Monday, May 19, 2014

Cinta Pertamaku

Apa buku yang pertama kali Anda baca dalam hidup ini? Ketika banyak orang yang masih mengingat bagaimana pahit-manisnya cinta pertama, apakah Anda masih mengingat buku pertama Anda?

Bertahun-tahun yang lalu, sewaktu masih duduk di bangku kelas 2 SD Madrasah Ibtidaiyyah An-Nur Kampung Alor, Dili (Timor-Timur) rasa penasaran telah menggerakkan saya untuk mengambil sebuah buku tebal dari lemari putih Bapak di ruang TV. Buku itu berjudul Ihya’ Ulumuddin karangan Imam Al Ghazali. Saat itu saya baru saja lancar membaca, sudah dapat memahami kalimat-kalimat yang sedikit panjang. Mungkin karena jenuh dengan buku bergambar dan komik (Doraemon Petualangan di Dunia Mimpi, Sailor Moon seri yang berwarna dan Dragon Pigmario merupakan manga-manga pertama saya) Ihya’ Ulumuddin pun menjadi buku pertama yang saya jadikan latihan “membaca serius”.

Ternyata kegiatan ini diketahui dan didukung oleh Bapak. Tidak hanya mengizinkan untuk membaca Ihya’ Ulumuddin, ia bahkan menunjukkan sebuah buku tebal berjudul Sejarah Muhammad karya Muhammad Husain Haikal. Buku biografi tentang Nabi Muhammad ini amat terkenal karena memposisikan beliau sebagai seorang manusia dengan pandangan yang obyektif dan jalur pencitraan yang lepas dari nuansa religius. Buku itu menarik sekali, dan terus terang merupakan perjumpaan pertama saya dengan Nabi Muhammad melalui jalur tulisan (sebelumnya saya hanya mendengar kisah-kisah beliau melalui tradisi lisan yang diteruskan oleh guru ngaji serta guru agama di madrasah ibtidaiyyah). Membaca langsung mengenai Nabi Muhammad dalam figurnya sebagai seorang lelaki, suami, dan ayah dari anak-anaknya membuat saya dekat dengan beliau. Bahkan imaji terhadap sosok beliau sebagai manusia biasa jauh menempel lebih kuat ketimbang imaji manusia suci yang disodor-sodorkan oleh guru-guru agama.

Anyway, novel  pertama yang saya baca ialah Goosebumps berjudul Mesin Tik Hantu. Meskipun bukan merupakan serial Goosebumps yang paling oke, novel ini tetap punya kenangan istimewa di dalam kehidupan saya, karena inilah untuk pertama kalinya saya bisa baca buku ‘keren’. Saat berusia 7 tahun, Goosebumps sedang booming-boomingnya. Booming ini juga menjangkiti kedua orang kakak saya. Akan tetapi karena dianggap masih terlalu kecil untuk memahami ceritanya yang ‘remaja’ maka saya hanya diperbolehkan untuk membaca komik. Goosebumps membantu memperkaya imajinasi saya. Termasuk novel favorite saya selanjutnya, Harry Potter. Novel Harry Potter pertama yang saya baca ialah jilid keduanya, Harry Potter and the Chamber of Secret. Saat itu kami sekeluarga telah hijrah dari Dili ke kota Lubuk Sikaping, usia saya 10 tahun. Saya pertama kali mengetahui informasi tentang Harry Potter dari newsletter Gramedia Junior yang dikirimkan setiap tiga bulan sekali (dan selalu terlambat seminggu lebih). Keren sekali rasanya ketika membaca resensi Harry Potter. Sayangnya untuk pergi ke Gramedia di kota Padang berarti saya harus naik mobil selama 4 jam melewati jalanan yang berliku-liku di kanan-kiri jurang dan tak jarang membuat orang mabuk kendaraan. Itulah yang kemudian membuat saya amat menghargai Harry Potter serta buku-buku lainnya yang saya beli di Padang. Akses serta derita jarak yang sulit mendorong saya untuk benar-benar mencintai serta mengkaji buku-buku tersebut.
Membaca naskah La Galigo edisi Middelburg. Tidak hanya buku bacaan, saya pun tergila-gila dengan naskah kuno semenjak Lontara Project berdiri tahun 2011 silam.
Hari ini saya bersyukur sekali mendapatkan kemudahan dalam mengakses buku. Entah itu di Makassar apalagi di Yogyakarta. Buku adalah cinta pertama saya, yang sampai sekarang pun masih membuat saya mabuk kepayang. Terkadang dalam 1 minggu saya dapat pergi ke toko buku hingga 2-3 kali. Walau terkadang belum menyelesaikan sebuah buku, saya sudah gatal saja ingin membeli yang lainnya.
Benar adanya pepatah yang mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Ada banyak tempat yang saya datangi hanya melalui buku, dan ada banyak pula tempat yang secara fisik saya kunjungi juga karena pengetahuan di dalam buku. Saya bangga punya hobi membaca. Saya bangga menggemari buku.


Makassar,
20 Mei 2014

Wednesday, April 9, 2014

Secangkir Kopi Demokrasi

Hari ini 9 April 2014. Hari dimana demokrasi dirayakan di Republik Indonesia. Hari yang jadi momentum  pemilihan umum bagi anggota legislatif. Hari dimana dalam sekejap seluruh pemuda (dan juga beberapa orang tua) mendadak memenuhi instagram dengan foto jari-jari mereka (entah itu kelingking, jempol, telunjuk, atau bahkan jari tengah) yang dihiasi oleh tinta berwarna ungu. Hari dimana Starbucks dan juga beberapa bisnis lainnya menyajikan layanan gratis bagi mereka yang berjari ungu ini. Hari dimana akhirnya poster-poster caleg itu akan dibersihkan dari pandangan mata kita di jalan raya. Hari dimana partai-partai besar was-was dan hari dimana partai-partai kecil harap-harap cemas. Demikianlah hari ini, bagi kita yang hidup berdemokrasi. Demokrasi berarti anda berhak untuk memilih siapa saja; bahkan berhak untuk tidak memilih. Jika pilihan anda menentukan masa depan, maka ingat pula bahwa ketidakikutsertaan anda pun mewakili masa depan.

Mari rayakan hari ini dengan segelas kopi. Kopi pekat bernama demokrasi. Ingin anda nikmati pahit apa adanya atau dicampur gula, semua tergantung selera.

Saturday, March 29, 2014

Di Akhir Maret...

Ceritanya, alhamdulillah saya diterima untuk melanjutkan sekolah di Erasmus School of Law, Erasmus University. Universitas tertua ketiga di Belanda ini terletak di kota Rotterdam (saya juga baru ngecek kalau ternyata Erasmus University ini bulan November kemarin 'berulang-tahun' yang ke 100, berdiri sejak 1913), dimana dulunya Bapak Proklamator kita, Bung Hatta pernah mengenyam pendidikan Ilmu Ekonomi. Bung Hatta yang setelah belajar di sana, balik ke Indonesia, dan kemudian mencetuskan sistem koperasi. Ya, siapa yang nggak seneng sih. Sekolah hukumnya masuk peringkat 10 menurut Social Science Research Network (SSRN) 2013. Pesaing-pesaing untuk memperebutkan bangku di sekolah ini juga lumayan gila. Bayangkan, tahun 2011 kemarin Erasmus University dibanjiri 20.941 orang pelamar dari seluruh dunia. Bandingkan dengan UGM yang tahun ini membuka diri kepada 45.000 pelamar dan hanya menerima 3.316 orang saja. #promosi #almamater Awesome. Oke, cukup sudah pamernya. Paragraf ini sengaja didedikasikan untuk luapan kegembiraan serta kebanggaan saya pribadi hehehe.

Di Erasmus School of Law nanti saya rencananya akan belajar International and European Public Law. Cukup menyimpang dari jalur saya yang sebenarnya lebih fokus ke Hukum Kekayaan Intelektual (dimana kalau di UGM masuk ke dalam kategori Hukum Bisnis). Lalu apa sebabnya sehingga saya kemudian banting setir ke Hukum Internasional. Jawabannya, selain karena fakta bahwa Erasmus School of Law tidak punya program khusus terkait HAKI, adalah karena saya ingin memanfaatkan kesempatan belajar di Belanda ini untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan dan pengalaman.

