam wajah lokal untuk dapat diterima masyarakat tidak hanya sebagai sistem kepercayaan namun juga sebagai sebuah sistem kebudayaan. Gereja Ganjuran yang ia bangun dengan meminjam bentuk candi-candi zaman Hindu Buddha merupakan pengejawentahan dari ide tersebut. 
Wilfred Smith dengan “religion is cumulative traditions”-nya menjadi walisongo keempat bagi Karel. Ia disusul oleh dua orang cendekiawan Muslim asal Indonesia yaitu Ash-Shiddieqy dan Hazairin. Ash-Shiddieqy dan Hazairin dikenang karena usaha mereka mempromosikan pengakuan atas sebuah mazhab Islam khusus bagi Muslimin Nusantara. Mazhab yang kemudian disebut Mazhab Indonesia ini dilihat sebagai solusi atas keunikan praktek-praktek keislaman yang terjadi di daerah (Hazairin itu sendiri adalah salah seorang profesor hukum adat pertama Indonesia). Mazhab Indonesia diharapkan pula mampu menjadi sebuah contoh atas keberhasilan menyatunya nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat Indonesia tanpa kehilangan identitas asli mereka. Pendapat ini sayangnya pupus dengan sendirinya karena ketidakmampuan untuk menjawab tantangan kebhinnekaan di tanah air dalam mengaplikasikan hukum syariah.
Terakhir, sekaligus menjadi salah seorang wali yang punya hubungan dekat dengan Karel sendiri ialah Harun Nasution. Harun Nasution ialah seorang cendekiawan Islam yang getol dalam mempromosikan pentingnya menggunakan akal di samping iman saja dalam beragama. Di dalam karya-karyanya ia sering mempertanyakan:  
dapatkah akal menandingi wahyu?; haruskah akal tunduk kepada wahyu?; bagaimana bila terjadi pertentangan antara ilmu pengetahuan modern dengan wahyu? 
Salah satu argumen Nasution yang paling mencengangkan ialah saat ia menyatakan bahwa Alquran tidak mengandung segala-galanya, bahkan pula tidak menjelaskan semua permasalahan agama. Perihal sholat contohnya, hanya sekedar disebutkan di dalam Alquran tanpa ada detail proseduralnya. Iman saja tidak cukup dalam memahami Islam. Ide-ide Nasution yang cukup kontroversial bagi penganut Islam awam di Indonesia sayangnya membuat beliau dicap Muktazilah dan lain sebagainya.
Karel Steenbrink, seorang profesor Katolik yang menyusun Walisongo kajian Islam Nusantara-nya sendiri. Presentasinya di penghujung konferens NU ini menstimulasi lahirnya ide-ide yang mengalir deras di kepala saya. Pada akhirnya sebagai sebuah agama yang dipraktekkan, sebagai sebuah kepercayaan yang mewujud melalui keseharian penganutnya, Islam tidaklah stagnan. Islam lahir, bergerak dan berkembang bersama manusia yang membawanya. Dialog-dialog seperti inilah yang saya harapkan banyak terjadi hari ini maupun di masa yang akan datang. Melalui acara-acara seperti inilah dialektika Islam menjadi nafas yang menyegarkan untuk dihirup, tidak melulu berkubang dalam dogma, taqlid buta yang mengekslusifkan diri atau perselisihan bermotif politik dan ekonomi.
Jadilah kita rahmat bagi semesta alam!