Saya adalah seorang pelajar yang multidispliner -atau setidaknya saya ingin menjadi seperti itu. Kesukaan saya terhadap ilmu-ilmu bahasa, sejarah, antropologi terkadang dipandang sebelah mata oleh rekan-rekan ilmu hukum lainnya. Apalagi jika sudah nyerempet-nyerempet ke budaya dan adat, obrolan yang mengasyikkan hanya dapat saya temukan pada beberapa orang saja. Tidak semua orang peduli atau merasa penting dengan bahasan yang saya anggap menarik. Dianggap kuno, padahal menurut saya memandang hukum sebagai ilmu yang berdiri sendiri tanpa mencari kaitannya dengan cabang ilmu lain itu lah yang kuno, sudah nggak zamannya lagi. Hukum sebagai alat untuk menjamin keadilan, kepastian dan kemanfaatan di tengah masyarakat, mengabaikan diri dari mempelajari unsur-unsur yang seharusnya ia lindungi bagi saya adalah kesalahan fatal. Mendalami hukum lingkungan berarti harus faham dengan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan lingkungan, demikian pula jika ingin mendalami hukum bisnis, harus paham betul dengan logika ekonomi serta perkembangan dunia bisnis.

Saya memutuskan untuk mengambil International and European Public Law karena saya memandang diri ini sebagai bagian dari sebuah masyarakat dunia yang melekat dengan akar tradisional. Isu-isu terkait budaya Indonesia tidak bisa cuma dilihat dari tempurung lokal saja, hari ini globalisasi menciptakan banyak jaringan yang menghubungkan seluruh penduduk dunia dalam "rumah yang sama". Demikian juga ketika kita membahas persoalan terkait masyarakat adat, sejauh apakah dunia internasional yang jago merumuskan ini-itu -yang konon demi kesejahteraan golongan ini- paham dengan situasi akar-rumput di negara-negara dunia ketiga? Riset seperti apa yang mereka gunakan untuk membela kepentingan masyarakat yang hidupnya bergantung kepada alam yang terus-menerus dieksploitasi, dan yang beragam ekspresi seninya dirampok habis-habisan melalui komersialisasi, dan yang pada saat itu juga nilai-nilai kearifan lokalnya digerus oleh industrialisasi budaya pop Barat?

Belanda, negeri yang unik. Tidak saja karena ribuan khazanah peradaban Nusantara terawat dengan baik di sana, namun juga karena di mata dunia internasional Belanda menjadi tuan rumah atas ICJ yang terkenal itu. Ribuan kasus masuk ke Mahkamah Internasional yang berkedudukan di Den Haag, didiskusikan, dicari-cari solusinya. Sampai sejauh mana kah perspektif Desa Adat di Bali yang berhadapan dengan hukum nasional serta kepentingan pemodal asing terdengar di sana? Sampai sejauh apakah pemahaman mereka tentang pentingnya "laut ulayat" bagi masyarakat Suku Bajo yang daerah hidupnya dirampok serta trayek pelayarannya disabotase oleh pemerintah Australia? Ya, itu semua memang berada di luar yurisdiksi ICJ, akan tetapi saya ingin menyaksikan secara langsung sejauh apakah concern terkait isu-isu ini disentuh, dibicarakan, serta dibuatkan putusannya.

Saya ingin belajar dan terus berkembang. Karena itu demi memenuhi kualitas diri sekaligus memposisikan diri saya sebagai manusia yang peduli dengan manusia lainnya, saya memutuskan untuk berangkat ke Erasmus School of Law. Seorang pemuda dari kota Benteng Fort Rotterdam yang berkelana mencari ilmu di kota Rotterdam. Doakan, semoga banyak inspirasi yang saya temukan di sana untuk menciptakan petualangan kreatif lainnya di Bumi Nusantara.

Rahayu, kurruq sumangaq!


Yogyakarta,
29 Maret 2014

Friday, February 14, 2014

Lady Kelud

Gunung berapi meletup sudah bukan hal baru di tanah air. Jauh sebelum menjadi negara bernama Indonesia di Nusantara ini gunung-gunung berapi sudah sering bertingkah. Tercatat beberapa gunung yang letusannya hingar-bingar hingga ke mancanegara antara lain Krakatau pada tahun 1883 (yang abunya sempat mengotori langit Amerika Serikat dan penduduk Perth di Australia Barat bisa mendengar letusannya), Tambora pada tahun 1815 (ekses aktifitas vulkanis gunung ini sampai membuat Eropa dilanda musim dingin parah sehingga berimbas pada kesalahan prediksi cuaca Napoleon Bonaparte saat perang di Waterloo), serta kehebohan gunung berapi yang kelak membentuk Danau Toba sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu. Yang disebut terakhir malah tergolong sebagai ledakan supervolcano, dimana menurut para ahli modern letusan ini selain menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu (60 juta manusia), juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es!
Pagi ini, di depan kosan E7 Bulaksumur
Ah, gunung-gunung berapi Indonesia, selalu saja bisa menjadi headline nasional dan internasional. Dulu aktifitas Gunung Merapi juga sempat membuat pusat pemerintahan Mataram Hindu di Jawa Tengah-Yogyakarta dipindah ke Jawa Timur. Itulah sebabnya mengapa Candi Prambanan dan Candi Borobudur baru ditemukan di abad ke-18. Gila ya, bangunan sebesar candi saja sampai ketimbun berabad-abad lamanya karena Merapi batuk-batuk. Nah, masih sehubungan dengan Kelud, menurut data dari National Geographic gunung ini pada tahun 1586 pernah meletus hingga menyebabkan akhir dari masa kerajaan Majapahit yang termahsyur itu. Ini membuktikan bahwa faktor alam juga berpengaruh besar terhadap keruntuhan Majapahit, selain tentu juga karena melemahnya politik akibat perang saudara dan munculnya Demak sebagai kekuatan ekonomi baru di Jawa. Aktifitas gunung berapi  menyebabkan perubahan kontur lahan serta habitat hidup mahluk-mahluk di sekelilingnya. Sebegitu powerfulnya gunung berapi sampai-sampai belum ada teknologi manusia yang mampu membendung kekuatan tak terduga ini. Itulah sebabnya dalam kepercayaan kuno nenek moyang kita di Indonesia, gunung (utamanya gunung berapi) dianggap sebagai kediaman leluhur dan para dewa. Gunung disimbolkan sebagai pusat semesta atau Mandaragiri yang kemudian banyak digunakan oleh para pencari ilham untuk bertapa serta menyucikan diri.

Hari ini untuk kedua kalinya dalam hidup, saya mengalami apa yang disebut dengan nama "udan awu" alias hujan abu. Hujan abu yang sebelumnya terjadi pada bulan November 2010 adalah side-effect dari letusan Gunung Merapi. Wajar, karena saya hidup di Yogyakarta yang notabene terletak di kakinya. Nah, yang unik dari pengalaman udan awu kedua saya ini adalah karena Merapi justru anteng-anteng saja hari ini. Hujan abu yang menutupi seluruh kota Yogya bahkan hingga ke Solo dan Surabaya tersebut nyatanya adalah kiriman dari Gunung Kelud di Jawa Timur. Uniknya lagi, hujan abu kiriman ini jauh lebih heboh ketimbang hujan abunya Merapi kemarin, karena lebih lebat. 
Lukisan Ver Huell saat mengunjungi sebuah gunung berapi di Jawa pada tahun 1818.
Belanda negeri yang tak punya gunung, sehingga tidak heran banyak
pegawai kolonial yang dibuat tercengang-cengang oleh gunung-gunung di Hindia.
Pada lukisan yang disimpan di Museum VOC, Amsterdam ini, nampak
arca-arca Hindu-Buddha yang berada di lereng sebuah gunung berapi.
Hari ini saya mendapat sebuah hikmah. Semaju-majunya peradaban manusia, kita ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan kuasa-Nya. Siapa sih yang semalam menyangka bahwa Gunung Kelud akan meletus dan kemudian efeknya sampai dialami oleh warga Yogyakarta yang berjarak ratusan kilometer dari lokasi asalnya? Tadi subuh sekitar pukul 03.00 AM saya terbangun. Terbangun dengan begitu mendadak sehingga seakan-akan saya merasa seperti dibangunkan sesuatu. Tidak berapa lama setelah itu, ibu kosan saya mengetuk-ketuk pintu setiap anak kosan dan berseru "jendelanya ditutup, hujan abu!". Terus terang saya bingung, mengapa ini bisa terjadi di Jogja? 
"Oh Nasibku", mobil yang sedang parkir
di Pom Bensin samping KFC Sudirman
Saya turut berduka dan berempati bagi masyarakat yang hidup di sekitar area bencana Kelud. Demikian pula pada rekan-rekan di kota-kota lain yang terkena ekses abu vulkanis ini. Ingat, abu vulkanis bukanlah abu biasa. Abu vulkanis mengandung zat-zat kimia berbahaya yang dapat merusak tubuh. Oleh karena itu, mari kita semua berhati-hati serta sama-sama berdoa agar musibah ini cepat usai. Jika ada kabar gembira dari musibah ini, mungkin itu adalah karena di balik abu vulkanis, ada hadiah Tuhan berupa kesuburan tanah yang luarbiasa.
Oh ya, satu lagi. Kita cermati bahwa tepat setelah musibah Rokatenda, lalu Gunung Sinabung usai, langsung disusul lagi oleh Gunung Kelud. Ini berarti baik pemerintah dan rakyat Indonesia harus senantiasa waspada. Ayolah, kita sudah sejak zaman Hindu-Buddha lho punya track record bencana yang diakibatkan oleh aktifitas gunung berapi. Seharusnya bangsa ini bisa lebih sigap, mengutip kata guru geografi saya zaman SMP dulu: "alah bisa karena biasa".

Akhir kata, izinkanlah saya untuk berimajinasi, seperti biasa. Gunung-gunung berapi Indonesia ibarat "Lady Gaga". Mereka suka bikin sensasi dan tak terduga. Sejak zaman Lady Krakatau dan Lady Tambora. Baiklah Lady Kelud, ini giliran Anda beraksi. Tapi tolong, segera akhiri show ini, because life must go on.




Kamar kosan yang tertutup rapat agar abu vulkanis tidak masuk,
20:37
14 Februari 2014
Yogyakarta

Monday, February 10, 2014

Duhai Adat, Masih Laku kah Kamu?

Jadi, tulisan ini berawal dari suatu obrolan singkat di siang hari menjelang sore. Obrolan ini berlangsung di kantor saya (yang sebenarnya adalah kantor Wakil Dekan bidang Alumni dan Kerjasama) bersama dengan boss/senior AFS/dosen saya, mbak Linda.

Awalnya saya hanya menunjukkan sebuah buku berjudul "Adat dalam Politik Indonesia" yang diterbitkan oleh KITLV (institut riset yang sebulan lalu saya kunjungi di negeri Belanda). Buku berwarna merah tersebut sengaja saya beli sebagai bahan referensi untuk mengerjakan materi powerpoint terkait "HAM dan Hukum Adat" yang di-assign kan oleh mbak Linda kepada saya. Buku itu ternyata menarik sekali, membahas banyak sudut terkait perjuangan masyarakat adat di negeri berbhinneka yang tengah digempur arus globalisasi serta kepentingan asing.

Saat sedang menceritakan bagian awal dari isi buku tersebut, saya tiba-tiba nyeletuk:
"Mbak, kalau dipikir-pikir sebenarnya kita ini hidup di tengah unsur-unsur hukum asing ya. Coba deh, contohnya dunia sekarang mengarah ke sistem common law-nya Inggris, yang notabene berakar dari kebudayaan mereka. Bukannya itu berarti kita mengikut kepada "hukum adat"-nya mereka ya?"
Pertanyaan tiba-tiba saya itu pun direspon oleh mbak Linda:
"Lul, nggak semua yang asing itu jelek lho. Sistem demokrasi yang diterapkan di Indonesia ini saja kan asalnya bukan dari Jawa tapi juga dari luar. Sepanjang sistem tersebut bermanfaat bagi masyarakat kita ya kenapa tidak? Lagian di negara kita ini, sistem hukum yang dianut memang bersifat dualisme. Hukum Islam maupun Hukum Adat tetap diakui oleh pemerintah sebagai aturan yang hidup di tengah masyarakat, grass root, akan tetapi kedudukan hukum Hukum Nasional adalah superior, berada di atas keduanya. Kondisi masyarakat kita yang majemuk memang menghendaki demikian, dan Hukum Nasional memang harus diutamakan demi menghindari terjadinya benturan."
Setuju. Saya setuju dengan jawaban mbak Linda. Saya setuju, jika seandainya sistem demokrasi berasal dari Zimbabwe pun sepanjang itu memberikan kemanfaatan yang besar bagi umat manusia maka layaklah untuk diadopsi. Akan tetapi saat itu juga saya berfikir: jika kita saat ini terlarut dalam arus unsur-unsur hukum asing yang di dunia internasional diterima sebagai kelaziman, lantas mengapa tidak ada upaya dari dalam negeri ini sendiri untuk mengangkat nilai-nilai universal dari kelokalannya? Apakah tidak ada kira-kira satu unsur saja dari kekayaan ragam Hukum Adat maupun kearifan lokal di negeri kita ini yang dapat diusung sebagai "sistem yang bermanfaat bagi umat manusia" selayaknya metode voting dari Yunani maupun yurisprudensi dari Inggris?

Dalam hal ini saya berpikir keras. Dulu, saya pernah terlibat diskusi seru dengan salah seorang sahabat saya (yang alhamdulilah kemarin baru saja resmi menjadi sarjanawati Hubungan Internasional Universitas Indonesia, hoorah!) yang bernama Diku. Diskusi tersebut berujung pada sebuah kesimpulan kami bahwa sistem negara kesatuan di negeri ini tidak dijalankan dengan baik sehingga menyebabkan banyak kerugian bagi golongan minoritas dan daerah-daerah di Indonesia Timur serta Kalimantan. Otonomi? Bagi saya itu terlihat seperti majikan (sistem sentralistik) yang membagi-bagikan kue dengan porsi kecil kepada anak-anak buahnya. Sistem ini juga kami rasa tidak cocok diterapkan di tengah negara dengan kontur budaya yang majemuk seperti Indonesia. Kami setuju dengan pemikiran Hatta dahulu yang menghendaki agar Indonesia ini jadi negara federal saja. Meskipun banyak cemoohan yang mengatakan bahwa sistem negara serikat sudah pernah diterapkan sebelumnya dan hasilnya adalah sebuah kegagalan, saya dan Diku (serta pacarnya yang ternyata telah terlebih dahulu mencetuskan ide ini) foreseen sebuah utopia bernama United States of Nusantara. Jadi pada hakikatnya kembali ke semangat rakyat itu sendiri, unit-unit mandiri yang masing-masing kemudian memberikan secuil jatah kue mereka kepada pemerintah pusat. 

Saya rasa kita telah terlanjur terjebak di tengah paradigma bahwa Hukum Adat sifatnya tertutup, hanya hidup di tengah masyarakat dengan lingkup geografis tersebut semata. Padahal, semenjak saya aktif menelaah kekayaan budaya lokal dengan mendirikan Lontara Project pada tahun 2011, saya dibuat terkejut-kejut plus terkagum-kagum dengan banyaknya nilai lokal yang pada prinsipnya mengandung nilai-nilai keuniversalan. Salah satu contohnya yang hingga hari ini masih membuat saya takjub adalah muatan unsur-unsur demokrasi, kontrak sosial, emansipasi dan hak atas properti yang terkandung di cerita rakyat turunnya Tumanurung Bainea di kerajaan Gowa yang sumbernya berasal dari lontar-lontar kuno.

Alkisah, memasuki abad ke-14, setelah lewat zaman La Galigo, di Sulawesi Selatan terjadi kekacauan selama tujuh generasi. Abad-abad kegelapan ini ditandai oleh berlakunya hukum rimba, dimana yang kuat menjajah yang lemah, serta bencana alam yang datang susul-menyusul. Di tengah ketiadaan kepastian hukum tersebut, absen pula sosok pemimpin berkarisma yang dapat memecahkan masalah serta mampu memimpin rakyatnya menuju persatuan. Saat itu di wilayah yang saat ini bernama Gowa, terdapat sembilan buah desa dengan masing-masing kepala daerahnya yang bergelar gallarang.

Di suatu malam yang gelap gulita, mendadak turun seberkas cahaya dari langit utara. Kesembilan gallarang merasa bahwa cahaya tersebut merupakan sebuah pertanda yang akan mengakhiri masa-masa kegelapan. Dibekali oleh kepercayaan diri, kesembilan gallarang tersebut meniti cahaya yang konon jatuh di atas sebuah bukit bernama Takaq Bassia. Di atas bukit itulah seorang wanita cantik yang mengenakan mahkota emas berdiri. Merasa bahwa beliau merupakan seorang dewi yang turun dari langit untuk memerintah di muka bumi, maka kesembilan gallarang pun segera menyembah dan meminta sang putri untuk menjadi ratu mereka. Sang Putri yang dikemudian hari dijuluki Tumanurung (orang yang turun dari langit) Bainea (berjenis kelamin wanita) ini tidak serta-merta menerima ajakan dari kesembilan gallarang. Melalui sebuah perjanjian yang panjang dalam bentuk syair 13 pasal, ia sepakat menjadi pemimpin mereka sepanjang hak-haknya diperhatikan. Kesembilan gallarang pun mengakui hak-haknya seraya mengajukan syarat bahwa hak-hak tersebut memiliki batasan, dimana sebagai penguasa Tumanurung Bainea tidak boleh melanggar hak-hak tertentu dari rakyatnya. 