Berkel en Rodenrijs,
29 Maret 2017

Friday, March 17, 2017

Mengutuk dengan Citarasa

Ilustrasi buraq di naskah Lontarak Napo Mandar dalam versi digital, koleksi Leiden University
Salah satu hal menarik yang saya temukan saat menelaah naskah kuno Mandar untuk kepentingan riset tentang hukum adat dan Islam belakangan ini ialah betapa kayanya lontar-lontar ini dengan kiasan. Sudah jadi kebiasaan bagi leluhur kita dulu untuk bermain-main dengan kata dan makna, membuat apa yang sebenarnya nyata menjadi implisit maupun membuat yang sebenarnya tersembunyi menjadi eksplisit. Lontar Mandar yang saya jadikan obyek penelitian juga menyimpan kekayaan bahasa tersebut. Ada yang dalam bentuk puisi, cerita, doa, sumpah dan bahkan kutukan. Kali ini saya akan membahas mengenai yang terakhir, formula-formula kutukan yang menurut saya amat menarik namun belum banyak dikaji orang.
Ada beberapa macam tipe perjanjian di dalam khazanah kebudayaan Mandar. Ada yang disebuat “allewuanna adaq” atau kesepakatan kata. Perjanjian tipe seperti ini biasanya muncul setelah beberapa pihak mengadakan pertemuan (assipulu-pulung) atau konferensi. Pihak-pihak yang hadir umumnya memiliki kedudukan yang setara dan memiliki tujuan yang sama. 
Salah satu contoh allewuanna adaq yang terkenal ialah ketika ketujuh negara Mandar yakni kerajaan Balanipa, Sendana, Pamboang, Tappalang, Mamuju, Banggae dan Binuang membentuk sebuah federasi bersama dengan tujuh kerajaan lainnya di pegunungan yang secara etnik tergolong dalam suku Toraja (Mamasa). Keempat belas kerajaan tersebut menyebut diri mereka sebagai Mandar dan sepakat untuk saling menjaga keamanan serta stabilitas politik dan ekonomi di wilayah pesisir dan pegunungan. Konferensi tersebut ditutup dengan kutukan bagi para pelanggar janji serta penanaman batu yang sebelumnya digunakan untuk memecahkan telur. Itulah sebabnya kejadian ini dikenang sebagai peristiwa Allamungan Batu di Luyo atau penanaman batu di desa Luyo, lokasi bertemunya keempat belas raja tersebut. 
Bentuk perjanjian lainnya disebut “assitaliang” atau kontrak politik. Di sini pihak yang terlibat biasanya memiliki kedudukan yang tidak sejajar, atau jikapun seimbang maka ada salah satu pihak yang cenderung dominan. Contoh assitaliang yang terkenal ialah sumpah Maraqdia (maharaja, gelar raja di Mandar) Todilaling saat dilantik oleh dewan adat. Assitaliang lainnya ialah saat Mandar dituntut untuk mengakui kedaulatan Bone sebagai penguasa utama di jazirah Sulawesi Selatan pada Perjanjian Lanrisang. Di seluruh perjanjian tersebut, para pihak tidak lupa akan membubuhkan kutukan pada klausa akhir. Kehadiran kutukan ini tiada lain tiada bukan ialah untuk menimbulkan efek psikologi kepada para pihak agar senantiasa menjunjung tinggi apa yang mereka telah sepakati agar tidak dilanggar di kemudian hari. 
Pada tulisan ini saya akan memberikan tiga contoh kutukan yang muncul pada perjanjian-perjanjian tradisional Mandar. Tiga kutukan ini berasal dari era pra-Islam dan awal Islam serta berhubungan erat dengan kondisi keamanan serta stabilitas di Mandar pada zaman tersebut. Kutukan pertama dan ketiga ditanamkan pada perjanjian yang sifatnya kontrak persekutuan (mirip seperti Treaty Maastrich) dan kutukan kedua menyertai klausula janji sepakat untuk selalu menjunjung adat dan Islam sebagai norma-norma kehidupan masyarakat Mandar.
Perjanjian Bocco Tallu di Sibunoang:
“Dan barangsiapa yang ingin memisahkan kita, aliansi tiga kerajaan Bocco Tallu (Sendana, Alu dan Taramanuk): akan dibalik bubungan rumahnya, dijungkirkan tiangnya. Apabila ia beranak maka anaknya tak berkepala, tak berkaki, tak bervagina dan tak berpenis. Barangsiapa ada yang ingin memisahkan kita Bocco Tallu: ia tak akan berbenih, tak berketurunan. Apabila punya keturunan, maka keturunannya akan berbulu. Dan barangsiapa yang bermimpi mengatakan: inilah anak dalam kandunganku yang akan memisahkan aliansi tiga kerajaan, maka Bocco Tallu akan bersepakat untuk membedah perut wanita hamil itu dan kemudian membuang ke sungai si janin agar tidak dapat kembali lagi... Inilah isi persetujuan Bocco Tallu di Sibunoang, kemudian ketiganya (raja masing-masing kerajaan) membuang emas ke air yang dalam... Tenggelam seperti emas ke dalam air yang dalam apabila ada orang yang ingin memisahkan aliansi Bocco Tallu.”
Perjanjian antara Daetta Kanna I Pattang (raja pertama Balanipa yang masuk Islam) dengan Syekh Abdurrahim Kamaluddin a.k.a. Tuanta di Benuang (“Our Master who rests in Benuang”):
“Dan besok lusa ada yang ingin merubah apa yang ditulis oleh Pabbicara di Manjopaiq yang bernama Puanna I Ma’una: apabila berada di darat ia terbang laksana abu, di laut ia tenggelam bagai batu asahan; berjalan di lereng gunung maka lerengnya longsor, berpegang ke dahan maka dahannya pun patah; menengadah ke langit langitpun mengutuknya, tunduk ke tanah tanahpun mengutuknya; bertudungkan jalan-jalan, berakar putus lagi, berlembaga kembali menjadi kayu, berdahan patah lagi, terjungkir balik bubungan rumahnya, tiangnya dijungkirkbalikkan; sebab adat dan tata aturan agama yang diletakkan oleh Daetta (raja pertama Balanipa yang masuk Islam) dirusaknya. Demikian pesan Daetta sebagai hasil persepakatan dengan Tuanta di Benuang.”
Perjanjian Tammajarra, antara ketujuh kerajaan Mandar untuk membentuk aliansi politik Pitu Babbana Binanga (Tujuh Kerajaan di Muara Sungai Mandar):
“Barangsiapa yang menghianati sumpah, menyimpang dari kesepakatan dan persatuan, maka ia dinyatakan terasing sehingga menjadi orang tidak dikenal. Niscaya ia akan ditimpa kutukan leluhur, piring (porselen) berbulu sekalipun namun keturunannya tidak akan pernah berbulu, tepi jurang yang ia pijak akan longsor, dahan kayu tempatnya bergantung akan patah, akar pohon akan putus, apabila beranak maka anaknya hanya kepala, hanya kaki atau tanpa kepala.”
Menarik untuk ditambahkan di sini bahwa beberapa perjanjian yang muncul pasca berkembangnya Islam di Mandar serta masuknya pengaruh Belanda tidak lagi menyertakan kutukan-kutukan sebagaimana yang dicontohkan di atas. Perjanjian Roppogading antara Bone + Belanda (yang saat itu menjadi kekuatan paling ditakuti di jazirah Sulawesi Selatan) dan Mandar diakhiri dengan kalimat ancaman sebagai pengganti kutukan: “Ini keris yang saya tikamkan ke air untuk mengaduk air, di luar dia menyerang masuk, di dalam dia menyerang keluar, jika Bone dan Belanda mendustai kami!” Tradisi mengangkat keris dan “menusukkannya ke air di dalam sebuah wadah yang disediakan” mempunyai arti ganda: ujung keris menjadi komitmen untuk menjaga isi perjanjian namun di saat yang sama juga merupakan ancaman apabila perjanjian tersebut dilanggar. Di sini kutukan memasuki bentuk barunya: ia tidak lagi bersifat supranatural namun mengambil bentuk yang lebih reaksional, agresif dan kontan. 
Dari tiga contoh jenis kutukan di atas, ada pola repetitif yang menjadi karakteristik kutukan dalam kebudayaan Mandar. Pertama, kutukan tersebut tidak hanya ditujukan spesifik kepada si pelanggar janji namun juga pada anak keturunannya. Dengan kata lain, kutukan yang disajikan sifatnya hereditary alias dapat ditimpakan dari satu generasi ke generasi lainnya. Tidak disebutkan hingga kapan kutukan ini akan terus menimpa keluarga si pelangar sumpah, sebagaimana halnya “kutukan 7 turunan” yang ada dalam kebudayaan lain (contohnya kutukan Mpu Gandring). 
Kedua, masih berhubungan dengan keturunan, salah satu bentuk laknat yang diharapkan diterima si pelanggar janji ialah cacatnya anak cucu mereka secara fisik. Pada contoh-contoh di atas disebutkan kelainan seperti tak berjenis kelamin, tak berkepala atau pun tak berkaki. Disebutkan pula kelainan-kelainan seperti “berbulu” maupun “tidak berbulu”. Saya sendiri masih kurang referensi dengan apa maksud kutukan fisik jenis seperti ini akan tetapi penganalogian “piring porselen berbulu” yang bisa dipastikan tidak akan pernah terjadi mengindikasikan bahwa si penerima kutuk tidak akan memiliki rambut kepala maupun bulu lainnya di sekujur tubuh sejak ia dilahirkan.
Ketiga, kutukan yang sifatnya berhubungan dengan alam. Longsornya tanah, patahnya dahan dan putusnya akar; merupakan pengejawentahan dari ketidakstabilan alam yang mengakibatkan terjadinya siksaan kepada si pelanggar sumpah. Kutukan jenis seperti ini dikalangan umat Islam biasanya dikategorikan sebagai azab, yang seringkali secara sempit diasosikan dengan bencana alam. Tanah yang longsor, dahan dan akar sebagai tempat berpegang yang patah menunjukkan bahwa si pelanggar janji diharapkan kehilangan tempat bertumpu dalam ruang gerak (alam) itu sendiri. Kutukan jenis seperti ini membuat si pelaku tidak memiliki tempat untuk berlindung.
Keempat, kutukan yang berhubungan dengan aksi manusia. Dalam hal ini kegiatan seperti merobohkan rumah (di balik atapnya, tiangnya dijungkirbalikkan) disematkan pula bersama efek-efek lain yang karakternya lebih “supranatural”. Lebih tepatnya disebut ancaman, kutukan dengan tipe seperti ini adalah sanksi adat yang dijatuhkan terhadap properti si pelanggar sumpah. Dengan demikian maka lengkaplah penderitaan siapa-siapa yang berani untuk mengkhianati kata sepakat yang telah diikrarkan tersebut: tidak hanya fisiknya dan keturunannya yang dilaknat, properti mereka pun menjadi sasaran kebinasaan.
Ketiga contoh kutukan di atas masih dapat dikaji lebih dalam lagi terkait simbolisme-simbolismenya. Demikian pula dengan kutukan-kutukan menarik lain yang tersimpan di naskah-naskah kuno Mandar. Ragam kutukan tersebut menunjukkan bahwa tidak hanya aspek spiritual yang berusaha ditonjolkan oleh leluhur kita dahulu dalam usaha mereka untuk menjaga agar komitmen yang telah disepakati tidak dilanggar, namun juga efek psikologi yang ditanamkan kepada para pihak. Kutukan adalah alat pencipta rasa takut, sementara kita tahu bahwa ketakutan merupakan alat kontrol sosial yang paling efektif. Setelah Islam masuk, kutukan tersebut beserta dewa-dewa dan roh-roh lokal yang biasanya dipanggil untuk menjadi saksi atas perjanjian pun menghilang. Pada akhirnya, masyarakat Mandar tidak lagi takut oleh kutukan mendapatkan anak yang tak berkelamin, ujung keris yang mengaduk-aduk air lebih memiliki efek ketimbang rasa takut yang timbul oleh deretan kata-kata kuno. Citarasa, leluhur kita benar-benar paham caranya untuk menimbulkan rasa takut dengan citarasa.

Berkel en Rodenrijs,
17 Maret 2017



Thursday, March 16, 2017

By the Rijn

I just want to sit by the Rijn
During the sunset hour
Watching the reflections of old house and the shadows of passers-by on the water
And listen to birds that are busy chirping on their way home
And not thinking about those starlike eyes
Or the nights that are very long and packed
May we are free from misleading thoughts and repetitive songs, I pray
To walk the future on the new brick road
They say here there will be no tsunami and flood
But check those ruins on my shelf
Who cracks the dam’s wall?
I say, take it, I don’t wanna sing anymore.
 
Berkel, 16 March 2017

Tuesday, October 18, 2016

Bahasa dan Tulisan Arab: Antara Harapan dan Ketakutan

Seingat saya dulu, beberapa saat sebelum berangkat ke Amerika Serikat di tahun 2007, ada semacam trend dimana Bahasa Arab tiba-tiba menjadi istimewa di kalangan umat Islam Indonesia. Sebelumnya saya tidak sadar akan adanya fenomena seperti ini hingga saya perhatikan teman-teman saya di bangku SMP dan SMA saat itu jadi suka menggunakan sepatah-dua patah kata Arab di antara kalimat-kalimatnya. Setelah dibesarkan dengan ‘assalamu’alaikum’, ‘alhamdulillah’, astaghfirullah’, ‘masya Allah’, ‘subhanallah’, ‘Allahu akbar’ dalam percakapan sehari-hari, waktu itu kosakata saya jadi bertambah. Rasanya tidak afdhol bagi sebagian dari mereka apabila tidak menyapa kawan laki-lakinya sebagai ‘akhi’ dan kawan perempuannya sebagai ‘ukhti’, atau mengucapkan terima kasih dengan ‘syukran’ serta mempersilakan untuk menikmati segelas sirup dengan ‘tafaddal’. Kebanyakan dari teman-teman saya ini memang anggota rohis sekolah. Uniknya, kebiasaan-kebiasaan untuk menggunakan kata-kata Arab baru ini kemudian juga diadopsi oleh mereka yang bukan anggota rohis saking seringnya kata-kata tersebut diulang-ulang.

Sebenarnya, Bahasa Arab dianggap sebagai bahasa suci karena melalui bahasa inilah Quran diwahyukan serta Nabi Muhammad berlisan. Meskipun pada faktanya Bahasa Arab yang dipelihara di dalam kitab Alquran dan Bahasa Arab hari ini amat sangat berbeda, kebanyakan masyarakat awam di Indonesia masih terbuai dengan logika sinonim yang kurang tepat: Arab = Islam. Itulah sebabnya Bahasa Arab pun menjadi Bahasa Islam. Sewaktu duduk di bangku SMA kelas dua, sekolah saya pernah mewajibkan siswa-siswinya untuk belajar Bahasa Arab pula, seakan-akan pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jerman tidak cukup. Bahasa Arab diinstitusikan sedemikian rupa di dalam sistem pendidikan kami dengan metode yang sebenarnya jika dipikir-pikir cukup diskriminatif: hanya siswa yang beragama Islam saja yang diikutkan kelas Bahasa Arab, sedangkan yang non-Muslim diwajibkan kelas Bahasa Jepang. Saya terus terang masih tidak paham mengapa sekolah mewajibkan Bahasa Arab saat itu. Toh, setelah belajar Bahasa Arab sekali seminggu selama setahun saya juga masih tidak dapat mengartikan Alquran tanpa membuka tafsirnya hingga hari ini.

Konsekuensi dari pengultusan Bahasa Arab serta ketidakmampuan untuk memisahkannya dari esensi Islam di saat yang sama ialah terciptanya penumpulan logika yang bersifat massal. Ada cerita lucu yang dikisahkan oleh ayah saya ketika suatu ketika di bulan Ramadhan sebuah toko baju memutarkan lagu-lagu berbahasa Arab. Lagu-lagu yang ternyata masuk ke kategori Pop tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan Quran ataupun Islam. Lagu-lagu tersebut dinyanyikan oleh biduanita tersohor asal Mesir bernama Ummi Kalsum dan liriknya berisi tentang cinta, kerinduan, patah hati dan lain sebagaimana. Ayah saya tertawa karena melihat reaksi ibu-ibu mendengarkan lagu-lagu tersebut: mereka seakan-akan sedang dikuasai oleh Roh Kudus karena mengira lagu Arab itu berisi puji-pujian kepada Tuhan dan mulai mengamin-amini setiap lirik Umi Kalsum. Tulisan Arab pun sama saja. Banyak yang kemudian mengultuskannya karena dianggap memiliki daya spiritual khusus. Padahal, bagi mereka yang tidak mengerti artinya, bisa saja selembar kertas yang berisi penuh tulisan Arab itu adalah instruksi untuk menggunakan minyak  pemanjang kumis dan jenggot Wak Doyok instead of sholawat nariyah atau ayat-ayat Qurani.


Lain di Indonesia, lain pula di luar negeri. Ketika di tanah air tulisan Arab mampu menghadirkan harapan bagi kaum beriman karena simbolisme yang dicantol-cantolkan dengan spiritualisme, di Amerika Serikat sana tulisan Arab justru menjadi personifikasi atas aksi terorisme dan fanatisme. Islamophobia berubah menjadi Arabophobia ketika segala sesuatunya yang berhubungan dengan Islam diasosiasikan dengan bahasa maupun tulisan Arab. Ini persis sama dengan yang terjadi di tanah air, hanya saja perspektifnya yang berbeda. Tulisan Arab ditakuti karena dianggap sebagai potongan Alquran, kitab yang menginspirasi golongan teroris untuk melaksanakan jihad. Beberapa hari yang lalu beredar meme di dunia Twitter yang menyinggung permasalahan ini di tengah sengit dan panasnya suasana pemilihan presiden di Amerika Serikat. Yang menjadi penyebab mengapa publik Amerika mengasosiasikan Islam dengan Arab ialah karena peran media yang senantiasa menggambarkan teroris sebagai pria Arab berjanggut lebat dan bersorban putih. Ini juga tidak ada bedanya dengan apa yang terjadi di Indonesia ketika jubah-jubah Arab kemudian dianggap mewakili Islam dimana-mana.