Kejadian tersebut dilukiskan seperti berikut (pasal-pasal pilihan):

Berkatalah kesembilan gallarang kepada Tumanurung

Pasal 1
Anne niallenu kikaraengang (dengan dijadikannya dirimu sebagai raja/pemimpin kami)
Karaeng mako ikau (maka rajalah kamu)
Atamakkang ikambe (kami adalah abdimu)
Pasal 4
Ikambe tanakaddok bassinu (kami tidak akan ditikam oleh besimu)
Ikau tanakaddok bassimang (kamu tidak akan ditikam oleh besi kami)
Pasal 6
Makkanamako kummamiyo (bersabdalah maka akan kami iya-kan)
Naiya punna massongkang (namun apabila kami menjunjung)
Tammallembarakang (kami tidak memikul)
Punna mallembarakang (apabila kami memikul)
Tammassongkang (kami tidak menjunjung)
Pasal 7 
Angimmako ki lekkokayu (dirimu adalah angin, kami adalah daun kayu)
Naisani madidiyaji nuiri (namun hanya daun yang telah kuning yang dapat engkau jatuhkan)
Pasal 10
Anne niallenu kikaraengang (dirajakannya dirimu oleh kami)
Battang kalemanji akkaraengangko (sesungguhnya hanya badan kamilah yang merajakanmu)
Teyai pangannuammang (bukan harta benda milik kami)
Pasal 11
Tanuallei jangang ri lerammang (tidak kau ambil ayam di tenggerannya)
Tanukoccinai bayao ri bakampomang (tidak kau rogoh telur dari keranjangnya)
Tanuallei kaluku sibatummang (tidak kau ambil sebiji pun kelapa)
Rappo sipaemmang (setangkai pun buah kami)
Pasal 13
Karaeng tammanapuk bicara ilalang (raja tidak memutuskan perkara dalam negeri)
punna taenai gallaranga (bila gallarang tidak hadir)
Gallaranga tammanapuk bicara bunduk (gallarang tidak memutuskan perang)
punna taenai karaenga (jika raja tidak hadir)

Nah, dari pembacaan di atas, semoga teman-teman juga mendapatkan maksud yang saya utarakan.
Jelas, jauh sebelum konsep Kontrak Sosial yang diusung oleh John Locke terkait perjanjian antara penguasa dan rakyatnya, di Nusantara kita telah mengenal unsur serupa. Tumanurung Bainea diangkat oleh kesembilan gallarang yang merupakan wakil rakyat sebagai penguasa (pasal 1). Di saat yang sama, ia diberikan hak untuk bertitah, memerintah seluruh negeri. Akan tetapi kekuasaannya ini pun dibatasi. Ia tak dapat bertindak sewenang-wenang atau melakukan power abuse (pasal 4 dan pasal 6). Ia akan dituruti sepanjang perintahnya masuk akal. Pada pasal 7 si penguasa diibaratkan sebagai angin dan rakyatnya sebagai daun pepohonan. Meski demikian, angin tersebut hanya dapat menjatuhkan dedaunan yang berwarna kuning atau memang sudah tua, simbolisasi bahwa titah paduka sepanjang masih dapat diterima akal dan lazim akan kami emban. Pasal 11 menunjukan batasan terkait hak-hak privat yang tidak boleh dilintasi oleh si penguasa. Pasal 13 memaparkan pentingnya wakil rakyat dalam pengambilan keputusan, tidak boleh sebelah pihak saja.

Saya yakin, selain kisah Tumanurunga Bainea dari Sulawesi Selatan, pasti masih banyak kearifan lokal masyarakat adat di daerah lain tekait konsep kenegaraan maupun hukum. Sekarang kembali kepada kita sendiri, sampai sejauh manakah kita ingin mengeksplor apa yang sudah ditinggalkan oleh nenek moyang kita hingga hari ini? Indonesia 50 tahun mendatang ditentukan oleh sikap kita hari ini, lho.



Yogyakarta, 10 Februari 2014

Friday, January 24, 2014

Apakah Soekarno Pernah Membaca Teks Sumpah Palapa?

Pada film Soekarno garapan Hanung Bramantyo yang dirilis Desember 2013 lalu, ada sebuah adegan yang menarik perhatian saya. Dikisahkan, Sukarno yang tengah hidup dalam pengasingan terakhirnya di Bengkulu mengisi hari-hari sebagai seorang guru di sebuah Sekolah Rakyat. Di sanalah ia bertemu dengan siswi Fatmawati, seorang gadis remaja yang kelak akan menjadi istri keduanya. Sukarno, dengan semangatnya yang berapi-api, menularkan ambisi kepada pemuda-pemuda Melayu muda di kelasnya untuk optimis dalam pembentukan sebuah negara bernama Indonesia yang merdeka dari jajahan Belanda. Hal ini mengundang tanya dari salah seorang gadis kritis yang duduk di bangku bahagian depan: bagaimana mungkin Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau yang banyak ini dapat berdiri menjadi SATU buah negara? Dengan senyum flamboyannya Sukarno menjawab: negara yang berdaulat atas pulau-pulau di Nusantara bukanlah hal yang baru, karena dulu kerajaan Majapahit telah melakukan hal yang sama. Mahapatih Gadjah Mada dengan Sumpah Palapa-nya bertekad untuk menyatukan seluruh Nusantara ini ke dalam satu pemerintahan.

Sampai di sini, mungkin hal itu terdengar familiar di telinga kita, sesuai dengan doktrin yang diajarkan di kelas Sejarah atau PPKN saat kita masih duduk di bangku SD. Majapahit dijadikan sebagai negara maritim kedua Nusantara (setelah Sriwijaya) sekaligus kerajaan nasional pertama karena mencangkup beragam pulau di luar Jawa. Sumpah Palapa lah yang kemudian dijadikan sebagai dalil persatuan Nusantara. Gadjah Mada juga jadi ikon pemersatu bangsa, itulah sebabnya universitas nasional pertama di Indonesia (yang dengan bangganya saya katakan, adalah kampus saya sendiri) diberi nama Universitas Gadjah Mada. Sekarang pertanyaannya, dari mana kah Sukarno mengetahui isi Sumpah Palapa?

Patung Bung Karno, Blitar 2009
Negarakertagama merupakan sebuah kitab karangan Mpu Prapanca –seorang mantan pejabat agama Buddha di kraton Majapahit yang dikeluarkan dari istana karena merasa difitnah oleh salah seorang bangsawan tinggi– yang berdasarkan kolofonnya ditulis pada tahun 1365 M atau 1287 Saka. Naskah ini berjenis kakawin, termasuk salah satu koleksi naskah kuno terlangka dan terunik karena isinya tidak berkisah mengenai pewayangan atau ajaran-ajaran agama (sebagaimana lazimnya isi naskah-naskah kuno Jawa dari era Majapahit lainnya) melainkan sebuah reportase dari sudut pandang orang pertama. Naskah ini berisi ulasan perjalanan Prabu Hayam Wuruk keliling daerah kekuasaannya di Jawa Timur serta deskripsi mengenai kondisi ibukota Majapahit. Sejak kemunduran Majapahit di awal abad ke-15, naskah ini baru muncul ke permukaan pada tahun 1894. Itupun tidak ditemukan di Jawa, melainkan di perpustakaan Puri Cakranegara di Lombok. Alkisah, saat tentara KNIL merangsek masuk dan membakar istana sang raja Lombok, seorang filolog Belanda bernama J.L.A. Brandes menyelamatkan beberapa naskah kuno termasuk di antaranya ialah Negarakertagama. Nah, jangan pula dibayangkan bahwa naskah yang diselamatkan oleh Pak Brandes merupakan naskah lontar kuno yang benar-benar berasal dari era Majapahit. Naskah Negarakertagama di Puri Cakranegara merupakan salinan entah dari naskah Negarakertagama zaman kapan. Oleh Pak Brandes, naskah ini diterbitkan pertama kalinya ke hadapan publik dalam bentuk edisi sementara pada tahun 1902. Lontar asli Negarakertagama sendiri disimpan di Leiden selama berpuluh-puluh tahun, hingga akhirnya dikembalikan ke Indonesia saat kunjungan Ratu Juliana pada tahun 1973. Pada tahun 2008 UNESCO mengakui Negarakertagama sebagai Memory of The World.


Balik ke Sumpah Palapa ya. Sayangnya, teks Sumpah Palapa tidak pernah diukir di atas batu prasasti. Sumpah Palapa tidak ditemukan di relief candi-candi. Sumpah Palapa juga ternyata TIDAK termuat di dalam naskah Negarakertagama yang sudah saya uraikan panjang lebar di atas (ups!). Isi otentik Sumpah Palapa ternyata hanya dapat ditemukan di dalam Kitab Pararaton.

Sukarno, lahir di tahun yang sama dengan publikasi pertama naskah Negarakertagama. Sampai abad ke-21, Negarakertagama masih menjadi kakawin Jawa yang paling banyak dikaji, tidak hanya oleh filolog, namun juga oleh para sastrawan, sejarawan dan arkeolog. Meski demikian, saya sangsi jika Sukarno pernah benar-benar membaca terjemahan Negarakertagama. Apalagi Sumpah Palapa yang termaktub di dalam Pararaton. Apa sebabnya? Pararaton pertama kali di-publish oleh Pak Brandes pada tahun 1897. Edisi keduanya yang disempurnakan muncul di tahun 1920. Nah, edisi inilah yang kemudian beredar luas. Sukarno lulus HBS (kira-kira setingkat SMA) pada bulan Juli 1921, dan langsung mendaftar ke Technise Hoogeschool te Bandoeng (kini ITB). Ia lulus pada tahun 1926. Sepanjang tahun tersebut tidak ada tulisan atau indikasi Sukarno pernah membaca tentang Pararaton maupun membahas Gadjah Mada. Ia memang aktif di organisasi yang sifatnya kejawen seperti Tri Koro Dharmo (bagian dari Budi Utomo), akan tetapi saya sangsi di sana ia mendengarkan pengajian Pararaton. Ibunya memang orang Bali dan tetap beragama Hindu, akan tetapi saya juga sangsi jika Ida Ayu Nyoman Rai mengetahui isi Sumpah Palapa. Ingat, Sumpah Palapa hanya ada di dalam Pararaton yang baru terbit belakangan. Sumpah Palapa dan bahkan nama-nama asli raja-ratu Majapahit lenyap dari ingatan masyarakat Jawa ketika memasuki era Demak dan Mataram. Babad-babad dan serat-serat yang tumbuh subur pada era Mataraman hanya mengingat Gadjah Mada sebagai seorang patih nan gagah perkasa lagi sakti mandraguna, ayah tiri dari Adaningkung atau Angkawijaya, raja Majapahit setelah Brawijaya II. Di Babad Tanah Jawi, Gadjah Mada diingat sebagai seorang patih nan setia, ia berlayar hingga ke negeri Cempa untuk melamar seorang putri atas permintaan Prabu Brawijaya. Ia lalu kembali ke Majapahit sambil membawa sang putri disertai oleh gong bernama Kyai Sekar Delima dan tandu bernama Kyai Jebat Bedri.


Bersama sepupu di depan Makam Bung Karno,
Blitar 2009
Ada satu sosok sahabat perjuangan Sukarno yang cocok untuk melengkapi figur “orang yang pernah membaca Pararaton” dan memberitahukan konsep Sumpah Palapa kepada Sukarno. Sosok ini juga adalah orang yang membisikkan kata “Pancasila” (yang diadopsi dari kitab Tipitaka Buddha) ke telinga Sukarno saat rapat BPUPKI sebagai nama dari 5 konsep dasar negara. Namanya Mohammad Yamin. Mohammad Yamin pernah menjabat sebagai Menteri Kehakiman (1951), Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan (1953–1955), serta Ketua Dewan Perancang Nasional (1962). Ia dilahirkan di Sumatera Barat, bersekolah di Palembang, Bogor, Jogja dan Jakarta, serta belajar Bahasa Yunani, Bahasa Latin, Bahasa Koine dan sejarah purbakala. Ia menikah dengan Raden Ajeng Sundari Mertoatmojo, seorang gadis berdarah biru keturunan bangsawan Demak. Mohammad Yamin pernah menjadi pemimpin Jong Sumatranen Bond (1926-1928). Ia juga merupakan tokoh yang berandil besar dalam menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Selain sebagai seorang aktivis, sastrawan dan sejarawan, Mohammad Yamin pun memiliki gelar di bidang hukum. Ia adalah orang yang mendorong agar poin-poin terkait Hak Azazi Manusia (HAM) dimasukkan ke dalam konstitusi Indonesia. Wah, dalam banyak hal saya dan Pak Yamin punya kemiripan ya, sama-sama pelajar hukum yang suka budaya dan sastra hehehe.

Mengapa harus Mohammad Yamin? Nah, ternyata saat belajar sastra-sastra kuno, Mohammad Yamin dimentori oleh beberapa orang filolog Belanda, di antaranya Prof. H. Kraemer dan Ds. Backer. Prof. H. Kraemer ini selain ahli Bahasa Latin juga merupakan salah seorang anggota dari tim penerjemah Kitab Pararaton edisi kedua bersama dengan Pak N.J. Krom, Pak J.C. Jonker dan Pak Poerbatjaraka. Kemungkinan besar dari sang guru inilah Mohammad Yamin menyerap banyak khazanah tentang sejarah Majapahit. Di kemudian hari, tepatnya pada tahun 1945 Mohammad Yamin menerbitkan sebuah buku berjudul “Gadjah Mada” yang merupakan buku sejarah pertama di Indonesia yang mencitrakan sang Mahapatih sebagai pahlawan pemersatu. Sukarno mulai menggempitakan kejayaan Majapahit yang konon meliputi seluruh Nusantara pasca Indonesia merdeka. Menurut saya pribadi ini termasuk salah satu dari “politik mitos”-nya, yang berusaha merangkul ratusan suku di Indonesia ke dalam latar sejarah yang sama. Hari ini, sudah ada banyak temuan yang membantah anggapan tersebut.

Lalu, mengapa kemudian apakah Sukarno pernah membaca teks Sumpah Palapa ini dibahas? Well, jika ingin jujur maka kita harus mengakui bahwa makna kalimat yang diterakan di dalam sumpah yang konon diucapkan oleh Mahapatih Gadjah Mada itu bernada penaklukkan terhadap hampir seluruh wilayah di Nusantara. Majapahit, yang pada periode-periode Raden Wijaya dan Jayanegara dipenuhi oleh konflik internal berupa pengkhianatan dan pemberontakan, memasuki masa-masa damai di era Tribhuwana Tunggadewi. Hal inilah yang kemudian menurut Slamet Muljana memotivasi Gadjah Mada untuk melebarkan wilayah Majapahit yang telah settle ke berbagai penjuru Nusantara.

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".Terjemahannya,Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".

Malaysia dan Singapura pernah menolak mentah-mentah ketika dikonfrontasi oleh Sukarno dengan klaim Sumpah Palapa ini. Konon, Majapahit telah berhasil menguasai Pahang (Malaysia) dan juga Tumasik (Singapura), sehingga ketika kedua negara tersebut dianugerahi kemerdekaan oleh Inggris seharusnya masuk ke dalam wilayah Republik Indonesia pula. Malaysia juga punya dalil tersendiri untuk menangkis klaim ini: dalam Hikayat Hang Tuah dikisahkan bagaimana utusan raja Malaka yang bernama Hang Tuah memporak-porandakan ibukota Majapahit yang mengancam akan menaklukkan kerajaannya.