Di Leiden sendiri, beberapa orang teman kelas saya di program European and International Human Rights Law tertarik untuk mempelajari bahasa dan tulisan Arab karena dianggap ‘seksi’. Seksi berhubung saat ini Timur Tengah adalah daerah yang jadi sorotan utama dunia sehubungan dengan konflik-konflik hak asasi manusia. Tulisan Arab bagi mereka mungkin tidak menyimbolkan harapan maupun ketakutan sama sekali, tulisan tersebut mereka pelajari memang layaknya sebagai alat komunikasi dan sumber informasi. Tidak ada takhayul bahwa bahasa maupun tulisan Arab akan menuntun mereka menuju spiritual awakening atau ketakutan tidak beralasan tentang terorisme. Setidaknya dalam hal ini saya setuju dengan kawan-kawan saya di kelas bahwa bahasa maupun tulisan Arab sejatinya tidak berbeda dengan bahasa maupun tulisan lainnya di dunia ini.

Terakhir, penggunaan simbol-simbol bahasa maupun tulisan Arab sesungguhnya tidak sepenuhnya salah. After all betul bahwa bahasa maupun tulisan Arab memiliki peran besar di dalam penyebaran Islam yang kemudian menjadi agama mayoritas di Indonesia. Bahasa Arab menjadi bahasa ritual yang hidup dalam aktivitas spiritual masing-masing individu. Hanya saja amat disayangkan ketika kemudian bahasa maupun tulisan Arab tidak dipahami konteksnya secara benar. Yang saya khawatirkan ialah ketidakmampuan kita untuk dapat menempatkan bahasa maupun tulisan Arab sebagai dua hal yang terpisah dengan Islam itu sendiri: bisa-bisa justru akan menjerumuskan banyak orang ke jurang-jurang kekonyolan (sebagaimana yang sudah terjadi di banyak kasus, dan sedang terjadi di negeri Paman Sam sana). Dan yang lebih penting, tentu saja agar jangan sampai kita melupakan bahasa maupun tulisan dalam bahasa ibu kita sendiri, kekayaan yang sesungguhnya.