Ada yang miss dengan pembacaan Sumpah Palapa ini sehingga dikemudian hari membuatnya menjadi ikon sakti persatuan Nusantara di masa lalu. Padahal, berdasarkan data-data sejarah ter-update hari ini sendiri, luas Majapahit tidaklah sebesar yang kita bayangkan, hanya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura dan Bali. Prof. Dr. C. C. Berg menulis di dalam “De geschiedenis van pril Majapahit” dan “De Sadeng-Oorlog en de mythe van goot Majapahit”:

Majapahit tidak pernah memiliki wilayah yang luasnya kurang lebih sama dengan luas wilayah Indonesia sekarang. Daerah-daerah di luar Pulau Jawa tersebut hanya merupakan suatu cita-cita saja dan tidak pernah masuk ke dalam wilayah kekuasaan Majapahit
.
Yup, jadi inti dari Sumpah Palapa itu baru sebuah cita-cita atau angan-angan, bukan kenangan beneran bahwa Majapahit pernah menaklukkan seluruh Nusantara. Di dalam buku “Menuju Puncak Kejayaan Majapahit” oleh Slamet Muljana, penaklukkan yang dilakukan oleh Mahapatih Gadjah Mada sendiri hanya tercatat dua kali dilakukan: Padompo dan Pasunda alias penaklukkan Dompo serta penaklukkan Sunda. Yang terakhir itu pun amat tragis, berakhir dengan peristiwa Bubat. Bali juga benar pernah ditaklukkan, namun kemudian tidak berada di bawah kontrol langsung pemerintah Majapahit yang berpusat di Jawa Timur. Sumatera? Nope, bahkan Negarakertagama tidak menyebut-nyebut penaklukkan Sumatera sama sekali. Masih menurut Slamet Muljana, penguasaan Majapahit terhadap Nusantara tidak terletak pada aspek militernya, melainkan pada aspek perdagangan. Saat itu bangsa Jawa masih merupakan pelaut ulung yang punya jung-jung atau kapal-kapal raksasa untuk berlayar mengitari seluruh pelosok kepulauan timur. Majapahit juga tampil sebagai primadona di Nusantara sebab mutu barang-barangnya yang amat high class, menjadikannya kiblat seni saat itu. Ini diperkuat oleh pernyataan Guru Besar Arkeologi Asia Tenggara National University of Singapore John N Miksic yang menyatakan:
Di wilayah Melayu ditemukan artefak berupa kesenian bermotif Jawa. Bentuknya adalah arca Kala Makara dan Dewi Prajnaparamita yang memperlihatkan ciri kesenian khas Jawa Majapahit. Selain itu, juga banyak ditemukan gerabah yang lebih berciri Trowulan. Ada kesinambungan yang terjadi antara hubungan Melayu dengan kerajaan Jawa (Majapahit)

Nah. Mari kita berpikir jernih. Majapahit dan juga ratusan kerajaan lainnya di Nusantara ini adalah bahagian dari sejarah Indonesia. Saya mencintai, mengagumi dan tak henti-hentinya terkesima dengan peradaban kerajaan Majapahit. Dan juga Sriwijaya, Aceh, Gowa, Banten, Banjar, Ternate, dan lain sebagainya. Menjadi Indonesia tidak berarti lantas hanya mencintai sejarah sukunya sendiri. Coba tengok Mohammad Yamin yang Minangkabau totok tapi segitu getolnya mengangkat nama Gadjah Mada di panggung nasional.

Kesimpulannya: sejarah, mungkin tidak semanis kenyataan. Akan tetapi hari ini kita harus berbangga hati dan berlapang dada. Kita adalah bagian dari sebuah bangsa yang untuk ukuran bangsa-bangsa lain di luar negeri lumayan gila: ribuan pulau serta ratusan suku dalam 1 pemerintahan! Yup, biarlah jargon “Bhinneka Tunggal Ika” yang menjelaskan semuanya. Karena dengan atau tanpa Sumpah Palapa, Nusantara yang secara genetis, linguistik dan geografis ini berkerabat satu sama lain memang ditakdirkan untuk menjadi satu.




Salam dari kamar saya di Makassar,


24 Januari 2014

Monday, January 20, 2014

Delft dan Misteri Mutiara Laut Selatan

Selama 17 hari tinggal di negeri Belanda, saya banyak menjelajahi tempat-tempat yang menarik dan bertemu dengan orang-orang yang tak kalah pula menariknya. Meskipun menghabiskan lebih banyak waktu di kota Leiden, saya menyempatkan diri untuk berkeliling kota-kota lain yang punya ciri khasnya masing-masing seperti Den Haag, Amsterdam, Haarlem, Maastrich, Utrecht, Volendam, Hoorn, Middelburg, dan tentu saja Delft.


Delft? Pernah dengar nama ini sebelumnya? Nama Delft jelas kalah famous dibanding kota-kota besar di Belanda. Delft tidak se-metropolitan Amsterdam, se-modern Rotterdam, maupun se-rame Leiden. Impresi pertama saya ketika tiba di stasiun kereta kota Delft (yang waktu itu sedang direnovasi, sehingga lumayan ribet mencari pintu/tangga keluarnya) adalah: "Gini kali ya 'Klaten atau Pangkep'-nya Belanda". Akan tetapi, ada beberapa faktor yang membuat nama Delft seistimewa Volendam sebagai kotanya turis-turis asing di Belanda.
Jody dan Ucup, dua orang anggota
La Galigo Music Project yang jadi
"penghuni kota Delft"
Delft, sebelumnya pernah saya dengar sebagai tempat peristirahatan terakhir raja-raja Belanda zaman dahulu. Maksudnya, tempat dimana dikuburkannya mereka. Kota ini juga terkenal dengan industri keramik biru. Keramik biru inilah yang kemudian menjadi ikon suvenir Belanda, selain tentunya keju dan bunga tulip. Keramik Delft dengan warna birunya yang khas itu muncul dalam beragam bentuk: ada miniatur kincir angin, sepatu clog, dua anak kecil yang saling berciuman, hingga sapi. Saking terkenalnya keramik Delft ini, sampai-sampai kemanapun saya pergi di Belanda, toko suvenirnya pasti memajang tulisan "Delft Blue Ceramics". Otentisitas serta pamor Delft dalam hal ini memang sudah tidak diragukan. Ibarat kata, tidak afdhol datang ke Belanda sebelum membeli sebongkah keramik biru Delft sebagaimana halnya orang yang datang ke Yogyakarta tanpa membeli oleh-oleh bakpia. 

Bicara tentang Delft, selain keramik birunya saya jadi ingat dengan Azzam Santosa. Azzam adalah seorang putra Indonesia totok yang lahir dan besar di kota ini. Si Azzam sekarang bersekolah di Erasmus University Rotterdam, akan tetapi domisili keluarganya tetap di kota Delft. Saya amat salut kepada pemuda berusia 19 tahun ini karena meskipun jauh dari tanah air ia memiliki rasa nasionalisme yang tinggi serta terus update dengan perkembangan di tanah air. Tidak hanya itu, saat ini ia bahkan menduduki jabatan sebagai Sekretaris di PPI Belanda. Pemuda yang mengidolakan sosok Bung Hatta ini pun terus mengasah kemampuannya berbahasa Indonesia tanpa malu-malu. Mengagumkan! Sayang sekali sewaktu saya dan Ran berkunjung ke Delft untuk menengok Ucup, Jody dan Gendon, Azzam sedang berwisata bersama teman-temannya ke Swedia. 

Oke, lanjut ceritanya ya. Sambil berjalan-jalan di Centrum alias pusat kota Delft yang mirip dengan alun-alun di kota-kota besar di Pulau Jawa, saya bergumam, oh jadi dari kota kecil inilah Azzam tumbuh dan besar. Suasana kotanya yang tenang, arsitekturnya (saya amat menyukai ornamen-ornamen di Nieuwe Kerk dan Stadhuis alias Balaikota) yang tetap menjaga spirit medieval membuat kota klasik ini nyaman dijadikan hunian. Setidaknya, sahabat saya si Ucup sampai bercita-cita untuk tinggal di Delft dan membuka toko kecil di sini, hehehe. Oh ya, hampir di setiap kota yang saya kunjungi di Belanda, stasiun kereta api (Centraal) itu letaknya tidak terlalu jauh dari Centrum. Dan hampir bisa dipastikan di sebelah Centrum pasti ada Stadhuis dan Groete Markt alias pasar, dan juga gereja utama kota tersebut. Unik ya! Konon kota-kota di Indonesia dulunya juga sudah dirancang seperti demikian akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, pembangunan yang tidak teratur membuat tata kota jadi amburadul.
Ran dan Louie, mejeng di sebelah Stadhuis. Di seberang kami tampak Nieuwe Kerk Delft
Anyway. Nah, begitu menginjakkan kaki di toko-toko suvenir yang berserakan di sekeliling Centrum, saya terkejut menyaksikan kartu pos-kartu pos yang dipajang oleh si empunya toko. Lukisan seorang gadis yang mengenakan "surban model Eropa" -dengan wajah menengadah ke arah orang yang melihatnya- menghiasi hampir seluruh kartu pos. Tidak hanya itu, wajah gadis itu pun dilukis pula di atas keramik dengan warna biru yang menjadikannya sebagai salah satu oleh-oleh favorite dari kota Delft.