Leiden yang kembali dingin,


18 Oktober 2016

Friday, September 2, 2016

Universalitas, Lokalitas dan Dongeng-Dongeng Timur

Sebagai seorang mahasiswa yang belajar European and International Human Rights Law di sebuah universitas papan atas macam Leiden, sejak hari pertama duduk di ruang kelas, sebuah prinsip dasar bernama ‘universalitas' sudah harus saya untal bulat-bulat ke dalam tenggorokan. Bak makanan pembuka, sebelum dapat melaju ke bahan-bahan kuliah selanjutnya saya sudah harus memahami apa itu universalitas.
Se-fancy kedengarannya, oleh dosen saya universalitas didogmakan sebagai sebuah pernyataan (ingat, bukan pertanyaan) yang pada dasarnya bisa diterima oleh semua orang di segala lokasi geografis, karena dipercaya bahwa umat manusia ini pada dasarnya memiliki kesadaran maupun keinginan yang sama. Kata ini mengandung sebuah gagasan yang sifatnya memonopoli, merangkul semuanya, karena bersumber dari kata ‘universeum’ yang berarti segala sesuatu. Setiap manusia tidak ingin nyawanya dicabut dengan semena-mena ataupun disiksa, contohnya, adalah keinginan yang sifatnya universal. Demikian pula dengan hak untuk dapat menyembah suatu ilah atau sesembahan dengan bebas tanpa paksaan ataupun gangguan dari kaum lainnya. Itu universal sifatnya, jelas semua manusia ingin beragama dan menjalankan agamanya dengan bebas. Meskipun paham dengan makna di balik kata ini, tetap saja bagi saya kata universal itu sendiri mengandung keangkuhan tiada tara karena berani-beraninya menyimpelkan keanekaragaman identitas umat manusia yang terlalu amatlah rumitnya ke dalam sebuah kotak bernama 'pada dasarnya'.
Hak-hak asasi manusia ini dimitoskan (ya, saya harus menggunakan kata mitos karena di banyak artikel ilmiah pun ada beragam pertentangan ide mengenai universalitas hak asasi manusia itu sendiri, akan tetapi para pendukung universalisme hak asasi manusia yang punya golongan massa lebih banyak berhasil mengakarkan ide mereka sedemikian rupa sehingga kata ‘human’ pada human rights itu sendiri pun sudah mengandung elemen universalitas tanpa perlu dijabarkan lebih lanjut; pada akhirnya pendapat ini pun menjadi semacam urban legend yang terus-menerus hidup bersama dengan reproduksi ilmiah mengenai hak manusia) ada di setiap budaya dan kultur: apa yang dikehendaki oleh manusia itu pada dasarnya adalah sama dimanapun ia berada. Oleh banyak akademisi Barat, universalitas ini kerap disabung dengan prinsip lain yang bernama lokalitas (yang terakhir ini konon banyak didukung oleh negara-negara dunia ketiga yang masih sibuk memikirkan besok-makan-apa dan dimana-kita-hendak-berteduh-malam ini jika disandingkan dengan level hidup di negara-negara dunia pertama yang sudah dapat menikmati air-minum-dari ledeng serta lampu kelas yang-dapat mati sendiri-jika-tidak ada-orang di dalam ruangan).
Lokalitas ialah segala sesuatu yang berkebalikan dari universalitas: norma tidak bisa dipukul rata sama semuanya di belahan dunia mana pun; sistem nilai bergantung pada latar agama, budaya, politik, sosial dan eknomi peradaban yang bersangkutan; serta setiap entitas umat manusia ialah unik karena perjalanan sejarah mereka sendiri. Islam contohnya, mengakui eksistensi hukuman mati sebagai salah satu sanksi pidana di dalam kitab sucinya dengan persyaratan tertentu. Di Afrika Selatan, beberapa suku-suku asli masih menerapkan hukuman cambuk di depan umum untuk memberikan efek jera bagi si pelaku sekaligus pengajaran bagi para penontonnya. European Convention on Human Rights sebagai piagam hak asasi manusia tercanggih abad ini jelas mengutuk kedua contoh sanksi tersebut: tidak ada manusia yang boleh dijatuhi hukuman mati maupun disiksa sedemikian rupa oleh negara maupun institusi lainnya. Bagi sistem nilai yang dianut oleh masyarakat Eropa modern, sanksi-sanksi tersebut dianggap barbar, terbelakang, primitif, sudah tidak pada tempatnya serta tidak menyelesaikan masalah. Sebuah hukuman tidak seharusnya melukai hak-hak dasar seorang manusia sebagai seorang ‘manusia’. Dalam hal ini, banyak lingkaran adat maupun komunitas-komunitas tradisional di penjuru bumi yang jelas tidak mampu menangkap pesan ‘universalitas’ hak asasi manusia versi Eropa tadi. Alhasil, universalitas yang dipahami serampangan dapat menjadi dasar sekaligus daya paksa baru untuk kemudian mencekokkan norma-norma asing kepada negara-negara di belahan bumi lainnya. Ini kenyataan, banyak kasus yang sudah terjadi mengakibatkan kepunahan bahasa, hilangnya tradisi maupun musnahnya identitas lokal atas dasar kebersamaan nilai.
Oke, tujuan saya menulis artikel ini sebenarnya bukan untuk membahas masalah universalitas hak asasi manusia. Saya ingin bercerita tentang pengalaman saya saat berkunjung ke Berlin dan Praha minggu lalu. Berlin sebagaimana yang kita semua ketahui ialah ibukota Jerman. Kota yang dulunya jatuh di yurisdiksi komunis ini adalah tempat bertakhtanya Angela Merkel, the Queen of Europe. Berlin adalah pertemuan antara dua dunia: masa lalu dan masa kini, komunisme dan kapitalisme. Berlin berusaha untuk keluar dari wajahnya yang kekiri-kirian itu dengan banyak mengadopsi arsitektur modern dan memancanegarakan dirinya. Berlin dikenal sebagai ibukota hipster Eropa, ini pun diakui oleh para hipster New York yang terkagum-kagum dengan kekreatifan hipster Berlin yang menurut mereka “out of the box”. Praha di sisi lain juga merupakan sebuah kota bekas peradaban komunisme dulu pernah berjaya. Sisi kiri Praha masih nampak di beberapa sudut kotanya, akan tetapi sebenarnya yang menonjol dari kota cantik ini ialah sejarah masa lalunya jauh sebelum Uni Soviet menularkan pengaruh mereka ke Eropa timur. Praha dulunya ialah ibukota Holy Roman Empire, dibangun untuk menerima segala kemegahan dan keagungan takhta yang -katanya- dimahkotakan oleh Tuhan itu sendiri ke kepala Raja Charles. Charles Bridge, Charles Castle, St. Vito Cathedral, Opera House, semuanya dicipta dengan cita rasa yang tinggi untuk menghiasi kotaraja tersebut. Charles mengklaim dirinya sebagai raja Romawi, kerajaan yang pernah menguasai seantero Eropa dan sekeliling Laut Tengah. Titelnya ini besar sekali, meskipun pada kenyataannya kekuasaan si raja tidak sampai setengah dari luas kerajaan Romawi dahulu kala.
Di sini, di Praha, saya tidak menemukan apa-apa yang berhubungan dengan Nusantara. Biasanya tiap kali berkunjung ke sebuah tempat baru yang punya sejarah cukup lama, saya akan mencari-cari narasi dimana tempat tersebut ternyata memiliki hubungan dengan Indonesia, kampung halaman saya. Saat berkunjung ke Sevilla contohnya, kota yang pernah jadi pelabuhan dagang besar itu ternyata merupakan tempat dimana Ferdinand Magelhaens mengumpulkan informasi serta berangkat menuju ke Kepulauan Rempah-Rempah yang tidak lain adalah Maluku. Di Antwerp juga saya mati-matian mencari pelabuhannya hanya sekedar untuk berfoto di titik yang dulu kekayaan dari timur memasuki low countries sebelum kemudian perannya digantikan oleh Amsterdam. Mencipta narasi baru tentang kampung halaman yang sifatnya global namun juga ambisius, itu yang saya kejar. Akan tetapi, di Praha saya tidak menemukan itu. Berbeda dengan Den Haag dan Rotterdam yang dibangun oleh ekspor gula dan kopi dari Jawa, Praha tidak pernah menyelip masuk ke Nusantara dan menjadi pemeran utama. Praha punya urusannya sendiri, Holy Roman Empire yang saat itu disusupi oleh raja-raja Habsburg Austria selama 14 generasi tidak punya narasi istimewa mengenai Indonesia. Mungkin ada narasi-narasi tidak langsung seperti menyan dari Borneo yang dibakar di katedral atau kayumanis Sumatera yang masuk lewat pedagang-pedagang Belanda akan tetapi saat berjalan di atas jembatan Charles yang megah itu saya tidak melihat ada jejak kapal Sawerigading pernah berlayar maupun bekas keris sakti Patih Gadjah Mada saat Hamukti Palapa. Tidak, tidak ada benang yang dapat saya tarik untuk universalitas dengan Nusantara di sini.
Di dalam pergaulan Kepulauan Nusantara atau yang oleh Anthony Reid disebut dengan nama “Negeri-Negeri Bawah Angin” ini, Hayam Wuruk dari Jawa bisa hidup dan disebut-sebut di cerita mengenai Hang Tuah asal Melayu. Pangeran Jafar dari tanah Bugis pun dapat berlayar dan melamar Putri Lindung Bulan dari Jambi. Putri Ontin dari negeri sejauh Cina saja dapat hamil tanpa disentuh oleh Sunan Gunung Djati yang bermukim di Cirebon. Figur-figur maupun anekdot-anekdot yang nampaknya lokal dan hanya muncul sebagai karakteristik di sebuah daerah dapat dipinjam untuk memperkaya narasi di tempat lain. Yang lokal pada akhirnya tidak selokal yang kita bayangkan. Sarung sutera yang penting untuk keperluan adat Minangkabau ternyata diimpor dari Mandar, besi sebagai bahan pembuat keris terbaik di zaman Majapahit berasal dari Luwu, rantai emas yang harus dipakai oleh raja-raja Makassar dalam penobatan mereka aslinya dari Filipina, dan seterusnya dan seterusnya. Kelokalan yang khas antara satu daerah dengan daerah lainnya itu saling rajut-merajut membentuk apa yang pada akhirnya narasi bersama. Narasi-narasi ini mampu berkelindan karena adanya interaksi antara kelokalan satu dengan lainnya sehingga tidak hanya saling pinjam-meminjam namun juga saling pengaruh-mempengaruhi satu sama lain.
Kembali ke Praha, kelokalan Nusantara tidak hadir di sini karena miskinnya interaksi antara ibukota Holy Roman Empire dengan ‘dongeng-dongeng’ dari timur tersebut. Di Praha maupun Berlin, konon Malin Kundang tidak pernah singgah untuk berdagang. Nawang Wulan juga tidak pernah turun untuk mandi di Sungai Vlatava atau Sungai Spree. Tidak ada bangsa jin dari Prambanan yang membantu proses pembuatan Charles Bridge dalam semalam. Apabila di berbagai belahan Nusantara seorang anak yang meninggalkan orang tuanya yang sudah tua dapat dilaknat menjadi batu menangis atau binatang jadi-jadian, maka di Jerman seorang anak berkerudung merah justru disuruh oleh ibunya untuk menembus hutan berserigala seorang diri. Dongeng merupakan cerminan nilai dari masyarakat, seorang anak diajar sedari kecil mengenai norma dan falsafah hidup melalui konflik-konflik yang ia sajikan. Dari dongeng-dongeng ini pun kita tahu bahwa universalitas adalah sesuatu yang sifatnya diimpi-impikan, bukan kenyataan. Lokalitas justru kuat mewarnai dalam menentukan apa yang benar dan apa yang salah. Bisa saja kisah mengenai anak durhaka yang dilaknat juga muncul di dongeng-dongeng barat dalam bentuk yang lain, namun pertanyaan selanjutnya: sampai sejauh manakah perbedaan narasi itu kemudian dapat diakui oleh standar dongeng-dongeng timur sebagai ‘sekedar variasi’ atau justru adalah ‘sebentuk deviasi’?
Bagi saya, universalitas ialah sebuah invensi. Kesadaran kolektif berbeda dengan universalitas: kesadaran kolektif sifatnya tidak memonopoli dan memukul rata di saat yang sama. Universalitas kebalikannya, ia memonopoli dan mewajibkan pukul rata di semua tempat pada saat yang sama. Bukan berarti universalitas itu sesuatu yang buruk, tidak. Hanya saja ia akan terlihat buruk apabila dipaksakan untuk bersanding dengan lokalitas yang memang sudah menjadi bahagian dari peradaban manusia sejak awal. Lihat, betapa kayanya dongeng-dongeng yang muncul secara unik dari kelokalan masing-masing kebudayaan. Ada karakteristik unik yang membumbui setiap narasinya. Lokalitas, sebagai yang lebih tua daripada universalitas, pada hakikatnya mampu menciptakan kondisi bagi terwujudnya jalan menuju yang disebut terakhir. Malin Kundang akan tetap menjadi konsep dongeng yang aneh bagi penduduk Praha sebagaimana kisah golem yang diciptakan oleh Rabbi Lowe bagi penduduk Kepulauan Cocos.
Yang ingin saya simpulkan pada akhirnya ialah, tidak ada yang bisa kita dapat dari ‘dongeng-dongeng’ lokal yang dipaksa untuk menjadi universal selain kehilangan warna dan kekuatan aromanya. Universalitas justru akan terasa indah melalui penciptaan nilai-nilai bersama yang baru, tidak melalui peredaman narasi-narasi lokal. Jadilah seperti Berlin: mencipta nilai-nilai hipster universal melalui elemen-elemen yang dulunya saling berbenturan satu sama lain namun kemudian dapat diakurkan melalui interaksi yang interaktif.