Saya tercengang, menganga dalam kehampaan selama sekian detik. Lukisan sang gadis seketika membawa ingatan saya mundur kembali ke tahun 2010. Saat itu sedang liburan semester tiga dan saya pulang ke rumah orang tua di Makassar. Di rumah, sambil leyeh-leyeh malas dan berguling-guling manja, saya membuka laptop kakak dan menemukan sebuah film berjudul "Girl with Pearl Earrings". Film keluaran tahun 2003 ini mencatut Scarlet Johansson sebagai pemeran utama wanitanya. Berhubung saya suka dengan film-film yang berbau sejarah maupun kerajaan-kerajaan masa lalu, maka dengan senang hati saya pun menontonnya.

Okay, no-spoiler. Bagi yang belum nonton, monggo ditonton dulu ya hehehe. Kembali ke Delft. Ketika saya bertanya kepada ibu-ibu penjaga toko mengapa lukisan gadis yang berjudul "Girl with Pearl Earrings" (GPE) itu ada dimana-mana di kota ini, sang ibu dengan lugas menunjuk ke seberang jalan dari jendela tokonya.
"Itu rumah Jan Vermeer, di seberang jalan. Vermeer adalah pelukis terkenal asal kota Delft yang membuat lukisan GPE ini." 
Seketika itulah saya terkesiap. Wah gila, saya berada tepat di seberang jalan sebuah tempat yang menjadi latar sejarah dari sebuah film yang pernah saya tonton beberapa tahun yang lalu :D

Lukisan GPE yang diciptakan pada tahun 1665 ini menjadi terkenal selain karena teknik melukis Jan Vermeer yang luarbiasa juga dikarenakan oleh misteri yang tersimpan di dalamnya. Kira-kira mirip dengan misteri yang menyelubungi lukisan Monalisa karya Da Vinci lah. Sampai hari ini para pemerhati seni belum sepakat menentukan siapakah sosok gadis yang dilukis oleh Vermeer. Sebagian ada yang memprediksi sang gadis sebagai istri Vermeer, anak perempuan sulungnya, dan bahkan salah seorang pembantu mudanya (lihat http://www.essentialvermeer.com/catalogue/girl_with_a_pearl_earring.html). Ketika para sejarawan seni itu sibuk membahas sosok yang menjadi model lukisan hingga maksud dari ekspresi sang gadis yang kelihatannya ambigu itu, saya justru tertarik kepada anting-anting mutiara yang ia kenakan.
Het Meisje met Parel alias Girl with Pearl Earrings
Anting-anting mutiara di lukisan GPE merupakan salah satu mutiara terbesar yang pernah saya lihat. Mutiara ini berbentuk seperti tetesan air (berarti dalam proses pembuatannya menjadi sebuah anting-anting bentuk aslinya telah sedikit dipoles) dan berwarna putih keperak-perakan. Ketika banyak orang yang skeptis bahwa mutiara tersebut benar-benar nyata (mereka menganggap bahwa Vermeer berimajinasi dalam menggambarkan anting mutiara tersebut) saya justru optimis bahwa mutiara yang dijadikan model di dalam lukisan tersebut benar-benar nyata. Dan hampir 100% yakin mutiara tersebut adalah Mutiara Laut Selatan (Southern Sea Pearl) yang sejak zaman VOC hingga hari ini menjadi primadona dunia.

Jadi begini. Jan Vermeer melukis GPE di kala Belanda tengah memasuki zaman keemasannya. Perdagangan melaju pesat (terima kasih kepada Hindia Timur dan Hindia Barat), Belanda telah merdeka dari cengkraman Spanyol, semua orang bebas memeluk agama masing-masing serta mengeluarkan pendapat, dan kreatifitas para seniman pun berkembang bak tulip di musim semi. Di masa itu, selain bumbu-bumbu dapur, hampir setiap komoditas yang berasal dari Hindia Timur berharga mahal karena cost pelayaran yang mahal serta karena dianggap eksotis. Bahkan burung-burung yang berasal dari daerah tropis seperti nuri dan kakatua dikoleksi oleh kalangan atas hanya demi prestise "benda ini dari Hindia lho". Nah, mutiara tentu saja merupakan salah satu koleksi yang tidak mungkin luput dari mata siaga VOC.
Rumah Vermeer
(http://www.essentialvermeer.com/delft/delft_today/oude_langendijck.html)
Berdasarkan informasi dari Wikipearl, Mutiara Laut Selatan (MLS) tergolong jenis mutiara terbesar sekaligus terlangka di dunia! Mutiara ini berasal dari sejenis kerang bernama Pinctada maxima yang hanya dapat ditemukan di perairan Australia Utara hingga ke Laut Cina Selatan. Diameter mutiara ini berkisar antara 9 mm hingga 20 mm. Sekitar tahun 1500-an, di Indonesia, Australia, Myanmar dan Filipina mutiara ini banyak dibudidayakan. Berhubung hanya dapat ditemukan di area Laut Selatan, maka bangsa Eropa  mengetahui keberadaan mutiara jenis ini baru pada abad ke-16 dan ke-17, tepatnya saat bendera VOC juga sedang berkibar di samudera. Mata orang-orang Eropa ini membelalak kaget melihat ukuran MLS, dan sejak saat itu MLS pun memasuki daftar dagangan di pasar global. Permintaan dunia yang tinggi terhadap MLS menyebabkan nyaris punahnya kerang Pinctada maxima di abad ke-18 dan ke-19. Hari ini, MLS dapat ditemukan di perairan Bali, Lombok, Sumbawa dan Papua.

Wah, menarik sekali. Dari sebuah kota kecil bernama Delft, dari sebuah lukisan yang dihasilkan oleh putra terbaik Belanda, saya menemukan cerita tentang kekayaan tanah air Indonesia. Mulai saat ini, jika berkunjung ke Delft, mungkin ingatan saya tidak akan lagi mengasosiasikannya dengan keramik biru atau patung Hugo Groot yang terpajang penuh kebanggaan di Centrum. Secercah sejarah tentang betapa berharganya keanekaragaman hayati Indonesia yang patut dijaga oleh generasi mudanya hari ini yang mungkin akan terlintas tiap kali menatap lukisan GPE.

Salam,
Makassar, 20 Januari 2014

Sunday, December 8, 2013

Selamat Jalan, Mandela!

Saya tidak kenal Mandela. Tapi saya tahu siapa dia.

Setiap kali mendengar kata "Afrika Selatan", yang terbayang pasti adalah namanya. Mandela. Jauh sebelum Waka-Waka dan kehebohan Piala Dunia, Mandela telah membuat mata seluruh dunia tertuju ke arahnya. Ya, negara yang dulunya mengagungkan bangsa berkulit putih sebagai bangsa paling mulia di Benua Hitam ini tercabik-cabik oleh rasa malu ketika seorang Mandela berhasil menggerakkan rakyat Afrika Selatan untuk meruntuhkan rezim apartheid. Ia bicara, bukan hitam atau putihnya kulit seseorang yang menentukan kemuliaan. Akan tetapi hati dan aksi yang mencerminkan keutamaan seseorang.
Mandela dibenci. Mandela dicaci. Mandela tidak disenangi. Banyak pula yang iri dengan sosok Mandela. Tapi Mandela keras kepala. Mandela terus maju. Mandela bertahan dengan idealismenya. Hari ini, di Afrika Selatan seorang anak kulit hitam dapat bergandengan tangan dengan seorang anak kulit putih sambil berlarian di taman. Mandela yang selalu tersenyum, dengan batik asli dari Indonesia yang selalu ia kenakan mencintai sesosok ulama Islam asal Tanah Gowa bernama Syekh Yusuf. Ia adalah putra terbaik Afrika Selatan, ujarnya. Tidak hanya itu, Syekh Yusuf juga diakui oleh negaranya sebagai seorang pahlawan nasional.
Mandela, menyingkirkan prahara sosial terkait rasisme.
Mandela, membuat rasa persaudaraan antara Afrika dan Indonesia begitu dekat.
Mandela, beristirahatlah dengan tenang.

Di suatu sore yang tenang, di pinggir sebuah danau di tepi bukit yang hijau... Tuhan menepuk-nepuk punggung Mandela yang memandangi aliran sungai itu seraya berkata kepadanya:
"Saatnya pulang, Mandela, saatnya beristirahat."