Leiden, 22 Juli 2016

Sunday, August 7, 2016

Buku Dongeng Freud

Berkunjung ke Vienna sepertinya tidak lengkap jika belum mampir ke Berggasse 19, rumah yang dulunya juga merupakan kantor tempat Sigmund Freud pernah membuka praktek psiko-analisisnya. Lokasi rumah ini tidak begitu jauh dari Universitas Vienna dan Rathaus, dengan kata lain berada tepat di pusat ibukota Austria. Rumah yang dulunya menjadi saksi dimana seorang pria keturunan Yahudi dari keluarga kelas menengah merawat dan menetaskan teori-teori yang kelak menjadi pokok-pokok dasar ilmu psikologi ini sekarang telah berubah menjadi sebuah museum dengan kapasitas kunjung yang cukup terbatas. Di suatu musim panas, saya berziarah ke rumah Freud dan menemukan obsesi terpendamnya mereproduksi dongeng-dongeng dari masa lalu demi membongkar teka-teki mengenai alam pikiran manusia.

Rumah sekaligus kantor Freud di Vienna

Di dinding ruang praktek Freud yang kecil terdapat banyak sekali lukisan. Sebagian di antaranya yang saya ingat adalah gambar-gambar hieroglif dan patung-patung Mesir, adegan-adegan dalam mitologi Yunani serta lukisan-lukisan yang berhubungan dengan cerita-cerita dari peradaban Cina kuno. Lukisan-lukisan yang beraneka ragam ini mempunyai tema yang sama: mitologi dari masa lalu. Freud menghiasi dinding ruang kerjanya dengan dongeng-dongeng paling awal mengenai penciptaan manusia dan bagaimana dunia bisa berjalan tanpa melalui bantuan penjelasan oleh sains. Well, dongeng mungkin adalah sains itu sendiri: di masa ketika matahari masih ditarik oleh tujuh ekor kuda putih dan Anubis menimbang jantung manusia di alam akhirat tidak ada penjelasan lain yang lebih bisa diterima oleh akal untuk menjabarkan mengapa matahari bergerak dari timur ke barat dan kemana perginya manusia yang telah tiada.

Sebelumnya saya tidak pernah tahu mengenai sisi lain dari Freud yang ternyata dipenuhi oleh hasrat keingintahuan akan okultisme yang cukup mendalam ini. Artefak-artefak kuno dari Mesir, Yunani dan Mesopotamia kuno yang terpajang di dalam rak kaca di ruang kerjanya sudah cukup untuk meyakinkan saya akan minatnya yang besar terhadap sejarah, agama dan misteri masa lalu. Di salah satu penjelasan di dalam museum itu disebutkan bahwa Freud juga menggunakan mitologi Mesir kuno untuk menjelaskan asal mula bangsa dan agama Yahudi. Melalui esainya yang berjudul Moses and Monotheism, Freud menggunakan pisau bedahnya sendiri untuk membongkar asal-usul Yudaisme dengan beberapa poin yang cukup kontroversial seperti mengatakan bahwa Musa sesungguhnya bukanlah orang Yahudi dan ia mati dibunuh oleh orang-orang Yahudi pengikutnya pada sebuah pemberontakan. Kelak orang-orang Yahudi tersebut menyesal dan kemudian mengharapkan Musa untuk dapat hidup kembali dan memimpin mereka menuju kejayaan. Itulah, menurut Freud di esai tersebut, mula terciptanya mitos mesiah alias Juru Selamat dalam tradisi Yahudi yang kemudian diwarisi oleh kekristenan.

Koleksi artefak-artefak kuno Freud

Ruang kerja Freud
Salah satu teori Freud yang terkenal mengenai tendensi seksual anak laki-laki terhadap ibunya juga meminjam istilah dari mitologi kuno. Oedipus complex hingga hari ini telah menjadi sebuah terma ilmiah yang dikukuhkan oleh Freud di kamus-kamus istilah modern. Oedipus ia ambil dari nama seorang tokoh laki-laki yang membunuh ayah dan kemudian menikahi ibu kandungnya sendiri dalam dongeng Yunani kuno. Freud dan eksperimennya akan dunia mimpi dan alam bahwa sadar manusia juga banyak dipengaruhi oleh elemen-elemen kisah dari dunia okultisme. Di esainya yang berjudul "Dreams and Occultism" Freud mengatakan bahwa secara umum interpretasi terhadap mimpi dan psiko-analisis dapat membantu untuk memahami okultisme yang selama ini dijauhi oleh sains karena dianggap sebagai omong-kosong semata. Freud membahasakan ulang tidak hanya pandangan namun juga nilai-nilai yang dikandung di dalam dongeng-dongeng tersebut dalam lingkaran akademisi dengan bentuk yang dapat diterima oleh sekumpulan profesor universitas.

Era ketika Freud hidup disebut oleh mereka yang lahir kemudian dengan nama the Age of Reason. Alasannya mengapa, sudah pernah saya jelaskan panjang dan lebar di tulisan mengenai Alice Through the Looking Glass: Perempuan dan Dunia di the Age of Reason. Okultisme yang tumbuh subur di Eropa kala itu merupakan produk dari maraknya keinginan manusia untuk mendapatkan jawaban atas perkara-perkara spiritual yang sebelumnya tak dapat dijelaskan oleh agama. Pasca Perang Dunia I, timbul gairah untuk mempelajari cara berkomunikasi dengan jiwa yang telah mati dari keluarga korban perang. Kematian yang tiba-tiba secara massal tersebut membuat banyak orang tidak dapat menerima kenyataan sehingga terus-menerus mencari cara untuk dapat berhubungan dengan orang yang mereka cintai. Mediumisasi dan berbagai metode yang berhubungan dengan ilmu gaib banyak bermunculan, membentuk semacam pseudo-science yang bersumber dari kepercayaan non-biblikal masyarat Eropa kuno maupun dari tradisi-tradisi timur yang mereka dengar dan kemudian adopsi dari koloni-koloni mereka. Freud hidup di era saat dongeng-dongeng lama sebelum kedatangan Tuhan versi Perjanjian Lama dan Baru kembali dihidupkan. Dongeng memiliki peranan penting dalam imajinasi Freud untuk membentuk teori-teorinya. 

Pada akhirnya, untuk menutup kisah mengenai fantasi Freud dan dongeng-dongeng kuno, saya membayangkan Freud seperti seorang kakek-kakek berjanggut putih yang menaiki tram di kota Vienna pada sebuah senja sambil memeluk tas hitam berisi sekumpulan hartanya yang paling berharga: buku-buku dongeng. Bagi kakek-kakek paruh baya itu tiada yang lebih berharga bagi ide-idenya selain kisah-kisah berbumbu keajaiban yang terjadi di masa lalu dan dinarasikan ulang sebagai sebuah oasis inspirasi. Mirip seperti saya saat duduk di bangku kelas enam SD di Bali. Saat itu tas saya juga dipenuhi oleh buku-buku cerita rakyat Nusantara dan seri mitologi Yunani kuno terbitan Gramedia Pustaka Utama. Di sepanjang perjalanan mobil pulang dari sekolah menuju ke rumah, kepala saya saat itu dipenuhi oleh khayalan tentang kekuatan superhuman dan dimensi-dimensi yang mungkin, suatu hari nanti, bisa ditembus oleh manusia dengan kekuatan pikiran dan teknologi. Freud, dinutrisikan oleh dongeng-dongeng lama, juga memiliki jiwa kanak-kanak yang sama. Ia tidak pernah benar-benar melupakan dan meninggalkan dunia imajinasi yang kaya saat beranjak dewasa, ia justru menginvensi dongeng-dongeng baru berlabel sains dari dongeng-dongeng lama tentang perjalanan umat manusia.

The Hague,
8 Agustus 2016

Tuesday, July 19, 2016

Empat hari untuk tiga kota: Dresden

Hari minggu tanggal 10 Juli 2016 seharusnya kami berangkat ke kota Dresden dari stasiun ZOB di Berlin Pukul 14.00. Setelah dengan cukup terburu-buru berusaha menamatkan atraksi di ibukota Jerman ini, ternyata kami harus menunggu sekitar satu jam dalam ketidakpastian karena bus yang akan membawa kami ke Dresden di-delay tanpa ada pemberitahuan sama sekali. Sejam kemudian, tepatnya Pukul 15.00 lebih sedikit Flixbus yang harusnya membawa kami akhirnya tiba. Meskipun cukup lelah dan sedikit sakit kepala karena tidur siang yang terpotong, begitu melihat kota Dresden dari seberang sungai Elbe, mata saya langsung terbuka lebar. Jantung saya berdegub. Kota ini sungguh berbeda dengan si cantik Brugge, Florence, Venezia maupun Utrecht. Ada yang istimewa dari Dresden.

2. Dresden: Si Cantik dari Timur yang bangkit dari puing-puing Perang Dunia II


Dresden adalah ibukota negara bagian Saxony di Jerman Timur. Kota ini menurut saya adalah salah satu kota tercantik di Jerman. Dresden dipenuhi oleh bangunan-bangunan megah bergaya baroque yang menunjukkan bahwa dulunya kota ini amatlah kaya. Namun saya merasakan atmosfer yang berbeda jika dibandingkan dengan saat berada di antara bangunan bergaya baroque di Paris ataupun Roma. Sebelum Perang Dunia II meletus, kota ini dijuluki dengan nama "Florence on the Elbe" untuk menggambarkan kecantikannya yang dianggap setara dengan kota Florence di Italia.


Salah satu tokoh yang menjadi pemimpin paling terkenal di kota ini yang juga menggiring Dresden menuju ke masa-masa kejayaan ialah elector Holy Roman Empire yang bernama Augustus I. Pangeran Augustus I ialah seorang Protestan. Ia menyediakan suaka bagi Martin Luther saat sang pembawa reformasi ini dimusuhi oleh seluruh Eropa. Augustus I juga dikenang oleh sejarah karena perannya dibalik Peace of Augsburg yang mengakhiri percekcokan antara kutub Protestan dan Katolik di Jerman.



Frederick Augustus III "The Just", penguasa Saxony zaman Napoleon
Pemandangan puing-puing kota Dresden di lihat dari puncak Rathaus saat PD II. Patung yang selamat dari pemboman di atap Rathaus ini ialah "Die Gute". Sumber: theguardian
Pemandangan Altstadt (kota tua) Dresden dari kejauhan
Dresden yang kita lihat hari ini sebenarnya tak sama dengan Dresden seabad silam. Serangan Inggris saat Perang Dunia II berhasil meluluhlantakkan kota ini, meninggalkan bangunan-bangunan baroque yang megah itu menjadikepingan-kepingan batu. Salah satu foto paling terkenal di Dresden dari masa tersebut ialah pemandangan kota yang hampir rata dengan tanah dilihat dari puncak Rathaus (balaikota). Pada tahun 2005, pemerintah Jerman tak segan-segan mengucurkan dana besar-besaran untuk merekonstruksi bangunan-bangunan lama yang hancur pada zaman peperangan sesuai dengan bentuk aslinya. Ya, bangunan-bangunan yang telah musnah menjadi kepingan batu tersebut berusaha dihidupkan kembali dari atas puing-puingnya bermodalkan dokumentasi, teknologi dan imajinasi para undagi! Nah, atas berkat inisiatif itulah jika berkunjung ke Dresden sekarang kita masih dapat menikmati keindahan kota ini seperti di masa keemasannya dulu. Luar biasa mengagumkannya ya usaha pemerintah dan warga Jerman dalam melindungi dan menjaga heritage bangsa mereka.


Monumen untuk mengenang Martin Luther yang pernah mencari suaka di Dresden, depan Frauenkirche
Meskipun hanya berada sekitar 4 jam di kota ini sebelum kemudian mengejar bus untuk melanjutkan petualangan ke kota selanjutnya, saya merasa cukup. Dresden tidak sebesar Berlin, atraksi sejarahnya pun terpusat di sekitaran kota tuanya. Ada banyak sisi Dresden yang belum sempat saya eksplor lebih jauh lagi, akan tetapi bagi saya impresi yang saya dapatkan dari kota ini sudah amat memuaskan. Oh ya, sebelumnya saya agak takut-takut untuk datang ke kota ini sebenarnya. Selain memiliki reputasi sebagai si Cantik dari Jerman sebelah timur, Dresden dikenal juga sebagai sarangnya PEGIDA (Patriotic Europeans Against the Islamisation of the West). 

Beberapa kejadian tidak menyenangkan sempat terjadi di kota ini, melibatkan serangan serta tindakan diskriminasi terhadap orang-orang asing yang berkunjung. Selain itu, rombongan pengungsi dari Syria juga banyak yang berusaha untuk masuk ke kota ini untuk mencari suaka, menimbulkan banyak friksi dengan warga lokal yang tidak menghendaki kotanya "dikotori" oleh kehadiran mereka. Sungguh amat sangat disayangkan. Kota yang seharusnya belajar dari masa lalunya sendiri ini ternyata belum mampu untuk membuka tangan lebar-lebar dan mengakomodasi perbedaan. Padahal dulunya seorang Luther yang juga adalah refugee pernah mencari suaka di sini. Masa depan dunia bisa berubah apabila saat itu warga Dresden tidak menghendaki Luther yang notabene dianggap kafir oleh Paus di Roma untuk tinggal di kota mereka.