Thursday, November 28, 2013

Catching Fire, Imaji Hindia dan Orientalisme

Ketika menonton Hunger Games: Catching Fire, apa yang terlintas di benak teman-teman sekalian? Kejahatan Presiden Snow; tantangan berbahaya yang harus dihadapi oleh Katnis Everdeen dan Peeta Mellark; negara Panem yang diambang keruntuhan; atau bahaya demi bahaya yang mengancam di tengah persaingan buta untuk menyelamatkan nyawa sendiri di Quarter Quell? Well, kalau saya yang ditanya akan pertanyaan serupa, refleks saya jawab: film yang penuh dengan simbologi orientalisme!
Nah lho, kok ada orientalisme segala? Begini ceritanya.

Orang Barat di Abad Pertengahan -ketika mereka baru saja terbebas dari kegelapan selama seribu tahun dan sedang marak-maraknya menjadi “humanis”- memandang Hindia (baca: Nusantara, Kepulauan Indonesia sebelum menjadi NKRI) sebagai tempat yang menyenangkan, sarangnya petualangan besar, sekaligus... menyeramkan. McGrane dalam Beyond Anthropology, Society and the Other berkata bahwa masyarakat yang hidup di era Renaissance melihat orang yang bukan Eropa dalam konteks saleh dan dosa berdasarkan konsep keKristenan. Menurut mereka, masyarakat dan kebudayaan di luar Eropa (yang belum menerima keimanan Kristiani) berada di dalam kuasa setan. Akan tetapi, perspektif ini tidak bertahan lama. Booming “Ketimuran” segera muncul di benua tersebut, tepatnya selama abad-abad eksplorasi. Ketika orang-orang Eropa telah berani mengembangkan layar menyusuri lautan untuk mencari jalan langsung menuju Kepulauan Rempah-Rempah yang legendaris itu (jalan laut menjadi pilihan mereka demi mendapatkan rempah-rempah setelah Perang Salib dimulai. Permusuhan dengan dunia Islam menjadikan Jalur Sutra daratan bukan lagi pilihan utama dalam perdagangan global), maka ide-ide tentang kawasan Timur yang eksotis dan misterius pun turut terbawa oleh angin laut ke jalan-jalan sempit dan berlumpur Eropa.

Saking populernya Hindia di dalam imajinasi Eropa, seorang pengarang Prancis bernama Honore de Balzac –yang bahkan sekalipun dalam hidupnya belum pernah menginjakkan kaki di atas kapal– membuat  roman menarik mengenai perjalanan khayalnya ke Tanah Jawa. Ia menulis:
Semua kenikmaan itu bertemu: perempuan Jawa, bunga-bunga, burung-burung, wewangian, matahari, udara, puisi yang memasukkan seluruh jiwa ke dalam tiap makna, membuatku berkata sejak kepulanganku dari Hindia. Berbahagialah mereka yang mati di Jawa...
            Berlebihan? Tidak, jika Anda adalah seorang Prancis yang hidup di tahun 1832. Saat itu “Demam Hindia” tengah melanda Benua Biru, pulau Jawa menjadi ikon perpaduan semua kesenangan dan misteri dari Timur. Akan tetapi, tidak selamanya “Demam Hindia” ini berdampak positif terhadap reputasi Nusantara. Sebuah tempat asing yang jauh dengan iklim yang hangat, beragam tumbuhan menyembul dari permukaan tanah serta air yang segar tentunya terlihat menyenangkan jika Anda berasal dari Eropa yang beku dan kaku. Akan tetapi, sebuah tempat asing yang sama, jauh dari rumah yang nyaman tentunya juga membangkitkan rasa was-was, prasangka, dan paranoia. De Molins yang berlayar ke Hindia pada Januari 1858 menggambarkan perasaannya:
Kesan liar pada orang-orang tersebut muncul dari gerakan mereka yang seperti kucing, perilaku yang malu-malu, sorot yang terpancar dari mata yang sehitam batuara, perubahan raut muka, bahasa mereka yang tidak dapat kami cerna, semua membuat saya heran bercampur dengan sedikit rasa ngeri. Saya merasa seperti ditelantarkan di wilayah timur yang misterius ini, di batas akhir peradaban. Di sini tidak ada apa pun dari Eropa maupun dari Prancis... Di sana orang lebih dilindungi oleh norma hukum yang damai dan norma adat-istiadat, sedangkan di sini yang berkuasa adalah naluri alamiah, tipu-muslihat halus, rasa dendam, benci dan cemburu.
            Wow, bayangkan apa yang dicitrakan oleh wartawan Prancis ini tentang orang-orang Hindia dari kontak pertamanya dengan mereka. Tidak, ia bahkan belum berinteraksi dengan pedagang-pedagang Melayu yang berjualan sayuran di atas perahu ini, ia hanya melihat mereka dari kejauhan, dari atas kapal Nicolas saat mereka hendak merapat di Batavia! Melalui pandangan pertama tersebut, ia telah mampu membuat sebuah rangkuman mengenai sifat dan pembawaan manusia Hindia yang kelak akan dibaca oleh ribuan orang Prancis di majalah traveling Le Tour de Monde. Bahan-bahan sejarah bernuansa orientalisme dan poskolonialisme ini jelas berbahaya karena tidak benar-benar menggambarkan situasi masyarakat dan alam Hindia yang sesungguhnya. Sayangnya, cerita-cerita tersebut terlanjur tersebar ke berbagai penjuru Eropa dan Amerika, sehingga stereotype terhadap daerah tropis yang dikepung oleh lautan pun menjelma dalam impian-impian terliar mereka.
Gambaran tentang Jawa, koleksi Tropenmuseum
            Catching Fire adalah salah satu contoh terbaik yang memamerkan imaji Barat terhadap Timur nan misterius dan dangerous. Mengapa lokasi permainan saling-bunuh antara para pemenang Hunger Games dilaksanakan di sebuah hutan hujan tropis? Jawabannya karena imaji akan Timur yang berbahaya itu masih terus terwariskan melalui DNA sastra dan pop-kultur Barat. Ada quote dari karakter bernama Johanna yang kurang lebih menggambarkan ketakutan orang-orang Barat terhadapnya misteri yang tersimpan di balik kerimbunan hutan hujan tropis:
“Mengapa kita tetap bertahan di pantai? Karena berada di tepi pantai jauh lebih aman dari pada berada di tengah hutan.”
            Pernyataan tersebut seakan-akan melegetimasi pandangan nenek moyang kulit putihnya dulu yang pertama kali berlayar mengarungi lautan dan terkejut menyaksikan hutan hujan tropis yang kelebatannya bahkan membuat sinar matahari susah untuk tembus. Musibah demi musibah yang diderita oleh para pemenang Hunger Games dari berbagai generasi ini juga menampilkan secara tepat ketakutan masyarakat Eropa Abad Pertengahan terhadap Timur. Bahaya-bahaya seperti: 

kesulitan air tawar; kabut beracun yang menyebabkan penyakit kulit; serangan monyet raksasa pada malam hari; petir yang menyambar pepohonan besar berulang kali; gelombang laut yang mematikan; serta burung-burung hitam yang membawa suara-suara orang yang mereka kasihi jelas, merupakan perumpamaan atas: ketakutan orang Eropa awal terhadap sumber-sumber air di Hindia yang dianggap tidak bersih; penyakit kulit daerah tropis (gatal-gatal, kudis, kurap, panu); binatang khas setempat (imajinasinya selalu monyet karena di Eropa sana tidak ada monyet. Ingat nggak kalau dalam film King Kong kera raksasa itu juga asalnya dari Sumatera?); badai tropis yang mematikan (El Nino, La Nina, Yolanda, dll.); tsunami; dan suara burung-burung yang seperti suara manusia sebagai metafora gejala depresi sebagai impak dari keterasingan berada di tempat yang tidak menyenangkan.


            Way to go, Hunger Games. Pengarangnya cerdas karena dapat memadukan unsur-unsur yang telah mengendap lama dalam tradisi mereka itu dengan amat halus. Saya penasaran, kira-kira citra Hindia macam apalagi ya yang akan muncul di film-film Hollywood pada masa yang akan datang? Kita sudah kenyang dengan eksotisme Bali melalui “Eat, Pray, Love” serta betapa jagonya Densus 88 dalam menghabisi gembong narkoba yang banyak bersarang di Indonesia lewat “The Raid”. Sejauh ini prestasi Indonesia di Hollywood baru nampak dari sisi eksotis dan barbariknya sahaja. Semoga apapun itu nanti, pencitraannya tidak dipengaruhi oleh unsur-unsur macam orientalisme dan poskolonialisme ya. Film harus diakui adalah salah satu senjata paling efektif untuk merubah perspektif seseorang terhadap sesuatu.