Matahari tenggelam di barat dengan perlahan. Saya dan kawan pun segera berangkat ke stasiun untuk mengejar bus kami menuju ke Praha. Sambil memandangi kota yang kecantikannya berbeda dengan kota-kota lain yang pernah saya lihat itu, cahaya senja semakin memanjang, membias di atas sungai Elbe yang meliuk-liuk membelah Dresden.


Bersambung...

Friday, July 15, 2016

Empat hari untuk tiga kota: Berlin

Seminggu yang lalu, dengan spontan, sehari setelah memasukkan skripsi ke koordinator program saya di Leiden saya berangkat untuk liburan ke tiga kota di sebelah timur Belanda: Berlin, Dresden dan Praha. Idenya benar-benar spontan: setelah stress dengan urusan skripsi dan penat memikirkan masa depan, saya membutuhkan sebuah weekend runaway ke tempat asing untuk mencari suasana serta inspirasi baru. Pilihan jatuh ke tiga kota itu karena saya termotivasi oleh tiga hal: sejarahnya, rekomendasi teman dan jarak.

1. Berlin: Ibukota Hipster Eropa; atau dikenal juga sebagai Kota berwajah Timur dan Barat

Ditemani oleh seorang kawan yang belajar di Universitas Wageningen, kami naik Blablacar (mirip dengan jasa mobil travel di Indonesia dimana si pemilik mobil makan mengangkut beberapa orang dengan tujuan yang sama dengannya setelah membuat appointment online) bertarif 28 euro selama 5 setengah jam menuju ke destinasi pertama, ibukota Jerman. Cukup cepat sih sebenarnya durasi perjalanan kami ini. Kami berangkat sekitar pukul 11.00 dari lapangan parkir stasiun Amsterdam Sloterdijk dan kemudian tiba di Westkreuz (distrik sebelah barat kota Berlin) sekitar pukul 17.00. Di perjalanan kami sempat terjebak macet (yang tentunya incomparable dengan arus mudik lebaran di Indonesia) serta berhenti untuk buang air kecil dua kali.

Yay, akhirnya menginjakkan kaki juga di kota Berlin!
Dari stasiun Westkreuz kami naik metro (U-bahn) menuju ke stasiun Alexanderplatz di jantung kota Berlin. Di sana ceritanya kami telah disambut oleh kawan lama saya yang dulunya juga berkuliah di kota Leiden. Setelah cipika-cipiki haha dan hihi, dalam kondisi yang agak pusing karena kecapekan dan kurang tidur selama beberapa hari belakangan (blame it on thesis) ini, saya segera menelan paracetamol dan minum es kopi di Dunkin Donuts serta bersiap untuk berkeliling kota. Alexanderplatz dipenuhi oleh anak-anak muda dengan berbagai gaya. Sebelumnya saya sudah sering mendengar dari teman saya bahwa Berlin ialah kotanya anak muda, atmosfernya amat menyenangkan untuk bersenang-senang. Hal tersebut ternyata benar. Kemana pun mata memandang, beragam hipster dengan fashion mereka sendiri berseliweran dengan cueknya. Konon katanya Berlin ialah ibukotanya anak-anak hipster di Eropa. Hipster-hipster New York yang berkunjung ke Berlin pun mengakui iklim kreatif di kota ini yang mereka rasa cukup berani dan out of the box dibandingkan dengan tempat-tempat lainnya.

Alexanderplatz dan Brandenburg Tor

Kami berkeliling pusat kota Berlin dan mengunjungi situs-situs yang wajib lihat di dekatnya (berhubung sebentar lagi matahari akan tenggelam) seperti Brandenburg Tor, Murdered Jewish Memorial dan Reichstag (parlemen Jerman). Malam itu di tutup dengan makan-makanan Indonesia di sebuah restoran bernama Nusantara. Sepanjang pengamatan saya akan Berlin, kota ini walaupun terlihat amat modern sebenarnya masih menyisakan banyak sekali jejak dari masa lalu. Berlin dulunya terletak di bahagian Jerman Timur dimana komunisme yang menjadi doktrin utamanya. Ada sisi dari Berlin yang terlihat seperti "negara dunia ketiga", namun dalam radius beberapa meter dari lokasi tersebut sebuah mall megah dengan bau khas kapitalisme berdiri. Pemerintah Jerman hingga hari ini masih menggelontorkan dana subsidi dari daerah bahagian barat Jerman yang kaya dan (dari dulu memang) liberal ke daerah-daerah bekas rezim komunis di timur, termasuk salah satunya ya Berlin ini. Berlin dipilih menjadi ibukota agar dapat menyeimbangkan Jerman yang baru saja bersatu itu, memperkuat wacana persatuan serta kesatuan di negeri yang sempat koyak oleh perbedaan ideologi politik. Berlin menurut saya adalah sebuah paradoks yang mengingatkan kita akan modernitas dan masa lalu, tidak hanya bersanding sebelah-menyebelah namun juga saling rajut-terajut menjadi satu.

Keesokan harinya kami hanya punya waktu hingga jam 2 siang untuk mengunjungi tempat-tempat lain di Berlin. Memang rasanya singkat sekali, soalnya kami harus mengejar bus menuju ke destinasi berikutnya: Dresden. Kami keluar dari apartemen kawan yang kami inapi sekitar jam setengah 9 pagi dan langsung menuju ke situs Berliner Mauer (Berlin Wall) di dekat stasiun Nordbahnhof. Saya lumayan terkejut dengan daerah tempat dinding historis tersebut berada. Daerah ini dipenuhi oleh banyak sekali anak hipster yang, mohon maaf, gayanya lebih mirip hippies, dan juga homeless. Ada banyak peminta-peminta serta pecahan botol bir dimana-mana. Selain itu daerah ini juga cukup kotor. Ada banyak bangunan yang masih dalam kontruksi. Pokoknya benar-benar seperti tidak sedang berada di negara Eropa Barat. Sepintas kekacau-balauannya mengingatkan saya akan stasiun keretapi di Bucharest.

Berlin Wall yang terkenal itu
Kami tidak lama berada di Berliner Mauer. Setelah mengambil beberapa foto dan berjalan di sekitaran dinding yang sekarang tidak punya arti signifikan lagi itu kami segera melanjutkan perjalan ke Museums Insel alias Museum Island di tengah kota. Museum Insel merupakan sebuah komplek museum di tengah-ten gah Sungai Spree yang membelah Berlin dengan gedung-gedung beraksitektur klasik yang amat indah. Sayang sekali karena keterbatasan waktu kami tidak sempat untuk masuk ke dalam salah satu museumnya. Benda-benda yang dipamerkan di museum-museum tersebut berasal dari peradaban-peradaban kuno seperti koleksi Bizantium di Museum Bode, koleksi peradaban Islam di Pergamom dan koleksi Mesir Kuno di Neus Museum. Beberapa koleksi andalan mereka contohnya seperti patung wajah Nefertiti dan pintu gerbang Ishtar dari Babiloni. Saya bertekad untuk kembali lagi suatu hari nanti dan menjelajahi museum-museum di sini satu per satu. Situs terakhir yang kami kunjungi di Berlin ialah tentu saja the iconic Berliner Dom. Puas berpose dengan gaya-gayay yang sok manis dan kemudian berubah menjadi tak lazim, kami pun bergegas menuju terminal bus ZOB di pinggiran kota bus untuk menuju ke kota kedua di trip singkat ini: Dresden.

Bersambung...